Present For Ikuto

By: Yui Hoshina

.


Disclaimer:

Peach-pit Sensei, tolong berikan Ikuto padaku. Q.Q #digampar peach-pit

Warning:

AR (Alternatif Reality), abal, gaje, kurang fluffy, dwwl (dan warning-warning lainnya)

Notification:

"Bicara biasa/Jepang (pengecualian untuk istilah jepang yang di Italic)" (tanda petik 2)

"Bicara bahasa inggris/prancis" (tanda petik 2 + Italic)

'Berpikir dalam hati' (tanda petik 1 + Italic)

.


a/n: Yup! Fic special Ikuto'sbirthday telah kuciptakan. KYAAAA~ AKHIRNYA! XD #plak

Ok! Di sini akan banyak kalimat bergaris miring di mana kalimat tersebut diucapkan dalam bahasa asing. Maklum, aku kan gak bisa bahasa inggris apalagi bahasa prancis (tapi bela-belain coba belajar bahasa prancis). T.T

Yak! Happy reading minna-san and here we go!XD


.

Chapter 1: Finally! I meet you again

"Se-selamat ulang tahun, Mr. Ikuto. Terimalah hadiah dari kami," terdengar suara anak perempuan yang terdengar gugup disebuah ruangan yang penuh alat musik. Bahasa yang mereka gunakan cukup asing seperti bahasa prancis.

Di dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa perempuan berumur sekitar 18-19 tahun tengah mengerubungi seorang anak laki-la- ah~ sepertinya lebih pantas disebut seorang pria yang cukup (SANGAT) tampan berambut biru gelap dengan mata berwarna deepblue yang mampu menghipnotis kaum hawa. Seandainya author juga di sana, bisa banjir nosebleed ngeliatnya. (nutupin hidung yang mulai mimisan)

"Terima kasih," ucap pria itu dengan suara agak berat atau bisa disebut bariton kalau gak salah. Ia tersenyum tipis (saking tipisnya hampir gak kelihatan) namun sudah membuat para cewek-cewek nosebleed bahkan hampir pingsan melihatnya jika tidak ditahan oleh salah satu temannya.

"Kyaaaaah~!" cewek-cewek yang mengerubungi pria itu berteriak histeris.

Eh? Kalian tanya kenapa tuh para cewek teriak histeris? Oh ayolah. Kalian bercanda kan? Masa' gitu aja gak tau. Suara pria itu mampu membuat para cewek klepek-klepek dibuatnya dan membuat hati para cewek bergetar dan senyumannya yang sangat mempesona tau. Bahkan authorpun ikut berdebar-debar plus bergetar mendengar suara dan senyuman pria itu yang OH-SANGAT-AWESOME- itu. (Prussia mode: ON)

"Ikuto, kau dipanggil Mr. Jack diruangannya," panggil seorang pria yang seumuran dengan orang yang dipanggil Ikuto atau yang biasa kita kenal dengan nama TSUKIYOMI IKUTO saat memasuki ruangan tersebut.

"Baiklah. Aku akan segera kesana," Ikuto pun bangkit sambil membawa kado yang didapatnya hari ini dan memasukkannya ke dalam plastik yang telah disediakannya.

"Yaaah~," para cewek itu kecewa karena tidak bisa berdekatan dengan Ikuto lebih lama lagi.

Untung saja Ikuto sudah berinisiatif dari apartemennya untuk membawa beberapa buah plastik yang cukup besar. Ia tidak ingin kejadian tahun lalu terjadi lagi di mana saat ulang tahunnya ia mendapat banyak kado entah itu dari anak semester awal maupun semester akhir. Aneh sekali. Padahal itu adalah tahun pertamanya masuk kuliah di salah satu universitas yang ada di Eropa jurusan seni musik tapi… darimana mereka mendapat informasi bahwa tanggal 1 Desember itu adalah hari ulang tahunnya?

"Aku titip ini, Ken," Ikuto menyerahkan kantung plastik yang berisi banyak kado tersebut pada pria berambut coklat kepirangan di depan pintu ruangan itu.

"Roger," Ken pun menerima kantung plastik berisi kado tersebut dan membawanya pergi ke tempat sakral (?) a.k.a. apartement Ikuto dimana Ken adalah teman seapartemennya dan tentu saja harus diletakkan di kamar Ken dulu karena ia tidak mempunyai kunci kamar Ikuto.

"Sampai nanti," Ikuto pamit pada Ken dari kejauhan dan langsung beranjak pergi ke tempat Mr. Jack.

.


"Haahh… sudah kuduga begini akhirnya," keluh seorang gadis berambut pink pendek sebahu tengah menghela nafas pasrah. Ia kini berada disebuah tempat asing yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tersesat? Sepertinya hanya jawaban itulah yang cocok dengan keadaannya sekarang.

"Haahh… sepertinya aku benar-benar tersesat. Utau benar-benar tidak bertanggung jawab sudah mengajakku ke Eropa. Meninggalkanku sendirian dan hanya memberiku secarik kertas aneh ini," gumam gadis berambut pink itu yang tak lain adalah Amu sambil melihat kertas yang diberikan Utau sebelum mereka berpisah. Dikertas itu tertulis sebuah alamat yang cukup asing bagi Amu. Ia pun memasukkan kembali kertas itu kedalam saku roknya.

Ia benar-benar tidak percaya bahwa ia sudah sampai di Eropa. Yang ia ingat hanyalah Utau yang tiba-tiba datang kerumahnya, memintanya (tepatnya menculik) untuk menemaninya saat ada konser di Eropa dan akhirnya ia ditinggal sendirian disebuah tempat aneh yang disebut taman kota.

"Kenapa hari ini sial sekali sih? Selain itu…" Amu mengamati daerah sekitar dan beberapa orang (pria) meliriknya dengan tatapan yah~ sudah pasti taulah. "Kenapa aku merasa terus-menerus diperhatikan sejak tadi? Apa pakaian yang kukenakan cukup aneh ya?"

Amu melirik pakaian yang dikenakannya. Blazer berwarna biru dengan kemeja putih didalamnya. Sebuah sapu tangan putih atau pita apalah itu yang menghiasi dibagian kerah kemejanya yang biasa digunakan oleh pakaian pria Eropa yang mengikuti pesta dansa. Rok rampel berwarna hitam dengan hiasan manik-manik seperti rantai disamping kanan roknya. Kaus kaki panjang bergaris vertikal berwarna biru gelap dan hitam, dan tidak lupa sepatu fantofel berwarna putih. Ah~ hampir lupa. Jepit rambut 'X' berwarna senada dengan blazernya yang menghiasi rambut pinknya. Yah~ seperti pakaian yang dikenakan Amu saat menghadiri upacara pernikahan Hinamori Shuu, sepupunya.

Bisa dibilang, pakaian yang Amu kenakan agak mencolok karena aura cool and spicy nya memancar sehingga membuat orang-orang sekitar berpandangan kagum padanya.

"Amu-chan, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Kita sudah pergi sejauh ini. Lebih baik kita menikmati perjalanan ini," usul Ran bersemangat.

"Tapi… bagaimana kalau kita tambah tersesat?" Amu terlihat cemas dengan usul Ran.

"Kan ada kami, Amu-chan. Jadi kita kan tersesat bersama, desu~," ucap Suu optimis.

"Suu~, kau ini," Amu sweatdrop dengan ucapan Suu.

"Hei! Kapan lagi kita bisa ke luar negeri seperti ini? Kita manfaatkan saja waktu tersesat (?) kita," tambah Miki ikutan bersemangat yang membuat sweatdrop Amu semakin bertambah.

"Kalian…" Amu terlihat pasrah dengan ucapan ketiga Shugo Charanya itu.

"Amu-chan, bagaimana kalau kita lihat toko itu dulu! Kelihatannya menarik, " tunjuk Daiya pada sebuah toko dengan mata berbinar-binar.

"Daiya… kau juga," Amu bertambah sweatdrop dengan shugo chara ke-4nya.

"Ayo, Amu-chan!" kata Ran bersemangat sambil memainkan pom-pomnya.

"Hayaku, hayaku!" seru Miki dan Suu.

"Haahh… baiklah. Ayo!" ucap Amu akhirnya sambil mengikuti kemana Shugo Charanya ingin berjalan-jalan.

Amu dan Shugo Charanya mulai mengelilingi tempat mereka tersesat. Melihat toko barang antik, air mancur dekat taman kota itu, dan tempat-tempat yang membuat mereka tertarik. Mereka sangat menikmati perjalanan mereka. Walaupun mereka sudah tau bahwa mereka malah tambah tersesat tapi… yah sudahlah. Seperti kata Miki, nikmati saja waktu tersesat mereka.

"Ah, Amu-chan!" panggil Daiya tiba-tiba. Amu menoleh pada Shugo Chara ke-4 nya sambil terus berjalan pelan.

"Doushita no, Daiya?" tanya Amu heran.

"Di sini Eropa sungguhan kan?" Amu menyerengit heran dengan pertanyaan Daiya.

"Tentu saja. Memangnya kenapa?"

"Kalau itu benar. Berarti…"

"Berarti?"

"Jangan-jangan… Ikuto juga ada di sini," ucap Daiya.

DEG!

Langkah Amu terhenti. Jantung Amu mulai berdebar-debar tidak karuan begitu mendengar nama 'Ikuto' disebut. Wajahnya merona. Ia sama sekali lupa kalau Ikuto juga tinggal di Eropa. Itu membuatnya malu setengah mati. Bagaimana jika nanti ia bertemu dengan Ikuto? Apa yang akan ia lakukan? Apakah menyapanya? Atau pura-pura tidak kenal?

Yah~ wajar saja sih Amu bingung. Sejak pertemuan trakhirnya dengan Ikuto saat pernikahan Nikaido Yuu dan Sanjou Yukari berlangsung, tanpa mereka sadari bahwa ikatan antara mereka telah terjalin erat dan menjadi semakin dekat.

Amu kini mulai berjalan kembali, tidak minat untuk menjawab pernyataan Daiya dan malah melamunkan hal di masa lalu. Amu masih ingat bagaimana Ikuto menggenggam tangannya dengan lembut pertama kalinya. Jangan salahkan Ikuto jika Ikuto baru bisa menggenggam tangan Amu dengan penuh perasaannya karena waktu itu mereka masihlah musuh dan sulit sekali mengungkapkan perasaan dimana Ikuto tidak ingin melibatkan Amu lebih jauh lagi ke dalam masalahnya.

Mengingat hal itu, wajah Amu memanas dan menggenggam tangannya sendiri. Setiap kali ia mengingat kejadian itu, tangannya mulai menghangat secara otomatis seperti tengah digenggam oleh tangan Ikuto langsung. Hangat dan nyaman sekali. Mengingatnya saja sudah membuat Amu blushing tidak karuan. Apalagi langsung bersentuhan secara langsung oleh sang pemilik tangan. Rasanya jantung Amu seakan ingin meledak dibuatnya.

Tidak hanya itu, perkataan Ikuto yang akan membuat Amu akan suka padanya juga terus terbayang-bayang dalam benaknya. Ow~ sudahlah Amu. Sebaiknya kau singkirkan pikiranmu tentang Ikuto. Kalau tidak, kau bisa menabrak tiang lampu karena melamun terus.

"Amu-chan! Awas!" teriak Daiya tiba-tiba.

"Eh?" Amu tersadar dari lamunannya dan… Jduak! Kepala Amu terbentur tiang lampu. Tuh kan, Amu. udah dibilangin jangan mikirin Ikuto mulu. Jadinya kan ketabrak deh. Kasian kan tiang lampunya. (diinjak Amu)

"Ita-ta-tai…" Amu menyentuh dahinya yang sempat menjadi korban tiang lampu yang tidak bersalah (?).

"Daijoubu, Amu-chan?" tanya Daiya cemas.

"Daijoubu, Daiya," Amu tersenyum terpaksa walaupun dalam hati ia menyalahkan Ikuto yang membuatnya terbentur. He? Bukannya itu salah Amu sendiri? Kenapa malah menyalahkan orang yang tidak ada?

"Amu-chan! Amu-chan!" panggil Ran panik diikuti oleh Miki dan Suu.

"Ada apa, Ran?" tanya Amu heran.

"Ada bahaya! Bahaya! Tolong anak perempuan itu! Ia sepertinya tengah dicegat oleh orang-orang jahat," kata Ran panik dan menunjuk pada sebuah gang yang terlihat sempit.

"He? Ta-tapi aku…" Amu ragu.

"Ayo, Amu-chan!" kata Daiya seraya terbang menuju ke gang sempit itu.

"Tu-tunggu, Daiya!" mau tidak mau Amu pun mengikuti Daiya dan lainnya.

.

"Kyaaaaa~ lepaskan aku! Tolong biarkan aku pergi!" terdengar teriakan seorang gadis yang terdengar asing. Amu yang mendengarnya langsung berlari ke tempat kejadian.

"Eh!" reflek Amu bersembunyi dibalik tembok begitu melihat seorang anak perempuan yang Amu perkirakan seorang anak kuliahan tengah dikepung oleh dua orang pria asing.

"Kalau kau ingin lepas, serahkan benda berhargamu. Atau kau bisa memberikan apa yang ada didalam tasmu," pria itu menyeringai. Wajah gadis itu langsung pucat pasi mendengarnya.

"Ti-tidak boleh. I-ini buat seseorang," sang gadis langsung melindungi tasnya dengan mendekapnya.

"Keras kepala sekali," ucap Pria itu mulai kesal.

"Amu-chan, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ran.

"Ini waktunya heroine mulai beraksi. Kita pakai chara nari saja," usul Miki.

"Tidak bisa! Kau ingin membuatku seperti orang maniak cosplay jika aku muncul dengan chara nari?" tolak Amu sedikit kesal pada Miki.

"Tapi, gadis itu bagaimana, desu~?" tanya Suu khawatir.

"Itu…" Amu ragu.

"Amu-chan," Daiya memandang Amu dengan tatapan yang terlihat khawatir.

"KYAAAA! HENTIKAN!"

Amu terkejut dengan teriakan itu dan…

"Cepat serahkan tasmu!" perintah pria itu sambil berusaha merebut tas yang didekap oleh gadis itu.

"Tidak!" tolak gadis itu berusaha melindungi tasnya.

"Kau…"

"Hey, kau," terdengar interupsi dari suara seperti anak perempuan. Ketiga orang itu serempak menoleh dan terlihat seorang anak perempuan yang tak lain adalah Amu dengan gaya tangan kanannya diletakkan dipinggang, pandangan matanya terlihat bosan dan auranya yang… COOL AND SPICY!

"Kau menghalangi jalanku," ucap Amu datar dengan pandangan yang terlihat bosan. Dalam hati Amu bersyukur tidak sia-sia ia mempelajari bahasa inggris dan iapun bisa lancar berbahasa inggris diluar negri.

"He? Bukan urusanmu. Pergi kau dari sini!" usir salah satu pria itu.

"Apa kau bilang?" Amu melancarkan tatapan pembunuh (?) andalannya sambil tersenyum iblis dan membuat dua pria itu meneguk ludah. "Sebaiknya kalian saja yang pergi dari sini. Kalau tidakkalian akan merasakan akibatnya."

Dua pria itu kembali meneguk ludah saking ngerinya dengan tatapan Amu yang menusuk.

"H-hei, ayo kita pergi. Aura intimidasinya terlalu kuat. K-kita tidak mungkin menang darinya," bisik salah satu pria itu.

"I-iya. Ayo kita pergi," kedua orang itupun pergi dengan terbirit-birit sambil mengucapkan 'Maafkan kami!'

Inner Amu langsung bersorak dan mengatakan 'YATTA~! Syukurlah mereka pergi. Aku benar-benar hampir mati ketakutan melawan mereka.'

Yah~ itulah isi inner Amu. penampilan luar terlihat menakutkan, tapi didalam malah ia yang ketakutan.

"Te-terima kasih," ucap gadis itu terbata-bata. Ia terpesona pada Amu yang terlihat keren. Amu menoleh pada gadis itu.

"Kau juga. Seharusnya lebih berhati-hati jika berjalan ditempat sepi," tegur Amu datar membuat gadis itu tersentak kaget.

'Pe-perempuan inikeren sekali~!' batin gadis itu kagum.

"Sebenarnya kau mau kemana? Sepertinya barang yang ada didalam tasmu itu sangat penting sampai-sampai kau berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya," tanya Amu penasaran.

Terlihat wajah gadis berambut coklat sebahu berbandana hijau itu tersipu malu.

"I-ini mau kuberikan pada seseorang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya," kata gadis itu merona.

"Pacarmu?" tebak Amu.

"Heee? Bu-bukan. Di-dia bukan pacarku. Ha-hanya saja dia orang yang sangat populer di universitasku. Walaupun aku juga berharap menjadi pacarnya suatu hari nanti tapiitu sepertinya mustahil. Levelnya terlalu tinggi untukku, hahaha…" kata gadis itu tertawa kecil.

Amu hanya ikut tertawa kecil plus sweatdrop mendengarnya. Entah kenapa ia merasa seperti déjàvu.

"Oh ya, kau juga mau kemana? Mungkin bisa kuantarkan sebagai ucapan terima kasih," tawar gadis itu.

Glek!

Inilah pertanyaan yang tidak ingin didengar oleh Amu. Apa ia harus menjawab dengan jujur atau tidak? Jika menjawab jujur, hancurlah image yang dibangunnya barusan. Tetapi kalau tidak…

Dengan kaku, Amu menjawab, "I-itua-akutersesat."

Amu memalingkan wajahnya yang sedikit merona dan memasang image masa bodoh.

"Eh?"

Dalam hati Amu ingin berteriak dan membayangkan bahwa ia akan ditertawakan.

"…"

"…"

Diam. Hening. Tidak ada yang mulai pembicaraan sampai…

"Ini pertama kalinya kau ke Eropa ya?" tebak gadis itu.

"I-iya. Hanya saja aku bersama temanku tapientah kenapa kami terpisah," jawab Amu gugup.

"Boleh ku taus iapan amamu?" tanya gadis itu lagi.

"Amu. Namaku Amu," jawab Amu.

"Amu. Nama yang unik. Apa kau berasal dari Jepang?"

"Iya."

"Perkenalkan. Namaku Celia.Salam kenal," kata gadis bernama Celia itu tersenyum lembut.

"Salam kenal juga, Celia," sahut Amu.

"Ne, Amu-chan. bagaimana kalau kau menanyakan soal alamat yang ditinggalkan Utau tadi. mungkin Celia bisa membantu," usul Miki.

"He? Hontou?" ucap Amu memastikan dan menoleh pada Miki yang berada di sampingnya.

"Hm! Coba saja tanyakan," kata Miki.

"Baiklah. Akan kucoba tanyakan," kata Amu sambil merogoh kantungnya mencari alamat yang ditinggalkan Utau.

Celia sweatdrop plus cengok melihat Amu yang berbicara sendiri. Maklum. Ia kan belum bisa melihat ShugoChara.

"Amu, kenapa kau berbicara sendiri?" tanya Celia sweatdrop.

"Eh? Masa'? Mungkin kau berhalusinasi," elak Amu gugup.

"Benarkah?" Celia tidak yakin.

"Ne, Celia .Boleh kutanyakan sesuatu?" tanya Amu.

"Tentu," jawab Celia mengangguk.

"Apa kau tau alamat ini?" tanya Amu sambil memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat yang cukup asing bagi Amu. Celia membaca alamat itu dan…

"Eh? Ini kan alamat Universitasku."

"Eh? Ini alamat Universitas? Kenapa Utau memberiku alamat ini?" gumam Amu bingung.

"Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita pergi bersama? Aku juga punya sedikit urusan di Universitasku," tawar Celia.

"Tentu saja," Amu tersenyum mendengar tawaran tersebut.

.

.

"Hei, apa sudah dimulai?"

"Belum. Dia masih menyetel nada biolanya."

"Hyaaa~ aku sudah tidak sabar mendengar permainan biolanya lagi."

"Iya. Aku juga tidak sabar."

Komentar demi komentar keluar dari beberapa perempuan yang mulai mengerubungi sebuah ruangan. Mereka ada di sana mempunyai satu tujuan yang sama.

Mendengarkan permainan biola Tsukiyomi Ikuto.

.

"Nah, sampai. Selamat datang di Universitas Paris," kata Celia seakan-akan ialah sang pemilik rumah. Amu tercengang melihat seberapa besar Universitas Paris tersebut. Besar dan terlihat bersejarah.

"Universitas yang mengagumkan," ucap Amu kagum.

"Nah~ laluapa yang ingin kau lakukan setelah sampai disini?" tanya Celia.

"Errentahlah. Aku hanya mengikuti alamat ini. Mungkin menunggu," jawab Amu ragu.

"Kalau begitu, bagaimana kalau menemaniku saja? Sekalian kuperkenalkan isi Universitas ini. Siapa tau kau akan melanjutkan kuliahmu disini," Celia tersenyum dan berharap Amu akan berminat kuliah di Universitasnya.

"Hahahaaku belum berpikiran untuk melanjutkan kuliah disini. Melanjutkan sekolah SMA saja aku masih bingung menentukan sekolahnya," ujar Amu tidak percaya diri. Celia tersentak kaget mendengarnya.

"Eh? Melanjutkan SMA? Kau masih SMP?" tanya Celia tidak percaya.

"Ya. Musim semi nanti aku baru akan menjadi anak SMA. Kenapa?" tanya Amu bingung.

"APA? SERIUS?" teriak Celia tidak percaya.

"I-iya," jawab Amu sweatdrop.

"Aku mengira bahwa kau sudah SMA. Padahal auramu itu seperti remaja SMA," komentar Celia. Amu hanya tertawa kecil mendengarnya.

Celia pun melirik jam tangannya dan menunjukkan pukul 12.32 AM. Wajahnya langsung pucat dan berkeringat dingin.

"Kyaaaa~ aku terlambat!" jerit Celia seraya berlari memasuki gedung Universitas tersebut dengan terburu-buru tanpa mempedulikan Amu.

"Tu-tunggu, Celia!" Amu langsung mengikuti Celia yang berlari terburu-buru.

Dengan mudah Amu menyusul Celia yang berlari. Untunglah selama hampir 3 tahun ia berlatih keras untuk meningkatkan bidang olahraganya agar tidak terlalu bergantung Character Change dengan Ran. Tidak hanya olahraga, Amu juga meningkatkan bidang memasak dan artistiknya.

Masih berlari sambil menaiki tangga demi tangga, ruang demi ruang terlewati, tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka, Amu dan celia terus berlari sehingga Amu mulai menanyakan alasan mereka berlari pada Celia.

"Celia, kenapa kita berlari? Apanya yang terlambat?" tanya Amu ditengah mereka berlari.

"Ini waktunya The Cool Violinist akan memainkan biolanya. Aku selalu menanti-nantikan waktu ini," ujar Celia bersemangat.

"The Cool Violinist?" Amu terlihat bingung dengan julukan yang terdengar asing atau aneh?

"Yup. Sebenarnya kami ingin menamainya dengan julukan 'Prince Violinist', tapi ia bilang bahwa julukan pangeran itu tidak sesuai dengan karakternya. Jadi kami sepakat untuk memberi julukan 'The Cool Violinist' dimana ia terkenal dingin dan jarang berdekatan dengan perempuan dan hari ini adalah ulang tahunnya. Tapi, permainan biolanya sungguh sangat mengagumkan," jawab Celia panjang lebar saking semangatnya.

Entah kenapa begitu mendengar penjelasan Celia, Amu langsung terpikirkan satu nama.

Ikuto.

Tapi, itu tidak mungkin. Bisa saja kan banyak seorang Violinist yang sama jeniusnya dengan Ikuto kan? Yah~ mungkin bisa berbanding 3 : 7. Dan salah satunya ayah Ikuto, Tsukiyomi Aruto, yang juga jenius dalam bidang musik khususnya biola.

"Lalu, apakah ada yang menembaknya errmaksudku menyatakan perasaan padanya?" tanya Amu.

"Ahahahatentu saja. Entah sudah berapa banyak wanita yang telah menyatakan perasaan padanya bahkan aku juga berniat menyatakan perasaanku padanya tetapisudah sejak awal kami memang tidak mungkin bisa memasuki pintu hatinya," ujar Celia lirih.

"Kenapa?" tanya Amu penasaran.

"Itu karenadia sudah menyukai seseorang. Dan sepertinya ia memang sangat menyukai wanita itu karena pernah ada seorang senior yang bersikeras ingin menjadikannya kekasih dan bahkan berkata bahwa ia akan menunggu agar ia melupakan gadis yang disukainya," kata Celia.

"Lalu?" Amu semakin tertarik dengan cerita Celia walaupun mereka masih berlari. Universitas paris memang benar-benar luas sekali.

" Sesuai dugaan, ia menolak senior itu dan mengatakan 'Aku tidak mungkin melupakan gadis yang kusukai itu. Karena… dialah penyelamat hidupku yang menarikku dari pekatnya kegelapan menuju cahayanya yang terang. Membebaskanku dari rantai yang membelenggu kehidupanku dan memberikan kebebasan padaku. Entah apa jadinya jika dia tak ada. Mungkin… aku tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang'," Celia menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.

Amu semakin penasaran dibuatnya tapi… entah kenapa ia merasa pernah mengalaminya. Walaupun bukan dalam arti lisan, tapi entah kenapa makna dalam ucapan tersebut seperti mengarah padanya. Tapi yang membuatnya heran plus sweatdrop, bagaimana caranya Celia bisa menghapal perkataan orang tersebut sampai sejauh itu? Sepertinya Celia berbakat jadi stalker. =_='

"Lalu senior itu bertanya apakah gadis yang disukainya itu tau? Ia pun menjawab, 'Ia memang mengetahui perasaanku, tapi aku masih bertepuk sebelah tangan karena ia masih belum menjawab perasaanku,'. Senior itu sempat ingin protes dan mengatakan gadis itu bodoh karena tidak menerimanya tapi kemudian ia tersenyum tipis dan mengatakan, 'Walaupun aku masih bertepuk sebelah tangan tapi aku sudah berjanji kepadanya sebelum aku berangkat ke Eropa. Aku… akan berusaha membuatnya menyukaiku sepenuhnya'. Aaah~ manisnya~! Sungguh beruntung sekali gadis yang disukainya itu," jerit Celia girang plus gemas.

DEG!

Amu menghentikan langkahnya. Bahkan Celiapun ikut menghentikan larinya. Ia memandang Amu dengan pandangan bingung karena Amu tiba-tiba berhenti.

'Apa mungkin itu… Ikuto? Tidak. Tidak mungkin. Ini mungkin cuma kebetulan saja karena ceritanya mirip dengan kehidupanku. Ya. Ini pasti cuma kebetulan saja,' batin Amu meyakinkan dirinya.

"Kau kenapa, Amu?" tanya Celia.

"Eh? Ti-tidak ada apa-apa. Ayo kita lanjutkan," kata Amu berusaha menyembunyikan pikirannya dan… mereka pun melanjutkan perjalanannya.

"Kau tau, Amu? Saat ia mengatakan hal itu, kami selalu membayangkan bahwa orang yang disukainya itu seorang gadis yang cantik, dewasa, dan auranya berbeda dengan kami. Yah~ aku tidak heran jika orang yang disukainya itu seperti dirimu."

"Eh? I-itu tidak mungkin, kan?" kilah Amu malu.

" Tapi aku serius! Menurutku, kau itu terlihat keren, cantik, dewasa, bahkan aura mu terlihat sangat berbeda. Sepertinya daftar orang yang kukagumi mulai bertambah dengan munculnya dirimu," ucap Celia tersenyum manis.

Amu hanya menunduk malu karena dipuji seperti itu, "Terima kasih."

Saat mereka akan menaiki tangga ke lantai 7, terdengar musik yang tidak asing ditelinga Amu. musik yang sangat familiar ditelinganya karena ia pernah mendengarkan lagu itu dimainkan oleh seseorang. Lagu itu… tidak salah lagi.

Yume no Tsubomi.

"Ah~ sudah mulai. Syukurlah aku tidak terlalu terlambat untuk mendengarkan permainannya," Celia terlihat berbinar-binar sedangkan Amu hanya mematung. Celia langsung menarik tangan Amu dan mulai membawanya pada sebuah ruangan yang ramai oleh kaum hawa.

"Tu-tunggu, Celia. Kenapa kau menarikku juga?" Amu terlihat kaget dengan tindakan Celia yang mencoba menerobos kumpulan para kaum hawa tersebut sambil menariknya.

"Aku ingin kau menemaniku. Dan juga,aku ingin memperlihatkan pangeran violin kami," kata Celia berbinar-binar. Amu hanya bisa sweatdrop mendengarnya.

Pats! Akhirnya mereka berdua bisa keluar dari kerumunan tersebut dan berada digaris depan. Amu mencoba bernafas karena sejak tadi nafasnya hampir sesak karena harus berdempet-dempetan dengan kerumunan kaum hawa yang lagi berhisteria itu.

"Amu, lihat! Lihat! Itulah pangeran violin kami," tunjuk Celia pada seorang pria berambut biru yang tengah memainkan biolanya dengan sangat lembut sambil memejamkan matanya. Pria itu memakai kemeja berwarna putih dan celana panjang warna abu-abu. Terlihat tampan dan dewasa sekali.

Amu mau tidak mau akhirnya menoleh seseorang yang ditunjuk Celia dan…

DEG!

Jantung Amu berdebar keras begitu melihat sosok yang disebut 'The Cool Violinist' oleh Celia.

"Ikuto…" Amu menggumamkan sebuah nama sang pemilik yang tengah memainkan sebuah lagu dengan biolanya. Tubuh Amu bergetar, tubuhnya seakan hampir tidak bertenaga dan mungkin hampir tidak sanggup untuk berdiri, matanya mulai memanas namun ia tidak ingin mengeluarkan kristal bening tersebut dari pelupuk matanya. Sebelum ia mulai menumpahkan emosinya di tempat itu, ia harus pergi dari tempat itu.

.

.

Ikuto yang tengah memainkan biolanya dengan serius mulai mengedarkan pandangannya kearah para penonton. Sejak tadi pagi, jantungnya terus berdebar-debar tidak karuan. Entah gerangan apa yang membuatnya berdebar sampai sejauh ini.

Saat ia mengedarkan pandangannya kearah para penonton, ia melihat siluet rambut berwarna pink yang sepertinya ingin pergi kedalam kerumunan tersebut dan dalam sekejap, Ikuto menghentikan permainannya dan reflek langsung berlari kearah para penonton membuat para penonton teriak kegirangan.

Sebelum Ikuto kehilangan jejaknya, ia langsung mengarahkan tangannya ke dalam kerumunan tersebut untuk menangkap sebuah tangan dan…

.

GREB!

Amu merasakan tangannya digenggam oleh seseorang dan tiba-tiba ia merasa dirinya ditarik dari kerumunan.

Set!

Dalam sekejap ia keluar dari kerumunan tersebut dan perlahan-lahan ia menoleh pada orang yang menariknya. Jika di Anime-nya, maka gerakan Amu terlihat slow motion untuk menambah kesan dramatisir suasana.

"I-Ikuto," ucap Amu begitu tau siapa menariknya. Matanya mulai berkaca-kaca namun ia tidak ingin menangis di tempat ini.

"Amu…"

Tsuzuku

Hahaha~ lagi-lagi buat fic AmuTo. Kali ini spesial ulang tahun Ikuto pada tanggal 1 Desember (kalo ada yang belum tau).

KYAAAA~ HAPPY BIRTHDAY IKUTO DARLING~! SEMOGA KAU TAMBAH CAKEP, KEREN, DEWASA, JAHIL, DAN SEMAKIN BANYAK TERSENYUM! XD #nosebleed ngebayanginnya.

Hm… perkiraan fic ini akan tamat sekitar 4 or 5 chapter. Chapter 2 mungkin (mungkin?) udah jadi. Dan chapter 3 masih dalam pertengahan. Oh ya, berhubung kekurangan pemain di fic ini karena settingnya di Eropa, aku meminjam beberapa karakter dari Kaleido Star (Ken) dan Harvest Moon (Celia). Mungkin hanya satu OC buat penghalang AmuTo. Yup! Semoga berkenan dengan fic gaje yang asal crossoverin dengan anime dan game, hahaha~ :D #plak

Terima kritik, saran, pujian (maunya), maupun flame asal masuk akal. Please review minna! Fic ini akan dilanjutkan jika bisa mendapat 5 review atau lebih. =w=v #plak

Oh ya, aku punya project fic Shugo Chara lagi. Nah~ menurut kalian, yang mana yang harus kupublish duluan?

Dance and Violin

Amu seorang dancer pemula dan Ikuto seorang violinist pemula juga dalam arti belum terkenal. Pertemuan mereka di kediaman Tsukiyomi, telah merubah hidup mereka hampir keseluruhan. Benih-benih cinta mulai tumbuh dan sebuah lagu tercipta dari mereka berdua. Bagaimanakah halang rintang mereka untuk menjadi seorang Dancer dan Violinist terkenal?

Rate: T

Pair: Tsukiyomi Ikuto/Hinamori Amu

Genre: Romance

Ore no Kokoro

Pair Ikuto/Yoru pertama. Kehidupan Ikuto memang terkesan biasa saja sejak Yoru menghilang. Tapi, dilubuk hatinya yang terdalam ia sangat merindukan sosok shugo chara kucing itu. Apakah Ikuto akan bertemu Yoru lagi atau tidak? Selain itu, Ia harus segera menemukan jati dirinya kembali untuk menolong Amu dan kawan-kawan dari serangan batsu tama.

Rate: K+/T

Pair: Tsukiyomi Ikuto/Yoru

Genre: Friendship

Humpty Lock, Dumpty key, and Neko-chan

Dengan berbekal Humpty Lock, Amu mencari sosok teman masa kecilnya yang sering ia panggil dengan sebutan 'Neko-chan'. Pemberian Humpty Lock tersebut adalah satu-satunya penghubung antara ia dan Neko-chan. Di mana Sang pasangan Humpty Lock yaitu Dumpty Key, ada di Neko-chan tersebut. Bisakah Amu bertemu dengannya di sekolah bernama 'Cross Seiyo Gakuen', padahal ia tidak tau nama asli dari Neko-chan itu? Apakah anak laki-laki yang disebut Neko-chan itu akan menyadari keberadaannya?

Rate: T

Pair: Tsukiyomi Ikuto/Hinamori Amu

Genre: Romance

Yup~! Silahkan dipilih! Yang manakah yang membuat kalian tertarik? Polling terbanyak akan cepat kupublish. XD #PLAK

.

keterangan:

Doushita no, Daiya? : Ada apa, Daiya?

Itai: sakit

Daijoubu : tidak apa-apa/kau tidak apa-apa

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v