(^_^*~My Wife Is Hinata~*^_^)

Chapter 8.

.

.

.

.

Pairing: Sasuke Uchiha. X Hinata Hyuuga.

Rate: T-M

Genre: Romance/Humor.

Story By: Cahaya yang bersinar Biru. A.k.a Hikari No Aoi.

.

.

.

.

.

Sebelum kecerita, kita bahas review chapter 7 dulu, ya! =)

RK-Hime-san: yey! KITA LULUSS! :D *telat* hehehe n.n'a maaf lama updatenya, saya baru tahu naik kelas itu makin naik juga tugasnya jadi lama updatenya *alasan* :/ oh ya, bagaimana dengan RK-san sendiri? maaf ya sudah membuat lama menunggu =( *Bungkuk* maaf juga di chap ini jelek.. romancenya benar-benar ecek-ecek! *?*

Sasuhina-caem: ano,saya mengurungkan niat cepat2 untuk mengendingkan MWIH ini, soalnya masih banyak yang harus saya jelaskan e T-T *gaadayangnanya* dan, makanya saya tidak jadi membawa pair fav kita semua *?* ke indo, karena takut disandra dikau dan tidak dipulang-pulangkan! :O *ditampok caem-san* hehehehe btw, makasih udah review. Maaf lama dan mengecewakan =( *bungkuk*

Mamoka: hehehe n,n' saya kira fic saya ga ada humornya sama sekali, menurut saya garing malah! ._.' tapi makasih udah review, maaf lama update dan mengecewakan =( semoga chap ini menghibur.. maaf ya =) *bungkuk*

Hinata Eguchi-san: terimakasih sudah review dan mau menunggu… semoga chap ini ga mengecewakan Eguchi-san, ya! =( maaf lama updatenya. *Bungkuk*

Kazuki Hanako: saya merasa fic saya garing malah.. tapi terimakasih sudah mau mampir! =) semoga chap ini tidak mengecewakan ya Hanako-san, makasih dukunganya =) selamat membaca! *bungkuk*

Yuiqha : =( Huee.. maaf chap kemarin banyak yang kurang, saya hanya nyontoh internet liriknya. =( meski begitu, terimakasih sudah mau mengkritik fic abals aya, maksih juga sudah mau mampir! :D maaf ya, di chap ini nanti amalh mengecewakan Yuiqha-san =( *bungkuk*

Soo Jin: arigatou udah mau mampir! =D selamat membaca.. maaf mengecewakan =( *bungkuk*

Han Young Hwa: ni udah saya share, makasih ya udah mau mampir, semoa ga mengecewakan Hwa-san =) selamat membaca.. *bungkuk*

In my new vers: ini sudah saya update, semoga ga mengecewakan.. umm.. saya manggilnya bagaimana ya? hehehe, tapi meski begitu, makasih ya udah mampir, amaf di chap ini ga jelas =( *bungkuk*

Guest: aaa? O.o karena pair saya emang SH kan? Makasih udah mampir =) *bungkuk*

B'Day: salam kenal juga, kemarin hanya pemanis saja karena sudah konflik, btw makasih udah mampir… maaf lama menunggu, semoga chap ini ga mengecewakan =( *Nunduk*

WARNING: AU, OOC, Gaje, LEBAY, TYPO, setres, jelek, EYD ga karuan, bahasa suka-suka gua, di chapter ini alurnya sangat pendek dan ABAL. Dan untuk typo; saya sudah berusaha semampu saya untuk tidak membuat kesalahan dalam penulisan, tapi tetap saja, salahkan tangan saya yang tidak bisa mengetik secara

benar ^^'a *geplaked*

JIKA GA SUKA, HARAP JANGAN BACA!

*plak*

.

.

.

.

.

My Wife Is Hinata

.

.

.

.

Hinata membungkuk di kamar mandi Rumah Sakit konoha itu sudah ada sekitar tiga puluh menitan, mengeluarkan sarapan paginya yang padahal baru ia makan barang beberapa sendok. Beginilah sekarang aktivitas rutin yang Hinata lakukan setiap pagi. Sementara suaminya-Sasuke Uchiha selalu tetap setia mendampinginya, menjaganya dan merawatnya seperti sekarang ini. Membantu isterinya yang tengah mengalami morning Sickness dengan memijit tengkuk Hinata secara lembut dan berharap pijatan pada tengkuknya tersebut dapat membantu dan mengurangi rasa sakit yang Hinata rasakan.

"Hoekkk!" Hinata masih membungkuk di wastafel rumah sakit Konoha itu, mulai mencengkram sedikit keras perutnya yang sudah tak ada isinya-kecuali ogan dalam perut dan si bayi tentunya-namun masih ingin muntah juga, Hinata muntah pun sudah tidak ada lagi yang keluar dari mulutnya, ouch… Hinata benci saat-saat seperti ini. Sungguh menjengkelkan. Rasanya itu lho yang sangat tidak enak.

"Masih sakit?" Sasuke berkata lembut sambil terus memijit tengkuk isterinya dengan penuh kasih sayang, sungguh ngenes sekali hatinya saat melihat isterinya muntah-muntah seperti sekarang ini, ia takut asupan gizi yang harusnya terpenuhi malah tidak bisa masuk ke dalam tubuh dan anaknya sama sekali, oh tidak, itu tidak boleh terjadi.

"Mhh.. su-sudah, Sasuke-kun." Hinata menyalakan pemutar air yang berada di samping wastafel dan mulai membasuh mulutnya dengan pelan, membersihkan sisa sarapan yang baru ia makan sedikit dari mulutnya. Tidak enak.

"Hinata…" Sasuke menatap isterinya dengan sayu sambil mengusap pucuk surai indigo itu dengan pelan, apakah ini juga efek dari obatyang diberikan Gaara? Semoga saja tidak.

"Apa kau merasa perutmu sakit?"

"Mhh?" Hinata menegakkan badanya, kemudaian ia berbalik dan menatap suaminya tercinta yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang-sayu?

"Ti-tidak Sasu-kun, aku… aku hanya merasa mual terus. Itu saja," Hinata tersenyum lembut, menenangkan si calon ayah dengan mengusap pipinya lembut. Ada apa dengan Sasuke? Apa ia sangat begitu khawatir dengan keadaanya?.

"Ada masalah?".

"Hm, tidak." Sasuke menarik bibirnya keatas dan melukiskan sebuah senyuman hangat dan tulus kepada isteri tercintanya, ia hanya takut sesuatu yang buruk akan terjadi dan menimpa Hinata dan anaknya lagi, sungguh. Ia tidak mau itu. ia berjanji, apapun akan Sasuke lakukan demi melindungi mereka berdua, apapun.

"Baiklah, sekarang waktunya minum vitamin dan obat. Mau?" tawar Sasuke dengan lembut.

"Hn."

Hinata membalas dengan sebuah anggukan patuh yang dibalas juga *?* oleh Sasuke dengan tatapan bingung sekaligus tak percaya.

'Hn?' sejak kapan Hinata…?

.

.

.

.

.

"Hina-chan, kau tidak apa-apa? Sungguh menyebalkan sekali temanmu yang bernama Gaara itu, andai aku tahu peristiwa buruk ini akan menimpamu, sunguh aku tidak akan membiarkan kau pergi dengannya! Ohh, cucuku…semoga kau baik-baik saja. Nenek selalu mendoakanmu sayangku, oh cucuku sayang…" dan disinilah Uchiha Mikoto memulai pidato panjang lebarnya dengan memberikan sumpah serapah-untuk Gaara- dan doa khusyuk tulus nan ikhlas-untuk cucu dan menantunya yang tersayang.

"Mikoto, sudahlah." Fugaku akhirnya angkat bicara, telinganya masih berfungsi juga agaknya-sama yang difikirkan oleh Hiasi, Itachi, dan Sasuke- bahwa Mikoto itu 'berbahaya' apabila sudah over khawatir seperti ini. berlebihan? Memang.

"Kau malah membuat Hinata menjadi risih,"

"Aa? benarkah Hina-chan sayang?" dan dengan mata yang memelas kaya anak kucing yatim piatu yang kelaparan minta makan, Mikoto mengalihkan pandanganya dari Fugaku dan menatap Hinata dengan puppy eyes andalanya untuk;

"Hiks, kalau begitu Okaa-san minta maaf…"

Dan Hinatapun jadi salah tingkah dibuatnya, aduh bagaimana ini, ia malah membuat mertuanya menjadi seperti ini. Harus bagaimana sekarang? Hinata kan tipikal orang yang gak tegaan, jadi ngalah adalah jalan keluarnya.

"I-ibu, sudahlah… ti-tidak apa-apa, kok. Lagipula ibu tidak mengganggu, ma-malah aku senang ibu mau datang kemari," Hinata menjawab dengan tulus sambil salah tingkah menghadapi ibunya yang masih memasang wajah memelas seperti ini. Hm, menenangkanya mungkin adalah cara terbaik, lagi pula, ia memang tidak merasa keberatan kok.

"Fuga-kun, lihat. Hina-chan tidak keberatan kok!" dan dengan wajah Inosen, Mikoto berbangga diri kalau kehadiranya tidak mengganggu Hinata sama sekali. Perduli setan disana mau ada besanya, ia memang mengkhawatirkan Hinata, kok! (-_-'a).

"Ibu, kasihan Hinata." Sasuke menepuk pundak ibunya dengan pelan, kalau keras terus ibunya malah pingsan, nah kalau udah pingsan, itu namanya durhaka, kan? Karena uda mukul ortu sendiri?. dah, bek tu stori

"Yah, sepertinya dia juga butuh istirahat." Kali ini yang berkata adalah Hyuuga Hiasi, ayah Hinata.

"Ta-tapi ayah-." Hinata ingin menyela, karena ia masih ingin bersama dengan kakak ipar dan ayah Fugaku serta mama Mikoto untuk mengobrol bersama, tapi…

"Hinata, kami masih disini untuk menunggumu, kok. Kau istirahat dulu sebelum kita pulang, setelah kau istirahat, ayah akan mengantarmu untuk kembali ke apartemen Sasuke. Ayah janji." Hiasi menenangkan puterinya, dielusnya ubun-ubun rambut anaknya tersebut dengan sayang, ia yakin Hinata akan baik-baik saja.

Sebentar-sebentar, kenapa pada suka ngelus rambut atasnya Hinata, sih?.

"Haah, jahat."

Mikoto mendecak sebal! Kenapa pada pelit waktu banget, sih? Kan mama Mikoto juga pengen nunggu dan jagain Hinata di rumah sakit ini? Udah jauh-jauh kemari masa Cuma buat ngobrol lima menit doang terus jaga di luar ruangan? Kan ga adil!.

"Fuga-kun, Sasu-chan, Itachi, Hyuuga-san," Mikoto mulai melas lagi.

"Huee… ini ga adiillll~."

"Mikoto!" Fugaku langsung mengingatkan Mikoto yang sekarang menjadi cemberut-tadinya melas pengen ngrayu- karena tidak boleh berlama-lama dengan Hinata. aah, ia kangen sekali dengan menantu kesayanganya itu, tahu.

"Dia sedang sakit," Fugaku berbisik.

"Hahaha, harap bersabar ya besan." Hiasi tersenyum ramah pada Mikoto. Memiliki besan yang Care seperti ini menguntungkan juga, setidaknya ia bisa menjaga dan merawat Hinata saat ia tidak ada, sedang bekerja di luar kota atau Negara, yah meski Hiasi akui juga bahwa Mikoto agak Over juga, sih.

"Hahh, Yare-yare." Mikoto mengalah dan memeluk Hinata erat.

"Cepat sembuh. Ya Hina-Chan, Ibu akan menungguimu diluar, kalau kau mau sesuatu, panggil ibu ya!" katanya semangat.

"I-iya ibu!" Hinata tersenyum lebar menikmati perlakuan hangat ibu mertuanya kepadanya. Hah, ia jadi ingat ibunya. Ia sangat bersyukur sekali memiliki mertua-sekaligus ibu- yang sangat perduli padanya seperti sekarang ini.

"Ne, Hina-chan, kau harus banyak makan ya. Meski mual, harus kamu paksa. Ingat, kamu mengandung, butuh banyak makan dan gizi yang cukup." Itachi akhirnya angkat bicara, dengan tulus ia Menasehati adik iparnya ini dengan lembut. Ia tahu betul bagaimana hamil muda, apalagi ini anak pertama. Bagi Hinata yang notabenya masih awam, tentu ini sedikit sulit untuknya-bukan karena Itachi pernah mengandung lho yo, dia ini ASELI LAKI-LAKI TULEN! Pemikiran yang barusaja melintas di otaknya tadi murni dari artikel-artikel yang dia baca, kok.

"I-iya Ita-Nii, a-arigatou." Hinata menjawab dengan menyunggingkan seulas senyum manis kepada kakak-iparnya- tersebut.

"Terimakasih Nii sudah mau datang kemari."

"Sudahlah, lagipula ini memang acara yang penting bukan?" Itachi tertawa pelan.

"Haah, sudah-sudah, sana keluar. Hinata butuh istirahat!" Sasuke akhirnya mulai gerah-lebih tepatnya jengah- menghadapi keluarganya yang tidak mau keluar juga dari kamar rawat Inap Hinata, kalau begini terus kapan Hinata bisa beristirahat?. istirahat Ini juga penting untuk Hinata dan anaknya, tempe! Eh salah, tahu!

Dan sambil membukakan pintu, Sasuke masih melirik kedua orangtuanya agar cepat keluar sambil berkata;
"Ayo?"

"Sasuke, kamu tidak sopan!" Mikoto men-deathglare putra bungsunya tersebut dengan perasaan yang ikhlas. *?* apa pernah ia mengajari anaknya bertindak sekurangajar ini? Perasaan nggak deh.

"Sasuke," Fugaku akhirnya hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah, dari dulu, mempermalukan ayahnya di depan klien/mertuanya/orang lain seperti ini memang sudah menjadi 'hal biasa' yang Sasuke lakukan kepadanya. haaahhh.

Sedangkan Sasuke?

= stay cool dengan memasang wajah cuek bebeknya.

"Iya, iya. Kami keluar, baka-outoto!" sesudahnya Itachi langsung mengambil langkah seribu dan meninggalkan ruangan tersebut disusul oleh ayah, ibu dan mertua adiknya. setelah ia meninggalkan souvenir –lebih tepatnya satu jitakan lumayan keras di kepala adiknya yang berambut gagak tersebut dengan 'gemas'.

"Itachu Baka-Anikiiiiiii!"

.

.

.

.

.

My wife Is Hinata

.

.

.

.

Apartemen Sasuke 18.01 P.M

Sasuke tampak sibuk menyiapkan baki yang berisi makanan sehat untuk menu makan malam Hinata, segelas susu hangat-khusus ibu hamil- dan semangkuk sup bergizi beserta nasi sudah siap untuk dihidangkan, hanya saja yang belum lengkap satu, ia belum menaruh sendok di baki itu.

"Nah, sudah siap. Hinata, aku datang." Kata Sasuke semangat sambil membawa baki tersebut ke lantai dua-tempat Hinata berada. Dicepatkanya langkah kakinya untuk menaiki anak tangga yang akan mebawanya ke kamar Hinata. 'pokoknya kali ini, harus habis.' Kata Calon ayah tersebut sambil menaiki anak tangga yang berwarna cokelat mengkilat tersebut.

Ceklek.

Dan setelah menaiki anak tangga di apartemenya itu selama beberapa puluh detik, akhrinya pintu kamarnyapun terbuka, menampakkan seorang wanita yang mengenakan Babydoll rok warna biru muda bermotif boneka beruang berwarna biru tua. tengah sibuk membolak-balik sebuah majalah di atas kasur tersebut, punggungnya yang terbalut gaun tidurnya itu menyandar pada pinggiran atas tempat tidur, lampu tidur berwarna kuning keemasan tampak serasi berada di sebelah kirinya, raut wajahnya menampakkan sebuah ekspresi datar namun semangat. Itu menunjukan bahwa wanita itu ternyata tengah serius menyimak sesuatu.

Klik.

Kemudian, lampu terang berwarna putih di kamar itulah yang sukses mengalihkan perhatian Hinata dari majalah tersebut kepada sosok suaminya yang tengah berjalan mendekatinya sambil membawa sesuatu. Aah, Hinata tak menyadari keberadaanya!.

"Sa-sasuke-kun?"

"Tidak baik, kan membaca di tempat yang gelap?" Sasuke tersenyum lembut sambil menaruh baki yang dibawanya tadi di kasur lalu duduk tepat di depan Hinata yang masih mentapnya heran.

"Kenapa menatapku begitu?" satu alisnya terangkat naik.

"A-ah, tidak." Hinata menjawab seadanya, salting lebih tepatnya.

"Baca apaan, sih?" Sasuke sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat isi dari majalah yang Hinata baca.

"Serius banget?".

"Ah, tidak. Ha-hanya melihat-lihat penawaran dan diskon baju-baju yang bagus untuk b-ba..bayi kita," Hinata tersenyum lebar, ia sangat senang sekali jika membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan bayi. Ouch… Akago-Chan kapan ya dia akan

lahir?.

"Hm? Masa' sih," Sasuke malah membalasnya dengan tersenyum nakal nan menggoda pada Hinata-cielah- sambil dengan mengelus lembut perut Hinata.

"Uhh dedek sayang… lagi apa kamu?".

Dan secara reflek Mata Hinata langsung terbelalak karena kaget-ya iyalah, masa' karena sedih?-.

Apa yang Sasuke lakukan kini sontak membuat Hinata merinding sekaligus senang, Sasuke sangat perhatian dengan bayi mereka sekarang. Semenjak ia dirawat di rumah sakit beberapa hari lalu, Sasuke semakin perhatian merawat Hinata dan calon anaknya denga ulet. Ternyata kehadiran buah hati diantara mereka telah merubah banyak kepribadian seseorang, ya? Yang tadinya megatif, tidak akan menutup kemungkinan, kan untuk berubah menjadi positif? Meski kadang ada kebalikanya juga.

"Sa-sasuke-kun," setelah melamun selama beberapa detik, akhirnya Hinata sadar dan secara spontan memegang tangan kanan Sasuke yang sedang mengelus perutnya dan menggeliat kurang nyaman alias geli. Kemudian, di turunkanya tangan kekar suaminya tersebut dari perutnya, jujur, meski Sasuke memang sering mengelus perutnya, tapi entah mengapa tetap saja ia merasa belum siap *?* kalau tidak membuat tedeng aling-aling dulu atau persiapan *?*.

Gerakan aneh Dari Hinata yang secara tiba-tiba kontan membuat sebelah alis Sasuke terangkat. Apa, ada yang salah dengan tindakanya mengelus perut Hinata?

"Ng?"

"Oh-Emh… i-itu, aku… ha-hanya kaget, ahahah… yah, ha-hanya kaget, Sasuke-kun," dan sekali lagi Hinata dibuat salting dengan tingkah lakuknya sendiri begitu ia sadar. plus-plus tawa renyah nan garingnya yang semakin membuat alis Sasuke naik sebelah, lagi. Karena bingung kuadrat dengan tingkah Hinata yang semakin hari semakin…aneh?.

"Hah?" dan hanya kata itu saja yang mampu keluar dari mulut sexseeehhhh-ralat, dari mulut ranum *?* milik Sasuke.

"Oh, ya. Kalau begitu, ayo saatnya makan malam, sayang." Kemudian Ia memilih mengacuhkan kejadian barusan dan mulai mengajak Hinata makan malam. "Keburu dingin,"

"Disini?" Kini Giliran Hinata yang mengangkat sebelah alisnya karena heran, kenapa harus di kamar?

"Iya, disini." Jawab Sasuke sambil mengambil baki yang ada di meja dan duduk di samping di kasur. "Aku tidak akan membiarkanmu kelelahan, baru tadi pagi kita pulang dari rumah sakit, jangan banyak aktivitas, kamu masih dalam proses pemulihan."

Dan Akhirnya Hinata hanya mengangguk patuh.

"Tutt..tuuttttt… suapan pertama, ayo dibuka mulutnya, keretanya mau masuk… tuut..tuuttt!"

Dan tingkah 'manis' dari Sasukepun membuat Hinata tertawa lebar sambil menikmati makan malamnya.

.

.

.

.

My wife Is Hinata

.

.

.

.

Seusai membenarkan bajunya di kamar mandi, Hinata Segera menutup pintu kamar mandi tersebut dan berjalan ke kamar untuk beristirahat. Disana sudah ada suaminya, Sasuke yang sedang beristirahat atau lebih tepatnya mendengarkan musik bernada lembut sambil menatap langit-langit kamar apartemen mereka.

Hinata tersenyum. Sedetik kemudian, disusulnya suami tercintanya tersebut di atas ranjang.

"Sasu-kun sudah makan malam?" kini Hinata membuka pembicaraan sambil memeluk dada suaminya dan menyandarkan wajahnya disana, tadi Sasuke sudah menyuapinya makan, tapi bagaimana dengan jadwal makan Sasuke sendiri?.

"Sudah, sebelum aku memberimu makan tadi, aku sudah makan." Jawab Sasuke enteng sambil menarik Hinata ke dalam rengkuhanya. Memberinya sebuah pelukan kehangatan.

"Memberiku makan? Bahasa apa itu! aku kok kaya hewan peliharaan?" Hinata mengerucutkan bibirnya tanda tak terima. Dicubitnya perut Sasuke yang hanya di balut oleh T-shirt 3P. singkatan dari Putih, Polos, dan Pipis, eh salah tipis maksudnya. *ngawur*.

"A-ah, sakit sayang!" Sasuke memekik kesakitan, kemudian memegang tangan kanan Hinata yang digunakan untuk mencubit perutnya.

"Sakit," Ujarnya melas.

"Habis…" Hinata masih tak mau kalah.

"Tapi tenang, sakitnya tidak terlalu, kok. Lebih sakit waktu kamu…" Sasuke sengaja memotong kalimatnya lalu menyeringai. Tentu hal ini berhasil membuat Hinata bertanya-tanya dengan apa maksud Sasuke sebenarnya.

"Waktu aku-ngk!?" dan jawabanya pun makin membuat Hinata tak yakin sewaktu dengan Sengaja Sasuke menarik kepala belakangnya untuk mendekati wajahnya, merasakan hembus nafas suaminya. Hinata terdiam. Mata Onyxs suaminya ini benar-benar membuatnya terhipnotis, sampai Hinata tak mampu mengalihkan tatapan matanya dari bola Hitam milik suaminya tersebut. Begitu… mempesona.

"A-apa, Sasu-kun?" warna merah muda mulai menghiasi pipi Chubby Hinata, adalah satu dari sekian hal dari Hinata yang Sasuke suka. Oh, tuhan tak tahukah suaminya itu kalau Hinata mulai kehilangan fikirannya hanya karena di perlakukan dengan manis oleh suaminya sendiri?

"Kamu mau tahu?" Goda Sasuke manja.

"Mmm.." Hinata menjawabnya dengan sedikit mengerang karena Sasuke semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata hingga hidung mereka saling bersentuhan, lebih dari itu malah. Bibir atas mereka yang telah saling bergesekan halus. Memberikan sensasi geli pada bibir atas masing-masing. Hembusan nafas mereka berdua, makin lama kian terasa di kulit wajah sepasang suami isteri tersebut, memberikan rasa tersendiri yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Kemudian dengan lembut Sasuke berbisik untuk menjawab pertanyaan Hinata, "Lebih sakit sewaktu aku melihatmu sekarat sampai berfikir bahwa aku akan kehilanganmu saat di hotel itu. Hinata, maaf… maafkan aku yang selama ini belum menyadari perasaanku kepadamu, maafkan hatiku yang buta akan cintamu, maaf, Hinata. sekarang aku baru sadar, bahwa ternyata kamu amat berharga bagiku, kamu sudah mengakar kuat dalam hatiku, Hinata... aku… aku mencintaimu." Ujar Sasuke tulus. Murni ucapan seorang pria yang mencintai wanita idamanya dengan sepenuh hati.

"Sas..uke-kun." Kelu. Lidah Hinata tak mampu bergerak untuk mengucap kata berikutnya yang ingin ia keluarkan; bahwa ia juga sangat mencintai Sasuke! Namun tak bisa, kata itu tercekat di tenggorokanya.

"Aku mencintaimu." Ulang Sasuke lagi sambil mengecup lembut bibir mungil Hinata. beberapa detik kemudian, ia melepaskan pelan pagutanya untuk sekedar mengambil oksigen dan mengecupnya lagi, lagi dan lagi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

"Mmm…" Hinata mulai memejamkan matanya dengan perlahan, menikmati sentuhan lembut bibir suaminya yang membelainya dengan lembut menjelajahi cinta mereka. Hinata sangat senang mendengar ucapan Sasuke barusan, dengan ini Sasuke telah mengakui dirinya seratus persen. Mengakuinya sebagai istreinya. Usaha dan penantian Hinata sungguh tak sia-sia. 'Sasuke-kun, aku.. aku juga mencintaimu… aku sangat mencintaimu!' teriak Hinata dalam hati, sungguh ia amat senang mengetahui pengakuan Sasuke terhadap dirinya, Kami-sama, terimakasih…terimakasih!. Ingin rasanya Hinata berjingkrak-jingkrak saking senangnya, namun yang terjadi hanyalah; ia memejamkan mata sambil menikmati kelembutan perlakuan Sasuke terhadapnya.

Sasuke pun melakukan hal yang sama, memejamkan matanya Sambil terus memagut lembut bibir ranum Hinata, Dengan penuh kehalusan, Sasuke membelai rambut indigo isterinya tersebut. memilin-milin rambut indah orang yang dicintainya tersebut sebentar dan menyibakkanya dengan pelan ke belakang telinganya.

Hembusan nafas mereka teratur, tak ada dusta disana. Yang ada hanya cinta yang mulai bersemi diantara hati mereka karena perjodohan. Sasuke tak menyesal, ia benar-benar bisa mengakatanya, bahwa ia mencintai Hinata. perasaanya… sungguh ia tak menyesal menikahi Hinata meskipun itu karena dijodohkan.

Dengan perlahan, Sasuke menindih Tubuh Hinata sedikit, menyamankan posisi mereka berdua agar tak pegal karena saling berpelukan lama. Lagipula, posisi mereka sebelum itu menyusahkan Hinata untuk balas memeluknya. Sasuke melepaskan ciuman mereka sebentar hanya untuk mengambil oksigen, mengisi paru-paru mereka dengan udara. Kemudian menciumnya lagi, kali ini Sasuke menghisap sedikit bibir mungil Hinata dan menekan kepala isterinya tersebut untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Ternyata tak ada penolakan yang Hinata berikan, malah, isterinya tersebut sangat menikmati momen kebersamaan mereka dengan mengalungkan tanganya di leher Sasuke dan meremas dengan lembut rambut belakang Sasuke. "Mhh.." Hinata merintih pelan saat dirasakanya lidah hangat milik suaminya tersebut menerobos bibirnya, nakal.

"Sas..-kun?"

"Hmm?" bukanya melepaskan lumatan lidahnya, Sasuke malah semakin melumatnya dengan berani sekarang, Dibarengi dengan seringai menggoda yang makin menjadi, maka Hinata yakin, Suaminya ini akan meminta lebih yang akan berakhir dengan… yah kalian tahu sendiri. "Mghh.. Sukehh!" Hinata langsung membuka amtanya lebar-lebar, ternyata ia belum siap, ia takut. Bagaimana jika hal itu malah akan melukai bayi mereka?.

Mendengar penolakan halus dari isterinya barusan, Sasuke segera melepaskan ciuman lumayan panasnya dengan lembut. Kemudian, dengan pertanggung jawaban *?* ditatapnya kedua bola amata Hinata dengan lembut.

"Aku berjanji akan pelan-pelan," kata Sasuke menenangkan. Dielusnya kedua pipi Chubby Hinata dengan sayang dan mengecup dahinya lembut, ya ampun…. Author mau T_T *abaikan*.

"A-aku takut anak kita kenapa-napa," lirih Hinata.

"Tidak, sayang… selama ia belum diberi Ruh oleh kami-sama, tidak apa-apa."

"Tapi-."

"Aku tidak memaksa, kok. Kalau kamu tidak mau juga gak apa-apa." Jawab Sasuke penuh perhatian sambil mengelus pipi tembem isterinya.

"Yah, sudah. Ayo kita bobok? Besok kalau kondisimu sudah mendingan kita akan berbelanja. Mau?" tawar Sasuke kemudian.

"Mmm…" Hinata tak terlalu tertarik, yang ia fikirkan malah perkataan Sasuke barusan. Benar, bayinya tidak apa-apa? Kalau apa-apa bagaimana, ia kan baru keluar dari rumah sakit? Lalu apa Sasuke akan marah ya, kalau ia menolaknya? Apa ia egois jika memilih keselamatan bayinya?.

"Hey…" lama dengan kebisuan Hinata yang seolah mengabaikanya, akhirnya sang calon ayah tersebut memegang dagu isterinya dan mengarahkan bola mata Gading isterinya itu untuk menatap mata Onyxnya. Ada yang Hinata fikirkan.

"Ada, apa, sayang?" Tanya Sasuke cemas.

Hinata membalas tatapan khawatir suaminya tersebut. Ia takut. Lagi-lagi ia harus dihadapkan pada dilema. Mana yang harus ia pilih?

"A-aku bingung," bisik Hinata lemah.

"Soal yang 'begitu', ya?"

"U..umm.."

"Hahaha… sudah-sudah, aku tidak memaksamu kok. Tidak mau juga tidak apa-apa, aku mengerti kamu takut pada keselamatan anak kita. Aku juga tidak mau dia kenapa-napa kalau kamu tidak mau. Jadi jangan terlalu difikirkan, ya? Aku minta maaf kalau tadi itu membuatmu tidak nyaman."

"Umm, S-sasu-kun… ak-aku.. aku tidak tahu apa yang harus aku lakuk-."

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah tidur, kamu tidak boleh terlalu stress." Saran Sasuke halus.

"Tapi.."

"Stt.. sudah jangan difikirkan, ingat kata dokter, kamu tidak boleh terlalu serius memikirkan sesuatu."

"B-baiklah,"

"Nah, itu baru isteriku." Kata Sasuke bangga sambil mengecup lagi dahi isterinya. "Yuk bobok?"

"Um, ta-tapi ada satu hal. A-aku tiba-tiba ingin sesuatu,"

Dan satu kata yang spontan keluar dalam pikiran Sasuke adalah;'

NGIDAM? Oh please kami-sama, jangan ngidam. Jangan kau rusak momen romantis ayah dan ibumu ini dengan permintaan anehmu, wahai anakku…hiks!' dan, dalam hati Sasukepun ia sedang nangis Kejer.

"Ngid-eh, ingin a-apa, Sayang?"

"Tapi janji Sasu-kun ga marah, ya?"

'NAH LO! Kalau udah gini ujung-ujungnya bakal 'ajaib' deh mintanya Hinata T_T'

"Hah? Ah, uh iya. E-emang kamu minta apa?"

"Umh, B-Bener ga marah?"

'Ga janji… T.T'

"Iya sayang…"

"A-aku mau… anu,"

"Ha? Mau apa, aku ga dengar." Ulang Sasuke karena suara Hinata makin lama makin lemah.

"M-mau.."

"Iya sayang, jangan malu dong, apa, kamu mau minta apa? Aku usahain aku turutin." Kata Sasuke menenangkan.

"Unh, A-Aku mau ini…" Jawab Hinata sambil menunjuk diri Sasuke sendiri-kalau ditanya spesifikasinya; Dadanya-.

"Hah? Kamu mau apain dadaku?" secara otomatis, otak Sasuke memikirkan 'itu'.

"Ayo lepasin bajunya," Minta Hinata manja.

"HAH?! Kok?! Eh? Ma-mau apa sayang? Sudah, aku gak mau melakukanya kalau kamu ga mau."

"Ayolah sukeee…" Hinata masih berusaha mengangkat t-shirt tipis milik Sasuke keatas, untuk dilepaskanya. Kok Hinata jadi berubah 180 derajat Gini ya?.

"Ta-tapi, sayang? Katamu kamu ga ma-,"

"Suke, Please?" oh no, Hinata makin melas. Tapi…. Apakah artinya Hinata setuju?

"Umh, I-itu, Apa ini artinya kamu mau?" Tanya Sasuke dulu memastikan sambil berharap-harap cemas dan ia sangat mengharapkan jawaban…

"Uum.."

'YES!' sorak sorai bergembira, bergembira semua. Sudah bebas negri kita- eh salah, Hati Sasuke bersorak sorai, jadi keinginanya akan segera terwujud! Hihi, 'Hinata… malam ini akan kubuat kau lemas bagai tak bertenaga, huahahahah!' dan tawa nistapun mulai menggelegar dalam hati sang calon ayah tersebut.

"-Ke, Sasuke-kun? Kamu m-mau tidak?" nah, kan ia malah jadi melamun!

"Eh? T-tentu sayang," jawab Sasuke dengan dada yang mulai berdebar-debar.

Sreeek…

Tanpa banyak Tanya, dan mengulur waktu, Hinata sudah menanggalkan baju suaminya hanya dalam hitungan detik! Wow!, termyata wanita yang tengah hamil bisa menjadi sangat 'Agresif'juga, ya? Bagus, Sasuke akan menjadikanya sebuah pelajaran dan 'kesempatan' yang amat berharga! Huahahahah!.

"H-hinata?" namun naas, saking agresifnya Hinata, Sasuke sampai tak tahu lagi harus bagaimana, yang ia tahu hanyalah jantungnya telah mengalami kelainan. (-.-a)

"Mmmm?" Hinata tak menggubrisnya, malah semakin berani memegang celana Jeans suaminya.

"T-tapi, kau serius?"

"Dua Rius, Sasu-kun…" oh kami-sama, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Sreeekkkkkkk…

Glek.

Kini Reusliting celana Jeansnya telah melorot seutuhnya sampai kepangkal-pangkalnya resleting. *?*

"Hin-mmhh?!" Sasuke hanya pasrah sekarang. Siapapun yang telah merasuki *?* tubuh Hinata hingga membuatnya menggairahkan seperti ini, akan Sasuke turuti keinginanya saat ia di tubuh Hinata! *Ngawur*.

Sekarang, Hinata telah duduk di perut Sasuke dan menciumi bibir manis suaminya tersebut dengan lembut. Hinata sendiripun juga tak mengerti bagaimana ia bisa seberani itu, yang jelas, yang pasti dan yang ia tahu, ia hanya tidak ingin mengecewakan suaminya tersayang. Sasuke tadi juga sudah meyakinkan dirinya bahwa bayi mereka akan baik-baik saja asal mereka tidak melakukanya dengan 'ngawur'. Hinata Percaya.

Dan Sasukepun tak mau tinggal diam, di genggamnya tangan Hinata yang berada di dadanya dan menggenggamnya dengan lembut, meremas-remas pergelangan jarinya yang halus. Dalam Hati pria Uchiha Itu, ia telah bersumpah; aku akan mencintaimu sepenuh hatiku, aku akan menemanimu di sakit dan sehatmu, aku akan menerimamu bagaimanapun keadaanmu, dan aku akan bersamamu hingga akhir hayatku, tak akan aku biarkan kau terluka, permata hatiku. Hinata Uchiha.

Kemudian, yang terjadi adalah pengikatan cinat suci mereka, disaksikan oleh bulan purnama yang bersinar diatas mereka dan sang bintang yang berkelap-kelip sekan tersenyum malu melihatnya. Mereka telah menjadi satu, satu hati dan satu jiwa. Telah melewati berbagai cobaan dan godaan yang cukup memanaskan Hati, jadi pantaslah mereka untuk mendapatkannya.

Jadi, yuk, kita jangan ganggu…. :3

.

.

.

.

.

My Wife Is Hinata

.

.

.

Lima Bulan Kemudian

.

.

.

.

Hinata membuka perlahan kedua mata gadingnya, kemudian mengerjap-ngerjap sebentar. Ia barusaja terbangun dari mimpi indahnya, sayang sekali. diliriknya jam yang menggantung gagah di dinding kamarnya. Pukul 05.00 pagi. Sudah saatnya membuat sarapan ternyata.

Digerakkanya dengan perlahan badanya yang terasa berat, berat karena membawa sang bayi dan berat karena dipeluk erat oleh sang suami. Namun Hinata malah tersenyum, seulas senyum tipis yang membuatnya amat bahagia hari ini. Disingkirkanya dengan perlahan tangan Sasuke yang masih dipinggangnya, berusaha agar sang suami tidak terbangun karena gerakan yang ia buat.

Emmuaaccchhh…

Sebuah kecupan singkat ia daratkan di kening sang suami yang tertutup beberapa helai rambut biru tuanya, hal ini semakin membuat Hinata tak tega untuk membangunkannya, ditambah akhir-akhir ini Sasuke sering lembur untuk mengurus cabang baru perusahaan Uchiha, kasihan, Ia kelelahan.

"Aku buatkan sarapan dulu," bisik Hinata lembut dan mulai meninggalkan Sasuke di kamar mereka. Ia berencana akan membuatkan Sasuke sarapan yang bergizi. Segelas susu hangat, buah-buahan dan menu utamanya sup. Sasuke butuh banyak gizi agar tetap fit dalam bekerja.

Tap.

Langkah Hinata terhenti seketika saat ia melewati sebuah kamar kosong disamping kamar mereka. Kamar yang satu bulan lalu telah disulap menjadi kamar bayi oleh Sasuke, kamar kosng menjadi kamar siap pakai. Sekarang, mereka hanya perlu menunggu sang penghuni lahir untuk menempatinya.

Hinata tersenyum, dilangkahkanya kakinya untuk memasuki kamar tersebut dan melihat-lihat apa saja di dalamnya. Tak lupa, tangan kirinya mengelus-elus perutnya yang sudah sangat besar karena telah memasuki usia 8 bulan.

"Uhh, manis sekali…" Hinata melihat pernak-pernik yang ada di kamar tersebut, ada mainan yang digantungkan diatas Box bayi, popok, tempat susu, perlengkapan mandi, bedak, minyak, parfum dan masih banyak lagi pokokya sudah lengkap. Yang semakin membuat Hinata ingin tertawa terbahak-bahak adalah semua barang di kamar ini berwarna putih, mengapa demikian? Karena mereka berdua sepakat untuk tidak memeriksakan jenis kelamin anak mereka. Jadi putih adalah warna netral yang mereka pilih untuk menunggu sang jabang bayi lahir. Setelah lahir, soal warna urusan gampang hehehe.

.

.

.

.

Sasuke merapikan kemeja yang ia kenakan, dasi Hitam siap, jas Hitam siap, celana hitam siap, koper siap, sepatu siap, semua sudah siap.

"Hati-hati hari ini," Hinata tiba-tiba muncul dari belakang dan membalikkan badan sang suami yang semula menatap cermin besar di kamar mereka menjadi menghadapnya.

"Huh, kau ini mengagetkanku." Ucap Sasuke dibuat-buat.

"Hihi, habis Sasu-kun terlalu serius," Giliran Hinata yang menegeluh.

"Yang harus berhati-hati itu kamu, Hina sayang. Lihat, si dedek sudah besar dan butuh perhatian ekstra. Jangan terlalu banyak aktifitas. Perlu ku telfonkan okaa-san?"

"Iya, iya Sasu-kun cintaaaa, tidak usah. Ibu sedang sibuk, Sasu tahu sendiri kan?"

"Aku mulai cemas denganmu, apa perlu aku carikan pembantu? Jujur aku tidak bisa konsentrasi dikantor karena memikirkanmu." Ungkap Sasuke.

"Sttt.. sudah, aku tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu akan aku telepon." Ujar hinata menenangkan sambil membenarkan kerah baju Sasuke yang tidak rapi.

"Kata dokter 1 bulan dua minggu lagi, ya? Hmm… aku janji, setelah meeting hari ini selesai aku akan segera pulang dan mempersiapkan semuanya," janji Sasuke kepada sang istri.

"Hihi, iya Sasu-kun. Ingat Hati-hati ya? Dan jangan nakal!"

"Iya," kemudian, Sasuke mengusap pipi Hinata lembut dan mengecup dahinya dengan lembut, penuh dengan perasaan.

"Terimakasih untuk sarapannya, untuk semuanya…

Aku mencintaimu," ujar Sasuke tersenyum lembut seusai mencium dahi Hinata.

"Ich Liebe Dicht." Jawab Hinata sambil tersenyum lebar.

"Tidak adil ah, kamu pakai bahasa Jerman!" Sasuke merengut.

"Mentang-mentang aku 'gak bisa…" ujarnya lagi.

"Hihihi, sudah. Yang penting maknanya juga sama," tutur Hinata halus.

"Sudah, ayo waktunya berangkat, nanti telat, Suke!"

" .. aku pamitan dengan dedek dulu ya," izin Sasuke sambil berjongkok dan mengelus perut Hinata dengan lembut.

"Sayang, ayah pamit dulu, ya. Ingat pesan ayah, jangan nakal. Jangan minta aneh-aneh –supaya ayah ga kerepotan-, dan… nurut ma ibu ya, ayah bekerja dulu. Ayah janji deh, nanti waktu pulang ayah beliin marsmellow mau?"

"Ah, jangan marsmellow, S-suke. Aku.. aku tiba-tiba maunya nonton langsung Konser JKT48 saja!"

GUBRAAAKKKKKKKKK!

"H-Hinata, d-disini kan, Di jepang kan s-sudah ada AKB48? K-kenapa minta yang jauh?"

"Ngga tau dedek.." enteng banget ya jawabnya?

WHAT THE-?!

.

.

.

.

My Wife Is Hinata

.

.

.

.

"Jadi ini Ruangan Sasuke?"

"Iya, mohon menunggu disini, sebentar lagi PresDir akan segera datang, jika anda sudah membuat janji."

"Oh, iya. Ano, menurutmu apa Sasuke suka oleh-olehku?" Tanya seorang wanita berambut Pirang dan memakai kacamata berwarna Cokelat gelap. Sangat serasi dengan kulitnya yang putih seperti susu, dia tengah memamerkan oleh-oleh makanan, minuman dan barang jadi lainya untuk Sasuke.

"Uhm… i-itu terlihat sangat bagus sekali," tentu saja Sekretaris Sasuke di kantor itu tak berani berkomentar yang macam-macam, bisa dipecat ia nanti!.

"Oh..baiklah, oh iya, siapa namamu? Bisakah kau menemaniku disini sambil menunggu Sasuke datang?" pinta si perempuan berambut pirang.

"N-nama saya, Hanako." Jawab sekretaris itu mulai risih dengan perempuan yang sebenarnya hanya ingin dekat denganya.

"Bagus! Kalau begitu, kita sekarang berteman, ya! Bagaimana kalau ku traktir makan, kau mau pesan apa?"

"Hah?"

.

.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Apa-apaan endingnya kaya gini! O_O!a haduhh… ni chapter juga muat apaan ya? GOMEENNN MINNA! T_T author lagi buntung, ga punya ide, adakah yang berminat meminjamkan otak yang kaya idenya? #tampol massa#

Okelah, ga apa-apa, Hika lagi baik hati, jadi Ending dari MWIH *ga enak banget judulnya* akan saya panjangkan 1-2 chapter lagi ^,^ mohon doanya ya! *doa buat apa, ya?*

Hehehe, maaf juga Hika lama updatenya, OSIS dan TUGAS tak dapat saya selingkuhi! T_T *apaini* jadi maaf lama updatenya…

Semoga FULL Sasuhina diatas dapat memanjakan sedikit para pembaca… (walau saya ga yakin ini memuaskan atau tidak) :/ maaf ya minna, saya rasa chap ini paling hancur…

Tapi saya janji, chapd epan akan saya bikin semampu ekmampuan saya untuk endingnya n_n

So…

See you next time =)

Salam hangat,

Hikari No Aoi