Disclaimer: Square Enix (game ver.) and Shiro Amano (manga ver.)

Author: lucem ferre 123

Warn: I forget the terminology. =,= Canon? IC?

.: The Clarius' Teardrops :.

(BGM: City of Flickering Destruction)

Florina, sang Clarius berambut ebonit, apa yang sedang ia tangisi? Tidak ada yang terluka di sini, core dan tubuhku baik-baik saja. Hal paling menyakitkan adalah melihat seseorang yang dicintai menangis sambil tersenyum, padahal kautahu ia tidak bahagia.

"Alex…."

Suara merdu itu berdenting merasuki gendang telingaku, mengantarkan harmoni indah yang kurindukan beberapa saat lalu. Sepasang batu verdelite menawan tidak berhenti mengalirkan kehidupan kami, para Jumi. Kedua tangannya menyentuh core-ku yang tidak bergores. Nyaman. Inikah yang mereka sebut euforia?

"Tidak perlu menangis lagi, Florina. Aku tidak terluka sama sekali. Lihat!" Aku tersenyum tulus menatap gerak-geriknya, berharap ia dapat menghentikan aktivitasnya.

Ia menurunkan kedua tangannya; hinggap di dadaku. Florina, sang Clarius penyambung nyawa, apa yang ia lakukan?

"Di sini, aku dapat merasakannya."

Ruangan kembali hening. Hanya ada kami berdua. Cahaya luar berpendar memantulkan mineral yang sempurna terkristalisasi, menerangi Bejeweled City dengan sinar multiwarnanya.

Florina….

"Alex, hatimu terluka…." Setelah sekian lama terpekur menatap dadaku, sepasang mata kami akhirnya saling beradu. "Namun, aku tidak bisa menyembuhkannya, ya, 'kan?"

Florina, sang Clarius menyedihkan, tidak perlu menangisi hatiku. Air matamu terlalu berharga untuk itu; lebih berharga dari core yang kumiliki.

"Masih banyak yang membutuhkan air matamu, Florina. Hatiku terluka karena aku melihat air matamu selalu tertumpah. Aku, sebagai knight, menyesal tidak bisa melindungi guardian yang ku—" Aku membisu. Apakah ia juga dapat merasakan apa yang kurasakan?

"Bagaimana mungkin aku tidak menangis, hanya aku yang bisa melakukan itu, itu semua kewajibanku… sebagai Clarius."

Hentikan kata-kata itu! Aku tidak ingin mendengarnya.

Berapa kali pun aku membantah, kebenaran itu tetap konkret; berapa kali pun aku menyembunyikannya, sesuatu yang laten itu pasti akan menampakkan keberadaanya. Hanya sang Clarius-lah yang bisa menyembuhkan luka ras kami. Namun, aku ingin mematahkan semua ketentuan yang mengikuti dari dulu. Sang Clarius hanya bisa menangis untuk masa 100 tahun, dan setelahnya akan digantikan oleh penerus berikutnya. Aku tidak ingin jasa-jasanya hilang termakan oleh waktu, terkubur oleh ketidaktahuan.

Sejak kami tidak bisa menangis lagi, muncul cerita tentang keajaiban itu, pedang legenda. Mereka mulai percaya. Satu per satu Jumi pergi mengembara mencari jejak sang pedang dalam legenda. Hasilnya hanyalah kekosongan; terus berulang-ulang selama beratus-ratus tahun.

Bualan besar. Keeksistensiannya tidak berbeda jauh dari omongan keoptimisan. Florina akan tetap menangis hingga ia sama tidak berharganya seperti Jumi lain.

"Pasti ada jalan."

Florina terkekeh, "Iya, aku percaya."

Lagi-lagi ia tidak percaya; menganggap aku sedang bercanda. Apapun itu, aku bersumpah atas core-ku, semua lingkaran setan ini akan terputus dan hanya aku yang bisa memutuskannya.

.::.

"Menangislah."

Jumi malang itu mencoba menangis sebisanya, namun gagal. Perempuan oranye di depannya berdecak kesal. Berapa kali pun ia mencoba, segitu pulalah ia kecewa.

"Tidak ada gunanya seorang Jumi hidup jika tidak bisa mengeluarkan air mata."

Seketika, pemilik nama Sandra, menarik paksa core sang Jumi. Darah segar bersemburan jatuh, menyisakan jasad tanpa ruh. Sandra menyeringai, tubuhnya menghilang ditelan gelapnya malam.

Dengan begini, aku harus mencari lima core lagi. Bersabarlah Florina, aku telah melihat jalan yang kauanggap candaan itu.

OWARI, FIN, TAMAT—

A/N: Saya tahu, ini terlalu melankolis. Maaf jika ada kejanggalan di dalam fict ini.