Chapter 3

"…Rand?" Gale tak percaya dengan apa yang sekarang ia lihat. Dengan perasaan waswas ia berpikir mungkin saja cedera yang ia punya lebih parah dari yang para dokter kira. Jangan-jangan benturan di kepalaku membuatku berhalusinasi.

Gale memejamkan matanya, berharap analisanya benar. Berharap jika ia membuka matanya lagi, sosok Randy yang masih berdiri di depan pintu kamarnya akan menghilang.

Namun tidak. Randy masih ada di sana. He's real.

"Gale, can I come in?" Randy ragu-ragu bertanya.

"Oh, of course, you can come in." Gale menjawab. "Maaf, aku sedikit terkejut melihat kau ada di sini," tambah Gale sambil sedikit tersenyum, namun wajah terkejutnya masih belum hilang.

Randy menutup pintu dan berjalan ke samping tempat tidur Gale.

"Hei." Randy berdiri di samping tempat tidurku.

"Hei, kau datang?" Gale berbisik. Gale tidak mempercayai matanya. Dia tidak menyangka Randy akan datang menemuinya setelah sekian lama tidak bertemu.

"Aku—aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja. Setelah ini aku akan pergi." Randy seperti bingung ingin bicara apa. Lalu dia berbalik untuk meninggalkan Gale.

"No, please stay." Gale tidak tahu apa yang membuatnya berkata seperti itu. "I mean, jangan pergi dulu. Kita sudah lama tidak berbincang." Gale mengendikkan kepalanya ke kursi di dekat tempat tidurnya. "Duduklah."

"Bagaimana keadaanmu?" Randy bertanya dengan khawatir setelah ia duduk di kursi yang ia seret ke samping tempat tidur Gale. Ia memandangi tubuh Gale dengan cemas dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Seperti yang bisa kau lihat. Aku jadi mumi sekarang." Gale menjawab dengan nada humor.

"Gale, seriously. Aku benar-benar terkejut saat mendengar kabar kecelakaanmu. Saat itu aku ingin sekali segera datang ke sini, tapi jadwal kegiatanku benar-benar padat dan aku tak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku. Dan ketika jadwalku kosong aku langsung mencari jadwal penerbangan terawal yang bisa aku dapat pagi ini." Randy dengan cepat berbicara seolah mengeluarkan semua kekhawatiran yang ia rasakan.

"Rand…"

"Lalu apa yang dokter katakan?"

"Rand."

"Kapan kau bisa keluar dari—"

"Randy!"

Randy terdiam.

Gale menghela nafas. "Relax, Rand… Aku baik-baik saja."

Gale bisa melihat sedikit demi sedikit pose duduk Randy yang kaku mulai meregang. Dia benar-benar khawatir, pikir Gale sambil tersenyum.

"Jika kau ingin tahu, aku ingin sekali cepat-cepat bisa keluar dari sini. Tapi para dokter itu belum mau melepasku sampai paling tidak dua minggu lagi. My shoulder's killing me. Dan kepalaku juga baik-baik saja, walau tadi sempat mengira kalau kepalaku ini membuatku berhalusinasi saat melihatmu di sini. Tapi sepertinya cedera di kepalaku ini tidak memiliki efek samping." Suara Gale terdengar sangat kesal.

"Syukurlah. Aku benar-benar lega mendengarnya." Randy tersenyum.

Senyum itu. Mungkin benar jika Justin dan Randy adalah dua karakter yang berbeda. The famous Sunshine smile bukan hanya milik Justin, namun juga milik Randy, karena Randy-lah yang memerankan Justin. Jantung Gale mulai berdebar kencang. Damn. Siapa yang tidak berdebar jika diberi senyuman seperti itu. Gale menggerutu dalam hati.

"Well, setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Walau aku meragukan jika aku bisa menikmati hidupku nanti," Gale menambahkan kalimat terakhir sambil berbisik. Raut wajahnya seketika muram.

"Gale? Ada apa? Kau bilang kau sudah tidak apa-apa. Apa ada yang kau sembunyikan?" Randy menatapnya dengan cemas.

"Ya, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Aku hanya butuh lebih banyak pain-killer." Gale terdiam.

"What, Gale? Please, tell me what's wrong?" Randy berbisik.

Gale terkekeh sinis. "No, nothing's wrong. For right now. But I don't know what will happen later."

Randy tidak bodoh. Dia pasti bisa mendengar nada pahit dari pernyataannya. Entah kenapa Gale ingin sekali menumpahkan semua ketakutan yang sekarang ia rasakan. Rasa takut jika nanti ia tidak bisa hidup dengan 'normal' seperti dulu.

"Later?" Randy terlihat bingung.

"Aku—aku hanya takut kalau…" sebelum Gale sempat mengutarakan ketakutannya, perawat datang untuk mengecek kondisi Gale. Gale terdiam, bingung dengan pikirannya sendiri. Takut? Takut apa aku sebenarnya? Kenapa aku harus mengatakan semuanya kepada Randy?

Gale menatap wajah Randy yang penuh kekhawatiran. Di satu sisi dia tidak suka melihat Randy mencemaskannya, namun di sisi lain dia senang, senang karena Randy masih mau mengkhawatirkannya, setelah apa yang terjadi di antara mereka semasa syuting dulu.

Setelah perawat meninggalkan kamar Gale, Randy mendekatkan diri ke tempat tidur Gale.

"Gale, kau takut apa?" Randy mencoba memegang tangan Gale, dan saat tangan mereka bersentuhan, perasaan itu datang lagi, perasaan di saat mereka bersentuhan. Ada debaran—

"Dokter mengatakan bahwa ada pembengkakan di otakku. Walau dokter bilang bahwa aku baik-baik saja saat ini, tapi aku tidak tahu bagaimana ke depannya." Gale memalingkan wajahnya dari Randy. Dia tidak bisa menatap Randy. Dia tidak ingin Randy melihatnya seperti ini.

"Bagaimana kalau nanti luka di otakku makin parah. Aku tidak bisa bermain peran lagi. Aku tidak bisa hidup normal jika tiap saat aku takut kalau ada yang salah di otakku, bagaimana kalau aku—aku tidak bisa melihatmu lagi..." Gale menumpahkan semua ketakutannya tanpa melihat ke arah Randy.

Gale merasa dirinya pengecut. Di satu sisi dia ingin selalu bersama Randy, tapi di sisi lain dia takut, takut akan sekitarnya yang tidak akan bisa menerima hubungan mereka. Dia merasa menjadi pengecut sudah sejak hari terakhir mereka syuting bersama.

"Gale, aku tahu kau akan baik-baik saja. Aku yakin." Dengan penuh percaya diri Randy meyakinkannya dengan senyuman itu, dan Gale percaya bahwa semua akan baik-baik saja.


Setidaknya sekali dalam seminggu, Randy datang pada sesi terapi Gale. Ia benar-benar meluangkan waktunya agar bisa bersama Gale. Untungnya saja jadwal Randy sedang tidak padat.

Kebersamaan mereka ini mencairkan kebekuan yang muncul setelah mereka berpisah di akhir QAF. Senyum dan sentuhan terujar dari hati. Dan Gale merasa mereka kembali seperti waktu itu, saat 5 tahun syuting bersama Randy. Itu adalah saat saat paling bahagia dalam hidupnya.

Bagi Gale, kehadiran Randy itu cukup jadi penyemangat di saat pemulihannya ini. Dokter pun kagum dengan perkembangan kesehatan Gale yang tergolong cepat. Kemungkinan munculnya efek samping cedera otaknya juga amat sangat minim. Namun semakin cepat kesembuhan Gale, mereka berdua pun menyadari kebersamaan mereka ini juga akan mendekati akhir.

Gale tahu Randy memiliki proyek teater baru, dan harus sudah mulai melakukan persiapan untuk itu. Ia tidak mungkin menahan Randy di sini lebih lama lagi walaupun dalam hatinya ia ingin sekali melakukan itu. Itu tidak adil untuk Randy. Randy memiliki hidupnya sendiri. Begitu pun dengan Gale. Lagipula, hubungan apa yang mereka miliki? Mereka tidak pernah membahas apa yang terjadi di antara mereka, apalagi berkomitmen. Semuanya hanya terjadi begitu saja. Apa yang terjadi saat ini hanyalah sesuatu yang kasat mata.

"Besok lusa aku sudah bisa keluar dari sini." Gale memandang ke luar jendela kamar rumah sakitnya.

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Tapi kau masih harus menjalankan terapi kan?" Tanya Randy yang sedang duduk di tempat tidur.

Gale tersenyum geli jika ia ingat saat itu. Jelas-jelas Randy bukan pasien, tapi tempat tidur Gale sudah 'dijajah' si pirang. Well, Gale sudah muak dengan tempat tidur rumah sakit. Toh dia sudah bisa berjalan sendiri.

"Tentu saja. Hanya saja sesi-nya tak serutin biasanya dan tak perlu menginap di sini. Setidaknya aku harus datang sebulan sekali sampai Dokter memutuskan aku tak perlu terapi lagi," jawab Gale sambil melempar senyum ke arah Randy yang tentu saja segera membalasnya.

"Aku senang mendengarnya."

Kemudian hening tercipta di antara keduanya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Banyak hal yang ingin mereka utarakan. Namun mereka tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa merusak apa yang ada di antara mereka.

"Besok aku juga harus kembali ke New York. Aku harus—"

"Aku tahu." Potong Gale.

"Dan mungkin aku tidak akan kembali lagi."

Pernyataan terakhir Randy itu seakan meremas Jantung Gale. Perasaan ingin menahan Randy muncul kembali. Ia amat sangat menginginkan Randy terus ada di sampingnya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Gale sendiri tidak bisa mengakui isi hatinya saat itu. Ha! Ironis sekali. Sifat Brian Kinney sepertinya melekat sekali padanya.

Dan ia tahu Randy bukanlah pemuda naif seperti Justin yang begitu saja menuruti perasaannya demi seseorang yang disayanginya. Ya, Gale tahu perasaan Randy, sama seperti Randy yang tahu perasaan Gale meski masih ada keraguan di hati Randy akan perasaan Gale yang sesungguhnya.

Keheningan ini membuat kepala Gale berdenyut-denyut. Walau dokter mengatakan bahwa Gale sudah sembuh, Gale tidak boleh terlalu banyak pikiran. Hanya akan membebani kepalanya yang baru saja mengalami cedera.

"Aku mengerti." No, I don't understand. "Terima kasih untuk semuanya." No, please, don't go. "Ku harap semuanya lancar." Please, stay. Gale tersenyum, namun hatinya ingin sekali menjerit.

Randy hanya memandanginya dalam diam. Gale menemukan kekecewaan dalam mata birunya.

I'm sorry. I'm so sorry. Mata Gale terpejam.

"Gale…"

Saat ia membuka mata, Randy sudah berdiri di depannya. Ia tidak mau memandang bola mata biru itu. Tapi tatapan sendu itu seolah menguncinya, dan membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Gale yang masih belum memutuskan kontak mata mereka, merasakan sentuhan pada kedua rahangnya. Randy merengkuh wajahnya. Hangat. Kelopak matanya terpejam.

Tanpa Gale sadari, ada sentuhan lembut pada bibirnya. Gale bisa merasakan deru hangat nafas Randy. Dadanya berdetak kencang. Ada sesuatu yang panas yang mendorong keluar dari balik kelopak matanya, namun Gale menahannya. Gale meraih tangan yang ada di pipinya. Menggenggamnya.

Sentuhan lembut pada bibir mereka pun berakhir. Dan Randy menyandarkan keningnya pada kening Gale. "Maafkan aku."

"Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu," bisik Gale.

Randy menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya kau beristirahat, Gale. Wajahmu mulai pucat."

Randy melepaskan tangannya dari genggaman Gale dan menegakkan badannya. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan merapikannya. Ia menarik selimutnya ke samping mengisyaratkan Gale bahwa dia harus segera beranjak ke tempat tidur.

Setelah Gale menyamankan diri, Randy duduk di sisinya dan menyelemutinya sampai sebatas dada. Namun tangannya yang masih menggenggam selimut belum beranjak dari dada Gale. Randy menatapnya kembali dengan pandangan itu. Pandangan yang membangkitkan rasa bersalah pada diri Gale.

"Kau akan menjaga dirimu setelah ini, kan? Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi." Randy berujar khawatir.

"Aku pun juga tidak ingin." Gale tersenyum. "Tenang saja, Mr. Harrison, I'll be careful from now on."

"Promise me?" bisik Randy.

"I promise."

Kecupan itu terjadi lagi. Yang berubah jadi ciuman. Panas. Satu kali, dua kali. Sampai mereka tidak bisa mengacuhkan jeritan paru-paru mereka.

Terdengar ketukan dari pintu. Randy cepat-cepat beranjak dari duduknya. Seorang suster datang membawa obat yang harus Gale konsumsi malam itu. Setelah semua obat yang ia bawa sudah Gale minum, suster itu pun pergi setelah sebelumnya menyampaikan, "Sudah waktunya beristirahat."

"Well then, I have to go."

"Rand, kumohon tetaplah di sini sampai aku tertidur." Gale memberi pandangan penuh harap.

Randy menatap wajah Gale sesaat sampai akhirnya ia menyerah, "Baiklah."

Tanpa Gale sadari, saat dia jatuh tertidur karena pengaruh obat yang ia minum, Randy memberinya kecupan terakhir dan membisikkan, "Goodbye, Gale."

Dan saat Gale terbangun keesokan harinya, ia tahu Randy sudah pergi dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi. Gale menyadari kepergian Randy kali ini membuat lubang hampa di hatinya semakin dalam.

Sampai kini pun kehampaan itu masih menghuni hati Gale. Menyesal? Entahlah. Apa gunanya menyesal. Tidak akan mengubah apapun. Gale menyandarkan dahinya pada kaca jendela kamarnya. Bias sinar matahari pagi mulai menerangi Vancouver.

Gale menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak ada yang perlu kau sesali. Kau tida akan bisa kembali ke masa lalu. Gale mencoba men-sugesti dirinya sendiri, berharap sugesti-nya berhasil. Namun di saat ia memejamkan matanya, biru langit sendu penuh kekecewaan itu selalu muncul di balik kelopak matanya.

Mohon maaf sudah meng-hiatus-kan fic ini dengan tidak sengaja. Rutinitas sehari-hari meminimkan waktu luang dan gairah nulis…*suer*
Tuntutan hidup mengalahkan segalanya…TT^TT*plak*

Tapi karena di long weekend ini sempat mengalami boredom tingkat akut, akhirnya setelah diniatin, kelar juga chapter tiga. Chapter empat in progress. Doakan semoga ga kumat writer's block-nya dan bisa manfaatin waktu luang yang cuma seupil buat nerusin fic ini.

Soal rincian perawatan Gale itu gimana, ga usah nanya ya, itu cuma mengarang ria…=P
Intinya siy, Gale dirawat intensif cuma sekitar sebulan.
Dan lanjut terapi rawat jalan yang biasanya ditambah nginep di rumah sakit 2-3 hari per sesi selama 2-3 bulanan gitu. Sekali lagi, sistemasi ini cuma ngarang loh~

Dan buat yang bertanya-tanya (kalo ada yang nanya) fic ini bakal selesai atau ga, be assured, fic ini pasti diselesaikan koq..*but God knows how*. Karena saia sendiri sebagai reader, pasti buete banget kalo ada fic yang ditunggu-tunggu lanjutannya malah di-abandoned/di-discontinue sama author-nya…#nangisgegulingan

Lotsa lotsa thanks untuk yang sudah meluangkan waktu me-review fic ini.

Wish me luck, People! And don't forget to review~ ;D