A/U : Halo minna san, jumpa lagi dengan kami. Ini fanfic fandom MFBeyblade pertamaku, wujud kecintaan kamu yang berlebih-lebih (halah) pada anime satu ini, hehehe. Mungkin ceritanya bakalan garing karena wujud baka collab kami berdua, jadi don't like don't read. Akhir kata happy reading~ X3

Tittle : Baka Hollidays

Chara(s): Ginga Hagane, Masamune Kadoya, Kenta Yumiya, Yuu Tendou, Tsubasa Ootori, Kyouya Tategami, Hyouma, Madoka Amano (dan semua chara 'Beyblade Metal' lainnya, bagi yang tidak tahu semua chara bisa cari di Google saja oke)

Disclaimers: Takafumi Adachi (cerita ini punya kita XD)

WARNING: SHOUNEN-AI, YAOI (a little), Typo beredar, cerita ini tidak ada hubungannya dengan cerita beyblade, hanya meminjam beberapa chara ke dalam cerita, OOC!

.

.

.

.

Baka Hollidays

.

.

By Sakigane(Rauto & Noir)

.

.

.

Bladers International School

Atau mungkin disingkat menjadi 'Blanalchool' merupakan sekolah ternama khusus para pecinta beyblade terkemuka di dunia ini. Sekolah ini di design sangat mewah berbentuk classic dan di cat dengan perpaduan warna hitam-abu-putih menambahkan kesan elegan bangunan sekolah itu. Sekolah ini memuat murid-murid terpilih yang memiliki bakat terpendam dalam Beyblade, yang berlokasi di Tokyo, Jepang. Namun tak jarang murid-murid dari luar negeri ikut bersekolah disana untuk unjuk kemampuan mereka.

Di pagi hari di Blanachool, tepat dimana hari terakhir murid-muridnya bersekolah karena hari selanjutnya sudah memulai libur semester pertama, walau begitu murid-murid disana masih semangat masuk sekolah. Terlihat jelas sudah banyak mobil atau motor murid yang terparkir rapi di parkiran sekolah, para murid-murid pun sebagian sudah ada yang berjalan-jalan di koridor sekolah atau menunggu di kelas. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan. Tapi tidak kalau …

"AKU DULUAN!"

"TIDAK BISA! AKU MELANGKAH LEBIH DURU DARI KAU TADI!"

"BISA SAJA, MASAMUNE! PENENTUANNYA ADALAH SIAPA YANG SAMPAI DULUAN DI KELAS!"

"GRRR! LIHAT SAJA, AKU PASTI AKAN MENGALAHKANMU! GINGA HAGANE!"

DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP!

Kalau kalian mendengar kedua suara diatas, pasti dapat ditebak langsung siapa yang ribut-ribut di pagi hari itu. Ya, siapalagi kalau bukan Ginga Hagane dan Masamune Kadoya. Bahkan peraturan 'dilarang berlari di koridor sekolah' pun tidak digubriskan mereka sampai semua guru menyerah menghadapi keduanya. Mereka sama-sama memakai seragam hitam yang elegan pertanda kalau mereka murid sekolah ini. Kedua insan ini terus berlari menelusuri koridor tanpa peduli beberapa murid memandangi mereka dengan jawdrop indahnya.

Ginga Hagane, berumur 15 tahun, seorang laki-laki (tentunya). Ia memiliki rambut jabrik merah terang dan memakai headband bewarna biru yang ditengahnya tergambar lambang Pegasis yang tak lain adalah Beyblade miliknya. Seorang pemuda yang optimis dan penuh semangat yang tinggi. Banyak cewek yang tergila-gila padanya sampai membentuk fansclub dikarenakan dia juga pemain Beyblade terhebat di sekolah itu.

Masamune Kadoya, berumur sama seperti Ginga, juga seorang laki-laki. Ia memiliki rambut hitam yang diujungnya bercampur warna putih, juga terdapat jambul merah kecil didepan poninya. Seorang pemuda yang agresif dan sangat antusias dalam pertandingan Beyblade. Walaupun tidak sebanyak Ginga, ia memiliki fans tetap di sekolah juga.

Kenapa keduanya bersaing? Sebenarnya diawali ketika Masamune mulai menginjakan kakinya di sekolah ini. Ia langsung menantang Ginga yang dijuluki Master Bladers di sekolahnya karena kehebatan permainan beynya, belum lagi Masamune ikut ngaku-ngaku kalau dia bladers nomor satu di dunia. Tentu saja Ginga tidak terima, keduanya pun sama-sama keras kepala, sama-sama besar mulut lalu akhirnya jadi rival sampai sekarang. Apa keduanya itu musuh? Omong kosong …

Sebenarnya mereka itu rival sekaligus patner sejati. Keduanya memiliki kemampuan tanding yang sama-sama tangguh. Mereka bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain dan perpaduan tanding mereka tidak terkalahkan. Kalau melihat mereka bertanding –entah bertanding lomba lari, menjahit, mengerjakan pr tercepat atau lainnya, itu merupakan kamuflase belaka. Memang bertanding sudah menjadi kegiatan mereka sehari-hari. Jadi wajar saja kalau lomba datang cepat ke sekolah itu hal yang wajar bagi mereka.

"AKU DULUAAN!"

"TIDAAAK ! MENGALAH PADAKU GINGA!"

"BODOH! KALAU MENGALAH ARTINYA KEMENANGANMU NGAK MURNI!"

"AKH! LUPA! OKE, KITA TENTUKAN HARI INI!"

DRAP DRAP DRAP….!

Keduanya terus berlari sekencang mungkin, saling berusaha untuk mendahului untuk tiba terlebih dahulu di kelas –kebetulan mereka sekelas, yaitu kelas X-2. Dan apa yang terjadi? Keduanya tiba bersamaan, bahkan kalau ada sedikit celah tipis dari keduanya susah untuk dihitung dengan otak.

BRUKK..!

Keduanya jatuh bersamaan di depan kelas, untungnya belum ada murid lain yang datang ke kelas itu –dengan kata lain mereka adalah murid yang pertama datang ke kelas paling pagi. Tapi siapa yang sebenarnya yang pertama? Entahlah …

"Hahaha, aku pemenangnya!" seru Masamune dengan pedenya. Ia membusungkan dadanya di depan Ginga dan memamerkan kehebatan larinya. Ginga mendengus kesal.

"Apa kau bilang? Akulah yang menginjakan kakiku disini sebelum kau, dengan jarak 0,0001 cm tadi! Jadi aku pemenangnya!" sanggah Ginga tidak mau mengalah. Masamune menatap tajam ke arah Ginga tidak terima.

"Atas dasar apa kau bilang begitu, Ginga Hagane! Jangankan menghitung, kan kau lemah di pelajaran Matematika, pokonya aku yang menang!" balas Masamune tidak mau kalah. Ia menuntuk tajam sampai kepala Ginga harus mundur beberapa jengkal untuk menghindari telunjuk Masamune.

"Hei, hei, tidak bisa begitu! Akulah pemenangnya! Pokonya aku yang menang! Aku lebih cepat darimu! Aku aku aku aku aku!" seru Ginga menggeleng-geleng keras menolak pengakuan Masamune. Keduanya pun saling tatap menatap, bahkan petir menggelegar langsung menjadi latar belakang keduanya.

"Aku yang menaaaaang!"

"Tidak! Yang menang itu aku! Pokonya aku aku aku!"

"Aku aku aku aku aku yang menaaang!"

"SEKALI KUKATAKAN AKU YANG MENANG, YA AKU YANG MENANG!"

"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU! GRR! AKU YANG ME –"

DHUAAAAK!

Sebuah buku kamus tebal sukses melesat pada kepala Ginga dan Masamune. Keduanya langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh bersamaan beserta buku kamus itu. Tentu saja kepala manusia tiba-tiba dihantam kamus tebal yang tentunya berat pasti sakit rasanya, namun bukan Ginga kalau tidak dapat bertahan hanya hal seperti itu. Ia langsung mengejap-ngejap kedua matanya dan memegang keningnya yang terasa sangat sakit, pandangannya berkunang-kunang pun menghalau penglihatannya untuk melihat siapa yang berani melempar kamus itu pada mereka.

"Sakit! Baka, siapa yang berani-beraninya melempariku dengan kamus jelek itu, hah!" bentak Masamune langsung bangkit dan menunjuk-nunjuk sosok figur yang berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan dingin. Dan tidak hanya sendiri, ada seseorang lagi disampingnya. Satu kata untuk keduanya, mereka sama-sama…ikemen.

"Kalian itu selalu saja ribut di pagi hari, menganggu saja!" dengus seseorang berambut hijau tua yang dikuncir ponytail. Tatapan dinginnya menakutkan siapa saja, sekaligus mengagumkan siapa saja. Sedikit bekas luka di wajahnya, dikarenakan dia sering berkelahi ataupun menantang yakuza sekitar. Tapi itu sudah biasa baginya.

Sebut saja dia Kyoya Tategami,seorang laki-laki, salah satu rival Ginga yang berdarah dingin. Ia tidak banyak bicara, tapi cepat tangkap dalam mengambil kesimpulan. Fansclub-nya melebihi Ginga dikarenakan tampangnya yang sangat cool lalu kecerdasannya yang hampir menyaingi kemampuan guru-guru di sekolah. Ia juga terkenal sangat kuat karena mengikuti ekskul karate dan judo sampai dikirim dari sekolahnya ke pertandingan tingkat international. Sungguh sempurna, lalu siapa satunya lagi?

"Ugh! Kyoya, kau memang keterlaluan! Rasakan ini! Cakaran Maut Masamune!" seru Masamune berlari-lari slow motion siap mencakar wajah Kyoya. Tapi na'as menimpah Masamune, dengan cepat Kyoya langsung membantingnya pelan. BRUKK! Ginga bangkit berdiri lalu menghampiri Masamune yang terkapar di lantai kelas dengan mata berkunang-kunang.

"Bodoh" ucap Kyoya dingin langsung memicing tajam ke arah Ginga. Lantas yang menerima tatapan itu langsung membalasnya dengan glare panas. Sosok dibelakang Kyoya menepuk pelan pundak Kyoya.

"Sudahlah Kyoya, jangan bertanding sekarang. Nanti ada jam pelajaran tournament khusus, kan? Nah, kau tantang saja Ginga disana" usul sosok laki-laki di samping Kyoya yang memiliki rambut perak yang panjang dan sangat indah. Ujung rambutnya juga dikuncir ponytail dengan ikatan bewarna keemasan. Kulitnya bewarna tan tapi tidak secoklat kulit Kyoya. Pandangannya terlihat lebih lembut dan anggun dibandingkan Kyoya, ia merupakan murid jenius handalan sekolahnya. Ia sudah mentamati pelajaran universitas international dengan umur yang tergolong masih muda. Karena itu Ia selalu mendapatkan prestasi pelajaran rank 1 di sekolahnya. Sebut saja namanya Tsubasa Ootori.

"Huh, awas saja kau Ginga! Siapkan tenagamu untuk melawanku di jam pelajaran tournament, tidak untuk melawan bocah ingusan itu" ucap Kyoya menunjuk Masamune dengan tampang tidak berdosa sama sekali. Masamune langsung bangkit dari tidur indahnya.

"Baiklah, Kyoya! Siap-siap dengan kehebatan Pegasis milikku!" seru Ginga dengan sportif menunjukan beyblade miliknya yang sedari tadi ada di saku seragamnya. Kyoya tersenyum kecil –yang mungkin tidak terlihat oleh Ginga lalu duduk di kursi miliknya –mereka sekelas dengan Ginga dan Masamune. Tsubasa tersenyum kecil lalu menyusul Kyoya dan duduk di sampingnya.

"Apa maksudmu bocah ingusan!" seru Masamune dengan pandangan illfeel pada Kyoya yang hanya memalingkan muka. Tsubasa pun menarik nafas panjang lalu berkata.

"Kau" jawab Tsubasa dengan singkat-padat-jelas. Ginga hanya tertawa kecil sedangkan Masamune tambah panjang saja marahannya. Lalu Ginga dan Masamune duduk di depan kursi Kyoya dan Tsubasa. Mereka mulai mengobrol tentang tournament beyblade dengan asyiknya. Beberapa murid lain yang mulai masuk kelas tidak digubris mereka. Mereka sering disebut oleh duo horse –tak lain adalah Ginga dan Masamune, serta duo elite –siapa lagi kalau bukan Kyoya dan Tsubasa.

"GINGAAAAAAA!" entah suara siapa yang baru saja memasuki ruangan kelas langsung membuat sekelas diterpa gelombang magnet dahsyat dari suara itu. Ginga yang sedari tadi asyik menggoda Kyoya dengan pertanyaan bey langsung terperanjat dan menganalisis suara itu.

Suaranya besar, ngak anggun, cempreng habis, ngak salah lagi, ini suara …

"Madoka!" seru Ginga terkejut melihat teman perempuannya yang juga sekelas, Madoka, terlihat sangat berantakan. Seragamnya acak-acakan, nafasnya terengah-engah, serta kedua nekomimi di rambutnya naik-turun beraturan. Sepertinya sedang marah.

"Ginga! Kau keterlaluan sekali meninggalkan adik sepupumu yang akan pindah kelas, tadi dia narik-narik aku kayak orang gila untuk mempertemukannya denganmu tahu!" bentak Madoka dengan tidak manisnya. Masamune menautkan alisnya heran, sedangkan Kyoya dan Tsubasa hanya berehem ria. Ginga langsung memiringkan kepalanya bingung, beberapa detik kemudian Ginga langsung terperanjat kaget.

"AH! IYA, AKU LUPA MENGANTAR KENTA!" seru Ginga langsung berdiri dari arisan bladers tadi. Madoka menggeleng-gelengkan kepalanya lemas, lalu Ia menarik tangan kecil dari luar pintu. Sosok yang terbilang pendek itu pun langsung muncul dari balik pintu dengan takut-takut. Ginga langsung menghampirinya dan memeluk sosok mungil yang tak lain adalah adik sepupunya –Kenta Yumiya.

"Niichan jahat, padahal ini hari ini aku mau pindah kelas, masa aku di tinggal tadi…" rengek sosok itu hampir saja menangis. Ginga panik langsung mengelus-elus kepala hijaunya lalu tersenyum kecil.

"Gomene, Kenta. Aku lupa kalau kau minta diantar tadi, habisnya bibi Hikaru cerewet sekali, kau tahu sendiri kan? Nah, yuk, aku antar ke kelasmu" bisik Ginga padanya, sosok itu langsung semangat dan jingkrat-jingkrat senang.

"Dia adikmu, Ginga? Aku baru tahu, tuh" tanya Masamune dengan santainya. Ginga membalikan badan dan mengangguk kecil dan mengada-ngada tangan kirinya.

"Lebih tepatnya adik sepupu, aku ingin mengantarnya ke kelasnya dulu. Mau ikut tidak? Kelas 1-B tidak jauh, kok" ajak Ginga lalu menggandeng tangan kecil Kenta siap mengantarnya. Tsubasa menautkan alisnya lalu angkat bicara sebelum Masamune menjawab.

"Aku ikut, aku lupa mengantar bekal ini pada seseorang di kelas 1-B" sanggah Tsubasa langsung mengambil kotak bekal yang terbilang kecil bahkan kain pembungkus bekal itu bermotif teddy bear. Jelas itu bukan milik Tsubasa yang elegant habis. Mendengar itu, Masamune ikut berdiri dan mengangkat kedua tangannya dengan semangat.

"AKU IKUT!" serunya langsung menggandeng Tsubasa menuju Ginga dan Kenta. Madoka tersenyum legah lalu duduk di kursinya dan mengambil sebuah laptop kecil yang biasanya digunakan Madoka untuk melacak kemampuan Beyblade.

"Kyoya, kau tidak ikut?" ajak Tsubasa masih bertahan di depan pintu walau Masamune sudah menarik-narik lengan Tsubasa yang terbilang cukup kekar. Kyoya menggeleng kecil.

"Kalau aku keluar kelas sekarang, bisa-bisa aku tertangkap Benkei si maniak gila yang selalu mengikutiku kemana saja" jelas Kyoya dengan kata lain menjawab tidak. Tsubasa pun mengacungkan jempolnya pada Kyoya lalu menyusul Ginga pergi ke kelas 1-B.

.

.

1-B Class

.

.

"Ini kelasmu, Kenta. Bagus, kan?" seru Ginga begitu sampai mengantar Kenta ke kelasnya. Tentu saja kawan-kawan disana terbilang sama pendeknya dengan Kenta atau ada yang lebih tinggi. Kenta mengangguk senang.

"Tak terasa, dulu ini 'kan kelasku" sambung Masamune bertengger di jendela kelas mengamati adik kelas yang masih bertampang lugu dan manis semua.

"Tsubasa, siapa kenalanmu di kelas ini? Siapa tahu Ia bisa menjadi teman Kenta" lanjut Ginga menepuk pelan pundak Tsubasa. Cowok berambut panjang itu hanya menengok lalu tersenyum. Tanpa diketahuinya, senyumannya itu membuat para adik kelas tergila-gila bahkan sampai ada yang salah sangka melihat malaikat dunia(lebay amat).

"Ikut aku" jawab Tsubasa singkat lalu sembari menenteng sebuah bekal, Ia masuk ke kelas itu. Semua pandangan tertuju padanya, juga pada Ginga yang menuntun Kenta untuk mengikuti Tsubasa. Sedangkan Masamune masih saja serius melihati adik-adik kelas entah apa yang diinginkannya.

"Yuu, ini bekalmu" Tsubasa berhenti di sebuah deretan meja ke tiga. Disana terlihat seorang anak bertampang sangat manis, memiliki rambut bewarna oranye yang sedikit acak-acakan. Tampangnya sangat keibuan, membuat Ginga dan Kenta terpanah melihat anak yang ternyata mewarisi kemampuan malaikat yang dimiliki Tsubasa.

"Tsubasa niichan! Terima kasih sudah membuatkanku bekal lagi, asyiknya! Apa menu hari ini?" tanya anak itu dengan antusias lalu memeluk Tsubasa layaknya kakak kandungnya sendiri. Ginga menautkan alisnya lalu angkat bicara.

"Adikmu?" tanya Ginga. Tsubasa menghelai nafas lalu tersenyum kecil.

"Iya, adik dari beda ibu. Ayahku menikah lagi, lalu inilah anak dari hasil hubungan ayahku dengan istri mudanya" jelas Tsubasa sedikit bernostalgia. Ginga terperanjat, lupa kalau masa lalu keluarga Tsubasa begitu kelam.

"Ma-maafkan aku Tsubasa, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada ma –"

"Tidak apa-apa, Ginga. Umurku sudah besar, kalau masalah seperti itu aku harus tegar" terang Tsubasa dengan dewasanya. Ginga tersenyum lega mendengarnya.

"Tsubasa niichan, jawab pertanyaanku…!" rengek anak itu menarik-narik seragam Tsubasa lalu menggembungkan pipinya. Benar-benar anak polos yang manis. Tsubasa menunduk untuk menyamai tinggi keduanya.

"Hari ini menu bento kesukaanmu" jawab Tsubasa lalu membelai lembut rambut adik tirinya. Lantas anak itu langsung loncat-loncat girang kembali memeluk kakaknya. Kemudian Tsubasa menengok ke arah Kenta yang masih diam melihati Yuu.

"Yuu, mulai sekarang dia akan menjadi temanmu. Dia murid dari kelas berbeda yang pindah kesini, ayo perkenalkan dirimu padanya" seru Tsubasa menuntun Yuu untuk menghampiri Kenta yang masih digandeng kakaknya –Ginga.

"Perkenalkan, dia Kenta Yumiya. Ayo, Kenta beri salam" tak mau kalah dari Tsubasa, Ginga pun mendorong pelan Kenta untuk menyapa teman barunya. Anak bernama 'Yuu' itu langsung tersenyum senang dan menjabat tangan Kenta dengan sangat antusias. Bukan jabatan biasa, melainkan naik-turun naik-turun sampai Ginga ikut menggerakan kepalanya naik-turun naik-turun sesuai jabatan Yuu. Kenta bengong begitu diperlakukan seperti itu.

"Salam kenal, ya Kenta! Uhm, namamu tidak manis, aku panggil Kenchii saja. Namaku Yuu Tendou, panggil saja aku Yuu, semoga kita bisa berteman baiiiik" seru Yuu langsung memeluk erat Kenta yang masih bengong. Ginga pun ikut bengong tidak menyangka reaksi Yuu seperti itu. Tsubasa mengangguk melihat tingkah adik tirinya.

"Ehm, salam kenal.. Yuu.." ucap Kenta susah payah karena dekapan erat Yuu membuatnya sesak nafas. Tapi disisi lain ia senang mendapatkan teman baru yang baik seperti Yuu. Ginga dan Tsubasa pun bertukar pandang dan mengangguk.

"Kenta, kakak tinggal ya. Berteman baik dengan lainnya juga" bisik Ginga mengelus kepala Kenta. Anak itu tersenyum girang dan mengangguk.

"Baik, niichan" jawab Kenta semangat.

"Yuu, jaga Kenta baik-baik, ya" bisik Tsubasa pada Yuu yang kembali mendekap padanya. Yuu sedikit cemberut lalu menengok ke atas –menatapi kakak tirinya.

"Tsubasa niichan, panggilnya Kenchii tahuuu" rengek Yuu dengan manjanya. Sekarang Ginga tahu, Yuu itu type adik yang antusias pada kakaknya. Tsubasa sweatdrop sesaat lalu mengangguk pelan.

"Masamune, ayo cabut! Bel sekolah hampir berbunyi" ajak Ginga menarik lengan Masamune yang rupanya tertidur di koridor sekolah karena capek melihati adik kelasnya sendiri dari tadi.

"Uhm…apa? Oh, iya! Aku ketiduran, baiklah, gimana tadi? Adikmu oke sama kenalan Tsubasa?" tanya Masamune dengan frontalnya. Ginga tersenyum puas dan mengangguk mantap.

"Yup! Aku yakin mereka dapat berteman dengan baik!" seru Ginga mengacungkan jempol terbaik miliknya. Masamune melemparkan smirk pada Ginga. Sedangkan Tsubasa yang berjalan di belakang mereka hanya menghelai nafas panjang.

"Yang lebih penting adalah jam pelajaran tournament nanti! Aku akan kalahkan singa hijau itu!" seru Masamune membusungkan dadanya percaya diri. Tsubasa dan Ginga langsung sweatdrop mendengar sebutan 'Singa hijau' yang dilontarkan Masamune tadi.

.

.

X-2 Class

.

.

08.45 pagi. Jam pelajaran Tournament Beyblade

.

Mungkin sebagian bingung kenapa di sekolah ada jam pelajaran untuk bermain bey. Tekankan sekali lagi, ini sekolah beyblade. Jadi pertandingan bey merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu para murid terbaik disana. Termasuk Ginga, dia sebagai pemegang gelar Rank 1 dalam permainan bey pun tidak mungkin melewatkan jam pelajaran satu ini.

"3"

"2"

"1"

"GO SHOOT!"

Semua murid yang sudah berkumpul di arena tournament milik sekolahnya pun langsung melontarkan bey masing-masing dan bertanding dengan sengitnya. Di tempat pertandingan itu terdapat hampir 30 arena disediakan khusus untuk semua murid-muridnya. Wajar saja murid-muridnya sangat puas dengan fasilitas tersebut. Dan pada pertandingan kali ini, Ginga harus melawan Tsubasa, sedangkan Masamune melawan Kyoya. Sengitnya …

"Pegasis! Jangan kalah, keluarkan semangatmu!" teriak Ginga dengan penuh antusias. Tsubasa dari seberang pun tersenyum kecil dan menunjuk tajam Pegasis.

"Ayo, Aquila! Beri dia hukuman telak!" seru Tsubasa dengan anggunnya, membuat para fansclub yang bertengger di sudut arena untuk melihati pertandingannya pun teriak-teriak ngak karuan. Disisi lain Masamune bertarung sengit dengan Kyoya.

"Serang dia Leone!" seru Kyoya dengan suara bariton ciri khas miliknya. Masamune mendengus kesal karena beynya sedang terdesak dan hampir keluar arena karena serangan bertubi-tubi dari Leone.

"Bertahan, Unicorno!" balas Masamune tidak menyerah. Ia berusaha untuk tenang –walau sia-sia saja.

"KYAA! GINGA! GINGA!"

"TSUBASA! TSUBASA!"

"MASAMUNEEEEEEE!"

"KYOYA! KYAAA!"

Seakan tidak bisa diam, para fansclub masing-masing juga adu suara untuk membuktikan siapa yang paling hebat –dalam segi banyaknya fansclubnya. Walau Ginga sedikitnya terusik dengan teriakan-teriakan itu tapi ia tetap fokus pada lawan mainnya sekarang.

.

.

.

1-B class

.

.

"Kenchii, apa kakakmu, Gingi, baik padamu?" tanya Yuu dengan ceria ditengah jam pelajaran Matematika yang sedang mereka jalankan. Kenta menengok pelan lalu menjawabnya.

"Tidak juga, dia itu pelupa dan sangat keras kepala, menyebalkan. Kalau kakakmu?" Kenta malah berbalik bertanya, walau dari act Yuu tadi terbukti kalau Ia sangat menyayangi kakak tirinya, Tsubasa.

"Dia susah diajak bercanda, susah diajak bersenang-senang…" jawaban Yuu membuat Kenta terperanjat kaget. Hampir saja pensil bebek yang dipegangnya jatuh dari genggamannya karena saking kagetnya.

"Eh? Tapi sepertinya tadi kau terlihat sangat menyukai kakakmu" terang Kenta mengenai pendapatnya. Ia mengambil penghapus miliknya yang bermotif bebek dari kotak pensilnya karena salah menulis sesuatu yang diterangkan guru tadi.

"Ya, walaupun begitu Tsubasa niichan itu baik banget! Ia selalu membuatkanku bekal diam-diam karena mamaku tidak pernah membuatkanku bekal untuk dibawah ke sekolah" lanjut Yuu tersenyum bangga. Kenta mengangkat alisnya mendengar kelanjutan cerita Yuu mengenai kakaknya.

"Bekal? Apa anak laki-laki bisa memasak? Lalu kenapa mamamu tidak pernah membuat bekal?" selidik Kenta lalu kembali meletakan penghapus miliknya. Giliran Yuu mengambil penggaris oranye miliknya untuk membuat sebuah kotak sesuai yang disuruh gurunya.

"Mamaku sibuk berkencan terus dengan papaku, bahkan sampai pagi mereka baru pulang, jadi mereka tidak pernah mengurusku…" jelas Yuu sedikit sedih. Kenta menepuk pundak teman barunya karena ceritanya yang memperihatinkan "Tapi sedihku selalu hilang kalau Tsubasa niichan membuatkanku bekal yang sangat enak, masakan Tsubasa niichan paling top, deh! Terkadang Tsubasa niichan juga mengajakku jalan-jalan ke supermarket supaya aku tidak sendirian di rumah" cerita Yuu dengan polosnya. Kenta mengangguk kagum.

"Enaknya, biasanya anggota keluarga tiri itu jahat, tapi kakak tirimu baik sekali…" bisik Kenta bernostalgia. Yuu menautkan alisnya lalu mulai ingat sesuatu.

"Iya, ya. Aku sering baca dongeng, katanya keluarga tiri selalu jahat. Tapi kenapa Tsubasa niichan baik, ya?" sambung Yuu mulai ingat buku dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Tanda lampu menyalah muncul di kepala Kenta.

"Aha! Bearti kakakmu satu-satunya keluarga tiri yang baik di dunia ini!" putus Kenta dengan polosnya. Sedangkan Yuu bersemangat begitu mengetahui kakaknya adalah keluarga tiri pertama yang baik di dunia ini –walau pemikiran mereka masih terbilang polos dan lugu.

"Iyeeey, dan aku anggota keluarga pertama yang menikmati kebaikan keluarga tiri, asyik!" bisik Yuu gemetaran saking semangatnya. Sedikitnya Kenta cemburu oleh karena kesimpulan yang dibuatnya sendiri, tapi apa boleh dikata?

"Andai saja, niichan juga begitu…" guman Kenta dalam hatinya.

.

.

X-2 class

Lunch Time

.

.

"Huatchii…!" Masamune menautkan alisnya begitu melihat Ginga dari tadi bersin-bersin terus. Sampai-sampai burger yang mau dimakannya nggak jadi dilahap karena ketahan bersin. Masamune meletakan siku tangannya pada pundak Ginga.

"Ginga, kenapa kau? Kok mendadak sakit begini? Padahal tadi kau menang 2-1 melawan Tsubasa, heh?" tanya Masamune sembari melahap hotdog yang baru dipesannya di kantin. Ginga membersihkan ingusnya dengan tissue pack pemberian Madoka, lalu menggeleng pelan.

"Aku tidak sakit, kok. Jangan-jangan ada yang membicarakanku tadi…" tebak Ginga lalu berusaha melahap burgernya walaupun lagi-lagi ketahan bersin. Madoka yang duduk dibelakang dapat melihat jelas gerak-gerik Ginga dan Masamune yang duduk di kursi paling depan.

"Ginga, jangan habiskan tissuenya, ya! Aku mau pakai nanti!" seru Madoka berusaha mengingatkan Ginga yang tengah meminjam tissue pack Madoka. Ginga menengok dan mengangguk tanda mengerti.

"Oke, Madoka! Serahkan padaku– Hatchiii..!" Madoka menggeleng-geleng melihat kelakuan teman laki-lakinya lalu kembali konsentrasi pada bekal udon yang dibawahnya.

"Ada yang membicarakanmu? Siapa? Paling-paling fansclubmu, tapi dari kemarin-kemarin dibicarakan kamu nggak bersin kok…" pikir Masamune lalu meneguk fresh water bawaannya. Ginga menautkan alisnya heran.

"Iya, siapa ya –"

BRAAAAKK!

Semua murid-murid yang masih ada di dalam ruangan kelas untuk menikmati bekal pun terkejut dengan suara dorongan keras pada pintu kelas mereka. Semuanya menatap horror dua sosok figur yang ada di depan pintu itu. Tampang mereka sangat berantakan, Ginga melongo tidak percaya karena yang pemilik tampang hancur itu adalah …

"Kyoya! Tsubasa! Ada apa dengan kalian? Muka kalian suram sekali, bhuwakakakaka…!" seru Masamune malah menertawakan dua sosok horror yang sepertinya baru saja selamat dari tsunami hebat. Kyoya membanting keras papan tulis karena kesal ditertawakan. BRAAAK! Masamune langsung bungkam.

"Brengsek, aku paling benci kalau sampai tertangkap Benkei si maniak gila itu, hampir saja aku mati karena digencet olehnya, grrr!" geram Kyoya layaknya singa muda yang siap menerkam mangsanya. Ginga dan Masamune sweatdrop lalu menggeleng-geleng kecil.

"Untungnya dia tidak sekelas denganmu, Kyoya. Kalau tidak kau sudah inailahi sejak dulu" sambung Ginga membuat Kyoya menatap geram teman sekaligus rivalnya itu. Lalu Masamune menengok kearah Tsubasa yang juga bertampang sama, atau bahkan lebih awesome dari Kyoya.

"Kalau Tsubasa kenapa? Apa Benkei berpindah hati padamu? Hahaha!" ledek Masamune pada cowok cantik itu. Tsubasa mendengus kesal dan menghelai nafas panjang. Disusul Kyoya, mereka pun duduk di bangku mereka –dibelakang Ginga dan Masamune.

"Tidak, dari tadi aku bersin-bersin terus, bersin pertama belum selesai, bersin kedua sudah nyusul" terang Tsubasa dengan sangat jujur tanpa merasa berdosa sama sekali. Tak hanya Ginga dan Masamune, Kyoya pun ikutan sweatdrop mendengarnya.

"Bersin? Sama denganku, dong, tadi aku juga bersin-bersin tidak berhenti" jelas Ginga kini bisa melahap dengan tenang burger besar miliknya. Tsubasa mengangkat alisnya bingung.

"Kau juga bersin-bersin? Sepertinya ada yang membicarakan kita berdua di waktu yang sama, tapi siapa?" guman Tsubasa mengetuk-ngetuk kecil jemari indahnya dengan meja belajarnya. Ginga merasa setuju dengan pendapat Tsubasa lalu mulai berpikir kira-kira siapa yang …

"YUU!"

"KENTA!"

.

.

.

Hagane's House.

.

.

"Eh, mulai sekarang Kenta tinggal dirumahku?" seru Ginga terkejut begitu ibunya, Hikaru, memberitahukan bahkan Kenta adik sepupunya mulai tinggal di rumahnya. Terlihat jelas saat ibunya itu menyuruh Ginga untuk mengantar Kenta ikut ke rumahnya. Kenta hanya diam melihat sepasang ibu-anak itu berkomunikasi.

"Iya, Ginga. Karena orang tua Kenta sedang dinas ke luar negeri dan juga jarak dari sekolah lebih dekat, jadi Kenta akan tinggal disini, dia tidur satu kamar denganmu saja, ya" lanjut Hikaru mengacung-acungkan jari telunjuknya. Ginga mendengus malas.

"Apa? Tidak mau, ibu! Nanti tidur berdua kan sempit, aku mau tidur sendiri! Kenta tidur di kamar tamu saja" sanggah Ginga menolak perintah ibunya. Sedangkan Kenta menunduk sedih.

"Ginga, tidak boleh begitu. Kenta kan tidak berani tidur sendiri, masa sebagai kakak tidak mau mengalah sih?" goda ibunya mencubit-cubit pipi Ginga. Anak tunggalnya itu pun kembali berpikir sejenak.

"Oke, baiklah" jawab Ginga pada akhirnya. Ia pun menggandeng Kenta menuju kamarnya di lantai dua.

.

.

Ginga's room. 16:55

.

.

"Kenta, aku mau bicara –"

"Niichan, aku mau bicara –"

Keduanya langsung hening begitu mereka mengucapkan kata yang hampir sama. Lalu merasa yang paling tua di dalam kamar, Ginga pun membusungkan dadanya dan mulai berbicara kembali.

"Kenta, aku mau bicara sesuatu. Apa tadi di sekolah, kau membicarakanku?" selidik Ginga sedikit mencubit pipi adik sepupunya itu. Kenta mengangkat alisnya sedikit terkejut lalu mengalihkan pandangannya.

"Ke-kenapa bisa tahu!" jawab Kenta dengan polosnya. Ia mengira kakaknya itu blasteran dukun santet jadi bisa menebak apa yang tidak dilihatnya.

"Kamu ini, aku bersin-bersin terus, tahu. Memangnya apa yang kau bicarakan tentangku?" lanjut Ginga menggendong adik kecilnya itu ke ranjangnya. Kenta berpikir-pikir dulu sebelum menjawab, lalu setelah Ginga menidurkannya di ranjang biru laut miliknya, Kenta pun angkat bicara.

"Ehm, Yuu bertanya, niichan itu kakak yang seperti apa, itu saja, kok" jawab Kenta tersenyum polos. Ginga pun menautkan alisnya dan ikut berbaring di sebelah Kenta.

"Lalu kau menjawab apa? Pastinya kau menjawab aku ini kakak terhebat –"

"Aku bilang kakak itu pelupa, keras kepala, dan menyebalkan!" potong Kenta langsung membuat pedang kera sakti menohok punggung Ginga seketika. Kenta sweatdrop melihatnya.

"Tega sekali, lalu Yuu juga membicarakan Tsubasa, ya? Yuu berkata apa tentang Tsubasa?" lanjut Ginga sedikit terisak begitu jawaban Kenta mengiris-iris hatinya.

"Katanya Tsubasa niichan itu baik hati, perngertian, dan kakak tiri satu-satunya yang paling baik seduniaaaaa!" jawab Kenta sambil mengangkat kedua tangannya membentuk lekukan pelangi. Ginga melongo melihat lekukan pelangi kecil buatan Kenta.

"Hahaha, Tsubasa memang baik, padahal jelas-jelas ayah dan ibu tirinya itu mengkhianatinya, tapi Tsubasa tidak dendam pada Yuu, mereka kakak-beradik yang harmonis sekali" guman Ginga bangga pada sosok rank 1 dalam mata pelajaran itu. Kenta menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek Ginga.

"Memangnya kayak niichan? Niichan itu kakak paling jelek sedunia, week!" ledek Kenta dengan gaya kuda lumping handalannya membuat Ginga gedubrak slowmotion lalu emosi dan memulai perang bantal dengan adik sepupunya itu.

"HEYAAAAA!"

.

.

Ginga's room. Night 20:15

.

.

"Niichan, mandinya lama sekali! Ini ada yang menelpon ponsel niichan!" seru Kenta mengetuk pintu kamar mandi yang di dalamnya masih ada Ginga. Mandi malam-malam memang sudah menjadi kebiasaan anak ini, tubuhnya sudah kebal dengan angin malam yang dingin. Ginga dari dalam kamar mandi pun membalas.

"Sabar, Kenta! Masih setengah keramas!" balas Ginga membuat Kenta jawdrop sesaat. Ada-ada saja, masa ada yang namanya setengah keramas? Tapi apa boleh buat, bukan Ginga namanya kalau nggak gaje.

"Huuh! Yang menelpon itu…" Kenta beralih pada layar ponsel Ginga yang masih terus berdering "Kyoya Tategami!" lanjut Kenta membuat Ginga terpeleset air kamar mandi dan …

BRAK! GEDUBRAKK! PRAANG!

"Ginga! Ada apa?" seru ibunya dari dapur terkejut dengan suara amburadul dari kamar mandi.

"Tidak ada apa-apa kok, ibu! Aku fine!" seru Ginga dari kamar mandi setengah meringis kesakitan. Hikaru bernafas lega lalu kembali melanjutkan masaknya.

Dengan kecepatan kilat, Ginga langsung keluar dengan berpakaian lengkap, rambut merahnya masih sedikit basah karena baru usai mandi. Ia langsung menghampiri Kenta yang membawa-bawa ponsel miliknya. Ginga pun menekan tombol angkat dan memasang ponsel itu di telinga kirinya.

"Lama sekali"

"Ma-maaf, tadi aku sedang mandi, Kyoya. Ada perlu apa? Besok kan sudah libur…"

"Justru karena itu, aku baru saja memenangkan undian jalan-jalan ke Hawaii, kau ikut"

"Apa? Undian ke Hawaii? He-hebat sekali Kyoya, tapi kenapa aku harus ikut?"

"Ngak mau tahu, harus ikut. Aku sudah mengajak Masamune, Tsubasa dan adik tirinya, dan Madoka. Kau dan adik sepupumu ikut, masih sisa 2 tiket lagi, nih"

"Wah, tumben Kyoya baik. Biasanya paling pelit soal beginian, ahahaha!"

"Mau ikut atau mati?"

"Ma-Mati? Dasar Kyoya, tidak berubah sama sekali. Iya, aku dan Kenta pasti ikut. Kapan berangkatnya, aku kapanpun siap!"

"Besok pagi datang ke rumahku jam 8 pagi. Kita berangkat besok"

"BESOK? Cepat banget –"

"Katanya 'kapanpun siap'. Kalau kau tidak datang aku akan membunuhmu hidup-hidup"

"Tapi Kyo–"

CLICK. Call Ended

"Niichan, Kyoya-san bilang apa tadi?" sergah Kenta begitu Ginga melepas ponsel itu dari telinganya yang sedikit panas.

Ginga hanya diam tanpa bergerak sedikit pun. Kenta pun menautkan alisnya heran.

"Ke-kenta..." bisik Ginga dengan suara gemetar. Kenta mengangkat alisnya karena merasa dirinya dipanggil kakak sepupunya itu.

"Ada apa?" tanya Kenta dengan polosnya. Ia sedikit merajuk piyama yang dikenakan Ginga untuk menyadarkan Ginga dari diamnya.

"KENTA! SIAP-SIAP! BESOK KITA AKAN KE HAWAII!"

.

.

.

To Be Continued

Sakigane: Hehehe, bagi yang Re-Read chapter pertama ini pasti langsung tahu kalau kami melakukan proses Re-Edit pada ceritanya. Selagi untuk memperbaiki misstypo, juga untuk mengganti nama penname kami dari dulu ke yang sekarang yaitu Sakigane XD (plak *promosi). Untuk pembaca baru, welcome to Baka Hollidays~ XD Mungkin ini fanfic pertama di fandom ini, jadi tentunya fanfic yang paling banyak kekurangannya dan lain-lainnya *plop*. Penggemar MFBeyblade juga? Jangan sungkan untuk membaca cerita ini sampai chapter2 kedepannya XD Tentunya cerita ini super garing, hehehe. Dan bagi yang tidak keberatan, minta reviewnya, boleh, ya? (pandangan berbinar). See you on next chapter~ :3

R

E

V

I

E

W