Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Married By Alcohol © Mikky-sama

Genre :

Drama, romance

Rated :

T

Warning :

AU, maybe OOC

A/N :

Fanfiction saya yang kesekian kalinya dan masih saja gak jelas. Yang mau baca makasih *terharu*

/Married By Alcohol \\

Bandara begitu ramai. Penuh dengan manusia-manusia yang sibuk. Ada yang akan naik pesawat ada pula yang sudah turun dari pesawat. Ada yang mengantar dan ada yang menjemput. Nasib yang tak punya sanak saudara di sana. Tak ada yang menjemput.

"Ah, itu tasku," pekik seorang gadis yang melihat tas ungu keluar dari alat yang entah apa namanya. Alat yang memuntahkan tas dan membiarkan tas-tas itu keluar-masuk alat itu.

Gadis itu mempunyai rambut kebiru-biruan dengan mata putih. Parasnya manis dan kulitnya putih mulus. Gadis itu mengambil kopernya dan tas ranselnya. Dengan susah payah dia membawa koper dan tas yang lumayan berat itu. Dia menggiring kedua tas itu ke arah pintu keluar. Dia mencari sesuatu.

"Ah, Paman, tolong aku!" teriaknya kepada seorang supir taxi yang mencari penumpang.

"Baiklah," kata supir taxi itu. Dia pun berjalan mendekati gadis yang berteriak kepadanya. Mengambil koper dari gadis itu dan menaruh koper itu di bagasi taxi-nya.

Gadis tadi masuk ke dalam taxi dan duduk di bangku penumpang bagian belakang. Dia menghela nafas untuk sejenak.

"Akhirnya sampai di Tokyo," gumamnya. "Hanabi, tunggu kakak, ya!" katanya pada lembaran kertas yang dibawanya.

Tiba-tiba pintu taxi sebelang bangku yang kosong terbuka. Dan masuklah seorang pria muda dengan seenaknya. Pria itu memakai jaket dengan kaos di dalamnya.

Gadis tadi kaget bukan main. Dia memandangi pria di sampingnya untuk beberapa saat. "Hey, k-kau siapa? Aku mendapatkan taxi ini duluan," kata gadis itu.

"Aku cuma mau numpang. Taxi lainnya sudah penuh," kata pria itu. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Tapi aku sudah mendapat taxi ini duluan," kata gadis itu sambil bersih keras.

"Bolehkan aku numpang, Nona Hinata," kata pria itu. Dia menoleh ke gadis sebelahnya. Mempertemukan manik hitamnya dengan mutiara putih pada gadis itu.

"Ba-bagaimana kau tahu namaku?" tanya gadis bernama Hinata itu dengan bingung.

"Ini," jawab pria itu seraya menunjukkan dompet wanita di tangannya yang keluar dari saku jaketnya. Dompet itu berwarna putih dan biru.

"Ah, itu punyaku," kata Hinata. Dia berusaha mengambil dompetnya yang dibawa oleh pria itu. Tapi pria itu tidak membiarkan gadis bernama Hinata mengambilnya.

"Ijinkan aku menumpang dulu," kata pria itu.

"Baiklah. Kembalikan dompetku," kata Hinata yang menagih dompetnya. Pria tadi mengembalikan dompet putih biru itu kepada si pemilik.

Si supir yang tadi membawakan koper Hinata, akhirnya masuk ke dalam taxi-nya. Dia bertanya kepada dua makhluk dalam taxi itu. "Mau kemana?" tanya si supir taxi yang sudah berada di bangku pengemudi.

"Kau mau kemana?" tanya Hinata pada pria tadi.

"Kau dulu," kata pria itu.

"Kau kan yang menumpang," kata Hinata protes. Mungkin di dalam pikirannya dia mengumpati pria yang duduk di sebelahnya.

"Rumahku jauh," kata pria itu.

"Tujuanku juga jauh," kata Hinata yang lumayan jengkel kepada pria muda yang menurutnya menyusahkan itu.

"Memang dimana?" tanya pria itu.

"Baiklah, Tuan Menyebalkan," kata Hinata menyerah. Dia mengalihkan pandangannya ke arah supir berada.

"Sasuke, itu namaku. Bukan Tuan Menyebalkan," kata pria itu sebelum Hinata berbicara kepada supir taxi tersebut.

"Masa bodoh," gumamnya. "Paman, ke Rumah Sakit Pusat Tokyo," kata Hinata pada supir itu.

Mobil pun dinyalakan dan perlahan-lahan bergerak maju.

Hinata mengeluarkan ponselnya dari saku roknya. Menghidupkan ponselnya yang sudah dimatikan sejak berangkat dari Kyoto. Dia menulis sesuatu pada ponselnya.

To : Neji-niisan

Nii-san, Hinata sudah sampai di Tokyo.

Send

Selama perjalanan, Hinata hanya memainkan gantungan ponselnya yang ramai. Sedangkan makhluk angkuh di sebelahnya hanya bersantai melihat pemandangan.

From : Neji-niisan

Berhati-hatilah di Tokyo. Aku sedang menemani paman menemui relasinya di Osaka.

Hinata tersenyum melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu. Dia menutup ponselnya. Melihati pemandangan. Dia menguap. Bukan kebiasaannya melihati pemandangan saat melakukan perjalanan. Tanpa sadar Hinata jatuh tertidur.

Sasuke yang sedari tadi melihat keluar pun mengalihkan pandangannya kepada Hinata. "Dia tidur," gumam Sasuke pada dirinya sendiri. Sasuke mengambil sesuatu dari tas ranselnya. Dia mengambil kamera DSLR miliknya yang diberikan oleh ibunya. Dia mengambil beberapa gambar dari Hinata yang sedang tidur nyenyak.

Mobil mereka masih terus berjalan. Berjalan dengan lancar. Tak ada macet sedikit pun. Mungkin hanya berhenti saat mereka mendapat lampu merah. Sampai akhirnya, sang supir memberitahu bahwa mereka telah tiba di tempat yang disebutkan Hinata tadi.

"Hey, Nona Tidur. Sekarang bukan waktunya sleeping beauty," kata Sasuke membangunkan Hinata. Dia menepuk pelan pipi Hinata. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Eh? Sudah sampai?" tanya Hinata seraya melihat sekeliling.

"Sudah, Nona," kata supir taxi itu.

"Oh," kata Hinata. Dia melihat angka pada argo taxi itu. Hinata mengambil beberapa uang tetapi sebelum mengeluarkan uang itu, Sasuke angkat bicara.

"Tidak perlu. Aku yang bayar saja," kata Sasuke pada Hinata.

"Oke, aku mengerti. Tak baik menolak rejeki," kata Hinata. "Terima kasih, Paman," kata Hinata yang kemudian turun dari taxi dan membuka bagasi belakang, mengambil kopernya. Dia melangkah ke dalam rumah sakit.

Sasuke mengeluarkan kameranya kembali. Dia mengambil beberapa gambar Hinata yang berjalan membawa koper ke dalam rumah sakit.

"Aku turun di sini, Paman," kata Sasuke. Dia pun memberikan uang kepada supir taxi itu dan keluar dari taxi.

Sasuke menghirup udara dalam-dalam. Rasanya dirinya kembali hidup setelah bertahun-tahun rasanya jiwanya meninggalkan raganya. Dia bisa merasakan angin yang berhembus, dapat merasakan hangatnya terik matahari.

Hinata berjalan di koridor rumah sakit. Dia mencari kepala dokter di situ. Setelah dia menemukan ruangan yang dicarinya, dia mengetuk pintu itu perlahan.

"Masuk," balas seseorang dari dalam mengisyaratkan Hinata untuk masuk.

"Sumimasen, Dokter Uchiha?" sapa Hinata saat masuk.

"Ah, Hinata. Duduklah," kata dokter yang dipanggil Uchiha itu. Di mejanya tertera sebuah nama. Uchiha Fugaku.

"Aku sudah mendapatkan surat itu," kata Hinata yang berjalan mendekat ke arah dokter bernama Fugaku. Dia duduk di kursi di hadapan dokter itu.

"Tapi... maaf, Hinata. Aku kehilangan Hanabi," kata Fugaku.

/..\\

"Hanabi, kemarilah," panggil seseorang.

"Ya, kakak? Ada apa?" jawab seorang gadis yang dipanggil Hanabi.

"Jika kau mau sekolah dan makan, kau bantu kakak cari uang. Kau kan bisa bermain piano, kau bisa memainkan piano di bar. Tapi bawakan lagu yang bagus, agar pengunjung tertarik," kata orang yang memanggil Hanabi.

"Kakak, kalau kakak sudah menemukan kakak Hanabi, kakak mau mengantarku ke dia, kan?" tanya Hanabi.

"Pasti aku antarkan kau ke kakakmu," kata gadis yang berbicara kepada Hanabi.

"Makasih, kakak. Aku doakan kak Sasuke menyukaimu," kata Hanabi.

"Arigatou, Hanabi-chan," balas gadis berambut merah muda seraya mengacak rambut Hanabi.

/..\\

"Hanabi," ucap lirih Hinata. "Apa Hanabi sudah makan?" Hinata jalan gontai menuju ke suatu tempat. Dia menuju pemakaman. Dia sudah tak membawa tas kopernya. Yang dia bawa hanya tas ransel yang lebih kecil dari tas ranselnya tadi.

Udara saat itu lumayan dingin. Udara dingin di musim semi. Apakah akan turun hujan? Sepertinya tidak. Awan tidak mendung sama sekali. Hanya suasana hati Hinata yang mendung. Dia masih memikirkan adiknya yang entah ada di mana. Keluarganya bukan keluarga sesungguhnya baginya. Ayahnya hanya menyukai Neji yang merupakan anak dari adik ayahnya. Sedangkan Hinata dibiarkan hidup entah seperti apa. Hinata sudah cukup sedih tidak ada tempat bersandar di keluarganya. Satu-satunya tempat bersandar adalah Neji, sepupunya. Tetapi, Neji juga sibuk dengan pekerjaannya, yaitu meneruskan pekerjaan ayahnya. Neji akan menjadi worker-holic seperti ayahnya. Itu yang dirasakan Hinata selama ini. Dia tidak mau ini terjadi pada adiknya, Hanabi.

"Hanabi, bagaimana dengan sekolahnya?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. "Ah, Hanabi! Apa yang harus kulakukan?" teriaknya frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya yang rapi dan sekarang rambutnya berantakan.

Hinata mencari sebuah nama di batu nisan. Nama ibunya. Itulah yang dia cari.

Saat sedang mencari, Hinata melihat seorang gadis sedang berjalan dengan tertunduk. Hinata memandanginya sebentar. "Hanabi pasti sebesar gadis itu," gumamnya. Dia pun berjalan lagi, mencari makam ibunya sambil terus memanggil nama adiknya.

"Hanabi, kau dimana?" gumam Hinata. Saat itu dia berpapasan dengan gadis yang dilihatnya di pemakaman.

Gadis itu berhenti sebentar. Menoleh ke arah Hinata dan mengamatinya. "Apa dia tadi menyebut namaku?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri. "Ah, masa bodoh," sambungnya yang kemudian dia melanjutkan aktivitas berjalannya. Dia berjalan keluar pemakaman.

"Hyuuga Hanabi mana ya?" gumam Hinata yang masih mencari nama ibunya yang kemudian nama itu diwariskan kepada adiknya. Hyuuga Hanabi.

"Ah, Hyuuga Hanabi!" pekik Hinata saat menemukan makam ibunya. Dia melihat ada bunga di atas pusaran ibunya. "Ada bunga," kata Hinata. Mata putih Hinata tiba-tiba membulat. "Jangan-jangan anak tadi..." Hinata pun bergegas mengejar anak tadi.

Hinata berlari di pemakaman untuk segera keluar dan mencari anak tadi. Dia tersandung batu dan lututnya membentur pinggiran pemakaman yang lancip. Dia tidak peduli dengan lukanya. Dia langsung berdiri dan mengejar gadis tadi yang sempat diamatinya. Tapi terlambat, gadis tadi naik bus saat Hinata mengejarnya.

Hinata terjatuh lemas. Dia menangis. "Padahal sedikit lagi. Sedikit lagi," gumamnya. Hinata memukuli tanah yang tak bersalah. Kemudian dia memukili kakinya yang tersendung tadi. Dia masih menangis tersedu, meratapi nasibnya.

/..\\

"Hanabi dimana?" Hinata menangis tanpa suara di tengah keramaian di bar. Suara piano mengalun lembut menembus telinga para pengunjung. "Kata Dokter Uchiha, dia mengajari Hanabi bermain piano. Mungkinkah?" Hinata mencari si pemain piano di situ. Tapi hasilnya, dia bukan Hanabi. Meski Hinata belum pernah bertemu dengan adiknya tetapi dia mendapat informasi, bahwa mata Hanabi seperti mata Hyuuga pada umumnya.

Bau alkohol semerbak ke mana-mana. Jelas. Karena ini adalah sebuah bar. Sudah kukatakan jika ini adalah sebuah bar, kan? Bar dari kelurahan mana yang tak ada bau alkoholnya?

Seorang gadis membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya. Gadis itu sepertinya masih menangis. Pundaknya sedikit bergetar. Dia Hinata. Hinata memakai kaos oblong kuningnya dengan celana pendek.

"Hanabi," panggilnya lagi.

"Hey, kau mabuk?" kata seseorang mengguncangkan tubuh Hinata.

"Mabuk? Mungkin itu ide yang bagus," kata Hinata seraya mengangkat wajahnya.

"Kau gak mabuk?" tanya seseorang tadi yang ternyata adalah Sasuke.

"Tidak, apa kau mau menemaniku mabuk?" tanya Hinata.

"Kau lagi ada masalah ya?" tanya Sasuke yang mengambil tempat di sebelah Hinata.

Hinata membenamkan wajahnya ke dalam dua tangannya kembali. Pundaknya bergetar hebat tapi dia tak bersuara sedikit pun. Tidak mungkin karena kebisingan di bar karena hanya ada alunan lembut dari piano yang terdengar.

"Jika menangis, bersuaralah," kata Sasuke seraya menepuk pundak Hinata dengan pelan. "Itu akan membuatmu lega," sambungnya.

Kini alunan piano berganti dengan dentungan musik keras dari DJ yang sedang memutar-mutar piringan hitam. Perlahan Hinata mengeluarkan suara dalam tangisnya. Sasuke tetap menepuk punggung Hinata.

"Hanabi," teriaknya dalam tangisnya. Lama-kelamaan tangisannya mereda. "Dingin. Apa Hanabi ada tempat untuk berhangat?" kata Hinata pada dirinya sendiri.

Sasuke melepaskan jaketnya dan menyodorkannya kepada Hinata. "Kau mau memakainya?" tanya Sasuke.

Hinata mengangkat wajahnya dan menerima jaket itu. Dibaunya jaket itu. "Kau belum ganti dari tadi? Bau," kata Hinata.

"Kalau gak mau, kembalikan," kata Sasuke yang hendak merebut jaketnya kembali.

"Eh, akan kupakai," kata Hinata. Hinata pun memakai jaket dari Sasuke.

Hinata menyandarkan kepalanya pada meja di depannya. Sasuke mengikuti apa yang dilakukan Hinata. Wajah mereka saling berhadapan. Wajah Hinata yang sembab karena baru saja menangis juga terlihat murung sedangkan wajah di depan Hinata tersenyum bak malaikat.

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Hinata yang masih dengan posisinya.

"Kau tidak menangis lagi?" tanya Sasuke.

"Entahlah. Kenapa aku harus menangis? Itu tidak akan mengembalikan ibuku dan membawa adikku kemari," kata Hinata.

"Kenapa dengan adikmu?" tanya Sasuke.

"Ceritanya panjang. Dulu, orang tuaku bercerai," kata Hinata menjelaskan.

"Oh, aku tahu itu," kata Sasuke.

"Bagaimana kau tau itu?" tanya Hinata seraya mengangkat kepalanya.

"A-aku hanya bilang 'aku tahu itu'," jawab Sasuke yang masih menidurkan kepalanya pada meja.

"Oh," kata Hinata. Dia meletakkan kembali kepalanya di meja dan bertatapan kembali dengan Sasuke.

"Terus?" tanya Sasuke yang sepertinya ingin mengetahui cerita Hinata.

"Terus... Gimana kalau kau pesan beberapa bir?" pinta Hinata.

"Kenapa harus aku?" tanya Sasuke.

"Kiba bekerja di sini. Dia tidak mungkin membiarkanku untuk membeli bir. Aku akan membayarmu," kata Hinata.

"Oh, jadi karena itu kau di sini berdiam diri?" tanya Sasuke dan Hinata pun hanya bisa mengangguk membiarkan pipinya bergesekan dengan meja.

"Oke, aku mengerti," kata Sasuke mengangkat kepalanya dan berjalan ke arah salah satu pelayan dan memesan beberapa bir. Dia pun kembali ke tempatnya bersama Hinata. Dia duduk di tempatnya semula.

"Aku sudah memesan minuman," kata Sasuke yang menempelkan pipinya ke meja kembali seperti semula.

"Hmm... Bagaimana kau bisa di sini?' tanya Hinata.

"Eh, aku... err..." kata Sasuke gelagapan. Dia mencari jawaban agar tidak ketahuan Hinata jika dia mengikuti Hinata.

"Kau mau minum, ya?" tanya Hinata dengan tampang 'bingo!'.

"Ah, akhirnya ketahuan," kata Sasuke lega.

"Baiklah, ayo kita minum!" kata Hinata. Dan sangat kebetulan, pelayan mengantarkan dua gelas dengan dua botol bir.

"Ayo kita minum," kata Hinata mengambil gelasnya dan menuangkan bir di gelasnya dan gelas Sasuke.

"Kau bisa minum?" tanya Sasuke.

"Tentu bisa. Semua orang juga bisa minum," kata Hinata. "Ayo," ajak Hinata untuk menyatukan gelasnya dengan gelas Sasuke sehingga menimbulkan dentingan kepada kedua gelas itu.

Ting!

Mereka pun meminum bir yang ada di gelas mereka. Saling men-toast gelas satu sama lain, tertawa bersama, saling menuang minuman, dan hal lainnya yang bisa dinikmati bersama saat minum. Hinata minum sampai mabuk sedangkan Sasuke hanya minum sampai tiga gelas, tidak terlalu mabuk. Masih bisa dikatakan sadar karena dia masih sanggup berdiri.

Gadis berambut merah muda jalan perlahan mendatangi Sasuke. "Senpai, kenapa kau di sini?" tanya gadis itu.

Sasuke mengangkat kepalanya dan mencari sumber suara. "Ah? Oh, Haruno Sakura. Entah apa yang kulakukan," jawab Sasuke dengan sedikit mabuk.

"Kau tidak mabuk, kan?" tanya gadis yang dipanggil Haruno Sakura.

"Tidak, aku masih sadar," kata Sasuke. Dia mengalihkan pandangannya kepada Hinata. "Hinata, bangun. Hey, bangun. Kau tidak pulang?" tanya Sasuke pada Hinata yang tidur dengan posisi pipinya menempel pada meja. Sasuke menarik-narik pipi Hinata dan Hinata hanya menyerngit.

"Siapa dia, senpai?" tanya Sakura kepada Sasuke.

"Dia? Kau tak perlu tahu. Dia bukan urusanmu," kata Sasuke. Sasuke meletakkan kedua tangan Hinata di pundaknya. Dia mengangkat tubuh Hinata. Sasuke menggendong Hinata di belakang punggungnya.

"Minggir, aku mau lewat," kata Sasuke pada Sakura. Sakura pun menyingkir dari jalan Sasuke, membiarkan Sasuke berjalan melewatinya dengan menggendong Hinata.

"Sasuke-niisan, konbanwa," sapa seorang gadis manis berambut coklat. Gadis itu melabaikan tangannya.

"Hana-chan, konbanwa. Kenapa Hana di sini?" tanya Sasuke.

"Aku menemani Nee-chan mencari uang. Oya, kapan-kapan ajari Hana bermain piano lagi ya?" tanya gadis bernama Hana.

"Permainan piano Hana sudah bagus, kok. Gak perlu kakak ajari," kata Sasuke.

"Yang kakak gendong itu siapa?" tanya Hana.

"Dia temanku. Namanya Hinata," kata Sasuke.

"Wah, namanya mirip dengan nama kakakku," kata Hana.

"Hana, kapan-kapan kita bicara lagi, ya. Kakak harus pulang," kata Sasuke yang langsung berjalan keluar bar.

Sasuke berjalan menuju apartemennya. Dia berjalan agak gontai tapi kakinya masih kuat menahan tubuhnya dan Hinata agar tidak jatuh

"Hanabi," gumam Hinata dalam tidurnya. Sasuke tersenyum beberapa saat.

"Hey, Pemabuk, beratmu berapa, sih?" tanya Sasuke kepada Hinata yang tidur nyenyak dalam gendongannya.

/..\\

Cahaya matahari pagi menembus ke dalam ruangan melewati celah-celah kain yang menutupi jendela. Cahaya itu menyinari dua insan yang sedang menggeliat tidur di dalam selimut di ranjang yang sama.

Ranjang yang sama?

Hinata menggeliat dalam tidurnya. Dia membalikkan tubuhnya dan menyamankan tidurnya. Tetapi Hinata berbalik ke arah cahaya matahari datang. Karena merasa matanya silau, Hinata membuka matanya. Dia pun langsung menangkap sosok Sasuke di depannya. Dia masih bingung kenapa makhluk itu ada di depannya. Dia melihat dada Sasuke yang tak tertutupi oleh selimut. Dadanya yang mulus terekspos jelas. Matanya membulat.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." Hinata berteriak begitu kencang sehingga Sasuke membuka matanya dan...

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."

/bersambung\\

Mikky : Kabuuuuuuuuuuuurrrrrrrr... *lari seribu langkah*

Chocolatos : Mikky-sama... tungguuuu... *lari ala singa*

Mikky : jangan timpukin gua, kasih review ajaaaaaa... *masih lari*