"Aku ingin bebas."

Tiga kata itu selalu meluncur keluar dengan mantap ketika ia ditanya soal impian: aku ingin bebas. Diikuti celoteh tentang keinginannya melarikan diri dari hidupnya yang ia benci, penuh aturan yang serba melarang, mengekangnya dari jati dirinya sendiri.

Setiap kali tiga kata itu keluar dari mulut, Irwin melihat bintang-bintang hidup dan menari dalam mata Matilda, membagi cahaya mereka ke pasangan manik tembaga yang biasanya dinaungi bayang sendu. Tapi nyala mereka tak bertahan lama; mereka meredup setelah kaki Matilda kembali menjejak realita yang selamanya tak seindah imaji dalam kepala. Perlahan, semakin samar. Dan lenyap. Bintang-bintang itu mati. Seperti cahaya kunang-kunang, indah tapi cepat padam.

Diam-diam, dalam hatinya tumbuh keinginan untuk melihat terang itu lagi.

Dan suatu hari ia mengutarakannya. "Kalau kebebasan yang kau inginkan, maka aku akan mengabulkannya untukmu."

Sesaat Matilda tertegun.

Kemudian bintang-bintang kembali bersinar dalam matanya. Memberikan cahaya paling indah yang pernah Irwin lihat. "Kau yakin?" ucapnya, nyaris dalam bisik samar, namun harapan terdengar jelas dalam iramanya.

"Ya." Apa pun, supaya terang itu tetap bersinar di sana. "Aku berjanji."