Chapter 5

Kode

"Tunggu sebentar," teriak Naruko dari arah dapur saat seseorang mengetuk pintu apartemen Naruto. Naruko yang saat itu baru selesai sarapan segera berlari kecil kemudian membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka, tampaklah Shikamaru disana. Pria berambut nanas tersebut tidak terlihat kaget melihat seorang gadis pirang cantik berada di apartemen Naruto. Terima kasih kepada Sakura yang sempat menceritakan kepadanya tentang keberadaan Naruko. Terciptanya Naruko dari bunshin Naruto memang hal yang tidak masuk akal, bahkan untuk seorang jenius seperti Shikamaru. Tapi sudahlah, ia datang kesana bukan untuk meneliti Naruko. Ia punya sebuah tujuan lain yang lebih penting.

"Shikamaru," sapa Naruko ramah.

Shikamaru mengangguk singkat menanggapi sapaan Naruko. "Boleh aku masuk?" tanyanya.

"Tentu."

Naruko menggeser badannya, membiarkan Shikamaru masuk dan mempersilakannya duduk.

"Aku ditugaskan untuk memecahkan kode yang ditinggalkan Tuan Jiraiya," kata Sikamaru memulai pembicaraan. Ia mengeluarkan secarik kertas berisi kode-kode. Naruko yang duduk di seberangnya mengambil kertas tersebut dan memperhatikannya baik-baik.

Shikamaru mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Naruto. Karena tidak menemukan orang yang dicarinya, ia kembali menatap Naruko.

"Apa Naruto ada? Mungkin Naruto tahu sesuatu tentang kode ini," kata Shikamaru to the point.

"Ya, tapi dia masih tidur," jawab Naruko. "Biar kubangunkan," katanya sambil beranjak untuk membangunkan Naruto.

Sebenarnya ini sudah melebihi jam sarapan, tapi Naruto masih tidur. Dalam keadaan normal, biasanya Naruko akan membangunkan Naruto bagaimanapun caranya agar mereka bisa sarapan bersama. Mengguncang-guncang badan Naruto, menciprat mukanya dengan air, atau langsung saja menggusurnya ke meja makan. Tapi kali ini berbeda. Meski kemarin Naruto sudah bisa tersenyum di depan Naruko, tapi ia yakin, kesedihan belum sepenuhnya hilang dari hati Naruto. Karena itu, Naruko tidak mau mengganggu Naruto. Ia ingin membiarkan lelaki yang disukainya itu untuk beristirahat dan menenangkan dirinya.

"Tunggu Naruko." Sebelum Naruko meninggalkan ruangan, Shikamaru memanggilnya.

Naruko menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Shikamaru. "Ya?"

"Apa… Naruto baik-baik saja?" tanya Shikamaru.

Jujur saja, Shikamaru khawatir kepada Naruto. Ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan seorang guru yang sangat dekat dengannya. Dulu Shikamaru begitu terpukul saat guru Asuma meninggal. Jadi sekarang pun ia mengerti perasaan Naruto. Apalagi ia tahu Naruto sangat dekat dengan Jiraiya. Belum lagi tadi guru Kakashi yang memberitahunya kalau kemarin Naruto sangat terpukul mendengar kabar kematian Jiraiya. Itu tidak mengherankan, mengingat sifat Naruto yang tidak pandai mengatur emosinya.

"Kemarin ia memang begitu terpukul. Tapi sekarang aku yakin dia sudah agak tenang," jawab Naruko sambil tersenyum. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar Naruto. Errr, maksudnya kamar mereka berdua, mengingat mereka berdua memang tidur di kamar yang sama meski beda tempat tidur. "Tunggu disini sebentar," lanjut Naruko.


Rasa khawatir Shikamaru menghilang begitu melihat wajah ceria Naruto, meski tidak seceria sebelumnya. Kelihatannya memang benar Naruto sudah tidak terlalu sedih. Padahal ia membayangkan Naruto berada dalam keadaan yang lebih buruk dari sekarang. Apalagi setelah mendengar ucapan guru Kakashi yang menceritakan padanya betapa terpukulnya Naruto saat mendengar kematian Jiraiya.

Kemudian pandangan Shikamaru beralih ke arah Naruko yang berjalan beberapa langkah di belakang Naruto.

'Mungkinkah dia yang menenangkan Naruto?' tanya Shikamaru dalam hati. Masalahnya tidak mungkin sekarang Naruto bisa setenang ini jika tidak ada yang menenangkan. Dulu ia masih mending karena bisa membagi kesedihan yang dirasakannya saat kehilangan guru Asuma dengan Ino dan Chouji. Mereka bertiga merasakan kesedihan yang sama, sehingga bisa saling menenangkan satu sama lain. Sedangkan Naruto? Ia hanya sendiri. Tidak ada orang lain lagi yang membagi kedekatannya dengan Naruto dan Jiraiya. Shikamaru semakin yakin kalau Narukolah yang menenangkan Naruto dilihat dari sifat Naruko yang menurutnya ramah dan fakta bahwa gadis itulah yang sudah lebih dari sebulan ini dekat dengan Naruto.

"Yo Shikamaru," sapa Naruto.

Shikamaru tersadar dari analisis-analisis dalam otaknya ketika Naruto menyapanya. Paling tidak sekarang ia bisa bersyukur dan merasa tenang karena sahabatnya itu tidak sesedih yang diceritakan guru Kakashi.

"Naruto," balas Shikamaru. "Ada pekerjaan yang harus kau selesaikan."

"Naruto-kun, apa kau tahu apa kira-kira arti dari angka-angka ini?" tanya Naruko sambil memberikan kertas berisi kode yang tadi diberikan Shikamaru kepadanya.

Kening Naruto berkerut melihat rangkaian angka-angka dalam kertas itu.

Shikamaru sudah menduga mencari petunjuk dari Naruto akan sulit. Tapi Naruto adalah harapan terakhirnya karena ia sudah bertanya kepada Tsunade mengenai kode ini, tapi ia tidak mendapat petunjuk apapun. Ini memang sangat merepotkan baginya, tapi Tsunade 'memaksanya' untuk menyelesaikan tugas memecahkan kode ini jadi mau tidak mau ia harus menyelesaikannya.

Shikamaru menghela nafas panjang. 'Ini benar-benar merepotkan,' batinnya. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Ikut aku ke Unit Kriptografi."


Setengah jam berlalu dan Naruto masih menatap kertas hadapannya tanpa ada sedikitpun petunjuk tentang apa sebenarnya arti dari kode yang ditinggalkan Jiraiya itu.

"Hei, kau belum menjawab apapun dari tadi. Ada yang terpikir olehmu Naruto?" tanya Shikamaru yang heran melihat Naruto masih saja diam.

"Mmm," gumam Naruto tidak jelas. Ia masih memperhatikan dengan seksama urutan angka-angka dalam kode itu.

"Aku sudah bertanya kepada Hokage-sama dan guru Kakashi tapi mereka tidak tahu apa maksudnya. Aku merasa pesan ini Tuan Jiraiya tujukan untukmu Naruto. Aku yakin," kata Shikamaru serius.

"Kalau kau mendapat petunjuk atau ada yang harus kulakukan, tolong segera beri tahu aku," tambah seorang gadis yang memakai kacamata bulat bernama Shiho. Ia merupakan petugas di unit kriptografi yang membantu Shikamaru memecahkan kode.

Melihat keseriusan Shikamaru dan Shiho, serta kebingungan Naruto, Naruko tidak bisa tinggal diam. Naruko mendekati Naruto dan menyimpan tangannya di atas tangan Naruto kemudian mengusapnya pelan, menenangkan. Naruto menoleh ke arah Naruko dan tatapan mereka bertemu.

"Ayolah Naruto-kun," ujar Naruko menyemangati. "Jangan terlalu berpikir keras. Ungkapkan saja apa yang kau pikirkan saat melihat kode ini."

Naruto melihat kesungguhan di mata Naruko. Kata-kata Naruko memang benar, gadis itu tahu kalau dirinya tidak biasa berpikir keras. Berpikir keras malah membuatnya tambah bingung. Naruto menggeser tangannya, menggenggam erat tangan Naruko.

"Kau benar," balas Naruto sambil memasang seulas senyum di wajahnya, Naruko membalas dengan senyuman yang tak kalah tulusnya.

Shikamaru mengerutkan keningnya melihat pemandangan di depannya.

'Apa-apaan ini? Pegangan tangan?' tanya Shikamaru dalam hati. Ia menoleh ke arah Shiho, tanpa disangka gadis berkacamata itu juga langsung menoleh kepadanya. Kelihatannya mereka memikirkan hal yang sama.

'Pasti ada SESUATU di antara kedua orang pirang itu,' batin Shikamaru. Tapi ayolah, Shikamaru sudah rela mengorbankan waktunya untuk mengerjakan tugas merepotkan ini, ia kesini bukan untuk melihat Naruto dan Naruko bermesraan.

"Ahem," kata Shikamaru, membuat Naruko sadar dengan posisi tangannya dan tangan Naruto. Ia buru-buru menarik tangannya, kemudian menyembunyikan pipinya yang merona dengan cara menunduk. Kalau Naruto, sudah tak usah ditanya lagi. Seperti biasa dia tak sadar dengan apa yang baru saja terjadi.

Bukannya Shikamaru sengaja merusak suasana, hanya saja tugas ini harus segera diselesaikan. Shikamaru kemudian mendekati Naruto dan Naruko. "Bagaimana Naruto? Ada petunjuk?" tanyanya.

"Kurasa tidak semua karakter dalam kode itu berupa angka, ada huruf katakana disana," ujar Naruto.

"Katakana? Yang mana?" tanya Shikamaru penasaran. Setahunya tidak ada karakter katakana dalam kode itu.

"Karakter pertama. Lihatlah." Naruto menunjuk karakter pertama dalam rangkaian kode.

Shikamaru, Shiho dan Naruko melihat karakter yang ditunjuk Naruto. Tapi dilihat dari sisi manapun, karakter itu lebih mirip angka 9 dibanding karakter katakana.

"Tidak ada katakana di sana. Bukankah itu angka 9?" tanya Shikamaru.

"Kenapa kau berpikir kalau itu karakter katakana dan bukan angka 9 Uzumaki-kun?" tanya Shiho.

"Kau tahu kan kalau petapa genit adalah seorang penulis novel. Selama tiga tahun aku bersamanya, ia sering menyuruhku untuk membaca novelnya dan meminta masukan," kata Naruto, mengenang perjalanannya dengan sang petapa genit.

Naruko langsung merinding mendengar Naruto menyinggung-nyinggung lagi novel itu. Ia jadi ingat saat pertama kali mengetahui apa sebenarnya isi novel tersebut.


"Ahhh… akhirnya chapter pertama novel ini selesai juga," ujar Jiraiya sambil tertawa puas. Di mejanya tampak setumpuk draft novel. "Naruto, tolong baca novelku, aku minta pendapatmu," tambahnya. Saat itu Naruto sedang tiduran di dekatnya.

Entah apa yang ada di pikiran Jiraiya sampai menyuruh Naruto yang saat itu masih berumur 14 tahun untuk membaca novel dewasa. Untung saja Naruto terlalu bodoh untuk mengerti isi novel yang penuh dengan rangkaian kalimat kiasan serta adegan panas itu.

Tapi jangankan untuk memberi masukan, baru membaca satu halaman tulisan Jiraiya saja Naruto malah bingung.

"Aku bingung, kenapa huruf 'ta'-mu mirip sekali dengan angka 9? Aku jadi susah membacanya," protes Naruto.

"Yah, mau bagaimana lagi, tulisan tanganku memang seperti itu," jawab Jiraiya. Memang susah kalau disuruh merubah sesuatu yang sudah jadi kebiasaan.

Sejak saat itu, di sela-sela latihan, Jiraiya sering menyuruh Naruto untuk membaca kembali chapter-chapter lanjutan dari novelnya.

Hingga sampailah pada chapter puncak, dimana di sana terdapat adegan panas. Jiraiya merasa kurang percaya diri untuk menulis chapter itu dan merasa masih butuh 'penelitian'. Saat itulah Jiraiya menyuruh Naruto untuk mempraktekkan Sexy no Jutsu dihadapannya.

Saat itu Naruto terlalu malas untuk meladeni permintaan Jiraiya. Ia lebih tertarik untuk berlatih mengembangkan ilmu ninjanya. Akhirnya ia membuat seorang bunshin dan menyuruhnya mempraktekkan Sexy no Jutsu. Setelah itu Naruto pergi berlatih. Sang bunshin segera membentuk segel Henge no Jutsu dan merubah dirinya menjadi perempuan. Kebetulan saat itu Narukolah yang terpanggil oleh segel sang bunshin. Tak lama kemudian Jiraiya datang dan segera memulai 'penelitian' mengenai tubuh perempuan. Kedua mata petapa genit itu melotot, pipinya memerah, air liur mengalir dari mulutnya saat ia memperhatikan tubuh talanjang Naruko tanpa berkedip. Sedangkan tangannya sibuk mencatat apa saja yang menurutnya penting.

Tapi setelah lima menit melakukan 'penelitian', Jiraiya tidak tahan pada ke-sexy-an Naruko. Darah segar menyembur keluar dari kedua lubang hidungnya. Membuat sang petapa genit terkapar di lantai dengan raut wajah senang.

Naruko (yang saat itu belum se-feminim sekarang) hanya terkekeh geli. Tapi ada yang membuatnya penasaran. Ia belum tahu apa sebenarnya isi novel tersebut.

Naruko pun memberanikan diri untuk membaca isi novel tersebut. Naruko menikmati kegiatannya membaca novel setidaknya sampai chapter kedua. Ia sangat menikmati penyampaian cerita Jiraiya yang begitu rapi dan detail di tiap adegannya. Awalnya ia mengira itu hanya novel roman biasa. Tapi saat memasuki chapter ketiga (dua chapter sebelum chapter puncak), Naruko mulai sadar arah dari cerita novel ini.

Ini novel mesum!

Dan tingkat kemesuman novel ini tidak main-main! Hingga membuat pipi Naruko memanas seketika padahal baru membaca beberapa paragraf saja di chapter tiga.

Boleh saja dulu Naruko belum se-feminim sekarang, tapi biar bagaimanapun ia diciptakan dari sisi feminim Naruto. Jadi hati dan perasaannya sama saja dengan perempuan biasa. Makanya ia jadi malu sendiri ketika membaca novel mesum itu.

Akhirnya Naruko melempar draft novel itu ke wajah Jiraiya dan memilih untuk melenyapkan dirinya sendiri.


Naruko menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan ingatan yang sebenarnya tidak mau ia ingat.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau ini huruf 'ta'? Ini bisa jadi petunjuk yang bagus."

"Bagaimana bisa huruf 'ta' saja bisa jadi petunjuk?"

Naruko kembali memperhatikan tiga orang di hadapannya yang masih sibuk memecahkan kode.

Shikamaru berpikir sejenak. Mencoba menjawab pertanyaan Naruto.

"Novel itu! Ya novel itu!" jawab Shikamaru.

"Ya Shikamaru-san, aku rasa petunjuknya berada dalam novel yang Tuan Jiraiya tulis. Mungkin kode itu bisa berarti nomor baris, halaman atau kata. Aku yakin itu," tambah Shiho.

"Naruto, apa kau tahu mengenai sesuatu yang berhubungan dengan huruf 'ta' dalam novel?" tanya Shikamaru.

Naruto kembali berpikir. Sesuatu yang berhubungan dengan huruf 'ta'.

Ta.

Narukopun ikut berpikir, berharap ia bisa mengingat sesuatu yang berhubungan dengan huruf 'ta'. Tentunya ia akan sangat senang jika bisa membantu. Tapi sayangnya, sama seperti Naruto, ia pun tak mendapatkan petunjuk apapun.

"Berapa jumlah novel yang sudah Tuan Jiraiya tulis?" tanya Shikamaru.

"Aku tidak tahu. Mungkin 4 atau 5," jawab Naruto tidak yakin.

"Kita harus mendapatkan semua novelnya dan menelitinya satu per satu," kata Shikamaru bersemangat. Pemecahan kode ini sudah mulai mendapatkan titik terang, ini membuatnya yakin kalau mereka bisa memecahkan kode tersebut.

Di lain pihak, Naruko malah terpaku mendengar Shikamaru bilang akan meneliti semua novel Jiraiya. Baru membaca sebagian isinya saja sudah membuat Naruko malu. Kalau meneliti, itu berarti termasuk membaca semua isinya 'kan? Wow. Sekarang pipi Naruko mulai memanas.

Sebelum mereka berempat pergi, jendela ruangan terbuka dan Kakashi muncul disana dengan menunjukkan salah satu novel hasil karya Jiraiya yang menjadi favoritnya.

"Aku yakin kalian sedang mencari ini."

Shikamaru menyadari sebuah karakter dalam cover novel yang dibawa Kakashi.

"Icha Icha Tactics… Ta!" seru Shikamaru.

"Yo guru Kakashi," sapa Naruto.

"Aku penasaran dengan pemecahan kode ini, makanya aku kemari. Tapi akau malah tidak sengaja mendengar percakapan kalian," ujar Kakashi.

"Ah aku ingat, itu buku yang ditulis petapa genit ketika berlatih denganku," seru Naruto.

Kemudian Shikamaru tersenyum. "Aku tidak akan menyadari semuanya jika kau tidak mengatakan sesuatu Naruto. Ternyata benar pesan ini memang Tuan Jiraiya tinggalkan untukmu," ujar Shikamaru. Naruto ikut tersenyum menanggapi kalimat Shikamaru.

Sementara itu Naruko mendekati Kakashi untuk memperhatikan novel tersebut. Ternyata itu memang novel yang dulu pernah dibacanya. Dan ia masih ingat dalam chapter 3 novel tersebut ada…

'Ah tidak! Aku malah mengingat kembali isi dari novel itu! Ini semua salah petapa genit!' rutuk Naruko dalam hati.

Naruto menyadari kalau dari tadi Naruko terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hei Naruko, kau kenapa?" tanya Naruto heran.

"Ah, a-aku tidak apa-apa, ahaha," jawab Naruko gelagapan. Ia bersandar di dinding dekat jendela, berusaha menenangkan dirinya.

"Volume dari novel ini diberi nama 'Tactics', huruf pertamanya 'ta'. Tuan Jiraiya kelihatannya memang mengarahkan kita pada novel ini," gumam Kakashi.

"Jika benar kode itu menuntun kita pada novel ini, kita harus mencoba melihat halaman, jumlah kata dan lain-lain. Pertama, ayo kita lihat halaman." Shiho memperhatikan kertas berisi kode itu sekali lagi. "Koma adalah pembatas, 31, 8, 106, 7, 207, 15. Ada total enam halaman, jadi informasinya mungkin ada di keenam halaman itu. Pertama halaman 31, ayo kita lihat isinya."

Naruko memiliki firasat buruk tentang ini. Ia menelan ludahnya.

Kakashi membuka halaman 31. "Oke, ini halaman 31. Selanjutnya bagaimana?"

"Metode paling umum adalah dengan cara melihat kata pertama dari halaman tersebut. Tapi kita juga perlu mengetahui konteks dari kalimatnya. Jadi tolong bacakan satu kalimat secara keseluruhan dengan keras.

"Hah?" Kakashi langsung berkeringat dingin, begitu juga Naruko. Firasat buruk Naruko tadi akhirnya terbukti.

Kakashi melihat potongan kalimat di halaman 31. Ini sudah masuk ke adegan panas. Dan ia harus membaca isinya dengan keras? Ini memalukan. "Err.." Kakashi bingung harus bagaimana.

"Apa masalahnya? Cepat bacakan saja isinya!" teriak Naruto tak sabar.

"T-tunggu sebentar, Naruto-kun! Kau sendiri tahu 'kan isinya seperti apa?" tanya Naruko, pipinya sudah memerah menahan malu. Kakashi mengangguk sutuju.

"Aku lupa isinya apa," jawab Naruto cuek. Naruko dan Kakashi sweatdrop, seharusnya mereka sudah menduga Naruto akan menjawab itu.

"Ini untuk memecahkan kode yang ditinggalkan Tuan Jiraiya, jadi ayo bacakan," ujar Shiho.

Naruko menghela nafas, rupanya tidak ada yang tahu seberapa mesumnya novel itu selain dirinya dan Kakashi. Naruko bertukar pandangan dengan sebelah mata sayu Kakashi. Kakashi mengangkat bahunya seolah bilang 'kurasa aku tak punya pilihan lain'. Akhirnya Naruko hanya bisa pasrah, bersiap menahan rasa malu, kemudian ikut mendengarkan Kakashi membacakan kalimat-kalimat super mesum dari novel itu.


Sepuluh menit berlalu dan Kakashi selesai membacakan enam halaman yang diperintahkan Shiho. Naruko akhirnya bisa bernafas lega. Tadi ia sudah berusaha menutup telinga, tapi tetap saja kata-kata Kakashi terdengar. Membaca novel itu sendiri saja membuatnya malu, apalagi sekarang berlima. Sudah seperti murid yang mendengarkan dongeng saja, dengan Kakashi sebagai gurunya. Bedanya dongengnya kali ini dongeng mesum.

Naruko melihat Shikamaru dan Kakashi memasang ekspresi yang tak bisa ditebak, keringat mengucur dari wajah dan leher mereka. Apalagi Shikamaru, ini bukanlah tipe bacaan yang disukainya. Sedangkan Shiho, Naruko bisa melihat kalau gadis itupun merasa malu, bisa dilihat dari semburat merah di pipinya yang berusaha ia tutupi dengan kacamata. Kalau Naruto… Kalian tahu sendiri sifat Naruto bagaimana, ia sama sekali tidak terpengaruh. Entah ia tidak mengerti kalimat-kalimat yang dibacakan Kakashi, atau entah ia sudah terlalu kebal dengan mesumnya novel itu saking seringnya Jiraiya menyuruh Naruto membacanya.

"Orang yang sesungguhnya tidak bersama mereka," ujar Shiho, membacakan hasil dari penggabungan kata pertama dari tiap halaman yang dibacakan Kakashi.

"Apa maksudnya ini?" tanya Naruto.

Kakashi berpikir sejenak mencoba mengartikan kalimat itu. Tapi iapun tak mendapat petunjuk berarti. "Kita harus menemui Tuan Fukasaku. Kalau ia berada disana saat pertarungan Tuan Jiraiya dan Pain, mungkin ia tahu arti kalimat ini."

"Aku akan melapor kepada Hokage-sama agar kita bisa menemui Tuan Fukusaku," ujar Shikamaru.

Kini Naruto tambah bersemangat. "Baiklah, ayo kita menemui Nenek Tsunade sekarang juga."


"Terima kasih Naruko," kata Naruto dalam perjalanan mereka ke gedung hokage.

Shikamaru, Shiho dan Kakashi berjalan di depan sedangkan Naruto dan Naruko berjalan paling belakang. Naruko malah bingung, kenapa Naruto berterima kasih padanya.

"Terima kasih untuk apa?"

"Tadi Shikamaru bilang kalau pemecahan kode tidak akan berjalan sejauh ini kalau saja aku tidak mangatakan petunjuk apa-apa. Tapi justru aku merasa kalau aku tidak akan mengatakan apapun kalau saja tadi kau tidak menenangkanku. Jadi, terima kasih sekali lagi," kata Naruto tulus.

Naruko menggeleng. "Aku hanya menenangkanmu saja. Kau sendirilah yang mengatakan petunjuk-petunjuk lainnya. Mulai dari huruf 'ta', kebiasaan menulis petapa genit dan novel yang ditulisnya. Itu membuktikan kalau kaulah yang paling dekat dengan petapa genit, tidak ada lagi orang lain lagi. Aku yakin sekarang petapa genit senang karena kode yang ditinggalkannya berhasil kita pecahkan karena bantuan petunjuk darimu. Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan petunjuk yang ditinggalkannya dan pengorbanannya tidak akan sia-sia."

"Hn," gumam Naruto, menyetujui perkataan Naruko yang panjang lebar itu. Kini bibir Naruto membentuk seulas senyum tulus. Setelah terdiam beberapa saat, Naruto kembali bicara. "Naruko."

"Ya?"

"Tapi kurasa bukan aku saja yang dekat dengan petapa genit. Kau juga," ujar Naruto sambil menoleh ke arah Naruko, tatapannya bertemu dengan gadis pirang disampingnya. Tapi Naruko terlihat bingung dengan maksud ucapan Naruto. Naruto mengerti kebingungan Naruko, kemudian ia melanjutkan kalimatnya.

"Selama tiga tahun perjalananku dengan petapa genit, aku sering memanggilmu. Kita bertiga sering menghabiskan waktu bersama. Kita sering direpotkan oleh tingkah konyolnya. Kita tahu betul kebiasaannya yang suka mabuk dan main perempuan. Tapi kita juga tahu kalau ada saatnya petapa genit begitu baik, serius dan mengajariku ilmu ninja. Aku yakin kau juga tahu semua itu 'kan?" tanya Naruto. Naruko mengangguk. "Jadi menurutku, bukan aku saja yang dekat dengan petapa genit, tapi kau juga. Kurasa disadari atau tidak, kita sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama dia."

Naruko mengenang kembali memori mereka bersama sang petapa genit. Ya, memang benar mereka bertiga telah banyak menghabiskan waktu bersama.

"Ya, kau benar. Kita sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama petapa genit. Kita bertiga." gumam Naruko sambil memamerkan senyuman terbaiknya.

Tanpa Naruto dan Naruko ketahui, ternyata tiga orang di depan mereka saling bertukar pandangan.

Kemudian Shiho mengangkat kedua telunjuk tangannya, menyatukannya, lalu menatap Shikamaru dan Kakashi bergantian seolah bertanya 'apa mereka pacaran?' kepada dua lelaki itu. Shikamaru dan Kakashi hanya bisa mengangkat kedua bahu mereka, sama-sama tidak tahu.

Sementara itu di Amegakure

Di sebuah ruangan tampaklah tiga sosok berjubah Akatsuki yang sedang duduk di kursi masing-masing.

"Apa yang menahanmu?" tanya sosok yang memakai topeng, Tobi.

"Aku mendapat tamu yang tak terduga," jawab sosok yang memiliki banyak tindikkan di wajahnya.

"Seseorang yang bisa menahan seorang Pain?" tanya Tobi lagi. "Nampaknya sebutan Sannin Legendaris memang pantas bagi Jiraiya, reputasinya bukan hanya omong kosong belaka."

"Tapi paling tidak dia sudah mati. Sekarang aku bisa berburu Kyuubi kapanpun aku mau," jawab sosok yang dipanggil Pain itu dengan nada datar.

Tobi kemudian berdiri. "Konoha akan mencarimu sekarang. Semakin lama kau menunggu, semakin banyak waktu yang mereka miliki untuk menyusun rencana. Lebih baik segera bergerak sebelum jadi masalah."

"Pain tidak terkalahkan," sela sosok perempuan satu-satunya yang juga duduk di kursi, yaitu Konan. "Ia pasti akan mendapatkan Kyuubi bagaimanapun caranya."

Tobi tak menanggapi apa-apa, kemudian ia melanjutkan pembicaraannya. "Hanya tinggal dua Jinchuuriki lagi. Sasuke sedang mengurus Hachibi."

"Apa dia bisa menangkapnya?" tanya Konan.

"Sasuke akan berhasil, aku jamin itu," jawab Tobi dengan percaya diri.

Pain beranjak dari tempat duduknya. Nampaknya Tobi benar, semakin ia lama menunggu, semakin lama pula waktu yang dimiliki Konoha untuk menyusun rencana menghadapinya.

"Bersiaplah Konan," ujar Pain. Konan ikut berdiri dan mengikuti Pain dari belakang, berikut lima orang anggota Akatsuki yang bertindik lainnya.

"Tujuan kita sekarang adalah Konoha."

To Be Continue…


A/N:

Akhirnya bisa lanjutin fic ini lagi setelah beberapa bulan ga update. Saya tahu chapter 5 lebih pendek jika dibanding chapter sebelumnya. Tapi paling ga, dengan di-publish-nya chapter 5, saya udah ngebuktiin kalo saya masih ada niat buat ngelanjutin fic NaruNaru ini.

Satu hal lagi yang penting adalah saya MERUBAH judul fic ini. Yang asalnya The One Who Understands You The Most, jadi Seseorang Yang Paling Mengerti Dirimu. Sebenernya artinya sama aja sih. Tapi saya lagi pengen pake bahasa Indonesia. Lagipula ini fandom bahasa Indonesia 'kan? Begitu juga dengan judul chapter-chapter-nya, ada beberapa yang saya ubah ke bahasa Indonesia.

Untuk chapter 5 ga ada fanart, belum nemu yang cocok. Oh ya, saya udah bilang sejak awal kalo pembuatan fic ini modal nekat. Saya pengen alurnya gabung ke alur canon. Jadi saya selip-selip adegannya ke alur canon. Maka dari itu tolong beri tahu kalau ada plot hole atau ada yang aneh atau ga masuk akal dari alur fic ini.

Itu aja dulu deh. Jangan lupa review… review… ;)

Arigatou

-rifuki-