Hohoho Ohayou! Konnichiwa! Konbanwa! Minna-san…author luck-nut ini balik lagi hehehehehe

Kali ini author mempersembahkan cerita RinxLen sebuah tantangan tersendiri bikin fanfiction pair ini hehehe sepertinya bakalan di taruh di Rated : T hehehehe.

Langsung aja deh ya


Enjoy This Story! ^_^

Don't like don't read but I guess you can try to like this #maksa *digorok*

Dislcaimer!

Vocaloid Cuma punya dia - Om Yamaha ©

Dipersembahkan untuk : Rein Yuujiro (Terima kasih udah mempercayakan buat fic dan terima kasih untuk request yang melatih sekali dalam membuat fic pair ini ) ^.^ hehehe


'Aku akan menghancurkan hidup kerajaan ini! Kehidupan kerajaan ini akan menjadi kutukan! Ya, kutukan! Aku akan membalas apa yang telah kalian lakukan pada suamiku!' ucap seorang wanita dengan rambut hitam sambil terbang menaiki sebuah jelmaan yang memang terlihat menyeramkan. Taring dari sebuah burung bangkai raksasa yang tertancap di mulutnya

~Cursed Palace~

21 tahun kemudian…

Sinar matahari menyinari seluruh penjuru sekeliling kerajaan Crypton.

Para pengawal, penjaga, dan pelayan kerajaan terlihat sudah mengawali kegiatannya di pagi hari.

Para tukang kebun juga sudah memulai kegiatannya menyirami setiap tanaman yang menghiasi sekeliling bangunan kerajaan. Dan tentu saja, dibutuhkan lebih dari satu tukang kebun untuk menyiram semua tanaman disana.

Para pelayan yang sibuk mondar mandir lorong istana sembari membawa nampan makanan dan beberapa pakaian yang memang harus mereka antar ke tempat pencucian.

Kerajaan Crypton terkenal akan kecantikan dari keturunannya. Sang ratu bernama Lily Kagamine, sedangkan raja yang beruntung telah mendapatkan wanita itu adalah Leon Kagamine.

Anak pertama dari pasangan raja dan ratu ini adalah seorang gadis, bernama Luka Kagamine.

Rambut gadis ini berwarna merah muda, berbeda dengan orang tuanya yang kuning pirang, karena memang mungkin sudah takdirnya.

Luka dianugerahi paras yang sangat cantik, dia adalah putri yang dijuluki The Beauty.

Sedangkan putri kedua dari pasangan raja dan ratu ini bernama Miku Kagamine.

Rambut gadis ini berwarna hijau teal, benar-benar berbeda dari orang tua dan kakaknya. Selain cantik, ia dianugerahi kepandaian dalam bidang musik. Ia dijuluki sebagai The Wonderful Voice.

Dan yang berikutnya, raja dan ratu dianugerahi anak kembar. Laki-laki dan perempuan.

Sang kakak, yang lahir terlebih dahulu adalah seorang laki-laki, bernama Kagamine Len. Sedangkan adiknya bernama Kagamine Rin.

Rin dan Len adalah keturunan raja dan ratu yang memiliki warna rambut yang sama dengan mereka, kuning pirang.

Rin sangat pandai dalam melukis. Lukisannya sangat diminati oleh para kolektor. Ia juga sudah dihadiahi bakat seperti itu sejak umurnya masih 6 tahun.

Sedangkan si kakak, Len, ia pandai berburu seperti ayahnya. Ia juga pandai menunggang kuda.

Jika dibayangkan, Len adalah seorang pemuda yang nyaris sempurna, jika tidak ada perkataan 'Tidak ada manusia yang sempurna'.

***Vocaloid Vocaloid Vocaloid***

Sementara kesibukan di ruang makan sedikit disibukkan dengan hilir mudik menyiapkan sarapan.

Beberapa pelayan meletakkan menu sarapan pagi itu di meja makan. Raja dan ratu sudah duduk di tempatnya begitu pula dengan kedua putrinya.

Tunggu dulu. Hanya dua. Ada dua orang lagi yang harusnya sudah duduk di ruangan itu.

"Nah, sudah, sekarang ayo kita sarapan," ucap Rin sambil merapikan dasi kupu-kupu yang Len kenakan.

"Doumo Rinny," Len tersenyum sambil mengusap pipi adiknya.

Mereka terlihat seperti…pasangan.

Len bergegas mengenakan jasnya yang ia letakkan di meja kamarnya. Lalu menawarkan lengannya untuk Rin gandeng. Dan mereka berjalan bersama menuju ruang makan.

"Pagi ibu, ayah," sapa Rin sambil duduk di sebelah Miku. Sementara Len duduk di sisi lain ayahnya.

Meja panjang di ruang makan itu cukup untuk 20 orang. Enam kursi pada sisi kanan kirinya dan dua kursi di sisi depan dan belakang.

"Apa menu pagi ini, Kaiko?" tanya Rin pada seorang pelayan wanita yang meletakkan segelas susu di hadapannya.

"Roti isi daging asap dengan makanan penutup nya ada muffin dengan krim cokelat di atasnya," jawab pelayan yang Rin panggil dengan nama Kaiko itu, namun masih sibuk menyediakan makanan di hadapan masing-masing anggota keluarga.

Rin berdecak kagum. Ia mengusap-usap perutnya tanda tidak sabar menyantap makanan di hadapannya.

"Baiklah, ayo kita makan anak-anak, Itadaikmasu,"

"Itadakimasu,"

"Hm, itadaikmasu,"

Mereka saling mengucapkan selamat makan satu sama lain. Suasana ruang makan setiap pagi memang selalu mendatangkan kehangatan yang mengharmoniskan keluarga intin kerajaan ini.

***Vocaloid Vocaloid Vocaloid***

Miku berdiri di sebuah gazebo halaman belakang istana, ia memainkan biolanya dengan sangat lihai.

Alunan musik yang keluar dari alat musik itu sungguh merdu dan nyaman untuk didengarkan setiap orang. Burung-burung yang terbang sampai singgah di pinggiran pagar besi yang melingkar di sekitar gazebo itu.

Suara biola itu benar-benar memukau, beberapa pelayan yang kebetulan melewati lorong istana yang juga berada di dekat gazebo itu sesekali berhenti mendengarkan suara itu sebentar lalu melaksanakan kembali kewajiban mereka.

"Wah, permainan yang bagus, nona," ucap salah seorang pelayan pria yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Miku.

Miku tersentak. Ia menghentikkan permainannya dan menoleh. Spontan burung-burung yang tadinya singgah kembali terbang.

"Ah, aku mengangetkanmu ya?" ucap pelayan itu dengan santai. Wajahnya baru di lingkungan kerajaan. Miku belum begitu mengenal wajah pelayan ini.

"Kau pelayan baru?" tanya Miku sambil menenteng biolanya.

Pelayan itu tersenyum. "Ya.. sekitar tiga hari yang lalu," jawab pelayan itu.

Miku mengamati pelayan itu dari bawah hingga atas. Ia menyipitkan matanya dan mengamati pria itu dengan kritis.

"Kenapa? Ada yang salah dengan penampilanku?" tanya pria itu.

Miku menggeleng. Ia tersenyum. "Kau adalah satu-satunya pelayan yang berani memanggilku secara santai seperti itu,"

Pria itu tertawa sambil memalingkan wajahnya kearah lain.

"Oh iya, boleh aku tahu namamu?" tanya Miku.

Pelayan itu menawarkan jabat tangan dengan santai, biasanya, warga biasa langsung membungkuk jika melihat ada anggota kerajaan. Namun pelayan ini berbeda, pikir Miku.

"Kaito Shion, adikku juga bekerja di sini," ucapnya.

Miku teringat akan Kaiko, pelayan yang biasa mondar mandir di ruang makan.

"Oh, aku tahu!" ucapnya sambil menjabat tangan Kaito dengan santai. Miku tersenyum manis. Pemuda itu hanya bisa terpukau melihat senyumnya, lalu membalas senyum sang putri.

***Vocaloid Vocaloid Vocaloid***

Matahari kini berada tepat diatas kehidupan di bumi. Sinar teriknya membuat rumput-rumput yang baru saja tersiram air bekas menyiram tanaman di sekitarnya menjadi berkilau.

Rin duduk disebuah bangku, dihadapannya tedapat sebuah kanvas.

Ia sedang melukis.

Kebetulan saat itu ia sedang meminta Luka sebagai modelnya.

"Nee-chan, bertahan pada pose itu, kau terlihat sangat mempesona, " ucap Rin sambil terus melukis.

Luka tersenyum. "Kau membayarku tidak?"

Bibir Rin manyun. Luka tertawa kecil agar posenya tidak berubah total.

"Kau jelek kalau seperti itu, sudah hahaha," ucap Luka.

Rin kembali tersenyum dan melakukan kegiatannya.

Sementara Rin fokus melukis, Len baru saja pulang dari kegiatan berburunya bersama ayahandanya.

"Ayah, kapan-kapan aku ingin sekali berburu harimau atau singa," ucap Len.

Ayahnya tertawa lalu mengangguk. "Iya nak, mungkin lain kali ya," ucap ayahnya sambil menyerahkan panah berburunya pada pelayan yang mengikuti mereka disamping kanan mereka.

Len berjalan menuju arah yang berlawanan dengan ayahnya. Ia menuju sebuah ruangan yang berada di dekat halaman samping.

Len duduk di pinggir jendela sambil menopang dagu. Mengamati kegiatan yang sedang Rin lakukan. Ia tersenyum melihat raut wajah adik kembarnya itu.

Sudah bukan hal yang baru Len gemar mengamati adiknya itu. Entah magnet apa yang membuat Len selalu mengamati Rin.

***Vocaloid Vocaloid Vocaloid***

Len's P.O.V

Aku duduk di ruang keluarga mendengarkan alunan musik yang dilantunkan oleh kakak ku, Miku. Ia memang pandai sekali bermain musik. Apalagi piano dan biola.

Suasana malam datang menyelimuti langit. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Aku selalu begini, kebingungan akan kegiatan apa yang mau aku lakukan menjelang waktu tidur.

"Lenny~" Rin memelukku dari belakang. Mendadak wajah ku blushing dan memanas meski ia sering melakukan hal itu.

"Ada apa?" tanyaku.

"Aku bosan, lukisan Nee-chan juga sudah selesai, main yuk?" tawar Rin sambil ikut duduk di sebelahku, menikmati musik Miku.

Aku mengamati Rin yang sedang memejamkan mata menikmati musik Miku.

Di saatmengamati wajah yang menurutku sangat indah ini, aku ingin sekali berharap bahwa aku bukanlah saudara kembar Rin. Aku benar-benar merasakan perbedaan yang ada pada diriku dan dirinya.

Tiba-tiba kurasakan tangan Rin menggenggam tangan kananku. Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya!

Astaga. Jujur saja, aku paling tidak kuat jika harus menolak perasaan seperti ini.

Jantungku berdebar kencang. Namun aku harus mengatur kembali detak jantung ini.

'Ayolah, tenang,' gumamku pelan.

Rin menoleh. "Kau bilang apa?"

Aku tersentak. "Eh, etooo, aku harus ke kamar, sepertinya aku mulai ngantuk," ucapku berbohong.

Rin mendengus. Wajahnya kecewa. "Aduh, aku kan ingin bermain dulu," ucapnya.

Aku tersenyum. "Habis aku sendiri bingung, Rin, harus bermain apa," ucap Len.

Rin merengut. Ia sepertinya kesal dan ngambek.

Aku skakmat. Aku benar-benar tidak mau melihat wajahnya sedih seperti ini.

"Ma-," aku baru akan mengatakan sesuatu sebelum ia akhirnya beranjak lalu pergi meninggalkan aku bersama Miku yang masih asik bermain dengan pianonya.

Aku benar-benar ingin mengejarnya, tapi..ah sudahlah.

***Vocaloid Vocaloid Vocaloid***

Normal P.O.V

Rin duduk di hadapan meja riasnya. Ia menyisir rambutnya dan mengamati cerminan dirinya dengan gaun tidur berwarna putih dengan lengan berkerut serta pita berwarna kuning dibagian dadanya.

Ia bingung malam ini harus melakukan apa. Ia bangkit dan mondar mandir di kamarnya. Memikirkan hal apa yang bisa membuatnya tidak sebosan ini. Biasanya ia menyelesaikan lukisan-lukisan yang memang tinggal dibereskan dan dirapikan.

Tiba-tiba ia ada ide. Ia mengambil sebuah mainan semacam monopoli dari peti mainannya yang cukup besar di samping meja riasnya.

Ia tersenyum lalu bergegas keluar kamar, menuju suatu tempat.

Rin menghampiri kamar Luka. Ia mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban.

"Hmmm, sepertinya sudah tidur," ucapnya sambil mendengus lalu bergegas ke kamar lain.

Ia mengetuk pintu kamar Miku. Setelah beberapa kali mengetuk, Miku membukakan pintu, namun wajahnya terlihat sangat, kurang enak dilihat. Matanya berkantong.

"Eh, Miku, maaf ya mengganggu, tidak jadi deh," Rin ngeloyor pergi.

Miku bingung. Lalu ia kembali ke dalam kamarnya dan melanjutkan kegiatan tidurnya.

"Harapan terakhir…eh tapi tunggu, aku kan sedang ngambek," ucap Rin berhenti di depan pintu kamar Len. Lalu berpikir sejenak.

"Ah, masa bodoh, " Rin mengetuk pintu kamar Len.

Pintu kamar dibuka. Len ternyata belum mengenakan piyama.

"Ah, syukurlah, Lenny, kau mau main bersamaku tidak? Ayolah…aku sudah lelah-lelah mengelilingi lorong demi lorong, mengecek kalian sudah tertidur atau belum, aku mau main," ucap Rin merengek.

Len tidak tega melihat adiknya ini.

"Baiklah masuk," ucap Len.

"Eh, aku? Masuk ke kamarmu? Malam-malam begini? Kenapa tidak main diluar saja?" tanya Rin. Wajahnya sedikit memerah.

Len tertawa lalu mencubit pipi Rin dengan gemas.

"Memangnya kenapa? Kau kan adik-," Len menghentikkan kalimatnya. Lalu ia langsung menarik masuk Rin ke kamarnya.

"Ugh, pelan-pelan dong," Rin mendengus kesal. Ia meletakkan mainannya di meja kamar Len. Lalu duduk dihadapan kaca yang terletak di meja itu.

Len terlihat sedang membuka pakaiannya. Berniat mengganti pakaiannya menjadi piyama.

Rin melotot lalu buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain.

Len melihat ekspresi Rin dari cermin. Ia tersenyum nakal lalu menghampiri Rin, tentunya dengan kancing kemejanya yang terbuka. Semuanya.

"Mau apa kau?" tanya Rin bergidik ngeri. Ia meletakkan kedua tangannya didepan dadanya.

Len tertawa. Ia memutar tubuh Rin agar mengarah ke hadapannya.

Sebenarnya ia memang sudah lama melakukan hal ini, tapi ikatan persaudaraan yang ada diantara mereka memang sangat melarang mereka.

"Rinny, kan kau sendiri yang mengajakku bermain," ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rin.

Rin melotot lalu mendorong Len perlahan.

"Huh, kau ini iseng sekali! Sudah ah aku mau ke kamar," mendadak Rin ngeloyor pergi keluar dari kamar Len dan meninggalkan mainannya, juga melupakan niat pertamanya masuk ke kamar kakak pria nya ini.

Rin's P.O.V

Astaga, kenapa aku ini. Aku memegangi wajahku, merasakan sedikit rasa panas menjalar dari wajahku hingga ke seluruh tubuh.

Jantungku berdetak cepat. Semakin cepat dan aku pun semakin mempercepat langkah kakiku menuju kamar. Sambil terus memegangi pipiku.

Perasaan yang aneh. Kenapa ini begitu…..menyenangkan?

Aku buru-buru menutup pintu kamar dan menguncinya. Namun membuka kunci kembali saat teringat bagaimana susahnya nanti pelayan yang akan membangunkanku.

Aku melempar diriku ke kasur. Memandangi langit malam yang ditampilkan melalui jendela besar di kamarku.

Membayangkan perlakuan kakaku sendiri tadi, itu benar-benar tidak masuk akal.

Tidak masuk akal.

~Cursed Palace~

=To Be Continued=

Silahkan yang mau review. Terima kasih udah nyempetin buat baca. Mungkin author bisa update kilat kalo emang bagus ceritanya.

Selalu butuh kritik dan saran kalian para readers dan para authors yang lain \(^.^)/