Kyaaaa

Maaf dengan ketidaknyamanan reader karena mempublish ulang fic ini. Itu karena fic nya beberapa jam setelah publish, tiba-tiba gabisa dibuka. Notifnya,

'Story not found : Unable to locate story with id of 7791973'

Ada yang tahu kenapa?

TERIMAKASIH sekali buat yang sudah sempat baca/review/alert/fav. Aku senang sekali dapat feedback. Balasan review selengkapnya, nanti di chapter 2.

Dark ANgel, Fiyui Chan, embun pagi, Icha Yukina Clyne, Rievectha Herbst, Hikari Meiko Eunjo, Ruru, Kikyo Fujikazu, salam kenal juga.

Katanya gabisa dibuka, ko tau siapa2 yg mereview? Itu karena aku liat di kotak email. -untunglah-


Chapter 1 : The Truth

MY ONLY TEMPTATION IS UCHIHA

I only own a couple naruto DVDs. I dont own Naruto. Masashi Kishimoto does.

OOC/AU/Typo.

.

Do not ever think your fiction is bad before you see mine

.

.

Go on. Read away.

Make sure you leave a review

.

.

Summary :

Sangatlah mungkin untuk Sasuke terpikat oleh Sakura. Sasuke hanya tak sadar akan hal itu. Tidak, sebelum seseorang mengancam keberadaanya. Dan saat itu pula ia hanya bisa meradang dalam cemburuan.

.

.

Sore yang cerah, bertudungkan awan yang kian memerah.

Matahari terlihat penuh, bundar, dengan pancaran sinar yang elok dipandang.

Angin berhembus pelan, membawa terbang dedaunan. Ah udara diluar sungguh amat sangat tentram dan menenangkan. Begitu kontras dengan susana yang menyelimuti keberadaan sepasang sejoli didalam sebuah mansion mewah dipusat kota, tepatnya kediaman Uchiha.

.

.

Sore itu, terdengar jelas gertakan dan cibiran saling membalas dari kedua insan itu.

Hmm.. Ini dia. Adu argumen, kembali terjadi.

Seakan telah terbiasa, maid dirumah itu berlalu lalang tanpa rasa canggung, sama halnya dengan yang dilakukan Mikoto Uchiha, nyonya pemilik kediaman. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggeleng kepalanya.

'Dasar anak muda.' gumamnya.

Sesekali pekikan sang gadis terdengar, protes keras ia ajukan pada sang pemuda. Dan seakan tak mau kalah, setiap protes dengan mudahnya ia balikan, dan berujung kesakitan yang lebih mendalam bagi sang gadis. Ha, kau tahu kan? ada 1001 alasan bagi Uchiha.

.

.

"Justru keyakinanmu itu yang salah! Aku bisa membuat lelaki yang kusuka balas menyukaiku!" pekik sang gadis, yang hampir terdengar ke seantero ruang tengah yang luasnya menyamai aula hotel berbintang itu.

'Ooooh, rupanya tema kali ini adalah pesona sang gadis yang diragukan tuan Uchiha.' bisik beberapa maid.

.

.

Sakura's POV

"Justru keyakinanmu itu yang salah! Aku bisa membuat lelaki yang kusuka balas menyukaiku!" balasku geram. Dari tadi Sasuke terus mengangguku dengan ucapannya tentang betapa lemahnya daya tariku didepan lelaki. Ah jahat sekali dia. Tapi tidak, tentu saja itu hanya gurauan. Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh, dia memang senang memperoloku.

Tapi kali ini berbeda. Maksudku, tidakah dia berfikir jika ucapannya terlalu frontal untuk kuterima? Ugh, aku memang terbilang sensitif jika menyangkut hal semacam ini. Dan Sasuke, kenapa ia tak pernah mengerti itu?

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain bukan? Harusnya ia mengerti itu.

.

.

Ah sudahlah, dia memang seperti itu.

Frontal.

Dingin.

Menyebalkan.

Pantas saja tak banyak yang dekat dengannya.

Hanya orang bebal saja yang tahan dan mau berteman dengannya. -harusnya sih begitu-

Tch, sayangnya pesonanya tak cukup mudah untuk ditolak. Dan aku tidak cukup kebal untuk sebuah pengecualian.

Dan tentang 'dia yang yang tak memiliki banyak teman'. Itu benar. Namun bukan karena sifatnya yang dingin lantas membuat orang tak mau dekat dengannya, tetapi karena ia sendiri yang sengaja membatasi dirinya dengan orang sekitar.

Coba saja tanya, siapa yang tak mau berteman dengan lelaki tampan, kaya, pintar, populer seperti dia?

Jika begitu,

Ouh, betapa beruntungnya diriku menjadi salah satu dari sedikit orang yang terpilih menjadi orang terdekatnya, bukan?

Yea, harusnya begitu.

Tapi entahlah aku harus menyebutnya sebagai suatu keberuntungan seperti yang kalian -para gadis- selalu ucapkan atau sebaliknya.

Pasalnya, kalian tak tahu betapa pengharapan kosong itu sangatlah menyakitkan. Dan betapa meronta, menolak untuk tidak lebih jatuh cinta padanya itu sulit, bahkan hampir tak bisa kulakukan.

Ia dekat namun tetap tak tergapai. Dan menurutmu, bagaimana perasaanku?

Jelas bukan suka cita.

.

.

Berbicara tentang kesempurnaan seorang Uchiha. Sebenarnya aku sendiri tak terlalu peduli dengan itu. Kalian tak berfikir aku sama, seperti mereka -gadis lainnya-, bukan? Jangan pandang aku serendah itu. Asal kalian tahu, yang sempurna itu bukan hanya Uchiha, ada beberapa lelaki diluar sana yang bisa kusamakan dengannya. Dan aku tak cukup buruk untuk bisa mendapatkan satu diantara mereka, hanya sayangnya.. ah.. dia cinta pertamaku..

.

Dan beruntunglah aku. Otakku masih mampu bekerja, maksudku aku tidak cukup bodoh untuk terus mengagguminya. Bagaimanapun, aku ingin perasaanku ini terbalaskan. Tapi tentu saja, hanya mungkin jika kualihkan perasaanku ini pada yang lainnya.

Itu sebabnya, aku putuskan untuk mengubur perasaanku terhadapnya, dan mulai membuka hatiku untuk yang lainnya.

"Aku sudah mendapatkan perhatian lelaki yang aku suka, dan sedikit usaha lagi, aku yakin akan mendapatkan perhatian penuh darinya. Dan setelah itu, aku akan sangat senang jika kau menarik ucapanmu!" ucapku dengan penuh penekanan.

Sasuke terlihat sedikit terkejut mendengar pengakuanku. Entahlah, aku bingung, ekspresi itu.. eksperesi keterkejutan atau ketidakpercayaan, yang jelas kurasa ucapanku sedikit mengganggunya.

"Kau bilang apa?" tanyanya heran. Tak seperti biasanya, sepertinya ia tertarik dengan ucapanku.

"Kufikir sudah seharusnya aku membuka hati. dan yah aku jatuh cinta." jelasku singkat. Sasuke menarik kedua halisnya. Tampak, Ia tengah berfikir keras.

"Kenapa? Terkejut? Tak percaya aku menyukai seseorang?"

"Tidak." jawabnya masih santai, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, menuju ke meja depannya, mengambil cangkir cofee dan kemudian menyesapnya secara perlahan. "Aku hanya terlambat sadar, bahwa kau sudah cukup dewasa untuk mengenal cinta." jelasnya lagi. Aku kemudian menyunggingkan senyuman, merendahkan.

"Aku? Maaf, tapi kata dewasa sepertinya juga berlaku untukmu Sasuke." ucapku, masih dengan seringai kepuasan yang tak hilang diwajahku. "Kau itu menyedihkan, kau tahu? Kuharap kau tak berfikir akan menjadi 'anti-sosial' selamanya Sasuke. Bukalah matamu, fikiranmu juga hatimu! Dan sana, carilah gadis yang bisa meluluhkan hati batumu!" tambahku geram. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Kata-kata itu, kata-kata yang selalu kupendam, dengan seketika muntah, tanpa kuhendaki.

"Begitukah?" tanyanya.

"Ya." jawabku ragu.

"Maksudmu kau mau aku menjalin hubungan cinta dengan seorang gadis, begitu?" tanyanya lagi.

TIDAK!

BUKAN SEPERTI ITU!

JELAS BUKAN!

"Hn."

Hening. Aku tak menyanggah, juga tak mengiyakan. Aku masih bergulat dengan fikiranku, aku tengah mencari alasan untuk menarik perkataanku, tapi dengan tetap mempertahankan ego dan citraku.

"Baiklah." jawabnya lagi sebelum bisa kubantah. Aku tetap bergeming.

"Jika kau ingin aku seperti itu. Permintaanmu adalah perintah bagiku." tambahnya lagi.

Tch.. Kenapa jadi seperti ini.

Hening.

Aku kembali berkutat dengan fikiranku.

Hmm.. Mungkin ini sudah saatnya..

Saatnya aku menerima kenyataan bahwa dia tak mungkin bersamaku dan bahwa cintaku tak akan berbalas. Tak apalah jika sekarang hatiku hancur, toh suatu hari nantipun, jika kupertahankan, hatiku tetap akan remuk. Tak ada bedanya, bukan?

Dan sekali lagi kutekankan, aku tak perlu begitu bersedih, karena aku masih memiliki sisi kehidupanku yang lainnya, kehidupanku sendiri, tanpanya.

Sakura. Sakura. Sakura. Kau harus puas dengan statusmu sebagai teman. Mengerti?

"Baiklah... Mulai sekarang... aku akan memulai hidupku yang baru, begitu juga kau."

"Maksudmu kau dengan 'pacar barumu'?" tanyanya lagi. Wajahnya masih datar, namun sepertinya ia menyimpan 'kesangsian' dari ucapanku.

"Mungkin." balasku.

"Boleh ku tahu siapa dia?"

"Sejak kapan kau tertarik dengan urusan yang bukan urusanmu?" tanyaku tajam.

"Tidak.. Aku hanya merasa kasian saja dengan lelaki itu." jawabnya tak kalah tajam.

"Tch menyebalkan.. yang dia jelas tidak sepertimu!"

"Tidak tampan sepertiku maksudmu?" tanyanya lagi seakan topik pembicaraan ini hanya sebuah lelucon. Hhhh.. Inilah yang tak kusuka darinya. Dia tak bisa menempatkan dirinya dalam situasi yang berbeda. Berbicara seenak jidat. Hhh.

"Tidak SEBATU dirimu!" jawabku kesal. "Sudahlah, daripada aku membuang energi berdebat denganmu, lebih baik kusimpam energiku untuk.."

"Mengejar lelaki yang belum tentu memiliki ketertarikan yang sama denganmu, begitu?" selanya lagi.

Arrrrrrgh, ingin sekali kutinju wajah tampan -err maksudku wajahnya saja, tanpa tampan.

"Menyebalkan! Bisa-bisa aku terserang penyakit jantung jika terus berbicara denganmu. Menguras emosi, kau tahu?"

"Kau fikir aku tidak?"

Blugg

Sebuah bantal tepat menghantam wajahnya. Aku kesaaaal, kesal sejadi-jadinya. Kurang ajar si pantat ayam ini, kami-sama, kenapa kau membuatku jatuh cinta pada lelaki macam ini.

Aku berdiri dari kursiku dan mendelik murka padanya. Dia sendiri masih mengelus-elus pipinya, hidungnyapun memerah. Tapi tak kuhiraukan. Bagaimanapun, aku marah. Segera saja aku beranjak pergi dari tempatnya. Namun dia mengehentikanku, tangannya menggenggam lenganku.

"Kemana?" tanyanya.

"Penting bagimu?" tanyaku lagi.

"Biar kuantar." tawarnya datar, seakan tak terjadi apa-apa diantara kami.

"Tak perlu."

"Kenapa?" tanyanya polos, dengan wajah tampannya yang tanpa dosa. Hey, masih berani kau berkata kenapa? AKU MARAH. Kau bahkan tak mengerti jika aku sedang marah?

"Biar kuantar, ini sudah malam, dan tak ada service kretek kuda dikompleks ini yang bisa mengantarmu." tambahnya.

Apah? Kretek kuda? Kau samakan aku dengan roro jonggrang Sasuke?

"Kau lupa jika aku masih memiliki kaki?" tanyaku balik.

"Justru aku kasihan dengan kakimu itu, melihat kaki pendek itu menopang tubuh besarmu membuatku miris, apalagi dipakai berjalan sejauh itu."

"Badanku tak sebesar dan sependek itu. Aku sama sekali tak gemuk. Dan asal kau tahu, aku lebih baik mencari kendaraan lain untuk pulang, bahkan naik bantengpun akan lebih baik dari pada naik mobil jaguarmu!" jawabku penuh emosi.

"Kasian sekali bantengnya." jawabnya lagi, aku mengambil bantal yang tadi kulempar dari tangannya, dan kubekap wajahnya sampai membentur tembok. Kulihat dia sedikit mengernyit.

"Rasakan!" ucapku seraya pergi meninggalkannya dengan hentakan kaki yang kubuat tak biasa. Kudengar samar-samar ia berteriak dari dalam kamar.

"Pastikan tak ada banteng yang terluka! Dan jangan bunuh diri ya!"

"Tch, Uchiha!" gertaku kesal.

.

.

.

Sasuke's POV

Kudengar dia menghentak-hentakan kakinya selepas pergi dari kamarku. Dia terlihat sangat kesal. Ya ya ya, aku tahu aku sedikit keterlaluan kali ini, tapi mau bagaimana lagi, salah sendiri membangunkan singa yang tengah tertidur.

Dan jika kau fikir aku tak tahu kalau kau marah, kau salah, aku tahu. Hanya saja, maaf-maaf saja, kau menyulut api denganku dengan mengatakan 'kau jatuh cinta dengan seorang lelaki'. Ya terima saja akibatnya.

Dan, apa maksudmu dengan mengarang cerita seperti itu? Kau tak berfikir aku sebodoh itu kan Sakura? Maksudku, ayolah kau fikir aku akan percaya dengan leluconmu itu? Tch tidak. Aku tahu akal bulusmu, kau berusaha membuatku cemburu, bukan?

TRIK LAMA

'Krieeettt'

Kudengar pintu kamarmu terbuka, aku telah siap dengan statemen tajam berikutnya, karena kufikir Sakura kembali, namun..

"Ibu.."

"Heh, kau ini! Kenapa masih diam disini, kau tak mengantar pulang Sakura? Dia pergi berjalan kaki. Cepat susul!" protes ibu.

"Sudah.. Aku sudah tawari dia untuk kuantar pulang."

"Tapi?" tanya ibu lagi.

"Dia menolak.. dia bilang ingin pulang naik banteng." jawabku asal.

"Sasuke. Ibu serius."

"Sudah kubilang aku sudah tawari, dan dia menolak. Dan ibu tahu, aku sangat menghargai hak orang, termasuk hak untuk menolak permintaan. Lagipula Sakura bukan anak kecil yang akan tersesat karena tak menemukan jalan pulang, bukan?" balasku, dengan nada serendah mungkin.

Kau tahu?

Jika aku seorang diplomat, maka pastilah aku seorang diplomat handal dalam urusan me-lobby. Jika aku seorang pengacara, maka kupastikan setiap perkara akan dengan mudah kumenangkan. Bagaimanapun kemampuan berargumenku tak bisa diragukan. Tidak bagi Sakura, ataupun yang lainnya. Termasuk ibuku.

"Hmm ya.. Ibu tahu. Ibu hanya khawatir. Tak seperti biasanya Sakura berpamitan pada Ibu dengan wajah murung seperti itu. Kenapa? Ada masalah?"

"Hanya perdebatan kecil. Biasa." jawabku.

"Jangan membiasakan sebuah pertengkaran Sasuke. Mengalahlah untuknya!" pinta ibu dengan halus.

Hn.

Terkadang, aku lupa siapa yang menyandang marga Uchiha. Aku atau Sakura.

Itu karena perlakuan ibu terhadap Sakura yang diluar batas kewajaran untuk seorang diluar famili. Bukan aku keberatan, justru aku senang. Yah, keberadaan Sakura ditengah keluarga kami memang memiliki tempat tersendiri. Bisa dibilang 'Si Anak Perempuan Ibu.'

"Ya sudah, lusa ajak lagi dia kemari ya. Ibu mau mengajaknya belanja pernak-pernik untuk pernikahan Itachi."

Firasat buruk.

Lusa itu hari minggu. Dan minggu itu adalah hari dimana Kazuya (supir pribadi kesayangan ibu) tak bekerja, itu artinya..

"Kau.. Antar ibu berbelanja ya."

Sudah kubilang.

.

.

.

Normal POV

Sasuke kini tengah terbaring dikamarnya. Diliriknya sebuah jam berukuran besar didinding kamarnya.

10.00 pm.

Masih cukup siang untuk tidur. Tapi entah kenapa, kedua matanya kini seolah menolak untuk tetap terbuka.

Dia menggeser tubuhnya perlahan, mencari posisi yang nyaman untuknya tertidur. Sebuah bantal ia pakai untuk menutupi setengah wajahnya. Setelah itu, ia tertidur.

"Kriiiiiing.."

Sial.

Belum sampai 15 menit ia tertidur, suara ponsel memaksanya untuk bangun.

"Cih! Mengganngu saja." gerutunya. Dengan gusar ia mencari-cari ponselnya. Kesadarannya bahkan belum sepenuhnya kembali. Butuh 5 menit sampai ia benar-benar menemukan ponselnya.

Mau tak mau, ia bangun dan terduduk. Menyandarkan kepalanya pada bantal yang ia buat menumpuk.

Dilihatnya layar ponsel itu, dan..

Tak ada pesan masuk.

Tak ada pemberitahuan bertuliskan 'one missed call'

Lalu? Apa?

Tadi ia hanya bermimpi, begitu?

"Cih. Sial!" gerutunya lagi, sebelum melemparkan tubuhnya kembali di kasurnya.

Belum sempat ia benar-benar tertidur, suara ponsel itu terdengar lagi. Kali ini untungnya kesadarannya telah cukup terkumpul, ia mencari-cari sumber suara dan..

Dilihatnya sebuah ponsel flip, dengan casing berwarna pink bermotif bunga. Dan berhubung Sasuke bukanlah seorang gay pecinta warna pinkish, tentu itu bukan ponselnya.

'Hn.. Dasar nenek, kau bahkan lupa membawa ponselmu Sakura.' gumamnya.

Dilihatnya layar ponsel tersebut,

20 missed calls.

'Wow.' gumamnya ketika melihat berapa banyak panggilan yang tak terjawab.

Dia klik tombol kanan atas handphone tersebut.

20 missed calls :

Mama 11 x,

U. Naruto XII IPA 2 8 x

InO XII IPS 1 1 x.

'Hn.'

Ditekannya tombol yang lainnya, dan munculah notifikasi baru:

10 messages.

Ia kembali mengerutkan dahinya, sebelum menekan tombol ponselnya kembali dan memunculkan satu-persatu isi pesan tersebut.

From : Mama

08.55 pm

Dimanapun dan siapapun yang mendapati ponselku ini, tolong beritahu aku. Kau bisa menghubungiku di nomor ini -pemilik-

Sasuke mulai membuka penuh matanya secara perlahan, menahan rasa kantuk yang masih menghigapinya.

'Hn.. Dia fikir ponselnya hilang, begitu?' ucapnya setengah bergumam.

From : Mama

09.15 pm

Balas pesanku tolong yah. Beritahu ditangan siapa ponsel ku ini berada. Kumohon, kau tak kasian padaku? hiks :(((((

Sudut dibibir Sasuke kini membentuk sebuah senyuman. -seringai lebih tepatnya-, masih dengan kantuk yang belum seluruhnya menghilang.

"Kebingungan nona? Ha ha." gumamnya lagi semakin puas. Sasuke lalu kembali membaca pesan berikutnya.

From : U Naruto XII IPA 2

09.31 pm

Hey, kau dungu, bedebah, PENCURI DURJANA! Kembalikan ponsel temanku. Kasian tau dia, itu ponsel kesayanganya. Kalau dia sampai mati karena kekurangan cairan akibat menangis terus-terusan, kau mau terjerat tuntutan berlapis atas kasus pencurian dan pembunuhan hah? Hah? Hah?

Seakan tertampar keras, Sasuke kini benar-benar tersadar dari kantuknya. Bukannya menguap, ia justru menahan mulutnya agar tak tertawa keras.

"Hah Dobe! Ancaman macam apa itu! Bodoh! dan Sakura, kau sepertinya tak lebih pintar darinya." serunya, seakan semakin tertarik dengan isi pesan berikutnya.

From : InO XII IPS 1

09.46 pm

Heii, pendja'ath! B4LiqH1n HaP3 tm3nDH 4kowh !

Kali ini, keningnya berkerut. Kepalanya terasa berkedut, pening seketika membaca bahasa sansekerta dilayar ponselnya. Tak mau repot membaca, langsung saja ia alihkan kepesan berikutnya.

From : Mama

10.21 pm

Oke, aku menyerah. Begini saja, kau tak perlu mengembalikan ponselku, untukmu saja. Tapi kartu sim ku ini, tolong kau kembalikan. Nomor cantik ini sudah terlanjur populer dikalangan teman dan familiku (juga fansku). Jalan Kokoi No. 78 53954. Itu alamatku. Kirim ya. #trims.

'Konyol.' gumamnya lagi, selepas membaca isi pesan terakhirnya itu. Dan bukannya memberi belas kasihan dengan memberi Sakura kabar tentang keberadaan ponselnya, ia kini malah tersenyum-senyum puas, membayangkan wajah Sakura yang kini pasti kelimpungan.

'Besok saja aku beritahu dia, sekarang biarkan saja seperti itu.' gumamnya lagi jahat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali tidur. Hmm sepertinya kali ini tak ada toleransi untuknya tidur lebih malam.

Ia mulai mencari posisi tidurnya kembali. Dan sial, belum sampai 10 menit ia berbaring, ponsel itu kembali berdering. Namun kali ini ia dengan senang hati bangun dari tidurnya, menyambut pesan dari ponsel itu dengan senyuman jahil andalannya.

Dan tak seperti Uchiha biasanya, binar kepuasan dan antusiasme juga benar-benar menyelimutinya.

One Message : Sasori

Sasuke kali ini sedikit terkejut dan heran ketika membaca nama si pengirim pesan. Tak sadar ia pun menaikan kedua halisnya tinggi.

"Hn? Sakura mengenal Sasori?" gumam Sasuke heran. Lagi ia menekan tombol kanan atas dan membuka pesannya. Kali ini dengan rasa penasaran yang berbeda, dan..

From : Sasori

10.38 pm

Cherry, malam ini aku tak bisa tidur. Entah kenapa aku terus memikirkanmu, mungkin karena hari ini aku tak bertemu denganmu. Jadi kuputuskan untuk mengirimimu pesan. Aku tak mengganggu kan? Ehe. Oh ya, selamat malam yah, mimpikan aku :)

.

.

.

Hening

Seketika hening,

Tak ada suara,

tak ada senyuman,

tak ada seringai,

ataupun tawa yang muncul sebagai respon.

Sasuke tetap bergeming, dan tetap begitu untuk sepersekian detik setelahnya.

Ia menatap kosong layar ponselnya. Rasa tak percaya kini menghigapinya.

Ponsel itu, yang masih setia digenggamnya, bisa saja dibuat remuk akibat kepalan tangannya yang kini semakin menguat.

Pesan itu, menjawab rasa penasarannya.

Pesan itu, menjawab kesangsiannya.

Dan kini, seakan ada yang meninju jantungnya, Sasuke mengernyit. Tch, kenapa begitu sakit?

.

.

Rahangnya mengeras.

Irishnya membulat, menghitam.

Giginya bergeretak, menahan amarah.

.

.

Sakura,

dia tidak sedang membuat lelucon.

Pemuda itu, sungguh ada.

Dan yang membuatnya lebih buruk, itu Sasori. Manusia biadab yang kerap kali diperbandingkan dengannya.

Sungguh, sangat sulit dipercaya olehnya. Dan bagaimana bisa ia tak tahu?

Tak sadar, ia mengengpalkan kedua tangannya kuat.

.

.

.

Satu hal yang kutahu. Setelah ini, malam ini, dalam kondisi ini, kupastikan tak ada toleransi untuknya tertidur.

To be continued

.

.

REVIEW ?

Salam Kenal :)