SEBUAH FIKSI UNTUK SASUSAKU FANDAY PADA 20 FEBRUARI

Naruto and all of its characters are belong to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it. SasuSaku, AU, Two Shots.

Gadis itu selalu di sana, mengawasi gerak-gerikku seraya tertawa bersama teman-temannya. Walau tak terdengar karena terpisah jarak beberapa meja, yang aku tahu, tawanya pasti terdengar renyah di telinga.

.

Unheard

Oleh LuthRhythm

Jam kosong. Yang artinya terdapat suatu waktu kosong di mana tidak terdapat kelas yang harus ia hadiri. Waktu kosong yang dihimpit oleh dua kelas yang jarak waktunya tidak lama, tidak juga sebentar. Yang jelas, pada kelas berikutnya ia harus mempresentasikan bahan yang ditugaskan padanya, tetapi sialnya, beberapa hal belum disiapkan dengan maksimal. Karena itu, Sasuke dan Naruto menghabiskan jam kosong mereka di kantin yang lumayan kosong dengan berkutat bersama laptop dan buku mereka, mempersiapkan bahan yang belum dipersiapkan sepenuhnya.

Alis Sasuke terkait menatap layar laptop di mana terdapat slide presentasinya yang dilatarkan warna biru tua. Keringat mulai keluar dari keningnya, memberi pertanda bahwa kini matahari di luar kantin sedang bersinar menyengat dengan semangatnya.

"Aaahh! Aku tidak mengerti bagian ini, yang mana yang harus ditaruh ke slides kalau begini? Semuanya rasanya penting," keluh Naruto yang membuat Sasuke menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "Apa?" tantang Naruto saat menyadari pandangan Sasuke. "Ini benar-benar penting semua, tahu! Pusing rasanya! Hhh... kau saja deh yang merangkum bab ini, aku yang mengedit slides-nya."

Naruto segera menarik laptop dari hadapan Sasuke dan menggantinya dengan buku. Tanpa menunggu konfirmasi dari Sasuke, Naruto pun langsung mengedit slides dan memercayakan kelangsungan rangkuman bab pada Sasuke.

Sasuke segera mengambil stabillo dari tas bagian depannya (tempatnya menaruh segala alat tulis karena ia kurang suka membawa kotak pensil). Tanpa menunggu lama, ia pun segera menandai bagian yang menurutnya penting.

Beranjak dari paragraf ke empat untuk loncat ke paragraf ke lima, Sasuke pun menyadari ia hampir menandai seluruh kalimat. Kini ia sadar, Naruto tidak berbohong.

"Hh..." Menghela napas panjang, ia pun mendapat kekehan kecil dari Naruto.

"Tuh, kan. Kubilang juga apa," ujarnya menyindir.

Sasuke tidak menjawab sindiran Naruto, ia hanya menutup stabillo di tangannya dan mencari pensil. Kini ia akan benar-benar menandai apa yang penting, hanya benar-benar yang penting.

Lima menit berkutat dengan lima lembar buku yang harus ia rangkum, Sasuke pun telah selesai merangkum apa yang diberikan oleh Naruto. Sasuke meletakkan pensil di atas meja, lalu memijat keningnya yang terasa begitu letih.

Mendongak sejenak, Sasuke menyadari terdapat secercak warna merah jambu yang familiar di luar jendela, dari gadis yang beberapa hari ini hilang beegitu saja dari hidupnya.

Gadis itu berdiri di sana, di luar jendela, tetapi kini, ia tidak tengah tertawa.

Sendirian, eh? Mana teman-temannya?—batin Sasuke yang mempertanyakan sesuatu yang tidak biasa ia lihat.

"Sasuke! Kau sedang melihat apa, sih? Presentasi kita belum siap, nih!" ujar Naruto seraya melambaikan tangannya tepat di depan wajah Sasuke. Tanpa menunggu respon dari Sasuke, Naruto lekas kembali dengan pekerjaannya mengedit slides yang belum sempurna.

Sasuke pun menatap Naruto dengan jengkel. "Tugasku sudah selesai, kau yang belum." Usai menyodorkan buku yang berisi sub-bab yang sebelumnya telah ia rangkum, Sasuke pun kembali melihat sang gadis yang kini berdiri di luar jendela kantin.

Tertangkap basah menatapnya, sang gadis segera menunduk malu dan berlari pergi.

.

.

.

"Sekian kelas kita sore ini, bagi yang belum presentasi akan maju di pertemuan selanjutnya," ucap sang ibu dosen dengan senyuman.

Sasuke dan Naruto memandang sang dosen dengan wajah kesal. Setengah mati mereka mempersiapkan bahan presentasi dan akhirnya mereka ternyata tidak presentasi hari ini karena di awal kelas sang dosen bercerita panjang mengenai hidupnya, entah apa.

"AAAAAAARRGGHH! MENYEBALKAAAN!" teriak Naruto seraya mengacak-ngacak rambutnya. "Siapa yang peduli dengan hidupnya, hah? Karena dia curhat tentang hidupnya selama satu jam penuh kita jadi tidak dapat giliran untuk maju!" cerocos Naruto, tentu saja setelah memastikan sang dosen pergi keluar kelas. "Tahu begini tadi kita tidak perlu susah payah mengerjakan presentasi, harusnya kita makan siang saja tadi! Ugh, aku lapar," keluh Naruto di sore ini.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya, entah untuk keluhan Naruto atau entah untuk responnya terhadap sikap menyebalkan dari sang dosen. Ia masukan pulpen dan buku catatan pada tasnya sebelum hendak berdiri dengan Naruto mengekor.

Berdua, mereka berjalan menyusuri koridor, berniat turun untuk makan atau langsung pulang, entah, yang jelas ia tidak ingin berlama-lama duduk di dalam kelas. Melihat Neji dan Kiba yang berada di tangga, Naruto pun berlari ke arah mereka.

"Kalian beruntung sekalii!" pekik Naruto saat mereka tengah berada di hadapan.

"Makanya, jangan memilih Sasuke sebagai teman satu kelompok, namamu saja awalnya sudah N, masih mau pula berpasangan dengan awalan S," kekeh Kiba sembari meninju ringan lengan Naruto.

Sasuke tidak menggubris candaan Kiba, ia lebih memilih untuk memandang sekeliling, sedang tidak berniat untuk mengobrol karena mood-nya tidak begitu baik.

"Ini semua karena curhatan tidak penting, tahu! Bukan karena nama. Aku tidak mengerti kenapa wanita begitu menyukai berceri—"

—Sasuke tidak mendengarkan omongan Naruto selanjutnya. Konsentrasinya tertuju pada sosok gadis berambut merah jambu yang belum lama menghilang dan baru tadi siang kembali hadir di hidupnya.

Sang gadis kini menatapnya (walau terlihat malu-malu) dengan kilat keharusan. Berdiri beberapa langkah dari tangga paling bawah, tubuhnya menghadap lurus padanya yang kini berdiri di ambang tangga lantai dua. Tangannya tersembunyi di belakang, sebuah gerakan khas yang menunjukan keraguan atau menyembunyikan rasa malu.

Sang gadis mundur dengan masih mempertahankan kaitan tatapan. Kilatan matanya mengisyaratkan Sasuke untuk mengikutinya.

Penasaran, Sasuke pun menuruni tangga untuk mengikuti sang gadis yang masih berjalan mundur dengan perlahan.

"...ke."

Sasuke kini menuruni tangga lebih cepat. Sang gadis mulai memunggungi Sasuke dan melangkah lebih cepa—

sret!

"Sasuke!"

Sasuke merasakan lengannya ditarik seketika. Sasuke pun melihat pelakunya, yaitu Naruto yang menatapnya dengan heran.

"Sasuke, kau kenapa, sih? Mau ke mana?" tanyanya beruntun.

"Ah." Sasuke berpikir sejenak seraya menatap sang gadis yang kini menunggunya dari sudut mata. "Aku ada urusan sebentar," jawabnya agak ragu.

"Oh, yasudah. Aku makan dengan Neji dan Kiba di kantin, ya. Kau nanti menyusul saja." Naruto kini melepaskan genggamannya dari lengan Sasuke.

Sasuke pun kembali membalik badan untuk mengejar sang gadis yang kembali mulai menjauh. Saat membalik badan, sekilas, Sasuke melihat Neji menaikkan sebelah alisnya. Tak mau ambil pusing, Sasuke kembali mengikuti sang gadis tanpa mengindahkan tatapan Neji.

"AKU TUNGGU DI KANTIN!" teriak Naruto samar-samar yang masih terdengar oleh Sasuke. Ia angkat tangan kanannya untuk menjawab teriakan Naruto seraya berlari.

Kedua bola matanya terfokus pada gadis yang berlari menjauhinya. Sasuke yakin sang gadis ingin memintanya untuk mengikuti, karena berkali-kali ia berhenti mengikuti, sang gadis pun juga berhenti dan menatapnya seraya berjalan mundur.

Sasuke masih berlari kecil, mengikuti arahan gadis tersebut. Ia sadari ia telah menyusuri jalan-jalan singkat universitasnya. Seingatnya, ia telah melewati Fakultas Ilmu Budaya, Teknik, dan Ilmu Komputer. Fakultasnya, Fakultas Ekonomi, telah tertinggal jauh di belakang. Namun, Sasuke masih berlari, karena gadis itu masih tetap berlari.

Sasuke melewati lapangan rumput setinggi lutut, tetapi tentu saja masih memiliki bekas-bekas jalan setapak yang tandanya memang sering dilewati orang. Sasuke tidak pernah lewat jalan ini, karena itu ia agak heran di mana sebenarnya ia berada dan akan ke mana ia dibawa. Namun, mendongak sedikit, Sasuke melihat gedung pusat kesehatan, kampus yang diperuntukkan untuk empat fakultas sekaligus: kedokteran, kesehatan masyarakat, farmasi, dan keperawatan. Dan sepertinya, Sasuke tengah dituntun ke sana oleh sang gadis.

Fakultas yang mana? Kedokteran, kesehatan masyarakat, farmasi, atau keperawatan?—batin Sasuke bertanya-tanya dari fakultas mana gadis tersebut berasal. Tapi setidaknya, ia kini mengetahui bahwa benar sang gadis bukan berasal dari fakultasnya, melainkan dari fakultas rumpun kesehatan.

Suatu suara bising tiba-tiba terngiang di telinga Sasuke. Ia melihat sang gadis membalik badan dan membelalakkan mata terkejut menatapnya lalu segera menatap sebelah kanan Sasuke dengan mulut ternganga. Sasuke melihat kedua kaki sang gadis berlari ke arahnya dengan cepat.

Menoleh ke kanan untuk melihat asal suara bising untuk melihat sesuatu yang besar mengarah padanya, Sasuke melompat ke belakang dengan menolakkan badannya dengan pijakan tanah.

NGGGGGOOONNNNNGGGGGGGGGGGG!

Mata Sasuke membelalak kaget kala melihat sebuah kereta dengan kecepatan cukup tinggi melintas tepat di hadapannya. Ia bersyukur ia sempat melompat ke belakang menghindari kereta, kalau tidak mungkin ia telah mati terhempas karena tertabrak kereta tersebut.

Kereta itu masih melintas dengan gerbong-gerbongnya di hadapan Sasuke, Sasuke menatap ke kanan, melihat terdapat belokan di sana. Pantas saja kereta itu tidak mengklakson sedari tadi atau dirinya tidak menyadari adanya kereta. Belokan itu cukup dekat hingga tidak memungkinkan sang masinis atau dirinya untuk menyadari keberadaan satu sama lain—tidak. Seharusnya Sasuke menyadari keberadaan kereta dari suara mesin kereta yang sebenarnya terdengar jelas. Hanya saja karena ia tidak dalam keadaan fokus dan awas, ia menjadi lalai dan tidak menyadari keberadaan kereta.

Sasuke menggeleng-gelengkan kepala saat memikirkan hampir saja ia mati tertabrak. Saat mendongak, Sasuke menyadari kereta telah lewat sepenuhnya dan melihat sang gadis menatapnya dengan tersenyum lega. Sepertinya sang gadis bersyukur karena Sasuke selamat.

Sasuke pun tidak dapat menghentikan otaknya untuk mengingat sang gadis berlari ke arahnya tadi dan berpikir jika saja ia tidak meloncat ke belakang, mungkin saja sang gadis akan menyelamatkannya. Tentu saja sebagai gantinya, kemungkinan besar gadis itu yang akan terseret kereta. Sasuke merinding seketika membayangkan hal yang tidak menyenangkan tersebut.

Otaknya kembali fokus saat melihat sang gadis kembali mundur perlahan. Namun, kali ini benar-benar perlahan hingga membuat Sasuke tidak berniat mengejar, hanya saja matanya tetap melihat gerak-gerik sang gadis.

Berjalan mundur sekitar lima sampai sepuluh langkah, gadis itu berhenti. Tangan kanannya bergerak untuk menunjuk sesuatu yang sepertinya berada beberapa jengkal dari kakinya. Mata sang gadis berkilat menatap Sasuke, Sasuke pun berdiri dan berniat mendekat. Kali ini ia pasang telinganya baik-baik dan melihat ke arah belokan, jaga-jaga kalau kembali ada kereta yang datang dari sana.

Yakin aman, Sasuke pun menyebrangi rel kereta dan berjalan mendekat ke arah sang gadis.

Sasuke pun menyadari sang gadis yang selalu mundur menjauh saat dirinya mendekat, tetapi telunjuknya masih mengarah pada titik yang sama. Dan saat Sasuke berada tepat di sebelah benda yang gadis itu tunjuk yang ternyata adalah sepucuk surat, Sasuke hanya berjarak lima langkah dari sang gadis yang kini tersenyum malu.

Semua ini hanya untuk surat, eh?—batin Sasuke dengan mimik kesal. "Aku hampir tertabrak kereta hanya karena kau ingin menunjukkanku sepucuk surat?"

Sasuke dapat melihat ekspresi sang gadis yang mendadak terlihat bersalah.

Sasuke berjongkok, mengambil sepucuk surat berwarna pastel pink yang tergeletak di atas rumput. Sasuke menghela napas jengkel, ia tidak menyukai surat cinta dari penggemar, dan kali ini ia hampir ditabrak kereta hanya demi menerima surat cinta?

Dengan malas-malasan, Sasuke membaca tulisan yang terletak di depan surat tersebut.

Sakura Haruno.

"Sakura, huh?" gumam Sasuke saat hendak membuka surat tersebut. Belum sempat jemarinya membuka surat yang tertutup rapat, ia merasakan seseorang mendekatinya dari belakang.

Menoleh, Sasuke menemukan dirinya ditatap seseorang yang familiar.

"—Sasuke? Kau sedang apa di sini?" tanya sang gadis berambut pirang, gadis yang biasa ia lihat di kantin bersama Sakura—Sasuke menemukan dirinya agak aneh dalam menyebut atau menggambarkan sosok yang selama ini tanpa nama, kini ia ketahui namanya.

"Kau?"

"Aku sedang ingin ke Fakultas Ilmu Komputer, teman-temanku menunggu di sana. Kau sedang apa di sini, eh?" Sang gadis pirang kembali berujar dengan cepat. Melihat Sasuke hanya menatapnya dengan alis terangkat sebelah, sang gadis mengulurkan tangan untuk membantu Sasuke berdiri. "Namaku Ino Yamanaka," ujarnya sekalipun Sasuke tidak bertanya.

Mengabaikan uluran tangan gadis yang kini ia ketahui bernama Ino, Sasuke berdiri tanpa bantuannya. "Hn," responnya singkat. Sasuke segera menepuk-nepuk lututnya yang mungkin kotor terkena tanah saat ia mengambil surat tadi. Selesai membersihkan lutut, Sasuke menengok kanan dan kiri, mencari Sakura yang seharusnya ada di sana (tentu saja kalau gadis itu belum pergi, karena seringkali, selesai memberikan surat, para gadis selalu pergi karena malu).

"Kau melihatnya?" tanya Sasuke menatap Ino.

"Eh?" Ino menatapnya penuh tanya.

"Maksudku Sakura, kau melihatnya tidak saat kau ke sini tadi?" Sasuke menjawab seolah pertanyaannya adalah pertanyaan paling pasti di dunia.

"Sakura?" Ino masih menatapnya penuh tanya.

"Iya, Sakura, Sakura Haruno." Sasuke memutar bola mata, agak kesal saat seorang gadis bermain pura-pura tidak nyambung. Mungkin itu daya tarik untuk pemuda lain, tapi menurutnya itu membuat para gadis terlihat bodoh, dan ia tidak tertarik dengan orang bodoh. "Kau temannya kan?"

Masih dengan ragu, Ino pun menjawab. "...ah, iya, aku temannya dan err... tidak, aku tidak melihatnya tadi."

"Aa, baiklah." Sasuke pun berjalan menjauhi Ino untuk kembali ke kampusnya karena telah ditunggu oleh Naruto. Mengingat ada sesuatu yang selama ini mengganjal pikirannya, enggan tak enggan, Sasuke pun membalik badan untuk bertanya. "Yamanaka, bisa aku pinjam video tentang dia?"

"Eh?" Kembali, sekali lagi, Ino menatap Sasuke penuh tanya.

Kesal karena sekali lagi disuguhi sesuatu yang menurutnya pura-pura bodoh agar dibilang manis, Sasuke menjawab dengan agak jengkel. "Video apa pun yang ada dirinya, aku ingin mendengar suara tawanya." Sasuke menjawab dengan gamblang, lelah bermain pura-pura bodoh dengan gadis di hadapannya.

Ino memiringkan kepalanya sedikit menatap Sasuke, "Sakura maksudnya? Kau aneh."

"Huh?"

Ino melipat tangannya di dada dan menatap Sasuke tepat di mata, "Sakura itu terlahir bisu, ia tidak pernah bersuara."

"Jangan bercanda," ucap Sasuke sejenak, lalu menatap sepucuk surat di tangan.

"Aku tidak bohong." Perkataan Ino sukses membuat Sasuke menatapnya sungguh-sungguh. "Dan tadi kau bertanya apa aku melihat Sakura saat aku ke sini? Justru aku yang harusnya berkata 'jangan bercanda', ia kan sudah meninggal sekitar satu minggu yang lalu."

Dan Sasuke pun tersentak di sore itu.

.

.

.

Sasuke tidak mengerti apa yang terjadi, karena itu sedari tadi ia berjalan dengan linglung kembali ke fakultasnya, tepatnya ke tempat parkir untuk mengambil motor dan lekas pulang. Sepanjang perjalanan menuju fakultasnya, Sasuke berkali-kali melihat sepucuk surat di tangannya.

"Ia meninggal pada hari ia memutuskan untuk memberikanmu surat—"

Sasuke masih berjalan ke arah parkir motor dan melihat Naruto sedang duduk di pos satpam, sepertinya menunggu dirinya. Namun, Sasuke masih terlalu linglung untuk menyapa Naruto. Ia berjalan lurus ke motornya untuk segera pulang ke rumah dan mengistirahatkan dirinya.

"—saat kami sudah setengah perjalanan ke kampusmu, Sakura menyadari suratnya hilang. Ia kembali untuk mengambil surat yang kemungkinan terjatuh di jalan. Dan saat aku kembali karena Sakura tak kunjung menyusul kami, Sakura telah meninggal tertabrak kereta—"

Sasuke berjalan mendekati motornya, mengambil kunci di kantung jaket, namun terhenti karena lengannya di pegang seseorang.

"Kau kenapa?" Sasuke menengok untuk melihat Naruto bertanya padanya dengan wajah khawatir. "Kau terlihat agak pucat, kau kenapa?" tanyanya lagi. Masih tidak menjawab, Naruto menyadari Sasuke memegang sepucuk surat di tangannya. "Kau dapat surat cinta lagi? Mau aku simpankan?" tanya Naruto tidak dengan kekehan seperti biasa, tetapi dengan mimik khawatir karena ia tahu ada sesuatu yang janggal di sana.

"—jangan." Sasuke segera mengantungi surat yang beberapa menit ini membuatnya berpikir keras. "Aku mau pulang," ucap Sasuke singkat.

Naruto segera mengambil kunci motor dari tangan Sasuke dan naik motor tersebut. "Aku yang mengendarai, kau sedang linglung begitu, nanti malah kenapa-na—"

Omongan Naruto terdengar samar di telinga, tak lagi dengan jelas ia dapat merinci apa yang terjadi. Pikirannya kini fokus pada surat yang ia genggam di dalam kantung.

Sasuke pun membuat catatan mental: ia tidak akan membuka surat ini dalam waktu dekat—setidaknya hingga ia siap.

.

Kau hampir tertabrak kereta demi menerima sepucuk surat, sedangkan ia telah tertabrak kereta demi memberikan sepucuk surat.

Dunia ini aneh, bukan, Sasuke?

.

.

TAMAT.

Huhukz. Maaf ya aneh, pertama kali nulis fict dengan aura yang begini hoho. Btw bagi yang bingung, bayangin aja ini UI atau UGM atau ITB atau PTN lainnya, pokoknya satu daerah universitas itu ada banyak fakultas didalamnya :D

SELAMAT HARI SASUSAKU!

Stay still, keep strong, 'cause we're under the same sky.