Disclaimer: I don't own Bleach but I want to! Izuru needs a girlfriend, dang it!


"Kuchiki Rukia, calon pewaris Klan Kuchiki sekaligus adik dari Kuchiki Byakuya, CEO Kuchiki Zaibatsu, dinyatakan hilang. Hal ini diketahui pertama kali oleh Yamada Hanatarou, asistennya, setelah beberapa panggilan teleponnya tidak dijawab. Sampai sekarang, Kuchiki Byakuya masih menolak memberi keterangan tentang kejadian ini yang memaksa publik bertanya-tanya: apakah peristiwa ini berkaitan dengan pernikahannya dengan Shiba Kaien yang akan digelar dua bulan lagi?"

Seandainya ini adalah film kartun, bisa dipastikan rahang Rukia sekarang sudah menyentuh tanah.

Rukia menatap kosong televisi yang tergantung di sudut kafe. Ini lucu sekali. Jauh-jauh ia pergi dari Tokyo ke Karakura hanya untuk melihat dirinya di berita lagi? Tidakkah seharusnya kota ini menyediakan kehidupan yang low profile, sebuah tempat yang menawarkan perlindungan, jauh dari semua publikasi, jauh dari kehidupan sebelumnya?

Dan tentu saja mereka tahu tentang rencana pernikahan itu, serapat apapun kakaknya menyembunyikannya dari publik untuk sementara waktu. Tsk. Wartawan…

Rukia melihat ke sekelilingnya. Ia merasa agak lega karena tak seorang pun tampak memperhatikan berita yang tengah ditayangkan di televisi yang digantung di sudut kafe ini. Bagus. Tepat seperti yang dia cari: tempat tanpa kerabat, kenalan, dan teman. Rukia yakin saat ini di depan mata semua orang, dia tak lebih dari seorang gadis biasa. Dengan rok ungu selutut, sweater putih, dan sepasang flat shoes, ia tampak begitu polos. Tidak seorang pun akan menduga bahwa dia bisa membeli kafe ini dengan hanya satu kali menjentikkan jari.

Atau menandatangani kertas.

Baiklah, kembali ke isu utama. Sekarang satu-satu nya masalah adalah, let's see…

Dimana ia akan tinggal? Dan pertanyaan itu memancing satu pertanyaan lagi: bagaimana dia hidup?.

Rukia ber'aha' pelan.

Benar. Dia akan menemukan pekerjaan.

Dan apa yang seorang arsitek lulusan Sorbonne seperti dia bisa lakukan? Hah! Hampir semua, tentu saja—tunggu!

Tidak bisa. Tidak, tidak, dia tidak bisa. Dia butuh pekerjaan yang sangat, sangat, low-profile. Yang tidak mengekspos dirinya pada masyarakat luas; pekerjaan di mana interaksi dengan banyak orang adalah hal yang tidak perlu.

Pelayan? Tidak mungkin. Ingat, interaksi dengan sekelompok orang adalah a big no-no.

Pengasuh? Lucu sekali! Kebetulan dia sangat menyukai anak-anak. Dan mungkin orang tua mereka nantinya adalah orang-orang yang selalu sibuk bekerja dan jarang di rumah. Tapi bagaimana jika dia kemudian harus pergi ke sekolah juga, ke taman, ke pesta ulang tahun teman si anak… Tidak. Interaksi lagi.

Guru TK? Oh Tuhan, Itu akan sangat menyenangkan! Rasanya pasti tidak seperti sedang bekerja—tunggu.

'Bagian mananya dari 'interaksi dengan sekelompok orang' yang tidak kau mengerti, Rukia?' Dia memarahi dirinya sendiri. Bodoh sekali. Apa jangan-jangan jauh dari Tokyo membuatnya bebal? Ya Tuhan, radiasi merkuri di kota itu telah menggerogoti kecerdasannya.

"Um… Nona?" Rukia mengangkat satu tangannya pada pelayan yang kebetulan sedang lewat dengan membawa baki kosong.

"Ya? Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk Anda? "

"Sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan. Dan, um, jujur saja saya tidak begitu pintar berurusan dengan orang-orang sehingga yah, Anda tahu lah, maksudnya. Saya perlu mencari pekerjaan yang tidak mengharuskan saya untuk membuat kontak dengan banyak orang. Jadi saya ingin tahu apakah Anda dapat membantu saya", kata Rukia malu-malu padahal sebenarnya tidak. Tidak satupun orang-orang yang telah mengenalnya akan menyebut dia sebagai gadis pemalu. Tidak dengan lidah tajamnya.

Sambil bergumam, si pelayan meletakkan jari telunjuk di dagu runcingnya. "Saya kira bisa."


"Kau baik-baik saja, Kenpachi. Belum akan mati untuk beberapa abad kedepan."

Pria tinggi besar dengan rambut aneh itu mendengus. "Aku tahu. Salahkan wanita itu yang terus-terusan menyuruhku datang kesini. Tsch. Di mana-mana wanita sama saja. Selalu meributkan hal bodoh." Ia bangkit dari kasur periksa dan mulai mengancingi kemejanya.

Dokter yang barusan memeriksanya, seorang pria muda berambut oranye, hanya tersenyum singkat. "Maksud Unohana-sensei baik dan kau juga tahu menjadi yakuza bukanlah pekerjaan aman. Aku mengerti alasannya. Lagipula menurutku, sudah saatnya kau mendengarkan kata-kata orang yang akan menjadi istrimu".

Si pria seram itu, Zaraki Kenpachi, menatapnya dengan kesal. "Aku mengerti kenapa kau menjadi junior favoritnya, Ichigo. Kau mulai bicara seperti dia."

"Tutup mulut."

"Sissy. Kalau begitu aku ke ruangan wanita itu dulu."

Kurosaki Ichigo hanya melambaikan tangannya dengan malas. "Yeah, yeah, yeah."


Mata Rukia bergerak-gerak lincah membaca papan pengumuman itu dengan teliti. Si pelayan tadi memberitahunya bahwa dua blok dari kafe, akan ada sebuah papan lumayan besar di mana orang-orang biasa menempelkan pengumumannya.

"DICARI: Anjing jenis Shetland Sheepdog. Bulu bewarna putih bersih. Hilang sejak seminggu yang lalu"

"Ya ampuuun, lucu sekali anjingnya!" Rukia menjerit kecil. Matanya berbinar-binar memandangi foto si anjing.

"APAKAH ANDA MERASA HIDUP BEGITU MENYEDIHKAN KARENA BERAT BADAN DI LUAR KENDALI? COBALAH PRODUK KAMI!

"Apa maksud iklan ini? Pelecehan."

"Kau dimana, Fujiwara Nanako? Aku merindukanmu. Pulanglah. Aku berjanji akan menceraikan istriku yang sekarang. Your love always –Kurugi Yuuji."

"Hah? Tega sekali dia. Iklan ini merusak rumah tangga!" dengan segera, dicabutlah iklan itu oleh Rukia.

"DICARI! Calon istri untuk putraku! Kumohon, Nona. Siapapun dirimu. Putraku tidak jelek-jelek amat, kok. Walaupun memang masih lebih tampan aku. Dia seorang dokter (GIRLS, YOU DIG DOCTORS, RIGHT? RIGHT?), lulusan Tokyo Daigaku, ban hitam karate, dan aku khawatir dia gay! Padahal aku ingin segera punya cucu! Hubungi aku di nomor ini. –Kurosaki Isshin"

Rukia bengong. "Kota ini aneh sekali."

"Dicari: seorang house keeper untuk bekerja pada seorang pria lajang di apartemen. Jam kerja dari 06.30 sampai 04.00. Mungkin bisa lebih lama dan jika jam kerja Anda lebih panjang dari penjelasan di iklan ini, akan ada kompensasi khusus. Hubungi aku untuk detilnya. –Ishida Uryuu."

Rukia terdiam sebentar setelah membaca iklan yang satu itu. Lajang dan tinggal di apartemen. Dua kata yang terdengar rukun dan berdampingan dengan 'isolasi'. Berarti pas dengan apa yangs sedang dicarinya!

Tapi housekeeper? Maksudnya seperti PRT, kan? Apa kata Nii-sama nanti kalau ia tahu adik kesayangannya, putri kebanggaan dari klan Kuchiki, lulusan arsitektur Universitas tersohor dunia, bekerja sebagai PRT?

'Ah, tapi Nii-sama kan tidak tahu. Dia tidak perlu tahu. Lagipula tidak masalah, kan? Aku biasa mengurus rumah. Selama di Prancis, aku toh, hidup sendiri.' pikir Rukia sambil berusaha menyingkirkan bayangan kakaknya dari pikiran.

Rukia segera mencatat nomor telepon pria bernama Ishida Uryuu itu dan langsung mencari telepon umum terdekat. Dengan keadaannya sekarang, sangat tidak mungkin ia menggunakan ponsel. Bagaimana jika Nii-sama melacak nomornya? Risikonya terlalu besar.

Tak jauh dari papan yang penuh dengan pengumuman absurd itu, akhirnya Rukia menemukan benda yang ia cari. Segera dipencetnya nomor yang tertera di notes Chappynya.

Nada tunggu.

Klik.

"Halo, dengan Ishida Uryuu? Saya membaca iklan Anda, Tuan."


Ishida Uryuu segera menegakkan badannya saat gadis di ujung telepon menyebutkan kata 'iklan'.

"Dengan siapa saya bicara sekarang?"

Wanita itu terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab "Ichinose Rukia."

"Baiklah Nona Ichinose. Apa Anda mengerti ataukah ada beberapa hal lagi yang ingin Anda tanyakan?"

"Lebih tepatnya, ada beberapa hal yang saya ingin beritahukan. Tapi uang saya tidak banyak, jadi tidak bisa lewat telepon. Bisakah saya bertemu?"

"Tentu saja. Saya ada waktu luang sampai dua jam kedepan. Kita bertemu sekarang saja?"

"Kalau itu tidak merepotkan Anda."

"Tidak, Nona."

Setelah memberitahu tempat bertemu, Ishida segera menutup sambungan untuk kemudian memencet nomor telepon lain. Selang beberapa detik, orang yang ia hubungi mengangkat teleponnya.

"Mau apa?"

"Selamat sore juga, Kurosaki. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sedang akan bertemu dengan orang yang berminat menjadi house keeper di apartemenmu. Sekarang kau bisa mengucapkan terima kasih padaku."

Lalu sambungan diputus, melindungi Ishida dari seruan kaget temannya.


Rukia menggoyang-goyangkan kakinya santai. Saat ini, ia sedang duduk di atas bangku di tepi taman yang tadi dimaksud oleh Ishida Uryuu. Sebetulnya perutnya sudah mulai keroncongan, tapi ia kan harus menghemat uangnya. Nanti saja sekalian makan malam.

Belum lama ia di sini, tapi Rukia sudah bisa merasakan bagaimana hidup dengan uang pas-pasan. Ia memang selalu tahu bahwa hidupnya jauh lebih beruntung dibandingan sebagian besar penduduk dunia. Tapi ia lebih sering menjalani hidupnya sesuai dengan pola yang ia kenal sejak kecil. Jarang betul-betul meresapi keberuntungannya, jarang menghitung apa yang sudah dimilikinya.

Rukia bukan tipe gadis kaya manja yang tinggal berteriak demi memiliki apa yang diinginkan dan berteriak lebih keras jika ia tak mendapatkannya. Rukia banyak terlibat dalam program sosial dan CSR perusahaan kakaknya, tapi ia belum pernah berada di posisi orang-orang yang dibantunya.

"Lama menunggu?"

Rukia mendongakkan kepalanya dan melihat seorang pria, usianya mungkin tak jauh dari usia Rukia sendiri. Rambutnya hitam agak kebiruan, memakai kacamata, berkulit sedikit pucat. Pendek kata, pria ini tampan juga.

"Tidak juga. Silakan." Rukia bergeser sehingga kini terdapat ruang lebih untuk Ishida duduk.

"Aku membawakan ini untuk Anda." Ishida menyodorkan gelas styrofoam yang dari aromanya kemungkinan besar adalah coklat panas dan kotak bertuliskan 'Madeira Egg Tart'. "Anggap saja tanda perkenalan."

Rukia tampak terkejut dan senang menerimanya, lalu wajahnya segera menyiratkan rasa bersalah. "Tapi saya tidak membawa apa-apa untuk Anda."

"Tidak apa-apa. Jadi, apa yang ingin Anda katakan pada saya? Dan jangan malu-malu, kita akan sering bertemu. Jadi sebaiknya kita akrab sejak sekarang."

Rukia menggigit-menggigit bagian bawah bibirnya. "Begini. Aku… orang baru di Karakura. Aku kemari tidak membawa banyak, hanya sedikit uang dan tas berisi baju dan beberapa barang penting. Tas itu sekarang ada di motel. Aku tidak punya siapa-siapa, tidak kenal siapa-siapa. Jadi bisakah Ishida-san memberiku tempat tinggal? Aku akan lebih… apa ya, istilahnya… accessible. Jadi kapanpun dibutuhkan, aku bisa langsung ada. Dan aku bisa melakukan lebih banyak hal dibandingkan dengan kalau aku harus bekerja dari jam setengah tujuh sampai jam empat saja."

Dilihat dari reaksinya yang tak langsung menajwab, Ishida tampak sedang memikirkan hal ini masak-masak. Lalu –Rukia tidak yakin apakah ia melihat sesuatu dengan benar, pria itu tersenyum. Senyumnya kecil, sangat samar.

"Baiklah. Tapi kau harus menyediakan makan malam juga, kalau begitu." Ishida mensyaratkan.

"Tidak masalah." jawab Rukia segera.

"Bagus. Dan, Ichinose-san, sebetulnya Anda tidak akan bekerja untuk saya, tapi untuk seorang teman saya."


"Masih bekerja, Kurosaki?"

Seorang pria dengan rambut oranye memiringkan kepalanya untuk melihat orang yang bertanya. "Tidak, aku hampir selesai. Malah aku sudah mau pulang. Memulai shift-mu lebih awal, Ishida?"

Ishida Uryu mengangguk. "Ada yang harus kuurus."

"Tsk. Santailah sedikit. Bersikap kaku tidak akan membuatmu lebih mudah mendapatkan anak dari ilmuwan gila itu."

"Santai sedikit? Lihat siapa yang bicara. Dan aku tentu tidak perlu saran darimu tentang sebuah hubungan. Kau sendiri juga payah di departemen itu. "

Kurosaki Ichigo hanya mengangkat bahu. "Terserah. Sampai besok, Pensil. "

"Hey, tunggu. Ini soal housekeepermu."

Ichigo menggeram kesal. "Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak perlu penjaga rumah, bodoh."

Ishida mendorong kacamatanya naik. "Dengar, Kurosaki. Aku tidak melakukan ini untuk dirimu. Kau tahu kan, ayahmu telah memaksaku untuk tinggal seatap denganmu supaya 'ada yang menjaga dan mengurus putra bodohku tersayang'. Kau pikirkan saja betapa mengerikannya ide itu. Dan sampai kau memiliki orang yang mau dan bisa mengurusmu, ia tak lelah menelpon dan membujukku."

Ichigo hanya menghela nafas sambil dalam hati menyumpahi kelakuan ayahnya yang memalukan.

"Baiklah. Siapa orangnya?"

"Namanya Ichinose Rukia, dari Tokyo. Dia baru di sini. Saat kau sampai di apartemenmu nanti, seharusnya dia sudah ada dan menunggumu di sana."

"Ini merepotkan sekali." Ichigo mendecak kesal.

Dengan itu, ia pun akhirnya meninggalkan ruangan. Dia bahkan tidak repot-repot melepas jas dokternya dan membawa tasnya dengan gaya seolah-olah ia tidak peduli jika tasnya disahut atau dirampok oleh orang yang lewat. Stetoskop terlipat manis di saku jasnya. Perawat dan kolega sesama dokter mengangguk soapn padanya setiap berpapasan.

Kurosaki Ichigo: seorang pria 24 tahun yang tampan. Banyak yang menganggap rambutnya aneh dan sedikit ofensif, tapi sebenarnya rambut itulah salah satu dari banyak hal yang membuatnya menarik. Tambahkan kerutan semi-permanen di dahinya, tubuh tegapnya, dan sikap dinginnya maka kau akan punya satu pria yang luar biasa keren. Bukan berarti ia juga menyadari fakta ini, sih.

Ichigo melihat arlojinya. 20:00. Sekarang, jika ia adalah salah satu dari orang-orang seusianya kebanyakan, ia tidak akan langsung pulang ke apartemennya. Ia akan mampir ke kedai atau kafe di pinggir jalan, karaoke, minum sake, dan makan malam. Tapi satu hal tentang Kurosaki Ichigo adalah bahwa ia tidak sama dengan pria-pria di luar sana.

Sesampainya Ichigo di depan kompleks apartemennya, Ichigo melihat seorang gadis bertubuh mungil sedang duduk agak meringkuk. Angin malam yang dingin membuat gadis itu semakin merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri.

"Ichinose Rukia?"

Gadis itu mendongak. "Ichino—ah, ya. Ichinose Rukia."

Saat mereka akhirnya bertatap wajah, satu hal yang langsung menyita perhatian dokter muda itu adalah mata si gadis. Matanya besar, tidak seperti mata gadis Jepang kebanyakan. Selain itu, irisnya berwarna violet keabuan.

'Apa gadis ini orang asing? Tapi wajahnya Jepang sekali', batin Ichigo.

"Kurosaki Ichigo. Kita langsung masuk saja. Oh, dan pakai ini." Ichigo menyodorkan mantelnya pada si gadis bermata cantik. "Kau terlihat menyedihkan kedinginan seperti itu. Seperti kucing di jalan yang kurus karena jarang makan."

Rukia menatapnya tak percaya. Menyedihkan? Mirip kucing jalanan? Mulut pria ini betulan perlu dicuci air keras. Tidak sopan.

"Saya memang membutuhkan pekerjaan ini, Tuan. Tapi itu bukan alasan Anda bisa menyebut dan menyamakan saya dengan apapun yang berhubungan dengan binatang." tegur Rukia.

Ichigo tampak kaget saat Rukia berkata begitu. Ia membalik badannya dan mengamati Rukia, kali ini dengan lebih teliti.

Tingginya kira-kira tigapuluh senti lebih pendek darinya. Rambut hitamnya pas sejajar dengan rahangnya. Kulitnya bersih pucat seperti porselen. Dan pembawaannya… Ia membawa dirinya dengan bangga. Gadis itu berdiri tegak, dagunya agak terangkat (dan Ichigo yakin itu bukan hanya karena ia berbicara dengan orang yang lebih tinggi darinya), tangannya terlipat di depan pahanya. Ichigo merasa gadis itu tak bermaksud demikian, tapi tetap saja ada semacam arogansi dan aura yang menuntut adanya penghormatan menguar dari dirinya. Cara ia berdiri, cara ia bicara, tone yang ia gunakan ketika berbicara, semuanya seakan menjerit 'aristokratik'.

"Siapa namamu tadi?"


A/N: Hai, salam kenal. Ini fic dalam Bahasa Indonesia saya yang pertama, loh. Gimana? Layak diteruskan? Atau gak usah aja? Mohon kritikannya. Dan kalau berkenan, mohon baca juga fic2 saya yang lain, ya? Hehehe…