Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk seluruh apresiasi yang Anda sekalian berikan pada saya. ^_^

Rambu Istimewa: Idem chapter sebelumnya. Trims sebelumnya, saya cinta damai. Peace! :D

.

I will survive~

.

Dozo, Minna Sama!

.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Just for fun.

Warning: Alternate Reality, OOT, OOC, typos, emo, etc.

.

(*) Special backsound: That Woman by Baek Ji Young

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Ohayou, Naruto!"

Tiada respon.

"Oi, Dobe."

Tetap tidak terganggu.

"Sepertinya dia masih tidur."

Tarikan air liur dengan usapan di sudut bibir dengan lengan baju.

"Eww… menjijikkan!"

Sayup-sayup suara berbeda-beda nada merasuki ruang pendengarannya.

"Heh. Naruto no baka."

Guncangan pada badan yang ditepis kasar diiringi gerungan kesal meluncur dari bibir.

"NARUTOOO!"

.

#~**~#

Eksistensi Sempurna

.

Chapter 5

""

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Jeritan khas perempuan bersuara alto. Sekerjap mata Naruto langsung berdiri tegak dengan mata terbelalak. Terkejut dia mendapati teman-temannya dengan beragam ekspresi berada mengelilinginya.

Sasuke mencibir, Sai tersenyum lumrah, dan Sakura berkacak pinggang.

"Aah… selamat pagi," sapa Naruto lamat-lamat. "Tumben pagi-pagi sudah datang kemari, bertiga pula," imbuhnya sembari mengusap-usap matanya yang masih terasa berat.

"Kenapa kau menginap di kantor, eh? Lembur lagi?" tanya Sasuke acuh tak acuh.

Naruto mengacak sekilas rambut pirangnya yang makin terlihat kusut. "Aah. Begitulah."

Sai mengedarkan pandangan. Takjub mendapati seisi ruangan kantor Hokage yang kini dilimpahi sinar mentari pagi tampak begitu berkilau. "Kau lembur untuk membersihkan dan merapikan kantor, Naruto? Aku terkesan."

"Sayang tidak berantakan," kata Sasuke, seringai kejam terpeta di wajahnya. "Tak ada alasan untuk memarahinya pagi-pagi begini."

Masih pagi dan baru bangun tidur saja, rasanya tensi Naruto langsung meningkat drastis. "Pagi-pagi begini kau sudah cari ribut, Teme?"

Sai tertawa kecil. "Kalian pagi-pagi begini sudah ramai, ya."

Naruto hendak menukas sewot pada Sasuke dan Sai yang pagi-pagi sudah mengganggu tidur nyenyaknya, namun Sakura yang turut andil keburu menyela.

"DIAM! Pagi-pagi begini kalian sudah bikin rusuh!" seru Sakura kesal dengan urat saling bersilangan di dahi yang tertutupi poni merah jambu.

Bergumam tak kentara, ketiga pemuda itu menghela napas pertanda maklum dan saling bertukar pandang. Kemudian menyuarakan apa yang tertera di benak mereka dengan kompak dan nyaris serentak, "Dan pagi-pagi begini dia sudah marah-marah."

"Hei, apa maksud—" Sakura tak sempat menyelesaikan perkataannya karena suara dari pintu mengalihkan atensi mereka berempat.

"Ah, dan pagi-pagi begini kalian sudah sangat bersemangat, ya."

"Kakashi-Sensei," ucap insan muda-mudi yang tergabung di tum tujuh itu bersamaan.

"Yo." Kakashi mengangkat sebelah tangannya yang terbebas dari memegang buku Icha-Icha Paradise. Matanya menyipit mengindikasikan pria berseragam ala jounin itu sedang tersenyum di balik maskernya.

"Sejak kapan kau duduk di situ, Sensei?" tanya Sakura curiga. "Kupikir kau jadi menerima tantangan Gai-Sensei lari pagi mengelilingi Konoha seribu kali."

Kakashi memasang pose pura-pura berpikir sejenak, lalu menjawab dengan ramah, "Katakanlah aku berhasil berkelit dengan beralasan padanya aku mengkhawatirkan murid-muridku."

"Oh, sungguh menyentuh," tanggap Sasuke dengan nada satir kentara tersirat.

"Terima kasih, Sasuke," balas Kakashi ramah. "Aku sudah ada di sini sejak kalian bertiga mulai membangunkan Naruto."

Naruto menguap lebar. Sudut-sudut matanya berair. Kantuk enggan menghampirinya lagi karena ia sedang diterpa rasa kesal. "Tidak bisakah kalian membiarkan aku istirahat dengan tenang? Lagipula, darimana kalian tahu aku lembur di kantor? Biasanya juga pagi-pagi begini merusuhiku yang masih tidur di apartemenku dan bikin tetangga marah."

Sakura mengerling mentor tim tujuh yang duduk manis di sofa tamu dengan buku mencurigakan di tangan. "Kakashi-Sensei yang memberitahu kami. Dia bilang kau butuh bantuan profesional dan penyabar untuk menyelesaikan tugasmu."

Senyum khas—lebih halus daripada disebut aneh—Sai terkembang tipis. "Jadi, kami bergegas datang kemari untuk membantumu, Naruto."

"Awas saja kalau pekerjaan yang dimaksud itu justru membuat waktu terbuang sia-sia," Sasuke memperingatkan dengan penekanan di setiap kata.

Gadis satu-satunya di ruangan itu turut tersenyum ceria. "Kebetulan dua hari ini serta besok aku tidak ada shift jaga rumah sakit—karena Ino minta tukar jatah kerja denganku. Sai sedang lowong, dan Sasuke-kun juga. Maka itu jangan heran kenapa kami bisa ada di sini pagi-pagi tanpa perlu merongrongmu di apartemen," tuturnya panjang lebar.

Sejenak kesunyian menyusup di ruangan yang mulai menghangat karena radiasi cahaya mentari menerobos masuk lewat celah jendela-jendela.

Kini mereka sama-sama melirik sang guru yang berlagak tak menghiraukan atensi yang terpusat padanya. Keempat orang yang mengelilingi meja Hokage itu sama-sama menyadari ada hawa aneh menguar dari seseorang.

'Jika seperti ini jadinya, siapa lagi yang bisa aku salahkan?' Naruto membuang muka, menyembunyikan mimik mukanya yang kian keruh. "Tenang saja. Kalian tidak perlu lagi memperlakukanku seperti anak kecil atau bocah idiot yang perlu diawasi terus-menerus."

Mereka terkejut mendengar respon Naruto atas fakta yang terjadi di pagi hari ini. Walaupun dalam hati mereka sama-sama mengetahui bahwa beberapa waktu terakhir sikap Naruto memang sedingin ini, tapi sulit untuk terbiasa dengan perilakunya yang sebelas-duabelas dengan Sasuke—bahkan jauh lebih menyusahkan dihadapi daripada adik Uchiha Itachi tersebut.

Sai memiringkan kepalanya, matanya menyipit. Ia tampak heran. "Berdasarkan buku yang kubaca, dalam situasi seperti ini, bukankah kau harusnya berterimakasih pada kami, Naruto?"

Sebelas alisnya terangkat akibat tingkah ganjil—menyebalkan menurutnya—Naruto. Tanpa diliputi keraguan sedikit pun, Sasuke menabrakkan kursi rodanya pada kaki tepat di bagian tulang kering pemuda berkulit tan itu.

"Kau sekarang lebih mengesalkan daripada kau sendiri," ujar Sasuke tenang. Tidak terpengaruh dengan pelototan sadis yang dihujamkan rival sekaligus kawannya itu padanya.

"Kau ini sengaja membuatku emosi dan terlihat semakin idiot, ya, Teme?" tanya Naruto di sela ringisan pedihnya seraya menekan-nekan permukaan kaki kanan yang ditabrak kursi roda Sasuke. "Dan aku tidak mengerti maksud perkataanmu apa, tapi yang aku tahu kau makin menyebalkan, Sasuke!"

Si pelaku yang membuat Naruto menggerutu marah justru berbalik, menjalankan kursi rodanya menjauh sedikit dari tahta sang Hokage. Seringai menyebalkan terlukis di wajahnya. "Begitu lebih baik, Dobe."

"Heh, Sasuke, kau benar-benar—"

"Naruto, kau berani menantangku—"

"CUKUP!" seru Sakura lantang. Kedua lengannya terangkat pada kedua pemuda yang selalu berseteru lebih buruk dari relasi kucing dan anjing. "Aku yang selalu ada di tengah pertengkaran kalian saja sudah bosan melihat kalian berkelahi terus-menerus."

Sai menggeleng-gelengkan kepala dan lagi-lagi mengembangkan senyum aku-terbiasa-dengan-skema-ini.

Sakura mengembuskan napas panjang, lelah. Dilarikannya jemari tangan kanannya untuk menyisiri helaian rambut merah muda pendeknya. "Aku rasa aku tidak akan awet muda berada dekat dengan kalian."

Sasuke memutar kedua bola matanya, dan Naruto mendengus tidak terima. Sai, sekali lagi, hanya tertawa kecil.

Sepasang mata hijau cemerlang itu menatap sesosok pemuda yang bertahta di kursi roda, melemparkan pandangan yang menyiratkan mohon pengertian. "Jangan pancing emosi Naruto terus, Sasuke-kun. Bagaimanapun dia pasti masih lelah—efek dari lembur semalam." Kemudian atensinya teralih pada figur sang Hokage yang mengerucutkan bibirnya. "Jangan terus-terusan berprasangka buruk, Naruto. Kamu tidak mengawasimu, kami benar-benar mengkhawatirkanmu. Dan kami ada di sini juga karena permintaan Kakashi-Sensei."

Refleks Naruto menyorotkan tatapan yang mencerminkan kekesalan teramat sangat pada sang guru. Hatinya makin tersulut oleh amarah tatkala menemukan objek pandangnya justru mengedikkan bahu dengan ekspresi inosen.

Naruto ingat gurunya itu semalam datang untuk menceramahinya—tidak sekedar perihal kedatangan tamu dari desa pasir. Namun, perasaan jengkelnya akibat "pencerahan" yang diberikan Kakashi masih belum memudar dari benak dan hatinya—itu dikarenakan kilas balik masa lampau terangkat kembali.

Apa lagi yang hendak pria dengan masker berlapis-lapis itu lakukan? Memberi pidato retorika menyirnakan momentum masa lalu? Tidak mungkin. Tidak akan bisa menghapus memori kelam di balik gemilangnya prestasi sang pahlawan perang dunia ninja keempat.

"Aku semalam memang sempat menemanimu bekerja, Naruto. Tapi kan kau sendiri yang mengusirku, ingat? Sampai di rumah pun, aku berusaha tidak berpikiran buruk apa pun—dan aku tidak tahu bahwa kau lembur." Kakashi mengemukakan apa yang hendak dikatakannya.

Naruto melongo sesaat. Oke, dia lupa soal insiden pengusiran pada gurunya sendiri. "Jadi, bagaimana kau bisa tahu aku lembur di kantor, Sensei?"

Keempat muda-mudi itu bersumpah, meski senyum yang terindikasi hanya dari mata terpicing ramah itu, memiliki makna samar-samar yang membuat bulu kuduk meremang.

"Hyuga." Kakashi mengucapkan nama itu dengan pelafalan fasih dan artikulasi terdengar jelas. Namun "hah?" adalah respon yang dituai olehnya.

"Neji-san?" tanya Sakura memastikan.

Sasuke berupaya keras menahan kedutan di sudut-sudut bibirnya. "Bukan, Sakura. Hyuuga Hinata."

"Bagaimana bisa kau tahu Hyuga yang dimaksudkan Kakashi-Sensei adalah Hinata-san? Hyuga bukan cuma satu, Sasuke," tanya Sai. Hanya pertanyaan basa-basi, sebenarnya tanpa perlu bertanya pun ia entah bagaimana juga tahu bahwa Hyuuga yang dimaksud Kakashi adalah Hinata.

"Intuisi," jawab Sasuke pendek.

Pemuda berkulit paling pucat itu mengulum senyum, kendati matanya melirik salah satu sobatnya yang mendadak terpaku bak patung dan membisu. "Hinata-san, ya… ah, masuk akal."

Sepasang mata hijau cemerlang Sakura terbelalak tak percaya. "Hinata?! Bagaimana bisa?"

Kakashi diam-diam merasa geli menikmati aneka polah yang ditampilkan pemuda-pemudi di hadapannya. Terlebih ia menikmati bagaimana seseorang tampak begitu syok mendengar nama "Hyuuga Hinata" terlantun begitu gamblang. "Pagi buta, ketika giliranku berjaga di pos pengawasan komando setelah Gai, aku tak sengaja bertemu Hinata. Dia minta tolong aku untuk mencari tahu kondisimu, Naruto. Sepertinya dia tahu kau lembur, kelelahan, dan tugasmu belum kelar.

"Tapi karena shift-ku selesai masih agak lama, aku minta bantuan pada teman-temanmu, Naruto. Aku tidak sanggup menolak permintaan Hinata, toh aku yakin dia pun mengkhawatirkanmu," Kakashi mengakhiri penjelasannya.

Beberapa jenak hening kembali. Kakashi merasa puas, Sasuke menampilkan ekspresi mengerikan antara senyum-tidak senyum-seringai, Sai—lagi-lagi—tersenyum khasnya, dan Sakura yang paling terlihat terkejut tapi tak urung dia tersenyum lega.

Di antara mereka, Naruto terdiam. Tak lama, ia menghempaskan tubuhnya pada singgasananya. Sepasang mata birunya menerawang tak tentu arah—tenggelam dalam lamunan.

Terlintas satu pertanyaan di benaknya, dan Sai segera menyuarakannya. "Kenapa Hinata tak langsung mengecek sendiri kondisi Naruto?"

"Takut dipaksa kerja romusha lagi sama Naruto, mungkin?" Sakura terkikik geli, "dari ceritamu barusan, Kakashi-Sensei, aku mengasumsikan bahwa saat kau pulang semalam, Naruto masih berduaan dengan Hinata di kantor."

"Bisa dibilang seperti itu," sahut Kakashi. Dia tertawa sekilas melihat Sakura begitu girang ditilik dari ekspresi si gadis refleksi musim semi itu.

Naruto berdecih. Dia meraih lembaran kertas yang berserakan di atas mejanya. Ia tidak mengerti mengapa Sakura bisa begitu gembira mengetahui dia bersama gadis lain, padahal perasaannya tidak demikian.

"Terjadi sesuatukah, Kakashi-Sensei?" tanya Sai, senyum penuh artinya kini terlihat mencurigakan.

Dengan sarat kekecewaan, anggota utama dari satuan jounin elit itu berkata, "Mungkin karena kedatanganku, jadi "tidak terjadi apa-apa"."

Sasuke memasang mimik jengah. "Pembicaraan ini mulai menjurus pada hal yang tidak-tidak."

"Oh, Sasuke mengangkat "topik" itu, Sai," cetus Kakashi, akting luar biasa—pura-pura terkejut.

Sai manggut-manggut. "Topik yang terlarang. Aku tak menyangka, Sasuke-kun."

Sakura mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya. "Kalian semua mulai out of topic. Tidak mungkin Naruto akan berlaku seperti itu pada Hinata."

Kakashi tertawa. "Astaga… Sakura, kau pun telah tercemar oleh pikiran kotor kami."

"Oi, oi, aku tidak perlu kau perhitungkan!" tandas Sasuke saat menemukan Sai berulang kali meliriknya.

"Itu benar. Apa yang dikatakan Sakura-chan benar." Suara bariton dalam Naruto yang mood-mengerikannya-mulai-bangkit membuat segenap perhatian terpusat padanya. "Tidak terjadi apa-apa antara aku dengan Hinata. Hanya saja kemarin—memang benar—aku minta bantuan dia untuk membantu jadi asistenku, itu juga karena tidak ada yang menolongku seperti biasa. Jadi, jangan salah persepsi apalagi berspekulasi macam-macam. Dan Kakashi-Sensei, berhenti menggodaku dan Hinata dalam perspektif percintaan."

Mereka sama-sama menyadari saat menuturkan sederet aksara verbal itu Naruto menatap lurus pada Sakura—membuat gadis itu merasa tidak enak hati.

Aduh.

Sang Hokage menumpuk berlembar-lembar kertas itu dalam satu tumpukan asal, kemudian menaruh pena sialan-tapi-kesayangan miliknya tepat di atas permukaan kertas. Ia beranjak, lalu berjalan dengan langkah-langkah panjang dan tergesa keluar dari ruangan.

"Aku mau ke kamar mandi. Sikat gigi dan ritual toilet lainnya," tukas Naruto. Kemudian pintu dibantingnya menutup.

Sakura terlonjak pelan mendengar frekuensi kencang debam pintu yang bergema pelan di ruangan tempat kawannya itu bekerja. Ia mengelus dada dan mengembuskan napas panjang. "Naruto bikin kaget saja."

"Wow," sahut Sai ketika pita suaranya berfungsi normal kembali. "Aku nyaris tidak percaya Naruto yang tadi adalah Naruto yang kita kenal."

"Naruto versi lain," kata Sasuke. Tapi kali ini seulas senyum tipis melengkung di bibirnya. "Impresi yang dijelaskan Hyuga Hinata memang benar—perempuan itu sungguh mengerti Naruto."

Sai mengangguk tanda setuju dengan perkataan Sasuke. "Aku selalu terkesan pada Naruto. Dia layak disebut si ninja penuh kejutan nomor satu di Konoha."

"Yah, walaupun dia yang sekarang kadang membuatku takut, dia memang banyak berubah—dari segi positif. Tapi tidak tahu kenapa, aku berharap bahwa dia akan kembali menjadi dirinya yang dulu." Sakura melipat kedua lengannya, senyum yang hampir putus asa itu kini terukir di bibirnya lagi.

Kakashi menutup buku yang merupakan masterpiece Jiraiya—hanya menurutnya, memejamkan mata dan turut tersenyum murid-muridnya. "Kesan dan pengakuan itulah yang membuat Naruto pantas menjadi Hokage."

Dan sepasang mata yang semula terkatup, perlahan membuka. Senyumnya menyurut, dan matanya menyiratkan sendu. Hal itu membuat ketiga muda-mudi lainnya luntur senyum dari wajah mereka masing-masing.

"Naruto menerima semua kesan dan pengakuannya di saat yang salah meski momennya tepat," sahut Sai. Sekali lagi ia melirik Sasuke, namun kali ini dengan tatapan bersimpati pada kawannya yang terpasrah di tahta kursi roda.

Sasuke menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak keberatan apalagi menyalahkan. Sungguh."

Sakura menghempaskan dirinya di sisi sang guru. Murung menggoreskan dominasi di ekspresinya. "Terlebih perasaan Naruto… aku merasa begitu jahat padanya karena tidak bisa melakukan apapun. Andai ada yang mampu menyelamatkan Naruto dari dirinya sendiri…"

Kakashi menepuk lembut puncak kepala bersurai merah jambu itu, berniat menghibur muridnya maka dia berujar, "Eksistensinya tidak mungkin tidak ada. Pasti ada."

Terdengar cetusan "oh" penuh makna dari Sai, Kakashi menoleh untuk mengangguk pada pemuda yang dulu tergabung di kesatuan ANBU itu. "Kupikir Naruto pasti bisa mengatasinya sendiri—setidaknya tidak akan terjadi berlarut-larut seperti ini. Ternyata tidak. Dia juga butuh bantuan."

"Tapi kita saja tidak bisa—bahkan Iruka-Sensei juga. Siapa lagi yang mampu menolong Naruto?" tanya Sakura muram.

Atensi Sakura terfokus sepenuhnya pada Sasuke dan bertransformasi menjadi kekaguman tiada henti di setiap bulir waktunya, tatkala keturunan tunggal Uchiha itu menjawab pertanyaan putus asa yang dilontarkannya.

"Eksis. Tinggal menunggu waktu mengeliminasi jarak agar orang itu dapat berdekatan dengan Naruto. Asalkan tidak ada aral merintang atau pihak ketiga, semua dapat berjalan sebagaimana mestinya."

Kemudian, semua tersenyum. Tak mengindahkan fakta bahwa itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan satu persona di kursi roda yang penuh makna, dan harus diakui bukan gaya bicara Sasuke Uchiha sama sekali.

Tatkala Naruto kembali ke ruangan, dia mengernyit heran dan merinding menemukan orang-orang yang sempat ia tinggalkan menyambutnya seperti biasa—seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mengesampingkan sisi emosionalnya tadi, Naruto tersenyum semampunya dan berkata, "Ayo bantu aku menyelesaikan konsep penyambutan tamu sialan ini!"

.

#~**~#

.

"Jadi, kenapa aku yang harus bertanggung jawab dalam tim penyambutan tamu dari desa Suna?" tanya Shikamaru Nara dengan nada malas.

Sang Hokage berdecak pelan, berhenti mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada permukaan meja kerjanya. "…karena aku yang memerintahkanmu. Terserah kau mau membuat acara penyambutan bagaimana. Hanya satu syaratku, lakukan di tempat terbuka."

"Kenapa harus di tempat terbuka? Konoha mulai memasuki musim dingin, Hokage-sama," sergah Shikamaru rasional yang kini tergabung dalam satuan Jounin elit.

Beberapa orang yang turut ada dalam ruangan itu diam-diam sependapat dengan Shikamaru. Untungnya, bukan mereka yang harus ketiban sial menghadapi Nanadaime Hokage yang sedang dalam moody mengerikannya itu.

Pemuda yang bertahta di kursi roda dan tersemat jabatan Hokage itu menggeleng keras. "Dalam ruangan terus-menerus itu membosankan." Sepasang mata biru itu berputar malas, seolah merujuk pada ruangan tempat dia bekerja.

Shikamaru mengedarkan pandangan pada orang-orang yang kali ini pun akan menjadi rekan kerjanya—bawahan tepatnya. Mereka saling mengangguk—lebih baik menuruti apa kata Hokage daripada tidak sama sekali.

"Baiklah." Shikamaru mengangguk, menyanggupi perintah Hokage ketujuh Konoha itu.

"Bagus." Dia menghela napas puas. Lalu mengulurkan selembar kertas pada Shikamaru yang menerimanya dan lekas membacanya.

Di kertas itu ditintakan nama-nama ninja yang terlibat secara khusus untuk menyiapkan acara penyambutan tamu kenegaraan dari desa pasir itu. Struktur acara sambutan, hiburan, hiasan dan segala yang diperlukan untuk kesukesan ramah-tamah dengan desa tetangga yang punya relasi persahabatan internasional itu.

Suara decit roda dari kursi yang ditempatinya beradu dengan lantai menimbulkan perhatian kembali terpusat pada orang nomor satu di Konoha tersebut. Dengan santai ia melengos menuju pintu dan menyeret kursi roda yang ditempati seorang sahabatnya.

Sasuke melontarkan tanya, "Mau kemana kau, Dobe? Kenapa aku diseret, heh?"

"Survey tempat, Teme," jawabnya pendek, ketika ia telah mendorong pintu kantor membuka, baru disadarinya tidak ada yang bergerak dari tempat masing-masing. "Kenapa kalian diam saja? Ikuti aku!"

Terperangah sejenak, mereka mengangguk seraya menerima komando dari pemuda yang sebaya dengan mereka itu. Hah, padahal ini bukan pertama kalinya tingkah bossy serta tindak-tanduk yang mengindikasikan seorang Hokage itu tertuju pada mereka. Tapi entah kenapa, karena yang menyandang titel tersebut adalah seorang kawan mereka—dan ditilik dari karakternya di masa lalu, sungguh tidak bersinkronisasi.

Beriringingan pemuda-pemudi itu mengekori sang Hokage yang mendorong kursi roda temannya sambil berdebat hal-hal sepele dengan keturunan terakhir Uchiha tersebut. Banyak ninja yang hilir-mudik di kantor Hokage sesekali membungkuk hormat ketika menemukan sosoknya berjalan keluar gedung diikuti teman-temannya.

Tidak hanya sampai di situ, ketika mereka mulai turun ke jalan, jelas menarik atensi umum untuk terhenti sejenak dari aktivitas mereka. Melihat Hokage dan arak-arakannya turun berjalan di desa itu sungguh tidak lazim. Sama seperti ninja-ninja lainnya, mereka membungkuk hormat dan

"Oi, kau tahu aku benci jadi tontonan publik, 'kan?" desis Sasuke pelan, sehingga hanya segelintir orang yang berada di dekatnya yang bisa mendengar protes pada Naruto itu. "Kalau maksudmu adalah demi kebaikanku, lebih baik aku mendekam di rumah."

Naruto berdecak kesal. "Jangan banyak protes! Toh, tidak peduli seberapa banyak kau ditakuti, dibenci, atau dikasihani, masih saja ada tim sukses penggila Uchiha Sasuke—cewek semua pula. Kau pikir aku tidak tahu, apa?"

Sasuke mendengus sembari bersidekap. "Menjadikanku tontonan? Seorang Hokage melaksanakan kewajibannya sambil mendorong kursi roda yang diduduki orang cacat. Heroik, sungguh," sindirnya sarkastik.

"Kau ini bisanya berpikiran negatif saja." Naruto hendak menempeleng kepala Sasuke, namun mantan buronan nomor satu dunia ninja itu dengan cepat menepis tangannya. Membuat Hokage yang satu itu memanyunkan bibirnya.

"Bukankah kau yang sekarang terus-terusan berpandangan negatif, eh?" sinis adik dari Uchiha Itachi itu.

Meski hanya tercetus seakan asal bunyi, sedikit-banyak Naruto merasa tersindir. Ia tak bisa membalas perkataan sahabatnya yang dikucilkan banyak orang itu—kendati memang sudah sewajarnya. Nah, bahkan sekarang saja ia berpikir negatif melihat penduduk saling berkasak-kusuk dan samar terdengar nama kawan-lawannya ini konstan disebut-sebut. Padahal di masa lalu lebih mudah ketika ia yang dihadapkan pada situasi seperti ini. Mungkin karena saat ini kondisinya berbeda ….

Tepat ketika rombongan Naruto dan kawan-kawan melintasi perempatan jalan, suara siulan dan pekikan mengerikan yang akhir-akhir ini lazim terdengar mulai membahana. Tiba-tiba saja jalan mulai disesaki oleh gadis-gadis muda yang histeris melihat ninja-ninja ternama—terutama yang harum namanya dalam perang dunia ninja terakhir—dan Nanadaime Hokage. Tangan-tangan terulur hendak menggapai sosok layaknya idola populer bagi gadis-gadis itu, tatapan mata kagum—bahkan penuh cinta, teriring suara-suara alto yang memekik memekakkan telinga.

Naruto Uzumaki menepuk dahinya. Ia lupa dengan masalah "gawat" yang satu ini. Menjejakkan kaki di muka publik, terlebih mencolok karena memakai jubah khas Hokage-nya, dan bersama teman-temannya, sama dengan menjerumuskan diri ke dalam terkaman maut berupa pelukan mereka. Jika dianalogikan—bukan narsisme, ada gula ada semut.

"KYAAA! Sasuke Ouji-sama, KENAPA KAU TAMPAN SEKALIIII?!" Kedipan sebelah mata.

"Hokage-sama! Hei, hei, dia melihat ke arahku! Aduuuuh~~" Merona.

"Tuhan… musim dingin jadi hangat setelah melihat senyum manis Sai-kun~" Meleleh.

"Lee-san, alis tebalmu itu sangat imut!" Wow. Ekstrim.

"Chouji, pipi gembulmu itu boleh dicubit, tidak?!" Gemas.

"Buka kacamatamu dan lihat aku langsung, Shino!" Memaksa.

"Lebih cantik aku daripada awan-awan di atas, Shikamaru!" Centil.

"Eh, kamu kepikiran tidak kalau Kiba-kun terlihat seksi seperti vampir karena taringnya itu?" Jawdrop.

"Oooh, kamu tidak perlu byakugan untuk mengintip isi hatiku padamuu, Neji-sama!" Sweatdrop.

Istilah lain dari gadis-gadis labil yang menyerbakkan aura cinta menyilaukan itu disebut fangirl, dan kegiatan yang sedang mereka lakukan sekarang adalah fangirling.

Keempat gadis yang bertitel rekan setim waktu genin, tersudut di tengah-tengah beberapa ninja lelaki yang tergabung dalam tim sukses penyambutan tamu dari desa Suna, terkikik geli dengan celetukan dan seruan-seruan maut yang mengudara. Inikah realisasi emansipasi wanita?

Situasi ini sangat lucu dan akan menuai tawa, apabila jajaran fangirls itu merangsek maju menghimpit Hokage dan teman-temannya dari segala penjuru. Amat kentara yang paling mendominasi adalah penggemar-penggemar Naruto dan Sasuke, ditilik dari keagresifan mereka untuk mendekati keduanya.

Sasuke menyeringai. Menyebabkan jeritan heboh kian memeriahkan suasana aneh di awal musim dingin itu. Pemuda itu mendengus geli, dalam hati mensyukuri ia tak perlu lagi melihat situasi horror yang dari zaman rekipli sampai sekarang selalu dialaminya atau pun menghadapinya sendirian.

"Tsk. Mereka berisik dan merepotkan," sahut Shikamaru yang memutar kedua bola matanya.

"Kurang lebih sama seperti Ino dulu. Ini bukan hal asing lagi," sela Chouji di sela kunyahannya pada keripik kentang yang amblas menghilang satu demi satu ke dalam mulutnya.

Twitch. "Maksudmu aku norak seperti mereka? Jangan samakan aku dengan mereka, Chouji!" Ino mencubit kedua bela pipi itu hingga melar. Temannya—yang entah bagaimana caranya—dalam situasi genting begini masih bisa menggiling makanan.

"Kalian dengar? Dia bilang alisku imut!" Lee tampak berbinar-binar dan melambai penuh semangat, mencerminkan kobaran semangat masa mudanya yang terketuk karena ada yang memuji alis tebalnya.

"Iya, iya," tanggap Tenten pada Lee yang sangat antusias dengan pujian unik itu. Gadis dengan rambut coklat dicepol dua itu mengalihkan pandangan pada pemuda Hyuga yang tetap memasang raut wajah datar. "Memang Byakugan bisa dipakai untuk mengetahui isi hati seseorang, ya?"

"Tentu tidak. Abaikan saja mereka," jawab Neji tegas.

"Aku bukan vampir," tukas Kiba keras-keras ketika Akamaru melayangkan pandangan bertanya padanya. "Astaga… soal seksi itu bikin aku merinding!"

Shino memilih merapatkan kacamatanya. Ia tidak akan membukanya, memerlihatkan mata sama dengan mengekspos isi hati—atau begitulah persepsi yang dianut olehnya. "Kau tidak perlu menahan tawa kalau kau menganggap semua ini lucu, Hinata."

Hinata mengulum senyum. "Ma-maafkan a-aku. Mereka sangat ka-kagum pada kalian. Hanya cara menyampaikannya saja—"

Sakura yang tertawa paling puas. "Kadang aku tidak tahu harus bersyukur atau kesal jika bersama kalian dan dihadang masalah aneh seperti ini."

Sasuke menyeringai. Menyebabkan jeritan heboh kian memeriahkan suasana aneh di awal musim dingin itu. Pemuda itu mendengus geli, dalam hati mensyukuri ia tak perlu lagi melihat situasi horror yang dari zaman rekipli sampai sekarang selalu dialaminya atau pun menghadapinya sendirian.

Sai dengan percaya diri dan senyum—palsu terpintas di benak ketiga teman setimnya—mautnya itu melambai ramah pada gadis-gadis yang lekas tersipu-sipu karenanya.

Di sisi lain, sang Hokage muda tertunduk lesu. Padahal niat awalnya adalah berburu tempat dengan teman-temannya untuk misi kecil-kecilan mereka—sekaligus menjalin kembali persahabatan di antara mereka yang sempat merenggang. Kenapa jadi begini? Kalau mereka di sini terus, tidak terjamin keselamatan tanpa berkas luka akibat histeria-mania itu. Tidak, tidak. Dia harus melakukan sesuatu. Mau dikemanakan wibawanya sebagai Hokage?

"Cepat lakukan sesuatu sebelum kita mati digilas, Dobe," sahut Sasuke tenang.

"Perintahmu, Hokage-sama?" Shikamaru melirik pada Naruto yang menundukkan kepala, menyebabkan airmukanya tak dapat diketahui akibat helai-helai poni pirang yang menutupi wajahnya.

Gadis-gadis yang merupakan fangirls terdepan Naruto Uzumaki kian agresif melangkah maju untuk menggapai pemuda maniak ramen itu. Terbelalak, Naruto menarik kursi roda Sasuke untuk mundur merapat pada teman-temannya.

"Ah, menurut salah satu buku yang kubaca, jika berhadapan dengan perempuan-perempuan itu kau butuh tameng, Naruto," cetus Sai, senang karena berhasil mengingat salah satu tips dari sepuluh kiat menghadapi fangirls berani mati.

"Tameng?" gumam Sakura tak mengerti.

Sai menengok pada Sakura, tersenyum untuk menampakkan keantusiasannya. "Misalkan, berjalan bersama cewek agar cewek-cewek yang mengejarmu merasa kecewa, atau semacamnya."

"Pokoknya, lakukan sesuatu atau aku terpaksa menyuruh Akamaru agar mengejar mereka semua!" seru Kiba yang menghalau tangan-tangan yang terjulur padanya.

"Itu tidak etis, Kiba-kun," tanggap Sai tidak setuju.

"Peduli etis atau apalah. Aku sesak napas, nih!" protes Ino.

"Aah… jadi inikah perasaan artis-artis…" ucap Lee—anehnya—sarat keharuan.

Pemuda-pemudi yang tersudut di sentral atensi itu mulai saling mengeluh diselubungi kepanikan, memaksa Naruto membuat keputusan yang berlawanan dengan keinginan hatinya.

"Diam!" Suara bariton dalam itu membuat teman-temannya bungkam. "Kita berpencar saja. Cari tempat yang memiliki pemandangan indah atau layak untuk diadakan acara, dua jam dari sekarang semua berkumpul lagi di kantorku!" perintah Naruto pada teman-temannya.

"Hai'!" seru hampir semua dari teman-temannya serempak.

"Sai, bawa Sasuke ke tempat aman!" pinta Naruto seraya mendaratkan satu tepukan sekilas di bahu temannya yang menahta kursi roda.

"Serahkan saja padaku." Sai mengambil alih kursi roda Sasuke dan Naruto bergeser sedikit ke samping kiri. Ia melihat Naruto memasang ancang-ancang untuk melompat ala ninja, menyelamatkan diri dari cewek-cewek yang menyukainya bukan kepalang itu, namun mengulurkan salah satu tangannya ke belakang mencari tangan seseorang yang hendak digapainya. Terbersit sebuah ide—mengusili seseorang memang bukan sifatnya—brilian di benaknya. Ia menarik lengan berbalut jaket itu—menyebabkan empunya lengan itu nyaris terjengkang, meletakkan tangan putih pucat itu tepat di atas tangan berkulit tan milik Naruto yang lekas menggenggamnya erat-erat.

Merasa ia berhasil menggenggam tangan seseorang yang diinginkannya, Naruto diam-diam tersenyum dalam hati. Menyembunyikan secuil kegembiraannya dengan baik di balik wajah yang menyiratkan ketegasan, ia mengangkat kepala menatap lurus ke depan, dan berseru, "Bubar!"

Sekerjap mata sosok-sosok ninja itu lenyap bahkan tanpa menyisakan kepulan asap. Berlompatan menjejaki atap dengan kecepatan tinggi, berpencar ke berbagai arah untuk melaksanakan perintah Hokage yang sempat tertunda karena insiden tak terduga ini.

Kiba yang naik di atas punggung Akamaru menyeka buliran keringat yang mengalir di pelipisnya. Pemuda dengan tattoo segitiga berwarna merah terlukis di pipi itu menghela napas lega. "Kupikir kita akan terjebak selamanya di sana…"

"Kiba, di mana Hinata?" Pertanyaan dari Shino mengalihkan pandang Kiba untuk menatap rekannya yang setia berkacamata hitam itu.

"Eh, tadi masih bersama kita—" Kiba menjulurkan kepala ke arah gerombolan gadis yang sekarang saling seruduk dan menyalahkan satu sama lain. "—apa kita meninggalkannya sendirian jadi roti lapis? Hinataaa!" serunya panik.

Akamaru turut menggonggong seakan memanggil gadis yang selalu baik dan lembut walau dia anjing itu. Sampai suara sapaan Sai membuat ketiganya memfokuskan perhatian pada tim tujuh yang berada tak jauh dari mereka.

"Tenang, Kiba-kun. Hinata-san akan baik-baik saja bersama Naruto," ujar Sai dengan senyum penuh artinya.

"Dalam posisi serabutan seperti tadi, bagaimana kau bisa tahu Naruto bersama dengan Hinata?" tanya Sakura heran, membiarkan kedua tangannya bertumpu di pegangan kursi roda Sasuke.

"Hmm…" Sai memasang tampang pura-pura berpikir keras, "…karena aku membuat mereka bersama-sama?"

Respon "HAH?" kencang dari Sakura dan Kiba, serta gonggongan Akamaru tak digubris oleh Sai.

Sasuke mendengus geli. Ia mengerti modus Sai berlaku demikian. "Kau licik, Sai."

Pemuda mantan Black ANBU kebanggaan Konoha itu tersenyum misterius. "Sebut saja aku cerdik, Sasuke."

.

#~**~#

.

Naruto berhenti berlari kesetanan menyeret orang yang tangannya ia genggam. Keduanya jatuh terduduk di atas pohon, tempat yang sama seperti beberapa hari silam mereka datangi, berhujan. Tempat yang enam tahun dulu Naruto berlatih ujian pra-chuunin.

"Haaaah … kita istirahat dulu baru survey, Saku—" Naruto menoleh ke belakang, mata lazuardinya hampir meloncat keluar dari rongganya, "—ke-kenapa … kenapa kau, Hinata?"

"Bu-bukan Sakura-san. A-Anda yang menarik saya…" Hinata terengah-engah mengatur napas, lantas menundukkan kepala dalam-dalam, berkata sambil menahan napas, "Ma-maaf, Hokage-sama."

Naruto terpaku kaku.

Hinata tergugu lugu.

Sebuah tangan tan masih mencengkeram pergelangan tangan berkulit langsat yang mulai memerah. Tergantung bisu di udara.

.

Tsuzuku

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Besok pengumuman kelulusan, tapi kok saya sableng banget malah update fic ini. OTL

Ano, saya merasa Naruto super OOC di sini—karena suatu alasan yang masih merupakan misteri ilahi uhuk uhuk. Tapi kok dibilang keren? Orz

Anw, jangan saya dimarahin dan diterror dong. *mojok kais tembok*kalo soal update yang naudzubillahimindzalik ya karim saya dzalim banget sama RnR sendiri, itu saya sungguh mohon mohon dari lubuk hati yang paling dalam. Tapi untuk cerita, aduh maaf banget. Ini cerita saya, ber-genre dan plots seperti ini, tolong jangan menuntut untuk dirombak. *bungkuk dalam-dalam*

Mungkin kenapa update-nya lama, mengesampingkan RL saya yang hectic-chaos, karena saya selalu mengusahakan fic/chapter terbaik untuk seluruh fic NaruHina saya—TOP OTP soalnya. X")

Silakan mampir ke fic saya yang lain, ya! Terima kasih. :"D

.

We are NHL! We are FAMILY! Keep stay cool, Friends! ;D

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan kehadirannya. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan (LoL)