Hallo, kembali lagi berjumpa dengan Ao disini.^^
Yup, rasanya kangen juga udah lama gag bikin Fict, tapi apa daya, emang sama sekali lagi gag ada ide jadi sama sekali gag bisa bikin fict, untungnya kemaren pas lagi mendusin tengah malem, tiba-tiba langsung dapet ide dan tanpa pikir panjang, langsung buru-buru diketik sebelum ide itu menguap seperti yang sebelum-sebelumnya.
Oia, berkat kerja keras seorang bernama 'Yui Hoshina', fict ini akhirnya bisa ikut masuk untuk memeriahkan festival NaruHina Dark Day (NHDD) yang sedang berlangsung saat ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada beliau –God bless you-.
oke, ini adalah sebuah fict biasa yang dibuat oleh seorang Author yang juga biasa, tapi mudah-mudahan bisa menghibur para pembaca sekalian. Dan berhubung gaya menulis Author yang cepat serta ugal-ugalan, juga berkat tombol keyboard yang sudah tidak bisa dibilang bagus lagi, mungkin akan ada beberapa typo yang terselip disini, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar hal itu tidak –atau setidaknya tidak banyak- terjadi.

Jadi, tanpa banyak basa-basi lagi, saya ucapkan, selamat membaca..^^

_-0-_

All character's created and belong's to Masashi Kishimoto. Storyline by Aojiru. Genre's: Supernatural, Fantasy. Warning: AU, a little bit OOC.

The Lost Memory

_-0-_

-0-

0

o

.

Malam sudah larut ketika aku kembali ke apartemenku, hasrat untuk menghabiskan sisa malam ini di tempat tidur pun menjadi satu-satunya hal yang mampu dipikirkan oleh otak kecil dan lelah yang bersarang dikepalaku ini. Aku sedang membuka pintu selagi kedua mataku terpaut pada papan nama yang menjelaskan siapa pemilik apartemen dengan nomor 407 ini, dan disitu tertulis namaku sendiri, Uzumaki Naruto. begitu masuk, tanpa menunda lagi aku langsung meluncur dengan luwesnya kedalam balutan hangat selimut yang kubeli dengan harga murah sewaktu diadakan obral disalah satu toko Mabel dekat sini, karena itu aku sempat khawatir akan merasa sedikit kedinginan ketika aku menyelam kedalamnya, tapi ternyata tidak malam ini. Dan tanpa sempat merapalkan doa, aku pun tertidur.

Pagi begitu cepat menjelang, walaupun tentu saja sang waktu berjalan dengan normal seperti biasanya. Dapat kurasakan sinar matahari yang masuk melalui ventilasi udara dikamarku menyebar dan menghangatkan seisi ruangan, juga tentu saja mengganggu tidurku yang nyenyak. Kutarik selimut lebih tinggi sampai menutupi kepalaku, dengan harapan sinar matahari itu dapat terhalau dan aku kembali dapat melanjutkan tidurku. Namun, sepertinya sesuatu disampingku juga berpikiran sama, dia menarik selimut itu sampai separuh dari tubuhku, masih dalam keadaan setengah sadar aku pun kembali menarik selimut itu, begitu pula sebaliknya, dan akhirnya terjadilah perang saling tarik-menarik diantara kami.

Saat tiba gilirannya untuk menarik, aku berusaha untuk menahannya sekuat tenagaku, dan sepertinya usahaku itu berhasil, dia nampak kesulitan untuk kembali mendapatkan selimut itu, akupun tersenyum penuh kemenangan. Sampai akhirnya senyum itu hilang seketika saat aku sadar bahwa selama ini aku hanya tinggal seorang diri di apartemen kecilku ini. Kalau begitu siapa? Begitu pikirku, dan tanpa sadar, aku melepas peganganku pada selimut itu dan membuatnya yang masih berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan selimutnya jadi tersentak dan jatuh kelantai.

GUBRAK!

Sebuah suara kecil menyusul tepat setelah suara jatuh tadi terdengar, "i-i-itai na~!"

Aku pun menengok dengan penuh tanya, apa gerangan yang tadi menyelinap dalam tempat tidurku.

Sosok itu pun nampak tersenyum ketika kedua mata kami saling bertautan. "Selamat pagi! Kau siapa?" ujarnya riang.

"Uwaaaa!"

GUBRAK!

Saking terkejutnya, akupun ikut terjatuh kesudut kasur yang berlawanan dengannya, tubuhku terjatuh membentuk huruf 'L' dengan punggungku sebagai alasnya, akibatnya seluruh kepalaku terasa sedikit pusing. Dalam posisi seperti itu, aku masih sempat berpikir tentang apa yang baru saja kulihat, benarkah kalau yang kulihat tadi itu adalah.. seorang perempuan?

_-0-_

Entah bagaimana aku bisa menerima keadaan ini begitu saja, yang kutahu, saat ini seorang gadis dengan rambut Indigo panjangnya yang gelap serta bola mata Lavendernya yang terang sedang berada dihadapanku, dan kami hanya dibatasi oleh sebuah meja kecil yang berukuran panjang tidak lebih dari satu meter. Jarak kami cukup dekat, dan karena itulah aku dapat merasakan tubuhnya yang bergetar, mungkin dia pikir aku akan melakukan sesuatu yang jahat padanya karena dia telah masuk rumah orang tanpa permisi, atau mungkin hal-hal kejam lainnya, dan karena itu dia merasa ketakutan.

"Tenang saja, kau tidak usah takut. Aku tidak akan berbuat hal yang macam-macam," kuputuskan untuk memilih kalimat itu sebagai pembuka, agar dia bisa merasa lebih rileks dan lepas dari rasa takutnya terhadapku.

"A-a-aku.." ujarnya mulai terbata-bata, "a-aku ingin ke toilet..!"

"Kenapa tidak bilang!" ujarku sedikit membentak, tapi masih terdengar halus, "toiletnya ada disana, dari situ tinggal belok kiri dan kau akan menemukan sebuah pintu berwarna putih, dan disitulah toiletnya," kataku menjelaskan.

"Maaf, permisi.." ujarnya sambil meninggalkan ruangan.

"Haaah, benar-benar deh, kupikir dia ketakutan sampai gemetar seperti itu, dasar."

Pintu pun kembali terbuka, dan gadis itu kembali duduk bersimpuh diseberang meja yang berlawanan denganku.

"Hm.. nampaknya dia sudah sedikit tenang," pikirku beranalisa melihat tubuhnya yang sudah tidak lagi gemetar.

DRRRRTTT... DDRRRRRTT... DDDDDRRRRRRTTT...

"Sekarang apa lagi!" protesku melihat tubuhnya yang kembali bergetar.

"Eh?"

"Tubuhmu! Kenapa tubuhmu terus gemetar?"

"Eh..? Ah! A-aku memang sudah seperti ini sejak lahir," ujarnya sambil tersenyum santai.

"Mana bisa begitu? Memangnya kamu *Plue?" ujarku kembali protes. *.com/wiki/Plue

"Ma-maaf.." kali ini wajahnya nampak sendu.

Wajah seperti itu tentu saja membuatku lemah. "Ehem.. sudahlah, tak masalah buatku," kataku mencoba membuatnya tidak terlihat murung, "lagipula hal itu sama sekali ti-.. ITU BISA BERHENTI!" ujarku tiba-tiba sambil menunjuk tubuhnya yang tak lagi bergetar itu.

"I-iya, a-aku bisa menghentikannya kapanpun aku mau.." terangnya.

"Kenapa tidak dari tadi!" akupun sedikit kesal dibuatnya. "Grrrr... gadis ini, apa dia sedang mempermainkanku..?" pikirku.

"Ma-maaf.." wajahnya kembali murung.

Aku menatapnya, dan dia nampak benar-benar menyesal, sepertinya dia memang sedang tidak mempermainkanku, atau setidaknya itulah yang kurasakan. Aku menghela nafas panjang, "yah, tidak apa-apa, bukan masalah besar." Dan dia nampak tersenyum mendengar perkataanku barusan. Ekspresi wajahnya mudah sekali berubah, dia ini polos atau bodoh sih.

"Ehem!" Aku berdehem cukup keras untuk memulai apa yang seharusnya sudah kumulai sejak tadi. "Jadi, aku punya beberapa pertanyaan untukmu," kataku memulai.

"Siapa kau dan kenapa kau bisa berada di rumahku?"

Pertanyaanku itu seolah menyentaknya dengan keras, wajahnya kali ini terlihat begitu serius, sorot matanya pun berubah menjadi lebih tajam, aku tak menyangka dia bisa seserius itu. Detik kemudian wajahnya tertunduk, kedua tangannya berada diatas meja dalam keadaan terkepal kuat, seolah-olah dia akan membeberkan suatu rahasia yang besar.

"Aku.." wajahnya masih terdunduk, dan aku menatapnya dengan seksama.

"Aku.." ulangnya.

Kemudian dengan cepat wajahnya kembali menatapku dengan sorot mata yang masih sama dengan sebelumnya.

"A-aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu..!"

BLLDAAAAAARRRRRR!

"Tidak ...!" batinku menjerit sekerasnya, dengan kedua tangan memegangi kepalaku dengan keras seolah-olah aku takut kepalaku akan lepas saat mendengar jawabannya barusan.

Kemudian aku melabrak meja dihadapanku dengan cukup keras, mempertimbangkan kalau meja itu juga kudapat dengan harga murah yang tentu saja kualitasnya juga tidak terlalu bagus, jadi aku tidak melabraknya dengan sangat keras agar meja itu tidak hancur. Anehnya aku masih sempat memikirkan hal itu disaat-saat seperti ini.

"Tidak mungkin!" ulangku yang kali ini tak hanya kuucapkan dihati saja. "Bagaimana bisa kau tidak tahu akan hal itu? Lalu pada siapa lagi aku harus bertanya kalau kau sendiri tidak bisa menjawabnya? Memangnya kau pikir aku bisa menanyakan hal itu lalu aku sendiri juga yang menjawabnya? Ini bukan tentang aku, tapi ini tentang kau dan aku bertanya padamu jadi kaulah yang harus menjawabnya!"

Aku mengambil jeda untuk memperbaiki irama nafasku yang sedikit tersenggal, dan saat itu aku dapat melihat gadis yang duduk dihadapanku ini mulai menutupi kedua matanya dengan kedua telapak tangannya, terselip sebuah dengungan kecil dari jari-jemarinya yang dapat kuasumsikan bahwa itu adalah sebuah tangisan, dia menangis. Sepertinya pertanyaanku yang bertubi-tubi tadi adalah penyebabnya, atau mungkin saat aku memukul meja dengan cukup keras sesaat sebelumnya, ah, aku tak peduli akan hal itu, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa membuatnya diam, makin lama tangisannya makin terdengar lebih kencang dari sebelumnya.

"Hueeeee...!"

"Ah! Ma-maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud membentakmu atau memarahimu, a-aku hanya.. hanya.." aku kehabisan kata-kata, mengingat pengalamanku yang masih minim dalam menghadapi situasi seperti ini. "Kalau seperti ini dia pasti tidak akan berhenti mena-.. DIA BERHENTI!"

"Hiks.. hiks.."

"Cup.. cup.. cup.. sudah ya, jangan menangis lagi.." bujukku sambil mendekatinya dan memberinya sepucuk sapu tangan, dia memerhatikan sapu tangan itu selama beberapa saat sampai kemudian mengambilnya.

"Nampaknya dia sangat berhati-hati mengambil sapu tangan yang kuberian itu, apa dia pikir aku menaruh racun pada sapu tangan itu, dasar."

"Hooeekss!"

"KENAPA DIMAKAN?" buru-buru aku mengambil sapu tangan yang masih terkunyah dalam mulutnya itu. "Kau ini! sudah jelas ini bukan makanan, kenapa malah dimakan, tentu saja rasanya tidak enak!"

"T-tapi, aku lapar.." rintihnya sambil memegangi perut.

"Haah, ada-ada saja! Aku tidak punya banyak makanan, tapi kalau cuma sekedar ramen instan, aku punya. Mau kubuatkan?"

"Hm!" angguknya dengan antusias.

Aku pun segera bangkit dan melangkah menuju dapur untuk menyiapkan ramennya, gadis itu mengekor walaupun sudah kusuruh untuk tetap tinggal ditempatnya semula. Kebetulan perutku juga terasa lapar, jadi sekalian saja aku membuat dua ramen sekaligus. Dan selagi aku menyiapkan ramen tersebut, gadis itu menyaksikan tiap-tiap gerakan yang kubuat dengan seksama, seolah-olah aku adalah tontonan yang mengasyikan baginya.

"Kau terlihat sangat serius? Apakah sebegitu menariknya melihatku menyiapkan mie ramen ini?" tanyaku. Gadis itu sedang melipat kedua tangannya diatas meja sambil menopangkan dagunya dengan pandangan yang menatap langsung pada gerakan-gerkanku, dan karena itulah dia hanya bisa mengangguk kecil saat menjawab pertanyaanku barusan.

Tentu saja jawaban si gadis sangat berlawanan denganku, aku yang sangat menyukai ramen ini paling benci saat harus menyiapkan dan menunggu sampai ramen masak, dan hal hal yang tidak kusukai itu malah menjadi hal yang sangat disukai olehnya, anggapanku pun semakin jelas, kalau dia ini adalah gadis yang bodoh.

Lima menit sudah berlalu sejak aku menuangkan air panas kedalam ramen tadi, aku lebih suka membiarkannya sedikit agak lama dibandingkan waktu normal yang biasanya hanya tiga menit saja. Dan sekarang adalah saatnya untuk menyantap ramen tersebut. Dengan riang aku menyodorkan salah satu ramen untuk si gadis, dan aku pun langsung menyantap ramenku sendiri.

"Selamat makan!"

Hap! Nyam.. nyam.. nyam..

"Ah! Menikmati ramen dipagi hari memang sangat lezat, tidak sia-sia aku menunggu selama lima menit tadi."

GLUUP!

"Hah! D-dia.. dengan sekali telan..?"

"Slrrrp! E-enak!" ujarnya bersemangat sambil mengelap sisa kuah ramen di ujung bibirnya menggunakan punggung lengannya.

"Hahaha, tentu saja!" balasku. "Gadis ini, walaupun bodoh, tapi aku kagum akan kepandaiannya menghabiskan ramen dalam sekali suap, hebat."

"A-anu.." ujarnya sambil menyodorkan mangkuk bekas ramennya yang sudah kosong.

"Hah? Apa? kau mau tambah?" tanyaku. Dia pun mengangguk.

"Hm.. sepertinya dua ramen yang baru saja kita habiskan ini adalah persediaan terakhir dirumah ini.."

Wajahnya terlihat murung begitu aku menjelaskan hal itu padanya.

"Ah! Tentu saja kita masih bisa membelinya di toko dekat sini, kau tunggu saja disini, biar aku yang pergi membelikan."

Aku pun segera melangkah keluar setelah menyambar sweater hangat yang kugantung didekat pintu. "Hah, kenapa malah berakhir seperti ini, aku malah seperti menjadi pembantu untuknya." Beberapa langkah setelah aku keluar dari pintu apartemen, kulihat seseorang sedang merapikan bongkahan-bongkahan batu yang berukuran cukup besar, dan kalau kulihat-lihat, sepertinya aku tahu dari mana bongkahan batu tersebut berasal, tembok pembatas luar apartemen ini berlubang cukup besar, dan dari situlah asal bongkahan tersebut. Tapi siapa yang melakukannya, dengan tujuan apa? dan kapan? Seingatku, tadi malam sewaktu aku melintas tidak terjadi apa-apa, atau mungkin aku terlalu lelah untuk menyadarinya, atau memang kejadiannya setelah aku tertidur pulas tadi malam.

Aku pun terus melangkah melewatinya tanpa memikirkannya lebih jauh, lelaki yang tengah membersihkan bongkahan itu mengalihkan pandangannya padaku, aku pun sedikit mengangguk sebagai tanda ijin untuk melintas, lalu laki-laki tersebut kembali menatap bongkahan batu-batu tersebut dan meneruskan pekerjaannya. Walaupun sudah berniat tidak memikirkannya lagi, tapi sebuah dugaan muncul dikepalaku, karena bongkahan-bongkahan itu berserakan di dalam, berarti sesuatu yang merusaknya saat itu pasti berasal dari luar, sebab kalau dia merusaknya dari dalam, bongkahan-bongkahan itu pasti akan jatuh ke sisi luar apartemen ini, sedangkan ini adalah lantai tiga dan tidak ada pijakan sama sekali disisi luar tembok pembatas itu, jadi bagaimana si pelaku melakukannya. Pertanyaan-pertanyan itu terus mengiang dikepalaku, sampai akhirnya aku tersadar kalau aku sudah berada di toko yang kumaksud.

"Selamat datang!" ujar sang penjaga toko yang tak lain adalah teman bermainku sewaktu masih kecil, Kiba –tentu saja saat ini pun kami masih berteman-. Aku pun tersenyum sambil mengangguk halus padanya, tanpa ada basa-basi lain dan terus melangkah, sebab, seperti yang selalu dikatakan olehnya, seorang profesional tidak akan membedakan kawan ataupun lawannya, saat dia menerima tugas, maka itulah yang harus dikerjakannya. Kupikir mungkin Kiba sedikit-atau terlalu- melebih-lebihkan perannya itu, apalagi kalau hanya bekerja sebagai penjaga toko saja, hal ini membuktikan bahwa menonton terlalu banyak film Action sepertinya juga bukanlah hal yang baik. Tapi itu adalah pilihannya, dan aku tetap harus menghormatinya. Diluar dari itu, kami masih sering menghabiskan waktu bersama, juga dengan teman-teman yang lain saat akhir pekan tiba.

Detik berikutnya, Kiba kembali melafalkan kalimat yang sama yang diucapkannya padaku juga pada setiap pengunjung yang masuk dan hendak berbelanja di toko ini. "Selamat datang!" ujarnya lagi, aku pun sedikit melirik kebelakang untuk mengetahui siapa yang disambut oleh Kiba tersebut, karena sesaat sebelum masuk tadi aku tidak sedikitpun merasakan kalau ada orang lain dibelakangku, apakah mungkin dia menghilangkan hawa keberadaannya? Ah, seperti di film-film saja.

Dan ternyata, sosok yang kulihat adalah..

"Kau! Kenapa kau berada disini, bukankah aku menyuruhmu untuk tetap disana?" kataku sedikit berbisik.

"A-aku membuntutimu.." jawabnya.

"Kenapa?"

"E-entahlah, a-aku hanya merasa harus melakukan hal itu.."

Ah, aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, gadis ini benar-benar berada diluar kendaliku, percuma saja menyuruhnya melakukan sesuatu. Saat itu, kusadari Kiba tengah menatap kami berdua dengan perasaan curiga, entah apa yang sekarang sedang berada di benaknya, tapi yang jelas, aku tidak ingin hal ini menjadi pembicaraan hangat disini, karena itu aku segera menarik tangan si gadis dan membawanya serta menyusuri lorong yang dipenuhi segala macam barang-barang keperluan, langsung aku bergegas menuju stand ramen instan di pojok kiri ruangan, dan mengambil beberapa diantaranya untuk kemudian kumasukan dalam tas belanja.

Dan akhirnya, mau tak mau aku harus kembali ketempat Kiba untuk membayar semua ramen yang kubawa ini, bisa kulihat kalau bendera faham yang dianut oleh Kiba tentang ke-profesional-an seorang pekerja itu mulai goyah, terbukti dari tatapan Kiba yang setiap detiknya beralih dari ramen yang kubawa kemudian meloncat pada gadis yang sedang bersamaku ini, dia seperti sedang menyaksikan pertandingan tenis yang bolanya dipukul secara kontinyu tanpa pernah jatuh.

"Semuanya jadi delapan belas ribu yen," ujar Kiba, matanya masih tak bisa lepas dari si gadis.

Sayangnya aku tidak bawa uang pas, jadi kukeluarkan uang dua puluh ribu yen sebagai pembayaran, tentu saja seperti yang kuduga, Kiba mengembalikan uang sisa belanjaku dengan lebih lama, berharap dapat menatap si gadis lebih lama lagi. Setelah cukup lama, akhirnya ia menyodorkan uang kembaliannya, "terima kasih, silahkan kembali lagi nanti."

Aku segera meraih uang kembaliannya dan berniat meninggalkan toko dengan cepat, tapi..

GREPP!

Kiba menahan tanganku dengan erat, diwajahnya tersimpul sebuah senyuman, jelas itu bukan senyuman biasa. Sepertinya bendera faham yang dianutnya sudah benar-benar jatuh ketanah.

"Oi, apa maksudnya ini?"

"Naruto, kau harus menjelaskan apa maksudnya ini?" ujar Kiba berbisik, mencoba agar suaranya tidak terdengar oleh si gadis.

"Apa yang harus kujelaskan?"

"Gadis itu! siapa namanya? dan apa hubunganmu dengannya?" lanjut Kiba. Sepertinya imajinasinya telah membawanya terlalu jauh.

"Aku tidak tahu, cepat lepaskan tanganku!"

"Mau membodohiku ya, hm?"

"Mana bisa aku membodohi orang yang sudah bodoh!"

"Apa katamu Naruto!"

"Hinata!"

"Eh..!" aku dan Kiba sama-sama terkejut.

"Namaku Hinata, Hyuuga Hinata!"

_-0-_

"N-namaku Hyuuga Hinata!" ujar sang gadis.

"Eh? Kupikir kau tidak tahu namamu sendiri?" ujarku dengan keterkejutan yang cukup besar.

"M-memang, a-aku baru saja mengingatnya beberapa saat yang lalu.."

"Ah! Begitu ya.."

"Ada apa?" tanya Kiba yang bingung dengan arah pembicaraan diantara kami.

"Tunggu dulu! Mengingatnya? Apa maksudnya itu?" tanyaku mencoba mencerna perkataan si gadis yang mengaku kalau namanya adalah Hyuuga Hinata itu.

"A-anu.. sejak berada dirumah tadi, a-aku sama sekali tak bisa mengingat apapun. Nama, tempat tinggal dan darimana asalku, juga alasanku berada dikamar Naruto. Tapi beberapa saat yang lalu, aku bisa kembali mengingatnya walaupun yang bisa kuingat hanyalah nama saja," terang si gadis.

"Apa maksudnya ini Naruto, kau dan dia berada dalam satu kamar? Apa yang sudah kau lakukan? siapa gadis ini sebenarnya Naruto? oi Naruto, jelaskan padaku maksud semua ini!" teriak Kiba sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Tapi hal itu seolah tak berarti, karena da hal lain yang sedang kupikirkan saat ini.

"Dia.. kalau begitu masuk akal, pantas saja dia tidak tahu nama, asal dan bagaimana dia bisa berada dikamarku, selama ini kupikir karena dia bodoh, ternyata dugaanku salah, akulah yang bodoh, gadis ini sama sekali tidak bodoh, tapi, dia.. dia..

..hilang ingatan!"

_-0-_

T.B.C

_-0-_

A.N
Yupz, dengan begini chapter satu selesai, semoga cukup menghibur para pembaca sekalian.^^
mungkin semua genre yang saya sebutkan tadi diatas belum keluar semua, sebab chapter satu ini adalah masih chapter pengenalan, di chapter berikutnya mungkin baru akan keluar semua, jadi dinantikan saja yah.^^
saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para readers yang telah membaca fict ini, silahkan tinggalkan review untuk segala macam keluhan atau masukan-masukan atau sekedar sepatah dua patah kata agar kedepannya saya bisa lebih baik lagi.
kalau begitu, chapter pertama ini saya cukupkan sampai disini, terima kasih.
Long Live NaruHina.
ciao^^