Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Traumatic of Love © Mikky-sama

Genre :

Romance, drama (genrenya rada ngawur #bletaked)

Rated :

T

Warning :

AU, OOC, OC, typo(s), misstypo(s)

A/N :

Judulnya gak jelas ya? Mikky aja gak tau artinya *dihajar masa*. Fic pertama. Terinspirasi setelah menonton beberapa drama korea yang aku dapat dari warnet milik guru SMP. Kalau ke warnet itu, aku jarang buat ngenet. Paling buat mencuri beberapa drama korea dan film #krik. Maaf jikalau ada pembaca yang tak berkenan.

Perhatian : suka gak suka baca ya #bletak dan tinggalkan review! Kalau enggak bakal Mikky samperin di alam mimpi. Hi... hi... hi... #ketawasetan

~(^o^~) Traumatic of Love(~^o^)~

Akhir musim gugur. Angin yang terasa gersang dengan udara yang lumayan panas. Udara musim dingin sudah menyelinap ke musim gugur membuat udara tak terlalu panas seperti pertengahan musim gugur dan musim gugur lebih dingin daripada musim panas.

Jalanan saat musim gugur sangat kotor dengan kelopak bunga sakura yang bertebaran di jalan. Sehingga setiap hari warga Jepang harus membersihkannya. Betapa melelahkannya. Tidak bagi warga Jepang yang disiplin dan berjuang keras.

Burung-burung bertengger di dahan pohon sakura yang menyisakan sedikit bunganya. Burung itu berkicau dengan merdu. Tak memikirkan masalah dan kehidupan. Hanya bernyanyi lepas seakan mereka diciptakan hanya untuk bernyanyi. Tak seperti manusia yang diciptakan untuk menyelesaikan masalah.

Pagi itu lumayan indah untuk seorang gadis yang tak pernah malihat dunia luar. Bukan karena dia buta atau apa. Tapi dia takut akan dunia luar yang menurutnya mengerikan. Seakan dunia itu berisi monster-monster mengerikan dengan gigi taring yang tajam dan cakar yang panjang. Atau makhluk seperti ular raksasa yang siap menelannya hidup-hidup seperti tikus.

"Kau tak mau keluar?" tanya seorang pria kepada seorang gadis. Tampaknya pria tersebut adalah ayah dari anak gadis yang ditanyainya. Keduanya memiliki mata yang mirip. Putih? Atau abu-abu? Mata itu merupakan identitas suatu klan yang lumayan berkuasa di Jepang.

"Tidak," jawab gadis itu singkat. Dia menjawab tanpa ada beban apa-apa seraya membaca komik yang bertengger di tangan kanannya sedari tadi. Dia duduk setengah tidur di sofa. Kakinya dinaikkannya ke atas sofa. Di tangan kirinya ada lollipop ukuran sedang yang sudah berliur karena sudah dimakan. Sesekali dia menjilat permennya itu.

"Oh my God, anak gadis berumur 16 tahun mengurung dirinya di dalam rumah?" kata ayah dengan gaya mendramatisirnya. Dia berdiri dengan menggerak-gerakkan tangannya. Matanya menyiratkan ekspresi tidak percaya.

"Ah, ayah, lagi pula enakan di rumah daripada di luar," kata gadis itu seraya menutup komiknya sebentar dan membukanya lagi untuk dibaca.

"APAA?" pekik sang ayah kaget. Ekspresi pria itu seperti ekspresi aktor dalam sinetron yang sedang kaget akan informasi yang didapatkannya. "Aku khawatir tentang psikologimu," sambungnya dengan wajah sedihnya. Gadis itu mencopot gigitannya pada permen lollipopnya dan kemudian memamerkan gigi putihnya di depan ayahnya kemudian dilahapnya lagi permennya itu.

"Hey, ayah. Hey, Hinata," sesorang menyapa pria dan gadis itu kemudian hendak pergi tetapi tertahan oleh sesuatu. Pemuda ini juga memiliki warna mata yang identik dengan dua orang lainnya. Rambutnya berwarna coklat. Tinggi badannya lumayan tinggi. Dan wajahnya juga tidak bisa dibilang pas-pasan.

"Eh, eh, eh, Neji, tunggu sebentar ada yang ingin aku bicarakan setelah ini," kata pria yang dipanggil ayah itu. Sebenarnya pemuda tadi adalah ponakannya namun sudah diangapnya sebagai anaknya sendiri. Dipikir-pikir dia juga gak punya anak laki-laki. Punya anak perempuan pun tak mau bersosialisasi dengan dunia yang sesungguhnya dan hanya menghabiskan waktu dengan nonton televisi dan membaca komik.

"Eh?" Anak laki-laki itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ayahnya. Dia menunggu ayahnya bicara.

"Hinata, kau adalah seorang gadis. Gadis seumuranmu seharusnya berbelanja dengan teman sebayamu. Tetapi dirimu? Sekolah di rumah, rekaman di rumah, siaran di rumah, semua yang kau lakukan hanya di sekitar rumah saja. Lalu baca komik dan nonton televisi. Sebagai penyanyi pun kau tak pernah tampil di atas panggung," kata ayah dengan ekspresi gemes terhadap anak perempuannya ini. "Kumohon, keluarlah untuk bermain atau apa. Yang penting kau keluar dari rumah," kata ayah seraya menggenggam kedua tangan anak gadisnya dengan tangan kanan gadis tersebut membawa komik. Permennya bertengger pasrah di antara bibir manis gadis yang bernama Hinata itu.

"Hinata gak mau," kata Hinata manja. Dia membetulkan posisinya menjadi duduk dan kemudian berdiri. "Hinata mau baca komik dulu," sambungnya yang langsung melenggang pergi meninggalkan dua insan yang melongo. Dia mencari tempat yang nyaman untuk membaca komiknya.

"Oh, Kami-sama, apa yang harus kulakukan?" gerutu ayah. "Yasudahlah," kata sang ayah yang akhirnya mengalah. Dia memijat-mijat pelipisnya dan batang hidungnya. Dia pun duduk di sofa tempat Hinata berbaring seraya melanjutkan acara memijatnya.

"Ada apa, Ayah?" tanya anak laki-laki yang masih berdiri di tempatnya tadi. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Dia memakai sepatu kets, celana yang agak longgar dengan kaos abu-abunya yang diselimuti jaket putihnya. Rambutnya sudah bertata rapi tetapi agak acak-acakan. Mungkin memang disengaja.

"Kau mau kemana?" tanya ayahnya yang menundukkan kepala dengan kedua tangan yang bertumpu pada pahanya yang masih memijat pelipisnya.

"Hanya mau keluar sebentar, kok. Kenapa?" kata pemuda itu yang mendekat ke arah ayahnya.

"Apa kau bisa, Neji?" tanya sang ayah balik yang masih dengan aktivitas sebelumnya—memijat pelipisnya.

"Eh? Bisa apa?" tanya balik anak laki-laki yang dipangil Neji.

"Bisa membuat Hinata keluar dari rumah ini," kata ayah.

"Oh my God? Kenapa ayah menyuruhku mengusir Hinata?" pekik Neji dengan tangan kanan yang mengelus-elus dadanya.

Bletak!

Sebuah pukulan mendarat di kepala Neji. Dengan sigap Neji langsung mengelus-elus kepalanya yang kena pukulan koran dari ayahnya.

"Bukan itu maksudku. Maksudku membuat Hinata tidak takut akan dunia luar sehingga dia mau pergi keluar," kata Hiashi yang mungkin kau tau bagaimana ekspresinya.

"Eh, oh. Itu tugas yang susah," kata Neji dengan soknya. Dia menaruh tangannya di dagunya. Berpose seolah dirinya adalah seorang detektif.

"Bagaimana kau anggap itu gampang sementara aku memikirkannya sampai jungkir balik?" kata ayah yang sudah berdiri sedari tadi, dia memukul kepala Neji dengan koran yang berada di dekat sofa.

"Emm.. Imbalannya apa?" tanya Neji.

"Apa yang kau inginkan?" tanya ayah.

"Mobil," kata Neji.

"Yang lain," kata ayah.

"Motor."

"Lainnya?"

"Band set."

"Lainnya?"

"IPad."

"Yang Lain?"

"IPhone."

"Lainnya?"

"Handphone."

"Nah, akan kubelikan handphone," pekik ayah.

"Oh, ya, ampun.. baik sekali orang ini," gumam Neji dengan tampang sweatdropped. Alisnya terangkat sebelah dengan ekspresi mata males.

"Bagaimana? Bisa, kan?" tanya ayahnya.

"Aku gak berani jamin seratus persen," kata Neji.

"Ayolah, Neji-chan. Jika kau bisa membuat Hinata tak trauma keluar rumah lagi, akan kubelikan mobil diulang tahunmu yang ke-17," kata ayah yang memohon-mohon kepada anak laki-lakinya.

"Eh? Benarkah?" pekik Neji yang diikuti anggukkan kepala sang ayah. "Eh, tunggu sebentar, sekarang umurku 20 tahun. Ayah bercanda, ya?"

"Eh? Bukannya umurmu 16 tahun?" tanya ayah.

"Itu kan Hinata bukan aku. Umurku 20 tahun," kata Neji dengan gaya sweatdrop-nya. "Perasaan jauh amat nyasarnya," rutuknya lirih.

"Oh, ya sudahlah. Diumur ke-25 tahun?" tanya ayah.

"Whaaat? Itu masih sangat lama," kata Neji.

"Okelah. Lima hari sebelum ulang tahun ke-25 tahun."

"Cuma mundur lima hari?"

"Kau maunya?"

"Ulang tahun ke-21," kata Neji dengan kitty eyes-nya.

"Ah, iya, deh," kata ayah dengan nada menyerah.

"Yes!" pekik Neji. "Doumo arigatou," kata Neji seraya memeluk ayah angkatnya dan mengangkat tubuh ayahnya itu.

"Eh, eh, eh, turunkan aku," kata ayah dengan tampang khawatir akan jatuh. "Tapi kau harus cepat. Sebelum ulang tahun Hinata tiba, kau harus sudah membuat Hinata tidak takut dengan dunia," kata ayahnya. Neji pun menurunkan ayahnya.

"Eh? Tinggal 3 minggu lagi, dong?"

"Ingat, mobil mobil," goda si ayah.

"Baiklah! Aku akan berusaha," kata Neji dengan wajah yang berusaha semangatnya. Niat Neji yang mau pergi keluar pun tak jadi karena dia ingin membujuk Hinata. Maksudnya mau sekalian mengajaknya.

"Ah, dasar anak muda. Kenapa aku tadi langsung mengiyakan? Ah, paling juga gak bisa membujuk Hinata buat keluar rumah. Lain kali aku harus lebih pandai menawar dari anak muda," gumam sang ayah. Dia pun meneruskan kegiatan memijat pelipisnya yang tertunda tadi.

xXx

Museum Tokyo.

Museum yang lumayan besar. Sebuah museum yang memamerkan manga karya orang Jepang dan orang luar. Dari yang sudah tua hingga yang terbaru.

Hari itu, museum lumayan ramai. Mereka berekreasi dengan melihat objek yang bisa dilihat di museum. Seorang remaja memotret pengunjung dengan kameranya. Untuk dijadikan dokumentasi museum. Mungkin.

Pemuda itu tampan. Mata hitam kelamnya yang tajam membuatnya keren dengan gaya rambut yang acak-acakan. Dia menggunakan kaos lengan panjang dengan lengan yang dinaikkannya.

"Permisi, nona-nona, bisa kuambil foto kalian saat melihat manga itu," kata pemuda itu pada ketiga gadis di depannya seraya menunjuk sebuah komik di dekatnya. Beberapa detik pertama mereka terpukau dengan ketampanan wajah si pemilik suara.

"Ah, boleh," kata ketiga gadis cantik mengerumuni komik yang ditunjukkan oleh pemuda tadi.

Ckrek.

Ckrek.

Ckrek.

"Boleh kami lihat hasilnya?" tanya seorang gadis yang berada di segerombolan gadis tadi.

"Boleh, silahkan," kata pemuda itu seraya mengulurkan kamera DSLR miliknya. Gadis tadi pun menerima kamera itu dan melihat-lihat foto yang ada di dalam kamera tersebut.

"Kau seorang mangaka?" tanya gadis kedua.

"Ya, komik yang berfoto dengan kalian itu adalah karyaku," kata pemuda itu.

"Wah, benarkah?" pekik kedua gadis lainnya. Keduanya pun menghampiri komik yang dipajang.

"Uchiha Sasuke," gumam gadis ketiga. Kedua gadis itu hanya ingin melihat nama yang tertera di atas komik tersebut. Tak repot-repot tanya langsung pada ke pemilik nama jika mereka ingin berkenalan.

"Waw, semua fotonya close-up!" pekik seorang gadis pertama yang sedang melihat foto di kamera si pemuda. "Hehehe, maaf aku melihat foto yang lainnya," sambung gadis itu seraya tersenyum.

"Ya, karena mereka membawa kita untuk melihat sesuatu yang tak bisa dilihat secara luas," kata pemuda itu yang diketahui namanya adalah Sasuke. Dia tersenyum kepada gadis yang melihat foto di kameranya. Dimasukkannya tangannya ke dalam saku celananya.

"Bagian apa yang suka kau foto?"

"Mata," kata pemuda itu seraya tersenyum. Dia membayangkan mata terindah yang pernah ditatapnya. Tatapan mata lembut yang dibuatnya menangis. Itu sudah sembilan tahun yang lalu. "Ah, cinta monyet," gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil yang memecah suasana dari pojok museum.

"Ayah... Huweee..." teriak seorang anak laki-laki yang menangis di ambang pintu. Cairan bening mengalir pasrah di pipinya. Wajahnya memerah.

"Permisi, nona cantik, bisa kuambil kameraku?"

"Oh, ya. Ini," kata gadis yang membawa kamera pemuda itu dan memberinya kembali kepada sang pemilik. Sasuke menerimanya.

"Permisi, nona-nona, anakku menangis," kata Sasuke seraya berlari ke arah suara tangisan anak kecil. Dia berjalan menuju tempat di mana seorang anak laki-laki menangis memanggil ayahnya. Anak itu mempunyai rambut raven seperti Sasuke. Wajahnya manis seperti gula kapas. Headphone menggantung pasrah di lehernya dan tangan kanannya memegang iPod.

"Kerennya," kata seorang gadis yang membawa kamera pemuda tadi.

"Sayang dia sudah punya anak," kata seorang gadis disebelahnya.

"Andaikan istrinya aku," seorang gadis dibelakang berkhayal.

"Hai, jagoan kecil, kau sudah bangun ya?" kata Sasuke seraya mengacak rambut anak kecil itu. Sasuke jongkok di depan anak kecil tadi guna menyamakan tingginya. Kameranya tadi sudah tergantung manis di lehernya.

"Aku lapar," kata anak laki-laki berambut hitam yang sudah menghentikan acara menangisnya.

"Baiklah. Ayo kita keluar mencari makan," kata pemuda itu seraya menggandeng tangan anak kecil itu.

"Aku mau pancake," kata anak itu yang menengadah—melihat wajah ayahnya.

"Kau tak mau onigiri?" tanya Sasuke yang menggandeng tangan anak laki-laki itu.

"Itu apa?" tanya si anak.

"Itu seperti nasi kepal. Bukan seperti sih. Emang nasi kepal," kata pemuda itu.

"Apa enak?"

"Enak dong," jawab Sasuke seraya megangkat jempolnya.

"Awas kalau gak enak," ancam anak laki-laki itu.

Mereka berjalan keluar museum dan berjalan mendekati mobil yang terparkir di halaman museum. Mereka berdua masuk ke dalam mobil hitam. Sasuke tadi duduk di bangku pengemudi dan si anak duduk di bangku penumpang di samping ayahnya. Sasuke meletakkan kameranya di bangku penumpan bagian belakang.

"Ayah, kau tau jalannya?" tanya anaknya yang menatap Sasuke dengan tatapan polosnya.

"Eh? Eh, iya ya," kata Sasuke dengan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

Sasuke mencari ponsel yang diletakkannya dalam saku celananya. Sasuke membuka ponselnya dan mencari sebuah nama di kontaknya setelah menemukannya. Dia menelpon seseorang.

Tuut... Tuut...

Suara dalam ponselnya yang berarti sedang tersambung.

'Ayolah, Hinata... Dibilang aku gak mau. Satu hari saja,' seseorang yang dihubunginya sedang berbicara dengan seorang gadis di seberang telepon, mungkin tidak cocok dibilang berbicara, lebih tepatnya berdebat. Dan kemudian percakapan—ralat, perdebatan—itu berakhir dengan suara musik yang sangat keras.

"Ah, suara apa itu tadi?" gumam Sasuke dengan wajah masam. "Halo? Halo? Hey, Neji!" teriak pemuda itu pada ponselnya.

'Ah, siapa ini?' tanya seseorang di seberang telepon. Si penerima telpon bicara dengan setengah teriak. Sasuke menjauhkan sedikit ponselnya.

"Ini aku. Sasuke," kata Sasuke.

'Ah? Sasuke? Sasuke siapa?' tanya penerima telepon dengan nada bingung.

"Sasuke. Sasuke. Masa kau lupa?" kata Sasuke mengingatkan.

'Oh, ya! Sasuke! Yang mana, sih?' kata orang di seberang yang membuat pemuda tadi sweatdropped.

"Uchiha Sasuke adik dari Uchiha Itachi. Anak bungsu dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Apa aku harus sebutkan nenek-kakek, buyut, dan canggahku?"

'Hehehe... Iya, aku tau. Kau ada di Jepang?' tanya seseorang tadi.

"Iya. Aku mau cari restoran masakan Jepang yang enak di Tokyo. Kau bisa bantu?" tanya Sasuke.

'Bisa kok. Lagipula aku lagi setres di sini,' kata Neji dengan penekanan di akhir kalimat. 'Ya, sana pergi! Week...' suara seorang gadis masuk ke dalam percakapan antara kedua orang ini.

Itu pasti suara Hinata, pikir Sasuke.

"Oke, aku jemput di depan rumahmu. Jaa," kata Sasuke seraya menutup ponselnya.

"Ayah, ayo cepetan. Aku lapaaaaaaaaaaar banget," kata anak laki-lakinya dengan nada memelas.

"Haha, iya sebentar. Sabar. Nanti ayah belikan es krim," kata Sasuke seraya menyalakan mobilnya.

"Ah! Dua, ya?"

"Sesuka Reichi saja," kata Sasuke yang mengacak rambut Reichi disela menyetirnya.

"Baiklah!" kata Reichi seraya mengangkat jempol tangannya. "Oh, ya, Ayah, kenapa ayah tak mencari ibu?" tanya Reichi.

"Kau itu masih kecil. Kau belum tau apa-apa tentang masalah keluarga besar Uchiha kita," kata Sasuke.

"Memang apa yang terjadi? Aku kan sudah besar. Lima tahun, sebentar lagi aku sekolah," kata Reichi dengan bangganya.

"Itu masih kecil. Nanti akan kuberitahu jika umurmu sudah 15 tahun," kata Sasuke.

"Limabelas dikurangi lima," gumam Reichi sambil menghitung jarinya. "Sepuluh tahun lagi dong? Itu lama enggak?"

"Emm... enggak kok," kata Sasuke bohong.

"Okelah," kata Reichi.

"Cita-cita Reichi nanti jadi apa?" tanya Sasuke yang bosan karena menyetir di jalanan yang sibuk.

"Apa ya? Aku ingin jadi... seperti ayah!" kata Reichi.

"Eh? Ayah ini pembohong lho. Nanti kalau besar gak boleh bohong," kata Sasuke.

"Memang pekerjaan ayah bagaimana?" tanya Reichi.

"Itu bukan pekerjaan. Ah, sudah. Jadi, Reichi sebenarnya ingin jadi apa?" tanya Sasuke.

"Ingin bisa membuat manga seperti ayah, ingin bermain drama seperti ayah," kata Reichi.

"Oh. Kau pasti bisa seperti ayah. Haha," kata Sasuke dengan tawa anehnya.

"Kita mau kemana, sih?" tanya Reichi.

"Kita ke rumah paman Neji," kata Sasuke.

"Dia pamanku?" tanya Reichi yang disambut angukan kepala Sasuke. "Dia pamanku darimana?" tanya Reichi.

"Dia teman ayah," kata Sasuke.

"Terus, kenapa aku memanggilnya paman?"

"Reichi, sebutan paman tidak didapat karena orang itu keluarga kita. Terkadang orang yang sudah dekat kita anggap keluarga sendiri," jelas Sasuke.

"Jadi, Jepang dan Amerika berbeda?" tanya Reichi.

"Iya. Di Jepang lebih sopan daripada Amerika. Nanti kau akan mengetahuinya sendiri," kata Sasuke.

Ciiit.

Sasuke menginjak rem mobilnya. Sasuke tak mematikan mesin mobilnya.

"Ini di mana?" ucap Reichi memelas.

"Bentar lagi paman akan datang," kata Sasuke.

Tok tok tok.

Sebuah ketukan mendarat di kaca mobil Sasuke dan Sasuke memberi isyarat untuk menempati kursi belakang.

"Bagaimana kau tau mobil ini?" tanya Sasuke pada Neji yang langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumbang bagian belakang.

"Insting," kata Neji seraya mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya. "Bagaimana Julliard?" tanya Neji.

"Seperti biasa. Kenapa kau dulu menolak tawaran di Julliard?" tanya Sasuke. Dia mulai mengemudikan mobilnya kembali.

"Entahlah. Aku bosan dengan garis keluarga seniman. Aku ingin jadi pengusaha saja," kata Neji.

"Kau bisa menjual alat musik atau mendirikan klub musik," usul Sasuke.

"Bisa saja tapi sama saja masih dilingkungan permusikan," kata Neji.

"Itu sudah turun menurun. Paman Hiashi dan Hizashi adalah musisi. Ibumu adalah penyanyi. Itu sudah bakat keturunan," kata Sasuke. "Sedangkan istri paman Hiashi seorang aktris dan penari," sambungnya lirih.

"Sasuke, sejak kapan kau banyak bicara?" tanya Neji yan setengah heran.

"Setelah aku mendapatkan anak," jawab Sasuke dan Reichi pun menoleh kebelakang untuk menyapa Neji.

"Hello," kata Reichi.

"Hey, apa kau yang namanya Reichi?" tanya Neji.

"Iya, paman. Yoroshiku onegaishimasu," kata Reichi.

"Wah, kau mengajarkannya bahasa Jepang?" tanya Neji.

"Aku selalu mengajaknya bicara menggunakan bahasa Jepang. Tapi jika dia sedang bermain bersama temannya, dia menggunakan bahasa sana," kata Sasuke.

"Wah, pasti dia pintar," kata Neji seraya mengacak rambut Reichi. "Hey, Reichi, apa kau suka menjadi anak ayahmu ini?" tanya Neji kepada Reichi seraya menepuk bahu Sasuke.

"Senang."

"Eh? Apa kau tak mau jadi anak paman?"

"Tidak. Reichi butuh ibu bukan ayah. Ayah Reichi ada dua. Ayah Sasuke dan ayah Fugaku. Tapi ibu Reichi cuma satu. Ibu Mikoto," kata Reichi.

"Jadi kau ingin ayah Sasuke dapat ibu?"

"Iya! Itu dia. Kalau ibu Mikoto sudah tua," kata Reichi cemberut.

"Eits, jangan ngomong gitu. Nanti mama Mikoto nangis kalau kau bilang tua," kata Sasuke.

"Mama kan ada di Amerika. Mana bisa dengar," kata Reichi.

"Wah, kau pintar juga, Nak," kata Neji. "Hey, Sasuke, kau belum cari pasangan hidup? Disuruh tuh sama anakmu," sambung Neji menggoda.

"Ah, aku belum tertarik," kata Sasuke dengan cueknya.

"Eh? Berapa kali kau pacaran, Sas?" tanya Neji.

"Kenapa kau tanya itu?"

"Jawab saja, Sas," kata Neji memaksa.

"Belum pernah," jawab Sasuke.

"What? Umurmu itu sudah 20 tahun tapi belum pernah pacaran? What the..." kata Neji terpukau sehingga geregetan ingin mengeluarkan kata-kata mutiara.

"Pacaran itu apa sih?" tanya Reichi.

"Eh? Ah, bukan apa-apa, Reichi," kata Neji.

"Kok sepertinya pacaran itu wajib untuk orang dewasa," kata Reichi.

"Eh?" pekik Sasuke dan Neji bersamaan.

"Nanti aku akan pacaran deh. Aku kan ingin dewasa," kata Reichi.

"Eeeh?" pekik Neji dan Sasuke yang serempak bagaikan pasukan pramuka.

"Tuh, kau itu harus pilih tempat kalau bicara yang kaya gitu," kata Sasuke.

"Haha, mangkanya, cepat cari dong," kata Neji.

"Aku sudah cari tapi gak ada yang cocok, Neji," kata Sasuke dengan nada yang tidak enak.

"Gimana kalau dengan Hinata?" kata Neji yang kemudian membuat Sasuke menginjak pedal rem-nya.

"Eeeehh," pekik Neji yang tubuhnya bertubrukan dengan bangku di depannya.

"Aduh," Reichi pun juga terpekik karena ulah ayahnya itu dan kepalanya terbentur meja di depannya. "Aduh, ayah, ada apa?" kata Reichi seraya mengusap kepalanya yang terbentur meja depan.

"Iya, tiba-tiba ngerem," kata Neji protes. "Tempatnya bukan di sini. Masih jalan lurus ke depan," sambungnya.

"Che, dasar orang ini," gerutu Sasuke.

"Eh, Sas, gimana? Dengan Hinata saja," kata Neji menggoda.

"Kau bercanda?"

"Aku serius. Kalian kan bukan anak kecil lagi. Tak perlu memendam perasaan masa kecil. Lagipula harusnya kau yang minta maaf. Jadikah itu alasan kau bertemu dengannya. Apa kau tidak merasa bersalah?" kata Neji agak menggoda.

"Ah, jangan bicarakan ini," kata Sasuke.

"Ah, kau sebenarnya masih suka, kan?"

"Sudahlah, jangan bicarakan ini," kata Sasuke.

"Ayah, Hinata itu siapa?" tanya Reichi.

"Bukan siapa-siapa," kata Sasuke dengan wajah merona.

"Eh, Hinata itu mamanya Reichi," kata Neji.

"Eeeeehhh... Apa katamu?" Tangan Sasuke berusaha menangkap tubuh Neji. "Sini kau! Kubunuh kau, Neji," sambungnya.

"Ehehehe... Kau yang membuat Hinata trauma. Sampai saat ini pun masih seperti dulu. Tidak pernah keluar rumah," kata Neji.

"Bukan salahku," kata Sasuke.

"Bukan salahmu apa? Ke kiri," kata Neji seraya memberi petunjuk jalan.

"Sudahlah, jangan bahas Hinata," kata Sasuke.

"Kau benar gak mau menemuinya atau sekedar minta maaf?" tanya Neji.

"Gak. Ada firasat buruk jika aku bertemu dengannya," kata Sasuke.

"Mungkin Tuhan mengutukmu gak dapat jodoh sebelum kau minta maaf padanya," kata Neji.

"Hey, sudah. Jangan bicara lagi. Perhatikan jalannya. Ini kemana?" tanya Sasuke.

"Bangunan yang ada plang merahnya, itu restorannya," kata Neji.

"Ayah, kenapa sih ayah tidak mau bertemu dengan yang namanya Hinata?" tanya Reichi.

"Bukan apa-apa," jawab Sasuke.

"Tapi aku ingin melihat yang namanya Hinata tadi," kata Reichi.

"Kau mau melihatnya, Reichi? Kau bisa mesuk ke rumah paman. Mama Hinata ada di sana," kata Neji.

"Hey, Neji. Tutup mulutmu," kata Sasuke yang sudah memakirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. "Ayo keluar," kata Sasuke yang memberi aba-aba untuk keluar.

"Ayolah, Sasuke. Bantu aku," kata Neji yang memohon pada Sasuke setelah keluar dari mobil Sasuke. Mereka berjalan menuju restoran.

"Bantu apa, huh?" tanya Sasuke ketus.

"Buat Hinata berani keluar rumah," kata Neji.

"O to the G to the A to the H. Ogah," jawab Sasuke dengan gaya cheerleader-nya.

"Hey, Reichi, kau tau tidak keburukan ayahmu saat masih sekolah dulu?" tanya Neji kepada Reichi yang berjalan diantara Neji dan Sasuke.

"Eits! Kalau ngomong aku potong lehermu," kata Sasuke seraya mendongakan hidung Neji.

"Eh, hidungku!" pekik Neji seraya menghempaskan tangan Sasuke dari wajahnya.

"Ayo, Reichi. Makanan menunggu," kata Sasuke seraya menarik lengan Reichi. Mereka pun melangkah masuk ke dalam restauran. Mencari tempat duduk yang kosong dan menempatinya.

"Ayah, aku mau sushi," rengek Reichi.

"Ayah, aku mau kau bertemu Hinata," kata Neji dengan suara yang dibuat-buatnya setelah Sasuke memesan makanan kepada pelayan.

"Apa maksudmu, huh?" tanya Sasuke.

"Ayah, kebelet pipis," rengek Reichi.

"Ah, aku antarkan aja," kata Neji yang kemudian berdiri dari tempatnya duduk. "Ayo, Reichi," ajak Neji. Neji dan Reichi pun pergi meninggalkan tempat mereka dan berjalan mendekati toilet untuk laki-laki.

"Kenapa perasaanku buruk, ya?" ucap Sasuke pada dirinya sendiri seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

Di toilet, sebelum Neji dan Reichi kembali ke tempat mereka, Neji mengatakan sesuatu pada Reichi.

"Reichi, kau ingin bertemu dengan Hinata?" tanya Neji.

"Iya, paman," kata Reichi dengan air muka yang sedih.

"Kau bisa berakting?" tanya Neji dan disambut dengan anggukan kepala Reichi.

"Jagonya," kata Reichi seraya menepuk dadanya sendiri.

"Bagus. Jadi gini, nanti Reichi pura-pura ngambek. Gak mau makan kalau ayah gak mau mengantarkan Reichi untuk bertemu dengan Hinata. Bisa?" jelas Neji.

"Gampang, paman!" kata Reichi dengan mengangkat dua jempolnya. "Tos kesuksesan?" ajak Reichi. Neji pun menyatukan kedua jempol dengan jempol kecil Reichi.

"Ganbatte!" kata Neji seraya memberi semangat pada Reichi. "Ayo, kita keluar."

Bersambung~

Mikky : yosh! Akhirnya selesai juga. Aku bikin di tengah-tengah kebelet pipis. Jadinya ada babak yang ke kamar mandi #bletak. Gak ada hubungannya kok.

Choco : miau...

Mikky : Chocoooo... *meluk Choho

Choco : Mikky-sama...

Mikky : readers en author, ini adalah peliharaanku yang paling antik—bukan cantik. Kucing berwarna coklat yang bisa berbicara(?). Nama panjangnya adalah Chocolatos~ *nunjuk Choco

Choco : ohayou, konnichiwa, konbanwa?

Mikky : readers en authors, alurnya kecepetan gak? Idenya gimana? Ada typo? OOC kebangetan, kah? Mohon saran untuk newbie ini.

Choco : Mikky-sama ayok main!

Mikky : okelah readers en authors. Saya harap reviewnya ya! ^o^

Salam,

Mikky