KUCING JAMUR

Standard disclaimer applied

Warning: drabble, minim deskrip

Hope you'll enjoy

.

.

Ai Mori berlari-lari kecil mengitari taman. Tengah mencari sosok sahabat rambut hijaunya. Hari ini mereka juga akan membersihkan taman. Namun Mori belum mendapati sosok Ueki kendati telah tiba di tempat mereka biasa bertemu setengah jam lalu.

"Ueki!" akhirnya Mori menemukan Ueki. Ia sedang duduk berjongkok di dekat semak.

Eh, apa yang dia lakukan?

"Ueki, apa yang kau laku-"

Kata-kata Mori tercekat setelah melihat apa yang ada di depan Ueki. Seekor kucing yang terbaring lemas dengan kaki terluka. Nampaknya kucing liar.

"Barusan aku menemukannya. Sepertinya ada yang sengaja menyakiti kaki kucing ini," jelas Ueki tanpa diminta.

Mori mengelus kepala kucing itu dengan lembut. Bulu yang kusam, tubuh yang kurus. Ya Tuhan, kasihan sekali…

"Ayo kita bawa ke dokter hewan!"

Ueki mengangguk. Segera mereka berdua membawa kucing itu dalam balutan jaket biru milik Ueki.

"Ia dehidrasi dan kakinya memang tergores benda tajam. Tapi tenang saja, ia akan segera pulih. Lagipula lukanya tidak terlalu dalam," jelas dokter dengan senyum menenangkan. Mori dan Ueki menghembuskan napas lega.

"Oya, apa kalian akan mengambil kucing ini? Kalian bilang dia kucing liar, kan?"

"Err… kami belum tahu," terbata Mori menjawab. Sempat melirik Ueki sekilas dengan tatapan bertanya, sayang pemuda itu tidak sadar.

"Kalau dikirim ke penampungan aku khawatir kondisinya malah memburuk. Petugas di sana tidak seluruhnya baik pada binatang."

"Aku akan membawa Shitake pulang kalau ia sudah sembuh."

Mori terkejut. Shitake?

Sebuah senyum lagi-lagi terkembang di bibir sang dokter. "Syukurlah. Shitake pasti senang kalau begitu. Kalian anak-anak yang baik ya…"

Kemudian beberapa obrolan kecil dan mereka berdua pun pulang. Sudah hampir pukul lima. Langit tersaji dengan kanvas jingga. Ueki dan Mori berjalan beriringan tanpa berminat membuka percakapan. Suasana sore yang menentramkan semacam ini, mereka memang lebih sering menikmatinya dengan tenggelam pada pikiran masing-masing.

Mori menoleh pada Ueki, "Kau yakin tentang membawanya pulang?"

"Yah… Kurasa kucing bukan ide yang buruk. Omong-omong namanya Shitake."

Mori tersenyum tipis. Ada sebentuk rasa geli yang menggelitik saat Ueki menyebut nama 'Shitake'.

"Eh, kau kenapa Mori? Senyum-senyum begitu."

"Tidak, tidak apa-apa," Mori menggaruk pipinya, "cuma heran kenapa kau memberi nama kucing dengan nama jamur."

Giliran Ueki yang menggaruk pipinya. "Aku cuma kepikiran nama itu. Ah, sudah lama aku tidak makan jamur shitake…"

.

.

.

"Shitake. Wujud rasa keadilan Ueki. Bisa dibilang begitu, ya?"

.

.

"Kau mengatakan sesuatu, Mori?"

"Hm? Tidak. Bukan apa-apa."

*Fin*

Pojok author:

Baru saja sembuh dari WB dan akhirnya membawa fic macam begini /nyengir –dor

Perkenalkan… Saya baru di fandom Law of Ueki. Biasanya saya main di HM, APH, FNI sama DRRR! Tapi pasti banyak yang nggak kenal saya. Lebih sering jadi silent reader sih… Hoho *ditendang*

Maaf kalau fic-nya aneh dan pendek banget. Udah lama pengen nulis Ueki-Mori - -v. Saking lamanya jadi agak-agak blabur cerita The Law of Ueki kayak apa. Dan lahirlah fanfic ini. Hehehe, jangan pukul saya! *ngumpet*

Any review? Concrit are welcomed… :D

Regrads,

Aqua Days