Catatan: ini sih iseng pas lagi ngeliatin novel favorit di kamar yang tergeletak di kasur, terus mikir kenapa jadi flu padahal pengin maen ke kota sebelah… catatan apa kok cacat begini… sudahlah. Dari dulu bikin fic rate M memang bukan hanya sekedar nulis fluff, tapi lebih ke arah percintaan yang melibatkan hal-hal gila dan semacamnya. Kok lebih nggak nyambung? ^^

Vegas Wedding Part 2

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke


.

.

.

Cuaca awal bulan November memang agak dingin. Salju terkadang turun selama berhari-hari dan menutupi jalan dan atap rumah dengan warna putih lembut, bergumpal-gumpal bagaikan krim kesukaan wanita yang tengah berjalan dengan pelan ke arah bangunan putih yang berada tidak jauh darinya. Angin bertiup lumayan kencang dan menyibakkan rambut Mamori ke depan, menutupi sebagian wajahnya yang terlihat pucat. Dieratkan syal yang melingkar di lehernya, sembari terus memperhatikan langkahnya.

"Hati-hati dengan langkahmu." Dari belakang pria berambut pirang dengan ekspresi datar itu menyusul Mamori dengan cepat, dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut. "Perasaanmu masih tidak enak?"

Sebenarnya Mamori sangat sulit berjalan, ditambah dengan rasa mual yang sudah lama ditahannya sejak di mobil tadi. Tapi ia tidak ingin membuat suaminya khawatir, apalagi cemas memikirkannya. Ia tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa kok."

"Tch, masih juga berbohong." Hiruma mengerutkan keningnya. "Istri sialan, kau mau kubantu?"

Wajah Mamori langsung memerah karena malu. "Kau ini…"

"Kekekeke…" Hiruma menggoda Mamori, yang dengan sukses membuat wajah istrinya itu semakin memerah karena malu. "Buat apa pakai malu-malu segala, Istri Sialan?"

"Rumah sakitnya kan sudah dekat," balas Mamori dengan wajah semerah tomat.

Mereka sedang berjalan ke Rumah Sakit Deimon untuk pemeriksaan rutin kandungan Mamori yang kini tengah berjalan empat bulan. Para dokter dan suster yang berjaga di bagian kebidanan menyukai pasangan suami-istri yang terlihat sangat bahagia itu, apalagi mengingat umur keduanya yang terbilang cukup muda. Biasanya pasangan muda selalu saling menyalahkan satu sama lain, merasa tidak siap ataupun hasil kecelakaan tengah malam. Ditambah lagi, sang suami terlihat sangat menyayangi istrinya.

"Masih mual?" dokter tua itu tersenyum penuh arti saat melihat tekanan darah Mamori yang rendah. "Sebisa mungkin tetap memakan makanan, ya. Akan lebih baik jika anda memakan makanan yang manis-manis agar tekanan darah anda tetap naik, Nyonya Hiruma."

Mamori tersenyum malu mendengarnya. Nyaris setiap hari ia selalu memesan kue sus kesukaannya dari Pastry Kariya Cream. Hanya saja belakangan ini toko itu tutup karena pemiliknya pergi ke Hokkaido untuk menjenguk anaknya, jadi ia jarang makan kue. Bahkan ia jarang menyentuh kue tart yang dibawakan oleh Hiruma. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia hanya mau memakan kue yang satu itu. Yah, pada akhirnya daripada basi, Hiruma memberikannya kepada Cerberus. Kadang kalau kuenya sudah rusak parah, Cerberus pun menolak, dan dengan wajah datar Hiruma memberikannya kepada Kurita.

"Ya, baiklah." Mamori mengangguk pelan "Saya mengerti, dokter."

Tak lama dokter tua itu memberikan resep vitamin dan sedikit pil penambah darah untuk Mamori. "Ini harus diminum ya, agar anda dan kandungan anda tetap sehat. Saya harap Tuan Hiruma bisa memperhatikan dan mengingatkan anda."

Hiruma memberikan senyuman termanisnya. "Tentu saja dok, saya selalu memperhatikan istri saya."

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

"Mendadak tadi bulu kudukku merinding deh," Sena berkata dengan raut wajah agak takut. "Apa ada hal buruk yang sedang terjadi?"

"Kalau ada hal buruk, paling-paling kucingmu hilang lagi, Sena." Suzuna menyeruput jus jeruk yang berada di hadapannya. "Kudengar Kak Mamori dan Kak Hiruma baru pindah apartemen di tengah Tokyo, loh! kapan-kapan kita main ke apartemen mereka, yuk!"

Sena kaget juga mendengarnya. Setelah merayakan pesta pernikahan yang gila-gilaan di Vegas di tengah malam Valentine bulan Februari lalu, kini Hiruma pindah apartemen ke tempat yang sangat, sangat mahal?

"Huh… aku jadi iri deh!" Suzuna melipat kedua tangannya di depan dada, kedua matanya agak sedikit menerawang. Sena agak tersinggung juga mendengarnya. Ia sadar bahwa ia bukan pria yang bisa menghasilkan banyak uang seperti seniornya itu.

"Bukan soal materi loh, Secchan…" senyum Suzuna merayu Sena, menyadari bahwa kata-katanya lumayan menohok hati sang kekasih. "Maksudku, mereka sepertinya bahagia sekali, ya? Pernikahan impian yang diimpi-impikan Kak Mamori akhirnya jadi kenyataan…"

Sena mengangguk, tersenyum. "Sepertinya begitu."

"Ah, kau ini…"

"Ahahaha, apa kalian sedang membicarakan diriku?" Taki, kakak Suzuna yang super narsis itu mendadak muncul di belakang mereka berdua. "Aku memang sangat mengagumkan sih…"

"Ngawur saja!" Suzuna dengan cepat memotong ucapan Taki. Ia melihat sekelilingnya dengan sedikit penasaran. "Ngomong-ngomong, kenapa hari ini kafe ini kok sepertinya agak sepi, ya?"

"Benarkah?" Sena ikut menjawab. Di ujung sana ia melihat Kuroki, Togano, Monta, dan Kurita sedang bermain bilyar. Ah, meja bilyarnya hancur karena Kurita kebanyakan memakai tenaga. Jumonji datang dengan seorang gadis berkaca-mata yang terlihat tidak asing. Akan tetapi sepertinya wajah Jumonji sepertinya terpaksa. Beberapa para anggota Klub Football Sankyoudai pun tengah berada di sana dan memainkan mesin ding-dong secara bergantian. Suara gemerincing koin dan teriakan frustrasi semakin bertambah seiring berlalunya waktu. Di sisi lain, Akaba dan Kotaro dengan semangat bernyanyi dan memainkan musik slow-rock dengan gembira. "Kurasa cukup ramai."

"Maksudku, selain kita tidak ada pengunjung biasa."

"Biasa?"

Mendadak pintu depan kafe yang berukiran mawar itu terbuka lebar, disusul oleh karpet merah yang mendadak digelar oleh para petugas kafe tersebut. Tak lama muncul sosok Hiruma dan Mamori dari luar sana, saling bergandengan tangan. Hiruma tersenyum lebar dan memamerkan senyuman iblisnya, berjalan menghampiri tempat Sena dan Suzuna.

"Gendut sialan! Kakek sialan! Kita duduk di sini saja!" teriak Hiruma dengan riang, memanggil kedua teman dekatnya itu. "Cepat!"

"Hiruma!" Sena tersenyum senang. "Kak Mamo!"

Semua meja akhirnya disatukan dan dikumpulkan di pojok itu, membentuk sebuah lingkaran besar. Semua pengunjung yang sebenarnya mantan anggota Klub Deimon, anggota Sankyoudai, anggota Klub Enma bahkan Klub Oujou itu bergabung menjadi satu, kecuali Akaba dan Kotaro yang masih asik mendendangkan lagu untuk menghibur mereka semua di podium sana.

"Sudah lama kita tidak berkumpul, ya?" Kurita tersenyum sangat lebar, antara senang dan terharu sungguh tidak jelas. "Aku senang sekali hari ini!"

"Kekeke, Gendut Sialan… aku pikir juga begitu." Hiruma mengangkat tangannya dan para pelayan langsung membawakan banyak sekali minuman dan makanan ringan ke meja mereka. Mamori hendak mengambil susu soda, akan tetapi Hiruma langsung menarik gelasnya. "Kau tidak boleh minum yang ini, minum susu cokelat saja, ya?"

Mamori mengangguk, "baiklah, Yoichi…"

"Yoichi katanya…" bisik seseorang di pojok sana, nyaris menjatuhkan gelasnya. "Kak Hiruma yang seram itu, tuh…"

"Y-O-I-C-H-I…" ulang si banci Sanzo dengan wajah merah. "Aduuuh~!"

"Nih, untukmu, minum pelan-pelan…"

"WUAAHHH, panasnya suami-istri yang satu ini!" Suzuna berseru dengan keras. " Tak kukira kakak jadi lembut setelah menikah!"

Sena, Kurita, Taki, dan yang lainnya serentak tersedak kaget dengan ucapan Suzuna, sementara yang bersangkutan malah tampak tenang-tenang saja. Mamori dapat merasakan wajahnya kembali memerah.

"Kak Mamo, kukira kakak hanya bercanda selama ini, ternyata benar, ya!"

"Kekekeke… aku memang jadi lembut kok setelah menikah," jawab Hiruma enteng. Yang lain langsung mengerutkan wajah mereka saking tidak percaya dengan ucapan Hiruma. Kapten Setan yang satu itu tidak mungkin bisa berubah, pikir mereka dengan serempak.

"Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" Musashi bertanya kepada Mamori, yang hanya menggeleng lemah. Yang lain langsung menyadari bahwa Mamori terlihat sangat tidak sehat dan pucat. Tuh! Lembut apaan? Tapi masa sih Mamori disiksa sama Hiruma? Siksaan seperti apa?

"Harusnya dia istirahat saja, Hiruma," lanjut Musashi lagi. "Kurasa kondisinya tidak begitu baik."

"Tsk…" kening Hiruma agak berkedut sedikit.

"Monsieur Hiruma, jangan-jangan tiap malam kau praktek S&M, yaa?" Taki bertanya tanpa tedeng aling-aling. "Itu tidak baik…"

Taki langsung di-bazoka keluar kafe, mendarat dengan sukses di tong sampah terdekat. Yang lain langsung berkerut dengan takut dan waspada. Monta yang tadinya ingin ikut memprotes Hiruma langsung ciut nyalinya. Masih sayang nyawa dia rupanya.

"Aku cuma agak mual saja kok, tenang saja, Yoichi," bisik Mamori pelan. "Sungguh, percayalah kepadaku."

"Benar?"

"Iya, say—ah…" Mamori langsung menutup wajahnya karena malu. Ia tidak bisa berkata demikian di tempat yang begitu banyak orang begitu. Suaminya malah terkekeh-kekeh seperti biasa.

"Ya sudah, tunggu sebentar, aku mau mengumumkan sesuatu," Hiruma berjalan ke podium dengan langkah santai. "Hei, Mata Merah Sialan! Hentikan gitarmu!"

"Heeeh, begitu apanya yang lembut?" Togano geleng-geleng keheranan, walau tadi ia sempat iri juga dengan kemesraan Hiruma dan istrinya. "Brengsek, hari ini Jumonji juga membawa ceweknya kemari…"

"Hei!" Jumonji berteriak. "Apa sih?"

"Bikin sirik saja!" Kuroki ikut-ikutan, mengabaikan Jumonji. "Kenapa aku masih jomblo ya?"

"Betul tuh," Ikkyu mendadak ikut dalam diskusi masalah pasangan tersebut. "Hei, Monta, bagaimana denganmu?"

"Mukyaa! Pertanyaanmu tidak maxxxx!" Monta langsung bersoloroh sebal, teringat olehnya Sena yang sudah berpacaran sekembalinya dia dari Amerika dengan Suzuna, sementara sejauh ini dia masih belum bisa juga mendapatkan kekasih. "Ngapain berbicara tentang…"

Mendadak Hiruma menembak Monta dengan senapan dari podium. "Jangan berisik, Monyet Sialan!"

"Ada apa, sih?" Ishimaru mendadak bertanya, membuat kehadirannya disadari oleh para anggota yang lain. Sementara Monta berbaring sukses di lantai dengan kepala berlumuran darah. Ikkyu menatapnya dengan kasihan, beristirahatlah dengan tenang, Monta.

"Kak Ishimaru sejak kapan datang?" Sena agak terkejut menyadari kehadiran Ishimaru. "Aku tidak melihat kakak dari tadi?"

Ishimaru cuma bisa terdiam meringis. Padahal dia datang nyaris berbarengan dengan Sena… sungguh pahit.

"Hari ini aku mengumpulkan kalian untuk memberitahukan sesuatu," Hiruma menampilkan senyum bengis di wajahnya, "PIALA RICE BOWL TAHUN INI AKAN KUPERSEMBAHKAN UNTUK ISTRI SIALAN DAN CALON BAYIKU NANTI! BERSIAP-SIAPLAH KALIAN SEMUA UNTUK KALAH! SANKYOUDAI! KALIAN BERSIAPLAH UNTUK MEMBANTAI MEREKAAAA!"

"EEEEEEEEEHHHHHH?"

Semua orang berteriak keras, bahkan Akaba sampai menjatuhkan gitar kesayangannya itu karena Kotaro terperanjat dan mendorongnya ke depan. Monta yang sudah sadar kembali jatuh pingsan. Kurita dan Komusubi menari-nari kegirangan. Sisanya hanya menampilkan wajah super syok. Benarkah yang telah mereka dengar? Hiruma Yoichi, si Komandan dari Neraka itu akan menjadi seorang ayah?

"APPAAAAAAAAAA?"

"Jadi Hiruma mengumpulkan kita untuk menantang dan… KAU HAMIL, KAK MAMO?" Sena sangat terkejut. "Wah!"

"KEJUTAAAAANNN!" Suzuna tersenyum turut bahagia. "SELAMAAAAT KAKAK!"

"SELAMMMMAAAATTTTT!"

Mamori tersenyum dengan wajah luar biasa memerah. Cara Hiruma memberitahukan tentang kehamilannya memang cukup gila, tapi membuatnya sangat bahagia. "Terima kasih…"

Musashi langsung tertawa. "Dasar Hiruma, dia tidak pernah berubah!"

"Tantangan, ya? Kita jangan sampai kalah." Shin akhirnya berbicara, tersenyum tipis ke arah Wakana dan Sakuraba. "Menarik."

"Kok aku tidak merasa dia mengumpulkan kita sih? Jadi yang mengirim pesan ke ponselku ini bukan kamu, Karin?" Yamato heran dan melongo ketika Karin pun menyatakan hal yang sama. Taka hanya tersenyum cuek.

"Kekeke…" Hiruma tersenyum senang dari atas podium. Ia menatap para anggota football yang sibuk memberikan selamat kepada istrinya, lalu turun dan bergabung dengan mereka.

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Apartemen mereka yang baru jauh lebih besar dibandingkan dengan yang sebelumnya. Sejak Mamori mengatakan bahwa dirinya hamil, Hiruma memang sudah mencari-cari apartemen yang cocok untuk dihuni oleh anggota keluarga. Entah bagaimana Hiruma bisa mendapatkan apartemen di kawasan Tokyo Timur yang sangat elit dan mahal itu, ditambah lagi dengan pelayanan yang lengkap dua puluh empat jam dan akses ke berbagai tempat umum pun cukup mudah. Pemandangan yang menakjubkan di malam hari pun terlihat sangat indah. Mamori sangat bahagia dengan Hiruma yang semakin menyayangi dirinya, bahkan dengan suka cita selalu menjaganya, menemaninya di kelas dengan sabar. Ya, benar, pasangan ini masih kuliah, walaupun Hiruma dengan caranya sendiri sudah memiliki tabungan yang luar biasa besar di banknya, hasil berjudi saham maupun berjudi di Shanghai dan Vegas di waktu senggang.

Malam itu Hiruma kembali dengan kue tart coklat dan berbagai panganan lainnya. Rupanya toko kesukaan Mamori itu masih tutup. Hiruma tidak habis akal. Ia punya cara agar istrinya mau memakan kue-kue itu tanpa keluhan macam-macam seperti sebelumnya.

"Istri Sialan, aku pulang!" Hiruma masuk ke dalam, menyusuri tangga ke atas. Semua ruang tidur memang berada di lantai dua. Kedatangannya disambut dengan Cerberus yang dengan cepat berlari ke arahnya dan menyalak dengan senang. "Ini, bagianmu. Kau main dulu keluar bawah sana, mengerti?"

Cerberus mengangguk dan dengan segera berlari ke bawah. Hiruma pun masuk ke kamar tidurnya. Istrinya yang cantik itu sedang menyisir rambut coklat kemerahannya yang semakin panjang. Ia suka memandangi Mamori belakangan ini. Entah kenapa, tetapi Mamori terlihat semakin menarik di matanya.

Perlahan Hiruma memeluk Mamori dari belakang, menciumi pundak istrinya dengan ringan. "Kau cantik sekali, Istri Sialan…"

Mamori tersipu mendengar pujian itu. Ia membalikkan kepalanya dan Hiruma menyambutnya dengan ciuman yang manis bagaikan cokelat. Tunggu sebentar, ciuman suaminya memang sangat manis dan harum seperti cokelat.

"Yoichi?" tanya Mamori pelan. "Yoichi…"

"Kau mau lagi?" Hiruma tersenyum jahil, lalu menggendong Mamori ke ranjang mereka yang berwarna merah marun. Hiruma memasukkan sebuah cokelat ke dalam mulutnya, lalu berbisik mesra, "coba yang ini…"

Mamori tahu Hiruma tidak begitu suka makanan yang manis-manis. Oh, betapa gila suaminya itu, bagaimana bisa dia melakukan semua ini? Dengan cepat Mamori menyambar bibir Hiruma, dan menelan coklat lembut dari mulut pria itu. Hiruma mendesah pelan ketika Mamori melakukan itu, dan menutup kedua matanya.

"Kau memang gila," Mamori kembali mencium Hiruma, dan memeluk suaminya. "Kau 'kan tidak suka makan cokelat…"

"Aku tahu, Istri Sialan…" Hiruma tertawa lirih, membalikkan tubuh Mamori agar mereka bisa saling berhadapan. "Kemari, bersihkan mulutku dari semua cokelat sialan ini…"

"Nakal." Mamori berkomentar di sela-sela desahan napasnya yang semakin berat. Hiruma hanya tertawa kecil, menggoda Mamori dengan jemarinya, yang perlahan membuka gaun tidur hijau yang dipakai Mamori. "Kau benar-benar nakal, Yoichi."

"Ini belum seberapa, Istri Sialan…" Hiruma bangun dan mengambil mangkuk berisi tart dan melumuri dadanya dengan kue penuh krim itu. "Silahkan nikmati yang ini…"

Mamori menggigit bibirnya sebentar, tapi belum sempat ia berpikir, tubuhnya sendiri sudah bergerak, menjilati dan menelan tart coklat yang lembut dan manis dari dada bidang Hiruma. Ia tak tahan dengan gairah yang ia rasakan saat Hiruma berkali-kali berteriak pelan saat lidahnya menyentuh tubuh Hiruma. Hiruma sendiri sudah nyaris gila menahan gairahnya. Tubuh Mamori yang berada di atasnya, gerakan demi gerakan seksi dari tubuh istrinya yang telanjang, dan kehangatan lidah manisnya yang menyentuh kulitnya itu nyaris membuatnya meledak.

"Kini biarkan… biarkan aku… yang memakanmu, Istri Sialan…" Hiruma dengan gesit membalikkan tubuh mereka dan menempatkan Mamori di bawah tubuhnya, menutup mulut yang menggoda itu dengan ciumannya yang panas, dan mulai memasuki tubuh Mamori.

Gesekan demi gesekan pelan di antara mereka membuat Mamori berteriak parau, "Yoichi!"

"Aapaa? Bukankah aku harus lebih berhati-hati, Istri Sialan?" desisnya pelan, nyaris menyerupai desahan. Hiruma bergerak semakin dalam dengan kecepatan yang lambat, padahal ia sendiri pun sulit menahan diri. "Tahan sebentar…"

"Jangan menggodaku lagi, teruskan saja…"

"Katakan, siapa yang benar-benar nakal malam ini, Istri Sialan?" Hiruma terus menggoda Mamori, membenamkan wajahnya di dada istrinya yang halus, mengecupnya pelan. Mamori terus menatapnya dengan pandangan penuh gairah, ia tahu itu.

Mamori meraih wajah Hiruma dan tersenyum. "Kau yang membuatku jadi sangat, sangat nakal…"

"Jawaban yang bagus… katakan padaku bila kau merasa sakit, ya?"

"Hmmm…"

.

xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx

.

Hiruma tersenyum pelan sewaktu Mamori membasuh tubuhnya dengan air hangat. Pagi itu matahari bersinar cerah, walaupun cuacanya masih tetap saja dingin. Seperti biasa, Ia harus tiba pagi-pagi sekali ke Sankyoudai untuk latihan. Biasanya ia meminta Mamori menemaninya, namun Hiruma tidak ingin istrinya menjadi lelah, apalagi siang nanti Mamori ada kuliah.

"Biar Mata Merah Sialan saja yang menggantikan tugasmu nanti, Istri Sialan. Kau tidak perlu memikirkan apa-apa." Hiruma berkata sambil memakai seragam footballnya. "Kau istirahat saja dulu, nanti siang aku akan menjemputmu. Jangan lupa, minum dulu vitamin dari dokter tua sialan itu."

"Yoichi, aku ingin…"

"Kau 'kan baru tidur jam 2 tadi, tidurlah lagi." Hiruma tersenyum nakal, seraya menambahkan, "pastikan kau simpan tenagamu untuk permainan kita nanti malam."

"Sinting," Mamori memukul dada Hiruma cukup keras. "Kau pikir…"

"Tsk, akhirnya kau mengaku bahwa kau capek kan?" Hiruma memeluk Mamori dengan penuh rasa cinta. Istrinya itu begitu lembut dan harum, dan sangat menggemaskan. Rasanya Hiruma ingin sekali mengecilkan Mamori dan membawanya ke mana-mana. Tapi tidak, setelah percintaan mereka semalam, Hiruma ingin Mamori lebih banyak beristirahat hari itu. Melihat istrinya dalam kondisi sehat adalah salah satu kebahagiaan terbesar baginya. "Istirahatlah."

"Jangan lupa kau jemput aku, ya?"

"Hhh…" Hiruma mengangguk. Mana bisa ia lupa. Hanya istrinya yang mampu mengganggu pikirannya yang dipenuhi oleh football. Hanya istrinya yang mampu membuatnya bisa melakukan hal-hal yang ia benci seperti apa juga. "Tenang saja…"

Diawasinya sosok Hiruma yang menghilang di balik pintu. Mamori tersenyum pelan, bersyukur bahwa hidupnya menjadi amat sangat menyenangkan belakangan ini, dan berharap semua bisa terus seperti ini sampai mereka menjadi kakek dan nenek nanti. Konyol, kenapa ia bisa berpikiran sejauh itu?

Lucu juga bila ia berpikir jauh ke belakang, saat mereka saling bertengkar, kemudian bisa saling memahami satu sama lain. Sifat suaminya yang keras, namun amat memperhatikan para teman-teman mereka, yang terkadang disebut Hiruma dengan mereka yang bisa dipakai, membuat Mamori berpikir ulang, bahkan kagum. Hiruma memang selalu lembut, kenapa tidak ada yang bisa menyadarinya?

Dengan tenang, Mamori merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, lalu berharap ia dapat bertemu Yoichi tercinta di dalam mimpi.

.

.

.


Yah, chapter 3 sih gak janji, paling klo ada waktu iseng lagi. ^^