Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^

nanao yumi: Salam kenal juga Yumi-chan ^^ Mengenai alasan Ichi mendadak ereksi, bakalan dijelaskan di sini kok~ :3

Botol Pasir: Ohohoho... Welkam to mah world, bby ;) Antara rape dan ga, makanya dikatakan dub-con n bukannya non-con :) Yep. Ini M-Preg.

Aoi LawLight: Yaaap. Dan saya di sini masih mikirin soal namanya OwO

ndoek: Hmm... Kayaknya lebih bagus kalo Ichi bener2 dirape sama Hollownya ya *wooooii*

hoshichan: Hehehe, kita liat ya :)

Zanpaku nee: Muahahahaha! Tbc itu memang indah~ Selama masih terus dilanjutkan sama authornya sih =.=a

Aoi Namikaze: Hehe... Sankyuu. Pasti dilanjutkan sampai selesai kok ini :)

Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Lovely Orihime / Botol Pasir / Kazugami Saichi Hakuraichi / astia aoi


Sweet Baby Berry

Chapter 2


Tubuh yang terasa melayang membuatnya secara tidak sadar jadi bermimpi bahwa dirinya tengah berada di atas permukaan air danau yang tenang. Tidak perlu takut akan jatuh sewaktu-waktu karena bobot air yang bisa menahannya dengan pasti. Tapi, tetap lain ceritanya kalau ternyata jalan mimpinya memutuskan ia tenggelam dan tidak bisa ke permukaan lagi. Yang mana pun itu, rasanya saat ini ia tidak peduli. Yang penting ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama ini. Dan rasanya sangat nyaman. Di mana pun ia berada saat ini, ia sama sekali tidak mau terbangun.

Ia merasakan kehangatan yang lebih besar lagi dari sisi kanannya. Menginginkan kehangatan itu, Ichigo membalikkan tubuhnya dan mendekati sisi yang ia yakini menjadi sisi di mana kehangatan itu berasal. Tangannya yang bergerak meraba, mendapatkan sesuatu yang keras juga empuk di depannya, ia ingin tahu apa itu, tetapi terlalu malas untuk membuka matanya, jadi ia hanya mengikuti kontur dari benda itu dengan telapak tangannya. Kontur benda yang penuh lekukan di tempat yang tepat, rasanya halus.

Tangannya berhenti bergerak ketika mendengar suara tawa kecil yang ia yakini bukan suaranya. Hembusan angin hangat mengenai kelopak matanya, dan menggelitik bulu matanya sehingga ia berkedik. Ichigo menghela nafas pendek, dan perlahan membuka kedua matanya. Di balik penglihatannya yang masih agak buram, ia merlihat warna putih berbaur dengan warna kecoklatan dan sedikit hitam.

Ichigo mengerutkan dahi, berkali-kali ia mengerjapkan mata, dan dibuat membelalak ketika melihat dengan jelas apa yang berada tepat di hadapannya. Jantungnya berdebar sangat kencang menyadari kontur yang ia sentuh dengan permukaan telapak tangannya semenjak tadi adalah lekuk atletis dari dada seseorang. Karena bentuknya yang bidang dan tidak berlemak, ia yakin dada tersebut milik seorang pria, yang mengenakan jaket berwarna putih... dan memiliki luka yang memanjang dari pundak hingga terus ke perut.

Menelan ludah, Ichigo hafal betul dengan bekas luka yang kini dilihatnya.

Karena ialah yang memberikan luka itu.

"Heh. Cuma masalah waktu sampai kau sadar, Shinigami."

Suara itu seolah menjadi trigger bagi Ichigo untuk terlonjak bangun dan menjauh sejauh mungkin dari sosok yang tanpa ia sadari sudah ia sentuh dan ia dekap dalam tidurnya. Dalam hitungan detik, kejadian sebelum dirinya kehilangan kesadaran kembali menyerang benaknya dalam satu waktu, Ichigo mengerang karena hal itu telah mengakibatkan kepalanya mendadak berdenyut sakit. Dengusan dari lawannya membuat kedua iris coklat Ichigo menatap nanar kepada lawannya itu.

"Ba... Bagaimana bisa? Bu-Bukankah kau... Su-Sudah... Mati?" tanya Ichigo sembari memberikan pijatan pada bagian kepalanya yang sakit. Dan semakin terasa sakit ketika mencoba memikirkan kemungkinan atau alasan mengenai bagaimana Espada—mantan Espada—di hadapannya masih berada dalam keadaan utuh. Tapi, jika mencoba mengingat lagi, saat dirinya bertarung dengan Nnoitra dulu, Grimmjow memang mendadak menghilang dan tidak pernah ia lihat lagi semenjak itu.

"Yah, sama-sama. Kau tidak perlu berterima kasih." Grimmjow menjawab dengan tenang dan mengibaskan tangannya.

Mendapatkan jawaban bernada sarkasme dari Grimmjow, Ichigo menatap Arrancar bersurai itu dengan tatapan geram. Ketika ia akan membalas, barulah ia sadar kalau pada kenyataannya memang Grimmjow menolongnya. Dan kalau Grimmjow tidak menolongnya melepaskan diri dari Hollow bertentakel itu, Ichigo tidak tahu akan bagaimana dirinya sekarang ini.

Well... Ia sebenarnya tahu, hanya tidak ingin memikirkannya.

Lalu setelah ia tahu begini, akankah ia berterima kasih dengan cara yang benar?

Membenarkan posisi duduknya dengan kedua lutut yang menempel di dada dan tangan yang memeluk lutut itu, Ichigo diam, sementara keningnya masih berkerut menatap ke arah Grimmjow yang balas menatap bosan ke arahnya. Saat itulah, ia pertama kali menyadari bahwa ia masih mengenakan seragamnya, dan ia tengah berada di ruangan serba putih yang sama sekali tidak ia kenal. Mulut menganga dengan mata yang membelalak, berbagai pertanyaan langsung berkelebat liar di benaknya yang memaksa untuk dikeluarkan.

Dan dikeluarkanlah benar pertanyaan-pertanyaan itu dalam satu waktu, "Tunggu, ini di mana? Bagaimana kau bisa membawaku ke sini? Ke mana tasku? Jangan bilang kau meninggalkannya di gang itu? Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya? Kenapa tiba-tiba membawaku dalam keadaan begini ke sini?" Dan terus... Dan terus... Seolah tidak peduli pertanyaannya itu akan mendapatkan jawaban atau tidak, padahal Grimmjow yang mendengarkannya sekarang ini pun hanya mengorek kupingnya sendiri dengan menggunakan kelingking, menghela nafas, lalu merogoh sesuatu dari saku hakama putih yang dikenakannya.

"Yang paling penting, bagaimana kam—Mbph!"

Kata-kata Ichigo terputus secara tiba-tiba dan matanya membelalak tidak percaya ke arah dua iris biru terang yang berada sangat dekat dengannya.

What the fuck! What the fuck! What the fuck! What the fuck! What the fuck!

"Mmhh...!"

Kedua matanya serasa berputar ke belakang sebelum kelopak mata memutuskan untuk menutup, membiarkan kepalanya terdorong ke belakang hingga membentur headboard dengan lembut, Ichigo mendesah saat gigi-gigi Grimmjow menjepit bibir bawahnya. Nafasnya tercekat saat Grimmjow menggigit bibirnya itu, dan celah di mana mulutnya terbuka secara refleks digunakan oleh sang Espada untuk menyusupkan lidahnya masuk ke dalam. Kali ini membuat Ichigo mengerang. Kedua tangannya pun secara otomatis menggenggam kerah jaket seragam Espada Grimmjow dengan erat dan menariknya, menginginkan ciuman yang lebih dalam lagi.

Di permukaan bibirnya, bisa ia rasakan Grimmjow yang menyeringai, tapi ia tidak peduli. Ia hanya menginginkan sensasi luar biasa yang tengah ia rasakan secara lebih lagi.

Rasanya benar-benar berbeda seperti saat ia berciuman dengan Rukia. Perasaan kosong yang biasanya ia rasakan melakukannya, kini terasa menghilang. Grimmjow bisa mengisi kekosongan itu sampai Ichigo tidak ingat bahwa dirinya sempat merasakannya dahulu. Ketika lidahnya bertemu dengan lidah Grimmjow itulah saat ketika dirinya mengalungkan kedua lengannya di leher sang Espada. Jemari-jemari panjang Ichigo bergerak liar, membelai dan memijit kepala Grimmjow, sesekali ia menarik surai kebiruannya, membuat Espada nomor 6 tersebut mengerang di antara ciuman mereka.

"Mmff... Mmnh... Hmm..."

Nafas mereka yang keluar dari hidung saling beradu, sampai Ichigo menghentikan nafasnya secara tiba-tiba saat merasakan lidah Grimmjow mendorong sesuatu yang berbentuk seperti pil masuk ke dalam kerongkongannya. "Mmmn! Mmmhh!" Tangan kanan Ichigo mengepal, dan memukul-mukulkannya ke punggung Grimmjow, menyuruh sang Espada berhenti membuatnya menelan sesuatu yang tidak ia ketahui apa khasiatnya. Lidahnya yang melawan, pada akhirnya kalah hingga mau tidak mau Ichigo diharuskan menelan pil tersebut sebelum ia tersedak. Jakun Ichigo bergerak naik-turun, menandakan pil itu berhasil tertelan dengan sangat sukses dan tidak akan bisa dikeluarkan kembali.

Puas dengan hasil kerjanya, Grimmjow menjauhkan kepalanya, meninggalkan helaian saliva yang menyambungkan bibirnya dengan bibir Ichigo. Sebelum kemudian saliva itu terputus dan menetes di antara dagu sang remaja Shinigami, sementara Grimmjow menjilati bibirnya, mengagumi hasil karyanya. Wajah Ichigo yang memerah, mata yang tertutup setengahnya dan berkaca-kaca, bibir yang basah berwarna merah dan terbuka sedikit untuk mengambil nafas.

Sangat menarik.

Dan rasanya ia tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk memakan sang Shinigami pengganti. Tapi, ia diharuskan menunggu selama beberapa saat lagi jika ingin rencananya berjalan dengan sangat baik.

"Damn, Berry... Tidak kusangka rasamu sama dengan namamu."

"... Grimmjow..."

"Kau juga kelihatannya begitu menikmati. Kesepian karena tidak ada yang bisa melayanimu?" Grimmjow kembali terkekeh.

"Grimmjow..."

"Tapi dari gerakan lidahmu, bisa kurasakan itu bukan ciuman pertamamu."

"Grimmjow."

Merengut, Grimmjow melanjutkan, "Apa kau pernah bersama seseorang, Berry?"

"GRIMMJOW!"

"... Apa?"

Wajah Ichigo yang menatap ke arah Grimmjow nampak sangat gusar. Kedua alisnya menukik tajam hingga membentuk huruf v, dan sudut bibirnya turun, seolah dirinya baru saja menelan sesuatu yang menjijikkan dan membuatnya mual... atau memang begitulah kenyataannya. "Apa tadi yang kau buat aku telan?" Entah hanya perasaannya saja atau bukan, benda berbentuk pil yang ia telan barusan, masih bisa ia rasakan berada di kerongkongannya, padahal ia yakin sudah menelannya dengan baik dan kini pil tersebut berada di lambungnya. Mungkin hal itu merupakan efek dari dirinya tidak menelan pil tersebut bersamaan dengan air.

... Hanya dengan bantuan liur milik Grimmjow.

Susah payah Ichigo berusaha menahan rona merah yang hendak muncul di wajahnya akibat pikirannya sendiri barusan.

Dengan mengangkat kedua alisnya, Grimmjow menjawab dengan polos, "Mating pill." Merasa bahwa apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang umum dan biasa terjadi, dan Ichigo adalah orang bodoh karena tidak mengetahui mengenai hal itu.

"... Bisa kau ulangi?" tanya Ichigo dengan agak ragu-ragu. Ia merasa kalau barusan pendengarannya tengah bercanda padanya, tapi ada rasa di dalam hatinya yang mengatakan kalau kata yang barusan Grimmjow lontarkan sesuai dengan pendengarannya itu, dan ia tidak salah dengar. Tapi, ia tetap menolak untuk meyakininya. Karena jika memang apa yang ia dengar itu benar, maka artinya...

"... Aku tidak tahu apa telingamu memang tuli atau belum dibersihkan." Grimmjow mendengus. Tatapan membunuh yang dilontarkan Ichigo padanya sama sekali tidak ia pedulikan, "Yang barusan itu Mating Pill. Pil yang biasa diminumkan kepada beta dari kalangan laki-laki sebelum melakukan seks supaya bisa memiliki keturunan." tutur Grimmjow acuh tak acuh. Sang Espada kembali mengangkat alisnya tinggi ketika melihat wajah Ichigo yang terbelalak karena terkejut, "Apa? Memangnya manusia tidak melakukan itu?"

Ichigo membuka dan menutup mulutnya berkali-kali, ingin memberikan balasan atas apa yang dikatakan sang Espada, tapi tidak ada satu pun kata yang ia keluarkan saking kaget dan bingungnya dengan penjelasan yang diberikan.

Beta?

Keturunan?

S-s-s-s-seks...?

Entah apa karena penjelasan Girmmjow itu atau karena hal yang lainnya, Ichigo merasakan panas yang sama, yang membuatnya lengah ketika diserang Hollow beberapa waktu yang lalu, kini kembali mendatanginya. Hanya saja berbeda dengan sebelumnya. Jika saat itu kedatangan rasa panas di tubuhnya itu secara perlahan-lahan, sekarang ia merasakannya secara full force. Membuatnya merintih dan tanpa disadari merapatkan punggungnya dengan headboard yang berada tepat di belakangnya. Ia menggenggam t-shirt yang ia kenakan di balik jaket seragam sekolahnya, menahan keinginan untuk meraih miliknya yang mulai terasa mengeras kembali.

Menyadari kondisi yang tengah dialami oleh Ichigo, Grimmjow membiarkan seringai lebar kembali menghiasi wajahnya. Dengan tenang, dan tidak menunjukkan kalau sebenarnya ia pun berada dalam kondisi yang serupa, Grimmjow merangkak mendekati Ichigo. "Kelihatannya kau tidak mengerti mengenai kondisimu sendiri, Ichi." Grimmjow berkata dengan nafas yang berhembus mengenai telinga Ichigo, membuat sang remaja mengerang pelan, "Sekarang ini musim kawin sedang melanda para Hollow, hal itulah yang membuat Hollow tadi menyerangmu seperti itu. Kau yang memiliki darah Hollow, bisa dipastikan pun terkena efeknya. Dan dari bau tubuhmu, aku bisa tahu kalau kau adalah beta." Mengatakan ini, Grimmjow mendekatkan bibir dan hidungnya di leher ramping Ichigo dan menarik nafas seperti mengendus. Getaran yang terjadi pada tubuh Ichigo membuat Grimmjow bersenandung senang.

"Beta adalah sebutan dari mereka yang ditakdirkan untuk menjadi submisif. Setiap beta diharuskan memiliki Alpha, yang mendominasi, atau ia akan bisa merasakan stress karena terus merasakan ada sesuatu yang kurang di dalam dirinya. Dan akan terus-menerus harus menjalani masa heat yang menyakitkan."

Dengan sentuhan yang ringan dan menggelitik, Grimmjow menyusupkan lengannya ke balik t-shirt Ichigo, memberikan cubitan pelan pada pucuk dada sang remaja yang nafasnya sudah sangat memburu itu.

"Aaahh! G-Grimm..."

Grimmjow tertawa kecil, "Berterima kasihlah karena aku memutuskan akan menjadi Alpha bagimu, Ichigo."


TBC


Yap. Semakin banyak yang mereview, semakin cepat saya update :)