Present For Ikuto

By: Yui Hoshina

.

Disclaimer:

Peach-pit Sensei, tolong berikan Ikuto padaku. Q.Q #digampar peach-pit

Warning:

AR (Alternatif Reality), abal, gaje, kurang fluffy, dwwl (dan warning-warning lainnya)

Notification:

"Bicara biasa/Jepang (pengecualian untuk istilah jepang yang di Italic)" (tanda petik 2)

"Bicara bahasa inggris/prancis" (tanda petik 2 + Italic)

'Berpikir dalam hati' (tanda petik 1 + Italic)

.

a/n: Chapter 2 akhirnya update! Gomen lama karena akhir-akhir ini mood buat nulis terkikis jadi bawaannya malas. #plak

Yak! HAPPY READING MINNA-SAN AND HERE WE GO!XD

.

Chapter 2: Rival?

"I-Ikuto," ucap Amu begitu tau siapa menariknya. Matanya mulai berkaca-kaca namun ia tidak ingin menangis di tempat ini.

"Amu," Ikuto benar-benar tidak percaya dengan penglihatannya. Amu berada di Eropa! Di sini. Di Universitasnya. Di depannya dan sekarang ia tengah menggenggam tangan Amu yang sudah lama dirindukannya.

Pandangan mereka bertemu dan saling memandang satu sama lain. Para ShugoChara Amu cengok plus blushing dengan suasana antara Amu dan Ikuto. Bahkan para FG Ikuto dan Celia yang menonton pertunjukkan Ikuto barusan ikut tercengang dan blushing dengan suasana diantara mereka berdua.

Detak jantung mereka seakan terdengar ditengah kesunyian itu seiring berdetaknya jarum jam diruangan tersebut.

"A-Amu," akhirnya Celia mengeluarkan suaranya dan suasana yang tegang mulai mencair. Amu tersadar dari lamunannya dan wajahnya langsung merah padam. Ia melihat sekelilng dan banyak orang yang memperhatikan mereka membuat Amu menjadi gugup.

Amu berniat untuk kabur namun ia lupa tangannya masih ditahan oleh Ikuto.

"Ikuto," Amu memandang Ikuto seolah-olah ia ingin dilepaskan. Ikuto tidak merespon, ia hanya menatap Amu sangat dalam. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Ikuto sangat merindukan gadis yang selalu digodanya dan dijahilinya itu.

Amu ingin segera pergi dari tempat itu. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi kerapuhannya di depan umum. Dengan terpaksa, Amu harus melepaskan dirinya dari Ikuto secara paksa. Tapi, tanpa di duga-duga Amu, Ikuto menarik tangannya dan memeluknya dari belakang.

"Kyaaaa~!" jerit para cewek yang ternyata masih tetap setia menonton kedua pasangan tersebut. Celia hanya bisa terpana dengan kejadian itu. Seorang Ikuto memeluk seorang gadis? BENAR-BENAR PEMANDANGAN LANGKA YANG TIDAK BISA DILEWATKAN BEGITU SAJA!

"I-Ikuto," Amu merasa tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Bagaimana tidak? Ikuto memeluknya di depan umum. DI DEPAN UMUM, SAUDARA-SAUDARA! Ditambah lagi hembusan nafas yang terasa sekali di lehernya dan sepasang tangan yang melingkari di bahunya.

"Kapan kau datang?" akhirnya Ikuto membuka suaranya. Masih dalam posisi tadi, Ikuto mulai memendamkan wajahnya di bahu kanan Amu membuat Amu blushing tidak karuan.

"T-tadi pagi," jawab Amu susah payah. Jantungnya terus berdebar-debar merasakan kehangatan pelukan Ikuto.

Orang-orang yang menonton mereka menahan nafas. Merasa tegang sekali dengan suasana yang –OH-SANGAT-AWESOME- itu. Seperti tengah menonton drama yang super duper ultra mega giga fluffy gitu.

"Kau sendirian?" tanya Ikuto. Dari sudut matanya ia terlihat menatap Amu dengan penuh kerinduan. Amu benar-benar ingin pingsan dibuatnya. Oh~ Amu berharap penyiksaan batin ini cepat selesai.

"A-aku…"

Kring! Kring! Kring! Kring!

"HE?"

Ponsel Amu tiba-tiba berdering. Karena deringan ponsel tersebut, suasana yang tegang barusan kini mulai mencair kembali. Amu pun mengambil ponselnya dan mengangkat teleponnya tanpa memperdulikan bahwa Ikuto masih memeluknya.

Orang-orang yang menonton langsung menghembuskan nafa lega. Kenapa? Kalo tidak, mereka akan kehabisan nafas. Melihat pemandangan barusan hampir membuat mereka menahan nafas saking tegangnya.

"Moshi-moshi?"

"Amu," terdengar suara perempuan yang terdengar familiar bagi Amu.

"UTAU?" Amu begitu terkejut dengan orang yang menghubunginya dan membuatnya tersesat. Ikuto pun juga ikut terkejut begitu nama adik perempuannya disebut.

"Bagaimana? Kau sudah menemukan alamat yang kuberikan?" tanya Utau santai.

"Apa rencanamu yang sebenarnya, Utau? Apa maksudmu memberikan alamat universitas Ikuto?" dengus Amu kesal.

"Kalau kau tau bahwa itu Universitas Ikuto, berarti kau sudah bertemu dengannya? Ah~ mungkin sekarang dia ada didekatmu kan?"

Amu tidak habis pikir. Apa maksud Utau memberi alamat Universitas Ikuto? Ini seperti rencana yang disengajakan.
"Ne, Amu. tolong berikan ponselmu pada Ikuto. Aku ingin berbicara dengannya," pinta Utau.

Amu pun menyerahkan ponselnya pada Ikuto dan dibalas tatapan bingung dari Ikuto.

"Utau ingin berbicara denganmu," dengan terpaksa plus tidak rela, Ikuto melepaskan pelukannya pada Amu dan menerima ponsel Amu. Amu bernafas lega karena terbebas dari siksaan batin tersebut namun itu hanya sementara karena Celia langsung menariknya saat Ikuto menerima telepon.

"Jangan-jangan orang yang disukai oleh Pangeran violin kami itu, kau ya?" tanya Celia memastikan. Amu hanya tertawa kecil plus sweatdrop dan tidak berniat menjawab pertanyaan Celia.

"Utau?" panggil Ikuto agar Utau tau itu adalah dirinya.

"Otanjoubi Omedetto, Ikuto. Bagaimana? Kau suka hadiah yang kuberikan?"

Alis Ikuto berkerut, "Hadiah? Apa yang kau bicarakan itu Amu?"

"Memangnya siapa lagi? Maaf, karena aku baru sempat mempertemukanmu dengan Amu sekarang. Aku sengaja menunggu hari ini untuk membawa Amu ikut serta bersamaku ke Eropa. Aku… dari awal aku sudah tau bahwa kau pasti sangat merindukannya," suara Utau terdengar lirih.

"Utau…"

"Tapi, aku bersyukur. Karena Amu, kau bisa terbang dengan bebas. Tidak lagi terbelenggu oleh rantai atas nama Easter."

Ikuto tersenyum lembut mendengarnya, "Arigatou."

"Ne, Ikuto. Aku dan Amu hanya bisa tinggal di Eropa selama seminggu. Sebaiknya kau manfaatkan waktumu bersama Amu sebaik mungkin. Dan…" Utau terdiam sejenak.

"Dan apa?" tanya Ikuto penasaran.

"Dan mungkin lebih baik kalau Amu juga bisa tinggal bersamamu," ucap Utau akhirnya.

DEG!

Jantung Ikuto berdebar keras mendengarnya. Wajahnya merona walaupun terlihat tipis. Tapi sedetik kemudian ia memasang wajah stay cool.

"Apa kau sedang bercanda, Utau? Bagaimana dengan dirimu?" Ikuto tidak habis pikir. Bagaimana bisa Utau malah mengusulkan Amu untuk tinggal bersamanya? Setahu Ikuto, Utau itu terlalu brother complex dengannya dan malah tidak rela membiarkan wanita manapun mendekatinya. Yah~ walaupun Ikuto sama sekali tidak keberatan jika Amu tinggal bersamanya.

"Tidak perlu pikirkan aku. Aku sudah memesan kamar di hotel bersama Sanjou-san. Ah~ aku lupa. Seharusnya sekarang aku harus memanggilnya Nikaidou-san. Ah~ sudah ya, Ikuto. Nikaidou-san memanggilku untuk mengecek perlengkapan konserku 3 hari lagi. Jaa~"

"Arigatou… Utau," ucap Ikuto tersenyum tipis. Sudah dipastikan bahwa wajah Utau merona mendengar ucapan Ikuto.

"Aku hanya ingin melihat kau bahagia. Tapi, kau jangan berbuat macam-macam pada Amu. Aku akan secepatnya mengirim koper milik Amu ke apartemenmu jika sempat," kata Utau tegas. Ikuto sweatdrop mendengarnya.

"Utau, sejak kapan title brother complexmu berubah menjadi friendship complex?" ujar Ikuto bingung. Sudah dapat dipastikan, wajah Utau memerah mendengarnya.

"U-urusai. Sudah dulu, ya, Ikuto. Aku dipanggil Nikaidou-san lagi. Oh ya, aku juga sudah meminta izin pada orang tua Amu tentang rencanaku ini jadi tidak ada masalah lagi jika Amu menginap di tempatmu. Kau keberatan?"

Ikuto tersenyum tipis, "Tidak. Dengan senang hati aku menerimanya."

"Baguslah. Sampai nanti, Ikuto."

"Jaa."

Click!

Komunikasi antara mereka terputus. Ikuto melirik Amu yang sedang diinterogasi oleh Celia dan ditanggapi Amu dengan tertawa kecil yang dipaksakan. Ia pun mendekati Amu dan Celia.

"Hora," Ikuto langsung menepuk (baca: menjitak) kepala Amu membuat yang bersangkutan langsung menoleh.

"Itai! Ikuto! Apa yang kau lakukan?" protes Amu kesal.

"Ayo kita pergi!" dengan santainya ikut memberikan (baca: melempar) ponsel merah Amu.

"Huwaaa~!" dengan kalap Amu menangkap ponselnya dengan susah payah. Amu bernafas lega karena berhasil menyelamatkan ponselnya.

"Baka neko! Jangan sembarangan melempar ponsel orang!" umpat Amu. Ia terlihat kesal dengan sikap Ikuto yang tidak berubah.

"Utau sudah menyerahkanmu padaku. Jadi sebaiknya, kita pergi sekarang," Ikuto tersenyum jahil dan membuat para FGnya menjerit histeris.

"HAAH? APA?" Amu shock dengan apa yang didengarnya. Entah kenapa ia mendapat firasat buruk setelah ini.

"Ayo!" Ikuto langsung menarik tangan Amu. Amu yang kaget langsung menoleh pada Celia yang seperti memasang wajah sedih dan Kecewa.

"Tu-tunggu, Ikuto!" Amu berusaha melepaskan tangannya dari Ikuto dan berjalan menuju Celia yang terkejut Amu mendekatinya.

"Amu," Ikuto hanya bingung dengan tindakan Amu. Kini Amu malah menarik gadis yang tak dikenalnya menuju arahnya.

"Dia ingin memberikan sesuatu padamu," kata Amu yang sedang menggandeng lengan Celia. Celia hanya menatap Amu dengan tatapan bingung karena ia tidak mengerti bahasa Jepang.

"Amu, kau barusan mengatakan apa?" tanya Celia.

"Kau mau memberikan sesuatu pada Ikuto, bukan? Inilah saatnya. Kau sudah susah payah mempertahankan hadiahmu, jadi percuma saja kalau kau tidak memberikannya," kata Amu tersenyum lembut. Wajah Celia cerah seketika.

"Te-terima kasih, Amu," ucap Celia merona senang karena Amu mengerti dirinya dan ia langsung menyerahkan sebuah tas yang berisi hadiah untuk Ikuto.

Ikuto hanya bingung dengan tas yang disodorkan oleh gadis didepannya.

"Ha-happy birthday, Mr. Tsukiyomi. Tolong terimalah hadiah dariku," dengan tangan bergetar Celia memberikan kadonya pada Ikuto. Ikuto terdiam sejenak dan akhirnya menerima kado tersebut.

"Terima kasih," ucap Ikuto tersenyum tipis membuat Celia merasa melayang mendengarnya.

"I-iya," jawab Celia berbunga-bunga. Ia pun menoleh pada Amu, "Terima kasih, Amu."

Amu hanya menanggapinya dengan senyuman.

"Sudah selesai?" tanya Ikuto yang mulai merasa bosan dengan adegan friendship didepannya.

"Kau mengganggu saja," Amu berpandangan kesal.

'Pasangan yang unik,' batin Celia kagum. Entah kenapa melihat pasangan didepannya ia berdebar-debar sekali. Couple yang perfect menurutnya.

"Ayo," Ikuto langsung menarik (baca: menyeret) Amu keluar dari ruangan.

"E~eeeh?" Amu terkejut sambil meronta-ronta gak jelas.

.

.

Seluruh mahasiswa Universitas Paris dikejutkan oleh suara protesan seorang perempuan yang tengah ditarik oleh seorang pria yang saat ini tengah menjadi idola di Universitas tersebut. Mereka yang berada dalam Universitas tersebut serentak menoleh pada sosok pria yang tengah menarik seorang gadis. Bahkan diantaranya ada beberapa mahasiswi yang menjerit kegirangan melihat sosok pria tersebut. Siapa lagi kalau bukan Ikuto dan Amu.

"I-Ikuto, tolong lepaskan tanganku. Aku bisa jalan sendiri," pinta Amu. Wajahnya sudah memerah menahan malu karena terus menerus diperhatikan hampir seluruh mahasiswa yang mereka lewati dari lantai ke lantai bahkan ruang ke ruang.

Bukannya Ikuto melepaskan, ia malah makin mempererat genggamannya dan menghentikan langkahnya. Amu juga ikut berhenti untuk melangkah.

"Tidak akan. Aku… tidak akan membiarkanmu lepas lagi dariku," kata Ikuto sambil menatap Amu sangat dalam. Amu yang tidak sengaja memandang mata Ikuto langsung reflek mengalihkan pandangannya ke samping. Wajahnya terasa panas seperti kepiting rebus ditatap oleh mata Ikuto yang terlihat serius dan mempesona itu.

"Ba-baka! Jangan ucapkan hal itu di depan umum!" bentak Amu malu. Bisa kalian bayangkan wajah Ikuto yang menjadi chibi dan memasang ekspresi bengong ala kucing (?).

"Kenapa? Kau lupa? Ini di Eropa, bukan Jepang. Mereka tidak akan mengerti bahasa Jepang," tutur Ikuto.

"Ta-tapi…" wajah Amu memerah dan matanya terlihat berkaca-kaca. Ikuto yang mengerti ekspresi itu hanya menghela nafas lelah.

"Ayo, temani aku ke suatu tempat," pinta Ikuto datar.

"Eh?" Amu hanya memasang tampang heran. Dan tidak lama kemudian ia pasrah saja ketika Ikuto menariknya ke suatu tempat yaitu…

"Loker?" Amu sweatdrop ketika Ikuto membawanya pada sebuah loker berjejer.

"Aku hanya ingin mengambil jaket dan tasku. Oya, ngomong-ngomong, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Ikuto terlihat tidak suka dalam artian berbeda.

"Ooh… ini Utau yang menyuruhku memakainya. Entah apa alasannya. Kenapa?" tanya Amu heran. Ia tidak menyadari tatapan tidak suka pada Ikuto.

"Betsuni. Hanya saja aku tidak suka kau dipandangi terus-terusan oleh pria-pria dikampus ini," kata Ikuto sambil mengalihkan wajahnya yang sedikit merona.

"Eh? K-kau cemburu?" Amu blushing mendengar perkataan Ikuto dan tentu saja ucapan dirinya sendiri yang bilang bahwa Ikuto cemburu.

"Tidak juga. Pakaianmu terlalu mencolok seperti orang yang ingin ke pesta pernikahan," ucap Ikuto dengan tampang chibi yang polos.

"NANI?" teriak Amu marah plus kesal.

"Hmph… hahaha~... Kau memang benar-benar gampang ditipu," Ikuto tertawa kecil. Sudah lama ia tidak tertawa bebas seperti ini. Ia tidak menyadari bahwa para gadis disekitarnya terpesona padanya dengan mata love-love.

"Mou~ kau menggodaku lagi!" bentak Amu marah.

"Ayo! Kita pergi," kata Ikuto sambil menutup lokernya dan memakai jaketnya yang berwarna coklat.

"Haahh… terserahlah," ucap Amu pasrah. "Oh ya, di mana biolamu?"

"Ah~ hampir saja lupa. Sepertinya biolaku tertinggal di kelas," kata Ikuto santai.

"He? Lalu, tadi biola siapa yang kau mainkan di lantai 7?" tanya Amu bingung.

"Itu biola milik Mr. Jack. Mr. Jack memintaku untuk memainkan beberapa lagu dengan biolanya sekaligus menyetel nada yang pas. Jadi, biola milikku kutinggalkan di kelas," ujar Ikuto santai.

"Mattaku. Bagaimana bisa kau melupakan dan meninggalkan barang berhargamu itu? Apa kau tidak khawatir kehilangan biolamu?" tanya Amu heran.

"Tidak perlu khawatir. Satu-satunya mahasiswa yang membawa biola setiap hari itu adalah aku. Jadi mereka pasti tau bahwa itu milikku," kata Ikuto santai sambil berjalan ke arah kelasnya yang ada di lantai 3. Yah~ mereka sekarang ada di lantai 1. Jadi terpaksa mereka kembali naik ke lantai 3.

"Kau benar-benar sangat santai ya, Ikuto," kata Amu heran plus sweatdrop.

.

.

Greek!

Pintu sebuah kelas terbuka dan menampakkan beberapa mahasiswa yang masih berdiam di dalam ruangan tersebut. Salah satu dari mereka menoleh ke arah pintu yang terbuka.

"Ah, Ikuto. Kau mau mengambil biolamu, ya?" tanya salah satu pria yang ada di sana. Serentak mahasiswa yang ada di dalam sana menoleh.

"Hm," jawab Ikuto singkat.

"Kyaaa~ itu Tsukiyomi. Hari ini pun terlihat sangat tampan dan keren sekali," bisik-bisik mahasiswi yang ada di sana.

Ikuto berjalan tanpa mempedulikan bisik-bisik para mahasiswi tersebut. Ia menghampiri mejanya yang berada paling depan dan paling pojok.

"He~h, tidak kusangka. Ternyata ruangan ini cukup artistik juga," para mahasiswa yang ada di sana serentak menoleh kembali pada pintu yang terbuka dan menampakkan seorang gadis berambut pink yang terlihat keren.

"He? Siapa dia?Apa mahasiswi jurusan lain?Atau mahasiswi baru?" komentar orang-orang (wanita) tersebut.

"Hoo~ siapa dia? Cantik sekali dan pakaiannya juga keren.Apa dia sudah punya pacar?" komentar para pria yang ada di sana.

"N-ne~, Amu-chan. sepertinya kehadiranmu mencolok sekali," komentar Ran sweatdrop.

"He?" Amu tersadar dari kekagumannya dan memandang orang-orang yang memandanginya. Wajahnya merona seketika dan tertunduk malu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Shu~ shu~ wajah Amu-chan memerah, desu~," goda Suu.

"U-urusai, Suu," desis Amu malu.

"Kalau Eru ada di sini, pasti dia akan mengatakan 'koi nan desu', hehe~," tambah Miki ikut-ikutan.

"Miki!"

"Ahahaha~ tanoshimi!" tambah Daiya tertawa kecil.

"Daiya, kau juga!" bentak Amu malu. Untung saja Amu masih menjaga imagenya agar tidak terlalu mencurigakan berbicara sendiri.

Puk!

Amu merasakan kepalanya ditepuk seseorang. Reflek Amu menoleh dan terlihat Ikuto menepuk kepalanya.

"Ayo," bersamaan dengan itu, Ikuto berjalan meninggalkan Amu.

"Ma-matte, Ikuto," panggil Amu seraya mengikuti Ikuto keluar kelas.

Siing~!

Kelas tersebut hening seketika. Ini pertama kalinya mereka melihat Ikuto dekat dengan seorang perempuan.

"Siapa gadis itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan Ikuto/Tsukiyomi?" begitulah komentar para mahasiswa-mahasiswi dibenak mereka.

.

.

"Ikuto, matte!" Amu sedikit mempercepat langkahnya hingga di samping Ikuto.

"Osoi. Sebaiknya kau mengurangi kebiasaan melamunmu itu," komentar Ikuto datar.

"Urusai! Kau saja yang terlalu cepat berjalan," balas Amu sedikit kesal.

"Benarkah?"

"Sikapmu tidak pedulimu itu benar-benar sangat menyebalkan!" dengus Amu kesal. Ikuto tersenyum kecil mendengarnya.

"Saa~, bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan seharian ini?" tanya atau pinta Ikuto.

"He? Kenapa aku harus menemanimu?" Amu sepertinya keberatan.

"Kau lupa? Hari ini adalah ulang tahunku. Dan mungkin kau tidak membawa apapun untuk memberiku hadiah," ujar Ikuto menyeringai.

JLEB!

Perkataan Ikuto serasa menusuk tepat sasaran dijantung Amu. Amu tertunduk lesu sambil mengeluarkan aura suram.

"I-itu karena aku tidak tahu hari ulang tahunmu. Jadi, ma-mana mungkin aku menyiapkannya," wajah Amu merah padam seraya mengalihkan pandangannya.

"Karena itulah, bagaimana kalau menemaniku selama kau tinggal di sini sebagai hadiah ulang tahunku? Nanti kutunjukkan tempat-tempat menarik di Eropa ini," tawar Ikuto sambil mengedipkan sebelah matanya. Mau tidak mau membuat wajah Amu memerah kembali ketika tidak sengaja melirik Ikuto.

"Eh? Ho-hontou?" Amu menoleh kembali sepenuhnya pada Ikuto dengan tatapan tidak percaya.

"Ya, itu jika kau mau," jawab Ikuto.

"Tentu saja aku mau," kata Amu tersenyum senang.

"Baguslah," Ikuto tersenyum kecil mendengarnya.

"Ne, Ikuto. Ini cuma perasaanku saja atau kita memang terus-terusan diperhatikan sejak tadi?" tanya Amu melirik sekeliling dimana orang-orang melihat mereka.

"Entahlah. Aku tidak peduli," jawab Ikuto cuek.

"Mou~ sekali-sekali kau harus memperhatikan sekelilingmu. Apa kau tidak menyadari tatapan para perempuan yang ditunjukkan padamu di sini? Dan tatapan pembunuh untukku," ujar Amu dengan hawa madesu (masa depan suram).

"Biarkan saja. Lagipula… aku ada disampingmu sekarang dan akan melindungimu," ucap Ikuto tersenyum lembut sambil menggenggam tangan Amu.

"Eh?" wajah Amu merona mendengarnya. Ia pun pasrah saja ditarik oleh Ikuto dan tertunduk malu.

Kini Amu merasakan kembali kehangatan yang sempat hilang saat tangannya tidak digenggam Ikuto dulu. Perasaannya terasa nyaman berada disamping Ikuto. Ia bingung dengan perasaan ini. Berbeda sekali rasanya saat ia menyukai Tadase dulu.

Perasaan ini… lebih hangat dan nyaman sekali.

"Mr. Tsukiyomi?"

"Eh?" Amu tersentak kaget begitu marga Ikuto disebut. Ia melihat seorang wanita yang terlihat dewasa berambut pirang pendek dan terlihat stylish sekali. Yah~ walaupun jika dibandingkan dengan Amu, style berpakaian Amu masih lebih baik dan lebih keren.

"Dare?" Amu melirik Ikuto meminta jawaban.

"Senior di atasku," ucap Ikuto datar.

"Mr. Tsukiyomi, siapa gadis yang ada disampingmu? Aku belum pernah melihatnya," tanya wanita itu menatap tajam pada Amu. Amu merasakan hawa membunuh dari wanita itu.

"Ko-kowai~," ucap Ran, Miki, Suu, dan Daiya bersamaan. (=x=")

"Dia seseorang yang berharga bagiku. Jika senior melukainya seujung rambutpun, senior akan berurusan langsung denganku," ancam Ikuto tajam. Amu terbelalak tidak percaya dengan ucapan Ikuto barusan. Semburat merah menghiasi pipinya.

"Ugh~ ta-tapiaku tidak menyangka bahwa seleramu itu seorang anak kecil. Seharusnya kau itu berpasangan saja denganmu, maka kau akan semakin terkenal, fufufu~," wanita itu tertawa kecil dengan sombongnya.

Amu merasakan tangannya digenggam semakin erat oleh Ikuto. Ia memandang wajah Ikuto yang terlihat menahan marah.

"Ikuto," Amu prihatin memandang Ikuto yang berusaha menahan amarahnya.

"Terserah apa kata senior. Lagipula, gadis disampingku lebih baik daripada senior," kata Ikuto menyeringai iblis. Ia tidak akan membiarkan Amu dihina oleh wanita sok terkenal didepannya.

"A-apa kau bilang? Huh! Terserah kau saja. Kau pasti akan menyesal karena tidak memilihku," ujar wanita itu kesal seraya melewati mereka berdua dan dengan sengaja ia menabrak bahu Amu cukup keras.

"Kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku," bisiknya pada Amu saat ia sengaja menabrakkan dirinya. Amu terkejut mendengarnya.

Tangan Amu bergetar dan Ikuto merasakannya.

"Amu?" Ikuto memandang Amu dengan tatapan khawatir.

"Hey,kau," panggil Amu dingin. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menoleh pada Amu.

Amu melepaskan genggaman Ikuto dan juga berbalik menghadap wanita sok cantik itu. Kedua tangannya ia silangkan didepan dadanya dan memasang tatapan tidak suka. Ikuto memandang Amu dengan tatapan bingung.

"Oh, kau mau melawanku, ya?" wanita itu menyeringai. Ia merasa bahwa ia dapat menang dari Amu yang terlihat anak kecil didepannya.

"Aku tidak tau siapa kaut apimengancam seseorang yang kau pandang lemah benar-benar terlihat pengecut. Aku mengira bahwa wanita Eropa itu anggun dan berkharisma. Tapi, begitu melihatmu, sepertinya kau tidak termasuk kategori itu," ujar Amu dingin.

"Hooo~," para mahasiswa yang melihat Amu langsung berpandangan kagum dan terpesona.

"Apa kau bilang?" wanita itu terlihat tersinggung sekali.

"Ayo, Ikuto. Lebih baik kita tinggalkan wanita seperti dia. Benar-benar kekanak-kanakan sekali," Amu tersenyum menyeringai dan pandangan matanya seolah-olah meledek. Ia pun menarik tangan Ikuto untuk pergi dan Ikuto sendiri terkejut dengan apa yang barusan terjadi.

"Tidak bisa kumaafkan! Berani-beraninya kau menghina diriku yang sempurna ini," Amu terhenti sejenak dan menoleh pada wanita yang terlihat marah dan berjalan mendekatinya.

"Kau benar-benar kurang ajar!" wanita itu hendak melancarkan tamparannya, Amu menutup matanya karena tidak sanggup melihat.

PLAK!

Terdengar suara tamparan yang cukup keras tapi Amu tidak merasakan apa-apa yang menyentuh wajahnya. Ia membuka matanya dan terlihat Ikuto ada di depannya dan wanita didepannya itu terlihat terkejut plus bergetar.

"Ikuto."

"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, senior. Jika kau melukainya seujung rambutpun, kau harus berhadapan denganku secara langsung," kata Ikuto memandang wanita didepannya dengan sangat dingin membuat wanita itu bergetar ketakutan.

"I-Ikuto, daijoubu ka? Wajahmu sedikit berdarah," tanya Amu khawatir.

"Tidak apa-apa. Ayo kita pergi. Berada disini terlalu lama membuatku muak," ujar Ikuto (yang dengan sengaja memakai bahasa inggris) seraya menarik Amu pergi meninggalkan wanita yang terlihat malu dan ketakutan.

.

.

Kejadian tadi langsung membuat heboh seluruh kampus. Berita tentang Ikuto yang ditampar oleh salah satu mahasiswi senior langsung tersebar luas. Bukannya menjatuhkan image Ikuto, kejadian itu justru membuat kepopulerannya semakin menanjak karena ia ditampar saat melindungi seorang gadis yang dibilang cukup asing.

Kini Amu dan Ikuto berada di halaman kampus yang terlihat cukup sepi karena dihalangi oleh pohon-pohon yang cukup besar. Pemandangan sekitarnya terlihat putih. yah~ sudah bulan desember. Salju juga terlihat mulai turun.

"Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Amu cemas sambil mengusap darah disekitar bibir Ikuto dengan sapu tangannya. Tangannya gemetar jika mengingat kejadian tadi.

"Tidak apa-apa," jawab Ikuto tersenyum kecil.

"Ne, Ikuto. Tapi aku heran. Kenapa kau begitu mudah ditampar oleh wanita itu? Seharusnya kau bisa saja menghentikan gerakannya," komentar Ran.

"Aku sengaja membiarkannya menamparku," kata Ikuto santai.

"Baka! Seharusnya kau menghentikannya saja barusan, bukan menerimanya," mata Amu memanas tapi ia tidak ingin mengeluarkan airmatanya karena nanti ia pasti dianggap cengeng oleh Ikuto.

"Jika aku menghentikannya ia pasti tidak akan menyerah mengejarku. Aku sudah lelah dengan sikapnya yang suka memaksa itu. Dengan kejadian ini, mungkin ia akan tidak akan lagi menampakkan wajahnya padaku," kata Ikuto menghela napas lelah.

"Tapi, kau kan jadi terluka," ucap Amu dengan nada bergetar. Tanpa sadar Amu menitikkan airmatanya yang sejak tadi ditahannya. Ikuto hanya tersenyum lembut mendengarnya dan mengusap airmata Amu dengan ibu jarinya.

"Sudahlah. Aku benar-benar tidak apa-apa," ucap Ikuto lembut sambil menyentuh wajah Amu dengan kedua tangannya dan mulai mendekatkan wajahnya.

"Eh?" wajah Amu memanas dan merona.

"Hyaaa~," Ran histeris

"Yappari, kissu to ka?" ucap Miki blushing.

"Kissu, desu~?" ucap Suu ikut blushing.

"Huaaa~," Daiya pun ikut-ikutan menjerit kecil.

"I-Ikuto, a-apa yang mau kau lakukan?" tanya Amu panik sambil mencoba menghindari wajah Ikuto yang semakin dekat dengannya.

"Tenanglah," mata Ikuto terlihat tajam namun disaat bersamaan terlihat sangat lembut. Amu benar-benar telah sepenuhnya terhipnotis oleh mata deepblue Ikuto yang teduh dan mempesona. Tak kuat menahan pesona itu, Amu sedikit menunduk dan menutup matanya.

Ia merasakan hembusan nafas terasa di wajahnya dan perlahan-lahan ia merasakan wajahnya sedikit diangkat oleh kedua tangan Ikuto. Amu merasakan bibirnya disentuh oleh ibu jari Ikuto. Entah apa yang ingin dilakukan Ikuto padanya.

"A~ah!" para Shugo Chara Amu benar-benar tegang dengan pemandangan di depan mereka sambil menutup wajah mereka dengan kedua tangan mereka namun sesekali mengintip disela-sela jari mereka.

Cup!

Amu merasakan sesuatu yang hangat menempel di… matanya.

"AAAAH~! MA-MATAKU!" reflek Amu menyentuh matanya yang habis dicium Ikuto.

"I tricked you again," ucap Ikuto dengan nada meledek. Tubuh Amu bergetar menahan marah.

"K-kau… D-DASAR KUCING PENCURI!" teriak Amu marah. "Kau mengambil ciuman pertama di mataku!"

"He~h? benarkah? Berarti suatu hari nanti, aku akan mengambil ciuman pertamamu," Ikuto tersenyum menggoda.

PESSSH!

Wajah Amu terasa panas dan menguap.

"Ba-BAKA NEKO HENTAI!"

BLETAK!

.

.

"Mattaku. Kau memang tidak jera selalu menggodaku. Itulah akibatnya jika kau seperti itu, ero-yaji," Amu mendeathglare Ikuto dengan pandangan sinis.

"Cih. Setelah lama tidak bertemu, pukulanmu semakin keras saja. Kau juga semakin sensitif," keluh Ikuto sambil mengusap-usap kepalanya yang sempat jadi korban jitakan Amu.

"Kau saja yang semakin mesum setelah lama tidak bertemu," rutuk Amu kesal.

"Hai~ hai~. Gomen ne. Aku kan hanya bercanda," ucap Ikuto tanpa dosa.

"BERCANDA? BERCANDA APANYA? ITU SUDAH KELEWATAN TAU!" bentak Amu kesal.

"Sudahlah. Karena tadi kita terus-terusan berdebat, matahari juga sepertinya mulai terbenam," kata Ikuto sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga kemerahan.

"Eh?" Amu juga ikut-ikutan menatap langit. "Benar juga."

"Ne, Amu-chan. Kau tidak menghubungi Utau untuk memberitahu di mana kita menginap?" tanya Miki.

"Ah! Gawat! Aku lupa!" Amu mencari ponselnya di saku roknya dengan terburu-buru.

"Kau mau apa?" tanya Ikuto.

"Aku mau menghubungi Utau. Aku ingin tanya di mana kami akan menginap," kata Amu. setelah menemukan ponselnya, ia pun mencoba menghubungi Utau.

"Tidak perlu," Ikuto merebut ponsel Amu dari tangannya.

"Hah? Kenapa?" tanya Amu bingung.

"Utau bilang, kau akan menginap di tempatku. Dengan kata lain… tinggal bersama," Ikuto menyeringai.

"NANI?"

Tsuzuku

Huahahaha~ demen banget bikin orang penasaran. Cukup panjangkah ini? Untuk chapter 3 sepertinya akan masih lama karena mau bayar utang fic di fandom lain. Jadi… gomenne kalo nggak bisa cepet update. =x='

Talkshow time:

AmuTo: "Hajimemashite. Kali ini kami akan membalas review dari kalian." #bungkuk 90 derajat

Amu: "Berhubung Author lagi beres-beres kamarnya yang seperti kapal pecah (?), kami akan menggantikan Auhtor untuk membalas review dari kalian semua."

Yui: "WOI! JANGAN BUKA AIB SEMBARANGAN!" #teriak pake toa dari kejauhan sambil ngepel lantai

Amu: "Ahahaha~ baiklah. Kita langsung baca review pertama. Ikuto, tolong ya!" #sweatdrop ngeliat Author

Ikuto: "Review pertama dari… nggak ada namanya. Kupanggil reader tanpa nama aja."

YuiAmu: "Ikuto…" #sweatdrop

Ikuto: "Baca sinopsisnya malah inget Ayu Ting Ting? Amu, kau dikira Ayu Ting Ting tuh bawa-bawa alamat."

Amu: "HE? Jangan salahkan aku karena bawa alamat gak jelas. Salahin Utau aja yang ngasih alamat sembarangan." #nunjuk Utau yang lagi minum teh

Utau: "He? Kenapa malah menyalahkanku? Salahkan Author yang membuat cerita dong."

Amu: "Eh? Bener juga. Dia yang buat nih cerita abal ini. Lanjut review ke dua aja! Dari CarolinaJessica. He? Baru tau kalau tanggal 1 Desember itu ultah Ikuto? Jangankan kau, aku juga baru tau."

Yui: "Kalo aku baru tau setahun yang lalu. Dulu niat juga bikin fic spesial Ikuto tapi ide yang kugunakan kurang menarik."

Ikuto: "Gak ada yang nanya."

Yui: "Ikuto jahat~!" T.T #mewek

Ikuto: "Abaikan Author lebay ini. Review ketiga dari xXFujiwara Ai-chanxX. Terima kasih atas ucapan selamatnya. Dan mungkin ucapan pernyataan cintanya (?) juga (senyum tipis). Sedih karena 'Secret Princess' belum update juga? Sabar ya. Maklumi aja penyakit WB (Written Block) Author dan aku sarankan jangan ngefans ma Author gila ini." #Author berniat menimpuk Ikuto dengan palu seberat 100 kg tapi gak rela ngelukai wajah tampan Ikuto.

Yui: "Cih! Ikuto nobaka. Ne, Amu. aku ingin memberi tantangan untukmu."

Amu: "Tantangan?"

Yui: "Coba ucapkan pernyataan cinta (?) seperti Ai-chan keras-keras. Nanti aku kasih foto Ikuto yang tengah berdiri dibawah rintik hujan dengan kemeja putih yang sedikit terbuka dan pandangan mata yang sedikit teduh. Gimana?" #senyum jahil plus mesum

Amu: "NANI?" #blushing akut

Ikuto: "Oi, Amu. Giliranmu."

Amu: "B-baik!" (gugup)

Yui: "Bagaimana dengan tantanganku?" #wajah innocent

Amu: "Tidak akan kulakukan! Selanjutnya dari Kei. Fans AmuTo? Ugh… arigatou." (./.) #blushing

Ikuto: "Arigatou atas ucapannya. Selanjutnya dari Kaoru. Yup! Ini sudah dilanjutkan. Arigatou reviewnya."

Amu: "Dari ReiRin' GauLa Suede, ribet amat namanya. Yup! Ini udah di update."

Yui: "Hisashiburi, Rei-chan. Utang fic Shugo Charamu numpuk tau. Lanjutkan!" #ngancungin Heart Rod

Ikuto: "Dari bjtatihowoho. He? Kagum ma fic author gila ini? Kenapa sampai tahun lahir dan bikinnya fic dihapal juga sih (sweatdrop). Ngelanjutin fic lama? Tuh, author, kau ditagih."

Yui: "Ga-ganbarimasu." (_ _III) #pundung dengan aura suram

Amu: "Selanjutnya dari Tsukiyomi Amu-chan Hinamori. Bikin deg-degan? Jangankan kau, aku justru hampir mati saking deg-degannya."( =/n/=)

Ikuto: "Dari ararara. Ini udah di update! Arigatou atas reviewnya."

Yui: "Buat fic Kaleido Star? Aah~ aku juga sebenarnya pernah niat bikin fic di fandom itu, idenya juga sudah ada dengan pairing Ken x Sora. Tapi mood buat nulis hampir gak ada. Jadi agak takut hiatus atau discontinue seperti fic-ficku yang lain." ^^'a

Amu: "Terakhir dari Ratih Hoshina. Yak! Ini udah dilanjutin."

Yui: "Ok! Thanks buat AmuTo dan Utau yang numpang lewat."

Utau: "Nih Author emang mau cari mati denganku." #deathglare

Yui: "Oya, untuk voting project ficku, aku salah posting. Seharusnya kuposting pas fic ini udah tamat karena salah satu dari fic tersebut bakalan kujadikan sequel fic ini dan juga sebagai sequel fic Secret Princess juga. Gomenasai~." #bungkuk 90 derajat

Ikuto: "By the way, apa maksudnya kau memasukkan bahwa seleraku itu anak kecil, author? Bukankah Amu sudah beranjak dewasa?"

Yui: "Oh, itu. Aku teringat perkataan temanku bahwa kau itu pedophil."

Ikuto: "What! Pedophil? Maksudnya?"

Yui: "Yah~ seharusnya kau sadar sedikit bahwa kau dulu naksir anak SD padahal waktu itu kau kan masih SMA."

Ikuto: #pundung dengan aura suram

Yui: "Yak! Amu, Ikuto, kata-kata terakhirnya?"

AmuTo: "Kritik, saran, pujian maupun flame diterima asalkan masuk akal. PLEASE REVIEW MINNA!"

Talkshow End

.

Keterangan:

Mattaku: benar-benar (atau mungkin bisa diartikan juga 'yang benar saja' atau 'dasar')

Koi nan desu: Apakah ini cinta

Yappari, kissu to ka?: apakah ia akan menciumnya?

Tanoshimi: menyenangkan

Osoi: lambat

Dare: Siapa

Gomen ne kalo ada bahasa jepang yang agak meleset artinya. Masih belajar bahasa jepang dengan kamus jepang 'apa adanya'. Kalo ada yang kurang jelas, silahkan tanyakan saja. ^^' (itupun kalo bisa jawab)

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v