Free Talk:

Hai, hai, haaaai…! Ketemu lagi sama Jun di fandom BR^^

Senangnya bisa publis fic lagi. Sesuai dengan permintaan seorang reviewer di fic BR sebelumnya yang berjudul "Mau Berbagi Denganku?", saya sudah buatkan.

Terima kasih. Anda adalah orang pertama yang me-request fic sama saya. Senang sekali rasanya. Kalau seandainya tidak berkenan saya mohon maaf sebesar-besarnya *bungkuk-bungkuk*

Saya ini bukan fujodashi jadi maafkan saya bila suasana shonen-ai-nya kurang terasa.

Oke, happy reading^^

.

.

.

~Prolog~

"Hei!" seru seorang pemuda berbadan kekar. Matanya menangkap seorang anak laki-laki terduduk sambil memeluk lututnya, diam di laboratorium suatu organisasi yang terbakar. Aneh. Anak itu tampak tenang bahkan ketika ia memandang pemuda kekar didepannya yang tampak khawatir, anak itu masih juga tenang.

"Kenapa kau disini? Ayo, keluar! Kau bisa terbakar!" pemuda itu menarik lalu menggendong anak tersebut. Anak itu tetap diam. Pemuda kekar itu akhirnya keluar dari geudng yang terbakar itu dengan wajah yang terdapat noda-noda hitam dan tebatuk-batuk.

"Yugo!" seru gadis berkuncir 2 dengan seorang wanita berbadan besar separuh baya mengendong anak kecil yang tidur dipunggungnya.

"Kau tak apa?" tanya gadis itu.

"Ya," jawab pemuda kekar itu setelah berhenti terbatuk.

"Siapa anak itu?" tanya gadis itu lagi.

"Entahlah, aku menemukannya diruang laboratorium milik professor gila itu. Mungkin salah satu bahan percobaannya."

"Kasihan~" gumam gadis itu. "Siapa namamu?" tanyanya pada anak lelaki itu.

Anak itu memandang gadis itu, bingung, "Nama?" Gadis itu mengangguk sambil tersenyum lembut. Anak itu tampak mengingat-ingat. "Nama…?"

"Iya."

"Nama… aku…" hening sesaat, "Aku tidak tahu…" Semua menatap bingung anak itu.

"Mungkinkah ia hilang ingatan? Atau memang ia tak diberi nama?" tanya wanita berbadan besar entah kepada siapa.

"Baiklah," ucap pemuda kekar tiba-tiba, "Bagaimana kalau kau ikut denganku?" tawarnya pada anak itu. Anak itu menatap pemuda kekar dengan bingung. "Kau akan kujadikan saudaraku," lanjutnya.

.

.

.

Disclaimer: Hudson Soft yang punya^^ *Ngibarin bendera bergambar lebah*

Warning: Shonen-ai alias Shota, OOC 10000%, Mengandung bahasa yang berbelit-belit, blak-blakan, aneh, EYD masih dipertanyakan, dll pokoknya.

Dwi93Jun Takahashi Chan present:

:: LOVELY BROTHER ::

.

.

.

"Kakak, hari ini makan malamnya mau apa?" tanya pemuda berambut hitam kebiruan sambil melihat buku yang bergambar makanan.

"Kenji, bagaimana kalau sekali-kali biar kakak saja yang masak," ujar sang kakak.

"Eh! Tidak, biar aku saja!" seru sang adik yang bernama Kenji, keringat dingin memenuhi dahinya. Ia tak bisa membiarkan kakaknya, Yugo memasak. Bisa-bisa…. BOOM! Dapur meledak seperti beberapa tahun lalu.

Kenji menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghilangkan khayalannya yang sempat membuatnya shock. Melihat sang adik yang geleng-geleng kepala kayak orang dugem, Yugo heran. "Kau kenapa?" tanyanya.

"Eh, nggak ada apa-apa. Eng… hari ini kita makan ikan salmon goreng saja, ya?" Kenji sedikit gugup.

"Oke, apapun yang mau kau masak, aku akan suka," ujar Yugo menepuk kepala Kenji dengan lembut disertai sebuah cengiran.

"Ya… Ya… Dan singkirkan tangan itu!" kata Kenji malas.

Belakangan ini Yugo sering menepuk kepalanya, awalnya Kenji heran tapi waktu ditanya Yugo menjawab, "Aku hanya ingin bersikap manis pada adikku." Yugo bilang apa? Manis? Huek! Itu tidak cocok dengan imej-mu yang bertampang seperti bodyguard galak, Yugo.

(Detik berikutnya, author tepar akibat ditinju Yugo) Back to Story!

"Kenji," panggil Yugo sambil mengunyah makanannya.

Saat ini Yugo dan Kenji tengah makan malam bersama. Biasanya Kenji makan malam sendirian karena Yugo sangat sibuk dengan profesinya sebagai atlet tinju. Bisa makan malam bersama seperti ini adalah hal yang langka.

"Ya?"

"Kau tak ingin cari pacar?" tanya Yugo.

"Uhuk!" Kenji terbatuk sedikit karena kaget, "Kakak jangan tanya hal yang aneh begitu."

"Lho? Itu kan pertanyaan yang wajar."

"Tidak. Saat ini aku tak tertarik mencari pacar. Lagipula tidak ada gadis yang menarik."

"Oh…" respon Yugo, "Syukurlah," bisik Yugo namun ternyata didengar Kenji walalu samar-samar.

"Hah? Kakak bilang apa tadi?" tanya Kenji.

"Ti…Tidak…! Tidak ada apa-apa! Hehehehe…" Yugo tertawa garing dengan wajah yang… memerah? "Ku…Kukira kau suka Uriko," ucap Yugo beberapa detik kemudian.

"Pruuuufff…..!" Kenji menyembur air yang ia minum akibat kaget, "Kakak jangan punya pikiran aneh. Nggak mungkin aku suka Uriko. Uriko itu kan sahabatku dan dia juga bukan tipeku."

"Ya…Ya… Maaf… maaf…" Yugo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, gugup.

"Aneh," gumam Kenji sambil meminum airnya dan makan dengan lahap.

Tanpa Kenji sadari, diam-diam Yugo sedari tadi senyum-senyum gaje melihat Kenji.

.

~o~

~oO0Oo~

~o~

.

"Kakak, aku berangkat!" seru Kenji.

"Mau kakak antar sampai sekolah?" tawar Yugo.

"Nggak usah, kak. Aku mau berangkat bareng Uriko," jawab Kenji mengambil sepedanya. "Kakak juga harus ke gym, kan? Nanti kakak dimarahi Si Orochi."

Yang dimaksuk Orochi oleh Kenji adalah pelatih tinju Yugo. Sebenarnya itu hanya julukannya saja karena pelatih Yugo memiliki tato ular yang hampir diseluruh tubuhnya.

"Baiklah kalau begitu."

"Oke, aku berangkat, ya!"

"Ah, Kenji tunggu!" seru Yugo ketika Kenji hendak bersiap mengayuh sepedanya.

"Ya? Ada apa?" tanya Kenji heran memandang kakaknya.

CUP!

Kelip! Kelip! Kelip! (Suara mata berkelip) Kenji mengerjap-ngerjapkan matanya. What? Apa itu tadi? Kakaknya tadi… tadi… tadi… me… men…mencium keningnya? What The Hell!

"UWAAAAAAAAAAAAAAA…!" jerit Kenji dan wajah memerah karena saking shock-nya.

"Kecilkan suaramu! Tetangga bisa tertanggu!" ucap Yugo.

"Apa yang kakak lakukan!" seru Kenji sambil mengusap-usap keningnya, berusaha menghilangkan bekas ciuman kakaknya yang mulai kurang waras itu –menurut Kenji-.

"Lho? Tidak boleh? Kau kan adikku. Masa kakak nggak boleh bersikap manis sama adik kakak satu-satunya?"

Oh, yeah. Sebenarnya Kenji tidak masalah, sih. Tapi ia malu. Masa sudah segede ini masih dicium kayak gitu. Jika saja Kenji anak TK, nggak apa-apa.

"Ah…! Bawel! Aku mau sekolah dulu!" Kenji segera mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh, masih shock.

Oh, Tuhan. Ini pasti mimpi! Coba lihat tadi. Yugo senyum-senyum gaje setelah mencium keningnya. Ini pasti mimpi buruk. Lebih baik mengingat saat-saat dapur meledak ketika Yugo memasak. Kenji merinding mengingatnya.

.

~o~

~oO00Oo~

~o~

.

Malam semakin larut. Meskipun sudah malam namun hawa terasa panas. Mungkin inilah dampak dari Global Warming. Seorang pemuda berambut hitam kebiruan tidur dengan nyenyak dikipasi oleh kipas angin yang membuatnya tetap merasa sejuk di malam yang panas ini.

Kriiek. Suara pintu kamar pemuda itu terbuka terdengar pelan dan agak samar akibat suara kipas angin yang sedari tadi menyala. Seorang pemuda berbadan kekar muncul dari pintu tersebut memasuki kamar yang gelap tersebut.

Pelan-pelan ia berjalan mendekati pemuda bertubuh mungil –bagi Yugo, karena ia membandingkannya dengan tubuhnya yang besar-. Dipandangnya wajah pemuda yang terlihat damai dibawa alam mimpinya tersebut lalu mengusap kepalanya dengan pelan.

"Maafkan aku," bisik Yugo.

Sudah beberapa hari ini Yugo selalu mengintip Kenji yang tertidur setiap malam dan persamaan dengan itu pula terbesit rasa bersalah dalam benaknya.

"Harusnya… aku tidak mencintaimu," bisiknya lagi.

Ya, Yugo, pemuda berbadan kekar dan besar jatuh cinta pada adiknya, Kenji, seorang pemuda yang ia angkat sebagai saudara beberapa tahun lalu. Ia teringat saat-saat ia bertemu… Ralat! Menemukan Kenji beberapa tahun lalu.

Ia tahu ini tak boleh. Ia tak boleh mencintai Kenji. Saudara angkat memang boleh pacaran atau menikah selama tidak memiliki hubungan darah. Yugo dan Kenji tak memiliki hubungan darah namun tetap saja… ia tak dapat memiliki Kenji karena mereka adalah laki-laki.

Oh, apa kata masyarakat nanti? Apa kata teman-teman mereka nanti? Apa kata tetangga nanti? Apa yang akan terjadi kalau semua tahu ia mencintai adik angkatnya. Tidak! Ini tak bisa dibiarkan! Jika ia mencintai Kenji, maka masa depan Kenji akan terganggu dan mungkin ia akan disakiti dan dikucili oleh masyarakat.

Yugo kembali mengusap kepala adiknya. Lalu mencium aroma rambutnya dan keluar kamar. Dalam hati, Yugo telah bertekat untuk menghilangkan perasaan ini.

~o~

"Pagi…" sapa Yugo agak mengantuk.

"Pagi," sapa Kenji, "Hari ini sarapannya omelet saja, ya?"

"Oke," jawab Yugo sambil menepuk kepala Kenji lalu berjalan ke kamar mandi.

"Dasar, aneh," bisik Kenji.

"Kakak belakangan ini selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Ada angin apaan, nih?" tanya Kenji mengunyah makanannya.

"Nggak ada apa-apa. Ingin saja," ucap Yugo agak gugup. Tak mungkin ia bilang bahwa ia jatuh cinta padanya.

"Kakak," panggil Kenji menghentikan makannya.

"Ya?"

"Kakak nggak kena penyakit Brother Complex, kan?"

"Hah?" Yugo menyerngitkan dahi.

"Kayak Kak Nagi. Posesif banget sama Xion."

"Hahahaha… Nggaklah…" jawab Yugo, tertawa hampar. Dalam hati ia menjerit dan mengangis, 'Aku cinta kamu, Ken-chan..!'

Oh, mengapa cinta ini terlarang? Kenapa laki-laki nggak boleh bersanding sama laki-laki? Seandainya sekarang lagi sepi, Yugo akan memutar musik lagu "Magnet" dari vocaloid keras-keras dari tape-nya.

dakiyosete hoshii tashikamete hoshii

machigai nado nai n da to omowasete

kisu o shite nurikaete hoshii

miwaku no toki ni yoishire oborete itai no

Kalo ditranslate lewat Google, maka lagu yang akan dinyanyikan Yugo nantinya…

Aku ingin kau memelukku erat dan mengukur batasku.
Silakan membuat aku percaya bahwa ini bukanlah dosa.
Aku ingin kau menciumku dan mengecat tubuhku.
Aku ingin mabuk dan tenggelam dalam pesonamu.

Oke, lupakan nyanyian diatas. Back to Story!

"Kak," panggil Kenji lagi.

"Ya?"

"Kalau laki-laki naksir laki-laki, normal nggak?" tanya Kenji.

JDEERR! Bagai disambar petir, Yugo kaget setengah mati. Kenapa Kenji bertanya begitu? Apakah ia tahu kalau kakaknya ini seorang…ehem…gay?

"Errr…" suara pertama keluar dengan ragu, "Nggak juga," jawabnya.

"Kalau seandainya ada orang suka sesama jenis, apakah nanti ia bisa diterima apa adanya oleh keluarganya?" tanya Kenji lagi.

"Ya… Tergantung, sih. Tapi kayaknya diterima, deh," jawab Yugo dengan ragu –lagi- .

"Seandainya kakak dicintai oleh seorang gay, bagaimana reaksi kakak?"

"Tentu saja aku nggak mau!" seru Yugo sambil berakting jijik. "Memangnya kenapa? Kok, kamu nanya yang seperti itu?"

"Nggak, sih," jawab Kenji, "Tadi aku diramal sama teman kalau aku dicintai oleh seorang gay."

JDUG! Sebuah batu besar menimpa Yugo. Keringat dingin bercucuran didahinya. 'Wah, gawat kalau Kenji tahu kalau gay itu adalah aku.'

Menit selanjutnya, mereka diam. Mereka makan dengan lahap.

.

TBC…

.

.

Maafkan saya. Fic-nya garing sekali, ya…?

Bingung sih mau nulis apaan. Maklumlah saya ini Straight. Kurang paham yang namanya shonen-ai atau shoujo-ai. Sekali lagi maaf.

Silahkan review jika berkenan. Kritik dan saran sangat dibutuhkan^^