Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Traumatic of Love © Mikky-sama

Genre :

Romance, drama (genrenya rada ngawur #bletaked)

Rated :

T

Warning :

AU, OOC, OC, typo(s), misstypo(s)

A/N :

Judulnya gak jelas ya? Mikky aja gak tau artinya *dihajar masa*. Fic pertama. Terinspirasi setelah menonton beberapa drama korea yang aku dapat dari warnet milik guru SMP. Kalau ke warnet itu, aku jarang buat ngenet. Paling buat mencuri beberapa drama korea dan film #krik. Maaf jikalau ada pembaca yang tak berkenan.

_XXX_

"Gampang, paman!" kata Reichi dengan mengangkat dua jempolnya. "Tos kesuksesan?" ajak Reichi. Neji pun menyatukan kedua jempol dengan jempol kecil Reichi.

"Ganbatte!" kata Neji seraya memberi semangat pada Reichi. "Ayo, kita keluar."

Mereka pun keluar dengan tampang tak berdosa apalagi bersalah. Berjalan mendekat ke arah meja mereka tadi. Di sana sudah tertata makanan yang dipesan oleh Sasuke.

"Reichi, kau sudah lapar, kan?" tanya Sasuke. Reichi telah duduk di tempatnya tadi.

"Hn..." jawab Reichi.

"Minta disuapin?" tanya Sasuke.

"Hn..."

Selama percakapan yang direkayasa ini, Neji hanya tertawa dalam benaknya.

Sasuke hendak menyuapi Reichi tapi Reichi menghindari makanan yang disodorkan Sasuke.

"Eh? Katanya tadi lapar. Kok gak mau?" tanya Sasuke.

"Hilang nafsu makan," kata Reichi.

"Lho kok? Kenapa?" tanya Sasuke.

"Reichi mau ketemu dengan Hinata," kata Reichi. Sontak Sasuke memandang Neji yang sedang menahan tawa.

"Tanganku bersih," kata Neji seraya memamerkan tangannya sedangkan Sasuke hanya menghela nafasnya.

"Terus, Reichi maunya gimana?" tanya Sasuke.

"Antarkan Reichi ke rumah paman. Ayah juga ikut ke dalam rumah," kata Reichi.

"Oh my ghost. Setan mana yang bisa aku bad mood begini?" kata Sasuke seraya melirik Neji.

"Lalalalalala..." Neji pura-pura bernyanyi dan tak mendengar omongan Sasuke.

"Baiklah. Kita ke rumah paman," kata Sasuke pada akhirnya.

"Yes! I got it!" pekik Reichi.

"Sekarang. Makan dulu makananmu," kata Sasuke pada anaknya.

"Okay. Itadakimasu!" Reichi pun melahap makanannya.

Tak lama kemudian tiga makhluk ini sudah selesai dengan makanan mereka. Dan bergegas ke rumah Neji.

"Tadaima," teriak Neji kepada seisi rumahnya.

"Okaerinasai, Nii-san," jawab suara seorang gadis.

"Matilah aku," pekik Sasuke yang kemudian memakai tudung kepala jaketnya.

"Nii-san sudah tidak setres lagi?" tanya Hinata seraya menekankan kata 'setres'.

"Enggak," jawab Neji dengan menjulurkan lidahnya.

"Ish," desah Hinata sebal.

"Hinata, ada anak kecil ingin bertemu denganmu," kata Neji.

"Eh? Anak kecil ingin bertemu?" tanya Hinata.

"Halo, Nee-chan," seorang anak muncul dari belakang Neji.

"Hai. Siapa namamu?" tanya Hinata. Hinata setengah duduk bersimpuh di depan Reichi.

"Namaku Reichi," jawab Reichi.

"Reichi ingin bertemu Hinata?" tanya Hinata. Reichi mengangguk tanda iya. "Jadi, orang yang Reichi cari sudah ada di depan Reichi," sambung Hinata seraya tersenyum. Dan Reichi mendekat untuk memeluk Hinata.

"Reichi datang untuk memeluk Hinata?" tanya Hinata yang membalas pelukan Reichi. Anggukan terasa di bahu Hinata.

"Nee-chan mau main dengan Reichi?" tanya Reichi setelah dia melepaskan pelukannya.

"Mau," jawab Hinata. "Reichi suka barbie, tidak? Ke kamar Nee-chan, yuk?" ajak Hinata seraya menarik tangan Reichi. Mereka berjalan menjauhi Neji. Mereka menaiki tangga karena kamar Hinata memang di lantai atas.

"Ehehem. Jangan dilihatin terus. Ayo masuk," kata Neji kepada seseorang yang bersembunyi di belakang pintu.

"Aku takut Hinata membuat Reichi menjadi perempuan," gumam Sasuke seraya keluar dari balik pintu.

Hinata dan Reichi duduk berdua masuk ke dalam kamar Hinata. Hinata mengutak-atik barbie-nya. Sangat banyak sekali barbie miliknya.

"Reichi ke sini sendirian?" tanya Hinata.

"Reichi ke mari bersama ayah. Tapi ayah tadi ngumpet," jawab Reichi.

"Ngumpet? Kenapa?"

"Dia pemalu," jawab Reichi polos yang membuat Hinata menghentikan kegiatannya.

"Ah, Reichi pandai bohong. Mana ada pria pemalu," kata Hinata.

"Nee-chan, mau gak jadi mama Reichi?" tanya Reichi dengan polosnya.

"Eh? Mama? Memang mama Reichi kemana?" tanya Hinata.

"Kata ayah, mama terbang ke langit," jawab Reichi.

"Oh... Lalu, siapa ayahmu? Kenapa kau bisa kenal Neji?" tanya Hinata.

"Eh, ano, ayahku seorang aktor yang tak mau terongkar identitasnya. Dia teman lama paman Neji," jelas Reichi.

"Oh..." Hinata berusaha mengingat teman Neji yang menjadi aktor. Tetapi Hinata tak menemukan seorang pun teman Neji yang menjadi aktor. Karena Hinata tak tahu teman Neji.

"Ano, kenapa boneka yang itu ditaruh di situ?" tanya Reichi seraya menunjuk boneka barbie yang diletakkan terpisah dengan barbie lainnya.

"Oh. Ini." Hinata mengambil barbie yang dimaksud oleh Reichi.

"Mulut dan alis barbie-nya pun terlihat sedih. Tidak tersenyum," kata Reichi seraya mengamati wajah barbie itu.

"Barbie ini dirusak oleh teman Neji. Rambutnya dipotong tak karuan, bajunya juga dipotong. Lalu aku menggambar bibir dan alis dengan air muka yang sedih," jelas Hinata. Dia mengusap-usap barbie itu.

"Hah? Siapa yang melakukannya? Akan kuhajar orang itu untukmu," kata Reichi dengan gaya pahlawannya.

"Hihihi, tak perlu. Kau tak akan bisa. Lagipula orang itu ada di Amerika," kata Hinata. "Namanya Uchiha Sasuke," sambungnya seraya membalikkan barbie-nya dan di situ ada sebuah nama. Uchiha Sasuke.

"Eh?" pekik Reichi bingung. "Uchiha?"

"Iya," kata Hinata seraya melihat Reichi. "Eh, sebentar ya. Nee-chan kebelet. Tunggu, ya," kata Hinata yang langsung keluar kamarnya dan berlari ke arah kamar mandi.

Reichi mengambil boneka yang rusak itu dan menyembunyikannya di balik bajunya. Kemudian Reichi keluar dari kamarnya dan mencari ayahnya di ruang tamu.

"Ayah, pulang, yuk?" ajak Reichi.

"Lho? Kenapa? Udah puas mainnya?" tanya Neji.

"Aku ingin bermain di rumah," kata Reichi pada Neji.

"Baiklah. Tapi ayah perlu basuh muka. Ayah agak ngantuk," kata Sasuke yang berjalan ke arah kamar mandi.

"Baiklah, aku juga akan mengatakan pada Hinata kalau kalian pulang," kata Neji yang berjalan ke arah kamar Hinata. "Reichi tunggu di situ, ya," kata Neji sebelum beranjak untuk berjalan.

Tok tok tok. Sebuah ketukan mendarat di pintu kamar mandi.

"Sebentar," teriak seorang gadis dari dalam.

"Matilah aku," umpat Sasuke seraya memakai tudung jaketnya.

Handle pintu berputar dan pintu bergeser. Keluarlah seorang gadis manis dari dalam. Dia melangkah keluar tetapi dia terpeleset saat berjalan keluar. Untungnya seorang laki-laki menangkapnya ala tuan putri yang jatuh kepangkuan pangeran. Mata mereka saling beradu. Hinata merasa pernah melihat mata itu. Mata yang dibencinya. Namun, dia tak ingat.

"Eh, maaf," kata Hinata berdiri tegak dari tangan si pemuda itu. "Terimakasih," sambung Hinata seraya ber-ojigi. Hinata pun melangkah menjauh darinya.

"Ya ampun. Rasanya mau copot jantungku," ucap Sasuke pada diri sendiri. "Sepertinya aku sudah gak ngantuk," Sasuke pun berjalan ke ruang tamu.

"Orang tadi siapa ya? Rasanya aku pernah melihat matanya," kata Hinata pada dirinya sendiri. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia berjalan menuju kamarnya berada.

'Mungkin itu ayah Reichi. Mangkanya matanya mirip dan mungkin aja aku melihatnya di televisi. Tapi, rasanya aku pernah bertatapan langsung deh,' pikir Hinata seraya melanjutkan langkahnya.

"Eh, kukira kau kemana," kata Neji yang keluar dari kamar Hinata.

"Kenapa kau masuk kamarku? Itu kan kamar cewek," kata Hinata rada jengkel.

"Tapi kenapa Reichi boleh masuk? Dia juga cowok, kan?"

"Itu beda. Ah, sudah. Kenapa mencariku?" tanya Hinata.

"Itu, Reichi mau pulang. Gak usah antar dia ke beranda. Kau kan gak mau keluar rumah," kata Neji seraya menjulurkan lidahnya.

"Ya sudah. Salamkan untuknya sama ayahnya. Oh, ya, ayahnya itu siapa, sih?" tanya Hinata.

"Aduh, kasih tau gak ya?" kata Neji seraya berpura-pura berpikir.

"Pamaaaaaaan... kami mau pulang," teriak Reichi dari ruang tamu.

"Eh, mereka mau pulang," kata Neji yang langsung berjalan menjauh dari Hinata.

"Ih, dasar," umpat Hinata.

Neji pun menemani Sasuke dan Reichi keluar dari rumah dan menuju mobil Hitam di halaman rumahnya. Sasuke menggandeng tangan Reichi.

"Eh, kalian berdua dapat salam dari Hinata," kata Neji sebelum Sasuke masuk ke dalam mobil. "Kalian berdua lho. Sasuke dan Reichi," ulang Neji dengan penekanan yang berbeda saat mengucapkan kata 'Sasuke'.

"Iya iya. Aku tau," kata Sasuke.

"Salam balik untuknya, paman," kata Reichi dengan senyumnya. "Katakan padanya aku masih menunggu jawabannya untuk menjadi ibuku," sambungnya yang sontak membuat Sasuke tercengang.

"EH? Apa yang kau katakan, Reichi?" tanya Sasuke.

"Aku hanya bilang apakah Hinata-nee mau jadi mama Reichi. Gitu aja, kok," kata Reichi seraya masuk ke dalam mobil.

"What? Itu aja? Itu bukan itu aja," kata Sasuke yang sekarang sudah melampaui batas ke-OOC-annya.

"Hihihihi... bayangkan Hinata jadi ibu Reichi dan Sasuke kena bulan-bulanan Hinata dan Reichi," gumam Neji.

"Apa kau bilang? Aku mendengar itu, Neji," kata Sasuke.

"Eh, bu-bukan apa-apa," kata Neji. "Hey, kenapa kau tidak mencopot tudung di kepalamu itu, sih? Gak ada Hinata, kok," kata Neji.

"Kau pikir aku tidak gerah dengan ini?" kata Sasuke yang melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke dalam mobilnya.

"Aduh, itu siapa, sih? Sepertinya tak asing lagi," kata Hinata pada dirinya sendiri.

Hinata melihat keluar jendela dan memandangi seorang pemuda berambut raven yang sedang berbincang dengan Neji. Dia memandangi dari kamarnya.

"!"

Ah? Sasuke? Sasuke siapa?

Kau ada di Jepang?

Terngiang percakapan Neji dengan seseorang.

"Itu... Sasuke!" pekik Hinata yang memandangi Neji dan Sasuke dari dalam kamarnya.

Sasuke masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mobil, dan menjalankannya.

"Kau senang?" tanya Sasuke kepada Reichi.

"Senang sekali," jawab Reichi.

"Apa yang membuatmu senang?" tanya Sasuke.

"Bertemu dengan calon ibuku," kata Reichi.

"Jangan sembarangan ngomong, Reichi," kata Sasuke.

"Aku ingin dia menjadi ibuku, Yah. Kumohon," pinta Reichi dengan memelas.

"Tidak bisa. Dia itu benci kepada ayah," kata Sasuke.

"Kenapa dia membencimu?" tanya Reichi sok tau.

"Memang seharusnya dia benci ayah," jawab Sasuke.

"Kenapa sih? Aku kan ingin membuat salah satu bonekanya tersenyum," kata Reichi dengan nada sedih.

"Boneka yang mana?" tanya Sasuke.

"Yang ini," kata Reichi seraya mengeluarkan boneka Hinata yang disembunyikannya di balik bajunya.

"Huwaaaaa..." teriak Sasuke seraya menginjak remnya secara mendadak. "Boneka itu."

xXx

27 Desember. Terdapat lingkaran merah pada tanggalan itu.

Hiashi dan Neji sudah menyiapkan kejutan untuk Hinata. Mereka mengendap-endap menuju kamar Hinata dengan membawa kue yang tak terlalu besar yang dipasangi lilin.

Jam 12 tepat tengah malam.

Mereka membuka pintu kamar Hinata dan ternyata si empunya kamar masih membaca bukunya.

"Happy birthday to you... Happy birthday to you..." sorak keduanya seraya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

"Selamat ulang tahun Hinata," kata Neji seraya memeluk adik kesayanganya yang enggan keluar rumah.

"Ah, arigatou, nii-san, tou-san," kata Hinata yang mengungkapkan rasa senangnya kepada kedua pria yang disayanginya.

"Doita, my princess," kata Hiashi.

"Semoga kau lekas mau melihat dunia luar ya!" kata Neji.

"Iya," kata Hiashi. "Aku ingin kita keluar bersama-sama. Satu keluarga," sambungnya.

"Tapi ayah, kau tau aku sudah terlalu anti dengan dunia luar," kata Hinata.

"Jadikanlah ketakutanmu menjadi kekuatanmu," kata Neji sok bijaksana.

"Baiklah. Sekarang, Hinata cepat tidur saja. Bangun pagi dan kita makan bersama," kata Hiashi.

"Aku dan ayah yang akan memasak untuk Hinata," kata Neji.

"Kalau gak enak uang kembali, ya?" kata Hinata bercanda.

"Kau kira ini restauran?" kata Neji yang ikut tersenyum karena ulah adiknya.

"Sudah. Ayo kita tidur. Besok kita akan memasakkan makanan untuk Hinata," kata Hiashi yang menarik lengan Neji.

"Oyasumi..."

xXx

"Yeeee..." teriak maid-maid yang ada di meja makan. Mereka sekarang memakai kostum ibu peri dan baru saja menyaksikan lilin mati karena ditiup Hinata. Bunyi terompet terdengar di seluruh ruangan. Dua maid memegang kamera yang digunakan untuk mengabadikan momen itu.

"Adikku tambah besar nih," kata Neji seraya mengacak rambut Hinata.

"Ih, kusut tau," kata Hinata seraya melempar tangan Neji yang membuat rambut Hinata berantakan.

"Ih, di rumah saja, kok. Mana ada yang liat selain kita?" protes Neji.

"Nona, ayo potong kuenya," kata salah satu maid.

"Iya, kemudian kasih kepada tuan dan tuan muda," sahut maid lainnya.

"Baiklah," kata Hinata yang kemudian menyahut pisau yang tergeletak di meja. Tangannya memotong kue menjadi lebih kecil, menaruhnya di atas piring kecil, dan memberikannya kepada sang ayah. "Potongan pertama untuk ayah tercinta," kata Hinata seraya menyerahkan piring berisi kue itu.

"Arigatou, Hinata-chan," kata Hiashi seraya mencium kening Hinata. "Satu suapan untuk putri ayah yang manja," kata Hiashi seraya memotong bagian kuenya menjadi lebih kecil dan menyuapkan kepada Hinata.

"Hap," Hinata melahap kue yang disuapkan ayahnya. "Satu suapan untuk ayah," kata Hinata yang menyahut sendok kecil yang digunakan Hiashi untuk memotong kuenya. Hinata memotong kue Hiashi sebesar potongan Hiashi tadi.

"Hap," Hiashi melahapnya dan mengunyahnya di dalam mulut.

"Dan yang kedua untuk Neji-niisan," kata Hinata setelah memotoh kue yang kedua dan memberikannya kepada Neji.

"Arigatou, adik kecil," kata Neji seraya mengacak pelan rambut Hinata.

"Nona, kami punya hadiah untuk nona," kata salah satu maid.

"Eh? Benarkah? Apa itu?" tanya Hinata penasaran.

Kepala pelayan membawakan dua buah tumpukan buku. Diletakkannya di depan Hinata. Hinata mengambil salah satunya.

"Suatu saat nanti, pasti maid-maid di sini akan diganti maid-maid yang lain. Aku sudah mengabdi kepada keluarga Hyuuga dari nona Hinata kecil. Kami mengumpulkan semua data maid dan membuatnya menjadi scrapbook. Dan buku yang satunya itu adalah berisi klipingan berita tentang nona di media cetak," kata Kepala pelayan.

"Terimakasih," kata Hinata seraya memeluk kepala pelayan rumah itu. "Kau sudah seperti ibuku sendiri," sambung Hinata.

'Senang rasanya melihat putriku tumbuh. Ada untungnya juga dia di rumah. Aku lebih bisa memantaunya. Meski dia merasa senang di rumah, aku ingin melihatnya keluar rumah untuk bermain dengan teman sebayanya. Tidak menghabiskan waktunya dengan bermain boneka dan membantu mengerjakan pekerjaan para maid,' batin Hinashi.

"Yak, sekarang giliran ayah memberikan hadiah," kata Neji seraya mengulurkan benda yang dibungkus kertas kado ke Hiashi. Hiashi menerimanya. Kado itu diberikan langsung oleh Hiashi.

"Hinata, putriku sayang, bukalah kado ayah," kata Hiashi. Tanpa babibu, Hinata langsung membuka bungkus kadonya. Membuka penutup kotak kado itu.

"Ah, ini," pekik Hinata kaget.

"Aku sengaja memberimu kamera DSLR itu," kata Hiashi.

"Tapi, apa yang bisa kufoto?" tanya Hinata.

"Hinata, bolehkah aku menentukan hadiah ulang tahun ayah?" tanya Hiashi.

"Apa yang ayah mau?" tanya Hinata kembali.

"Aku ingin kau memberiku foto pemandangan yang bagus dan foto setiap orang asing yang kau ajak bicara," kata Hiashi.

"Jadi, aku..."

"Iya, kau bisa minta antar Neji ke tempat yang indah," kata Hiashi.

"Ba-baiklah ayah," kata Hinata seraya tertunduk lesu. Dia ingin mengatakan tidak tapi dia takut melukai perasaan ayahnya. "Aku sayang ayah," kata Hinata dan tiba-tiba dia memeluk Hiashi.

"Aku juga menyayangimu," kata Hiashi seraya membalas pelukan Hinata.

"Oke, sekarang giliran hadiahku," kata Neji. Hinata melepaskan pelukannya kepada Hiashi. Neji memberikan dua kado kepada Hinata.

"Kok dua?" tanya Hinata heran.

"Gak boleh? Aku kan sayang adikku ini," kata Neji seraya merangkul pundak Hinata.

"A-arigatou," kata Hinata dengan keheranannya.

"Ah, Hinata, ayah mau menemanimu tapi ayah ada kerjaan," kata Hiashi.

"Ah, masa ayah tidak makan bersama Hinata. Padahal ini masakan ayah sendiri," kata Hinata.

"Lain kali ya," kata Hiashi seraya mencium kening anaknya itu dan kemudian berjalan menjauhi Hinata. "Maaf, Hinata. Ayah buru-buru," kata Hiashi.

Hinata terduduk lesu di kursi. Dia mengambil kamera yang baru saja didapatnya. Dia memasang lensa yang dihadiahkan bersama dengan kamera itu.

"Kenapa?" tanya Neji yang melihat air muka Hinata yang berubah drastis.

"Aku ragu," kata Hinata.

"Kenapa harus ragu?"

"Nona tidak boleh ragu. Ini kan juga demi ayah nona," kata kepala pelayan.

"Iya, bayangkan betapa kecewanya tuan jika nona tidak memberikan yang tuan inginkan," kata salah satu maid.

"Bukan itu juga masalahnya. Aku menggunakan kamera ini saja aku gak tau," kata Hinata. "Secara aku tidak pernah mau difoto," sambungnya.

"Nona mulai dengan mengambil foto para maid saja. Terus tuan Neji memoto nona bersama kami. Anggap saja itu latihan," kata kepala pelayan.

"Hinata seperti snow white yang dikelilingi kurcaci ya," kata Neji ceplas-ceplos.

"Kok kurcaci?" protes para maid serentak seperti pasukan pengibar bendera.

"Eh?" pekik Neji yang kaget dengan pasukan maid yang berkata bersamaan.

"Neji-niisan, kau mau kan memotretkan pemandangan dan teman-temanmu untukku?" pinta Hinata.

"Eh?" pekik Neji yang kemudian tersedak oleh minumannya sendiri. "Kalau gak ada foto dirimu di luar rumah, ayah pasti curiga. Sama saja kau harus keluar, kan?"

"Kan bisa diedit. Ayolah, nii-san," pinta Hinata dengan kedua tangan yang disatukannya.

"Hinata, sayangku, cintaku, adikku, manisku, cantikku, dan lain sebagainya, apa kau tak melihat perjuangan ayah? Agar kau mau keluar rumah?" tanya Neji.

Hinata terdiam.

"Hal paling dia sayangi adalah kamu, Hinata. Dan yang ingin ayah inginkan itu adalah ingin melihatmu keluar rumah, bermain dengan temanmu, berbelanja, berpesta, dan lain sebagainya. Setelah bibi, maksudku ibumu meninggal, harapan hidup ayah adalah dirimu. Aku melihat akhir-akhir ini kerjaan ayah menurun. Dia tidak berkerja sampai tengah malam seperti dulu. Itu karena memikirkanmu. Akhir-akhir ini juga aku mendengar keluahannya tentangmu, gumamannya, dan aku juga mendengar percakapan ayah dengan seseorang ditelepon. Dia minta saran kepada orang yang diteleponnya, bagaimana cara untuk membuatmu keluar rumah. Akhirnya dia dapat, kamera itu. Tapi apa akhirnya kamera itu juga tidak berhasil?" kata Neji panjang lebar kali tinggi.

"..."

"Mungkin kau benar," kata Hinata.

"Eh? Benar apanya?" tanya Neji cengo.

"Apa yang kau bicarakan barusan," kata Hinata dengan gaya sweatdropped-nya.

"Eh, aku tadi bicara apa ya?" kata Neji pada dirinya sendiri yang sontak membuat Hinata lebih sweatdrop.

"Padahal aku udah menghayati setiap kata yang niisan katakan," kata Hinata yang masih sweatdropped.

"Jadi kau mau untuk keluar rumah, kan?" tanya Neji.

"Iya!" kata Hinata yang disusul oleh senyuman di wajah Neji. "Bibi, tolong taruh kadonya di kamarku," kata Hinata kepada kepala pelayan.

"Baik, nona," kata kepala pelayan. Dua maid membawakan kado-kado yang diberikan saat acara pesta kecilnya.

"Kau mau keluar hari ini?" tanya Neji.

"Entahlah. Yang pasti aku akan makan dulu," kata Hinata seraya tersenyum kepada Neji.

"Kau serius akan memakannya?" tanya Neji.

"Harusnya memang gitu, kan?" kata Hinata.

"Eh, selamat menikmati deh," kata Neji.

Hinata mengambil makanan buatan ayahnya dan kakaknya. Dia menaruhnya di atas piring. Dia menyuap makanan yang ada di piringnya, membuka mulut, dan melahapnya.

"Asin," kata Hinata seraya mengeluarkan kembali makanan yang dimasukannya ke mulutnya.

_XXX_

Mikky : Mikky baru sadar kalau karakternya OOC semua #pundung

Chocolatos : hahahaha... *ketawa nista

Mikky : *lempar panci ke arah Choco*. Maaf, ya. Yang gak trima ke-OOC-an karakter di sini. Soalnya, ini fiction Mikky yang paling pertama. Jadi, agak alay lebay dan sebagainya. Fiction ini udah ada sejak zaman baheula, cuma baru-baru di-publish. Dan aku ngerasa alurnya terlalu cepat. Semua kritik, saran dan flame diterima, kok. Mikky ngerasa fiction ini kacau. Tapi, Mikky gak bakal ngedit jalan ceritanya dan cara pembawaannya. Fiction ini setengah berjalan (ngrangkak?), nanti kalau waktunya Mikky nulis kelanjutannya, Mikky akan obrak-abrik(?). Sekian. Dan ini jawaban untuk reviewer yang gak login.

n : "senpai puna banyak cerita senpai sangat hebat walaupun masih baru"

((APANYA YANG HEBAT, NAK? *pukulin kepala ke tembok*))

R : "Kok pas bagian sasu di museum kaya adegan a crazy littel called think *bener gk judulnya tuh film* yaa? Di mana si p'shone jadi fotografer dan di paling suka bagian mata, ehh tiba2 anknya nangis, benar2 mirip yaa ? :) Lanjutt yaa miky *bener gk namanya?* hehe"

((yang dimaksud emang bener tapi namanya bukan fsdajl;asgsf;ls (?) tapi A Little Thing Called Love))

Yoshioka Yuko : "Bagus *-*...Eh,ngomong2 Ibunya Reichi bnrn Hinata yak?Atau bkn?"

((kasih tahu gak ya? Hm... enggak, ah. Pikir aja sendiri *dirajam*))

Yui-chan : "Usia Hina beda jauh ya ama Hina. Wow, di fic ini Hiashi jd tokoh ayah yg baik rupanya. Anak siapa tuh yg di bw Sasu. Bkn anak kndung kan? Jd penasaran sm mslh mereka di masa lalu. So,apdet~"

((cuma empat tahun, kok. Emang ngarep Hiashi jadi pihak tertindas? Oh, my God. Hiashi-sama.. ada orang mau menindasmu... *bletak*. Kasih tahu gak ya? Reichi itu anaknya siapa, ya? Aku juga gak tahu *dirajam*. Udah mulai terungkap, kan? Masa lalunya Hinata?))

Shyoul lavaen : "Knpa sasu,neji ma hiashi jdi g"klhatan stoic?q sdkit ngerasa aneh wktu bca sasu kyk gitu..sasu jdi klhatan kyk q jga ska sasu yg kyk gitu,tpi tnjukin dkit ja sft sasu yg cuek,dngin,stoic ya..emang tu anakny siapa?g"mgkinkan anakny sasu,dy kan msih sasu prnah brbwt pa ma hina smpek2 hina jdi kyk gitu?lnjut..updete cpet ya n lbih pnjang..^_^"

((tuh, kan, ada yang berpikiran mereka OOC banget *pundung*. Gak kamu aja kok yang ngerasa aneh. Bahkan author juga *disate*. Jangan tanya aku itu anak siapa! Aku tidak tahu-menahu! Aku bukan bapaknya (?). huweeeeeeeee... *dibekep*))