VII. Complicated...

.

.

Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan mudah mengacaukan hidupmu berkali-kali? Terdengar mustahil tapi itulah yang ia lakukan padaku. Pertama adalah saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkanku dan mengakhiri hubungan kami, lalu ketika sepuluh tahun kemudian ia tiba-tiba saja muncul kembali di hadapanku, mengirimiku mawar, dan datang ke kamarku, hingga kemudian ia menciumku dan sekali lagi menghilang begitu saja, tidak pernah menghubungiku lagi sama sekali.

Aku tahu bahwa aku sendiri yang telah memutuskan bahwa semua telah berakhir. Bahwa sepuluh tahun telah berlalu dan aku tidak lagi membutuhkannya. Aku tidak lagi mencintainya dan sudah tidak mengharapkan untuk bisa kembali bersamanya seperti sepuluh tahun yang lalu.

Siapa yang sedang coba kubohongi sebenarnya?

Seharusnya malam itu aku tidak terbawa suasana dan tidur dengannya. Kalau saja malam itu aku mampu mengendalikan diri, setelah ia kembali menghilang seperti saat ini, rasanya seharusnya tidak sesakit ini.

Tadinya, satu bagian kecil dari hatiku yang tersimpan paling dalam, berharap bahwa kali ini, mungkin saja, kami bisa memulai semuanya dari awal. Sekali lagi mencoba untuk saling mencintai dan tidak lagi berpisah...

Aku lupa bahwa apapun yang terjadi, baik dulu dan sekarang, jalan yang telah kami tempuh telah berbeda. Tentu saja, saat ia mengambil jalan untuk menjadi seorang aktor dan meniti karir di Tokyo tanpa mengajakku, aku sudah tahu bahwa aku tidak pernah ada dalam rencana masa depannya. Tidak saat itu, tidak sekarang. Seharusnya aku tidak berharap.

Aku tahu itu tidak benar. Aku bisa saja berkata apapun tentangnya namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa setelah sepuluh tahun berlalu pun aku masih tetap mencintainya. Bahwa setelah sekian lama kami berpisah pun, ciumannya masih sama seperti dulu. Bahwa malam-malam yang kulalui setelah ia menciumku malam itu sama menyakitkannya dengan malam-malam yang harus kulalui setelah ia pergi meninggalkanku sepuluh tahun yang lalu. Sebenarnya siapa yang aku coba untuk yakinkan? Aku tahu sejak awal bahwa aku masih mencintainya hanya saja aku menolak untuk mengakuinya karena aku tahu, mencintainya hanya akan menyakitiku saja. Dan aku benar. Kali ini, lagi-lagi, ia melukaiku.

Ia kembali menyakitiku. Setelah malam itu, ia tidak pernah lagi menghubungiku. Tidak ada lagi kiriman mawar atau kartu ucapan yang ditulis tangan, ia sama sekali tidak pernah menghubungiku lagi. Tidak ada apapun. Sama mendadaknya dengan saat ia muncul di hadapanku, ia menghilang sekali lagi.

Seharusnya aku sudah terbiasa tanpanya dan bisa melanjutkan hidupku dengan normal namun semua tidak semudah itu untuk dilakukan. Aku terlalu mencintainya dan aku tahu sudah terlambat untuk menghentikan perasaan ini.

"Dan aku sudah bilang, kau harus memastikan semua halaman sudah terpotokopi dengan benar sebelum menyajikannya di meja rapat. Apa kau tahu kau baru saja mempermalukanku?"

Aku hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir bawahku. Aku merasa sangat bersalah dan aku bisa memastikan bahwa Nara-san sangat marah padaku kali ini, lebih dari itu ia merasa kecewa padaku. Aku pun merasa kesal pada diriku sendiri karena membiarkan hal semacam ini mempengaruhi kinerjaku di kantor. Seharusnya aku bisa lebih baik dari ini dan mampu memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaanku. Biasanya aku tidak suka saat Nara-san memarahiku tapi kali ini aku merasa pantas dimarahi.

Aku bisa mendengar atasanku itu menghela napas. Aku terlalu takut untuk mengangkat wajahku dan menatap matanya. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat ini dan itu sudah cukup. Aku mendengarnya mengetuk-ngetukan jarinya yang panjang dan kuat di atas meja kayu berlapis kacanya.

"Kau harus kerja lembur malam ini," kali ini ia tidak terdengar semarah sebelumnya namun masih ada sisa-sisa kekecewaan yang terdengar dari setiap kata yang ia ucapkan, "bereskan semua kekacauan yang kau sebabkan hari ini. Aku akan meminta maaf langsung pada Direktur. Aku akan memastikan Direktur tidak memecatmu, namun bagaimana pun, kau harus bertanggung jawab."

Aku hanya bisa mengangguk sedih. Marah pada diriku sendiri dan merasa malu. Aku telah merepotkan Nara-san.

"Sekarang kembalilah bekerja!"

Aku berbalik tanpa sekalipun menatap wajahnya. Bahkan saat aku kembali ke mejaku, aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.

"Ini minumlah."

Aku menerima minuman dalam gelas kertas yang disodorkan temanku padaku. Pada saat jam makan siang aku terpaksa harus tetap bekerja untuk menyelesaikan tugasku yang menumpuk. Tenten dan Temari berbaik hati dengan membelikan secangkir kopi dan sandwich untukku. Mereka lalu menarik masing-masing kursi dan duduk menemaniku sambil mulai memakan makan siang mereka, memastikan diri mereka cukup jauh dariku sehingga tidak mengotori pekerjaanku dengan remah makan siang mereka.

"Aku rasa Nara-san menyukaimu."

Aku nyaris merobek kertas di tanganku saat tiba-tiba saja Tenten mengatakan hal tersebut. Aku mendelik ke arahnya dan menatapnya seolah dia sudah gila. Ini bukan pertama kali mereka menggodaku seperti itu tapi tetap saja aku menganggap candaan mereka ini tidak lucu. Bagaimana kalau yang lain sampai mendengarnya dan salah paham? Bagaimana kalau Nara-san sendiri yang mendengarnya dan salah paham?

"Menurutku juga begitu," kata temari yang masih mengawasiku melalui sudut matanya, menungguku mengatakan sesuatu. "Kalau kulihat, sepertinya kau mendapat perlakuan istimewa dari Shachou."

Yang benar saja, Nara-san memperlakukanku dengan istimewa? Ya tentu saja, buktinya ada setumpuk berkas laporan yang harus kuselesaikan sekarang. Aku menggelengkan kepalaku, enggan untuk mengomentari celotehan tidak masuk akal kedua rekan kerjaku itu. Mereka pun melanjutkan celotehnya meski pun aku tidak berkata apa-apa.

Tenten mendecakkan lidahnya, tidak puas dengan reaksi Sakura yang datar-datar saja, "apa kau tidak lihat ekspresi Shachou waktu kau menerima kiriman bunga tempo hari..."

Temari tertawa kecil, "hooo... Jelas sekali kalau dia cemburu. Mungkin Shacho pikir ia bisa menyembunyikannya dengan cara memberimu tugas lebih banyak untuk dikerjakan, tapi kau harus lihat ekspresinya saat itu. Aku bisa jamin, ia sangat cemburu."

"Hentikan, kalian ini!" Desisku mencoba membuat mereka berhenti cekikikan, "kalau sampai Nara-san mendengarnya, bisa kacau semuanya."

Tenten menggelengkan kepalanya. "Kasihan sekali Shachou, sepertinya butuh waktu lama untuk si bebal ini dapat menyadari perasaannya."

Wajahku berubah merah. Tentu saja bukannya aku tidak tertarik pada Nara-san. Siapa sih di perusahaan kami yang tidak diam-diam menaruh hati pada pria tampan yang berbakat itu? Usianya hanya beberapa tahun di atasku namun ia sudah dipercaya untuk jabatannya itu, kinerjanya juga selalu dipuji oleh dewan direksi. Bagi gadis-gadis di perusahaan ini, Shikamaru Nara adalah calon suami ideal.

"Shachou belakangan tampak semakin seksi," gumam Temari sambil melirik ke arah ruangan Nara-san. "Tadi pagi aku berpapasan dengannya. Aroma tubuhnya sangat segar... Ah, aku ingin dipeluk kedua lengan itu!"

Tenten terkikik mendengar temannya itu memasang wajah berkhayal, "silahkan bermimpi. Shacho merupakan bujangan paling diminati di perusahaan kita, dia bahkan masuk majalah minggu ini sebagai eksekutif muda yang tampan dan sukses, tunggu sebentar!"

Tidak lama kemudian Tenten kembali dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia menyodorkan sebuah majalah yang terbit minggu ini ke arahku.

"Halaman delapan!" Katanya masih sambil tersenyum.

Tapi aku tidak membalik halaman majalah itu. Mataku terpaku pada cover majalah itu, di mana tampak sesosok pria berambut pirang dan bermata biru yang sangat kukenal. Pria yang belakangan ini berhasil membuatku susah tidur karena selalu memikirkannya. Pria yang selama sepuluh tahun telah menjungkirbalikan kehidupanku hanya dengan satu jentikan jarinya.

'Naruto Uzumaki tertangkap basah berkencan dengan Hinata Hyuga'

Tulisan di sampul depan majalah itu dicetak dengan huruf tebal dan besar berwarna hitam dan berbayang putih, tepat di bawah foto sang aktor berambut pirang yang tampak menggandeng tangan seorang model cantik berambut panjang. Keduanya tampak sedang terburu-buru.

"Ah, berita itu," Tenten menyadari tatapan mataku yang tidak juga beranjak dari sampul depan majalah yang dibawakannya untukku, "sudah lama beredar gosip tentang mereka berdua kan? Tapi kali ini mereka digosipkan akan segera menikah."

Aku menggigit bibir bawahku selama beberapa detik, mencoba untuk mencerna kata-kata Tenten, "menikah? Naruto?"

Kali ini Temari yang menjawabnya, "ah beritanya ada di halaman empat." Temari menjelaskan, "mereka mendapati keduanya keluar dari rumah sakit universitas K. Sepertinya Hinata tengah hamil." Temari yang tidak menyadari wajahku yang berubah pucat pasi pun melanjutkan, "sebenarnya aku sedikit kesal karena satu lagi pria tampan dan seksi yang akan menikah dan menjadi ayah, tapi apa boleh buat, mereka sangat serasi."

Tenten mengangguk setuju. "Tentu saja, meskipun keduanya selalu menepis berita tentang mereka, gosip mereka berpacaran sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu saat mereka bermain di satu serial sebagai pasangan suami istri... Harus kuakui, mereka berdua kelihatan serasi sekali, ya kan?"

Tiba-tiba saja aku merasa pusing dan mual. Aku tidak percaya bahwa inilah alasan mengapa Naruto ingin agar aku melupakan apa yang terjadi malam itu. Aku telah tidur dengan pria yang telah menjadi kekasih orang lain! Tentu saja Naruto tidak akan pernah menemuiku lagi. Ia akan menjadi seorang ayah. Kami benar-benar tidak akan pernah bertemu lagi. Kali ini semuanya akan benar-benar berakhir.

Aku berdiri dan memaksakan sebuah senyuman. Aku berkata pada kedua temanku bahwa aku harus ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi aku memuntahkan semua makan siang dan sarapanku. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri.

Apa yang telah kulakukan?


Aku mencoba untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk hari itu. Sulit untuk memusatkan pikiran saat berbagaimacam pikiran memenuhi otakku. Aku masih merasa mual dan pusing namun aku memutuskan untuk tidak mengingat-ingat artikel itu lagi, meskipun sulit mengingat foto di sampul majalah itu terus menghantuiku. Wajah Naruto dan gadis berambut panjang itu terus memenuhi pikiranku.

Tidak. Aku mencoba menegur diriku sendiri. Naruto akan segera menikah. Ia akan menjadi seorang ayah, aku harus merasa berbahagia untuknya. Ia telah menemukan kehidupan yang baru, yang harus kulakukan adalah melepaskannya dengan ikhlas dan memulai kehidupan yang baru. Kami pernah saling mencintai tapi waktu sepuluh tahun ternyata terlalu lama untuk kami. Sangat wajar kalau kali ini Naruto jatuh cinta pada orang lain dan memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama orang itu.

'Sakura, menikahlah denganku..'

Tentu saja, kata-kata itu tidak ada artinya lagi. Kata-kata itu diucapkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saat itu kami masih terlalu muda dan naif, berpikir bahwa rasa cinta saja cukup untuk membangun masa depan kami. Setelah sepuluh tahun berlalu, kata-kata lamaran yang polos itu tentu saja tidak bermakna lagi. Mungkin juga Naruto sudah lupa pernah mengucapkan kata-kata itu padaku. Atau kalau pun ingat, ia tidak menganggap kata-kata itu berarti sesuatu.

Aku memijat pelipisku. Seharian bekerja menghadapi layar monitor membuatku merasa pusing. Belum lagi dengan bermacam-macam hal yang memenuhi benakku saat ini. Mataku yang lelah melihat jam digital yang ada di sudut kanan bawah layar laptopku dan berjengit saat menyadari bahwa saat ini sudah nyaris pukul sembilan malam. Sudah dua kali petugas keamanan datang untuk memastikan kapan aku akan pulang namun aku berhasil meminta waktu untuk menyelesaikan laporan yang diminta Nara-san untuk kuperbaiki. Seharusnya aku bisa menyelesaikannya dua jam yang lalu kalau saja artikel di majalah sialan itu tidak terus menerus mengganggu pikiranku.

Oke, Naruto akan segera menikah dengan seorang model cantik berdada besar. Lalu kenapa? Itu bukan urusanku lagi. Aku tidak berhak untuk mengharapkan apa-apa dari Naruto karena ia memang tidak pernah menjanjikan apa-apa padaku. Ia bahkan berkata agar aku melupakan kejadian malam itu...

"Ternyata kau belum pulang?"

Awalnya saat aku mendengar suara langkah kaki aku pikir penjaga keamanan kantor telah kembali dan mengingatkanku untuk segera meninggalkan kantor namun saat aku menoleh, aku terkejut saat ternyata Nara-san lah yang berdiri di sana. Masih mengenakan setelan abu-abunya dengan dasi yang dilonggarkan dan rambut hitamnya diikat seperti biasa. Alisnya berkerut namun ia tidak tampak marah.

"Shachou," aku baru saja mematikan laptopku, "aku sudah selesai, baru saja akan pulang. Kenapa Shachou kembali ke kantor?"

Nara-san membuka jasnya dan menyampirkannya di pundaknya, "aku diSMS petugas keamanan, katanya ada seorang pegawaiku yang menolak untuk meninggalkan kantor selepas jam kantor. Aku pikir siapa, ternyata kau." Ia menambahkan sambil menggelengkan leher, "kau tahu batas jam tambahan adalah jam delapan malam kan? Ini sudah jam sembilan lewat."

"Maafkan aku," aku buru-buru membereskan semua barang-barangku di meja dan memasukkannya ke dalam tasku. Nara-san berdiri di depan mejaku dengan sebelah tangan menyangga tubuhnya di meja dan sebelah lagi di dalam saku celananya. Ia mengawasiku tanpa mengatakan apa-apa. Wajahku memanas menyadari tatapan matanya yang masih mengawasiku.

"Sudah beres semua?"

Aku menengadahkan wajahku dan mengangguk.

Nara-san tersenyum sekilas dan berbalik sambil memberi kode agar aku mengikutinya, "ayo, aku akan mengantarkanmu pulang."

Aku terdiam selama beberapa detik, tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan bosku itu. Karena menyadari bahwa aku belum juga beranjak dari tempatku, Nara-san menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. Wajahnya terlihat tidak sabaran.

"Apa yang kau tunggu, ayo cepat. Aku tidak punya banyak waktu."

"B-baik!"

Aku masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi tapi aku buru-buru menyambar tasku dan berlari kecil ke arahnya.


Sepanjang perjalanan aku tidak bisa berkata apa-apa. Ini pertama kalinya aku berada di dalam mobil Nara-san. Aku tidak pernah mendengar bahwa Nara-san menawarkan diri untuk mengantar pulang karyawati di perusahaan kami. Pria yang duduk di sebelahku ini, yang tengah mengemudikan mobil sport import dengan wajah tenang ini, adalah salah satu pria lajang paling diminati di Tokyo, yang baru saja masuk daftar salah satu pengusaha sukses muda tertampan versi sebuah majalah, pria ini baru saja menawarkan diri, dan sedang, mengantarkanku pulang dengan mobilnya.

Aku tidak ingin berpikir terlalu jauh namun jantungku seperti menolak gagasanku untuk bersikap tenang. Aku merasa seolah benda kecil yang tengah berdegup di rongga dadaku itu akan segera melompat keluar dalam hitungan menit. Dalam hati aku berdoa agar Nara-san tidak dapat mendengar suara detak jantungku yang berisik.

Siang tadi aku telah mati-matian menolak ide teman-temanku yang kuanggap gila, bahwa Nara-san tertarik padaku namun saat ini, sulit rasanya untuk tidak memikirkan kemungkinan itu. Bagaimana pun, perlakuannya padaku saat ini bukanlah sesuatu yang biasa ia lakukan pada wanita-wanita lajang lainnya yang bekerja di perusahaan kami. Mungkinkah Nara-san benar-benar tertarik padaku?

Bahkan tanpa melihat cermin pun aku tahu saat ini wajahku bersemu merah. Aku mencoba menghapus pikiran itu dari benakku namun tidak berhasil.

"Apa yang membuatmu menghabiskan waktu begitu lama untuk mengerjakan semua tugas yang kuberikan padamu? Normalnya, seseorang bisa menyelesaikannya sebelum jam delapan malam."

Aku mengangkat wajahku dan menoleh. Sial. Dari sisi kiri, pria ini terlihat sangat tampan.

"Aku berencana mengerjakan sebagian saat jam makan siang, tapi Tenten dan Temari menggangguku," gumamku, mencoba untuk terdengar tenang.

"Ah ya, percakapan kalian saat jam makan siang tadi cukup menarik," sekilas aku bersumpah bahwa aku melihat senyum kecil menghiasi wajah Nara-san, meskipun hanya sepersekian detik saja, "suara kalian terdengar sampai ke tempatku."

Aku tertawa kecil, "itu hanya lelucon tidak lucu..."

"Oh ya? Bisa ceritakan padaku?"

Untuk sesaat aku terdiam. Aku tidak yakin bahwa menceritakan apa yang dikatakan Tenten dan Temari padaku siang tadi adalah hal yang cukup bijak. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menemukan kebohongan lain untuk menjawab pertanyaan atasanku itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Tenten dan Temari berkata bahwa, uh, mungkin anda..." aku terdiam. Sepertinya ini bukan ide yang bagus.

"Mungkin aku apa?"

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku menyesal telah memulai pembicaraan ini. Sekarang aku tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan kalimat yang telah aku mulai.

"Bahwa mungkin aku menyukaimu?"

Aku tersentak dan menoleh ke arahnya.

"A-apa? Bagaimana?"

Nara-san tersenyum. Kali ini senyumnya tetap berkembang selama beberapa detik. Suaranya terdengar tenang saat ia menjawab pertanyaanku, "mereka tidak salah."

Aku terdiam.

"Aku memang menyukaimu."

.

.

.

Author's note:

Waaaaaaaaa akhirnya aku update, sudah setahun.

Sorry lama yah :D Banyak yg harus aku kerjakan selama setahun ini dan wah gak terasa sudah setahun... haha sudah lama juga aku berkutat di fandom NS yah...