Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekerasaan, dll.

Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : M

Pairing : SasuSaku

Genre : Hurt/comfort & Romance

Chapter 14: little candle in the darkness.

Naruto memperhatikan Sasuke yang sedang menegak minuman—entah sudah gelas yang ke berapa malam ini—dengan kening berkerut. Semenjak kepergian Sakura, enam bulan yang lalu, yang dilakukan Sasuke setiap malam hanya duduk di bar dan menegak minuman berkadar alcohol tinggi hingga mabuk. Tangan pemuda pirang itu dengan perlahan menyentuh bahu sahabatnya, tidak pernah dia melihat Sasuke hingga sehancur ini. Tertekan dan hampir menjadi gila hanya karena hingga sekarang keberadaan Sakura belum diketahui, padahal pemuda raven itu sudah mengerahkan orang-orang terbaiknya untuk mencaritahu keberadaan gadis yang dicintainya. Yang bisa pemuda itu lakukan setiap malam hanyalah menatap hampa kearah tempat tidur mereka dan kemudian berbaring persis ditempat gadis itu pernah berbaring, menyerapi bau tubuh Sakura yang masih bisa terhirup indera penciumannya, berharap dengan begitu bisa mengobati sedikit rasa kerinduannya.

Sasuke menoleh dengan tampang ogahan-ogahan ke arah Naruto, tangannya menggenggam segelah bir dan bibirnya menyunggingkan seulas senyuman aneh. Tangan Naruto bergerak dengan cekatan untuk menghentikan Sasuke saat pemuda itu akan kembali meloloskan minuman haram tersebut ke dalam kerongkongan nya membuat Sasuke mendelik tajam pada sahabat terdekat nya itu.

"Sudah cukup, Sasuke."

Sasuke yang sudah sejak awal dalam keadaan emosi yang tidak stabil langsung tersulut kemarahannya sendiri. Tangan pemuda itu melemparkan gelas yang sedari tadi berada di genggaman tangan nya ke arah lantai hingga hancur berkeping-keping, membuat perhatian para pengunjung tertuju ke arah mereka. "Sama sekali bukan urusanmu. Jangan ikut campur."

Orang-orang mulai berbisik.

Naruto hanya diam menatap sepasang onyx yang untuk pertama kalinya berkilat penuh ancaman tertuju padanya. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi kau tidak bisa terus-terusan seperti ini."

"Kau tidak akan pernah mengerti Naruto, bukan Hinata yang meninggalkanmu." Desisnya pelan.

Naruto tetap bungkam. Dia memang tidak mengerti bagaimana rasanya tanpa Hinata di sampingnya, tapi dia sangat tahu bagaimana perasaan Sasuke saat harus jauh dari gadis yang dia cintai. karena dia juga tidak pernah membayangkan apalagi sampai terjadi Hinata meninggalkannya tanpa alasan. Dia tidak mungkin sanggup bertahan tanpa gadis itu di sisinya. Tapi dia juga tidak ingin melihat sahabatnya terus-terusan bersikap seperti ini, Sasuke menghancurkan dirinya sendiri demi ketenangan sesaat yang sebenarnya justru membawanya ke jurang kenistaan. Perlahan rasa hancur dan bersalah itu menggiring Sasuke menenggelamkan diri dan kesadarannya ke jurang yang terdalam.

"Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi aku sudah muak melihatmu berusaha menghancurkan hidupmu seperti ini. Aku tahu kau mencintainya. Tapi apa dengan seperti ini, maka Sakura akan kembali padamu? Apa pun yang kau lakukan tidak akan mengubah kenyataan kalau Sakura pergi meninggalkanmu."

Tepat sedetik setelah kata-kata itu melucur dari mulut Naruto, Sasuke menghantam tubuh sahabat terdekatnya itu dengan kekuatan penuh hingga tubuh Naruto jatuh menghantam Wet Bar dengan Sasuke menindihnya sambil mencengkram kerah jaket pemuda pirang itu dengan penuh kemarahan, membuat gelas-gelas kaca yang dipajang diatas meja Wet bar berjatuhan. "Kau tidak berhak untuk menilai hidupku. Kau tahu apa, huh?" Sasuke menghantamkan tinjunya ke wajah Naruto hingga sudut bibir pemuda pirang itu berdarah.

Para pengunjung, terutama pengunjung wanita memekik ketakutan.

Naruto mendengus meremehkan lalu sejurus kemudian menyunggingkan seulas senyuman mengejek. "Apa kau puas sekarang?" Seakan menyadari kelemahannya sendiri, Sasuke justru dengan semakin beringas menghantamkan tinjunya ke wajah Naruto.

"Kau terus-terusan bertingkah seakan kau adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Lalu bagaimana dengan Sakura? Kau pikir dia tidak terluka?" sekarang ganti Naruto yang meneriakan semua yang selama ini luput dari perhatian Sasuke. Naruto menghantam balik Sasuke dan melayangkan tinjunya sekuat tenaga hingga rahang Sasuke dipenuhi lebam kebiruan. Keduanya jatuh terjerembab ke lantai dengan diiringi suara pekikan ketakutan dari beberapa pengunjung saat menyaksikan kedua orang penuh kuasa itu memporak-porandakan sebuah Klub malam ternama karena mempertengkarkan seorang gadis.

Tidak ada yang berani melerai, tidak pun juga dengan sang manager klub yang hanya bisa berdiri dipinggir menyaksikan perkelahian keduanya. Uchiha Sasuke, bungsu dari keluarga bangsawan yang memiliki control utama pada perkembangan di hampir lima Negara sedang adu jotos dengan sahabatnya sendiri, sipirang Namikaze yang tidak kalah berkuasanya. Berusaha melerai kedua orang itu sama saja dengan berusaha membuat diri berada dalam masalah besar.

Sasuke terdiam. Kadang, saat manusia merasa terluka. Mereka cenderung melupakan hal-hal kecil yang bisa membuat mereka bahagia dan hal-hal lain yang ternyata juga membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Manusia itu begitu penuh dengan kemunafikan. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sanggup mengalihkan pikirannya dari rasa sakit dan terluka. Begitu pula Sasuke.

Nafas keduanya memburu. Naruto masih mencengkram ketat kerah kemeja Sasuke dan menatap sepasang onyx sahabatnya yang sekarang seperti telah kehilangan cahaya kehidupannya. Mungkin dengan seperti ini Sasuke bisa menyadari di mana letak kesalahannya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Neji yang datang bersama Gaara terkejut saat mendapati kedua sahabat mereka sedang berada dalam posisi yang sangat tidak menyenangkan untuk dipandangan mata.

Naruto melepaskan cekalannya pada kerah kemeja Sasuke dengan kasar hingga tubuh pemuda itu terhempas dengan kasar ke lantai dan kemudian beranjak dari atas tubuh Sasuke. "Kau tanyakan saja padanya."

Gaara membantu Sasuke yang sepertinya sudah kehilangan tenaga sama sekali untuk bangun dengan menyangga lengan pemuda itu di bahu nya. Wajah Naruto dan Sasuke sudah sama-sama dalam keadaan yang mengenaskan. Lebam dan kebiruan di wajah kedua orang itu menunjukkan kalau masalah yang sedang terjadi tidak bisa dianggap sepele, tidak pernah sekali pun Sasuke sampai bertengkar dengan Naruto yang sudah dianggap memiliki ikatan yang lebih daripada seorang saudara dengannya. Naruto tidak menjawab dan lebih memilih beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun sementara mata Sasuke mengikuti langkah sahabatnya hingga punggung pemuda itu menghilang ditelan kegelapan.

-SAKURA-

"Ayolah, teme! Sebentar lagi 'kan ulang tahunmu, kau seharusnya bisa lebih ceria." Naruto berucap sambil memberikan cengiran rubah khasnya. Tangannya bergerak untuk merangkul bahu sahabatnya yang masih setia memandangi segelas Wine yang tersisa separuh.

Sejak kejadian seminggu yang lalu. Neji dan yang lain berusaha membuat kedua orang keras kepala itu berbaikan dengan segera. Meski pun Sasuke tidak menunjukkan gejala-gejala merasa bersalah setelah terlibat pertikaian dengan sahabatnya sendiri dan berakhir dengan adu hantam antara keduanya, namun Gaara mengerti kalau Sasuke sedang berusaha menutupi perasaan yang sesungguhnya, hanya dia tidak mengakuinya. Sasuke hanya sedang terlalu terbawa perasaan dan tindakan Naruto memukul pemuda itu sudah sangat tepat untuk mengembalikan kesadarannya yang beberapa bulan ini mengambang. Sementara Naruto, meski pun pemuda pirang penerus Namikaze Company itu adalah orang yang terkadang bersikap sangat konyol, mudah emosian dan sangat mengganggu, namun Naruto adalah yang paling bisa diandalakan kalau sudah menyangkut perasan orang-orang terdekatnya. Naruto bisa menjadi begitu peka, tetapi juga yang paling mudah melupakan segala kesalahpahaman dan mengembalikan kecerian diantara mereka. Kalau Sasuke ibarat sang malam, maka pemuda itu adalah matahari bagi persahabatan mereka. Tidak sedikit hal yang telah mereka lalui bersama selama belasan tahun ini. Dan tidak ada alasan untuk menghancurkan persahabatan yang telah terjalin hanya karena pertengakaran, meski seberat apapun.

Seperti sekarang. Naruto dengan santai mengajak Sasuke mengobrol meski hanya ditanggapi sedikit-sedikit oleh pemuda raven itu, tapi setidaknya Sasuke sudah mulai bisa mengalihkan pikirannya dari gadis yang telah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping walau mungkin tidak sepenuhnya.

"Aku punya kejutan untukmu, Teme!" ucap Naruto sambil meletakkan gelas minumnya di atas meja. Mereka sedang berada di Klub dan sengaja memesan Room untuk alasan kenyamanan.

Sasuke menatap, tapi tanpa minat. Menjawab pertanyaan Sasuke, tangan Neji bergerak untuk menyerahkan secarik kertas ketangan Sasuke yang disambut dengan kerutan bingung dikening pemuda berambut biru dongker itu.

"Apa ini?" tanya Sasuke pelan.

Naruto hanya tersenyum, sementara Neji justu malah menatap wajah Naruto yang dipenuhi cengiran dengan kilatan mata penuh arti. "Itu adalah alamat tempat tinggal Sakura sekarang." ucap Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke yang sekarang sedang menatapnya penuh ketidakpercayaan.

Sasuke menatap secarik kertas itu dengan banyak harapan melintas di matanya yang sekelam malam. Kalau memang benar alamat yang tertera di kertas ini bisa mengembalikan Sakura ke sampingnya, sungguh tidak ada hal lain yang sanggup membuatnya merasa lebih bahagia daripada saat ini. Segera harapan melambungkan Sasuke ke tempat yang paling tinggi.

"Dari mana kalian mendapatkannya?" tanya Sasuke setelah pemuda itu berhasil mengendalikan sentakan rasa bahagia di benaknya.

"Itu samasekali tidak penting. Dan itu adalah hadiah ulang tahunmu dari kami berlima." ucap Naruto riang. Dia merasa sangat bahagia karena mampu mengembalikan kebahagiaan sahabat yang berharga baginya.

Sasuke manatap bergantian wajah kelima sahabatnya. Bahkan Shikamaru yang bisanya terlihat malas dan tidak berminat menunjukkan raut wajah penuh dukungan. Mereka berlima sama-sama mengharapkan Sasuke mengejar kembali kebahagiaan nya, dan mengatakan kalau apa pun yang terjadi mereka tetap mendukung Sasuke dan berada di sampingnya saat pemuda itu merasa hancur dan terluka. Karena memang itulah gunanya teman.

"Tapi Sasuke—" Naruto memenggal kata-katanya, membuat Sasuke menatap penuh antusias menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. "Aku harap kau tidak terkejut nantinya,"

Dahi Sasuke berkerut. "Memang nya kenapa?"

"Nanti kau juga mengerti."

-SAKURA-

Ini sudah hari ketiga Sasuke terjebak di sebuah rumah kecil sederhana yang menjadi tempat pengintain nya. Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Sakura—yang diberikan oleh teman-temannya—yang ternyata adalah alamat sebuah panti asuhan yang sangat terpencil di sebuah desa—pantas saja Sasuke tidak dapat menemukan keberadaan Sakura yang sudah seperti ditelan bumi—pemuda itu tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun dan langsung mengerahkan segala yang dia mampu untuk menemukan gadis itu dan membeli sebuah rumah persis di depan panti asuhan itu berada —yang sebenarnya adalah rumah penampungan sederhana—agar tidak terlihat mencurigakan. Dia sudah tidak sabar melepaskan kerinduan nya pada gadis yang mengisi relung hatinya itu sehingga memutuskan untuk terjun langsung kelapangan demi agar bisa melihat wajah gadis yang sangat dirindukannya.

Meski terlahir dengan pasokan kesabaran yang sangat terbatas, tetapi demi bisa bertemu dengan Sakura kembali, Sasuke rela menunggu dan menyabarkan hatinya yang sudah dipenuhi dengan rasa rindu yang menggunung. Tapi hingga lewat hampir seminggu menunggu, pemuda itu masih belum bisa mendapati keberadaan Sakura. Sebenarnya dia bisa saja menerobos masuk dan membawa gadis itu kemballi kepelukannya, tapi dia sadar betul kalau dirinyalah penyebab kepergian gadis itu dari hidupnya. Sasuke memang sempat memeriksa data-data orang yang berada dipanti asuhan itu dan tidak menemukan Sakura diantaranya, tetapi dia sudah terlanjur berharap dan menjatuhkan kepercayaannya kepada kelima temannya, itulah sebabnya mengapa hingga sekarang dia masih berusaha bersabar.

Sasuke duduk di dalam mobil yang sengaja di parkirkan did epan rumah pengintaiannya dengan jantung yang berdebar kencang saat akhirnya penantiannya terbayar. Sakura, gadis yang sangat dirindukannya itu sekarang sedang melangkah keluar dari dalam panti asuhan sederhana dengan langkah-lengkah pelan sambil tangan kirinya membawa sebuah alat penyiram tanaman sedangkan tangan kanannya menggandeng seorang gadis kecil yang tertawa dengan gembira. Sakura masih secantik yang dia ingat. Seulas senyuman tulus mengembang di wajahnya tampan nya setelah sekian lama.

Sejurus kemudian detak jantung Sasuke berdebar menjadi dua kali lebih kencang daripada sebelumnya saat menyadari kenyataan di depannya yang awalnya luput dari perhatiannya karena terlalu bahagia bisa melihat lagi wajah gadis yang sangat dicintainya. Langkah Sakura terlihat agak kepayahan dan tangan kanannya yang tadinya digunakan untuk menggandeng tangan gadis kecil yang sekarang sedang menyirami bunga dengan tangan mungilnya, sekarang beralih meletakkan tangannya di bawah perutnya yang membuncit, seolah sedang berusaha menyangga.

Gadis itu sedang mengandung.

Inikah maksud perkataan Naruto waktu itu. Bahwa ternyata Sakura sedang dalam keadaan mengandung saat memutuskan untuk meninggalkannya seorang diri dalam penderitaan dan sudah bisa dipastikan janin yang bertumbuh di dalam rahim gadis itu adalah benihnya. Dia akan menjadi seorang ayah. Tetapi sejurus kemudian kebahagiaan itu dengan cepat meluruh menjadi sentakan rasa bersalah. Dia merasa sangat berdosa karena tidak berada di samping gadis itu saat Sakura membutuhkan kehadirannya.

Sasuke masih tetap bergeming di tempatnya saat kedua mata onyxnya mendapati beberapa orang bertubuh besar keluar dari dalam mobil dan kemudian menghampiri Sakura dengan wajah dipenuhi gurat kemarahan. Mereka terlihat sedang berbicara, sepertinya Sakura berusaha mengajak orang-orang itu berbicara baik-baik namun malah disambut dengan teriakan kemarahan mereka hingga membuat gadis kecil yang semenjak tadi ketakutan dan menyembunyikan tubuh gemetar nya di belakang tubuh Sakura yang memucat.

Rupanya karena mendengar teriakan-teriakan empat orang pria berwajah seperti preman itu seorang wanita paruh baya keluar dari dalam panti asuhan dengan langkah terpogoh-pogoh dan juga ikut bersusah menenangkan amukan keempat pria. Sejurus kemudian dua orang pria masuk ke dalam panti dan kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa benda yang bisa mereka temukan bersamaan dengan keluarnya beberapa anak panti asuhan yang sudah menangis karena ketakutan lalu kemudian melempar barang-barang yang kebanyakan hanya berupa pakaian itu ke tanah dengan sangat kasar.

Saat Sakura berusaha mempertahankan rumah kecil yang menjadi tempatnya berteduh selama ini, orang-orang berwajah kasar itu justru dengan berang mendorong tubuhnya hingga jatuh terhempas. Beberapa anak menangis sambil berusaha membantu Sakura berdiri. Sasuke sudah tidak dapat menahan dirinya lagi saat melihat tubuh Sakura melemah dan kemudian kembali jatuh ke tanah karena tidak sanggup menopang berat tubuhnya sambil meringis kesakitan.

Tubuh pemuda itu dengan refleks bergerak keluar dari dalam mobil begitu melihat Sakura menangis sambil memegangi perutnya dengan wajah dipenuhi gurat kesakitan, berlari melintasi jalan dan kemudian berlutut di samping tubuh gadis itu sambil menyangga tubuh Sakura yang terkulai lemah.

"Sasuke," suara Sakura tidak lebih keras dibandingkan dengan angin musim panas yang sedang berhembus saat menyadari keberadaan Sakura di tengah kesadarannya yang mulai mengambang.

"Hei, siapa kau? Sebaiknya jangan berusaha ikut campur kalau tidak ingin celaka." Teriak salah seorang dari pria besar itu dengan penuh kemarahan saat menyadari kehadiran Sasuke ditengh-tengah kegiatannya memporak-porandakan seluruh keadaan rumah.

Sasuke bergeming sambil menatap pria dengan tatapan ingin membunuh. Yang menjadi focus perhatiannya saat ini hanyalah Sakura yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi perut besarnya.

"Tuan muda Uchiha. Anda baik-baik saja?" beberapa orang pria bersetelan jas resmi berlari mendekat kearah Sasuke. Pemuda itu memang sudah menyiapkan beberapa orang kepercayaannya untuk menemani dirinya dalam melakukan pengintaian selama seminggu ini untuk mengantisipasi keadaan yang tidak dia inginkan.

Begitu mendengar nama Uchiha disebut-sebut. Keempat pria bertubuh besar itu sontak membeku. Mereka tidak bisa berkutik dan hanya bisa saling menatap satu sama lain sementara tangan mereka sudah berhennti melakukan sedikit orang yang tidak menyadari betapa berkuasanya pria muda yang sedang berlutut dihadapan mereka sekarang.

"Bereskan mereka." Setelahnya Sasuke segera memacu langkahnya untuk membawa tubuh Sakura kedalam mobil.

-SAKURA-

Sakura menyibak perlahan tirai kamar yang menghalangi pandangannya terhadap rumah sederhana yang berdiri persis di depan panti asuhan tempatnya tinggal selama beberapa bulan terakhir. Seminggu dudah berlalu sejak Sakura tahu ada penghuni baru di rumah sederhana yang berada persis di depan panti asuhan yang lebih bisa disebut sebagai rumah penampungan bagi anak-anak jalanan ini. Entah kenapa dia merasa ada hal yang janggal dari orang yang sekarang menghuni rumah itu. Mungkin dia adalah orang yang tertutup, pikir Sakura. Pasalnya hingga sekarang sepertinya tetangga barunya itu samasekali tidak punya niat untuk sekedar menyapa mereka yang berada di sekitar wilayah ini dan memperkenalkan diri seperti yang selayaknya dilakukan tetangga yang baru pindah pada umumnya. Ada mobil sedan yang di parkirkan di halaman tanpa berpindah sejak seminggu yang lalu, dan yang terlihat hanya beberapa orang yang kadang-kadang datang sambil membawa beberapa peralatan atau makanan lalu kemudian pergi begitu saja.

"Nee-San! Ayo temani Hikaru menyiram bunga." Seorang gadis kecil berjalan masuk kedalam kamarnya sambil membawa alat siraman bunga. Matanya menatap Sakura penuh harap.

Sakura tersenyum sambil mengacaK-ngacak rambut gadis kecil itu dengan perasaan sayang. "Ayo!" Sakura menggandeng tangan gadis kecil dan kemudian menuntunnya berjalan keluar.

Senyuman menggembang di wajahnya. Hikaru mempunyai nasib yang hampir sama dengan yang dialami sakura dimasa kecilnya, gadis itu dibuang oleh orangtuanya karena tidak diinginkan, alasannya sangat sederhana, karena gadis itu terlahir dari hubungan terlarang. Ditinggalkan dijalanan begitu saja tanpa peduli apakah nantinya bisa bertahan atau tidak, dan kemudian ditemukan oleh bibi pemilik panti. Semenjak itu Hikaru dirawat ditempat sederhana ini bersama dengan tujuh orang anaklainnya.

Melihat bagaimana sulitnya hidup Hikaru selama ini, membuat Sakura memikirkan bagaimana nasib bayinya kelak. Hidup tanpa mengetahui latar belakang keluarga dan siapa ayahnya yang sebenarnya. Dia pergi dari Sasuke agar pemuda itu bisa mendapatkan kebahagiannya tanpa mengetahui dirinya sendiri tengah mengandung, dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk kembali dan mengatakan berita bahagia atau mungkin menjadi berita buruk itu pada Sasuke. Dilihat dari segi manapun, meski Sasuke adalah ayah biologis dari bayi yang tengah dikandungnya, tapi bukan berarti Sasuke harus merasa bertanggung jawab atas perbuatan yang telah mereka lakukan atas dasar suka sama suka karena mereka tidak terikat dalam suatu hubungan yang disebut pernikahan. Pemuda itu dengan segera akan membina keluarga baru bersama gadis yang sudah sepantasnya berada disisinya dan kehadiran bayi mereka hanya akan merusak kebahagiaan itu dan tentu saja mencoreng nama baik keluarga Uchiha.

Dia merasa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan bibi pemilik panti dan juga anak-anak yang lain. Waktu itu dia sudah merasa sangat putus asa hingga tidak tahu harus pergi kemana setelah memutuskan untuk keluar dari manshion uchiha dan dia juga tidak mungkin kembali kepanti asuhan tempat dia pernah dirawat. Dia memutuskan untuk naik kereta tanpa peduli arah dan tujuan dan kemudian pingsan setelah hampir tertabrak karena berusaha menyelamatkan Hikaru yang saat itu tengah menangis ditengah jalan karena lututnya terluka.

Dan saat sadarkan diri dia sudah berada disebuah kamar sederhana dengan Hikaru yang menangis karena merasa bersalah. Saat itulah dia tahu dirinya tengah mengandung karena bibi pemilik panti memanggil seorang dokter yang membuka praktek disekitar wilayah itu untuk memeriksa keadaan Sakura. Dokter itu mengatakan kalau Sakura cukup beruntung karena benturan itu tidak berhasil merenggut nyawa bayi yang berada dirahimnya dan menyarankannya untuk lebih berhati-hati. Ada rasa bahagia bercampur rasa sakit saat mengetahui kalau dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Sasuke meski tidak sempat memberitahukan pemuda itu mengenai kehamilannya. Tidak ada rasa penyesalan didalam hati Sakura, dan bertekat akan merawat bayinya seorang diri meski tanpa Sasuke yang sekarang pasti tengah mengecap indahnya kebahagiaan dengan calon isterinya.

Dia hampir tidak bisa menahan rasa haru saat bibi pemilik rumah itu menawari Sakura untuk tingal dirumah kecil ini agar bisa membantunya mengurus anak-anak yang lain saat dia mengatakan kalau dia tidak tahu harus pergi kemana dan sudah tidak memiliki sanak-saudara.

Sakura sesekali membantu hikaru memegangi alat penyiram bunga yang sekarang berisi air dan tentunya agak berat untuk seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, gadis kecil yang memiliki warna mata sehitam batu obsidian, yang entah mengapa selalu bisa mengingatkan Sakura akan keberadaan Sasuke yang dia coba untuk lupakan sekuat tenaga. Walau bagaimanapun dia masih sangat mencintai pemuda itu meski sesesakit apapun luka yang telah dia torehkan, setidaknya sekarang dia sudah mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan baru yang lebih baik bersama calon anaknya.

Hari ini matahari musim panas bersinar sangat terik hingga meski baru beberapa saat berada di bawah terpaan cahaya sudah membuat tubuh Sakura berkeringat. Senyum mengembang diwajah Sakura saat melihat bagaimana Hikaru sangat bersemangat melakukan kegiatan menyiram bunga-bunga berwarna cerah yang menyejukkan mata saat menatapnya. Angin berhembus pelan membelai lembut bulu-bulu halus di wajah Sakura, suara jangkrik yang bersembunyi dibalik pepohonan semakin menyemarakkan suasana. Sakura membelai lembut perutnya yang sudah semakin membesar setiap harinya dengan gerakan memutar karena sudah menginjak bulan keenam dan membuatnya sering kesulitan melakukan beberapa kegiatan. Yang bisa dia lakukan hanya sekedar membantu perkerjaan ringan seperti memasak dan yang lain, morning sickness yang sering dialami ibu muda saat bukan pertamanya juga masih terjadi hingga sekarang meski tidak terlalu parah. Tapi dia sangat bershukur karena meski sedang mengandung, Sakura tidak mengalami yang disebut orang-orang dengan gejala mengidam. Mungkin bayinya mengerti bagaimana kondisi Sakura.

Ketakutan menderanya begitu mata emeraldnya mendapati sebuah mobil tiba-tiba berhenti didepan rumah mereka dan kemudian empat orang berwajah berangasan keluar dari dalam mobil. Sakura segera menarik Hikaru yang ketakutan untuk berlindung dibelakang tubuhnya.

"Mana bibi tua itu?" salah satu dari orang itu berteriak dengan sengaja untuk membuat keributan.

Bibi baik hati pemilik panti yang hanya janda seorang veteran perang tentu saja tidak memliki cukup uang untuk membiayai delapan orang anak tunawisma dengan sisa uang pensiunan almarhum suaminya hingga membuatnya terlibat hutang dengan beberapa rentenir dan sekarang mereka datang untuk menagih uang itu dengan berusaha menyita satu-satu rumah yang menjadi tempat mereka bernaung selama ini.

"Ada apa ini? saya mohon tuan, kita bisa membicarakan ini dengan cara baik-baik. Kami berjanji akan meluni hutang dengan segera, tapi beri kami sedikit waktu lagi." Bibi pemilik panti yang mendengar suara ribut-ribut terkejut saat mendapati orang suruhan rentenir sduah berada dihalaman rumah mungilnya.

"Tidak ada waktu lagi untukmu. Kau sudah berulang kali meminta perpanjangan waktu."

"Saya mohon tuan." Bibi itu berusaha mendapatkan sedikit rasa simpati dari keempat orang itu.

Mereka tidak bisa melakukan apa-apa-saat ketiga orang yang lain masuk kedalam panti dan memporak-porandakan barang-barang didalam rumam mereka. Ketiga orang tidak berperasaan itu melempar semua pakaian yang mereka temukan didalam lemari kehadapan mereka. Semantara anak-anak yang ketakutan berlarian dari dalam rumah dan mulai menangis melihat mereka akan segera terusir dari tempat mereka untuk berteduh. Kemana lagi mereka harus tinggal kalau rumah ini mereka ambil.

"Tuan, saya mohon berikan kami waktu sedikit lagi."

Orang itu mengibaskan tangannya didepan wajah Sakura dengan kasar. "Alah, percuma saja. Meskipun rumah ini kami sita, tetap tidak akan mampu menutupi hutang kalian selama ini." Dan kemudian mendorong tubuh Sakura kasar hingga jatuh terhempas ketanah.

Sakura meringis merasakan saat bagian bawah tubuh dan perutnya terasa sangat sakit. Beberapa orang anak menghampirinya. Gadis itu mencoba berdiri dengan sisa-sisa tenaga dengan dibantu oleh Hikaru dan yang lain tapi rasa sakit itu justru semakin hebat. Ada darah merah yang mengalir dari sela-sela pahanya.

Seseorang melingkarkan lengan kokonya dipinggang Sakura saat kedua lutut gadis itu lunglai dan tidak sanggup menanggung berat tubuhnya. Sakura terpana saat menyadari Sasukelah yang sekarang berada disampingnya. apakah sekarang dia sedang berhalusianasi karena terlalu merindukan pemuda itu hingga sangat tersiksa.

"Sasuke—." Sakura berucap lirih. Berusaha meyakinkan dirinya kalau pemuda yang sekarang berada disampingnya adalah orang yang memang sangat dirindukannya selama ini.

-SAKURA-

Sasuke masih belum bisa bernafas lega meskipun sekarang mobil sedang melaju dengan kecepatan maksimun dijalan kota. Yang bisa Sasuke lakukan hanyalah menatap wajah Sakura yang dipenuhi guratan kesakitan dengan perasaan getir. Wajahnya sangat pucat sementara keringat dingin merembes keluar dari sela-sela pori-pori kulitnya dengan sangat deras. Gadis itu mengerang kesakitan sambil mencengkram perutnya.

"Sakit Sasuke—" Sasuke refleks mengetatkan pelukannya ketubuh Sakura berharap dengan begitu bisa mengurangi sedikit rasa sakit gadisnya. Tangan kanan Sakura saling bertaut dengan jemari Sakura sementara tangan kiri gadis itu sedang meremas kemeja Sasuke yang sekarang sudah tidak berbentuk untuk menyalurkan rasa sakitnya. Sasuke sudah tidak perduli lagi dengan keadaan jemari kanannya yang terasa mati rasa kala gadis itu meresmasnya dengan seluruh kekuatan.

Untuk yang pertama kalinnya Sasuke merasakan seperti apa rasanya rasa takut ketika dia hampir kehilangan seseorang yang sangat berharga dari dalam kehidupannya, jantungnya berdebar dengan sangat kencang saat kenyataan menghantam kesadarannya kalau sekarang gadis yang dia cintai dengan segenap jiwanya sedang berjuang melawan maut. Darah merah merembes sangat deras dari sela-sela selangkangan Sakura, gadis itu mengalami pendarahan yang sangat hebat hingga membuat Jok bagian belakang mobil Sasuke yang berwarna putih gading terkotori oleh warna merah darah. Selama ini dia tidak pernah percaya Tuhan akan bersedia mengabulkan permintaan seorang pendosa sepertinya, tapi untuk pertama kalinya Sasuke menumpukan segala harapan dan mimpinya agar Tuhan bersedia menyelamatkan calon bayi mereka dan jiga gadis yang dia cintai.

"Bertahanlah Sakura, aku mohon bertahanlah demi bayi kita. Demi aku."

Sakura berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan kesadarannya disela-sela rasa sakit yang mendera bagian bawah tubuhnya. Dia sudah tidak sanggup memikirkan apapun lagi kecuali keselamatan bayi yang sedang dikandungnya. Rasanya sangat sakit hingga dia berharap untuk mati saja, tapi dia harus tetap bertahan demi bayinya. Walau bagaimanapun dia ingin bayi hasil buah cintanya dengan Sasuke bisa terlahir kedunia dengan selamat meski harus mengorbankan nyawanya untuk itu.

"Cepat," Sasuke berteriak kalap kearah pria yang sedang mengendalikan laju mobil.

Kepanikan yang luar biasa melanda Sasuke saat dirasanya tubuh Sakura yang berada didalam pelukan kedua lengan kokohnya mulai melemas, mata gadis itu perlahan tertutup dan sejurus kemudian benar-benar terdiam sementara laju mobil justru semakin melambat hingga akhirnya benar-benar berhenti sementara mereka belum sampai ditempat tujuan.

"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Sasuke gusar. Sasuke sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak berteriak histeris, pikiran yang semakin kalut tidak akan membantu sasuke mendapatkan jalan keluar.

"Maafkan saya tuan. Tapi sepertinya kita terjebak kemacetan, dan biasanya macet seperti ini membutuhkan waktu setengah jam."

Sasuke melongokkan kepalanya dan mendapati barisan padat mobil-mobil yang berjejer ditengah jalan hingga benar-benar menutup akses untuk bergerak. Pemuda itu berdecak kesal bercampur dengan rasa frustasi. Tidak ada cara lain kecuali membawa Sakura secepatnya kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan atau dia akan kehilangan jiwa gadis yang dicintainya. Sasuke bergerak keluar dari dalam mobil sambil membopong tubuh Sakura direntangan kedua lengan kokohnya, pemuda itu mengerahkan seluruh tenaganya berlari membawa Sakura menuju kerumah sakit terdekat yang berjarak beberapa blok dari lokasi kemacetan.

Diacuhkannya pandangan takjub sekaligus heran yang terpancar dari mata setiap orang yang menyaksikan seorang Uchiha Sasuke yang terkenal dengan sifat anggkuh dan dinginnya sedang berlari sambil menggendong tubuh seorang gadis yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri menuju kerumah sakit.

Sakura segera dilarikan ke instalasi gawat darut begitu Sasuke berhasil mencapai rumah sakit dengan nafas yang sudah benar-benar amburadul dan terputus-putus. Meskipun lelah luar biasa, tetap tidak bisa menghentikan tubuh pemuda itu untuk tidak bergerak kesana kemari seperti setrikaan didepan ruang UGD, pemuda itu merasa sangat cemas.

"Sasuke!" Sasuke menolehkan kepalanya begitu mendengar suara baritone yang sudah sangat dikenalnya memanggil namanya dari kejauhan. Mata pemuda itu mendapati seonggok kepala dipenuhi rambut sewarna dengan durian berlari menuju kearahnya bersama dengan gaara, Neji, shikamaru dan Sai dibelakangnya.

Saat telah berhasil tiba dirumah sakit, Sasuke memang langsung menghubungi teman-teman terbaiknya dan mengatakan Sakura mengalami pendarahan. Walau bagaimanapun entah kenapa dia merasa dukungan dari teman-temannya dikondisi sekarang ini sangat dia butuhkan. Dia tidak mungkin bisa bertahan selama ini tanpa dukungan dari Naruto dan yang lainnya. Sungguh saat ini tidak ada yang lebih dishukuri oleh Sasuke selain telah mendapatkan orang-orang terbaik sepanjang hidupnya.

"Bagaimana keadaan Sakura, teme?" naruto yang paling pertama bersuara.

Sasuke hanya menggeleng lemah dan sejurus kemudian mengusap kasar wajahnya dengan kasar. Pemuda raven itu telihat sangat berantakan, gurat-gurat kekhawatiran terlihat sangat jelas diwajahnya semntara kemeja putih yang dikenakannya berlumuran darah merah. Dia sudah hampir putus asa. "Semua ini salahku! Seandainya saja aku tahu."

Naruto duduk di samping sasuke dan lalu kemudian mengusap punggung pemuda itu lembut. "Bukan, kau tidak bersalah. Semua terjadi diluar kendali."

Sasuke mengangkat wajahnya dan kemudian menatap wajah para sahabatnya satu persatu. "Terimakasih karena telah mengembalikan dia padaku."

To be continued.

R

E

V

I

E

W

Special thanks:

Hime-hime chan. Sky pea-chan. San xerardo. Ran murasaki SS. Aoi ciel. Inai chan. Zeta hikaru. Uchiha Hime is poetry celemoet. Mysticious. Amyluxheart. Cloud54. Aiko min. Mayu chan. Larry stylinson. Alice. Miyank. Via chan. Aika yuki-chan. Yue-chan. Kuroma. Sung Rae ki. Meyrin kyuchan. Hasni kazuyakamenashi srateels. Gea chery blossom. Karasu uchiha. Me. Sasusaku. Sindi 'kucing pink. Kikyo fuzjikazu. Uchiha reya. Andy's anysakura. Camui hime. Fumiki Ai. Toys. SS SK. Anon. Mey hanazaki. hikaryNindychan.

hallo! Salam kenal juga semuanya, dan terimakasih atas dukungan kalian selama ini. sungguh, fic ini tidak apa-apanya tanpa dukungan dari kalian. Dan gomen, karena aku tidak bisa membalas review dari kalian satu persatu.

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk ucapan selamat kalian atas kelulusanku. Aku benar-benar terharu.

Dan khusus buat hasni kazuyakamenashi strateels. Maaf banget babe, enggak bisa Menuhin keinginan kamu. tapi kemungkinan nanti akan ada flaskback malam pertama sasusaku. Itupun kalau prolognya berhasil dibuat. Mungkin aku akan mengusahakan sequel.

Buat hime is poetry celemoet. Jangan bunuh aku ya, itu alurnya udah begitu seh. Jangan ngambek. Bakal happy ending kok.

kalaua da typo. jangan sungkan menegur, aku memang tidak sempat mengecek secara keseluruhan.