Lagi-lagi ekspektasi Mello meleset jauh dari fakta.

Rencana kegiatan mereka akhir pekan kemarin –berdasarkan imajinasinya, setidaknya- seharusnya membuat Matt bingung dengan rona merah menjalari pipinya acapkali mata mereka bertemu, bukannya membuat si rambut merah itu gelagapan dan memandangnya seperti atraksi eksentrik sirkus tiap berhadapan dengannya!

Apalagi untuk mendapat kesempatan seperti kemarin ia harus mengorbankan kemungkinan untuk mengabadikan sosok konyol Matt dengan rok tutu Robynne setelah kalah taruhan.

'Jalan-jalan' itu terlalu disayangkan jika digunakan untuk mengisi kesempatan langka seperti kalah taruhan, tapi Mello merasa tidak punya pilihan lain mengingat betapa bebalnya Matt.

Gestur sederhana seperti tatapan yang hanya ia pancarkan manakala matanya bertemu pandang dengan sepasang emerald di balik lensa oranye, kontak tubuh yang ia akui murni ketidaksengajaan, bahkan lusinan tutur sugestif yang ia luncurkan tidak mampu membuat Matt berpaling padanya.

Ia harus membuat si bocah goggle memerhatikan; penasaran.

Demi menciptakan tanda tanya itulah Mello menjadikan perintah 'jalan-jalan' sebagai pinalti bagi Matt.

Dan sayangnya seperti yang sudah dikemukakan tadi, Matt tidak juga sadar apalagi tersipu malu, malah memandangnya seperti alien yang merasuki si rambut pirang setelah ia menyelesaikan taruhan mereka dengan cara yang begitu sederhana.

Mungkin kali ini rencananya tidak tepat.

.

.

… Tidak, bukan tidak tepat; ego Mello menanggapi.

Reaksi bingung yang jelas mengusik si rambut merah sampai beberapa hari terakhir adalah bukti usahanya bukanlah sesuatu yang tidak membuahkan hasil. Matt sudah mulai menaruh perhatian padanya.

Jika strateginya sedikit diubah…


"Begini, apa kau sibuk besok malam? "Kami tahu beberapa tempat yang menyenangkan untuk hang out. Dan kurasa sedikit refreshing akan menyenangkan untukmu, jenius. Jadi… bagaimana?"

Bagaimana kalau kalau mati saja, belajar setengah mati di kehidupan selanjutnya agar bisa menjadi lulusan paling tidak universitas setingkat Harvard, mati, dan mengulangi hal tadi sebanyak tujuh kali agar bisa paham betapa kalian meremehkan harga diriku dengan tawaran seperti itu?

Deskripsi tersebut tanpa sungkan akan dimuntahkan Mello, kalau saja cara untuk memanfaatkan kesempatan ini tak terlintas di benaknya.

Dan seorang Mihael Keehl selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan.

.

.

"Hng. Kenapa tidak?"

.

Dan dalam hitungan menit Matt menghabiskan makan malamnya lalu menggeret Linda entah kemana dari kafetaria tanpa berkomentar sepatah katapun pada Mello.


.

Love Drunk

Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Previous warning applied

.


"-Kau yakin hal seperti ini memang perlu?"

"Duh, Matt, kita akan menguntit penerus detektif nomor satu dunia, tentu saja diperlukan kamuflase yang terencana!"

Matt hanya menghela nafas seraya menyapukan pandangan pada tumpukan pakaian di atas kasur yang entah dengan metode apa berhasil dipinjam Linda dari beberapa anak laki-laki.

"Yah, pertokoan 'kan sudah lumayan ramai, kita cukup berbaur atau semacam itu," ujar Matt sambil mengedikkan bahunya.

"Oh, tentu saja. Kaulah yang paling tahu bagaimana pakaian zebra dilengkapi vest bulu konyol itu sangat tidak menarik perhatian," sahut Linda yang masih sibuk memilah.

"Hei, biar kuberitahu, gayaku itu…"

"-Sangat original dan eksentrik, aku sudah mendengarnya jutaan kali. Bagaimana menurutmu fedora ini? Lumayan untuk menutup rambut merahmu yang menyolok itu. Dan bisa kita padukan dengan cardigans berwarna gelap dan dress jeans ini."

Matt mendekat, mengamati objek yang dimaksud Linda dengan kening berkerut. "Entahlah, Linda, aku tidak tahu menguntit orang memerlukan pakaian… rapi begitu."

"Justru yang kita butuhkan besok adalah pakaian yang sangat berbeda dengan yang biasa kau pakai! Geez, yang akan kita mata-matai adalah pencapai skor 731 semester terakhir!"

Matt mengangkat sebelah alisnya. Kelihatannya dugaannya tentang obsesi nilai nihil berada dalam pikiran Linda sedikit meleset.


"Hei, apa kau melihat Matt?"

Near menoleh, mendapati sosok sang rival dengan ransel tergantung di salah satu bahu lengkap dengan jaket kulit favoritnya berdiri di lorong.

'Hm… isu kencan itu benar ternyata?' batin sang bocah albino penuh tanya. Namun ia akan memilih bungkam dan melihat situasi seperti biasa, tentunya. "Tadi pagi dia sudah berangkat bersama Linda ke perpustakaan tua Cinnabar. Mengerjakan tugas sastra atau sesuatu semacam itu."

Sebagai reaksi Mello hanya menggumam kecil sebelum akhirnya gerombolan gadis yang jarang dijumpai Near bergerumul di sekitar si rambut pirang dan menggiringnya keluar.

.

.

.

"Jadi… bisa kau jelaskan kenapa kita sarapan di kafe wilayah pertokoan sementara orang yang seharusnya kita ikuti bahkan belum berangkat?" sungut Matt, meski ia tampak cukup menikmati english muffin yang dikunyahnya lamat-lamat.

"Menghilangkan kecurigaan, Matt," jawab Linda yang rambut panjangnya kini terikat dan tersembunyi di balik topi baseball sambil menyeruput teh pesanannya.

"Entah kau memang berbakat menjadi mata-mata atau terlalu paranoid. Lagipula, kita berada di salah satu sudut kecil daerah ini. Bagaimana kita bisa mengetahui posisi Mello nanti?"

"Gadis-gadis itu akan menggiringnya kesini, percayalah. Mereka biasanya menghabiskan akhir pekan dengan West dan Gray, teman kencan mereka yang kutahu sudah berkutat di game arcade di seberang jalan ini pagi-pagi begini. Mereka akan bertemu di sana, dan kita akan mendapat spot yang bagus dari sini."

Matt melongo. Ada desas-desus yang mengatakan salah satu penghuni panti kini tersohor menjadi informan bagi kalangan kriminal. Rasanya Linda cukup berbakat untuk meneruskan titel itu.

"Umm, tunggu, tunggu. Jika perempuan-perempuan jalang itu punya pacar, kenapa mereka repot-repot mengajak Mello?"

"Hanya teman kencan, Matt, bukan pacar," koreksi Linda. "Dan lagu kudengar Grace, Annie, atau siapalah bertengkar dengan teman kencannya. Mello mengisi kekosongan itu, mungkin?"

Alis si rambut merah berkerut membayangkan perawakan pemuda urakan bertampang konyol yang posisinya bisa digantikan dengan sosok garang Mello.

Imajinasi Matt terhenti begitu Linda memberinya isyarat, membuatnya menoleh ke arah sosok berambut pirang yang familiar melewati trotoar seberang dengan teman-teman wanitanya.


Mello tidak menyangka tempat pertama yang disinggahinya adalah game arcade. Mungkin acara konyol ini bisa sedikit lebih bermanfaat daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

Sewaktu makan siang, 'teman-teman baru' Mello membawanya ke sebuah kafe bergaya pop yang katanya memiliki menu burger dan hotdog yang lumayan. Oke, bukan tempat yang buruk untuk menikmati hidangan fast food, begitu pikir Mello ketika menikmati gigitan pertama cheeseburger-nya.

Begitu pula dengan tempat-tempat selanjutnya yang ia jejaki.

Heh, ternyata 'hang out' itu tidak terlalu buruk juga.


"Matt, kakiku sudah pegal~" keluh Linda sambil yang tengah duduk pada keramik pinggiran pancuran sambil mengurut-urut kakinya. Rona jingga telah tertumpah di langit, Matt sudah kehilangan hitungan tempat keberapa toko yang disinggahi Mello kali ini.

"Aku juga," Matt mengakui. Belum lagi perut mereka yang mulai menggerung minta diisi, mengingat dalam prosesi penguntitan ini makanan yang masuk ke mulut mereka seharian itu hanyalah sarapan yang pagi tadi mereka santap di kafe. "Mungkin sebaiknya kita pul-"

"Hei, itu mereka!" Linda memotong, telunjuknya mengarahkan kepala Matt pada pemandangan dimana gerombolan Mello tampak terpencar. Tampaknya Gray dan West sudah pergi dengan pasangan mereka entah kemana; meninggalkan Mello berduaan dengan seorang gadis yang tersisa. Yang bertengkar dengan teman kencannya, Matt menyimpulkan.

Penasaran dengan apa yang bisa terjadi pada dua orang itu, Matt memaksa kaki-kakinya yang serasa menjerit memohon istirahat. Linda? Tampaknya insting penggosipnya membuatnya melakukan hal serupa dengan si rambut merah.

Melihat sang pemuda pirang yang masih melangkah dengan tegap, Matt jadi tidak tahan tidak merutuk tubuhnya yang sangat jarang dibiasakan berolah tubuh.

Matt memicingkan matanya, melihat tidak ada satupun dari kedua targetnya yang menggerakkkan mulut.

… Apa yang mereka lakukan, berdiri berhadap-hadapan dalam kebisuan seperti itu?

Waktu terasa begitu lambat manakala sang gadis berambut hitam mendekatkan kepalanya ke arah Mello. Dan sang bocah berambut merah tidak bisa melakukan apapun selain membelalakkan matanya ketika bibir keduanya bertemu.


Jam malam hampir berakhir ketika Mello akhirnya kembali ke Wammy's House. Seiring langkahnya menyusuri koridor, otaknya terus mengulang rekaman kejadian hari itu; berusaha mengingat sebanyak mungkin.

Pergi ke bioskop dan bersantap di restoran Italia mungkin cukup untuk memikat seorang gadis, tapi menganggap Matt akan menunjukkan reaksi serupa merupakan kesalahan bagi Mello.

Arcade, fast food, dan hobbyshop sepertinya lebih tepat untuk menjadi pengisi jadwal acara mereka. Dan berkat usahanya, sang maniak cokelat berhasil mengingat deretan lokasi yang menyempurnakan kencannya selanjutnya.

Yeah, strategi Mello belum berakhir, tetapi baru dimulai.

Meski penuh keluh dan dengan gerakan malas, ia tahu Matt akhinya tidak akan menolak ajakannya untuk 'menemani membeli persediaan cokelat'. Mengisi perut, dan singgah disana-sini pada jalan yang 'kebetulan' mereka lewati. Jika sampai akhir targetnya belum juga menunjukkan gestur yang ia inginkan (tersipu dengan pipi merona, jika kau lupa), bukan tidak mungkin Mello mengambil langkah drastis.

Mello telah mempelajari apa yang ia rasa perlu lewat kecupan yang diterimanya tadi. Dan ia yakin ciuman tanpa harus merasakan lengketnya lip gloss akan terasa jauh lebih baik.

Sepertinya pemuda pirang itu terlalu percaya diri untuk tidak mengkalkulasi kemungkinan Matt menolaknya.


Manakala decitan pintu kayu kamarnya berderit tanda dibuka, Matt masih tetap tak mengubah posisinya. Goggle yang masih terpasang pada dahi terasa sedikit menyakitkan untuk kepalanya, tapi ia benar-benar tidak ingin melakukan hal lain selain tidur tengkurap dengan wajah terbungkam bantal.

"Matt?"

Mendengar suara sang teman sekamar yang begitu familiar, barulah si rambut merah menoleh dan menunjukan wajah kusutnya. Sapaan atas namanya hanya dibalasnya dengan gumaman tak jelas.

Mello mengerutkan keningnya. "Gagal lagi mengalahkan Elite Four? Atau Justin tidak sengaja menghapus save-an PSP milikmu lagi?"

Matt bisa mencium dengan samar wangi parfum perempuan begitu Mello duduk di tepi kasur, membuatnya kembali menelungkupkan wajah pada bantal. Sayang hal itu tidak efektif menghalau adegan berciuman yang baru ia saksikan selang beberapa jam lalu terus terulang di kepalanya.

Namun Mello mengesampingkan keadaan sosok yang pada jam segini biasa berkutat dengan komputernya itu, terdesak akan ide yang membuncah di kepalanya. "Matt, kau ikut denganku ke Chiroll's minggu depan."

Bukan pertanyaan, bukan permintaan. Perintah.

"… Kenapa?" Mungkin jalan-jalan malam membua Matt sedikit tidak enak badan. Tak terpikir lagi alasan lain mengapa suaranya menjadi parau dan tenggorokkannya serasa tercekat seperti ini.

"Aku butuh alasan untuk membeli jatah cokelat bulananku?"

"Kenapa kau mengajakku? Kau bisa saja pergi bersama…" Pikirannya terlalu kusut untuk bisa mengingat-ingat nama mereka. "… perempuan-perempuan itu."

Mello mengerjapkan matanya. "Kau pikir aku 'berkencan' dengan mereka? Hanya karena aku setuju melakukan apa yang mereka sebut 'hang out' sekali ini saja?" tanyanya setengah tidak percaya, setengah kesal. Orang yang sudah mengenalnya lebih dari setengah hidupnya itu menganggap gadis-gadis berotak kosong itu pantas bersanding dengannya?

"Well, kau terlihat cukup menikmatinya hingga melanjutkannya sampai malam begini." Dan sekarang suaranya terdengar seperti geraman. Kelihatannya berbagi kamar bertahun-tahun dengan Mello mulai menunjukkan efek samping.

"Yah, harus kuakui mereka tahu beberapa tempat bagus. Meski pergi dengan perempuan macam itu tantangan untuk memperpanjang batas kesabaranku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya berjam-jam bertahan dengan aroma parfum murahan yang menusuk hidung dan…"

"-Kalau begitu kenapa kau berciuman dengannya?!"

.

.

.

Butuh 3 detik bagi hingga penyesalan menjalari Matt.

.

.

Dan butuh waktu 10 detik hingga keheningan terpecahkan.

.

"… Kukira kau pergi Cinnabar bersama Linda."

"Umm… aku… aku kebetulan melewati pertokokan waktu pulang dan… melihat…"

"Pertokoan dan perpustakaan itu berlawanan arah, Matt. Kapan sebenarnya terakhir kalikau mengunjungi Cinnabar?"

"Kecuali ada game guide entah bagaimana terselip di antara buku-buku tua berdebu itu, untuk apa juga aku kesitu?"

Dan sang lawan bicara menaikkan alis, tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun mampu membuat Matt ingin membanting kepalanya ke meja.

"Oke, aku memang membuntutimu hari ini. Aku hanya… penasaran kau tahu? Lagipula ini ide Linda. … Yah, setidaknya sebagian besar. Dan aku akan langsung berteriak sebelum kau menghajarku, kau tidak ingin detensi Roger lagi, bukan?" Kalimat terakhir itu buru-buru diucapkannya begitu melihat ekspresi sang pemuda pirang yang biasanya sudah cukup intimidatif mengeras.

Lagi-lagi rencana Mello gagal, bahkan kali ini sebelum pelaksanaannya dilakukan.

"Kenapa kau mengikutiku?"

"Sudah kubilang aku hanya penasaran. Jika hanya butuh teman jalan-jalan, apakah menyeretku kesana kemari hampir tiap kali kau kehabisan persediaan cokelat masih kurang?"

.

Dan pemilik otak jenius pemegang peringkat kedua -akhirnya- mengerti.

.

.

.

"Matt, kau cemburu?"

Rona merah yang menjalar dari telinga hingga leher adalah konfirmasi yang lebih tegas daripada bentuk verbal. Menghiraukan rentetan kata-kata sanggahan yang diluncurkan si rambut merah, Mello beranjak mendekat.

Tampaknya ia telah membuang susunan sempurna rencana kencan di otaknya, dan melompat ke bagian akhir dengan mencium bibir Matt.


.

To be Confirmed

.


Maaf updatenya kelamaan~ TAT #bows

Udah berapa bulan ya? makasih buat yang masih nunggu dan Love Drunk sampe sini... #bowslagi

Saking lamanya, saya jadi agak lupa 'cara menulis yang baik dan benar', apalagi ini fic diedit dengan mata berenergi 5 watt. Segala kesalahan silakan segera laporkan pada author seperti biasa, dan mari kita harapkan updet selanjutnya gak bakal setelat ini~ #Plak

Mind to review?