Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC (Naruto-fans, back off~! He is a very BAD person here! You've been warned! *kicked-to-hell*)

"Aish, i-ittai!" Naruto berjengit menahan sakit saat Sakura mengobati luka di pipinya, bekas pukulan Sasuke. Dengan kapas yang telah ditetesi obat merah.

"Tahan dulu. Sedikit lagi, Naruto-kun." Gadis bermata emerald itu ikut-ikutan mengernyitkan keningnya melihat reaksi Naruto. Benar-benar menghayati perannya, seperti ia juga merasakan sakit yang diderita Naruto.

Selesai dengan luka di pipi, ia menginspeksi wajah Naruto lebih jauh. Mengernyitkan keningnya semakin dalam saat melihat lebam di dahi Naruto. Akibat benturan dengan dinding tadi.

"Sasuke benar-benar ingin membunuhku. Huh, orang itu!"

Padahal perbuatan Sasuke tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Naruto sendiri. Hanya mengakibatkan sedikit lebam di wajahnya. Sangat tidak sebanding dengan Sasuke yang sampai patah hidungnya.

Sakura terdiam, memeriksa apakah ada luka selain di wajah Naruto. Memperhatikan pergelangan tangannya yang masih sedikit memerah.

sekarang Naruto pasti dirawat di rumah sakit kalau aku benar-benar berkelahi dengannya, Bodoh.

Dan Sakura teringat bagaimana kondisi Sasuke saat ia menemukannya tergeletak tak sadarkan diri di lantai 2 sekolah. Si pemilik mata onyx itu bahkan harus absen selama beberapa hari. Itu pun rasanya tidak cukup, karena saat ia muncul pagi ini, ia belum terlihat baik.

Apa yang membuat Naruto begitu kejam pada Sasuke? Apa yang sudah dilakukan pemuda itu sehingga menerima amukan Naruto?

Tiba-tiba Naruto menarik tangan Sakura dengan kasar, mengejutkannya.

"Hei, jawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan berduaan dengan si teme itu?"

Sepasang mata birunya memandang Sakura dengan tajam. Kombinasi antara marah, menuduh dan menyalahkan.

"Kami tidak melakukan apa-apa." Sakura spontan membela diri, mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sedikit panas.

Pemuda berambut kuning mendengus kesal. "Jangan bodoh. Lalu kenapa kau membolos dan berduaan dengannya di atap? Kau sebut itu tidak melakukan apa-apa?!"

"Aku hanya-… aku-…"

"Sudahlah. Katakan saja kalau Sasuke yang memaksamu dan semuanya beres! Akan kuberi pelajaran lagi si bocah tengik itu! Tidak ada kapoknya mengganggu pacar orang!"

Sakura memandangi ujung uwabakinya.

Mengatakan kalau Sasuke yang memaksa membawanya ke atap tidak akan menyelesaikan masalah. Walau pun kenyataannya begitu. Ia sempat marah melihat bagaimana Sasuke memperlakukan Naruto seperti tadi. Hingga melupakan kenyataan bahwa pemuda yang ia dorong hingga membentur dinding itu adalah orang yang sudah menyelamatkannya berkali-kali.

Menyelamatkannya dari kesendirian di tengah hujan yang dingin, dari pemuda-pemuda berandalan yang mengganggunya, juga dari terjebak di toilet seperti kejadian tadi.

Orang yang membuatnya merasa aman seperti tidak ada hal buruk yang dapat terjadi padanya.

Sakura menggelengkan kepalanya dengan yakin.

"Sasuke tidak bersalah. Dia tidak melakukan apa pun, Naruto."

Naruto memandangi Sakura dengan tidak tertarik dan berdecak.

"Tsk. Kenapa kau malah membelanya? Apa yang sudah dia lakukan padamu sehingga kau bersikap aneh seperti ini?"

Gadis itu masih memandangi ujung sepatunya. Menghindar dari sorot mata tajam Naruto yang tertuju kepadanya. Dia memberi penekanan lebih pada kata-katanya selanjutnya. "Sasuke tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia tidak melakukan apa pun."

"Cih, kau mulai bersikap menyebalkan seperti si teme itu. Tatap mataku saat aku sedang bicara denganmu, hei!" Dengan kasar ia mengangkat dagu Sakura.

Saat kedua pasang mata mereka bertemu, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di mata cemerlang Sakura. Kilat amarah kah?

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau marah padaku?"

Naruto mengakhiri kontak mata di antara mereka sekaligus melepas Sakura. Ia bangkit dari ranjang dan melangkah keluar dari klinik sekolah. Tidak tahan dengan bau obat yang menyapa indera penciumannya. Meninggalkan Sakura yang masih duduk terdiam di pinggir ranjang.

pacar Uzumaki kan masih banyak!

Jadi benar kalau dia bukan satu-satunya, eh?

pacarmu yang keberapa?! Masih belum cukupkah Yamanaka dan Hyuuga untukmu?

Yamanaka dan Hyuuga. Jadi dia ada di urutan berapa?

Ino Yamanaka. Aku yakin ini adalah tahun ketiga mereka bersama.

Sebenarnya selama ini ia dianggap apa?

aku hanya tidak ingin dia mempermainkanmu.

Hanya mainan? Pembuat tugas?

Bodoh…dia sudah bersikap sangat bodoh. Seperti orang bodoh, diperlakukan dengan bodoh dan sudah dibodohi oleh orang bodoh. Bodoh sekali.

Tangannya mengepal.

Selama ini ia tertutup oleh kabut yang tebal hingga tidak menyadari kalau yang menggenggam tangannya bukanlah pangeran berkuda putih, tapi rubah. Tidak. Ia sendiri yang menutup matanya dan menolak untuk melihat sekeliling. Takut pada kenyataan pahit bahwa semua ini hanya ilusi. Tidak pernah ada Naruto yang manis, karena yang ada hanya Naruto si playboy. Ia sudah tahu, hanya tidak mau tahu. Tapi semua orang juga sudah tahu. Rubah berekor sembilan itu hanya mempermainkannya. Dan ia mengikutinya saja. Seperti wayang boneka yang tali-talinya dikendalikan oleh Naruto. Seperti orang bodoh.

Pasti orang-orang melihatnya seperti itu. Menganggapnya seperti itu.

Seperti orang bodoh.

Bodoh.

"Naruto!"

Ia berlari ke luar untuk mengejar Naruto. Tampaknya pemuda itu mendengar teriakan namanya sehingga berhenti dan menoleh dengan tatapan tidak tertarik.

"Ada apa lagi?" Pemuda itu bertanya dengan nada malas.

"Katakan, siapa Yamanaka? Siapa Hyuuga? Siapa mereka?!" Suaranya meninggi. Berhasil menarik perhatian beberapa siswa yang ada di sekitar sana. Membuat mereka memandanginya dengan heran. Seperti menyaksikan sebuah pertunjukan.

"Siapa? Apa maksudmu?" Naruto meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.

Untuk pertama kalinya Sakura menunjukkan senyumannya yang ganjil. Sudut mulutnya yang satu terangkat lebih tinggi dibanding yang lain.

Dia mendengus. "Mereka pacar-pacarmu, kan? Lalu ada siapa lagi?! Sebutkan!"

Seorang Sakura Haruno yang dikenal pintar dan tenang itu, yang beberapa waktu lalu mengejutkan seluruh penjuru sekolah karena muncul dengan predikat sebagai pacar Naruto Uzumaki, berteriak tepat di depan muka Naruto.

"Sebutkan siapa saja mereka! Atau kau bingung mau mulai dari mana? Saking banyaknya, ya?!"

Ia mencoba untuk terlihat tegar. Tapi jelas terlihat rapuh. Mata emeraldnya berkaca-kaca saat mengatakannya.

Sudah terbentuk kerumunan. Mereka penasaran dengan drama kecil yang diperankan oleh Sakura Haruno dan Naruto Uzumaki. Saling berbisik. Berisik, tapi tidak cukup untuk mengusik dua pemain utama. Ketegangan di antara mereka tidak berkurang.

"Hei, jaga bicaramu!"

"Memangnya kenapa? Apa aku salah? Aku mengatakan sesuatu yang salah?! Atau kau yang tidak tahu mau bicara apa karena aku berkata benar?!"

Bulir air mata pertama jatuh membasahi pipinya yang memerah.

"Selama ini kau menganggapku apa?! Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Naruto?!" Ia menarik bagian depan kemeja Naruto dan mengguncang-guncangkan badannya. Diikuti dengan jatuhnya bulir-bulir yang lain. Bebas mengalir seperti sungai kecil.

Kalau saja Sakura tahu lebih baik, tentu tidak akan seperti ini. Menjadi tontonan di antara siswa SMU Konoha. Yang tidak ia ketahui adalah mereka tidak menyaksikannya dengan iba. Tidak ada yang iba melihatnya berlinang air mata karena dipermainkan oleh seorang Naruto. Semua orang di sini sudah tahu tabiat si playboy itu. Hanya orang bodoh saja yang akan jatuh ke dalam perangkapnya.

Orang bodoh seperti Sakura.

Ironis sekali. Lalu apa artinya peringkat 2 yang ia sandang selama ini? Karena bahkan ia lebih bodoh dari puluhan gadis di sini yang peringkatnya jauh di bawahnya. Sampai-sampai tertipu oleh Naruto. Rubah berekor sembilan itu tidak perlu susah payah bersembunyi dibalik bulu domba. Sakura saja yang tidak mau mengakui kejelekannya.

Dari awal semua ini salah Sakura.

"Kau sendiri yang membuat semuanya seperti ini!" Naruto menepis tangannya, mendorongnya hingga jatuh tanpa perasaan.

Sakura yang jatuh terduduk memandanginya dengan tidak percaya. Benar-benar tidak seperti Naruto yang selama ini ia kenal. Berubah 180 derajat. Inikah Naruto yang sesungguhnya?

"Jangan katakan aku playboy! Karena kau sendiri juga main belakang dengan Sasuke! Aku melihatmu berciuman dengannya waktu itu! Mengaku saja!"

Keadaan berbalik 180 derajat. Kerumunan semakin asik berbisik-bisik. Melempar tatapan menghina kepada Sakura yang masih terduduk di lantai. Di mata mereka, Sakura mulai terlihat seperti rubah juga. Dan ia melakukan pekerjaan yang bagus dengan bersembunyi di balik tampang inosennya.

Sekarang ia terlihat seperti tersangka utama.

"Apa-"

Naruto memotongnya dengan cepat. "Memangnya pantas kau melakukan hal seperti itu di hadapanku?! Tidak kusangka ternyata kau tak lebih dari seorang wanita murahan! Dan kukira kau gadis yang cerdas! Hah, bodoh sekali!" Naruto menunjukkan seringaiannya yang menyebalkan.

Seperti yang ia tunjukkan pada Sasuke tadi.

"Tapi kau berciuman dengan wanita berambut pirang itu! Aku melihatmu bermesraan dengannya!"

Naruto tertawa mengejek. "Memangnya kenapa? Dia pacarku! Semua orang tahu hal itu! Tentu saja aku berhak menciumnya! Sementara Sasuke? Memangnya dia siapa? Apa sekarang kau mau mengakui kalau Sasuke itu selingkuhanmu? Jadi kau mengakui kalau dirimu bermain di belakangku, kan?! Gadis manis sepertimu ternyata sama saja! Player!"

Suasana mengeruh. Naruto pandai sekali membolak-balikkan semuanya dan menempatkan Sakura sebagai orang yang patut dihakimi. Paling tidak oleh tatapan tajam berpasang-pasang mata yang tertuju ke arahnya.

"Setidaknya aku mengakui kalau pacarku banyak! Memang benar! Lalu kenapa? Sebelumnya kau tidak pernah bertanya, kau tidak pernah protes dengan hal itu. Bukankah itu artinya kau tidak keberatan dengan semuanya? Sementara kau apa? Tidak mau disebut sebagai player? Lihat dirimu, Sakura! Kau sendiri yang membuat semuanya seperti ini! Kau yang menipu, bukan aku! Jangan berpura-pura menjadi korban dari kejahatan yang kau lakukan sendiri!"

Kerumunan semakin ramai. Semakin berisik. Mereka tidak hanya berbisik-bisik. Mulai mencela, memaki, menghina. Semuanya ditujukan pada Sakura. Karena mereka semua sudah tahu Naruto seperti apa. Tidak perlu lagi melemparkan makian kepadanya. Semuanya sudah lengkap sempurna. Tidak perlu tambahan lagi.

"Ternyata dia wanita penggoda."

"Ah, kukira dia baik. Ternyata aslinya seperti itu."

"Kasihan sekali Uchiha-kun, terluka parah hanya karena wanita murahan ini."

"Uchiha sudah tertipu oleh tampang polosnya."

"Benar-benar keterlaluan Haruno ini."

Naruto hanya mendengarkan saja serangkaian kata-kata pedas yang ditujukan pada gadis di hadapannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Seringaiannya tidak memudar sedikit pun.

"Kenapa bisa ada wanita seperti dirinya?"

"Dia bahkan lebih buruk dari Uzumaki. Memalukan sekali."

"Berani-beraninya menggoda Uchiha-kun!"

"Tidak tahu malu!"

"Wanita murahan!"

"Serigala merah muda!"

Mereka mulai mengatakannya dengan blak-blakan. Tidak lagi berbisik-bisik. Sakura dapat mendengar semuanya dengan jelas. Semua yang mereka katakan terngiang di telinganya. Membuatnya merasa begitu berat sampai ia tidak bisa berdiri. Tiap makian yang terlontar dari mulut mereka menghunjamnya tanpa ampun. Seperti ratusan anak panah yang menancap tepat sasaran pada papan target.

Ia ingin bersembunyi. Ia ingin menghilang. Ia ingin lari. Ia ingin pergi dari sini.

Tapi ia tidak bisa, bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya.

"Hentikan!" Sakura menutupi kedua telinganya dan berteriak dengan frustasi.

Air matanya mengalir dengan deras. Ia memejamkan kedua matanya dan menangis terisak.

Tapi tidak ada yang iba melihatnya. Tidak setelah mereka tahu siapa Sakura sebenarnya. Atau yang mereka kira benar.

Naruto tertawa dalam hati. Menyenangkan sekali mempermainkan gadis ini, pikirnya.

Ia merasa sedikit kasihan pada Sakura. Awalnya dia menyalahkan Sasuke. Jelas-jelas pemuda itu yang memaksa mencium Sakura. Tentu saja ia tahu, gadis di hadapannya ini tidak bersalah sama sekali. Tapi sikapnya tadi membuatnya gerah. Bagaimana pun juga ia tidak suka diteriaki seperti itu. Apalagi di depan orang-orang.

Sekarang rasakan sendiri akibatnya.

"Naruto!"

Kerumunan tersibak. Memberi jalan bagi hadirnya tokoh ketiga yang tak kalah penting. Sasuke Uchiha.

Pemuda bersurai hitam kebiruan itu memandang ke arah Naruto dengan sepasang mata onyxnya yang menyala-nyala.

"Omong kosong macam apa yang sudah kau katakan?! Cepat minta maaf pada Haruno!" Ia menggertak. Kemudian melihat ke arah Sakura yang masih menundukkan kepalanya dalam, menutupi kedua telinganya dan menangis tiada henti.

Naruto bertepuk tangan pelan, mendramatisir suasana. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Oh, jadi sekarang kau datang untuk membelanya? Atau kau ingin mengakui kalau kau mengkhianati pertemanan kita selama ini dan main belakang dengan Sakura? Hmm?"

"Kau gila! Jangan membuatku tertawa, dobe!"

Pemuda berambut kuning cerah tertawa.

"Harusnya aku yang mengatakannya! Kalian berdua yang gila! Tidak waras dan bodoh! Bersekongkol di belakangku! Penipu! Pengkhianat!"

Sasuke mendecakkan lidahnya dengan kesal. "Tsk! Kau seharusnya bicara di depan cermin! Playboy sepertimu yang bisanya hanya mempermainkan wanita! Aku sangat kasihan pada wanita yang sudah melahirkanmu!"

"Teme!" Naruto maju menyerang Sasuke, melepaskan tinjunya menargetkan hidung Sasuke yang masih ditutupi plester.

Sasuke terlambat menghindar. Pukulan itu berhasil mematahkan hidungnya lagi. Bahkan membuatnya terjatuh dengan keras. Seketika itu juga kerumunan tersebar. Menghindar. Berteriak histeris.

"Cih!" Sasuke meludah darah. Meraba hidungnya yang terasa begitu nyeri. Cairan merah pekat mengalir dari hidungnya. Meninggalkan rasa anyir di lidahnya.

Sasuke menyekanya dengan punggung tangannya. Bangkit dan memasang kuda-kuda untuk menyerang balik. Naruto tidak tinggal diam, bersiap untuk melawan Sasuke. Ia tahu kali ini Sasuke serius, tidak akan tinggal diam seperti waktu itu.

Aura membunuh menguar dari Sasuke.

Ia balas melempar tinju ke arah Naruto, tapi berhasil ditangkap. Kemudian tanpa diduga-duga Sasuke menyerang dengan tangan kirinya. Memukul bagian perut Naruto dengan keras. Berhasil membuat pemuda itu melepaskan tangannya dan terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia maju untuk menyerang lagi, tapi Naruto menjegal kakinya dan lagi-lagi menjatuhkan Sasuke ke lantai dengan keras.

Sebelum pemuda itu dapat membalikkan badannya dan bangkit, Naruto melompat untuk menindihnya. Menjaganya tetap terbaring tak berdaya di lantai sementara Naruto menarik rambutnya dan akan membenturkan kepalanya dengan lantai.

Sasuke melawan, menyikut tulang rusuk Naruto dengan keras, menyingkirkannya. Sementara Naruto sibuk mengumpulkan nafasnya yang tersengal, Sasuke balik menindihnya. Mencekiknya.

Kericuhan semakin menjadi-jadi. Dan Sakura hanya terpaku menyaksikan perkelahian dua orang itu.

"Go to hell!" Sasuke mengguncang-guncangkan pemuda di bawahnya yang kesulitan bernafas.

Keributan seperti itu jelas terdengar kemana-mana. Sebentar saja beberapa guru sudah berlarian ke sumber keributan. Mereka menggeleng-gelengkan kepala saat mengetahui bahwa yang berkelahi adalah anak kelas 3.

Si playboy pembuat onar Naruto Uzumaki dan si peringkat 1 Sasuke Uchiha.

"Hei sudah-sudah, hentikan!"

Hatake-sensei menarik Sasuke menjauh. Mengamankannya yang meronta dan mencoba untuk menyerang Naruto lagi. Sementara Asuma-sensei mengunci Naruto yang tidak kalah berontak mencoba menyerang Sasuke.

"Kalian berdua dalam masalah besar, kalian tahu!" geram Asuma-sensei.

Dan kedua siswa itu diseret ke ruang guru.

Sedikit catatan: saya membaca lagi dari awal dan menyadari betapa nggak konsistennya saya tentang peringkat. Di chapter awal Sakura menyadang sebagai peringkat 2 setelah Sasuke, kemudian berubah menjadi selalu menduduki peringkat 1 dan Sasuke jadi tergolong sebagai murid yang cerdas dan menempati peringkat 10 besar.

Gomen nee…saya nggak menyadari hal itu dan jadi bingung sendiri.

Tapi saya kira Sasuke lebih pintar dari Sakura. Jadi ikuti chapter awal saja, Sasuke peringkat 1 dan Sakura peringkat 2. Anggap siswi penggosip di kamar mandi dan Naruto sudah salah sebut. Ah, abaikan saja detail seperti itu *plakk!*

Oh iya, apa saya terlalu keras sama Sakura? *ngumpet*

Besok saya mulai masuk kuliah. Haaah, my messy college life will be started again *sighs*