Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Married By Alcohol © Mikky-sama

Genre :

Drama, romance

Rated :

T

Warning :

AU, maybe OOC

A/N :

*tengok kanan-kiri* Ada yang mau nimpukin Mikky, kah? *sembunyi di belakang Choco* *dilempari kolor* Oke, Mikky minta maaf kalau lama update *sembah sujud*

By the way, Mikky belum cerita asal muasal fiction ini.

Jadi, ini terinspirasi dari drama yang pernah Mikky lihat saat masih kecil. Nenek Mikky suka nontonnya dan karena saat itu di rumah nenek cuma ada satu televisi, jadi harus gantian. Eh, entah kenapa ceritanya masuk ke dalam otak Mikky. Tapi Mikky ingatnya cuma si pemeran cowok dan cewek bangun dan teriak di ranjang yang sama. Gak inget alasannya kenapa mereka di situ. Mungkin juga karena mabuk. Mikky lupa. Mikky pengen lihat drama itu lagi. Drama itu ngingetin Mikky sama nenek Mikky yang sudah almarhum. Mikky kangen nenek yang selalu lihat drama di channel ikan terbang. Oke, it's not important.

BRDRA (Balasan Review Dari Readers Anonymous)

R : "Aaaaaaa apa yg dilakukan sasu terhadap hinaatttaaa ? Aaaa penasarannn lanjutkannn yaaa jgn ngegantung OKE ? :)"

kira-kira apa, ya? Yang dilakukan Sasuke? Dirimu bisa menebak, kok XD ngegantung, ya? *muka innocent* tapi kayaknya bakal ngegantung terus, deh *dilempar golok* oke, makasih review-nya..

dark san bary : (review empat kali hanya dengan kata 'lanjutkan dan keren' =w=)

hm... udah, nih. Masa fiction abal kaya gini keren. Kalau menghina jangan keterlaluan *maksud loe?* oke, makasih review dan pujiannya

lollytha-chan gagal login : "yang dngan saku itu hanabi kan? Apdet ya ~"

aku panggil gagal aja, yah *nunjuk anonymous name* kasih tahu, gak, ya? Yang sama Sakura itu siapa, ya? Author mendadak amnesia, nih *digolok*

n : "mana tuh author-san seenaknya aja bersambung~megang pentungan sambil celingukkan~"

AMPUN, KAKAAA~AK... *lari ke kantor polisi*

Lavender : "kyaaa,, kerendd,, nggak nyangka qlo sasuke jd manis. jadi,, apdet'a jangan lama" yya #senyum iblis sambil nodongin shotgun sama bazoka"

udah update, nih. Tapi turunkan senjatamu dulu *bawa pasukan polisi yang bawa pistol*

Yui-chan : "Salam kenal.. Aku suka ceritamu yg ini author-san. Jd SasuHina melakukan 'itu' ya pas lg mabuk. Trus mereka menikah nanti nya. Semoga mereka bahagia. En kaya nya Sasu udah suka duluan ya sm Hina. Oya author-san,kasih pelajaran tuh sm ayah nya Hina krn udah menelantarkan 2 darah dagingnya sendiri. Jd gemes aku sm org tua ky gitu..^^ Dari pd aku nulis yg gak jls gini,apdet kilat ya~ Aku tunggu"

wah, makasih sudah menyukai cerita abal, gaje dan aneh ini. Hm... kayaknya mereka gak langsung menikah, deh. Haha, ikutin aja ceritanya *dirajam* aku gak janji ngasih pelajaran ke Hiashi-sama. Kayaknya dia jadi orang yang yang egois dan lainnya. Mungkin nanti—gak tahu chapter berapa—dia bakal menyesal. Tapi, kayaknya dia gak merestui si Sasuke sama Hinata

Shyoul lavaen : "Ah brsmbng pa wktu yg bsa bkin yg trjdi ma mreka brdua?knpa sasu bsa knl ma hanabi?d"sini sasu te2p anakny fugaku kan?emang sasu g"tau lau hanabi tu adiknya hina dri ayahny?pa yg trjdi ma hana smpai2 dy hlang?bnyak skali teka-teki d"chap ni,smuany msih smar2 ya..q jdi pnsaran trusannya,lnjut ya...jgn lama2 n chap dpan d"pnjangin ya..slam kenal.^_^"

aduh, apa, ya? Kok banyak yang tanya itu, sih? Kira-kira aja deh, apa yang dilakukan pasangan aneh ini *di-chidori Sasuke* oh my, aku dibrondong pertanyaan buanyak sama si Shyoul. Bingung jawabnya. Sasuke tetep anaknya Fugaku, kok. Masalah Hanabi nanti juga terkuak. Kalau diceritain nanti gak seru *ditendang*

Citrus : "Ceritanya bgs sekali.. Lanjutin yah.. Terus, updatex cpten yah... Nggak sabar.. :D"

bagus dari dengkul? Fiction jelek kaya gini dibilang bagus DX

Sasuhina-caem : "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Lanjut"

bbbbbbbbbbbbbbbbbbbb... *bingung jawab apa*

_ Married By Alcohol _

"Kyaaaaaaaaaaaa..."

"Aaaaaaaaaaaaaa..."

"Apa yang kau lakukan di sini?" kata Hinata seraya meneriaki Sasuke. Dia bangun terduduk seraya menutupi area dadanya dengan selimut putihnya. Nampaknya dia sudah tahu kalau dia... ehem, telanjang.

"Sepertinya kita kelewat batas," kata Sasuke seraya memegangi kepalanya yang terasa pening. Kaki kanannya ditekuknya dan tangan kanannya bertumpu pada kaki kanannya.

"A-apa maksudmu? Ki-kita me-mela-kukannya?" tanya Hinata tergagap. Matanya membulat tak percaya.

"Entahlah," jawab Sasuke.

Hening. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Hinata hanya merutuki dirinya sendiri dalam pikirannya dan begitu pula Sasuke. Perut Hinata mulai terasa tidak enak karena bir yang diminumnya kemarin. Jika hanya tiga gelas, mungkin perutnya tidak mual dan perih seperti ini. Sayangnya, dia minum tiga botol. Sedangkan Sasuke yang hanya minum tiga gelas—dua gelas setengah tepatnya—sudah pusing tidak jelas dan perutnya agak aneh.

"Se-sekarang, ba-bagaimana kita keluar dari sini?" tanya Hinata.

Benar juga. Bagaimana mereka keluar dari selimut mereka sedangkan mereka sendiri telanjang? Dan sekarang mereka sudah dalam keadaan sadar. Meskipun mereka sudah—mungkin—melakukan kalian-tahu-harus-menyebutnya-apa, mereka juga malu jika melihat tubuh, ehem, telanjang satu sama lain. Dan tidak mungkin juga mereka berdiam diri di situ untuk selamanya.

"Eh, em, tutup matamu," perintah Sasuke kepada Hinata dengan nada dingin. Hinata pun menutup mata seraya memalingkan wajahnya. Wajahnya sudah sangat merah sekarang. Menahan marah, tangis dan malu—mungkin.

Sasuke mengambil celana panjang—yang dipakainya kemarin—yang tercecer tidak jauh dari tempatnya. Dia memakai celananya. Sekarang, dia telah memakai celananya dan tubuhnya terekspos menampakkan perut yang membentuk pack dan dada bidangnya.

Sasuke mengambil kemeja yang ada dalam lemarinya. Dilemparkannya kemeja yang diambil itu kepada Hinata. Dengan ragu Hinata membuka sebelah matanya. Hinata bernafas lega karena Sasuke sudah terbebas dari selimut yang menahan mereka.

"Pakailah kemeja itu dulu untuk menutupi tubuhmu," kata Sasuke. Mengingat Hinata dibawanya dengan memakai kaos oblong. Ya, kalian tahu, kan? Kalau memakai kaos harus menggunakan kedua tangan dan mengangkatnya? Sedangkan Hinata berusaha mati-matian menutupi tubuhnya. Beda dengan kemeja yang tidak susah-susah mengangkat tangan.

Hinata segera memakainya dan Sasuke berjalan keluar kamarnya dan menuju kamar mandi yang berada di ruang tamu apartemennya. Sasuke kini berada di kamar mandinya. Dia melihat wajahnya sejenak yang terpantul dari cermin di depannya. Tampak kacau. Dia meletakkan tangannya di bawah kran dan secara otomatis air mengalir. Dia membasuh wajahnya. Dia menatap kembali wajahnya pada cermin di depannya.

"Selamat, Sasuke. Kau melakukan hal terbodoh dalam hidupmu," kata Sasuke pada dirinya sendiri. Dia mengepalkan tangannya yang tertumpu pada wastafel kamar mandinya. "Kau sadar siapa dirimu dan siapa dirinya? Kau tahu siapa ayahmu, Sasuke? Kau tahu siapa ayahnya?" sambungnya yang masih bicara sendiri. Dia menautkan kedua alisnya.

"Ayahmu, Uchiha Fugaku, kepala dokter di rumah sakit terbesar di negara ini. Ayahnya, Hyuuga Hiashi, pengusaha sake terbesar di negara ini. Kalau ini diketahui media, apa yang mereka katakan?" kata Sasuke. Seperti ada sisi lain dari Sasuke yang bicara. "Kau bisa-bisa ditendang dari bumi oleh ayahmu," kata Sasuke merutuki dirinya sendiri.

Tiba-tiba dia mendengar pintu yang dibanting.

Blam.

Sasuke keluar dari kamar mandinya. Dia melihat ke dalam kamarnya dan Hinata sudah tak ada di situ. Dia mengambil kemeja yang terjejer rapi di lemarinya kemudian memakainya. Dia mengambil kunci apartemennya dan mobilnya di berjalan setengah berlari ke luar apartemen. Dia menutup pintunya dan secara otomatis pintu tersebut terkunci.

Dia masih bisa melihat punggung Hinata yang pergi menjauh. Dia memakai kemeja Sasuke yang kebesaran di tubuhnya dan mengenakan celana pendek yang dikenakannya kemarin. "Hinata!" panggil Sasuke setengah berteriak. Karena tak ada jawaban Sasuke mengejarnya. "Hinata!" panggilnya lagi.

Hinata membalikkan tubuhnya. Terlihat wajahnya merah dan air bening mengalir di pipinya. Hinata mangusap air yang mengalir di pipinya. "A-aku mau cari angin," katanya dengan sesenggukan yang ditahannya. Sasuke memandang Hinata datar. Hinata terkekeh melihat penampilan Sasuke.

"Kenapa?" tanya Sasuke yang melihat Hinata tertawa lirih di depannya.

"Lihat kancing kemejamu," kata Hinata.

Sasuke melihat kemejanya. Dia menyisakan satu kancing di bawah. Itu membuat salah satu kerah kemejanya tinggi sebelah. "Oh, eh, sisa satu," katanya seraya menahan malu. "Kau mau ke atap bersamaku?" tanyanya kepada Hinata.

"Hm..." balas Hinata nampaknya menyetujui.

Sasuke berjalan dan menarik pergelangan tangan Hinata. Mereka berjalan ke arah lift terdekat dan Sasuke menekan tombol di samping pintu lift. Pintu itu terbuka. Mereka masuk ke dalam lift itu. Sasuke menekan tombol paling atas. Dan lift itu membawa mereka ke lantai teratas dari gedung itu.

Saat dalam lift, Sasuke membenahi kancing baju yang salah dikenakannya. Dia melepas satu kancing, memasukkan ke dalam lubang yang benar, melepas satu, masukkan satu. Hanya kegiatan yang diulang-ulang.

Saat pintu terbuka, mereka keluar dan berjalan menuju tangga yang mengantarkan mereka di atap gedung itu. Pintu warna merah itu pun dibukanya.

Angin sejuk menerpa wajah keduanya. Jam tujuh pagi, matahari sudah memancarkan sinarnya dan sinarnya itu menyentuh kulit putih mulus kedua insan yang baru keluar dari pintu atap gedung.

Hinata berjalan ke arah pinggiran gedung. Dia melihat arah bawah dan dia melihat orang-orang yang terlihat kecil lalu lalang. Sasuke menghampiri Hinata yang sedang melihat jalanan kota Tokyo yang sibuk di pagi hari.

"Kau tak mau teriak?" tanya Sasuke seraya melempar pandangan kepada Hinata masih dengan gaya cueknya. Sedikit aneh bagi Hinata karena dipertemuan sebelumnya, Sasuke yang memasang wajah bak malaikat tiba-tiba cuek.

"Eh?"

Sasuke menghadapkan kepalanya ke depan. "Aaaaaaaaaaaa..." Sasuke berteriak seolah memberi contoh kepada Hinata. "Seperti itu. Orang-orang tak akan mendengarnya," katanya kemudian yang mengalihkan pandangannya kepada Hinata. Hinata mengangguk mengerti.

Hinata memandang ke depan. Hinata menarik nafas dalam-dalam sebelum dia berteriak. "Mamaaaaaaaaaaaa..." teriaknya. "Aku merindukanmuuuuuuu!" sambungnya. "Aku sangat merindukanmuuuuuu!".

"Itachi... Aku merindukanmu. Apa kabarmu di sana?" teriak Sasuke yang juga menghadap ke depan kemudian memandang Hinata. Hinata juga mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. Hinata melemparkan senyum kepada Sasuke.

"Terimakasih," kata Hinata pada Sasuke. Sasuke menyambutnya dengan senyum tipis.

"Oh, ternyata kau yang membangunkanku di atap, Teme. Teriakanmu itu sangat menyebalkan," kata seseorang dari belakang.

"Teme?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. Salah satu alisnya naik. Sudah terlihat jelas, dia bingung. Dia mencari sumber suara itu.

Sasuke membalikkan badannya dan mendapati seseorang rambut kuning bersandar di ambang pintu. "Dobe," gemam Sasuke. Wajahnya yang datar sulit untuk diartikan.

"Ini akan jadi berita bagus di kampus," kata si rambut kuning seraya memandangi dua makhluk berwarna rambut senada. Tangannya dilipatnya di depan dadanya dan salah satu kakinya menyangga beban tubuhnya sedangkan kaki lainnya ditekuknya ke samping.

"Awas saja jika kau berani, Naruto," kata Sasuke mengancam dan menekankan pada sebuah nama yang sepertinya itu adalah nama si rambut kuning.

"Oh, aku takut," kata rambut kuning yang bernama Naruto seraya berakting ketakutan. "Che, menyedihkan," gumamnya seraya berdecih. Dia membalikkan badan dan jalan ke arah pintu yang menghubungkan gedung dengan atap gedung. Baru beberapa langkah, Naruto membalikkan badannya. "Ngomong-ngomong, pacarmu manis juga," kata Naruto yang kemudian membalikkan badannya kembali seraya berjalan masuk ke dalam gedung. Naruto menyeringai setelah beberapa langkah dia menuruni tangga.

Hinata yang diam sedari tadi sedikit merona. Entah siapa yang dibilang manis oleh si rambut kuning tapi dia merasa dirinyalah yang dimaksud.

"Che, merepotkan," gumam Sasuke. Dia berjalan ke arah bangku panjang di situ. Mungkin karena lumayan banyak yang ke atap gedung, karena itu pihak pengelola apartemen memberinya bangku.

Sasuke duduk di bangku itu. Hinata mengikuti apa yang dilakukan Sasuke dan dia duduk di sebelah kanan Sasuke. Sasuke menumpukan kedua tangannya pada kedua lututnya. Hinata menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku itu.

"Maaf," kata Sasuke yang lebih mirip kicauan burung di pagi yang sunyi. "Maaf atas kejadian yang aku sendiri lupa," sambung Sasuke. Dia mengalihkan pandangannya kepada Hinata. Air mengalir di kedua pipinya. Dia menangis dalam hening.

"Aku takut," kata Hinata dengan suara agak bergetar. Matanya lurus memandang depan. Sasuke memandangi Hinata dengan posisi yang tak berubah.

Sasuke mengubah posisinya. Tangan kanannya mengambil kepala Hinata dan diarahkannya pada dada bidangnya dengan lembut. "Sudah kubilang, jika menangis bersuaralah. Itu akan membuatmu lega," kata Sasuke. Tangan kirinya melingkari pinggang Hinata yang ramping sedangkan tangan kanannya menepuk pundak Hinata sesekali membelai rambut Hinata.

"Aku takut," kata Hinata seraya mencengkram erat kemeja Sasuke bagian pinggang. "Aku takut kepada ayahku," sambungnya. Kini Hinata menangis dalam pelukan Sasuke. Bukan tangisan tak bersuara lagi.

"Aku akan bertanggungjawab jika sesuatu terjadi padamu," kata Sasuke menenangkan. Tangannya masih sibuk menepuk-nepuk pundak Hinata. "Meskipun tak terjadi apa-apa aku tetap bertanggungjawab."

"Neji-niisan, gomen. Maafkan aku," gumam Hinata dalam tangisnya.

Sudah cukup lama mereka mempertahankan posisi itu, sampai akhirnya ponsel Hinata berdering. Seseorang menelponnya. Mereka melepaskan pelukan mereka.

"Moshi-moshi," sapa Hinata pada penelpon. Dia menyedot cairan dalam rongga hidungnya sehingga suara 'srot' terdengar. Dia juga menghapus air matanya yang membuat jejak samar di pipinya.

"Halo, Hinata kau habis nangis?" tanya seseorang yang menelponnya. Mungkin karena mendengar bunyi 'srot' tadi.

"Ah, Kiba. Tidak, aku tidak menangis. Aku hanya sedikit pilek. Mungkin aku mau flu," kata Hinata seraya tertawa yang dibuat-buat.

"Begitukah? Lalu, semalam kau tidur dimana? Kenapa kemarin tidak ke tempat kerjaku? Aku menunggu sampai larut tapi kau tak datang, kukira kau menunggu di apartemen," Kiba membrondong Hinata dengan pertanyaan yang Hinata bingung menjawabnya.

"A-aku men-mencari tempat tinggal. Aku gak mungkin terus tinggal bersamamu," kata Hinata berhasil berbohong.

"Lalu kau sudah dapat tempat tinggalmu?" tanya Kiba.

"Eh, itu... aku sudah dapat tapi belum dapat. Maksudku, aku sudah menemukan tempatnya tapi aku masih tawar-menawar dengan pemilik rumah," kata Hinata bohong lagi. Dia menggigit bibir bagian bawahnya.

"Oke, jika kau mau mengambil barangmu hubungi aku. Aku sedang mau keluar apartemen dan aku tidak bisa menitipkan kunci kepada tetanggaku. Dia mau pergi juga," jelasnya.

"Oke," kata Hinata mengerti. Dan percakapan pun berakhir. Hinata menutup ponselnya dan menaruhnya kembali dalam saku celananya. Wajahnya terlihat lelah.

"Ada masalah?" tanya Sasuke yang masih di sampingnya. Dia menumpukan kedua siku tangannya pada lututnya kembali.

"Aku harus cari apartemen untuk tinggal," jawab Hinata. Dia bermain-main dengan jemarinya.

"Ke-kenapa tidak tinggal bersamaku saja?" tawar Sasuke. Dia bersandar pada sandara yang ada di situ. Dia memalingkan wajahnya ke arah Hinata.

"Eh? Bersama?" kata Hinata seraya menatap Sasuke.

"Hn."

"Apa orang tuamu tidak akan curiga kau tinggal dengan seorang gadis?" tanya Hinata yang terdapat rona merah di pipinya.

"Ayahku tidak peduli denganku sedangkan ibuku, aku bisa menanganinya," kata Sasuke seraya tersenyum tipis ke arah Hinata. Sasuke menghadapkan kepalanya ke depan.

"Ba-bagaimana aku bisa tahu kau orang baik? Dan apa kau tidak curiga kepadaku? Bagaimana kalau aku bukan gadis baik?" kata Hinata. Dia masih menatap Sasuke dari samping.

"Aku sudah berjanji aku akan bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi padamu. Apa itu kurang jelas?" kata Sasuke.

"Oh, jadi kau percaya padaku? Bagaimana kalau aku adalah pencuri?" kata Hinata.

"Hn, itu tidak mungkin," kata Sasuke. Kecuali yang dimaksud pencuri itu pencuri hati seseorang, mungkin itu iya.

"Bagaimana kalau aku adalah anak seorang mafia?" tanya Hinata.

"Sudahlah, aku tahu itu semua tidak mungkin," kata Sasuke.

"Kau tahu?" tanya Hinata heran.

"Hn," kata Sasuke.

"Ba-bagaimana kalau teman kuliahmu tahu?" tanya Hinata.

"Mereka tidak akan tahu. Lagi pula aku tak peduli," kata Sasuke.

"Bagaimana aku bisa nyaman dengan seseorang yang baru aku kenal? Bagaimana aku bisa begitu saja percaya padamu?" tanya Hinata.

"Aku tidak akan kabur. Jika aku lari, aku akan merusak image ayahku," jelas Sasuke.

"Ayahmu?"

"Ya, ayahku. Uchiha Fugaku, kepala dokter di rumah sakit terbesar di negara ini," kata Sasuke.

"Eh, Uchiha Fugaku," ulang Hinata. Dia merasa tak asing dengan nama itu. Tapi dia lupa pernah mendengarnya di mana—kurasa lebih tepatnya membaca.

"Hn. Bagaimana? Daripada kau membuang uangmu untuk menyewa kamar," kata Sasuke.

Hinata memainkan jarinya. Dia bingung. Jika tinggal bersama Sasuke, orang yang baru dikenalnya, dia agak ragu. Dari tampang Sasuke, dia memang bisa dipercaya. Tapi, tampang tidak bisa menjamin.

"Kau masih ragu?" tanya Sasuke yang melempar pandangannya kepada Hinata.

"Hm," kata Hinata yang entah itu jawaban iya atau tidak.

"Kalau begini bagaimana?" tanya Sasuke. Dia mengubah posisinya kembali. Dia megulurkan jari kelingkingnya kepada Hinata.

"Eh?" Hinata pun kebingungan dengan yang dilakukan Sasuke.

"Aku janji," kata Sasuke yang masih dengan kelingking tangan kanannya yang mengarah kepada Hinata.

Dengan ragu Hinata menyambut kelingking Sasuke dengan manautkan kelingkingnya sendiri.

"Aku seorang Uchiha. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku," kata Sasuke seraya tersenyum ke arah Hinata. Hinata hanya menunduk malu.

w Married By Alcohol w

Hinata berdiri di depan pintu apartemen seseorang. Dia memakai kaos biru milik Sasuke yang sudah pasti kelonggaran di badan Hinata dan dia memakai celananya yang dipakainya kemarin. Ya, terpaksa. Dia ke bar tidak membawa kopernya, kan?

"Kiba, ini aku. Kau di dalam?" panggil Hinata seraya mengetuk daun pintu sebuah kamar apartemen.

Tak lama kemudian keluar seorang pemuda dengan muka malasnya—sepertinya dia baru bangun tidur. Pemuda itu memiliki tanda segitiga di pipinya. Dia hanya memakai celana jeans-nya dan kaos oblong berwarna merah.

"Kau lama sekali Hinata. Aku sampai tertidur," kata pemuda yang dipanggil Kiba seraya menguap karena mengantuk.

"Gomen gomen. Aku tinggal mengambil koper dan tas ranselku, kan?" tanya Hinata kepada Kiba yang langsung masuk ke dalam apartemennya.

"Aku letakkan dalam lemari kamarku," kata Kiba seraya menutup pintu apartemennya. "Ngomong-ngomong, baju siapa yang kau pakai?" tanya Kiba yang melihat Hinata memakai kaos yang longgar.

Hinata yang memegang handle pintu berhenti dan memandang Kiba. "Punya teman satu kamarku," jawab Hinata mengangkat alisnya.

Hinata langsung menarik handle pintu dan masuk ke dalam kamar Kiba tanpa permisi. "Ya ampun, kamarmu berantakan lagi," kata Hinata melihat kamar Kiba yang seperti kapal pecah. Baju dan kemeja berserakan tak beraturan.

"Aku tadi terburu-buru. Jadi aku buang baju kotorku ke sembarang tempat. Dan aku belum membersihkan tempat tidurku," kata Kiba.

"Belum genap satu hari aku membersihkan kamarmu," kata Hinata seraya melihat jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya.

"Hehehe... Ngomong-ngomong, sekarang kau tinggal di mana?" tanya Kiba.

"Eh, d-di... di apartemen dekat kampus," kata Hinata. Hinata berjalan menuju lemari Kiba dan membukanya. Dia berusaha mengeluarkan kopernya dan tas ranselnya.

"Benarkah? Kalau begitu aku kapan-kapan ke sana," kata Kiba seraya bersandar di ambang pintu kamarnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Ja-jangan!" larang Hinata seraya melambaikan kedua tangannya.

"Kenapa?" tanya Kiba seraya berdiri tegak—tidak bersandar di ambang pintu.

"Karena... pemilik apartemen tidak membolehkan anak laki-laki masuk," kata Hinata berbohong.

"Oh," kata Kiba hanya ber-oh-ria.

"Kenapa semakin berat saja," rutuk Hinata saat menyeret kopernya. Kiba berjalan ke arah Hinata yang sedang kesusahan membawa kopernya. Kiba membawa koper Hinata keluar kamarnya.

"Kau tak mau bersantai dulu?" tanya Kiba.

"Tidak, aku buru-buru. Ada yang harus aku selesaikan," kata Hinata berbohong. Dia mengambil kopernya dan tas ranselnya sudah dipakainya.

"Kau tak mau kuantar?" tawar Kiba.

"Tidak usah. Aku bisa memesan taxi," kata Hinata dengan senyum menawannya yang tak lupa semburat merah muda di pipinya.

"Kau yakin?" tawar Kiba sekali lagi.

"Iya," kata Hinata beranjak untuk berjalan dan membawa kopernya. Dia berhenti saat akan melewati daun pintu apartemen Kiba. Dia membalikkan badannya dan berkata, "Kiba, jika kau lapar buatlah sesuatu yang lain jangan hanya makan ramen instant," kata Hinata seraya menunjuk tong sampah dengan dagunya.

Kiba tersenyum pada Hinata. "Memang kau siapa? Ibuku?" kata Kiba bercanda.

"Ya sudah, makanlah ramen sampai perutmu keriting," kata Hinata dengan wajah sebalnya. Kiba hanya tertawa lirih melihat wajah sebal Hinata. Menurutnya, itu manis.

"Oke, aku akan makan ramen sepuasku," kata Kiba yang membuat Hinata berdecih kesal.

"Aku pergi," kata Hinata berpamitan.

"Sampai jumpa. Besok akan kukerjain saat kau ospek," kata Kiba. Dia memberian seringaian kepada Hinata. Hinata hanya menjulurkan lidanya kepada Kiba seakan menantang Kiba.

Hinata berjalan menuju lift seraya menyeret kopernya. Memencet tombol yang berada di dekat pintu lift. Saat terbuka dia menekan lantai satu. Lift berjalan naik turun. Beberapa orang sudah keluar, beberapa ada yang masuk. Sekarang, lift berhenti di lantai tujuan Hinata. Dia pun keluar. Berjalan menuju lobby dan tak lupa dia membawa kopernya.

Di luar, Sasuke menunggu. Dia langsung mendekati Hinata yang sudah tertangkap matanya. Dia membawa koper Hinata yang tampaknya berat. Sasuke membawanya ke arah mobil hitam yang terparkir di lobby—mobil Sasuke. Hinata berjalan setelah Sasuke. Sasuke masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Hinata.

Hinata duduk di bangku penumpang sebelah bangku pengemudi yang diduduki Sasuke. Dia melemparkan tas ranselnya ke bangku belakangnya. Sasuke yang melihat Hinata masuk hanya menatap Hinata. Dan Hinata yang merasa diamati melempar pandangannya pada Sasuke.

"Kenapa?" tanya Hinata bingung.

Sasuke mencondongkan dirinya pada Hinata. Tangannya seperti hendak meraih kepala Hinata berjalan lurus. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Hinata. Hinata yang kaget hanya membulatkan matanya dan menahan nafasnya, badannya pun kaku. Sudah dapat dipastikan wajahnya panas. Sasuke mengambil seatbelt Hinata dan menariknya sehingga melingkari Hinata.

Ctik.

Ctik.

Sasuke pun memakai seatbelt-nya kemudian menyalakan mobilnya. Dikemudikannya mobil berwarna hitam itu. Hinata memandangi Sasuke, dia masih kaget kejadian Sasuke menarik seatbelt-nya. Entah apa yang dipikirkannya. Tanpa disadari, Hinata memandangi Sasuke lama hingga Sasuke membuyarkan lamunannya.

"Sampai kapan kau memandangiku?" tanya Sasuke yang membuat Hinata mengalihkan pandangannya.

Hinata hanya memandang ke depan selama sisa perjalanan. Mengamati toko yang berjejer di sepanjang jalanan Tokyo.

Tiba-tiba hujan mengguyur mobil Sasuke. Hujan di awal musim semi. Hujan yang menyejukkan sebelum datangnya musim panas.

"Kau mau makan?" tanya Sasuke kepada Hinata. Dia masih sibuk dengan kemudinya.

"Terserah kau saja," kata Hinata seraya menulis sesuatu di kaca mobil yang sedikit berembun karena hujan.

"Kau mau makan apa?" tanya Sasuke.

"Aku ikut seleramu saja," jawab Hinata. Saat ini, Hinata sedang malas untuk berbicara. Dia hanya bisa menjawab dengan jawaban yang singkat.

"Kau tidak berselera makan?" tanya Sasuke dan hanya dijawab gelengan kepala dari Hinata. "Baiklah kita langsung pulang," kata Sasuke akhirnya.

"Ah, kita berhenti di supermarket dulu," pekik Hinata. Sasuke pun mencari-cari supermarket. Mungkin saja mereka melewatinya.

Mobil Sasuke berhenti dan memarkirkan mobilnya di lahan parkir yang tersedia. Sebenarnya dia tidak tahu dimana supermarket-nya. Dia jarang ke supermarket. Jadi, mereka berhenti tidak langsung menuju ke tempat tujuan, melainkan mencari tujuan mereka—supermarket.

"Ayo, kita cari dulu. Aku tidak tahu di mana supermarket-nya," kata Sasuke santai.

"Oh, oke," kata Hinata lesu. Dia hendak membuka pintu tetapi Sasuke menghentikan kegiatannya.

"Tunggu, aku akan menjemputmu," kata Sasuke.

Sasuke mengambil payung yang berada di bangku penumpang bagian belakang. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke sisi lain mobil. Dia membuka pintu mobilnya dan Hinata keluar dari mobil.

"Kukira kau sudah tahu tempatnya," kata Hinata yang beranjak untuk berjalan menyesuaikan langkahnya dengan langkah Sasuke.

"Hn," balas Sasuke.

Mereka berjalan beriringan di bawah payung biru yang dipegang Sasuke. Mereka berjalan mengitari kota Tokyo yang terdapat toko-toko yang berjejeran sepanjang jalan.

Ctarr!

Kilatan cahaya terlihat sebelum suara itu menggelegar di ruang itu. Beberapa orang berteriak karena kaget. Tetapi tidak untuk si rambut indigo bernama Hinata. Dia tidak berteriak. Melainkan dia meringkuk jongkok seraya menutupi telinganya. Sasuke yang mengetahui akan hal itu berdiri di depan Hinata.

"Kau kenapa?" tanya Sasuke yang kemudian ikut jongkok di depan Hinata dengan payung masih ada di tangannya. "Hinata?" panggilnya.

Hinata mengangkat wajahnya. Terlihat dia menangis. Pipinya basah karena cairan hangat dari matanya. "Sasuke, aku takut. Suaranya masih terdengar meski aku sudah menutup telingaku," rengeknya pada Sasuke.

"Berdirilah," kata Sasuke. Sasuke berdiri dari sikap jongkoknya dan disusul Hinata. Kakinya bergetar dan badannya seperti menggigil.

Sasuke menarik tangan Hinata dan Hinata jatuh dalam pelukan Sasuke. Lengan tangan kanan Sasuke menutup telinga Hinata sedangkan tangan kirinya bertahan membawa payung. Tapi karena dia menyadari sebagian tubuh Hinata tidak tertutupi payung, dia memegang payungnya dengan tangan kanannya. Membiarkan tubuhnya yang terkena bulir air hujan. Mereka berjalan dengan posisi begitu.

"Apa petirnya terdengar?" tanya Sasuke pada Hinata.

"Tidak," jawab Hinata seraya mengelengkan kepalanya. Sasuke hanya tersenyum tipis.

Beberapa orang melihat Sasuke dan Hinata hanya berbisik-bisik kepada sebelahnya. Beberapa orang hanya melihati tanpa berbuat apa-apa.

"Apa masih ada kilat dan guntur?" tanya Hinata yang masih berjalan dengan dipeluk Sasuke.

"Hn, iya," jawab Sasuke seraya tersenyum. Sebenarnya hujan sudah mulai reda. Entah kenapa Sasuke menjawab iya. Tanyakan sendiri pada orang itu.

Setelah lama mereka berjalan, Sasuke akhirnya menemukan supermarket yang mereka cari. "Sudah sampai," kata Sasuke melepaskan pelukannya.

Wajah Hinata yang merah mulai mereda. Dia menatap langit yang mulai cerah kembali.

"Katanya masih ada kilat dan guntur," kata Hinata yang melihat langit yang mulai membiru. Sasuke hanya mengangkat bahunya.

"Ayo," kata Sasuke seraya menarik lengan Hinata.

Mereka masuk ke dalam supermarket yang lumayan besar. Sasuke menitipkan payungnya di dekat penitipan barang. Di situ ada tempat payung dan beberapa payung milik pengunjung. Mereka masuk ke dalam supermarket. Hinata pun mengambil beberapa makanan dan di masukkannya ke dalam trolley-nya.

"Untuk apa kau membeli banyak makanan?" tanya Sasuke seraya melihat Hinata mengambil beberapa sayuran. Sasuke mendorong trolley Hinata.

"Ya untuk dimasak," jawab Hinata yang masih enjoy dengan memilih sayurannya.

"Aku juga tahu itu," kata Sasuke.

"Gitu tanya," kata Hinata. Dia mendengar Sasuke berdecih sebal. "Kulkasmu tidak sayuran atau makanan yang bisa dimasak. Jadi, kita beli ini semua," terang Hinata yang mengingat kulkas Sasuke hanya berisi minuman bersoda.

"Biasanya kalau makan aku di luar. Kadang-kadang ibuku membawakan makanan dari rumah," kata Sasuke seperti membela dirinya.

"Jangan terlalu sering makan di luar. Belum tentu kualitasnya bagus, belum lagi MSG yang banyak. MSG salah satu penyebab kanker otak," kata Hinata seperti menggurui Sasuke.

"Iya, Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo," kata Sasuke seraya mengejek Hinata.

"Che, weeek," Hinata berdecih kemudian menjulurkan lidahnya kepada Sasuke. Dia pun berpindah tempat untuk mencari bahan makanan lainnya.

"Anak ini," gerutu Sasuke seraya mendorong trolley-nya. "Ambilkan aku tomat," teriaknya pada Hinata yang berjalan lumayan jauh di depannya.

"Tidak mau," kata Hinata.

"Anak bandel ini," geram Sasuke yang mengejar Hinata seraya mendorong trolley-nya.

Tak lama kemudian mereka sudah selesai berbelanja. Mereka pun menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka. Hinata mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Mereka pun keluar dengan membawa belanjaan mereka.

Sasuke membawa dua kantong plastik di kedua tangannya sedangkan Hinata membawa payung biru Sasuke. Hinata jalan beberapa langkah di depan Sasuke. Sesekali Hinata menari dengan payungnya dan membuat Sasuke tertawa lirih dengan gerakan Hinata.

"Sasuke..." panggil seseorang di belakang mereka. Sasuke mengenali suara itu, Hinata pun ikut membalikkan badannya ke belakang.

Seorang wanita paruh baya mendekati Sasuke yang berhenti.

"Pergi!" perintah Sasuke pada Hinata dengan suara yang pelan.

"Sasuke, itu kau?" panggil wanita tadi kepada sosok Sasuke yan tidak langsung melihatnya.

"Kau bicara apa?" tanya Hinata yang tidak mendengar apa yang dikatakan Sasuke. Hinata pun mendekati Sasuke

"Stop! Pergi!" kata Sasuke yang sekarang hanya bibirnya yang bergerak, tak ada suara yang keluar.

"Kau kehilangan suaramu?" tanya Hinata yang sudah di dekat Sasuke.

"Sasuke, itu kau, kah?" kata wanita itu seraya membalikkan tubuh Sasuke.

"Oh, Ibu. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sasuke kepada wanita itu yang sepertinya dia adalah ibu Sasuke—Uchiha Mikoto.

"Seharusnya ibu yang bertanya begitu. Ibu mau ke apartemenmu," kata Mikoto. "Dan, siapa dia?" tanyanya seraya memandang Hinata. Hinata tersenyum manis kepada wanita itu.

"Aku tadi kan sudah bilang pergi," gumam Sasuke seraya mengenggam erat tas plastiknya.

"Ah, jangan-jangan itu pacarmu, ya?" tanya Mikoto dengan wajah memergoki.

"Ah, eh, itu..." Sasuke bingung harus menjelaskan apa pada ibunya.

"Ah, ngaku saja," kata Mikoto memojokkan Sasuke.

"Ah, eh, iya," kata Sasuke yang akhirnya menyerah karena malas berdebat dengan ibunya. Apalagi di jalanan yang basah ini.

"Ah! Sasukeku pacaran," kata Mikoto seraya mencubit pipi Sasuke. Sasuke yang dicubit pipinya hanya meringis menahan sakit di pipinya. "Namamu siapa, Manis?" tanyanya seraya membelai rambut indigo Hinata.

"Hinata, Hyuuga Hinata," jawab Hinata.

"Hyuuga? Hyuuga Hinata?" ulang Mikoto, seolah dia pernah mendengar nama itu.

"Hm," kata Hinata seraya mengangguk mantap.

"Pipimu putih mulus," kata ibu Sasuke seraya membelai kedua pipi Hinata. Hinata pun merona. "Ah, dia merona Sasuke," pekiknya seraya menoleh kepada Sasuke dan memukul bahu Sasuke.

"Ibu, sudah. Ini di jalan," kata Sasuke memperingatkan.

"Tidak mau, aku mau mengamati bonekaku sebentar," kata Mikoto yang sontak membuat pipi Hinata tambah merah. "Ah, lucu," katanya seraya mencubit pelan pipi Hinata. "Sasuke, boleh kubawa pulang?" tanya Mikoto pada anaknnya seraya melingkarkan tangan kanannya di sekitar pundak Hinata.

"Eh? Bawa pulang? Buat apa?"

"Buat dijadikan putri," kata Mikoto seraya tersenyum kepada Sasuke. "Ibu belum pernah merasakan punya anak gadis," sambungnya dengan ekspresi memohon.

"Tidak bisa, Ibu," kata Sasuke menggeleng kepalanya. Mikoto hanya memanyunkan bibirnya.

"Hinata-chan, kamu tinggal di mana?" tanya Mikoto pada Hinata.

"Eh, di apartemen Sasuke," jawab Hinata dan Sasuke hanya menundukkan kepala.

"Kalian tinggal bersama?" tanya Mikoto kepada keduanya. Terlihat sedikit kaget.

"Dia butuh tempat tinggal, jadi kutumpangi," kata Sasuke yang tidak bisa melancarkan aksinya untuk berbohong. Dia memandangi ibunya.

"Oh, baiklah. Ibu akan lebih sering ke apartemenmu," kata Mikoto pada Sasuke.

"Tapi, Bu, jangan bilang ayah, ya?" pinta Sasuke dengan kitty eyes.

"Hm... baiklah!" kata Mikoto menyetujui.

"Ibu kami harus kembali ke apartemen. Kami duluan, ya? Bye," kata Sasuke seraya menarik tangan Hinata dengan jemarinya yang bebas dari kantong plastik yang sedari tadi dibawanya. Mereka meninggalkan Mikoto yang berteriak gak jelas memanggil Sasuke.

"Ibumu baik," kata Hinata.

"Kau ini polos atau bodoh, sih?" tanya Sasuke yag sontak membuat Hinata kebingungan.

"Maksudnya?" tanya Hinata.

"Waktu ibuku tanya tempat tinggalmu," jawab Sasuke.

"Hm, entahlah. Aku kadang jadi sangat bodoh," kata Hinata mendeklarasikan pernyataan kebodohannya.

Mereka berjalan ke arah mobil hitam Sasuke. Sasuke membuka pintu jok belakang dan meletakkan belanjaan Hinata di situ bersama koper Hinata. Sasuke menutup pintunya dan berjalan ke sisi mobil dan membuka pintunya. Seperti semula, Sasuke berada di bangku pengemudi dan Hinata ada di sebelahnya. Mobil pun dinyalakan dan melaju di atas jalanan yang basah.

Mobil itu akhirnya sampai ke tempat tujuan. Si pengemudi menjalankan ke dalam gedung, memakirkannya di sana.

Dari mobil hitam yang sudah terparkir itu, keluarlah Sasuke dan Hinata. Hinata membawa belanjaan di kedua tangannya sedangkan Sasuke membawa tas koper dan tas ransel. Mereka berjalan ke tempat tujuan mereka.

Saat mereka melewati koridor yang panjang, tak sengaja mereka bertemu dengan orang yang tak ingin ditemui.

"Ayah," gumam Sasuke. Matanya terbelalak. "Hinata, menepi," kata Sasuke seraya mengenakan tudung jaketnya untuk menutupi kepalanya.

Sasuke mencari akal untuk menghindari ayahnya itu. Dan ada ide cemerlang menempel pada otaknya. Cemerlang tapi mematikan.

'Jika aku mati aku tidak akan menyesalinya,' pikir Sasuke. Dia menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Hinata.

Sasuke mengunci tubuh Hinata dengan kedua tangannya yang menempel pada tembok. Hinata yang mendapat perlakuan itu pun kaget dan semburat merah tipis bertengger di pipinya. Kedua tangan Sasuke ditekuknya sehingga mendekatkan wajahnya pada Hinata. Dimiringkannya kepalanya sehingga membelakangi orang yang dipanggil ayah oleh Sasuke. Wajahnya semakin dekat dengan Hinata. Hidung Sasuke menempel pada wajah Hinata dan bibirnya menempel pada milik Hinata. Sasuke menutup mata sedangkan mata Hinata membulat dan belanjaan yang ada di tangannya jatuh. Terpaksa tetapi Sasuke menciumnya dengan perasaan.

Seolah Sasuke tidak mau melewatkan kesempatan ini, dia melumat bibir Hinata. Setelah dia yakin ayahnya sudah melewatinya, dia memiringkan kepalanya ke arah lain. Sasuke mengubah posisi kepalanya beberapa kali untuk menikmati kesempatan yang menurutnya berharga. Kegiatan itu berlangsung setengah menit. Sasuke melepas ciuman itu, membiarkan Hinata mendapatkan oksigennya. Dia menempelkan dahinya pada dahi Hinata.

"Se-senpai," seorang gadis berambut merah muda membuat Sasuke menoleh padanya.

O_O BERSAMBUNG... O_O

Mikky : oh, tidak... *sembunyi*

Choco : *ikut sembunyi*

Mikky : mohon reviewnya...