Rauto: Hai minna san~ Apa kabarnya, desu wa? Semoga semuanya sehat-sehat ohok-tidak seperti saya-ohok yang langganan obat karena sakit-sakitan. Oh, maaf, jadi cerita masalah pribadi. Uhm, karya lainnya belum kelar, eh, sudah membuat karya yang baru lagi, pukul saja saya (dipukul beneran). Sebenarnya juga sudah lama ingin mencoba karena terinspirasi karya senpai saya di , dan juga karena Noir baru belajar tema ini di sekolahnya, jadi tidak ada salahnya mencoba, kufufufu (tertawa ngak jelas).

Noir: Yay, karena ada game dan pelajarannya juga aku jadi tambah bersemangat membuat cerita ini, tapi maaf bagi para pembaca yang kurang 'ngeh' sama cerita tentang fantasi yunani kuno, ya, karena memang materi yunani kuno memang sangat rumit, karena bingung pilih fandom mana, akhirnya kami memilih fandom sepi ini (dihajar para fans MFBeyblade Indonesia). Dari pada berlama, ini dia~

Title: INVERTED CROSS

Mode: Multichapter

Chara(s): Ginga Hagane and others.

Disclaimer: Takafumi Adachi (this story is ours).

WARNING(s): MISSTYPO BEREDAR & OOC.

.

.

.

.

INVERTED CROSS

Chapter 1: Rebirth Of Babylonia

.

.

By Rauto n Noir (Sakigane)

.

.

.

"Hei, kau tahu Babylonia?"

"Tahu, tahu! Itu kan', negara kuno pada zaman abad ke 23 sebelum masehi? Aku ada baca sedikit dari pelajaran di sekolahku. Memangnya ada apa dengan Babylonia?"

"Tadi aku bertemu dengan peramal aneh, dia bilang Babylonia yang sesungguhnya akan bangkit di zaman sekarang, kau percaya, tidak?"

"Ah, itu tidak mungkin. Sejak Hammurabi tiada, Babylonia itu sudah mati. Lagipula di zaman modern seperti ini masih membahas seperti itu, ada-ada saja, ahahahaha!"

"Benar juga, ya. Bodoh sekali aku mempercayai peramal tadi, sekarang sih, zamannya pop, ya!"

"Iya, tentu saja. Ahahahaha!"

.

.

.

"Dasar manusia zaman sekarang memang munafik, sungguh memuakan. Yang mereka lihat hanyalah kebahagiaan di dunia ini saja, hanya melihat dan menikmati saja, hanya bisa berkomentar dan mengkritik saja. Aku…aku tidak bisa memaafkan manusia untuk sekarang, tidak akan kumaafkan, lihat saja! Tinggal beberapa saat lagi sampai Babylonia yang sesungguhnya bangkit, maka kalian semua akan tahu rasa! Kalian akan tahu…"

"SIAPA YANG SESUNGGUHNYA BERKUASA DI DUNIA INI!"

.

.

.

Metal Bey City

.

.

.

"3"

"2"

"1"

"GO SHOOOOTT!"

TRAK! TRAK!

"Ayo! Maju Pegasis!" seru salah satu dari bladers yang ada di suatu toko beyblade yang ada di kota itu. Tak terasa, pagi yang cerah ini langsung disambut go shoot dari sana-sini. Wajar saja, namanya juga kota bey, pastinya dipenuhi oleh bladers tangguh yang bersemangat latihan meski di pagi hari sekalipun. "Kali ini aku tidak akan mengalah padamu, Ginga! Serang dia ,Sagitario!" teriak lawan main Ginga yang berpostur tubuh kecil juga tidak mau kalah.

"Hehehe, sepertinya kau ada kemajuan, ya, Kenta" bisik anak berambut jabrik merah dengan headband itu. Seperti yang tadi diserukan lawan mainnya, dia akrab dipanggil Ginga. Kalau menyebut nama itu, hampir semua bladers di dunia ini langsung angkat tangan dan menjawab "Bladers terkuat di dunia ini!"

"Tentu saja, latihanku dengan Ryuga tidak akan sia-sia! Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu, Ginga!" balas Kenta menunjuk lawan mainnya mentah-mentah, disambut senyum simpul dari Ginga sendiri. Sementara seorang wanita tengah duduk santai memperhatikan pertandingan kedua sahabat baiknya itu memiringkan kepalanya sejenak.

"Kalian ini, padahal hari masih pagi. Kenapa semangat sekali?" tanya gadis bergoogles di rambutnya itu. Ginga dan Kenta tidak memalingkan pandangan mereka dari beyblade patner masing-masing, tetap berkonsentrasi pada gesekan-gesekan keduanya entah yang keberapa kali untuk pagi ini.

"Tentu saja, semakin berlatih akan semakin kuat, kan?" tanya Ginga balik tapi terdengar jauh lebih menantang. "Iya, Madoka ini masih saja bertanya seperti itu" sambung Kenta semakin menyipit matanya memerhatikan baik-baik serangan pegasis berikutnya.

"Heh, iya, sih. Tapi tidak sampai pagi-pagi seperti ini, dong" sahut Madoka tidak mau kalah dari kedua lelaki itu. Ya, sejak dunia kembali damai dari ancaman beyblade gelap, Ginga kembali ke kehidupan biasanya. Anak tunggal Hagane ini sudah mengalahkan L Drago dan melepas Ryuga dari kegelapan, membantu Masamune untuk menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Zeo dan Toby, juga sudah berhasil mengalahkan Rago dengan bantuan para beybladers legenda di dunia ini. Ginga kembali pada kehidupan normalnya.

Tidak ada pertarungan dengan musuh yang menyebalkan lagi, tidak bertemu dengan wajah-wajah baru lagi, semuanya sudah kembali seperti semula. Sejak saat itu, Kyoya dan Benkei pergi mengembara sebagai anak punk yang terkadang menolong rakyat lainnya yang tertangkap berandalan jahat di sekitar kota. Yuu dan Titi ngotot ingin mengikuti Tsubasa karena penasaran dengan tempat tinggal pria silver itu. Ryuga tinggal di sebuah mansion bersama Kenta, walau pertamanya Ryuga menentang, entah karena kekuatan apa Kenta berhasil mengundang simpati dari Ryuga.

Lalu Masamune kembali ke America bersama kedua sahabatnya, Zeo dan Toby. Yuki Mizusawa kembali ke tempat tinggalnya, berusaha meneliti lebih dalam tentang beyblade legendaris. King, Chris, dan bladers legendaris lainnya juga kembali ke tempat asal mereka dan kembali berlatih sekuat tenaga, berjanji suatu saat akan menantang Ginga kembali. Tim Whang Zhu Chong dan Exalibur juga sering-sering menghubungi Ginga lewat kantor ayahnya, Ryusei Hagane. Semuanya benar-benar kembali damai.

"Ginga, temani aku belanja, dong. Kan sudah lama kita tidak jalan ke pusat perbelanjaan" mohon Madoka dengan pandangan berbinar begitu Pegasis berhasil melempar Sagitario keluar arena. Kenta hanya memandang lesuh Sagitarionya, bukan karena kecewa pada sang patner, tapi kecewa karena kalah lagi dari Ginga.

"Eh? Pusat perbelanjaan? Boleh saja" setuju Ginga mengangguk kecil. Madoka puas mendengarnya, tak lupa Ia juga mengajak teman lelaki satunya lagi "Kenta juga ikut, ya" pintahnya.

"Kalau Ginga ikut, aku juga ikut!" seru Kenta mengacungkan jempolnya semangat. Akhirnya setelah beres-beres sejenak, ketiga insan itu pun melangkahkan kakinya ke pusat perbelanjaan yang populer di kota itu.

.

.

"Lihat itu 'kan, Ginga Hagane! Ayo kita ajak bertanding!" "Hagane-san, aku ingin bertanya banyak hal padamu!" "Ginga-san, bagaimana caranya agar menjadi beyblader yang tidak terkalahkan? Beritahu kami!" "Ginga!" "Ginga!"

"Ah, maaf, aku ingin pergi …" anak berambut merah ini memang selalu kewalahan menghadapi anak-anak sekitar perkotahan yang begitu antusias padanya, tentu saja nama Ginga Hagane begitu mendunia, atau bisa dibilang pahlawan baru dalam dunia beyblade. Bagi penduduk setempat pun mengenal Ginga sebagai orang yang baik hati dan ceria, Kenta dan Madoka juga tidak menyesali kepopuleran temannya, atau bahkan sangat bahagia dengan apa yang menjadi milik sahabat baiknya itu.

"Ginga, ayo cepat!" seru Madoka berusaha menarik Ginga dari kerumunan penggemar Ginga yang rata-rata masih dibawah umur itu. "Sa-sabar Madoka" jawab Ginga juga sedang berusaha, Kenta yang melihat mereka hanya bisa menyunggingkan senyuman miris. "Berjuang, ya, Ginga…"

.

.

.

Mall

.

.

.

"Ginga, baju ini cocok untukku, tidak?" tanya Madoka yang baru keluar dari ruang ganti di salah satu toko baju. Sebenarnya dari tadi Ginga dan Kenta sudah tidak sabar bermain ke Game Corner yang ada di Mall itu, tapi Madoka berpikir lain. Mau tidak mau, Ginga harus mengikuti keinginan gadis bermata shappire itu sampai nantinya Ia dan Kenta bisa pergi ke tempat tujuan mereka.

"Cocok, cocok" komentar Ginga meletakan pergelangan tangannya di pinggang sembari melihat-lihat seksama fisik Madoka. Ia memakai terusan merah muda dengan penuh renda-renda juga banyak kancing bewarna-warni yang menghiasi pinggiran terusan itu, disertai pose yang begitu kontras dari pemakainya.

"Benarkah? Kalau begitu aku ingin membeli baju ini!" seru Madoka kembali berlalu, meninggalkan Ginga dan Kenta yang berdiri di dekat pintu toko. "Madoka cocok sekali dengan baju itu" guman Kenta terkesima dengan Madoka tadi. Ginga mengangguk menyetujui apa maksud Kenta.

"Iya. Ngomong-ngomong apa Ryuga…Masih jahat padamu?" tanya Ginga dengan suara pelan takut menyakiti perasaan anak berambut kehijauan itu. Kenta memiringkan kepalanya sejenak lalu tersenyum ceria.

"Tenang saja, dia pasti akan kujinakan!" ujar Kenta mengacungkan jempolnya. Tadinya Ginga sempat khawatir kalau-kalau anak tak berdosa macam Kenta harus tinggal satu atap dengan naga ganas –Ryuga itu. Tapi kelihatannya Kenta itu layaknya benda tahan banting, Ia sudah tahan dengan semua perlakuan kasar Ryuga padanya, atau bahkan Ryuga yang perlahan-lahan melunak padanya.

"D-Dijinakan? Ya, aku harap Ryuga bisa mengerti kamu" sambung Ginga menggaruk-garuk kepalanya dengan jawaban Kenta yang terbilang tidak mengandung rasa takut sama sekali dengan anak berambut keperakan itu. "Hump, pasti!" jawab Kenta kemudian. Dilihat lagi Madoka yang baru selesai mengganti pakaiannya langsung mengantri, rupanya toko ini cukup populer sampai banyak pelanggan di jam sekian.

"Hei, daripada memikirkan peramal tadi, lebih baik kita belanja di toko ini saja. Lihat, semuanya cantik dan murah, impor, lho"

"Benar, peramal yang aneh, zaman sekarang masih membahas yang seperti itu. Bodohnya, ahahahaha"

Entah karena apa, kedua telinga Ginga jadi menangkap pembicaraan kedua gadis yang baru saja memasuki toko yang tengah didatangi mereka. Tidak hanya Ginga, bahkan Kenta juga, keduanya pun saling bertukar tatap untuk memastikan. "Kau dengar perkataan dua perempuan tadi, Ginga?" bisik Kenta takut kalau pembicaraannya terdengar.

"Iya, apa maksud mereka, ya? Peramal katanya?" jawab Ginga menundukan tubuhnya agar kata-katanya bisa terdengar Kenta dengan jelas tanpa diketahui lainnya. "Ternyata di mall seperti ini ada peramal juga, ya. Aku juga penasaran, sih, jadi mau dicoba?"

"Coba apanya? Maksudmu mencari peramal yang dikatakan mereka tadi? Aku, sih, mau. Tapi Madoka pasti maunya pergi ke toko pakaian lainnya" keluh Ginga kemudian sedikit cemberut. "Iya juga ya –" "Ada apa kalian bisik-bisik begitu?"

Ginga dan Kenta langsung terperanjat begitu mendapati Madoka yang sudah ada di depan mereka memandang heran keduanya yang sedari tadi begitu serius. "Bu-bukan apa-apa, kok, Madoka!" seru Ginga mengada-ngada kedua tangannya bersamaan dengan Kenta. "Kalau begitu, ayo kita ke Game Corner. Daritadi kalian mau kesana, kan?"

"Eh, iya juga, ya. Ayo Kita kesana sekarang!"

.

.

.

Game Corner

.

.

.

"AYO! TERUS PUKUL DISANA! TI-TIDAK BUKAN KE KIRI!"

"GYAA! PENJAHATNYA SEREM BANGET!"

Seperti yang tadi mereka rencanakan, ketiganya pun mampir ke Game Corner, Ginga dan Kenta langsung saja melayang-layang menuju loket pembelian koin tidak sabar untuk menikmati keasyikan sementara di tempat berkelap-kelip itu. Madoka duduk di salah satu kursi yang dipahat berbentuk bebek, melihat Ginga dan Kenta bermain game tembak-tembakan berdua.

"YA! HAJAR! HAJAR! KENTA SERANG LENGAN SEBELAH KIRI!"

"I-IYA, INI AKU JUGA BERUSAHA!"

"Serunya…" guman Madoka begitu melihat keseriusan Ginga dan Kenta pada game itu sama layaknya keseriusan mereka saat bertanding bey. Memang masa-masa seperti ini sempat dirinduhkan mereka karena dulunya mereka selalu kewalahan dengan musuh-musuh di dunia ini yang tidak ada habis-habisnya. Tapi kalau dipikir-pikir Madoka, hanya bertiga rasanya jadi sepi sekali.

"Peramal tadi mengatakan sesuatu yang aneh, dasar anak indigo…"

"Iya, aku tidak percaya, ah"

"Eh?" Madoka memalingkan mukanya begitu menangkap percakapan dari beberapa orang yang berlalu lalang. Aneh, padahal suasana begitu bising dan kondisi sangat ramai, tapi hanya percakapan tadi yang mengundang ketertarikan Madoka. "Peramal? Aneh?"

"Aku jadi penasaran …"

.

.

.

"Phuah, aku puas! Tadi berhasil memenangkan beberapa point, yuhu!" sorak Ginga begitu mereka keluar dari game corner setelah bermain cukup lama, sekitar dua jam lebih. Kenta menarik senyuman kecil dan mengangguk. "Iya, sangat menyenangkan!"

"Ehm, Ginga, aku ingin bertanya sesuatu" sangkal Madoka tiba-tiba ditengah jalan mereka entah kemana tujuannya sekarang. "Boleh, kau ingin bertanya apa?" balas Ginga menarik senyuman ceria.

"Tadi aku sempat mendengar percakapan orang lain, katanya ada peramal aneh di Mall ini. Aku… Jadi penasaran" ujar Madoka mengada sebelah tangannya. Ginga dan Kenta yang menanggapi pertanyaan itu langsung memiringkan kepala bersamaan.

"Eh? Yang benar? Tadi kami juga sempat mendengar percakapan dari pelanggan di toko baju, mereka juga bilang tentang peramal aneh" potong Kenta memasang tampang curiga dan mengetuk kedua telunjuk jarinya. "Hm, bagaimana kalau kita coba mencarinya, habis itu kita makan siang di BurgerPop!" saran Ginga mengangkat kedua kepalan tangannya bersemangat.

"Ide bagus, aku jadi penasaran. Sebelumnya aku tidak pernah berhubungan dengan hal berbau mistis seperti itu…" timpal Madoka memandang langit-langit pusat perbelanjaan yang tinggi itu "…Tapi yang membuatku heran, kenapa mereka bilang peramal itu aneh, memang apa yang dikatakannya pada semua orang itu sama?"

"Iya, ya, tadi kami juga mendengar kalau peramal itu mengatakan sesuatu yang aneh atau sepertinya mengatakan sesuatu yang tidak bisa dimengerti orang zaman sekarang" sambung Ginga berusaha meneliti maksud perkataan orang lain, sedikitnya dia baru kali ini merasakan rasa penasaran yang berlebih-lebih.

"Kita coba tanyakan petugas disini saja" usul Kenta kemudian menghampiri salah satu petugas informasi yang kebetulan berjalan di dekat mereka. "Permisi~"

"Entah kenapa, kok aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakan, ya" guman Ginga mengelus pelan permukaan dadanya sembari berjalan mengikuti petunjuk yang di dapan Kenta dari informan tadi. "Semoga saja bukan apa-apa…"

.

.

.

"Jadi ini, ya? Tempat peramal yang menjadi gosip hampir semua penghuni mall…" guman Madoka begitu mereka bertiga tiba di depan sebuah rumah ramal di salah satu toko pusat perbelanjaan itu. Yang membuat mereka bertiga merinding adalah, karena toko ini terletak di sudut ruangan yang penerangannya tidak seberapa dari bagian lainnya di Mall itu, belum lagi suasana sekitarnya sangat sepi berbeda dengan suasana bagian lainnya yang begitu padat dan ramai. "Kok sepi sekali, ya? Sekitar sini, memangnya tidak ada toko lain?" sambung Ginga melihat kiri kanan yang hanya ada satu dua orang lewat saja.

"Hm, lihat! Ada pengunjung yang keluar dari toko ramal itu!" seru Kenta menunjuk tiga sekawan yang baru keluar dari rumah ramal itu. Sepertinya ketiga orang itu sedikit terbahak-bahak dan membahas apa yang tadi dikatakan peramal itu.

"Dasar peramal yang aneh, dia bilang nanti aku akan mati karena gempa? Jangan konyol, lelucon macam apa ini"

"Belum lagi katanya kiamat ras manusia sudah dekat, apa yang dipikirkannya, sih, di zaman modern seperti ini, jangan percaya padanya, deh"

"Peramal palsu, bagaimana kalau nanti kita laporkan saja pada petugas rumah sakit jiwa nanti, hm?"

"Hahahaha, boleh juga"

"Bercanda mereka keterlaluan" komentar Madoka sedikit illfeel pada ucapan ketiga orang yang sudah berlalu tadi. Ginga dan Kenta bertukar pandang dulu "Jadi, mau masuk sekarang?" tanya Ginga kemudian. Madoka dan Kenta pun mengangguk dengan pandangan serius.

KRIETT

"Permisi" ujar Ginga begitu Madoka menggeserkan pintu masuk, dan mendapati seorang yang tidak jelas tampangnya karena tertutup juba hitam, mungkin sebagai penambah imej seorang peramal yang misterius. Kenta meneguk ludah merasakan aura yang mencekam di sekitar ruangan, semuanya gelap dan hanya bergantung pada cahaya sebuah bola ramal seperti yang biasanya ada di acara televisi.

"Silahkan masuk, ada yang ingin diramal, heh?" tanya sang peramal, Ginga dan Madoka pun duduk bersebelahan di depan peramal itu, sedangkan Kenta merasa curiga dan masih berdiri di dekat pintu keluar. "Suaranya tidak terdengar seperti suara asli…" guman Kenta dalam hatinya, belum lagi Ia penasaran seperti apa wajah peramal yang dikatakan aneh itu.

"Anu, kami ingin di ramalkan tentang masa depan kami, ya, masa depan!" ujar Madoka asal-asalan tidak peduli bagaimana nanti hasilnya, yang jelas Ia ingin membuktikan keanehan peramal ini seperti yang dikatakan orang lain. "Masa depan, ya. Baiklah …" dengan itu sang peramal mulai mengerjakan tugasnya selaku peramal atau orang yang percaya pada hal mistis. Ginga dan Madoka menatap serius peramal itu, walau sebelumnya mereka merasa aneh pada diri mereka sendiri.

"Kenapa aku bisa sampai ke tempat seperti ini, ya" bisik Ginga dalam hatinya masih bertanya-tanya kenapa bladers hebat macam dirinya berkunjung ke tempat seperti ini. Tapi biarlah, toh untuk menghapus rasa penasaran juga. "Percuma saja kalian membicarakan masa depan …" ucap peramal itu kemudian, Ginga dan Madoka yang tidak tangkap dengan perkataan itu saling bertukar pandang. Kenta yang juga mendengar itu pun membulatkan kedua bola matanya seketika.

"Ma-maksudnya?" tanya Ginga memberanikan diri, peramal itu hanya tertunduk seperti orang pasrah "Percuma kalian membahas masa depan kalau nantinya kalian semua akan dimusnahkan oleh bangsa akhir zaman"

"A-akhir zaman? A-apa maksudnya?" tanya Kenta turun tangan dengan pembicaraan mereka. Peramal itu kembali mengangkat kepala walau kedua bola matanya masih tertutup juba hitam yang dikenakannya. Padahal Ginga dan lainnya sudah tahu, bahwa bencana dunia itu sudah tidak ada, semua fenomena dunia yang disebabkan oleh beyblade gelap sudah dimusnahkan, tapi apa nyatanya sekarang …

"Kalian tahu Babylonia? Kota yang sempat berjaya di dunia ini…" belum selesai peramal itu melanjutkannya, Madoka langsung mengangkat kepala dengan pandangan terkejut "Babylonia? Itu kan kota perabadan Yunani kuno yang sudah lama gugur!" seru Madoka mantap dengan apa yang dikatakannya. "Tepat" jawab peramal itu mengaku kebenaran Madoka.

"La-lalu apa hubungannya dengan itu?" tanya Ginga penasaran. Memang masalah dunia ini masih berkaitan kuat dengan masa lalu dimana dunia ini masih dalam proses sebelum kemerdekaan, Ginga tahu itu dari Dunamis beserta lainnya, dulunya dunia ini memang zamannya peperangan. Tapi kalau sudah damai, apa masalah yang baru akan datang? Ginga yang mulai paham dengan pokok pembicaraan ini pun memasang kedua telinganya serius mendengarkan, siapa tahu ini menjadi kasus baru baginya.

"Babylonia tidak mati, dan Babylonia yang sesungguhnya akan bangkit sebentar lagi sebagimana bukti akhir zaman umat manusia sekarang, kalian tahu, dewa-dewi dunia ini akan kembali bangkit dari tidurnya…" penjelasan sang peramal yang semakin tidak masuk akal pun membuat Kenta menautkan alisnya. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu, apa buktinya?" sahut Kenta berusaha memastikan. Ginga dan Madoka menengok sekilas Kenta yang masih memasang raut wajah serius, lalu kembali pada peramal itu.

"Pegasis dan Sagitario milik kalian…" perkataan peramal itu membuat Ginga dan Kenta terkejut, bagaimana dia bisa tahu nama beyblade mereka "…memiliki dewa, kan?" lanjutnya. Ginga dan Kenta yang masih tidak percaya hanya mengangguk pelan. "Kenapa kau bisa tahu?"

"Itu sudah jelas dia kan peramal, dasar baka!" omel Madoka menjitak pelan kepala Ginga. "Oh, iya, ya" balas Ginga kemudian nyengir-nyengir karena sempat lupa dengan profesi orang yang ada di hadapannya itu. "Dunia ini sulit ditebak, bahkan mainan seperti beyblade pun menyimpan dewa di dalamnya. Karena banyak dewa yang keluar dan bertarung, itu memicuh bangunnya dewa-dewi lain yang lebih besar, lebih daripada dewa dalam beyblade kalian" jelasnya dengan nada datar.

"Sou ka, tapi kami baru tahu ada yang seperti itu, lalu apa benar bumi akan hancur?" tanya Madoka sedikitnya kuatir dengan topik pembicaraan mereka sekarang. Ya atau bukan, kali ini masalah benar-benar berkaitan dengan beyblade yang merupakan dunia Ginga selama ini. "Pada awalnya, dewa dan dewi adalah pengikut para malaikat yang turun ke dunia ini, dan yang memiliki beyblade seperti itu hanyalah reinkarnasi atau titisan malaikat…" jelasnya sedikit menyimpulkan senyuman manis. Ginga dan kenta kembali bertukar pandang "Ta-tadi kau bilang beyblade kami punya dewa, kan? kalau begitu kami ini –"

"Ya, kalian salah satu titisan malaikat. Aku heran kenapa kalian sampai tidak menyadari ini tapi itulah kenyataannya. Kalian bertarung dengan beyblade selama ini, hanya memicuh bangkitnya dewa-dewi, hanya perlu menunggu waktu sampai akhirnya semua dewa-dewi muncul kembali ke dunia, maka mereka akan memusnahkan manusia yang selama ini bersikap congkak pada kaum dewa-dewi" jelasnya lalu terdiam sesaat, kembali mengamati bola ramal kesayangannya.

"Gi-ginga, apa yang dikatakannya benar?" tanya Madoka dengan raut khawatir, Ginga menggeleng pelan "Aku tidak tahu" jawab Ginga singkat dan memejamkan matanya. "Tapi kalau memang seperti itu, bagaimana caranya kita tahu dewa-dewi akan bangkit? Bukannya ayah Ginga sudah bilang kalau keseimbangan dunia ini kembali damai dan tidak ada fenomena alam mencurigakan?" sambung Kenta mengetuk dagunya dengan telunjuk miliknya.

"Ayahmu, Ryusei, tidak akan bisa melacak keberadaan dewa-dewi hanya dengan mesin komputer, tapi butuh nyali yang kuat dan memekahkan kelima indera manusia" pernyataan itu kembali membuat Ginga dan lainnya saling tatap tidak percaya "D-dia sampai tahu nama ayahku" bisik Ginga tidak percaya. "Tapi kalau secara fisik, maka kalian pasti bisa merasakannya, fenome alam setiap satu dewa atau dewi yang bangkit" lanjutnya kemudian, menghentikan sinaran dari bola Kristal miliknya.

"Semoga kalian bisa menyelamatkan dunia ini, karena dewa-dewi akan membangkitkan para ras manusia homosapien menggantikan ras kalian sekarang" sambung sang peramal lalu bersandar di kursi besar yang didudukinya sekarang.

"Homo sapiens? I-itu kan ras manusia yang satu-satunya bisa bertahan di genus Homo, manusia yang pertama kali bisa berjalan dengan dua kaki, walau masih belum tegak seperti manusia zaman sekarang" terang Madoka kemudian mengacung-acungkan telunjuknya tepat di depan peramal itu.

"Ya, manusia yang terdengar sangat cerdas dan bijaksana, dewa-dewi ingin dunia ini diisi oleh manusia seperti itu dibandingkan manusia kebanyakan sekarang ini. Mungkin hanya ini, yang bisa kukatakan…" akhirnya peramal itu menunduk dengan sopan pada mereka bertiga yang masih bingung. "Berhati-hatilah"

.

.

.

.

"Walau berat mengatakannya, tapi peramal tadi memang sangat aneh, kenapa dia bisa berkata seperti itu, ya?" guman Madoka ketika mereka menetap di sebuah rumah makan yang cukup populer untuk makan siang. "Iya, aku menyesal mengakui ini, tapi sedikitnya aku cemas dengan apa yang dikatakannya, apa ini kasus baru?" tanya Kenta melirik Ginga yang melahap burger besar langsung tersedak karena ditanya tiba-tiba seperti itu.

"Uhuk, uhuk! A-air beri aku air!" "Pertolongan datang!" seru Madoka langsung menyodorkan minuman yang di pesan Ginga tadi. "Ma-maaf…" sahut Kenta sweatdrop melihat Ginga meneguk minumannya sampai sakit menyeruak di tenggorokannya redah. "Hiuh, kasus baru, hm? Mungkin saja, kalau seperti ini, nanti coba tanyakan pada ayah saja" usul Ginga kembali tersenyum, seakan sedakan tadi bukan apa-apa baginya.

"Dia bilang kalau tanda-tanda dewa-dewi muncul itu fenomena alam, kan? Apa maksudnya bencana seperti tsunami atau tanah longsor?" tanya Madoka kemudian meletakan kepalanya di meja makan yang ditempati mereka. "Tapi masa iya, Babylonia yang sudah lama musnah itu akan bangkit lagi, dan soal ras homosapiens, aku semakin tidak mengerti!" teriak Kenta setengah frustasi.

"Iya, sulit untuk dipahami juga" sahut Ginga lalu meletakan minumannya di meja makan. Tadinya tidak begitu di perhatikan, tapi Ginga membulatkan matanya begitu air dalam gelas minumannya bergetar "Ge-gempa!" seru Ginga beserta lainnya yang ikut panik, padahal baru dibicarakan tadi.

Gempa semakin terasa, lampu-lampu ruangan berguncangan, tembok-tembok bangunan perlahan retak, dan semua manusia yang mengisi mall itu langsung panik, berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa mereka yang hanya satu itu. "Kenta, Madoka, ayo kita lari!" seru Ginga menarik lengan kedua temannya langsung berlari mencari jalan keluar terdekat. Dilihatnya kiri kanan, desakan orang lainnya semakin menghambat jalan mereka.

Tiba-tiba sepasang bola mata Ginga tertuju pada seorang yang berpakaian serba hitam, tak salah lagi, itu adalah peramal yang tadi, Ia melambai-lambai pada Ginga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tidak banyak bicara, Ginga langsung berlari ke arah peramal itu "Lewat sini" bisiknya lalu mengeluarkan launcher juga sebuah beyblade "GO SHOOOTT!"

"Kau bladers!" seru Kenta terkejut begitu beyblade milik orang misterius itu berhasil merobohkan pintu yang tadi terkunci rapat. "Pergilah" lanjutnya lagi tersenyum simpul, Ginga yang baru ingin bergerak langsung tertahan "Tunggu! Kau juga harus keluar, disini berbahaya!" ajak Madoka mengulurkan tangannya, tapi peramal itu menangkap kembali bey miliknya dan menggeleng "Masih ada yang harus kulakukan disini, pergilah sebelum kalian mati" jawabnya datar seakan gempa ini ringan-ringan saja baginya.

"Berjanjilah kau tidak akan mati dan kembali menemui kami!" teriak Ginga berusaha memastikan, peramal itu tersenyum dan mengangguk pelan "Aku berjanji" jawabnya, dengan itu Ginga dan lainnya pun berlari dan berhasil keluar dari pusat perbelanjaan yang hampir runtuh itu. Dengan sekuat tenaga mereka berlari mencari tempat yang aman agar terhindar dari reruntuhan bangunan. "Hah…hah…ki-kita selamat…" tukas Kenta berusaha mengatur nafasnya, menatap Mall yang hampir roboh itu.

"Tapi kenapa…" belum sempat Ginga selesai bicara, Ia jadi terngiang perkataan sang peramal tadi. Ia mengelus pelan dadanya berusaha mengatur nafasnya yang berantakan, membulatkan matanya tidak percaya…

Kalau secara fisik, maka kalian pasti bisa merasakannya, fenome alam setiap satu dewa atau dewi yang bangkit

Babylonia yang sesungguhakan bangkit untuk mengakhiri zaman dunia

.

.

.

.

TO BE CONTINUED!

.

.

.

.

Rauto: Moshi-moshi, ore wa Rauto desu~ Nah, ini dia chapter pertama untuk fiction Inverted Cross. Karena saya membuatnya dalam kondisi yang mengenaskan(?) alur ini jadinya bagaimana? Apa berkesan buru-buru? Mohon beri pendapat kalian lewat review, ya. Saran dan kritik pastinya diterima, tapi tolong jangan nge-FLAME, ya, saya disini author baik-baik, kok (bohong). Dan tak lupa juga, saya membuat fic ini tidak sendirian, tapi barengan ore wa imouto-san, Noir XD

Noir: Nee, jangan panggil begitu. Ya, pokonya begini hasil collab kami, apa kualitas fanfic kami menurun, atau memburuk? Ya, maklumi saja, ya, kalau ada yang jelek atau kurang memuaskan, nantinya akan kami perbaiki. Iseng-iseng saja mencoba fic berkriteria yunani kuno, semoga semuanya suka ^_^

R

E

V

I

E

W