Naruto © Masashi Kishimoto

suzanessa present :

.

DEIDARA MENCARI PENDAMPING

.

Attention!

Dei x Ino pairing

Gaje, alur lambat, no EYD rules, typos, OOC

Humor genre for language, Romantic genre for storyline, some unimportant dialogues may appear.

.

Pojok Review:

Flamee 'Cry: Hoho, makin kesini makin ada perkembangan lho! Eheehehe, ni dah update! Happy reading ya!

Black Skull 'Untdeks: Iyaa, haduu maaf ya! Aku baru nyadar tadi pas liat2 lagi. Harusnya Naruto dkk tu udah kuliahan. Udah diperbaiki kok..huuhuhu, makasii ya udah ngingetin.. ^o^.

.

Happy Reading! ^o^"

.

************************* Chapter Finale : Dei's Action! **************************

.

Mata aquamarine-nya tak bisa lepas dari pemandangan di depannya. Pemandangan seorang pemuda yang akhir-akhir ini sering ngadain konser Shah Rukh Khan di hatinya. Namun saat ini, konser Shah Rukh Khan itu pun berganti menjadi konser Syahrono yang video klipnya di hotel bergaya Eropa itu, lengkap dengan hujan dan gledeknya.

"De-Dei-Senpai?" ucap Ino, si pemilik iris aquamarine itu, lirih. Prasaan ini begitu menyakitkan di dadanya, padahal Ino yakin kalau itu bukanlah rasa yang penting.

Yah, well. at least, sampai sekarang lah…

"Lho, Ino?" Tanya Sai mulai cemas di sebelahnya.

"Ma-maaf Sai…Kayaknya aku ga beli dulu deh. Lain kali aja, oke?" ujar Ino sambil berjalan meninggalkan Sai dan menyunggingkan senyum palsu yang sangat dikenal Sai, soalnya Sai pun sering gitu kan?

Langkah kaki Ino tanpa sadar telah membawanya ke toilet di gedung kampus. Yah, jangan ditanya lagi ngapain lah, yang jelas sih ngeluarin bunyi 'cuuur' gitu. Nah, biasanya kalo cewe di toilet kan dandan dulu di kaca, Ino mah engga! Dia malah cuci mukanya berkali-kali, merasakan segarnya air membasahi wajahnya yang ayu itu. Lalu matanya menatap bayangan dirinya sendiri, dan menepuk-nepuk pipinya.

"Iiiih, kamu kenapa sih Ino?" Tanyanya pada diri sendiri. Dilihatnya matanya sudah berkaca-kaca, namun buru-buru dihapusnya, "Ga penting tau ga! Air mata ini…uh..". Ino membasuh mukanya lagi. Lalu ia mengelapnya dan berjalan ke pintu. Seperti orang linglung, yang ia lakukan hanya menatap gagang pintu.

Yah, ia tak bisa tahan dengan prasaan ini. Padahal apa sih? Oke lah dia menyebalkan sekali waktu pertama ketemu. Okelah, dia itu pria pirang yang mirip dengannya. Okelah, dia menjadi akrab dengan Ino semenjak Ospek itu. Okelah, dia memang sangat bisa diperhitungkan kapasitas otaknya dan merupakan seniman andalan di masa depan. Okelah, kalo Ino senang sekali jika ngobrol ama dia. Okelah, dia memang tampan walaupun sedikit urakan. Okelah, dia memang selalu ada kalau Ino butuhkan, membantu mengerjakan tugasnya, waktu ayahnya kecelakaan, waktu dijailin ama Pein, waktu kelaperan dan dia masakin sesuatu untukknya, dia yang membuatkan patung untuknya, de es be. Okelah, dia lah pria yang selalu konser di hatinya Ino. Dia,yang tak sengaja mengambil hati Ino dan ga dibalikin lagi. Memang Ino bukanlah Mas Kakuzu yang pinter nagih-nagih SPP, tapi setidaknya Ino kali ini harus menagih kembali hati yang telah direbutnya. Apalagi sekarang dia udah sarjana!

Direbut sama…

"Uuuuuum…Dei-senpai!NYEBELIN! Huuu….Pake jalan sama Hinata segala! Dah gitu godain Tenten pula! Ih, aku jadi kepikiran gini sih? Ga asik…." Ino teriak ama udara di sekelilingnya, tak sadar air mata meleleh di pipinya. Lalu ia masuk ke bilik toilet paling ujung dan duduk di atas klosetnya. Jarinya meremas lututnya sambil….menangis?

Ino menangis?

Oh, untuk siapa?

Aaah, tuh kan lamunan Ino jadi buyar! Gara-gara suara gedebum keras dari ruangan di sebelah temboknya…

'BRUAAK! KLONTANG….'

"Iiiih… BERISIK OOY!" Ino cantik-cantik bisa kasar juga loh!

Lalu, si ayu Ino memulai monolog galau dalam isak tangisnya. Monolog yang berjudul "Seolah Kuberbicara Dengan Dia."

.

.

Kamera rolling ke tembok sebelah yang membatasi bilik Ino dengan bilik toilet lainnya…

Ini, toilet cowo. Tau kan toilet fungsinya untuk apa? Yah, sumber bunyi dari 'brut..brut…plung…plung…' lah…Tapi aneh, alih-alih ada suara 'brut..plung..', di sini malah ada makhluk kuning lagi marah-marah sendiri. Dia malah tereak-tereak dan bergumam ga jelas kepada udara.

'BRUAAK! KLONTANG….'

"Iiiih… BERISIK OOY!" Terdengar suara cewe lagi kesel dari ruangan di balik tembok di sebelahnya.

"Un, maaf deh," lirih Deidara, si makhluk kuning itu. Tangannya mengepal di atas porselen wastafel yang retak, menahan sakit. Terlihat sedikit darah segar diantara kepalannya. Kini kuku jarinya menggaruk sisa-sisa porselen, ia menggeram. Kesal, kesal akan ke-pengecutan-nya sendiri, dan kesal karena ia telah diselip orang lain berkali-kali. Pertama, kelulusannya. Kedua, cintanya.

"Sai brengsek!" Rutuknya. Segera ia mencuci tangannya di wastafel sebelah, lalu membasuh muka dan rambutnya. Menatap bayangan dirinya sejenak, murung. Lalu Dei beranjak ke bilik toilet yang mepet ke tembok. Dan dimulailah sebuah monolog galau dari Deidara. Tenang, ini tidak seperti pertunjukkan boneka Sasori yang menggunakan suara perut dengan bonekanya, ini adalah monolog yang berasal dari suara hati Deidara. Monolog yang berjudul "Seolah Kuberbicara Dengan Dia".

"Maafin aku…..Ino… Aku, terlalu pengecut, un," kali ini, Deidara yang aselinya gahol pake 'elo-gue', mendadak mellow dengan make 'aku-kamu'. Ia berkonsentrasi pada monolognya. Saking konsennya, dia sampe ga denger ama suasana di sekelilingnya.

"Iya, kamu ga perlu minta maaf. Menyebalkan!" jawab suara dari balik tembok itu. Abaikan untuk kali ini! Kenapa? Oke, konsentrasilah mendengarkan suara hati Deidara yang lagi galau sekarang ini. Karena ia lagi pengen didengarkan, sodara-sodara.

"Setidaknya, aku pengen jadi yang duluan untuk kamu, un."

"Tapi kamu ga ngomong apa-apa ama aku!"

"Aku udah berusaha, tapi…un…"

"Tapi apa?"

"Tapi… adaaaa aja yang ganggu! Contohnya si Tenten dan…"

"Hinata?"

"Itu kan yang ditangkep ama mata kamu, un! Kamu gatau yang sebenernya…"

"Kamu mo jelasin apa? Udah jelas aku mergokin kamu lagi deket-deket ama Hinata!"

"Un, aku juga mergokin si Sai lagi monyong-monyong ke kamu!"

"Si Sai cuma nawarin lap tau! Kamu gatau ya kalo dia sekarang jadi salesman lap merek terkenal saat ini?"

"Ah,bukan itu masalahnya, un!"

"Jadi?"

"Jadi yaaaa….un, aku pengen ngeklarifikasi masalahnya"

"Coba ngomong langsung sini sama aku! Ih, Senpai nyebelin banget!"

'BRUAK!' *Suara pintu didobrak paksa dari tembok sebelah*

"Iya, aku pengen ketemu kamu. Berdua aja, un."

"…"

"Berdua aja,un.. kalo aku….pengen ngajak kamu…."

"….."

"Dan aku juga ciiin….Ih, prasaan daritadi ada yang ngejawab gue deh dari balik tembok, un!" Sadar dari lamunan monolognya, Dei segera beranjak dari bilik dan keluar dari toilet cowo. Ia celingukan mencari orang yang sekiranya ga jauh dari situ. Yaa kali aja orang itu yang tadi ngejawab monolognya. Tapi nyatanya dia sendirian, sendirian di tengah keramaian. Daripada bengong, mening Deidara pulang aja deh, sebelum cewe sejenis Tenten lainnya ngegangguin dia lagi.

.

.

.

Karena prustasi harga BBM kian menanjak,hari ini Deidara memutuskan untuk pulang berjalan kaki aja. Memang tak ada yang lebih enak untuk menggalau selain ngelamun jalan kaki sendirian di tengah keramaian sambil ditemenin sinar matahari sore. Di tikungan jalan, tiba-tiba ada seekor musang (?) lari-lari ke arah kakinya dan ngeringkuk di balik kakinya, seakan minta perlindungan darinya.

"Itakoooool! Jangan lari!" Samar-samar terdengar suara laki-laki yang familiar di telinga Deidara.

"Ah, there you are, Itakol!"

"Lho, Itachi? Ngapain lo, un?" Deidara terperanjat ketika suara itu adalah suara Itachi, sahabatnya.

"Ah, si Itakol kabur pas gue ajak jalan-jalan tadi! Fiuh untung ketemu…" Itachi, mengelap keringat di dahinya. Tetes keringat terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari. Jreng..jreng…jreng!

"Itakol, un?"

"Musang itu tuh, yang di kaki lo! Ck..ck..ck.. puss..puss…Itakoool, ayo sini!"

"Emang musang bunyinya 'puss..puss..' yah, un?" Pencak Dei dalam hati –Oke, Author pun gatau bunyi musang kayak gimana, mhehehehe..- . Heran juga ngeliat sahabatnya yang lulus dengan pujian cum laude ini begitu perhatian ama hewan peliharaan barunya ini. Apalagi namanya Itakol pula!

Ngeliat sahabat pirangnya ini terlihat murung, Itachi memberanikan diri mengajak sahabatnya itu bersantai.

"Eh, temenin gue dong! Lagi pengen siomay ni.."

"Hah, un..yaudahlah, yuk!"

Lalu berjalanlah kedua sahabat itu ke salah satu taman yang banyak anak-anak bermainnya, lengkap dengan jajanan yang berjajar di sekelilingnya. Keduanya berhenti di salah satu gerobak penjual siomay dekat situ.

Keduanya makan dalam diam. Itachi dengan semangat melahap siomaynya, sementara Deidara makan pelan-pelan. Lebih tepatnya, Dei kebanyak melamun daripada makannya. Sadar dengan hal ini, Itachi memecah keheningan.

"Kenape lo?"

Deidara sedikit terperanjat, "Kenapa apanya, un?"

"Lo kalo gamau siomaynya, buat gue aja. Daripada cuma dipelong terus kayak gitu."

"Eh, gue mau un! Enak aja!"

"(nyam..nyam…) Ada apa sih?"

"Mhehehe, lo tau yah,un?" Deidara gabisa lagi menyembunyikan kegalauannya. Itachi cuma ngangkat alis memandangi Dei untuk sesaat, lalu memberikan sedikit siomaynya ke Itakol.

"Hn?"

"Un, gue lom punya pendamping, Chi," kali ini Deidara tersenyum miris.

"Kenapa? (Nyam…nyam…) Padahal lo ga jelek-jelek amat. Yah, walopun ga lebih dari gue sih," Itachi terus ngunyah, begitu pula dengan Itakol, yang sekarang narik-narik tangan Itachi yang megang piring siomay.

"Entahlah, banyak sih yang pengen ngajak gue. Cuma gue aneh aja, abis tiba-tiba gitu,un!"

"Kalo gitu, apa lo udah punya calon yang mo diajak?"

"Udah, un. Tapi…"

Itachi kaget juga ngedenger ini, tapi tetep stay cool dan kembali ke wajah stoic-nya, biar Uchiha banget, "Eh, punya toh! Kenapa ga lo ajak?"

"Gue ga berani,un."

"Gitu doang?"

"Ya, dia udah ama ma yang lain kayaknya,un!"

"Itu baru kayaknya kan? Kan gatau kalo ga dicoba, sebelum janur kuning melengkung. Ayolaah! Emang kenapa sih mpe segitunya? Heran gue.."

"Dia special banget buat gue, un! Tau ga sih Chi? Udah kumplit ama telor en kornet lah pokonya!"

"Tau dah gue. Si Ino kan? Kemaren nangis-nangis tuh waktu ditelpon ama Sakura."

"Un, beneran? Kenapa un?"

"Kelincinya mati."

"Oooh, kirain apaan.."

"Eh, beneran deh lu! Kagak nyali banget!"

"Bukan gitu, un! Ini saking spesialnya dia buat gue, gue gamau sembarangan ngajak dia, tauk!"

"Ya kalo gitu mah gada masalah berarti!" Suasana terteguk dalam diam, lalu Itachi mengembalikan piring siomaynya, "Eh, Dei, sebelumnya gue mo minta maap ya!"

"Hah, kenapa un?"

"Umm..sebenernya sih gue kemaren-kemaren sekongkol ama Pein dan Sasori. Si Tenten dan Hinata tuh suruhan kita."

"Un, sudah kuduga! Ya sutralah, tengkyu ya! Tapi sori gue udah ada rencana lain. Lo bukannya udah tau ya kalo gue pengen ajak Ino, un?"

"Tau sih, cuma gue greget aja ngeliat lo ga gerak sama sekali! Lama-lama gue jadiin istri kedua juga nih si Ino!"

"Eh, jangan un! Tega bener…"

"Yaudah, kenapa atuh? Lu harusnya bilang makasih ama Pein dan Sasori yang udah nguatirin lo." Itachi bayar siomaynya, sementara Dei masih tertunduk diam, "Ehmm. yadah mo taruhan ga?"

"Eh, taruhan apa un?"

"Lu ajak Ino ke wisudaan lo yang tinggal empat hari ini. Kalo engga, lu harus nembak Sasori dan jadi homo seumur idup, mau?" Itachi mulai nyengir jail.

"Kenapa pula gue harus homo, un?"

"Yah, kalo gamau juga gapapa, homo!" Itachi beranjak dari kursinya dan memanggil Itakol sambil berlalu ninggalin Deidara.

"Uh, oke, FINE! Gue ajak Ino nih, un!" Sambil lari nyusul Itachi.

"Ah, telat lo!" "Lo kalo ga digituin, ga akan gerak!" Kemudian sepasang sahabat itu tenggelam di lembutnya sinar matahari terbenam.

.

.

.

Keesokan harinya

"Telpon…engga…telpon…engga..telpon..un?" Deidara tiduran di kasurnya sambil natap langit-langit kamar. Hari ini sore hari dengan cuaca yang paling bagus yang pernah ada. Sementara di lantainya berserakan berbagai macam patung tanah liat yang dibikin secara asal. Satu tangannya menggenggam HP nya. Eh, di HPnya sekarang terpampang wallpaper cewe berambut pirang panjang, dialah Ino. Dei tau kalo ga ada gunanya tetep diem kayak gini. Mau samapi kapan dia kayak gini, sementara rasa rindu akan gadis pujaannya itu sudah tak terbendung lagi. Mendadak Dei beranjak dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi.

"Pokoknya, ketemu ajalah dulu, un!"

.

.

Setelah seger mandi, Dei berjalan dengan langkah ringan di komplek kosan kampusnya. Tangannya satu lagi dimasukin ke saku, dan satu tangannya lagi megangin HP. Matanya menerawang ke layar HPnya dan sekilas ia melihat nama 'Ino' di layar itu. Tapi ia segera memencet tombol merahnya, dan memasukan HPnya ke saku. Ia menatap ke depan, walaupun hatinya sekarang deg-degan ga karuan karena sebentar lagi ketemu Ino. Yah, apa sih? Padahal kan bukan acara mo nembak kan, cuma ngajak doang! Tapi ntah kenapa kok rasanya beda ya kalo mo ngajak orang yang disuka.

Karena kebanyak ngelamun, ga kerasa kaki Dei sudah membawanya ke depan kosan Ino. Ia memberanikan diri masuk ke lobi kosan itu. Tepat sebelum Dei nanya ke ibu kosan, Ino baru turun dari tangga.

"Wow, panjang umur, un!"

"Eh Dei-senpai nyariin aku? Umm….ada apa?" Ino berjalan mendekati Dei dengan senyum yang….sedikit dipaksain.

"Un, lagi buru-buru yah? Sambil jalan aja yuk, un!"

Dan berjalanlah kedua sejoli itu. Ino tampak serasi dengan setelan T-shirt ungu muda yang ngepas ke badan dan celana jins warna biru cerah. Ini membuat Dei makin suka dengan penampilan Ino yang sederhana ini, namun mantes.

"Wiii…segernyeeu!" Teriak Ino riang ketika angin membelai kulitnya, "Eh, iya. Dei-senpai, ada perlu apa nih, mpe nyariin aku segala? Ahahaha…"

"Hoho..unn, bentar lagi kan aku mo wisuda nih..emm…"

"Ya, terus?"

"Unnn…ya kali kalo Ino senggang sih ini juga. Aku pengen ngajak kamu ke wii….."

"AAAAARGH! SASUMPRIT! JANGAN TERBANG OOOY!"

'KOAAK..KOAAAK..'

Suara 'koak..koak..' tadi berasal dari seekor beo yang terbang dengan paniknya, diikuti anak berambut raven warna item yang prustasi ngejar si beo stress itu.

'(bwet! bwet!) KOAAK…'

"Kyaaaa!" si beo alias Sasumprit itu nyerang Ino. Namun dengan cekatan, Dei nangkep kaki si Sasumprit dan buru-buru ngelus tengkuknya.

"Un, nakal yah! Ino-chan gapapa?"

"Gapapa kok senpai. Kaget aja!"

"Thanks Goood si Sasumprit nurut ma lo yah, Dei!" Sasuke menghampiri Dei dengan terengah-engah.

"Kemaren musang, sekarang beo! Bener-bener dah gue terkenal seantero flora fauna ni!" Dei sweatdrop dalem ati. "Yadah, lain kali jaga beo lo, un! Tuhkan gue jadi lupa mo ngomong apa ma Ino tadi!"

'Mo nembak…mo nembak…' Sasumprit jujur ikut nimbrung. Dei memasang deathglare dan buru-buru nyumpel si beo pake dedaunan yang ada di situ.

"Eh, bilang apa tadi?" Ino membelalakan matanya penasaran.

"Ga-gapapa kok! Ahahahaha!"

"Huh, senpai pelupa! Yadah, tadi baru sampe 'wiiii' " Ino melanjutkan. Sasuke ngelus Sasumprit sambil masang telinga lebar-lebar. Biang gossip nih Sasuke!

"Oh ya, un…kalo Ino-chan senggang, aku pengen ngajak kamu ke wisuuud…"

"Inoo! Hayo, udah telat nih!" Lagi-lagi acara terganggu oleh tereakan cowo pucat yang ngelambai-lambai di sebrang jalan, dia (lagi-lagi) adalah Sai.

"Sapa lagi sih ini, un! Gue sumpahin tu orang pacaran ma kucing sekalian, un!"

"Ah, iya Sai-kun! Umm. maap ya Dei-senpai aku ada latian paduan suara dulu. Udah telat nih." Ino mengatupkan tangannya di depan mukanya. Ia sungguh menyesal.

"Eh, Ino-chan ikut padus, un?"

"Oh, Senpai baru tau yah? Aku ikut padus buat persiapan di acara wisuda nanti. Senpai juga wisuda kan?"

"Oh, un…i-iya.."

"Yaudah ya! Aku tinggal dulu! Sampe nanti di wisuda!" Ino beranjak lari menyusul Sai. Lama kelamaan visualisasi tubuhnya makin menjauh dari mata Dei yang memandanginya miris. Angin sore beserta dedaunan yang gugur makin melengkapi kegalauan sore itu.

"Un, jadi gabisa diajak yah?" Gumam Dei pada dirinya sendiri. Tetap memandangi sosok Ino yang menjauh dan menjauh.

Sementara Sasuke dan Sasumprit bergantian menatap Ino lalu Dei. Ino, lalu ke Dei lagi. Menatap kayak orang bego.

"Eh, gajadi nih acara nembaknya?"

"Engga, un! Thanks to you, Sasuke!" Dei lalu meninggalkan Sasuke di sana. Berjalan dengan gontai ke kosannya.

.

.

.

Hari H, Graduation Day….

Dei duduk seorang diri di dalam aula berAC itu. Ia berdandan sangat rapi, semua rambutnya diikat ke belakang dengan rapi, setelan jas dan celana bahan dan tak lupa toganya. Cewe manapun pasti akan terpesona dengan Dei yang sekarang. Yap, Itachi, Sasuke, Sakura, Naruto, Tobi, Sasori, Pein, dan Konan yang turut hadir ke wisuda pun setuju akan hal itu. Semua percuma bagi Dei, karena yang diinginkannya bukan lirikan manja dan godaan dari semua cewe, melainkan sesosok Ino yang manja, manis dan cantik lah yang seharusnya ada di sampingnya sekarang. Hatinya hampa, benar-benar hampa.

Sehampa pidato dari rektor dan dekan-dekan sekalian.

30 menit kemudian, dengan keadaan wisudawan yang pikirannya ntah kemana, akhirnya pidato tersebut selesai juga. Tak lama kemudian sang MC mengumumkan acara selanjutnya, yaitu menyanyikan lagu Mars Akatsuki dan dilanjutkan dengan penyerahan ijazah wisudawan. Maka masuklah serombongan paduan suara kampus dengan Sai sebagai konduktornya.

"Un, Sai?" Deidara terperanjat melihatnya, "Pantes Ino nyuekin gue! Konduktor toh, un!" Tapi rasa terkejut itu ga tahan lama, tergantikan oleh sesosok cantik yang paling bersinar di mata Dei. Yaitu Ino dengan kemeja dan jubah padus yang berwarna hitam corak awan merah, lambang Universitas Akatsuki.

Sai mengangkat tangannya, diikuti dengan suara tarikan nafas para penyanyi padus dan orkestranya. Kemudian mengalunlah dengan merdu Mars Akatsuki yang membahana ke seantero aula.

.

.

Skip time!

Acara berlanjut ke penyerahan ijazah. Para wisudawan dipanggil ke depan panggung satu persatu oleh rektor sesuai dengan urutan fakultasnya. Dan 15 menit kemudian…

"Viva academia..viva na nana nana…" menyanyilah grup padus itu mengiringi wisudawan yang naik ke panggung –ups! Author lupa liriknya gimana..pokonya gitu deh- .

"Deidara Iwa. Fakultas Seni dan Desain. Dengan IPK 3,xx," Ujar si MC. Maka majulah Deidara ke atas panggung diikuti dengan mata 'lope-lope' dari fansgirl dadakannya. Ia tak peduli. Matanya tertuju pada tangga panggung, dan pada Ino yang sedang menyanyi. Ino membalas menatapnya dan terus bernyanyi sambil tersenyum. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Deidara terus berjalan, kemudian ia menerima map tebal berisi ijazahnya dan menyalami rektor.

Namun, daripada menyesal, pikirnya. Labih baik ia mengklarifikasi sesuatu, mengklarifikasi prasaannya pada….. ehem!

Sebelum turun dari panggung, Dei malah menghampiri grup padus yang sontak membuat grup itu tercerai berai barisannya, tanpa berhenti bernyanyi. Wisudawan pirang itu menarik Ino keluar dari barisan dan mengajaknya turun panggung. Tanpa berkata apapun dan melihat ke belakang, tangan Dei yang kekar itu tetap menggandeng mantap tangan Ino yang masih terbengong-bengong melihat tingkah senpai-nya ini. Hal ini sontak mengundang cemooh kagum dan 'suit..suwiiiw..' ga jelas dari para hadirin semacam ini:

"Adeeeeeeuh…prikitiew!"

"Ehem! Ehem!"

"Cieeeee!"

"Iiiih, ga rela! Ga rela! Ga rela!" (suara cewe).

"Waduuuh, songong ni anak!" (suara cowo).

"Buset! Norak ni anak!" (Sasori).

"Uwooow, co cwiiiit!" (Konan).

"Masi jaman yah yang kayak gitu?" (Pein).

"Yah, begitulah Deidara." (Itachi)

Tapi Dei mengabaikannya.

Dan suara Jiraiya adalah yang paling keras diantara para hadirin itu.

.

"Se-senpai… Mau kemana? Aku kan lagi…."

"Udah, pokonya ikut aku aja, un!" Kata Dei tanpa melihat ke Ino yang menggandeng tangannya di belakang.

Lalu tibalah mereka di bagian samping aula yang ga begitu ramai. Dengan enggan, Dei melepaskan tangan Ino. Matanya menatap lekat ke iris aquamarine Ino dan sedikit mencondongkan tubuhnya.

.

(Dialogue mode : on)

Dei : "Ino-chan, maaf yah! Aku berkali-kali mo ngomong tapi kesela terus, un."

Ino : "Emang kemaren Senpai mo ngomong apa sih?"

Dei : "Tadinya aku mo ngajak kamu jadi pendamping wisuda aku, un. Tapi ya berhubung kamu ikut padus, jadinya gabisa ngajak deh.."

Ino : "Ya ampun! Jadi itu ya? Ahahahahaha, ada-ada aja! Coba bilang dari kemaren, aku pasti mau."

Dei : (garuk-garuk kepala) "Maka dari itu…Un, maaf ya, Ino-chan."

Ino : "Gapapa, Senpai. Nyantai aja…Huff, kirain mo ngomong yang lain."

"Dei : "Emang ngiranya aku bakal ngomong apa, un?" (nyengir jail).

Ino : "Umm…engga deh!" (tersipu malu)

Dei : "Ahahaha, aku emang mo ngomong sesuatu lagi kok, un"

Ino : "Eh, iya apa? Cepetan, keburu disela lagi! Ahahaha.."

Dei : "Ya kalo aku gabisa ngajak jadi pendamping, setidaknya….kamu mau ga dateng sama aku di pesta kelulusan malem nanti?"

Ino : "Eh, itu…" (wajahnya makin memerah) "Anu…"

Dei ; Lho, kenapa Ino-chan? Jangan-jangan udah ada yang ngajak ya, un?"

Ino : "Bukan gitu, Senpai! Hanya saja….."

Dei : "Hanya sajaaa…?"

Ino : "Hanya saja….."

(Dialogue mode : off)

.

.

.

Malam telah menjelang. Semua hadir dengan sukacita di ballroom kampus dengan gaun/setelan terbaik mereka. Tak terkecuali dengan Ino, yang malam itu tampil elegan dengan gaun satin ungu yang memperlihatkan pundak mulusnya, dengan sedikit brukat di bagian roknya, lengkap dengan perhiasan simple dan rambut yang digelung mirip Cinderella. Anehnya, dia sendiri. Berkali-kali ajakan dansa dari beberapa pria, ditolaknya. Menunggu si pembuat janji yang tak kunjung datang juga. Kesal dengan kerumunan menyesakkan ini, Ino memilih untuk berdiam diri di balkon, yang memperlihatkan pemandangan yang tak kalah indahnya. Beribu-ribu lampu dari rumah penduduk di bawah ballroom itu, terlihat seperti bintang-bintang di langit sana. Ino merasakan angin malam menerpa wajahnya, ia menopang dagu, menunggu.

"Un, there you are, Ino-chan!" Si pembuat janji akhirnya datang juga, dia berada di lantai dasar luar ballroom.

"Ya ampun Senpai! Ngapain di situ?"

"Tunggu, jangan kemana-mana! Spotnya bagus! Aku manjat nih, un!"

"Ehh!"

Deidara, si pembuat janji itu, memutar-mutar seutas tambang kaya koboi lalu melemparnya ke pagar balkon. Ino mengikatnya dengan erat, lalu Dei mulai memanjat tali itu dan sampailah ia ke balkon tempat Ino berdiri. Dei berpegangan ke pagar balkon, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Sementara Ino menyambut tangan Dei dan memegangnya erat, mambantu agar Dei tidak jatuh juga. Persis kayak Juliet nyambut Romeo di balkonnya.

.

(Dialogue mode : on)

Ino : "Senpai, ngapain deh, naik sini!"

Dei : "Engga ah, un! Lebih romantis begini.Biar kayak di pelem-pelem gituu, un!"

Ino : "Aduuuh," (Nepok jidat, sweatdrop)

Dei : "Sori yah telat, un! Kudu nyiapin macem-macem sih!"

Ino : "Minta maap mulu nih dari kemaren! Huh!"

Dei : "Hmmm….marah ni, un?"

Ino : "Iya! Aku kan jadi nungguin terus! Senpai nyebelin!"

Dei : "Jadi nungguin, nih, unnn?" (tersenyum menggoda)

Ino : "Uuuh…" (Wajahnya merona, malu, cemberut) "Iya, buat aku nunggu terus. Nunggu Senpai ngajakin aku ke wisudaan. Eh, taunya ga ngajak-ngajak! Nyebelin nih Senpai, bener-bener deh!"

Dei : "Ahahahaa, yaudah maaf deh, un! Umm, kamu ga kedinginan kan, Ino-chan?"

Ino : "Engga. Kan ada Senpai di sini."

Dei : "Lho, emang aku se-hot itu ya, un?" (nyengir-nyengir ga jelas)

Ino : "Yaaa….gitu deh." (cemberut, gengsi, nahan debaran yang kencang tak terkendali di jantungnya) "Umm. Senpai!"

Dei : "Un?"

Ino : "Selamat yaaah udah jadi sarjana! Rasanya baru kemaren deh aku diospek ama Senpai."

Dei : "Nyeheheehe, makasih ya! Hehehe, iya bener ga kerasa yah! Mule dari kuliah bareng"

Ino : "Main truth or dare bareng."

Dei : "Proyek bareng"

Ino : "Bikin patung aku. Hahahaha!"

Dei : "Eh sumpah ya itu! Aslinya ga gitu bentuknya, un! Itu mah buatan Pein. Punya aku lebih nyeni, un!"

Ino : "Oh ya? Hahaha…aslinya gimana?"

Dei : "Un, ada deh! Jauh lebih bagus pokoknya!"

Ino ; "Kok kepikiran bikin patung aku sih?"

Dei : (menggenggam tangan Ino) "Un, karena kamu inspirasi terbesar aku, Ino-chan!"

Ino : "Ehh?" (mendadak wajahnya bersemu merah, makin merah dan merah)

Dei : "Jujur ya… semenjak aku pertama liat kamu di ospek itu tuh, aku mulai mikir, un…"

Ino : "Hmm?" (Speechless)

Dei : "Mikir….un, kalo kamu tuh karya seni sejati ciptaan Tuhan! Pinter, cantik, cerewet…"

Ino : "Apaan! Senpai galak banget ah waktu ospek itu. Jujur aja aku kesel banget lho dikalahin ama Senpai waktu itu!"

Dei : "Oh ya? Ahahaha…baguslah. Apa sih yang ga dilakuin cowo buat narik perhatian cewenya, un?"

Ino : "Hmm…alibi!"

Dei : "Un…benar sekali Ino Yamanaka! Itu kan buat narik perhatian kamu doang! Ahahaha!"

Ino : "Dasar!"

Dei : "By the way, un….Tau ga, Ino-chan? Sejak itu pula aku mule mikir, kalo kamu tuh bisa ngebuat hidup aku jadi lebih baik. Aku berenti merokok lho sejak ospek itu, un… Terus aku cepet-cepet kelarin kuliah dan rajin ngampus juga gara-gara ada kamu!"

Ino : "Masa sih? Sampe segitunya." (tersenyum di depan wajah Dei)

Dei : "Beneran, un! Nih, buktinya aku udah ga bau rokok kan, un?"

Ino : (Sniff…sniff..) "Umm, iya sih..Ahahaha, terus….Senpai mikir apalagi?" (menopang dagunya sambil tersenyum anggun. Menatap lurus mata Dei).

Dei : "Unn…terus aku mikir. Kalo….kalo…kayaknya asyik ya kalo kamu jadi pacar aku, bukan sekedar pendamping wisuda doang, un."

(Dialogue mode : off)

.

"Ehh?" Wajah Ino bersemu hebat kali ini dan jantungnya berdegup ga nyantai banget. Menatap heran wajah senpai di depannya yang tersenyum lebar dan hangat. Kelopak bunga kosmos yang mekar di musim itu beterbangan ditiup angin malam. Lagu yang dimainkan oleh orchestra di dalam ballroom kali ini memainkan lagu mellow.

Mata Deidara tak lepas menatap Ino dengan hangat. Tatapan yang mampu menghangatkan Ino dari sergapan dinginnya malam. Lalu, tangan Deidara beralih ke dalam saku jasnya dan meraih sebuah detonator.

"Detonator!" Teriak Ino, kaget.

"Tenaaaang, un! Bukan bom kok!"

Jari-jari Deidara yang bebas menyusuri lekuk wajah Ino dan merangkum pipi kanan gadis itu.

"Ino-chan…Tau ga yang ngebuat aku lulus itu apa, un?"

Ino menggelengkan kepala cantiknya.

"Un…. Yaitu izin Tuhan, doa, seni dan…..kamu." bisik Dei. Lalu ia memencet tombol detonatornya. Dan….

.

'BUUUUM!'

.

Di sebrang sana, tepatnya di ujung bukit yang mengelilingi komplek kampus itu, terlihat serentetan ledakan berefek domino pada rentetan ledakan yang lain. Ledakan demi ledakan terpecah dan meruntuhkan batu besar. Akibat dari ledakan itu, batu tersebut terpecah membentuk sebuah huruf demi huruf yang diterangi oleh lampu sorot yang berubah warna dari waktu ke waktu. Huruf-huruf yang membentuk kalimat sakral, yang siapapun yang menginginkannya pasti terkejut seperti Ino sekarang.

"Senpai, ini…" Ino mengatupkan tangannya di depan bibirnya, "Senpai, idih…norak deh…sampe segininya…" Tanpa sadar, matanya kini sudah berkaca-kaca.

"Ehehehe, ya begitulah aku, un!" Deidara semakin mengeratkan genggaman tangan Ino penuh harap-harap cemas, "Ino-chan, gimana?"

Ino ga menjawab. Air matanya mulai meleleh di pipinya, sontak membuat Deidara kaget.

"Lho, kok nangis, un?" Tangannya menghapus air mata di pipi gadis pujaannya itu.

"(Hiks…) Bukan gitu.. (Hiks) Aku….aku terharu."

"Un?" Deidara mengerti, tapi ingin mendengar langsung dari bibir gadis aquamarine di depannya ini.

"Senpai tau ga kalo cewe terharu di depan cowo yang disukainya itu artinya apa?"

"Apa, un?"

"Iiiiih, yaiyalah aku mau! (Hiks) Udah ah, jangan ditanyain terus. Aku malu…" Ino menutup wajahnya.

Deidara yang mendengar ini sedikit terkejut. Ia naik ke atas balkon, dan langsung merengkuh tubuh langsing Ino di dekapannya. Memastikan inci demi inci dari kulit sang aquamarine itu tidak terlepas dari kulit tan -nya. Kemudian Ino membalas pelukan Deidara, melingkarkan tangannya di leher pria pirangnya ini sambil terus sesenggukan.

"Un. jangan nangis lagi dong, Ino…"

"Aku nangis bukan karena itu."

"Lho, jadi karena apa, un?"

"Karena tulisan Senpai di sana, norak banget! Senpai norak!"

"Emang kamu pikir aku norak gitu, un?"

"Iya…lagian gapapa deh. Itu kan Senpai banget!"

"Dei-kun! Panggil Dei-kun aja deh, biar gimanaaa gitu, un," Deidara, mengoreksi.

"Eh, iya….Dei-kun…"

Lagu di dalam ballroom, guguran bungan kosmos serta ramainya bintang di langit seakan ikut tersenyum melihat momen berharga ini. Momen yang tak tergantikan oleh pengumuman kelulusan sekalipun. Sepasang sejoli yang kini mereguk cinta mulai mengeratkan dekapan masing-masing, merasakan degup jantung masing-masing. Menatap mata masing-masing dan merasakan kehangatan tak terkira dari lubuk hati masing-masing. Melepaskan segala beban dan ragu yang ada hingga saat ini. Sosok pasangan itu berpendar oleh pantulan cahaya yang berasal dari tulisan terang di sebrang bukit sana.

Ukiran batu raksasa yang membentuk kalimat sakral yang berbunyi,

'WIL YU MERI MI ?'

HU-HUAPPAH?

.

.

.

The End,,,

.

.

.

Selingan!

'ADA MBAH DUKUN! SEDANG NGOBATIN PAASEEEENNYA!' -ini ringtun HP-

*Pip!*

"Halo dengan Hidan si dukun nomer satu di sini! Ada yang bisa saya ban….ting? Eh, bantu?"

"Eh, Hidan! Ini gue Deidara! Masa lupa sih, un?"

"Iya gue tau, becanda kali! Ada apa nih?"

"Eh, gue lulus loh, un!"

"HUAAPPPPPAAAHH?"

.

.

Selesaaaai! Hahahaha! Faynelih!

Gimana? Gimana? Makin kerasa romance-nya kah?

Mencoba untuk romance, tapi yaaa…lagi2 si humor ikut …

Anyway, makasih ya buat semua yang setia mantengin ini fic, yang ngefave, nge-alert, semua dah! Tengkyuu! ^o^

Saran n kritik masih diterima kok! Mudah2an Nes bisa merbaiki untuk fic-fic ke depannya, ya!

Biar gampang deh, coba itu AGAK di klik link REVIEW-nya…

Mhehehehehhee….See u in the next fic!

*** suzanessa ***