DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

WARNING :

OOC. FemKura. Rated T - Semi M. Continuation sequel, set after You're Seducing.

SUMMARY :

It's winter...and Kurapika didn't like it!

.

Happy reading^^


Song : You've Got A Way by Shania Twain


CHAPTER 3 : WINTER

Kuroro's POV

Aku menatap ke luar dinding kaca. Hujan salju sudah berhenti sekarang. Matahari yang mengintip dari balik awan menimbulkan sinar kemilau di atas timbunan salju putih yang tebal.

Suara erangan lemah yang berasal dari tempat tidur membuatku menoleh. Seorang gadis berambut pirang masih tertidur di sana. Aku tersenyum tipis dan melangkah menghampirinya…lalu duduk di tepi tempat tidur itu.

Seprai satin berwarna gelap nampak kontras dengan penampilan gadis itu yang seperti malaikat. Aku menggerakkan tanganku…membelai rambutnya yang halus. Ah, rambutnya sudah lebih panjang sekarang.

"Kurapika," ucapku perlahan. Tidak ada respon sama sekali.

Aku pun membungkuk dan mengecup bagian belakang telinganya. Kulit Kurapika sangat sensitif saat aku menyentuhnya.

Benar saja.

"KYAAAAA…..!" tiba-tiba Kurapika terbangun dan menjerit sambil memegangi bagian yang tadi kukecup. Ia langsung duduk dengan wajah terkejut.

Aku tertawa kecil melihatnya. Tindakan yang salah, karena dia langsung menatapku tajam.

"Tidak lucu, Kuroro," protesnya dengan wajah cemberut—dan merona tentu saja—seperti seorang gadis kecil yang merajuk.

Aku meraih dagunya. "Habis kau sulit sekali dibangunkan," aku berkata sambil mengecup bibir di wajah cantik itu sekilas. "Ayo, ini sudah pagi…lihatlah, indah sekali di luar!"

Kurapika menepiskan tanganku. Ia meraih selimut dan kembali berbaring.

"Hei!"

Fuhh….kadang gadisku ini memang seperti anak kecil. Apalagi kalau musim dingin seperti sekarang. Aku segera memasukkan kedua tanganku ke dalam selimut dan memeluk tubuh Kurapika.

"Lepaskan," kata Kurapika dengan suara yang lebih lembut kali ini.

Aku tersenyum dan memeluknya semakin erat. Tak diragukan lagi, caraku selalu berhasil...

"Aku benci musim dingin," Kurapika berkata lagi.

"Oya? Tapi aku suka…karena musim dingin memberiku banyak alasan untuk memelukmu sepanjang hari."

Kurapika terdiam. Aku merasa heran dan menoleh padanya. Aku harus menahan tawa, karena kulihat wajahnya merona. Aku melepaskan pelukanku, lalu bangkit dan mengacak-acak rambut pirangnya.

"Bangunlah, aku akan membuat sarapan untuk kita. Aku tunggu di bawah ya!"

Seiring dengan langkahku yang menapak keluar dari kamar itu, ia menggerutu pelan namun aku tahu pasti rona di pipinya itu masih belum menghilang.


Kurapika's POV

Aku dapat melihat wajah tampannya yang terlihat senang saat meninggalkanku pergi ke lantai bawah. Aku menghela napas...memeluk selimut dengan lebih erat sekali lagi, lalu menghempaskannya begitu saja.

Kutapakkan kakiku di lantai yang dingin...dan menoleh ke luar dinding kaca. Seberapapun tidak sukanya aku pada musim ini, aku tetap dibuat terpesona oleh pemandangan indah yang ditimbulkannya.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya...rasanya masih sulit untuk kupercaya, tinggal di tempat seindah ini, bersama dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan yang telah menghancurkan hidupku di masa lalu.

Tapi dengan caranya sendiri, Kuroro berhasil membuatku untuk percaya, bahwa aku masih seorang manusia yang berhak untuk bahagia. Bersamanya...

You've got away with me

Somehow you got me to believe

In everything that I could be

I've gotta say... you really got a way

Tanpa sadar aku tersenyum menatap matahari yang menatapku dengan cahayanya yang menyilaukan.

Ah, kekasihku sudah menunggu. Aku harus cepat.


Normal POV

Aroma kopi menyeruak di dapur yang luas dan rapi itu. Kuroro menyesap kopinya perlahan, sambil menunggu Kurapika.

"Semoga saja kau membuat sesuatu yang enak," terdengar suara Kurapika.

Kuroro berbalik dan tersenyum saat melihat kekasihnya. "Tentu saja, kapan aku pernah membuat masakan yang tak enak?"

Raut wajah Kurapika berubah ketika menatapnya. Kurapika hafal sekali, senyuman nakal di wajah tampannya itu...adalah senyuman yang biasa muncul saat pria itu menggodanya.

"Ya, ya, aku akui kau lebih pandai memasak daripada aku," ucap Kurapika akhirnya, membuat Kuroro terkekeh.

Mereka pun duduk berdua, saling berhadapan sambil menikmati strawberry pancake yang dibuat Kuroro pagi itu.

"Teman-temanmu jadi datang?" tanya Kuroro sambil melirik Kurapika.

"Ya," Kurapika mengernyit. "Mereka sangat bersemangat untuk main ski dan memancing di danau!"

Kurapika mengunyah makanannya, tanpa menyadari Kuroro terus memperhatikan dirinya.

"Apa?" akhirnya Kurapika menyadari hal itu beberapa saat kemudian.

Kuroro hanya tersenyum. "Ada saus strawberry di bibirmu."

"Oh? Di mana?"

"Di sini."

Kuroro meraih dagu Kurapika dan mendekatkan wajahnya, lalu menjilat saus strawberry yang ada di bibir gadis itu. Selama beberapa saat lidahnya tertahan di sana.

"Nah, sudah," ia berkata.

Kurapika terdiam dengan wajah yang mungkin sudah hampir mendekati merahnya strawberry. Walau sudah tinggal bersama Kuroro dalam waktu yang cukup lama, tetap saja kadangkala sikap pria itu mengejutkannya.

Kurapika memanyunkan bibirnya, melirik Kuroro dengan raut wajah yang tampak kesal. Namun Kuroro tersenyum senang ketika Kurapika beranjak dan duduk di pangkuannya.


"Kurapika...!"

Terdengar seruan dari depan rumah. Kurapika mengernyit, terutama saat suara derap langkah kaki mereka yang terdengar jelas hingga ke ruang tengah.

Bel pintu berbunyi, layar monitor kecil di ruangan itu pun menyala memperlihatkan dua orang bocah yang sudah begitu akrab dengan Kurapika, siapa lagi kalau bukan Gon dan Killua. Dengan bersemangat mereka melambaikan tangan.

"Sudah datang?" tanya Kuroro yang baru saja keluar dari perpustakaan.

"Begitulah," jawab Kurapika. Ia pun melangkah dan membukakan pintu.

"Lihat Kurapika, aku sudah memodifikasi alat pancingku khusus untuk acara hari ini!" kata Gon gembira.

Killua pun menunjukkan apa yang ia bawa di sebelah tangannya. "Lihat, aku juga sengaja membeli sepatu ski yang baru!"

"Ya, tentu saja. Bersenang-senanglah kalian," kata Kurapika dengan tidak bersemangat.

Kurapika baru saja berbalik saat Kuroro tiba-tiba sudah berada di belakangnya, dan mendorongnya ke depan.

"Apa yang kau—"

Kuroro meletakkan jaket Kurapika di bahunya. "Pakai ini, kau pun harus bersenang-senang," ucapnya.

"Aku lebih senang berada di dalam rumah! Menyingkir, Kuroro!"

Sebelum Kurapika sempat melawan, Kuroro segera menutup pintu yang ada di belakangnya sambil tersenyum. Senyuman itu tetap berada di sana walaupun Kurapika menatapnya marah.

"Benar Kurapika, ayo kita segera ke sana!" kata Gon sambil menarik tangan Kurapika.


Kurapika hampir saja jatuh saat kakinya menginjak permukaan danau yang sudah dilapisi es yang licin. Untunglah Kuroro segera menangkapnya.

"Hati-hati," kata pria itu.

Kurapika mendelik padanya. "Kalau aku sampai terluka, itu karenamu!"

"Ah...tenang saja, aku tidak akan membiarkannya sama sekali."

Kuroro memenuhi janjinya. Ia terlihat santai, menikmati suasana pagi itu namun tak pernah melupakan Kurapika. Sudut matanya selalu mengawasi gadis itu...dan membuat Kurapika merasa aman bersamanya.

Merasa lelah, Kurapika menyingkir dari lapisan es di danau itu. dia terdiam ketika melihat ada bekas tapak kaki di atas salju yang mulai menebal.

"Kuroro?"

"Ya?" jawab Kuroro sambil menoleh.

"Tadi kau sempat keluar rumah sebelumnya?"

"Begitulah...ada yang salah?"

"Tidak...aku...akan membuat coklat panas dulu."

Killua langsung berhenti bermain ski begitu mendengar kata coklat. Wajah kucingnya pun muncul.

"Kurapika...mari kubantu," ucapnya dengan suara yang manis.

Kurapika menghela napas. "Tidak, Killua. Kau tahu apa yang akan terjadi nanti. Kau akan menuangkan bubuk coklat ke dalam mulutmu sampai habis dan akhirnya tak secangkir pun coklat panas yang berhasil dibuat," dia berkata dengan datar.

Kuroro tersenyum tipis mendengar jawaban kekasihnya, tapi tentu saja Killua sebaliknya. Dia menggembungkan pipinya karena kesal. Kurapika pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Menatap jejak langkah Kuroro...Kurapika menapakkan kakinya di tempat yang sama. Tentu saja dia agak kesulitan karena langkah Kuroro lebih lebar.

'Langkah Kuroro...ini...langkahnya...'

Tanpa sadar pipi gadis itu merona kembali. Ya, mengikuti langkahnya...mengingatkan Kurapika bahwa dia mengikuti Kuroro menjalani hidup ini. Di hadapannya, rumah mereka...yang begitu indah, nampak laksana mimpi bahkan sebelumnya mimpi itu tak pernah dia duga akan benar-benar ada.

Jejak langkah terakhir, menuntunnya ke teras rumah yang merupakan perwujudan dari impian itu.

'Aku menemukan mimpiku karenamu...'

You've got a way it seems

You gave me faith to find my dreams

You'll never know just what that means

Can't you see... you got a way with me


"Bagaimana mereka?" tanya Kuroro ketika melihat Kurapika. Gadis itu melangkah naik ke tempat tidur mereka di mana dirinya tengah membaca buku, lalu segera berbaring. Di luar sana, serpihan salju kembali turun malam itu.

"Masih di ruang tengah," Kurapika menjawab sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Gon kelihatannya sudah sangat mengantuk...tapi Killua terlihat bersemangat sekali menunggu acara favoritnya yang akan mulai sebentar lagi."

"Oh? Acara apa itu?"

Saat ini Kuroro sudah terbiasa dengan kehadiran teman-teman Kurapika, bahkan dia menyukai mereka. Satu hal lagi—Kuroro merasa terhibur melihat Kurapika kesal setiap kali Gon dan Killua membuat ulah.

"Sudahlah...yang pasti aku harus menanyai Leorio nanti," kata Kurapika kesal sambil memejamkan matanya.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya heran, tapi kemudian dia mengerti dan sebuah seringai nampak di wajah tampannya yang putih pucat. Buku yang ada di tangannya seketika terlupakan. Kuroro ikut berbaring dan memeluk Kurapika begitu erat.

"Nghh...Kuroro!" protes Kurapika sambil meronta pelan dan membuka matanya kembali.

Kuroro mengecup keningnya. "Apakah yang akan ditonton Killua nanti...ada adegan pelukan seperti yang tengah kulakukan padamu saat ini? Atau mungkin lebih erat lagi..."

Pelukan itu menjadi lebih erat, dan Kuroro membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Kurapika, mengecup daerah itu berkali-kali. Bahkan tak lama kemudian Kurapika bisa merasakan perlakuan yang lebih di sana.

Kurapika yang semula meronta, kini mulai menyerah. Tubuhnya merasa lelah...namun dia tetap ingin menikmati sentuhan kekasihnya.

Menyadari persetujuan Kurapika yang tak terucap, Kuroro menyingkirkan segala penghalang di antara mereka. Dia berhenti sejenak untuk menatap keindahan yang berada di bawahnya. Membelai pipi Kurapika dengan lembut, dan Kurapika menggenggam tangan itu lalu mengecupnya. Kuroro dan Kurapika kembali bertatapan. Untuk kesekian kalinya, mata biru Si Gadis Kuruta menggoda mata hitam Sang Pemimpin genei Ryodan yang semula tak mampu melihat apapun selain kematian.

Kuroro menunduk, mengecup pelipis Kurapika lalu berbisik di telinganya,

"Aku menginginkanmu..."

Sentuhan Kuroro, perlakuannya yang lembut...membuat Kurapika benar-benar merasa bagaikan permata yang sangat berharga bagi pria itu. Kurapika agak tersentak ketika Kuroro melumat bibirnya namun kemudian dia membalas ciuman itu bahkan mencoba untuk melakukannya dengan intensitas yang lebih.

"Kurapika...," bisik Kuroro dengan suara tertahan karena nafsu.

'Ah...betapa bahagianya... ,' ucap Kurapika dalam hati. 'Aku merasakan cintamu...di setiap sikapmu , caramu memelukku...bahkan...saat kita bercinta seperti ini...'

Menyadari perhatian Kurapika yang terpecah, Kuroro segera menciumi wajah malaikat itu...meminta perhatiannya...sepenuhnya.

It's in the way you want me

It's in the way you hold me

The way you show me just what love's made of

It's in the way we make love

TBC


A/N :

Sudah terlalu lama ga update fic ini...rasanya sedikit aneh, hehe

Padahal tiga perempatnya sudah diketik entah sejak kapan...

Review please...^^