KHS X FTHS

.

.

Genre: Romance, Hurt/Comfort, dll

Rate: T

Pairing: JuviaGray, SasuKarin, NatsuLucy, KakaSaku, NaruHina, ShikaTema

.

Disclaimer:

Naruto Masashi Kishimoto

Fairy Tail Hiro Mashima

KHS X FTHS Kazucchi..

Summary: Juvia ditaksir Sasuke yang bikin Karin cemburu berat dan Gray jadi sepanas Natsu. Sementara Lucy, anak FT High School digodain Rock Lee. Kakashi ditaksir Cana, guru FTHS yang mirip dengan Sayaka di Icha-Icha Paradise dan bikin Sakura menjadi liar. Gimana anak-anak KHS menghadapi anak-anak FTHS yang notabene kedua SMU itu mempunyai reputasi buruk karena perilaku murid-muridnya?

Author baru, first fanFic, AU, OC, OOC, gaje, dll, …

~Don't like don't read~

Chapter 4 – Ayam, Hujan, dan Es (#3)

Gray's POV

Musim panas di FTHS. Kalau ada Juvia disini, musim panas bias menjadi musin penghujan. Meskipun banyak orang yang tak menyukainya karena dia selalu membawa hujannya.

Kecuali aku. Aku tak pernah terganggu oleh kehadirannya. Dia sangat menyejukkan bagiku. Dia sahabatku, sahabat yang selalu ada untukku. Ketika dia berada disampingku, rasanya sangat nyaman. Makanya, hanya dengan dirinyalah aku bisa mengungkapkan perasaanku pada Luvy.

Hanya saja, ketika aku mengatakan perasaanku dtentang Lucy, raut wajahnya terlihat sedang dirundung kesedihan. Kupikir itu karena dia sedang ada masalah. Ketika kutanya kenapa, dia selalu mengelak.

Pagi ini panas sekali, tentu saja karena Juvia tidak berangkat. Aku khawatir dengannya. Kuputuskan sepulang sekolah akan ku jenguk dia dirumahnya.

'TTEEENGGG… TTEEENGGG… TEEEENGGGGG….' Bel sekolah yang kutunggu-tunggu berbunyi. Segera kurapikan buku pelajaran ku dan bersiap untuk pulang.

Aku berjalan santai keluar dari kelas. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

"Gray!" Panggil pria berambut pink yang tak lain adalah Natsu.

"Apa?" Tanyaku.

"Kau lupa? Kita harus membersihkan toilet cowok." Ucapnya. Aku teringat. Kemarin aku dan Natsu memecahkan kaca ruang kepala sekolah. Sebagai hukumannya, kami harus membersihkan toilet cowok selama seminggu.

"Eh? Maaf, aku sibuk. Kau saja, ya." Aku segera meninggalkan Natsu tapi, Natsu menarik tanganku dan menyeretku paksa untuk membersihkan toilet.

"Akhirnya selesai juga." Gumamku sambil menyeka keringat di dahiku. Kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 13.30. Natsu sudah bersiap pulang.

"Hei!, Natsu, tunggu!"

"Aku mau pulang bareng Lucy, jaa.." Ucapnya meninggalkanku.

"Ya sudah, sana!" Teriakku padanya. Natsu melirik aneh padaku.

"Kau berubah." Ucapnya.

"Berubah apanya?"

"Biasanya kalau aku mengungkit Lucy, wajahmu aneh. Sekarang terlihat biasa saja." Aku tertegun dengan ucapannya. Apa ada yang berubah denganku?

"Tak usah mengurusiku, pergilah. Lucy sudah menunggumu!" Natsu segera pergi meninggalkanku. Sedangkan aku masih memikirkan perkataan Natsu.

Yah, Lucy. Dia cewek yang dulu kusukai. Ha? Apa aku bilang 'dulu'? Dulu aku menyukai sifat ramahnya. Namun, Lucy berpacaran dengan Natsu, sahabatku. Hanya pada Juvia-lah aku bisa mengungkapkan perasaan sedihku tentang Lucy. Tapi, entah kenapa ketika Natsu berkata akan bersama Lucy lagi, aku merasa tak ada apa-apa. Ini aneh sama seperti yang dikatakan Natsu.

Aku teringat pada Juvia. Segera aku berlari keluar dari sekolah ke rumah Juvia untuk menjenguknya.

'BRUKKK' Aku menabarak seseorang. Aku tak peduli dan segera berdiri merapikan baju.

"Maaf, aku terburu-buru!" Ucapku lalu lari meninggalkan orang yang ku tabrak itu.

"Hei, kau! AAARRGHHH!" kudengar umpatan pria itu. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari meninggalkannya menuju rumah sahabatku, Juvia.

'TOK.. TOK..' kuketuk pintu rumah bercat biru muda. Lalu keluarlah Aquarius-baasan, ibu Juvia.

"Gray?"

"Iya, baa-san."

"Silahkan masuk. Juvia sejak kemarin sudah sakit panas."

"Oh, baiklah." Aku masuk ke rumah sederhana dan minimalis itu. Ibu Juvia, Aquarius-baasan baik padaku. Tentu saja karena aku teman sejak kecil Juvia. Jadi kami sudah akrab sejak awal.

Aku menaiki tangga menuju kamar Juvia. Semua tatanan rumah keluarga Loxar sudah kuhapal diluar kepala karena aku sering bermain dirumah Juvia. Tentu saja aku tahu dimana kamar Juvia.

Kubuka kamar Juvia, dan kulihat dia sedang melihat pemandangan dari jendela kamarnya. Entah kenapa saat kulihat wajahnya, wajahnya sangat cantik. Dadaku berdegup kencang. Tak biasanya aku seperti ini.

"Juvi-chan," Panggilku. Juvia berbalik dan tersenyum lebar ketika melihatku.

"Gray-chan," Panggilnya. Wajah bahagianya ketika melihatku entah kenapa terasa sangat indah.

"Kau sakit apa?" Tanyaku sambil berjalan mendekatinya. Aku duduk di tempat tidurnya.

"Emm, aku agak panas sejak kemarin."

"Sekarang masih panas?" Tanyaku.

"Entahlah," Jawbnya. Lalu ku tempelkan dahiku dengan dahinya. Dahinya tidak terasa panas, tapi kenapa malah aku yang panas? Aku merasa wajahku berubah merah. Kulihat wajah Juvia juga memerah.

'Ups? Apa dia semakin sakit?' Pikirku.

"Kau tidak apa-apa, kan? Wajahmu memerah."

"Ti.. tidak, Gray." Ucap Juvia sambil menunduk. Entah kenapa badanku bergerak sendiri. Tanganku menggenggam tangan Juvia. Bodohnya lagi, mulutku bicara sesuatu yang tidak kupikirkan.

"Aku sedih dirimu tak berangkat. Aku merasa kesepian." Setelah mengucapkannya, aku tersadar. Ingin ku meralat, tapi melihat wajah Juvia yang memerah, aku berpikir untuk mengurungkannya. Wajahnya yang merah itu sangat cantik.

"G..gray-chan kesepian?"

"Em.. i.. iya.."

"Tapi ada Lucy, kan?" Aku teringat pada Lucy. Anehnya, yang kuingat bukan perasaan sukaku pada Lucy. Namun perasaan teman tentangnya. Dan lagi, yang kupikirkan hanyalah Juvia. Aku tersenyum.

"Tidak, sudah tidak apa-apa." Ucapku pada Juvia.

"Tidak apa gimana, Gray-chan?"

"Aku sudah tidak ap.."

'BRRRAAAKKK!' Muncul seorang pria berambut pantat ayam dengan warna yang sama denganku. Rasanya pernah kulihat tapi entah dimana.

"K.. kau?" Ucapnya sambil menunjukku.

"Aku?" Tanyanya padaku.

"Kau yang menabrakku, kan? Kenapa bisa disini?" Tanya-nya.

"Maaf, siapa, ya?" Tanya Juvia padanya.

End of Gray's POV

"Maaf, siapa, ya?" Tanya Juvia pada Sasuke.

Sasuke terpaku. Juvia tak mengingat namanya sejak pertama kali mereka berkenalan. Sasuke merasa ingin menangis. Dia-pun pundung di pojokan ala Tamaki Ouran High School. Tapi dia segera bangkit kembali.

"Kau tak mengenalku, Juvia?" Tanya Sasuke padanya. Juvia menggeleng.

"Aku Sasuke Uchiha. Teman Sakura. Kemarin Lucy mengenalkanku padamu." Juvia tampak mengingat-ingat. Tapi sesaat kemudian dia menggeleng. Saat itu, Sasuke benar-benar ingin gantung diri gara-gara dilupakan oleh orang yang disukainya.

"Baiklah, biar kita berkenalan sekali lagi. Aku Sasuke Uchiha, teman Sakura." Ucap Sasuke sambil bersalaman pada Juvia.

"Gray?" TIba-tiba Aquarius, ibu Juvia masuk memanggil Gray.

"Iya?"

"Ibumu, Ur-san menelpon, kau disuruh pulang menjemput Ultear."

"Baik, sudah, ya Juvi-chan! Aku harus menjemput adikku. Nanti malam aku kesini lagi merawatmu."

"Iya, hati-hati, ya Gray-chan! Ku tunggu." Entah kenapa, suasana itu seperti suasana suami yang akan berangkat kerja, dan istrinya akan menunggu kepulangan sang suami. Sasuke merasa menjadi orang jahat di tengah-tengah mereka.

"Em, Juvia." Panggil Sasuke setelah Gray pergi.

"I.. iya, Sasuke-san."

"Enn.. gak usah pake embel-embel –san.. Sasuke saja sudah cukup."

"Baiklah, Sasuke."

"Eng.. kau punya pacar" Tanya Sasuke.

"Tidak, kenapa memang?"

"Setelah kau sembuh, aku ingin mengajakmu ke Taman Magnolia. Bagaimana?" Wajah datar Juviatidak berubah walaupun mendapat ajakan kencan dari Sasuke. Lama dia terdiam.

..

..

..

..

"Tadi Sasuke mengajakku ke Taman Magnolia? Kan?"

"Iya."

"Baiklah, mungkin hari Minggu aku sudah sembuh." Rasanya senang sekali Sasuke karena mendapat jawaban 'iya' dari Juvia tercinta. Gak bisa dibayangin rasa senang Sasuke karena Sasuke yang kita lihat gak pernah merasa senang. #di siram air panas sama SFC

~.~

Esok hari di KHS.

"Sasuke, kun.." Panggil Karin.

"Hn?" Yang dipanggil Sasuke hanya menjawab 'hn' sambil membaca buku.

"Hari Minggu ada acara? Kita ke taman Magnolia, yukk.." Ajak Karin.

"Aku ada kencan dengan seseorang." Pernyataan Sasuke membuat seluruh anggota SFC kaget setengah mati.

"A.. apa?" Tanya Karin tak percaya.

"Karin, berhentilah mengejarku. Aku sudah punya wanita yang kusuka. Dan kami kemungkinan akan segera jadian. Jadi jangan mendekatiku lagi." Perkataan yang terpanjang dari yang pernah Sasuke katakan membuat Karin dan SFC bersedih hati.

"Huuhh… Akan kugagalkan kencan payah mereka!"

~.~

Sementara itu di FTHS,

"Juvia, aku mau beli sepati ski besok Minggu. Anterin donk."

"Em, Gray-chan. Maaf, aku sudah ada janji dengan Sasuke-kun."

"Sasuke? Orang yang kemarin?"

"Iya."

"Jangan pergi, Juvi-chan!" Gray memegangi pundak Juvia. Muka Juvia memerah. Juvia sangat senang ia diperhatikan Gray.

"Ke.. kenapa?"

"Kau baru berkenalan dengan Sasuke. Kalau dia adalah orang yang jahat, gimana?"

"Ti.. tidak.. Gray-chan tenang saja." Meskipun diminta tenang, Gray bertekad akan membuntuti Juvia saat kencan besok.

~.~

Hari yang ditunggu Sasuke tiba. Sasuke sudah siap dengan baju kerennya yang pasti akan membuat semua wanita bertekuk lutut didepannya kecuali author karena author sudah punya Chiaki, Kakashi, Moon Joo Won, Jang Geun Suk, Jun Yong Hwa, Lee Jong Hyun, bla bla bla, bla bla bla.. (kembali ke scene) Dia berdiri tepat di depan gerbang Taman Magnolia.

Beberapa puluh meter dari Sasuke berdiri, Karin berjalan ke arahnya. Dia mengendap-endap membututi Sasuke.

Tak lama Sasuke menunggu, datanglah Juvia. Kali ini tanpa hujan. Juvia berpakaian sangat manis dan membuat Sasuke nosebleed. Tapi ditahannya karena tak mau membuat ia kehilangan muka di depan Karin yang bersmbunyi tampak sangat marah.

"Kau manis, Juvia." Puji Sasuke.

"Terima kasih." Jawabnya dengan wajah datarnya. Sasuke heran karena Juvia terlihat sama sekali tak tersipu dengannya. Sasuke menggenggam tangan Juvia dan melangkahkan kaki menujuTaman Magnolia.

Namun, tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada Gray yang mengikuti Juvia.

-T.B.C-