Lembayung Senja © ardhan winchester
Naruto
Masashi Kishimoto
Drabble ini untuk Michelle dan challenge Seven Minutes in Heaven di Infantrum.
Tak ada tujuan mencari keuntungan materi dalam pembuatannya.


.

#1 Kindness

.

Mentari telah tergelincir dari tahtanya di puncak kuarsa langit tatkala bocah belia Inuzuka menemukan sosok seseorang yang nampaknya sekecil dirinya sedang berjongkok di sudut jalan. Dari belakang punggung, Kiba tak dapat mengenalinya, hanya mampu menduga bahwa yang tertangkap pandangannya itu seusia dirinya. Langkahnya cepat terayun menghampiri dengan cengiran lebar terpeta jelas di bibir. Ia menepuk pundak anak itu dan bertanya dengan obsidian yang berbinar-binar heran, "Kau sedang apa?"

Sosok anonim itu terkesiap dan menoleh dengan ekspresi ngeri nampak jelas di wajah. Semburat merah merayap mulai dari pipi dan merambat hingga memenuhi parasnya yang manis. Kiba tertegun sejenak sewaktu kristal sewarna lavender dengan pupil yang nampak aneh terarah padanya; terkaannya sebelum ini akan jenis kelamin sosok yang ditepuk rupanya salah besar—dia adalah seorang anak perempuan.

"A-anu, anak anjing itu," sembari tergagap-gagap, anak itu menyahut pelan. Suaranya mengalun lembut dengan getar samar yang mewarnai. Sepasang binernya beralih dari kotak yang berada di hadapan dan Kiba berganti-gantian sementara tangannya menyentuh bibir dengan gestur ketakutan.

"Oh, dia dibuang ya?"

Kepala sang gadis bergerak perlahan, terangguk ragu-ragu. Helai-helai surai gelapnya terayun membingkai wajah. "Aku mau m-merawatnya, ta-tapi keluargaku.. tidak boleh.. memelihara hewan," suaranya kian melirih di akhir kalimat, seiring dengan kepalanya yang merunduk dan menatap tanah.

Kiba menggaruk puncak kepalanya dalam kebingungan, berpikir sembari menatap bayi anjing yang masih nampak begitu ringkih sedang bergelung di dalam kardus. "Keluargaku sudah punya banyak anjing ninja," sekilas ia melihat lawan bicaranya mendongak namun segera menunduk kembali dengan pipi yang merona merah. "Tapi kurasa tambah satu juga nggak apa-apa." Tangannya terulur, meraih si bayi anjing dan mendekapnya di dada.

"Ah-arigatou!" Gadis itu segera bangkit dan membungkuk dalam-dalam.

"Nggak usah begitu," Kiba mengerutkan keningnya, mengibaskan satu tangan yang bebas di depan muka untuk memberitahu bahwa ucapan terima kasih yang dituturkan oleh lawan bicara adalah suatu hal yang tidak perlu—apalagi dengan bungkukan badan yang terlalu formal. Ia kembali memamerkan seringai lebar yang menampakkan barisan gigi susu yang belum tanggal. "Omong-omong namaku Inuzuka Kiba."

"Hyuuga.. H-Hinata, desu... Yoroshiku onegaishimasu, Inuzuka-san."

"Panggil saja Kiba."

Senja baru saja turun. Angin sepoi-sepoi membawa harum samar udara yang mulai berubah, sementara seruan para ibu dari berbagai sudut kota terdengar memanggil-manggil nama anak mereka yang belum kunjung pulang dari acara bermain sepanjang hari. Sinar mentari yang berwarna keemasan menyelimuti kedua anak kecil tersebut—dan anak anjing dalam pelukan.

.

to be continued.