Previous Chap :

Namun di luar pengetahuan Sakura Haruno, ada sebuah sisi di mana terdapat mata oniks yang mengawasinya. Bahkan mengawasinya tanpa ada niatan bersembunyi. Sebab sudah dari lama Sasuke Uchiha itu, sang pemilik rumah yang sekarang tubuhnya sudah bersih, berada di depan pintu dapur sambil memegang gelas kaca berisi air dingin. Sejak tau Sakura ada di ruang tamu dan memunggungi dirinya, ia cuma berhenti di bingkai pintu, bersandar. Memperhatikan gerak-gerik gadis tersebut. Dimulai dari berbicara dengan pelayan, menelusuri anak tangga, sampai berjalan di lantai atas.

"Sasuke-sama? Anda di sini? Saya kira Anda ada di atas..." Seorang pelayan yang balik ke daerah dapur jadi kaget. "Teman Anda menunggu. Jadi saya permisi ke atas, akan memberi taunya—"

"Ngga apa." Katanya setelah menenggak habis air putih. Ia letakan gelas ke meja dan mengusap bibirnya pelan. "Dari tadi aku melihatnya. Biar aku yang ke sana."

Kemudian bersama langkah tenang, Sasuke berjalan menuju kamar. Lumayan, mungkin ia bisa memberi sedikit pelajaran ke gadis berambut merah muda itu. Paling tidak sebagai balasan atas gangguan yang selama ini Sakura berikan kepadanya.

.

.

Jarum pendek di jam dinding kini menyentuh angka dua. Bukannya belajar seperti rutinitas biasa di hari Jum'at, Sakura malah berdiri di sebuah rumah yang seharusnya tidak ia injak. Apalagi kalau bukan di kediaman Uchiha? Rumah Sasuke. Alasannya sepele, ia cuma ingin mengambil ponsel pink-nya yang saat ini berada di tangan Sasuke. Bukannya takut hilang atau apa, dia hanya tak ingin Sasuke membuka file gallery-nya. Di sana ada foto candid Sasuke yang bertelanjang dada. Bisa gawat kalau pria cupu itu tau, kan?

Karena itulah, di detik ini, Sakura benar-benar sudah berada di kamar Sasuke. Kamar yang sedang kosong tak berpenghuni. Dan berhubung belum ada tanda-tanda Sasuke akan datang ke sini, Sakura tidak ingin melewatkan kesempatan emasnya. Ia geledah tas selempang milik Sasuke. Intinya, Sakura harus menemukan ponsel tersebut sebelum Sasuke masuk ke sini.

Tapi ada satu masalah. Sakura menggeram ketika hasil pencariannya nihil. "Di mana ponselku!?"

Sakura gemas sendiri. Sedikit-sedikit ia memandangi pintu kamar yang sedikit terbuka (tidak ia kunci)—bisa gawat kalau Sasuke tau kamarnya tak bisa dibuka dari luar tanpa alasan yang jelas, kan? Takutnya kalau ketahuan, bisa jadi Sasuke mengiranya sebagai fans yang over obses dengannya. Hih, jangan sampai.

"Tapi kenapa ponselku ngga ada? Masa dia sudah keluarin dari tasnya? Tapi ke mana? Oh, atau... jangan-jangan dia ngga ambil ponselku pas aku lempar ke dia!?" Sakura menjerit sambil menjambak surai merah mudanya. Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya akan jauh lebih baik ponsel itu hilang ditelan bumi daripada dipegang Sasuke deh. Setidaknya gambar di dalamnya aman.

Kembali ke masalah utamanya, dengan misuh-misuh Sakura menjelajahi kamar Sasuke. Dimulai dari lemari sampai laci ia geledah. Ia pun sampai rela mendekatkan pipinya ke lantai untuk memeriksa bagian sela terkecil dari ruangan ini. Hampir saja Sakura menyerah karena tidak menemukan apa-apa, mata Sakura menangkap sesuatu pada sebuah tas serut yang terdapat di bawah kolong kasur Sasuke. Agak tidak mungkin sih, tapi apa salahnya memeriksa? Sakura akhirnya memasukkan tangannya ke kolong dengan jijik karena banyak debu di sana dan berusaha meraih tas.

"Ukh... hampir sampai..." Sakura berujar susah payah.

Dan karena saking seriusnya mengambil benda tersebut, Sakura sampai tak tau ada orang yang memasuki ruangan. Orang itu adalah Sasuke. Dari ambang pintu Sasuke mengamati sosok Sakura yang sedang bersujud di sisi ranjang—membelakanginya. Maka dari itu Sasuke bergerak maju. Pria berkaus abu yang tidak sedang mengenakan kacamatanya segera menutup pintu, pelan dan rapat, lalu memutar kunci.

Cklek.

Suaranya cukup besar, tapi itu tidak membuat Sakura sadar bahwa Sasuke ada di belakangnya.

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

SIXTEENTH. Alasan

.

.

"Akhirnya~!"

Sakura berhasil meraih tas serut Sasuke di bawah kasur dan mengeluarkannya. Dengan terduduk ia membuka isi tas, tapi sial isinya kosong. Sakura membanting tas itu sambil menggerutu pelan. Lama-lama bisa gila juga kalau begini terus. Benar-benar menyebalkan. Sambil menghela nafas panjang, Sakura meletakkan dagunya di atas kasur. Tangannya yang masih belum menyerah mencoba menyingkap segala bantal dan guling yang ada di depannya. Hasilnya... tetap tidak ada.

"Nyebeliiiiin..." Bisiknya. "Di mana sih Sasuke taruh ponselku...?"

Sakura mendorong kesal guling Sasuke dan mencoba berdiri. Tapi baru saja ia menginjak lantai dengan kedua lutut, gadis musim semi itu menemukan sesuatu yang cukup mencolok di permukaan kasur. Benda optik tersebut ialah kacamata tebal Sasuke. Sakura mengerjap dan mengambilnya. "Sasuke... lagi ngga gunain ini, ya? Memangnya kalau di rumah dia lepas kacamata?"

Sakura berpikir sebentar sambil mengamati kacamata tebal yang entahlah itu minus, plus atau silinder. Yang jelas ketika Sakura mendekatkan iris emerald-nya ke kacamata Sasuke, pandangannya buram dan pusing setengah mati karenanya. Kacamata Sasuke benar-benar tebal. Tidak heran kalau Sasuke memakainya, mata pria itu sampai tidak kelihatan.

Sakura menghela nafas. Dengan tatapan sendu ia mengusapkan ujung jarinya ke lekuk kacamata Sasuke. Ada perasaan sejuk yang mengaliri hatinya saat ia mengenang ulang momen pertama ia mengenal sosok itu, sosok Sasuke Uchiha yang menyebalkan, lengkap dengan kacamata cupunya yang norak. Saat-saat dimana mereka sering menghabiskan waktunya bersama—walau melalui paksaan sepihak.

Lelah terdiam, Sakura beranjak. Masih dengan memegang kacamata Sasuke, ia berbalik dan—

Bukh!

Wajahnya menabrak telak dada bidang seseorang. Kaget, Sakura mengadah dan... ia menatap lurus mata tajam seseorang yang memandangnya. Yang lebih tinggi darinya. Yang lebih hitam dibandingkan iris orang lain yang pernah ia temui.

Dia... bermata obsidian. Sasuke.

Set.

Belum sempat pandangannya menyebar ke seluruh wajah pria itu, Sasuke sontak menarik pundaknya, mengambil kacamata yang ia pegang, lalu mendorong Sakura begitu saja ke permukaan kasur dengan posisi telungkup. Tak ketinggalan kedua tangan Sakura yang ia kumpulkan di punggung untuk ia tekan dengan tangan.

"A-Aw! Apa-apaan ini!? Hei! Sasuke!" Seraya menenangkan debaran jantungnya yang terus terpompa cepat, Sakura berniat menoleh untuk melihat Sasuke di belakang, tapi Sakura tidak sanggup menggerakkan kepala. Sasuke telah menahannya. Kini ia benar-benar persis seperti orang yang baru ditangkap polisi. "Kamu pikir aku penjahat, hah!?"

Sasuke tidak menjawab. Tapi secara perlahan dia mencondongkan badan ke Sakura, lalu berbisik tepat di lipatan lehernya. "Untuk apa ke sini? Mau cari masalah lagi, hn?"

"Si-Siapa bilang!?" Sakura memejamkan mata kuat-kuat. Jarak bibir Sasuke sangat dekat dengan tengkuknya. Nafas Sasuke terasa jelas. "Ukh, lepasin, Bodoh! Sakit, tau! Lepasin!"

Pria yang rambutnya masih setengah basah akibat baru mandi itu berujar sarkastis. "Lalu apa? Menggodaku?"

Sakura menggeram kesal. Kalimat Sasuke yang terdengar serius tadi membuat pipinya merona. Apa dia bilang? Menggoda Sasuke? Tapi Sakura menggigit bibir. Jangan sampai ia terhanyut oleh kalimat-kalimat tidak penting pria cupu itu.

"Aku ke sini bukan untuk menggodamu! Ngga usah salah sangka!" Jeritnya terus terang. Tubuhnya membuat gerakan meronta di atas kasur. Tak peduli ranjang berkaki rendah ini bergoyang tak karuan. "Yang harusnya bertanya itu aku! Apa yang saat ini kamu lakukan, dasar cowok mesum sialan! Jangan niban aku!"

Bukannya mematuhi perintah Sakura, pria itu malah melakukan hal lain. Dia lingkarkan tangannya ke perut gadis itu, tangan Sakura yang masih terjebak tetap tak bisa di gerakan, sedangkan dahi berponi panjang milik Sasuke hinggap di bahunya. Sakura tersentak. Wajahnya memanas luar biasa dan aliran darahnya berdesir geli.

Apa Sasuke... tengah memeluknya?

Sakura maupun Sasuke tak bereaksi di tempatnya. Selama beberapa saat Sakura biarkan dirinya dipeluk paksa oleh pria Uchiha itu. Sedikit kasar, memang. Tapi lama-lama Sakura menikmatinya, membiarkan pula sayup-sayup hembusan AC mengenai keduanya yang saat ini berada di atas permukaan tepi ranjang walau dengan kaki tergantung.

Perlahan-lahan pegangan Sasuke mengendur. Bunyi engsel kacamata yang dibuka terdengar di balik kepala Sakura, lalu gadis itu menoleh cepat. Kini di hadapannya, sudah ada Sasuke Uchiha yang kembali memakai kacamata tebalnya—baru ia kenakan beberapa detik lalu. Garis bibir pria itu datar, dan Sakura dapat menebak jelas bahwa ada dua mata yang menatapnya tanpa berkedip di balik sana.

"H-Hei... tadi aku melihat matamu..." Sakura menelan ludah. "Iris matamu... sehitam oniks."

Sasuke masih terdiam. Karenanya Sakura dengan wajah meronanya tersadar. Kenapa dia jadi begitu ke Sasuke? Bukannya mereka bermusuhan? Ingin rasanya Sakura menampar pipinya sendiri saat itu. Segeralah dia beranjak dari posisinya, tapi sikunya dicekal Sasuke.

"Untuk apa kau di sini?" Desis Sasuke pada akhirnya setelah ia menaikkan bingkai kacamatanya. Sakura segera terduduk. Dengan raut wajah yang masih menahan malu, tak lupa dengan degup jantung yang menggebu-gebu, ia mencoba memperangkuh wajahnya. Dia tidak boleh terlihat lemah di sini.

"Ja-Jangan salah paham dulu! Aku ke sini untuk mencari sesuatu!"

"Alasan."

"A-Aku ngga alasan!" Sakura pusing seketika. "Aku serius! Aku cuma mau ngambil ponselku yang mahal itu! Kamu kan yang nyuri!?"

"Nyuri? Ngga." Dia berujar datar.

"Bohong! Waktu di sekolah kan aku lempar ke kamu!"

"Oh." Sasuke teringat. "Pas itu aku memang ambil ponselmu."

"Ck! Pokoknya cepat kembaliin! Mana ponselku!? Mana!?" Sakura mengulurkan tangannya ke wajah Sasuke yang masih tiduran.

"Di laci. Ambil sendiri."

Sesuai kalimat Sasuke, Sakura segera menoleh ke laci yang ditunjuk Sasuke lewat dagu. Satu per satu dia buka dan dia obrak-abrik. Tapi... kok ngga ada? Eh tapi bukannya dia sudah mencari bagian itu, ya? "Tsch, kamu bohong, kan!?" Di depan laci Sakura teriak, tapi ia terlebih dulu bungkam kala menemukan sosok Sasuke yang memegang ponsel di tangannya. Itu ponsel pink-nya.

"Nih." Dengan cuek Sasuke menggoyangkan ponsel tersebut. Sontak Sakura berlari gesit menerjang Sasuke, berniat menyambar alat telekomunikasinya, tapi pria itu lebih cepat bertindak. Sasuke mengangkat tangannya ketika jari tangan Sakura berniat menyentuh badan ponsel.

Brukh!

Gerakan Sasuke menyebabkan Sakura yang tidak bisa ngerem lantas meniban perut Sasuke yang masih terbaring di kasur. Sakura meringis dan mundur selangkah. "Duh, kembaliin ponselku, Uchiha! Ngga usah main-main!"

Sasuke memainkan ponsel Sakura, membuka-tutup bagian flip-nya. "Ngga mau."

"Apa katamu!?"

"Kubilang apa? Ambil sendiri, kan?"

Emosi Sakura membeludak. Ia tendangi kaki Sasuke sambil menjerit kencang. "Kembaliin! Kembaliin! Kembaliin! Kembaliin!" Ia menarik nafas. "Kembaliin ponselku, dasar pencuriii! Ahhhhh!"

Lain dari reaksi Sasuke yang dulu-dulu, ia tidak kesal atau marah, kali ini Sasuke mendengus—mendengus geli, lebih tepatnya. Tapi pada akhirnya ia terduduk, lalu menempelkan ponsel itu ke dahi Sakura dengan agak keras. Sasuke segera melepaskannya begitu saja, dan Sakura pun menangkap cepat benda tersebut.

Ah! Aku berhasil! Aku udah dapetin balik ponsel sialan ini!—soraknya dalam hati. Maka dari itu buru-buru ia berlari ke pintu, mau langsung kabur tanpa mengucapkan pamit. Tapi ada masalah lain.

Ckrek!

Kenop pintu tak bisa terbuka, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Dan karena itulah Sakura mulai tersadar di detik ke lima. Apa jangan-jangan pintu kamar ini terkunci? Siapa yang menguncinya? Masa Sasuke? Kapan, memangnya? Segala pemikiran yang berlalu lalang di otaknya membuat Sakura Haruno menelan ludah khawatir.

Dan yang lebih hebat lagi... kenapa cuma ada mereka berdua di dalam kamar ini!?

Bersama kegelisahan yang menempel di wajah cantiknya, Sakura memutar badan dan memelototi Sasuke yang kini menguap malas. "S-Sa-Sasuke! Kamu ya yang mengunci pintu!?"

Dia mengusap rambut birunya yang mencuat di bagian belakang. "Ya. Ada masalah?"

Jantung Sakura berdetak kacau. Wajahnya memerah drastis. "Untuk apa kunci pintu!?"

"..."

"Sasuke!"

Dapat Sakura rasakan mata tajam Sasuke di balik kacamatanya kala ia menoleh sekilas. "Aku mau melakukan sesuatu."

Sakura menelan ludah. Berikut keadaan yang makin parah, Sakura panik luar biasa. Ia gedor-gedor pintu Sasuke dan menjerit-jerit rusuh. Sedangkan Sasuke yang lagi menyalakan televisi dan menonton dari kasur cuma berdecak singkat. "Sstt, berisik."

Sakura mengaduh lirih. Dari kedua alis yang menekuk turun dan pancaran kedua mata emerald-nya, jelas sekali ia menampilkan raut mau nangis. Ia bingung setengah mati. Inginnya mendekati Sasuke dan memaksanya memberikan kunci, tapi ia takut. Kalau mendadak dirinya ditarik ke kasur dan dicabuli, bagaimana coba?

"Sa-Sasuke! Cepat bukain pintu ini atau aku akan panggil polisi!"

Sasuke menyeringai. "Panggil pakai apa?"

"Ya ponsel inilah!"

"Ponselmu mati sejak kau membantingnya."

Deg!

Sakura terbengong. Ia buka ponsel flip-nya dan mengklik sembarang tombol. Dan benar, ponselnya mati. Hanya ada layar hitam yang tak berfungsi. Sakura pun lemas di tempat. Kalau benda ini mati, untuk apa aku ke sinii!? Sakura no Baka!—batinnya frustasi. Serius, ini ngenes namanya.

"Bagaimana?"

Sakura menelan ludah. Ia simpan ponselnya di saku dan menatap Sasuke dengan tatapan waspada. "Ka-Kalau begitu aku akan berteriak keras! Sampai pelayan dan orangtuamu nolongin ke sini! Pokoknya dengan cara apapun biar kamu dijeblosin ke penjara!"

Sasuke tersenyum mengejek. "Ke penjara? Kau pikir aku mau berbuat yang aneh-aneh, hn?"

"Ya... kan bisa aja kamu ngelecehin aku? Memperkosaku, misalnya?" Sakura melirik ke kanan, agak ragu mengatakan ini.

"Adanya malah kau yang memperkosaku, Bodoh." Tolak Sasuke, pelan. "Kau pikir siapa yang menciumku duluan di Lab Biologi?"

Sakura menelan ludah saat mengingat scene di mana ia mengatakan cintanya pada pemuda itu. Ia bagai tertiban gada. "Ta-Tapi siapa juga yang pertama kali meraba-raba dada pas di sana!? Kau, kan!? Uchiha Mesum Tak Berotak!"

"Kalau begitu... bagaimana kalau aku melakukan hal yang seperti tuduhan awalmu tadi?" Tanya Sasuke sambil berdiri. Sakura menelan ludah. Ia lupa cara bernafas untuk sesaat kala sosok itu berjalan perlahan mendekatinya yang tersudut di pojok.

"Ja-Jangan coba-coba!"

Dagu Sakura diangkat Sasuke. Sakura mendorongnya.

"Jangan!"

Kali ini Sasuke tertawa. Tidak lepas, hanya sekilas dan terkesan mengejek. Dia mencondongkan kepalanya ke Sakura dan kembali menimpali. "Tapi maaf... kalau aku benar-benar membencimu, mungkin sudah dari awal aku merobek seragammu dan melemparnya ke lantai."

Sakura tersentak kaget. Seraya merapatkan diri ke pintu, mendadak kalimat Sasuke berputar kembali di benaknya. "Tu-Tunggu... jadi kamu ngga benci aku?"

Sasuke tidak menjawab dan melompati pertanyaan barusan. "Aku menguncimu di sini karena satu hal; aku mau tanya." Ia berujar dengan suara datarnya yang khas. "Apa kau bisa menebak apa yang mau kutanyakan?"

Sakura menggeleng.

Sosok pria berpakaian santai itu seolah tak lagi mengamati tayangan siang yang sedang berlangsung di depannya. pria itu melamun, seperti sedang merangkai kalimat di pikirannya. "Apa alasanmu bisa berubah?"

"A-Apa? Kenapa kamu nanyain aku? Itu sama sekali ngga penting!"

Sasuke menatapnya. "Ngga penting bagimu, penting bagiku."

Sakura terdiam. Ia pun menurunkan pandangan ke lantai dan meremas tangannya cemas. Gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa selain berkata jujur ke Sasuke yang saat ini berada di depannya. Karenanya Sakura memejamkan mata. "Kata Gaara... kamu menyebutku murahan. Kamu juga bilang ke yang lain kalau aku adalah cewek yang bisa disentuhmu seenaknya..." Walau berat ia harus mengeluarkan segala uneg-unegnya selama ini. Karenanya ia memperserius pandangan. "Dia bilang kamu muka dua; baik jika di depanku, tapi buruk di belakang. Dan aku kaget. Aku ngga suka sama orang kayak gitu." Dan ketika Sakura memberanikan diri melihat ke Sasuke, pria itu memandangnya.

"Cuma karena itu?" Tanya Sasuke, singkat.

"Kamu bilang 'cuma', hah?" Dia emosi. "Sebenarnya banyak yang mau omongin, tapi aku malas!" Gengsi, lebih tepatnya. "Tapi ya intinya kamu muka dua!"

"Kalau kau bilang aku muka dua, memangnya aku pernah baik di depanmu?"

Sakura terdiam. Tanpa sadar ia menelan ludah. Oh, Kami-sama. Kenapa dia baru sadar? Bukannya Sasuke tidak pernah memujinya atau melakukan-hal positif kepadanya?

"Kau dapat semua omongan itu dari Gaara." Kali ini senyum sinis keluar dari bibir Sasuke. "Dan kau percaya?"

"I-Iyalah! Gaara adalah sahabatku, dan aku percaya sama semua kalimatnya! Lagian kamu juga pernah megang-megang aku kan pas di Lab Biologi? Jangan kira aku lupa! Dan aku yakin kamu bilang ke semua temanmu kalau 'Haruno Sakura mau-mau aja kusentuh dengan mudah! Dia cewek gampangan!', kan!?"

Sasuke menatap wajah Sakura tanpa suara. Apa katanya tadi? Membicarakan Sakura di belakang? Menghina Sakura murahan? Hah? Kapan dia bilang begitu ke teman-temannya? Tapi, tunggu. Memangnya dia punya teman? Merasa tak pernah melakukan itu semua, Sasuke menyilangkan tangan di dada. Jadi ini siapa yang salah? Sasuke yang tidak sadar diri, Sakura yang cuma merancau, atau Gaara yang memfitnah...?

Sasuke mengernyit mengingat nama Gaara lah yang sempat disebutkan Sakura. Gaara, ya? Sabaku Gaara? Rasanya dulu ia familiar dengan nama itu. Seperti pernah kenal, tapi ia lupa. Tak ada sedikit pun memori yang tersimpan mengenai siswa berambut merah acak-acakan itu di dalam kepalanya. Malas berpikir, Sasuke menghela nafas. Pria itu seketika mendekatkan wajah kepadanya.

Sakura terbelalak. Ia ingin kabur tapi kedua tangan Sasuke sudah memenjaranya, ia tak bisa ke mana-mana. Sesaat ia memandang lurus. Tatapan cemasnya mengarah ke belahan bibir Sasuke. Sakura menarik nafas dan menempelkan kepala ke pintu. Apa yang mau Sasuke lakukan? Mau menciumnya, eh? Jantung Sakura sudah seperti mau meledak.

Karena jarak kian terminimalisir, sejak jarak wajah mereka tinggal sejengkal, Sakura memejamkan mata. Apa itu tandanya ia akan berciuman kembali dengan Sasuke? Apa bibir mereka akan bersatu? Wajah Sakura luar biasa memerah. Bibirnya tanpa sadar ia majukan, menunggu kedatangan bibir seseorang yang akan menyentuhnya. Sasuke yang dari tadi mengamati Sakura cuma tersenyum. Ia jepit kedua bibir Sakura dengan jari, sekilas.

"Aku ngga bilang mau menciummu."

Sakura membuka mata. Iris hijau jernihnya terbuka dan kemudian ia semakin cemberut, sebal. Sasuke yang awalnya memang cuma ingin mengetes Sakura lantas berubah pikiran. Ia miringkan wajah dan menarik kepala pink Sakura. Bibir bertemu bibir. Sakura lupa cara bernafas. Ciuman dadak itu membuat nyawanya seolah melayang. Jantungnya bergetar dan otaknya tercuci sempurna. Tubuhnya memanas.

"Mmh..." Sakura memegang pundak Sasuke. Mungkin ciuman ini memang hanya persatuan dua bibir yang saling terkatup, tapi ini terlalu lembut dan terlalu... mendebarkan. Sasuke memiringkan wajah, ia mendorong bibir gadis itu baik-baik. Tanpa paksaan, tanpa nafsu. Lalu tempelan itu berubah jadi satu kecupan yang mampu membuat tubuh Sakura menarik paksa udara dengan hidung.

"Sa-Sasuke..." Sakura menundukkan kepala, melepaskan ciuman. "Ja-Jangan menciumku..."

Sasuke menghela nafas. Ia sentuhkan dahinya ke ubun-ubun Sakura. "Hei, dengar..." Ucap pria itu. "Aku memang muka dua."

Sakura terbelalak. Kenapa... tiba-tiba? Dia nyaris mengadah kalau Sasuke tidak lanjut menjelaskan.

"Sebelum pindah sekolah, ngga ada Sasuke Uchiha yang berkacamata tebal, yang ter-bully, yang mau-mau aja diperintah sama cewek menyebalkan sepertimu. Sama sekali ngga ada." Sakura kali ini menatapnya. "Cuma ada Sasuke yang kasar, yang seenaknya, yang dibenci semua warga sekolah."

Sasuke menegakkan badan. Sakura baru sadar tingginya hanya sebatas dagu Sasuke.

"Dan sekarang aku hanya kembali ke sifat lamaku. Bedanya kali ini memakai kacamata."

Sakura terdiam. "Hanya itu? Ngga yang lain?"

Sasuke menggedikkan bahu. Terserah Sakura mau percaya atau tidak.

"La-Lalu..." Matanya tak lepas dari wajah putih Sasuke. "Kenapa kamu ngga lepas kacamata? Hinata aja sudah lepas..." Tanya Sakura hati-hati. Sasuke memberikan jeda yang cukup panjang dan lama.

"Kenapa? Ada masalah?"

"N-Ngga sih..." Katanya, buru-buru.

"Kau mau lihat?"

"Eh?" Kalimat Sasuke membuat mata emerald Sakura membeliak kaget. Ia menatap lurus wajah Sasuke dan menelan ludah. Kira-kira bagaimana bentuk mata Sasuke apabila tak ditutupi oleh kacamata bulat dan nan tebal itu? Sudah dari lama Sakura ingin tau.

"Tu-Tunggu... memangnya boleh aku lepasin?"

Sakura tak ingin menghancurkan suasana dengan cara bersorak senang. Ia hanya biarkan dentuman jantungnya menggema, lalu ia angkat tangannya yang bergetar. Jemarinya berjalan menuju bingkai kacamata tebal Sasuke. Mengapit dan hendak menariknya. Yang tentu saja melalui gerakan pelan dan terkesan hati-hati.

"Ta-Tapi aku tetap penasaran kenapa kau ngga mau lepasin ini..." Lirihnya.

Namun nyaris ketika Sakura akan mewujudkan impiannya, Sasuke menjawab pelan. "Bukannya karena Sakura Haruno lebih menyukai Sasuke Uchiha yang berkacamata?"

Deg.

Tangan Sakura terhenti bergerak. Ia terperangah luar biasa mendengar alasan Sasuke. Tak lama dari itu Sakura mendorong Sasuke dan memalingkan wajah, tak jadi mengambil kacamata itu. Ia menatap lantai dengan tubuh bergetar. Ternyata... selama ini Sasuke punya alasan sendiri mengapa ia tidak menampilkan wajah aslinya.

Karena dirinya.

Dan ya, jujur, jujur dari lubuk hati yang terdalam, Sakura memang 'pernah' menyukai Sasuke yang dulu dia tindas. Yang gemar cari masalah dengannya, yang sering adu mulut dengannya, dan dia yang paling bisa membuat Sakura kesal setengah mati. Sakura suka Sasuke yang begitu. Sasuke si Kacamata Tebal yang pernah menolongnya dua kali, dan Sasuke yang selalu membuatnya penasaran dengan isi mukanya.

Karena itu benar. Sakura jauh lebih menyukai Sasuke yang dulu. Yang cupu. Bukan yang sekarang. Bukan yang barbar seperti ini. Jauh. Sangat jauh.

"Belajarlah menyukaiku yang sebenarnya. Karena aku ngga terima kalau kau menyukaiku yang palsu."

Kalimat itu ibarat tohokan bagi Sakura. Tanpa menoleh ia keluar dari kamar, tak lupa dengan teriakan kencang. "Bo-Bodoh! Siapa juga yang suka kamu!?" Sakura menutup wajahnya dengan satu tangan. "Berikan kunci kamar! Aku mau keluar!"

Sasuke merogoh saku dan mengambil kunci dari sana. Sakura mengambilnya dan segera membuka pintu. Sesudah pintu terbuka, ia berlari. Langkah yang membawanya menjauh dari kamar Sasuke terasa berat bagi dirinya. Dimulai dengan bola mata yang memanas, sesak di kerongkongan, dan teremas di dada. Ada sebuah larutan emosi yang mati-matian ia tahan.

Sakura cuma mau pulang. Ia mau menangisi pria itu sampai malam.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

"Hei, hari ini aku bawa banyak telur busuk buat kita lemparin ke Hinata! Gaara pasti senang ngeliat kelakuan kita!"

"Ahaha, aku juga bawa!"

"Pokoknya pas bel istirahat kedua bunyi, kita seret dia ke toilet lantai empat yuk, biar ngga ada yang liat!"

Obrolan bervolume keras itu terdengar dari barisan belakang siswi-siswi kelas XI-B, kelas Tenten Mitarashi. Ino yang saat ini duduk di samping meja Tenten pun melirik mereka dengan pandangan kesal. Mentang-mentang Gaara dan Sakura memperbolehkan Sasuke dan Hinata di-bully, orang-orang yang sebenarnya tak punya urusan apa-apa dengan Hinata jadi berani mem-bully-nya untuk kesenangan semata. Karena itu ia putuskan untuk menarik-narik lengan seragam Tenten yang sedang membaca majalah fashion.

"Ten, aku heran deh. Kenapa sih anak-anak di kelasmu hobi banget nyiksa Hinata? Perasaan dia ngga ada salah deh."

Tenten menggedikkan bahu. "Wah, ngga tau, ya. Aku ngga ikut-ikutan kalau soal si kembar itu."

Ino menggerutu. Walau ia bukan teman Hinata, setidaknya ia juga masih punya hati nurani sebagai manusia jugalah. Tidak seperti mereka yang sedang heboh sendiri menyusun rencana membejek-bejek Hinata nantinya. Kesal, Ino berdiri. "Aku mau ke WC bentar. Bye." Tenten mengangguk dan Ino keluar kelas. Namun sebelum memasuki kawasan toilet, ia berpapasan dengan Gaara yang akan menaiki anak tangga kelantai atas.

Dengan jantung yang mulai berdebar serta pipi memerah, ia meneguk ludah. Dirinya berusaha sekuat tenaga untuk menyapa pria tampan yang satu itu. "Eh, Ga-Gaara!"

Gaara menoleh. Hanya gerakan alisnya saja yang membalas panggilannya. Tapi karena Ino malah memalingkan wajah sesaat, Gaara yang tak bisa berlama-lama berdiam langsung bertanya. "Kenapa?"

"N-Ngga kenapa-napa..." Ino meringis. Otaknya sibuk mencari topik obrolan. Kan dia memang sudah lama memiliki rasa dengan siswa yang satu ini, jadi salahkan saja mulutnya yang tiba-tiba menyapa Gaara tanpa alasan. Tapi ia tak boleh membuat Gaara mengiranya peganggu. Ia harus membicarakan sesuatu. "Ng... begini, Sakura sudah beberapa hari ini ngga masuk. Kamu tau apa alasannya?"

"Ngga." Jawabnya tak acuh. Ino kembali berpikir.

"Oh, iya... kata Sakura, kalian akan mem-bully Sasuke dan Hinata sampai akhir bulan, kan?" Ino mengaduh dalam hati. Ia sadar bahwa obrolan ini lompat-lompat tak terarah.

"Iya."

"Apa itu ngga berlebihan, Gaara?"

Kali ini Gaara memutar tubuhnya, membiarkan dirinya setatapan dengan Ino. Nadanya sedikit mengeras. "Berlebihan dari mana?"

"So-Soalnya ya kamu tau sendirilah, akhir-akhir Sakura jadi kelihatan mulai suka Sasuke, dan begitu juga sebaliknya. Kan agak aneh kalau tiba-tiba mereka perang begitu." Kalimat Ino membuat Gaara bungkam. Karena rasa gugup yang ia dapatkan saat mata hijau pria itu terus memandanginya tanpa henti, buru-buru ia akhiri obrolan dengan cara menarik kesimpulan. "A-Apa jangan-jangan kamu ngga suka lihat Sasuke sama Sakura? Kayak cemburu lihat kedekatan mereka? Atau bagaimana?"

"Itu bukan urusanmu." Desis Gaara, cepat dan menusuk. Kemudian dia pergi, meninggalkan Ino yang mematung dengan sakit di hatinya.

Ternyata Gaara masih suka Sakura, ya?—batin si pirang, pedih.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Telah genap empat hari sejak Sakura tidak masuk dan tak bisa dihubungi. Sebagai siswa aktif yang tidak memiliki partner in crime selain Sakura, jelas Naruto merasa bosan. Ya walau akhir-akhir ini mereka berdua jadi jarang memiliki waktu bersama. Sebab dari awal bulan Sakura lebih dekat dengan Gaara yang berniat mem-bully Sasuke sih. Naruto menghela nafas. Dia merindukan ke-tsundere-an Sakura yang dulu; yang malu-malu tapi mau mengikuti perjanjian abalnya mendekati si kembar. Hh, kapan ya bisa begitu lagi?

Naruto membaringkan punggungnya ke lantai atap sekolah yang sepi.

Bicara soal pem-bully-an yang dilakukan oleh Gaara dan Sakura, kalau tidak salah ia mendengar kabar bahwa Hinata juga ikut terkena imbasnya. Apa iya? Atau cuma cacian kecil yang dulu ia lihat langsung saat Hinata membeli roti di kantin? Sambil berpikir ia mengusap surai jabriknya yang masih terus berdiri. Ah, sudahlah, kenapa tiba-tiba jadi membahas Hinata begini?

Naruto putuskan untuk menaruh lipatan tangannya ke belakang kepala—sebagai bantalan. Ia pejamkan mata dan menghitamkan alam pikirannya. Masa bodo dengan semilir angin bersuhu rendah yang melewati tubuhnya. Eh, tapi... kenapa lama-lama Naruto tidak senang juga dengan keadaan ini? Udara semakin dingin secara tak wajar. Ia pandangi keadaan langit yang agak gelap.

"Kenapa dingin banget sih?" Dengan satu tangan pria itu merapatkan jaket hitamnya, mengingat ini sudah memasuki bulan Desember. Lalu sadar ada embun yang keluar dari nafasnya saat ia berbicara. "Apa mau turun salju?" Ia beralih kawasan daerah atap di sekitarnya yang kosong. Pantas saja tidak ada orang yang main di atap, ternyata karena memang sudah mau masuk musim dingin.

Naruto yang saat ini duduk di bagian belakang atap segera berdiri. Ia menguap malas. "Bel masuk pasti tinggal semenit lagi."

Kieet.

Baru saja Naruto akan kembali ke kelas, ada suara yang membatalkan niatnya. Sebelum ia melangkah, tiba-tiba ada orang yang baru membuka pintu dan memasuki atap—orang itu tidak menyadari kehadirannya. Tapi jelas ini aneh, untuk apa juga dia keluar di saat-saat dingin begini? Naruto saja baru mau masuk untuk menghangatkan diri.

Pria berwajah tampan semi-imut itu memfokuskan tatapannya lurus-lurus, sedikit mengernyit kala melihat seorang siswi berambut panjang yang teramat sangat dia kenali. Dia Hinata. Naruto menelan ludah untuk tidak kelepasan menyapa, namun tiba-tiba lidahnya kelu, karena ada sebuah hal mengejutkan yang terlebih dulu ia dapati.

Naruto mengambil posisi untuk bersembunyi di balik tabung tedmond. Di sana dapat Naruto lihat liquid bening yang membanjiri pelupuk mata Hinata. Dengan menunduk ia menangis tanpa suara. Naruto tak bisa berkata-kata. Apalagi saat ia menyadari pakaian seragam atas Hinata—khususnya di bagian pundak dan punggung—yang dipenuhi oleh lendir dan bercak-bercak kekuningan. Dari baru anyir yang samar-samar tercium, dapat diduga Hinata baru saja dilempari oleh telur. Ah, bukan sekedar telur biasa. Itu telur busuk. Naruto menutup hidung saat bau mulai menyerang hidungnya.

Apa Hinata ke sini untuk menghindari orang-orang yang mem-bully-nya?

Naruto nyaris akan mendekati Hinata. Tapi ia tahan dulu langkahnya karena tiba-tiba Hinata berjalan ke sudut atap dan menyalakan keran berkarat di sana. Kucuran air terdengar dan Hinata menunduk untuk mencuci muka. Naruto memperhatikannya. Gadis yang dari jauh kelihatan menggigil itu menghela nafas. Asap hangat yang keluar dari hembusan nafasnya kelihatan saat ia turut serta mencuci rambutnya yang lepek. Kian memburu kala ia ikut menyiram kulit tangan dan pakaiannya ke air agar bisa terbebas dari bau menyengat telur busuk. Tampaknya di sana pun Hinata terisak.

Naruto tak mampu berkata-kata. Ia tidak tahan melihat gadis yang sudah basah kuyub itu. Dia pasti kedinginan. Tapi dia bisa berbuat apa?

Hinata yang merasa dirinya sudah lebih baik menghela nafas dan menegakkan badan. Ia menghapus sisa-sisa air matanya dan mencoba menenangkan diri. Bersamaan dengan itu kedua tungkai kakinya bergerak, berputar ke arah berlawanan dan berjalan pergi. Jarak pandang Naruto yang terbatas membuat pria itu cuma bisa menebak-nebak. Palingan Hinata keluar atap.

Naruto yang masih di balik tedmond memandang dirinya sendiri. Dengan jaket tebal saja ia masih kedinginan, bagaimana dengan Hinata? Dia basah dari ujung rambut ke ujung kaki.

"Ck!" Naruto memejamkan mata dan mengacak-acak rambut pirangnya. Bukannya dia sudah fix berhenti memperhatikan Hinata? "Untuk apa aku pikirin dia sih? Buang-buang waktu aja."

Set.

Mendadak ada sesuatu yang menjatuhi puncak hidung Naruto. Pria tan itu mengadah dan mendapati salju-salju kecil yang turun dengan sangat lambat menimpa tubuhnya. Suhu pun semakin dingin membuat Naruto jadi tak enak bernafas. Lebih baik ia turun. Toh, sudah tak ada Hinata lagi di sini.

Ia turuni tangga dan langsung berniat keluar. Tapi ternyata ada kejutan lain yang menunggu dirinya. Naruto sama sekali tidak tau bahwa Hinata belum meninggalkan atap. Gadis bersurai lurus itu malah duduk di depan pintu. Kedua lututnya ia tekuk dan peluk agar kepalanya bisa terbenam di sana. Terdengar pula isak tangis tak tertahankan dari bibir mungil Hinata. Penampilannya yang biasa rapi juga kacau balau. Naruto sebagai saksi merasa dadanya terasa berat. Sesak.

Hinata...

Hinata-nya... menangis.

Menangis sampai seperti ini. Sendirian.

Ah, bodoh.

Kenapa dia begitu bodoh?

Kenapa dulu ia tidak melarang Gaara berkeinginan mem-bully Hinata?

Lalu kenapa dia tidak pernah menolongnya?

Naruto merasa dirinya tak berguna.

Sebab walau beratus-ratus kali menampik, hati kecilnya tetap tak bisa dibohongi; bukannya ia masih menyayangi gadis ini? Menyayangi Hinata Uchiha?

Kenapa ia malah tega membiarkan gadis ini berlama-lama tersiksa di atas permainan orang lain?

Tangan Naruto meremas ujung kain jaketnya. Baru pria itu sadari, ia tidak akan sanggup mendiami ini semua.

Ia mendekati hinata, menerobos bebauan tak sedap di sekitar gadis tersebut dan berdiri di hadapannya. Hinata yang mendengar suara langkah pun perlahan-lahan mengadah, membiarkan matanya yang berair jadi terbuka lebar, kaget bahwa ada Naruto di sini.

"M-Mau lewat, ya?" Diawali dengan menghapus air mata, buru-buru ia memalingkan wajah dan beranjak. Menyembunyikan wajah memerah serta linangan yang masih mengalir. "M-Ma-Maaf sudah menghalangi pintu keluarmu—"

Grep.

Naruto memegang lengan Hinata dan tersentak. Kulit tangan Hinata benar-benar dingin seperti balok es. Naruto meringis singkat dan berdesis. "Gila. Kau gila, Hinata. Kenapa kau masih ada di sini?"

Hinata masih tak berani memandang mata Naruto. Gelagatnya panik. "A-Aku... cuma ngga tau harus ke mana." Ya, dia bingung. Ke mana-mana dia ditertawakan. Mana mungkin ia turun dengan penampilan seperti ini?

"Kau baru aja dilemparin telur, kan? Kenapa ngga ngadu ke guru? Menurutku ini udah kelewat batas."

Hinata berniat menarik tangannya tapi tak mampu. "G-Guru-guru ngga ada hubungannya dengan ini..."

"Tentu aja ada! Kau ini bodoh atau apa sih!?"

Hinata menunduk. Ia takut apabila melihat Naruto marah di depannya. "M-Maaf, a-aku cuma ngga tau... h-harus berbuat apa..."

"Sudah berapa lama kau di-bully begini?"

"M-Mungkin... sejak aku melepas kacamata..."

Naruto mengerang kesal. Ia cengkram pundak Hinata dan mengangkat dagu Hinata agar mata lavender gadis itu kembali menatapnya. "Coba adukan ini ke Sasuke."

Hinata menggeleng, mata bulannya makin berkaca-kaca. "A-Aku diancam ngga boleh ngadu ke keluarga..."

"Lalu kenapa ngga ngadu ke aku? Kita itu dekat, dan aku bukan keluargamu!"

Pertanyaan Naruto tak langsung dijawab Hinata. Gadis itu memejamkan mata, menangis dulu selama beberapa detik. Hingga Hinata memberanikan diri menarik tangannya lagi. Kali ini lebih keras, sampai bergetar, walau ia tau Naruto tetap tak akan melepaskannya. Tapi karena kasihan, lama-kelamaan Naruto meringis dan melepaskan Hinata. Gadis bersurai panjang itu terbebas, namun ia tidak lanjut berlari. Ia cuma memegangi pergelangan tangannya yang agak memerah.

"U-Untuk apa juga aku bilang ini kepadamu?"

Naruto mengernyit. "Apa?"

"Ka-Karena... k-karena aku tau kamu ngga akan peduli." Bisiknya, teringat saat Naruto yang bersama Shion. "I-Iya, kan?"

Naruto nyaris tak bisa bernafas. Apa katanya? Dia tidak akan peduli? Yang benar saja!

"Kenapa? Kenapa pola pikirmu seperti itu, hah!?"

Hinata yang berkaca-kaca menatap lurus mata Naruto. "Karena memang seperti itu. Untuk apa juga kamu pedulikan orang sepertiku? Kita ngga punya status apa-apa yang membuatmu harus peduli, kan?" Air mata Hinata jatuh dan ia menunduk. Suaranya melunak walau terbata. "A-Aku cuma siswi tertutup yang ngga pernah memiliki banyak teman... sedangkan kau, idola sekolah yang disenangi semua orang. Kita terlalu berbeda..."

Sekali dalam seumur hidup, baru kali ini Naruto merasa luar biasa kesal saat mendengar pandangan seseorang mengenai dirinya. Dadanya seperti pengap, pengap oleh amarah yang tak bisa ia keluarkan langsung ke Hinata. Dia hanya kesal. Dia hanya marah pada Hinata.

"Kita ngga punya status, katamu? Kau siswi tertutup dan aku populer? Oh, begitu?" Naruto mendengus. Ia dekati Hinata dan memaksa wajahnya mengadah, menatap kesungguhannya. "Kalau begitu maafin aku yang sudah menganggapmu sebagai orang yang selama ini kusayangi! Pahamin itu, Hinata Uchiha!"

"Ngga perlu b-bohong, Naruto..." Hinata sedikit menaikkan lavalnya.

"Aku serius!"

"Su-Sudahlah—"

Buru-buru ia menggeleng dan menepis tangan Naruto. Susah payah ia berbalik, ingin lari dari kawasan atap yang seharusnya ia tinggali sejak tadi. Tapi Naruto sudah menahan tangan Hinata, menariknya keras. Seragamnya ditarik sampai kancingnya lepas.

"Kyaa! Na-Naruto!"

Hinata yang panik melawan. Naruto juga kian berusaha menahan pukulan lemah Hinata. Dengan agak pelan ia jatuhkan tubuh Hinata. Punggungnya dibuat menempel di atas lantai dingin. Dan tiba-tiba saja Naruto menduduki tubuh gadis indigo itu dan mendempetnya. Jari-jari tan mulai melepas paksa satu per satu kancing seragam Hinata yang lembab. Gadis itu terkejut setengah mati. Apa Naruto kelepasan lagi seperti apa yang pernah ia lakukan padanya?

"Na-Naruto!? Kamu mau apa!?" Hinata memekik ketakutan.

Ia mencoba menepis tangan besar Naruto yang terus membuka seragamnya. Tapi tak bisa, Naruto terlalu sulit, dan hal itu tentu membuat Hinata semakin panik. Tubuh bagian atasnya yang hanya ditutupi tank top putih renda terekspos jelas. Dengan setetes air bening yang mengalir dari sudut mata, Hinata memberontak dan memukuli pria itu. Hanya saja Naruto lebih pandai menahannya. Kedua tangannya ditahan di atas kepala dengan satu cengkraman tangan.

"Naruto!"

Naruto belum menggubris. Masih dengan ekspresi serius tanpa senyum, ia gunakan tangannya yang bebas untuk melepaskan kemeja putihnya juga. Ia tampilkan tubuh tegapnya yang berbidang.

"Sstt, diam sedikit... jangan buat niat baikku jadi hilang."

.

.

~zo : twins alert!~

.

.

Nyaris sejam setelah kejadian itu berlangsung, Hinata terbangun di ranjang UKS yang hangat dan empuk. Lengkap dengan tiga lapis selimut yang menutupi tubuh mungilnya dengan sengaja. Ia mengerjap sebentar. Seingatnya tadi dia ada di atap; kedinginan dan terlibat debat kusir dengan Naruto. Tapi kenapa tiba-tiba ia sudah ada di sini?

Heran, Hinata beranjak seraya mengusap kelopak matanya dengan tangan. Namun baru saja terduduk, ia mendapati sebuah perbedaan yang mencolok di pakaiannya sendiri. Sewaktu ia menunduk, iris lavender sayunya membeliak lebar.

Apa yang kini ia kenakan... bukan lagi kemeja siswi yang dipenuhi bercak kuning, bau telur busuk, basah dan dingin. Dia malah terbalut oleh seragam kering dan wangi. Longgar dan...

Dengan tatapan kosong Hinata meraba kain terluar yang ada di tubuhnya. Ada sebuah jaket hitam yang tebal dan hangat. Itu jaket milik Naruto, Naruto Uzumaki. Semua yang ia gunakan adalah kepunyaan Naruto. Dimulai dari kemeja besar lelaki berukuran L, yang berbahu longgar yang membuat tubuhnya tenggelam di dalamnya, hingga sebuah jaket berkerah tinggi yang seolah melindunginya dari hawa dingin suhu ruangan.

Hinata menarik jaket Naruto, menundukkan kepala, membiarkan pipi dan puncak hidungnya yang merah akibat flu menyentuh kain jaket Naruto yang memiliki wangi musk. Hinata yang menutup matanya dengan khidmat. Dia biarkan jantungnya berdebar tak beraturan.

Tanpa sadar rona merah menyelubungi pipi sampai ke ujung telinganya. Hidungnya terasa tersumbat oleh sesuatu kala bola matanya yang terpejam serasa dialiri oleh genangan air mata. Nafasnya bergetar haru.

Jadi ini ya alasan mengapa Naruto memaksanya melepaskan baju? Mengambil pakaian basahnya, demi menggantikannya dengan pakaian kering milik pria itu sendiri. Ah, ia sama sekali tidak menyangka. Wajar saja ia salah paham dan duluan tak sadarkan diri sebelum tau lebih lanjut apa yang Naruto lakukan padanya. Ia kira Naruto akan berbuat hal tak senonoh.

Tapi...

Hinata mencoba mengingat-ingat sebuah kalimat yang sebelumnya Naruto katakan.

Katanya... Naruto menyayanginya, kan?

Diam-diam ada sebuah senyum manis yang terlukis. Empat sampai lima kali Hinata memanjatkan syukur. Betapa indahnya dicintai oleh perasaan sebesar ini...

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Sementara itu di koridor lain, saat mata pelajaran telah berlangsung di kelas masing-masing, Naruto dengan langkah penuh emosi mendatangi ruangan kelas XI-B yang lagi belajar di Lab Kimia. Ia baru dapat kabar dari Ino kalau orang-orang yang mem-bully Hinata tadi siang adalah rombongan kelas sana. Ebisu-sensei yang sedang melakukan ulangan praktik pun sampai marah melihat Naruto yang membuka pintu dengan bantingan.

"Naruto, apa yang kau lakukan!? Ini bukan kelasmu, jangan buat kerusuhan—ukh!" Guru berambut hitam yang berniat mendekati Naruto sampai urung akibat bebauan tak sedap yang menguar dari tubuh si pirang. Sambil menekan hidung ia baru menyadari bahwa saat ini Naruto Uzumaki yang terkenal nakal itu sedang memakai pakaian ketat kekecilan, bau dan penuh dengan unsur lendiran kuning yang menjijikkan. Kemeja Hinata.

Naruto abaikan guru berkacamata bulat itu, lalu beralih ke siswa-siswi yang berada di deretan belakang. "Mana perwakilan dari kalian yang bertanggung jawab atas baju ini!?"

Para pelaku yang tentu saja kenal dengan pakaian Naruto langsung luar biasa ketakutan. Dengan gugup mereka berbisik ke seorang siswa yang juga ikut serta mem-bully Hinata, lalu menyuruhnya untuk ke depan. "T-To-Tolong dong. Kamu kan cowok..." Ujar salah satunya ke siswa yang bernama Yamazaki itu.

Yamazaki dengan gugup menghampiri Naruto. "Y-Ya, kenapa, Naruto?"

Naruto yang masih berdiri di depan pintu cuma melepas raut marahnya dan malah tersenyum lebar. "Aku dengar-dengar sih yang nge-bully Hinata itu rombongan cewek. Bukan cowok. Ngga apa nih?"

"I-I-Iya, sebenarnya aku cuma b-bantu lempar satu telur aja sih. Ta-Tapi kenanya ke kepala kok, j-jadi ngga ngotorin b-baju..."

Naruto makin tersenyum.

Yamazaki menelan ludah.

Hingga pada akhirnya, di suatu detik, kepalan tangan tan Naruto yang buas itu terlempar penuh ke pipi kanan Yamazaki secara telak. Bunyi debaman kencang terdengar dan siswa kurus itu terpelanting ke lantai. Orang-orang di dalam kelas terdiam tanpa suara. Hening dan juga takut. Semua tak ada yang berani berkomentar lewat kata-kata. Tak terkecuali Ebisu-sensei yang ada di sana sebagai saksi.

"Kalau begitu, kau memang harus mewakili teman-temanmu." Naruto tersenyum. Kali ini sebuah senyuman sinis dan suara keras. "Itu balasan dari Hinata! Kalian puas!?"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

SasuSaku dan NaruHina secara samar-samar udah baikan tuh hehe. Semoga kalian suka dua scene di chap ini. Dan sebagai A/N tambahan, Sakura memang udah liat mata Sasuke, tapi belum liat mukanya secara keseluruhan haha. Dan untuk scene NaruHina, pantes dong Naruto makin kesel sama Yamazaki tadi. Telor yang dilempar ke kepala itu sakit banget loh (menurut pengalaman pribadi). Jadi wajar Naruto makin marah besar :/

Dan terakhir, terima kasih banyak atas semua readers dan reviewers yang masih mendukung kelanjutan fict ini. Dukungan kalian benar-benar memotivasiku untuk menulis lebih baik. Sayang semuanya! \:')/

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

LovelyMina, leontujuhempat, Febri Feven, MahardikaRBL, Vermthy, stillewolfie, Hikari Ciel, eliza-halianson, Dhezthy UchihAruno, sofi asat, pss, Lilids Lilac, Nauri Aconitumferox, ntika blossom, Winter Cherry, Namikaze Rezpector, peinsaku, utsukushi hana-chan, chrizzle, Sakura Zouldyeck, Lhylia Kiryu, Bunshin Anugrah ET, Eunike Yuen, Yoshikuni Ayumu, kHaLerie Hikari, flowers lavender, AF Namikaze, Chi-chan Uchiharuno, Megumizack, Guest, nadyasabrina, m-u-albab, Dewa perang, Biiancast rodith, Akasuna Sakurai, LastMelodya, ito, Chimunk-NHL, smiley, Ariska, Uchiha Ratih, ShinRanXNaruHinaXIchiHime, mysaki, Shika, hanafid, Guest, Kiyora Yamazaki, Durara, Karizta-chan, Neko-chan, Luluchai10, Kikyu RKY, Michiyo-chi, Ribby-chan, haruchan, Yuuki Adinata, kobaysen, Misti Chan, marcellan, iya baka-san, AinRin, Natsumo Kagerou, Dark naruto, Jasmine DaisynoYuki, Mushi kara-chan, shawol21bangs, kazufika, rekha-julita, Benrina Shinju, Uchiha yuki cherry, shinji starwind, ucha, spring field sakura, Guest, kushi, aysila, hannastewart027, tataruka, o-O rambu no baka, Namikaze ares, salsalala, aoi-san, Rurippe no Kimi, Ramen panas, Iwahashi Hani, syal, Guest, indah-cintya-520, afsha, gubu-chan, laysa, lala, kazufika, hisyam, dong dong, mina-san, RanHwa19, Ifaharra sasusaku, natsumi-san, Snow's Flower, pbalqisf, lala, gorety, MeniaFan, Guest, shiro19uzumaki, Uzumaki Lavender, jojo, ryuku, jojo, guest, kenzi, imahkakoeni, Nata-chan, Durara, chiechie-elfsuperjuniorcliquersejhathie, yuriski-suryani, Syozfs, Eysha CherryBlossom, Guest, kazufika, Minri, Utsukushi Musume, The Black Cherry Blossom, himeko, sasusaku lovers, nadyalestari, azhuichan, Sanny Mrs. Virgo, NamiUchi Hikari, MAGENZ, Afra onyx, Namikaze Yuli, uchihA keiME, Aihara Meyrin, Lactobacilluss, BlackLavender RB26DET, Guest, nana, SakurajimanoYama, keiko3424, Guest, Hiname Titania, dylanNHL, Ramen panas, Maria Mizuki, Guest, Siput Puput, Guest, Prince Ice, Ceei SanaRier, Narumi Miharu, erwin, Belindattebayo1, N2Abestie, zzz, ZeZorena, YashiUchiHatake, kazufika, Amu B, Annisa uciharuno, firapucha, zzz, Neko-chan, Guest, uchiher, iclo, Kagamine Ritsu, Guest.

.

.

Pojok Balas Review :

Apa yang terjadi ya di kamar? Bukan hal besar sih, tapi semoga suka dan ngga ngecewain. Sasuke harus kasih pelajaran ke Sakura. Udah kayaknya. Naruto-nya sok cuek. Iya tuh haha. Sakura bakal tau penyamaran Sasuke, ya? Haha, udah. Tapi belom liat mukanya secara keseluruhan. NaruHina-nya cuma dikit. Gantian chap besok. Apa pem-bully itu bakalan jadi temen Hinata? Belom tau sih. Gaara bakalan dihabisi, ngga? Pengen liat GaaSasu berantem. Hahaha. Zo bentar lagi kuliah? Iya, baru lulus. Suka pas Sasuke di-bully Sakura. Iya, samaa. SasuSaku-nya kurang banyak. Masa iya? Update-nya lama. Iya, baru hiatus (boong). Sasuke kurang protektif. Kalo terlalu protektif sama Hinata, banyak yang protes. Jadi aku minimalin aja. King's Wife kapan update? Minggu depan. Katanya ngga lebih dari chap 15? Kok ini lebih? Soalnya aku ngasih konflik tambahan. Masalah Gaara selesai, fict ini tamat kok. Kenapa Hinata ngga berani ngelawan? Aku ngga bisa ngebuat Hinata jadi jago (?). Kalo bahasanya baku pasti lebih enak. Iya, aku telat nyadarnya. Susah diubah. Motif Gaara? Pokoknya karena dendam sama Sasuke. Chap 15 ada typo. Edited, oke. IBWFY update dong. Udah complete :) Dari semua chap, chap 15 yang paling ngga menarik. Haha, sorry. Semoga chap ini lebih baik. Sasuke jadi beda. Kalo Sasuke-nya cuek mulu SasuSaku-nya mana bisa maju :/ Ano, kalimat Sasuke sempet diedit ya di chap 15? Iya. Susah buat Sasuke ngomong banyak. Mau liat Naruto berantem. Udah tuh hehe. Sukses UN-nya. Iya, makasiih. Kok update lama? Maaf, aku April UN. Maret – April kemaren aku bener-bener ngga ngetik, jadi baru dilanjut. Tolong pengertiannya, ya... :)

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU