Rin : Chapter 7 telah hadir~~~!

Len : Mana Yessy?

Miku : Dia tepar sehabis LLK, belum lagi seminggu ini entar dia ada kaderisasi subsi. Karena itu untuk sementara dia beristirahat dulu...

Rin : Kasihan ya... baiklah enjoy chapter 7!^_~


Synchronicity : Meguru Sekai no Requiem

Chapter 7- Battle

Disclaimer : Vocaloid (c) Crypton Future Media

Rated : T (For safe)

Genre : Fantasy, Adventure, Family and Friendship (maybe)

Warning : Alur kecepetan, tidak sesuai EYD, newbie fans, ceritanya gak masuk akal, chapter kependekan, dan masih banyak kesalahan lainnya.

Don't Like Don't Read

Keesokan paginya, Meiko telah sembuh total. Setelah memakan sarapan seadanya, Len dan yang lainnya mulai melanjutkan perjalanan mereka kembali. Tak lama kemudian. Mereka semua berhenti. "Kalian merasakannya kan?" tanya Kaito.

Gakupo mengangguk. "Ya. Pasukannya Luka akhirnya mengepung kita."

"Sepertinya sekarang prajuritnya lebih banyak daripada yang kemarin," kata Meiko. "Prajurit yang sekarang lebih dari 700. Bahkan ada para pemanah."

"Bagaimana Len?" tanya Kaito. "Kau semacam pemimpin kami, apa yang harus kita lakukan?"

Len mengeluarkan pedangnya. "Tentu saja kita bertarung. Kaito dan Gakupo, kalian urus para pemanah, Meiko dan aku bisa melawan prajurit yang lainnya." Semuanya mengangguk, tanda mereka mengerti.

Tepat saat itu, pasukan Luka mulai menyerang mereka. Tepat seperti perkiraan Meiko, disana terdapat pemanah. Para pemanah mulai memanah ke arah Len dan yang lainnya. Kaito, yang melihat hal itu, langsung mengubah panah-panah itu menjadi bunga. Lalu Kaito dan Gakupo langsung menyerang para pemanah. Setelah semua pemanah sudah dihabisi, mereka membantu Len dan Meiko.

Kaito menggunakan pedangnya untuk melawan prajurit-prajurit itu. Dia terus mencari kelemahan mereka. Setelah menebas leher salah satu prajurit, dia berseru, "Lehernya! Incar lehernya! Itu kelemahan mereka!"

Semua mengikuti saran Kaito. Len dengan mudah menebas leher salah satu prajurit. Dia menebas lagi, dan lagi. Percikan darah menempel di mantel dan pedangnya. Kaito sedang berkutat dengan prajurit yang mengenakan kapak sehingga dia tidak menyadari prajurit lain yang mengincarnya. Len langsung menghabisi prajurit itu. Setelah menebas prajurit itu, Len melihat tangannya. Entah sudah berapa banyak darah yang telah tumpah. Entah berapa banyak nyawa yang telah hilang.

Len menjadi kesal dengan dirinya sendiri. Padahal dia hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya, tapi sekarang dia malah membunuh para prajurit ini. "Len!" seru Meiko. "Tetaplah fokus!"

Tanpa Len sadari, Ruko sudah berada dihadapannya. "Ya, Len tetaplah fokus. Kalau tidak kamu akan dihabisi oleh aku!" Ruko mengayungkan sabitnya yang besar itu. Untung saja Len dapat dengan mudah menangkisnya. Len terhuyung. Dia berusaha mengambil jarak dengan Ruko.

Ruko menyeringai. "Kau tahu Len. Kalau saja kau tidak memulai perjalanan ini, mungkin kau tidak perlu bertarung disini. Tidak ada prajurit yang menyerangmu. Dan tidak ada darah yang tumpah disini!"

Len mulai tergoyah. Benar juga yang dikatakan Ruko. Kalau saja dia tidak memulai perjalanan ini, mungkin dia sedang berada di rumah. Tidak bertarung dan.. "Len! Kuatkan dirimu!" ujar Gakupo.

"Benar Len! Kau tidak boleh terpengaruh oleh hasutan Ruko!" seru Meiko sambil terus melawan prajurit-prajurit.

"Ingatlah Rin! Dia membutuhkanmu!" seruan Kaito membuat Len tersadar. Benar, dia tidak boleh berhenti disini. Saat ini Rin membutuhkan pertolongannya.

Len kembali bangkit. Dia mulai menyerang kembali Ruko. Sabit Ruko dan pedang Len kembali beradu. "Sebesar apapun usahamu, kamu tidak akan pernah bisa menyelamatkan Diva, kau tahu itu?" kata Ruko.

Len tersenyum. "Aku tidak akan menyerah. Kalau aku tidak mencobanya, aku tidak akan pernah tahu hasilnya kan?" Len mengeluarkan seluruh tenaganya. Akhirnya sabit Ruko terlepas dari tangan pemiliknya. Dengan mudah Len menghabisi Ruko. Darah mulai mengalir keluar dari tubuh Ruko. Dalam sekejap, Ruko sudah tak bernyawa.

Len memandang tubuh Ruko dengan sedih. "Maafkan aku. Tapi aku harus melakukan apa saja agar bisa menyelamatkan Rin." Len menutup mata Ruko yang tadinya terbuka.

Gakupo menepuk pundak Len. "Kau sungguh hebat tadi. Aku bisa mengerti mengapa kau tidak mau membunuh prajurit-prajurit itu. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita harus terus hidup supaya kita bisa menyelamatkan adikmu bukan?" Len tersenyum kecil mendengar kata penghibur dari Gakupo.

Kaito dan Meiko menghampiri Gakupo dan Len. "Ayo kita lanjutkan perjalanan. Semua prajurit telah kita habisi," kata Meiko.

"Oh tidak!" seru Kaito. "Ini bahaya!"

Gakupo menatap binggung Kaito yang sedang panik. "Ada apa Kaito? Jangan bilang musuh kembali menyerang."

"Bukan. Ini lebih parah... syalku terkena noda darah!" kata Kaito histeris.

Gakupo, Len, dan Meiko sweatdrop. "Itu kan hanya syal.." kata Meiko berusaha untuk menyembunyikan nada kesal dalam suaranya. Kaito tidak mendengarkan Meiko. Dia masih tetap histeris. "Sudahlah. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Seingatku sebentar lagi kita bisa mencapai kota yang diberitahu Gumi," ujar Gakupo.

Len mengangguk. Semuanya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Satu jam kemudian, mereka telah sampai di kota Uta Town, kota yang menurut Gumi dekat dengan Gua Naga. Saat mereka memasuki kota, semua orang langsung memandang mereka. Bagaimanapun Len dan yang lainnya masih terkena noda darah bekas pertarungan mereka tadi. "Hei, apa menurut kalian penduduk disini tidak aneh?" bisik Meiko.

"Karena kau bilang begitu, aku jadi merasakannya," ujar Kaito.

Len berhenti saat mencapai tengah kota. Perasaannya tidak enak melihat para penduduk disana memandang mereka dengan aneh. Kaito, Meiko dan Gakupo berdiri saling membelakangi satu sama lain. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gakupo.

Tiba-tiba saja Len dilempari batu oleh para penduduk sana. "Itu dia bocah yang melawan Luka-sama!"

"Katanya mereka mau menyelamatkan Diva!"

"Naga akan kembali menyerang kita!"

"Mereka pembawa sial!"

"Pergi kalian dari sini!"

Begitulah cemooh-cemooh dari para penduduk disana. Mereka semua telah dihasut oleh Luka untuk membenci Len dan yang lainnya. Len dapat memerhatikan seorang anak laki-laki yang sedang memeluk adik perempuannya yang tertidur. Dia memandang Len dengan penuh kebencian. "Ayo kita pergi dari sini." bisik Len.

Kaito, Gakupo, Meiko, dan Len lansung lari keluar dari kota. Setelah mencoba menghalau serangan dari para penduduk kota, akhirnya mereka berhasil keluar dari kota. Setelah menemukan sungai yang berada di dekat sana, mereka mencoba mencuci noda darah yang menempel. Setelah lumayan bersih, mereka mencoba berjalan kembali. "Sekarang kita kemana?" tanya Kaito.

"Bukannya sudah jelas?" kata Gakupo. "Tentu saja Gua Naga."

Kaito memutar bola matanya. "Ya aku juga tahu itu. Dimana gua naga itu?"

"Menurut di buku, Gua Naga terletak di dalam sebuah gunung yang sudah tidak aktif lagi."

"Kita percayakan saja semuanya pada Len. Sepertinya dia tahu kemana arah tujuan kita." ujar Meiko.

Len terus berjalan sementara yang lain mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian, mereka telah menemukan jalan yang berliku-liku yang menuju ke arah kaki suatu gunung. Mereka menelusuri jalan itu sampai akhirnya mereka sampai di depan suatu pintu yang sangat megah yang terletak di kaki gunung itu. "Ini dia!" seru Gakupo. "Pintu itu pintu masuk menuju Gua Naga!"

Kaito bersiul. "Pintunya bagus sekali. Sayang pintu ini hanya dipakai untuk Gua Naga."

"Sudahlah jangan banyak bicara, ayo masuk!" Meiko mendorong pintu itu. Di dalam sana terdapat lorong yang sangat panjang dan gelap. Kaito mengambil dahan suatu pohon dan membuat obor dengan dahan itu. Len memasuki lorong itu sambil mengenggam kalungnya. "Aku akan bertarung untukmu Rin."

~o~o~o~o~o~o~o~

Rin dapat mendengar suara Len dari dalam pikirannya. Dia dapat merasakan kalau Len sudah dekat dengannya. Rin bangkit kembali. Wajahnya tampak penuh keseriusan. "Aku juga akan bernyanyi untukmu Len."

~o~o~o~o~o~o~o~

Sementara itu, Miku telah merasakan pintu Gua Naga telah dibuka. Dia mengenggam tongkatnya dan segera bersiap-siap. "Sebentar lagi, ini semua akan berakhir."

To be continued


Rin : Karena Yessy tidak ada, kami akan membantu membalas review kalian!Miki Yuiki Vessaliusaku sama Len hebat kan! Yessy juga pengen punya kembaran, ah~ itu hanya perasaanmu saja...

Miku : Apa iya? *evil smile*

Rin : Miku! Jangan spoiler! Btw, aku baru merhatiin avatar Miki-chan, O/O Lennya keren!

Len : *bersin* ada yang ngomongin aku ya? (Geer banget, walopun kenyataan sie) Review selanjutnya dari Hikashine Shii-Chii, Aku rekomendasikan untuk lihat Pvnya, disitu aku sangat keren loh! *narsis abis* terima kasih sudah difave!

Miku : baiklah selanjutnya dari Hika without 'Ri, Hehehe, maaf ya Luka, disini kamu antagonis..

Luka : Gak papa asalkan aku mendapatkan tunaku

Miku : Kamu dikasih tuna!o.O aku gak dikasi apa-apa...T^T.. Oh, Rin ama Len memang romantis~ tapi disini Yessy tidak akan ngebuat Twincest kok! Tentu saja hubungan mereka akan...

Rin : Miku! No spoiler!

Miku : Iya, iya, :3 ... Yessy akan coba update kilat saat tanggal merah, karena dia jadwalnya senin ampe minggu uda padet... gak papa kok...

Luka : Aku mau donk bales review selanjutnya!

Rin : Baiklah, silakan~

Luka : Dari Hiiragi Azusa, Terima kasih, adegan itu emang cuman sekilas, Yessy juga kebetulan menyadari adegan itu... Maaf ya, karena Teto-chan emang cuman muncul diawal jadinya cuman muncul sedikit deh. Thank you sudah difave!

Rin : Selanjutnya dari , terima kasih! Karena ada aku jadi fic ini bagus deh! (Yessy tiba-tiba muntah) Yessy akan mencoba update kalo ada waktu.. benar ya, kasihan kami...

Len : Tenang saja Rin, aku akan menyelamatkanmu!

Yessy : Jangan cuman ngomong doang! Aplikasikan donk!

Len : Kenapa lo?

Yessy : Berani juga ya, ngomong gitu ke gue, hormatin gue donk yang sudah susah payah bikin fic ini! (langsung ditarik Miku ke kamarnya)

Miku : Maaf tadi dia masih agak stress setelah LLK selalu dimarahin kakak kelas.. ^_^" review terakhir dari Akai Himuro, terima kasih! Yessy akan mencoba update..

Rin : Baiklah sekian dari kami, Yessy mungkin akan agak lama mengupdate fic ini karena banyak acara dari sekolah...

Len : Rasain!

Yessy : (keluar dari kamar) Len-kun jahat! Coba kamu jadi aku yang harus ikut les setiap 3x seminggu, belum lagi kaderisasi untuk subsi, belum lagi latian untuk pentas kesenian pas homestay, belum lagi pr-pr yang menumpuk... pulang jam berapa kalo gini saya?

Miku : (dorong Yessy ke kamarnya) Jangan lupa review kalo ada kritik dan saran ya! bye!