A/N. Please read.

Saya ga pernah lupa fic ini. Malah, saya kadang masih suka baca (dan kemudian meringis geli karena, "omg was I this bad?"). It wasn't writer's block, karena saya sudah tau ke mana arah fic ini. Saya sudah punya bayangan detail tiap adegan (no, I'm not kidding). It wasn't because I was rather occupied either. Tapi cinta saya ke Bleach lagi rendah-rendahnya (dan kalau kalian baca manganya, you know you can't blame me :P) dan saya lagi seneng-senengnya sama fandom baru (any EXO stans here?). Tapi lalu saya inget tentang gimana saya masih dapet review every now and then, walaupun mereka pasti tahu saya sudah ga update sejak, oh… might as well forever. Dan itu bikin saya malu dan merasa bersalah.

Believe me I will not leave this fic unfinished. Updates may scarce (like, VERY scarce) but 'll definitely keep this going. Nesa loves you, manteman :')


Sebelumnya di A Housekeeper Heiress:

Zaraki Kenpachi tahu ada sesuatu yang sangat salah.

Apartemen itu tampak rapi; tak satupun barang yang salah tempat. Jendela-jendela dibiarkan terbuka, mengizinkan udara segar masuk. Aroma bunga samar-samar mengawang di udara.

Seperti tempat yang masih ditinggali pemiliknya.

"Tapi dia tidak ada."

Gadis kecil di punggungnya menyuarakan apa yang ada di pikiran kepala yakuza itu. Kenpachi tidak repot-repot menjawab.


Dengan sigap, ia bangkit dari ranjang. Mengambil jubah tidur dan mengikatnya dengan cepat, Byakuya membuka kamar tidurnya dan berjalan menuju ruang kerja. Sesampainya di sana, ia tak membuang waktu untuk mengangkat telepon dan memencet nomor yang mulai terasa familiar.

"Renji, kuharap amplop coklat yang kuberikan itu masih ada padamu. Pergilah ke Japan Times dengan membawanya. Aku ingin kau mengantarnya langsung ke pemimpin redaksi. Jangan biarkan seorangpun menyentuhnya, apalagi membukanya. Kau dengar aku? Aku ingin kau pergi. Sekarang."


"Ah, saya kira Anda sudah pulang."

"Profesi ini tidak mengizinkannya, kurasa."

Tatsuki tersenyum pada dua petugas keamanan yang berjaga di depan kantornya dan tanpa banyak bicara, ia memberikan dua papercup berisi kopi panas pada mereka.

"Arisawa-san—"

"Ambil saja dan temani aku mengobrol sebentar di sini. Kepalaku sedang penuh pikiran." Mengambil kopi bagiannya sendiri, Tatsuki memasuki pos jaga dan duduk bersila menghadap tv yang sedang menyiarkan siaran berita tengah malam walaupun akan sulit berkonsentrasi karena riuh jalanan distrik Shibaura menenggelamkan suara benda elektronik itu.

Ini bukan yang pertama kalinya untuk Tatsuki, berada di kantor seharian. Dalam beberapa kasus ia bahkan praktis bertempat tinggal di gedung The Japan Times.

"Kau senang bekerja di sini, Arisawa-san?" salah seorang sekuriti bertanya.

"Ya." Tatsuki menjawab tanpa perlu berpikir.

Kedengarannya gila karena pilihan karirnya juga jelas tidak bisa disebut utopis. Dimulai dari magang, ia sudah ada di sini sejak kuliah. Awalnya murni karena biaya hidup yang tidak bisa ia tanggung hanya dengan mengandalkan orang tua dan beasiswa yang bahkan tidak mencakup hal lain-lain di luar SPP. Namun setelah beberapa lama, Tatsuki menyadari ia jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Ia menikmati rasa penasaran dan curiga setiap kali ia melihat atau mendengar suatu kejadian yang untuk orang lain mungkin tidak besar. Ia menikmati duduk berjam-jam menunggu narasumber walapun sering pada akhirnya mereka ingkar janji dan menolak memberikan wawancara. Ia menikmati pencarian informasi mengenai seseorang—siapapun, jika itu bisa menambah detil sebuah kasus atau peristiwa.

Arisawa Tatsuki mendengar segala sesuatunya dan mempertanyakan segala sesuatunya.

"Oh, lihat. Kuchiki Byakuya-sama!" seru si petugas keamanan, mengagetkan Tatsuki dan rekannya yang tengah menyesap kopinya dalam damai. Tatsuki langsung mengarahkan perhatiannya ke televisi dan benar saja. Wajah tampan pria kaya raya itu muncul di berita tengah malam.

Entah apa yang ada di pikiran para wartawan bodoh itu. Kuchiki Byakuya tak akan pernah membuka mulutnya, itu sudah jelas. Mereka seharusnya mulai memikirkan cara lain untuk mendapat informasi.

"Bagaimana menurut Anda, Arisawa-san?" Giriko, salah satu satpam bertanya. "Anda tidak penasaran?"

Tatsuki mendengus. "Apa maksudmu? Tentu saja aku penasaran."

"Sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti ada apa sebenarnya. Anda punya teori?"

"Mereka bilang Kuchiki Rukia tidak ingin dijodohkan." Shisigawara, petugas lainnya menyahut.

"Kalau kau percaya spekulasi itu, Moe, kau lebih naif dari yang kukira." Komentar Tatsuki datar. "Kuchiki Rukia, bagiku, tidak terlihat seperti wanita yang mereka tulis. Lagipula dari kabar yang kudengar, mereka sudah dijodohkan sejak lama. Jadi untuk Kuchiki Rukia melarikan diri sekarang, itu sangat tidak masuk akal."

Sensasi ini sungguh menimbulkan dilema. Masyarakat begitu tertarik dan semua mediameliput, walaupun 90% isinya adalah spekulasi yang akan bagus jika dijadikan plot dorama atau semacamnya. Jujur saja, isu yang melingkupi klan Kuchiki (dan Shiba) adalah scope yang sangat bagus dan akan menarik banyak pembaca, tapi mereka tak mendapat satupun teori yang diyakini mendekati kebenaran.

Dan The Japan Times tidak menulis gosip.

Editornya sempat berpikir untuk mengubah angle berita dan membuatnya tampak bukan seperti gosip dunia hiburan (karena memang bukan), melainkan konflik yang menyeret nama dua pemain besar dalam dunia bisnis. Tatsuki segera memveto usul itu.

"Kita tak akan menarik jatuh harga diri surat kabar ini dengan memuat informasi yang bahkan kita tahu tidak benar," begitu katanya dulu.

Tapi itu bukan berarti kepalanya tak dipenuhi pertanyaan. Tatsuki tak akan mengizinkan mereka mengangkat tulisan apapun mengenai skandal ini sampai ia mendapat bukti untuk mendukungnya. Bukti yang mana tak kunjung didapat. Wartawan paling licin yang pernah dimiliki The Japan Times sudah banyak dan sering diturunkan untuk mencari berita, tapi Kuchiki Byakuya telah membuktikan dirinya jauh lebih hebat dan elusif dibandingkan separuh penduduk bumi.

Mungkin selama ini mereka melihat ke arah yang salah?, ia bertanya-tanya dalam hati.

Tatsuki mengeluarkan desahan panjang dan bersiap untuk kembali ke ruangannya ketika dilihatnya seorang pria berjalan tergesa memasuki gedung. Dua detik kemudian pria itu keluar lagi dengan wajah masygul dan berlari kecil mendatangi ruang sekuriti tempat Tatsuki berada.

Tatsuki mengamati pria itu dan setengah mati berusaha mencegah dirinya untuk bersiul.

Dalam standar umum pun dia terhitung tinggi sekali, mungkin sekitar 185-188. Dan tidak seperti banyak pria jangkung, ia tidak kurus. Bahkan saat ia mengenakan kaus v-neck putih bergambar karikatur Elvis Presley dan blazer hitam simpel sebagai luaran, Tatsuki bisa melihat pria itu tak asing dengan kegiatan fisik.

"Aku ingin bertemu dengan pemimpin redaksi di sini. Ke mana aku harus pergi?" ia bertanya.

Lewat ekor mata ditangkapnya Moe sudah nyaris menjawab, namun Tatsuki mengangkat tangannya. "Ada urusan apa dengan pemred kami?"

"Aku akan mengatakannya padanya saat kami bertemu."

Tatsuki melirik amplop coklat besar yang ia bawa. "Ini sudah tengah malam. Apa yang membuatmu yakin dia masih ada?"

"Bosku mengatakan padaku untuk bertemu dengannya, sekarang. Itu sudah cukup membuatku yakin pemimpin redaksi kalian belum pulang. Sekarang, bisa antar aku? Kakiku pegal dan aku tak berminat berlama-lama di sini."

Tatsuki mengerutkan keningnya. "Bosmu?"

"Yeah."

"Siapa?"

"Oh, yang benar saja." Pria berambut merah itu mengangkat kedua tangannya ke udara dengan ekspresi kesal. "Kalau aku katakan, apa aku bisa segera masuk dan melakukan urusanku?"

Tatsuki mengangguk dan mereka beradu mata selama beberapa detik sebelum akhirnya pria itu mendengus mengejek.

"Lupakan. Aku akan meminta tolong pada orang lain saja." Si jangkung membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menjauhi tempat Tatsuki berdiri.

Tatsuki masih belum bisa menebak-nebak apa yang telah membawa orang itu ke sini. Bisa saja dia teroris yang akan meledakkan gedung ini, atau pria mesum yang nekat, atau hanya selebriti kurang terkenal yang tengah mencoba terlalu keras. Dia orang asing dan Tatsuki tak mempercayai orang asing. Karena itulah saat Tatsuki berteriak dan mencegah pria itu melangkah lebih jauh, ia tak hanya membuat kaget si rambut merah tapi juga dirinya sendiri.


"Anda mau teh bunga?"

Menepuk-nepuk bagian depan kimononya, Unohana Retsu menggeleng lembut. "Terima kasih. Aku akan memanggilmu jika butuh sesuatu".

Menerima dengan sangat baik pesan tersembunyi di balik kalimat itu, Kotsubaki Sentarou segera berbalik untuk memberi Unohana waktu dan tempatnya sendiri.

Yakin bahwa Kotsubaki Sentarou telah betulan pergi, wanita itu mulai mengangkat gagang telepon dan memencet nomor yang telah dihafalnya di luar kepala. Ia tak perlu menunggu lama, untungnya, karena bahkan sebelum dering pertama habis, ujung lain dari sambungan diangkat.

Unohana terdiam, membiarkan lawan bicaranya mengeluarkan rasa kesal dan khawatir yang ia tahu sudah berminggu-minggu dirasakan.

"Katana dan benda tajam lain tak akan sanggup membunuhku, onna. Tapi aku tidak yakin dengan rasa cemas."

Unohana tersenyum kecil. "Zaraki-san," ia memanggil tunangannya, "aku sudah ada di sini, baik-baik saja, dan aku sedang menghubungimu melalui secured line. Bagaimana Yachiru?"

Zaraki menghembuskan nafasnya kasar. "Oh, hanya merengek tiga puluh menit sekali selama beberapa bulan terakhir. Bukan masalah besar."

Tak terpengaruh sama sekali oleh sarkasme, Unohana melanjutkan. "Aku senang. Sekarang setelah aku sudah sampai dengan aman di sini, hubungi Urahara Kisuke. Katakan padanya bahwa aku akan bertemu Ukitake-san dan kami mengharapkan perkembangan yang menjanjikan sebelum tiga hari atau segala sesuatunya akan sia-sia."

"Kau sadar kan, bahwa aku tak mengerti satu hal pun yang keluar dari mulutmu barusan?"

"Ya."

"Dan kau mengharapkan aku mengutipnya untuk pria gila?"

Unohana tertawa kecil. "Kalau begitu katakan pada Urahara bahwa 'manta ray sudah sampai di Sarang Belatung'. Cukup simpel bagimu?"

Zaraki mendengus tak sopan. "Terserah. Aku hanya perlu kau kembali dengan utuh."

Unohana menjawab halus. "Tentu saja."


Kedua orang itu mengendarai elevator dalam diam. Sementara pria asing itu berdiri dengan sikap bosan dan ekspresi tak tertarik di wajahnya, Tatsuki harus berusaha meredam perasaan tak nyaman di perutnya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tatsuki bertanya sambil memohon pada Dewa manapun yang masih terjaga agar pria di sampingnya ini tak menyadari wajahnya yang memerah.

"Maaf?"

Tatsuki tergagap. Sial, kenapa aku jadi bodoh begini? "Wajahmu familiar."

Si Jangkung mengangkat satu alisnya. "Uh, kurasa tidak."

Tapi Tatsuki menolak untuk menyerah. Mungkin lawan bicara tengah mengira ia sedang melancarkan manuver-manuver murahan yang klise dan sudah terlalu banyak diaplikasikan dengan tingkat kegagalan yang sangat tinggi, tapi Tatsuki benar-benar merasa pernah melihatnya.

"Di mana kau kuliah?" Tatsuki memulai wawancaranya.

"Keio." Pria itu menjawab pendek.

Oke. Jelas dia bukan teman sekampusku dulu. "SMA, kalau begitu."

"Seireitei."

'Sempurna. Aku tidak punya teman dengan high profile seperti ini,' Tatsuki mulai frustasi. 'Di mana aku pernah melihatnya? Di mana?'

"Dan kau, uh, tidak pernah tinggal di Karakura, aku yakin?"

"Tidak."

Tatsuki nyaris menjerit karena stres. "Oh, baiklah. Siapa namamu? Karena aku tidak peduli jika kau menganggapku tengah berusaha mendekatimu, tapi aku benar-benar merasa pernah melihatmu!" Dan lantai 10 tidak pernah terasa setinggi ini.

"Abarai Renji. Dengar, Nona. Aku minta maaf jika aku tampak tak tertarik dengan semua ramah tamah ini, tapi aku sedang diburu waktu dan masih harus bertemu dengan pemimpin redaksimu. Pemimpin redaksi yang aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya!"

Tatsuki nyaris meledak tertawa. "Oh, kau sedang berbicara dengannya."

Abarai memandangnya seolah ia baru saja berkata ia tengah mengandung pewaris tahta Jepang sebelum akhirnya menempelkan ujung telunjuk panjangnya di hidung Tatsuki.

"Kau!" Ia menuding. "Kau kira aku punya waktu untuk lelucon ini?"

Tatsuki mengangkat bahu. "Bukan lelucon, Abarai-san. Namaku Arisawa Tatsuki dan ya, aku memang pemimpin redaksi yang kau cari." Terdengar suara ding lembut dan pintu lift terbuka. "Nah, kita sudah sampai di lantai tempat ruanganku berada."

Tatsuki bisa merasakan tatapan tak percaya yang mengikutinya dari belakang. Menahan senyum yang entah bagaimana tengah memaksakan diri untuk muncul di wajahnya, Tatsuki mendekap amplop coklat yang sudah berpindah ke tangannya setelah ia menunjukkan kartu pers dan tulisan 'Ruang Pemred' pada Abarai Renji.

"Kau membuatku tampak bodoh," Renji menuduhnya.

"Aku tidak melihat yang demikian, Abarai-san," tolak Tatsuki tanpa menoleh ke belakang. Ia lalu membuka pintu ruangannya dan mempersilakan Renji untuk masuk.

Renji menggeleng dan menahan pintu itu. "Silakan masuk, Arisawa-san."

Pria itu berdiri dekat dengan Tatsuki—cukup dekat bagi Tatsuki untuk menyadari betapa Abarai Renji tercium wangi dan ada sesuatu yang sangat maskulin mengenainya.

Betul-betul membuatnya terdistraksi dan ia merasakan kedua pipinya memerah.

"Terima kasih," Tatsuki berkata, menolak untuk menatap wajah tamunya. "Silakan duduk."

"Tidak, terima kasih. Aku kemari hanya memastikan kau mendapatkan amplop itu dan menjadi orang pertama yang melihat isinya. Selain atasanku, maksudnya."

Tatsuki mengerutkan dahi. "Maksudmu kau tidak tahu?"

Renji hanya menggeleng.

"Dan atasanmu adalah…"

"Kuchiki Byakuya."

"Oh Tuhan."

Tatsuki seketika merasakan sensasi aneh yang merupakan campuran dari rasa penasaran, tak sabar, dan takut. Ia takut saat ia menyadari skala urgensi dari amplop yang tengah dibawanya sekarang, takut akan kenyataan bahwa ia tak hanya berurusan dengan sebuah rahasia—ia tengah berurusan dengan rahasia yang berhubungan dengan salah satu pria paling berpengaruh di Jepang.

"Kau baik-baik saja, Arisawa-san?" Renji menyentuh siku Tatsuki dan Tatsuki tiba-tiba tak punya waktu untuk tersipu. "Santai saja. Bukalah, dan aku rasa kau akan tahu apa yang harus dilakukan."

Tanpa banyak bicara, Tatsuki menarik nafas panjang dan membuka segel amplop coklat itu dan apa yang ia jatuhkan dari dalamnya sudah cukup untuk membuat kepalanya pusing.

"Abarai-san, kurasa aku perlu minum sedikit."

Abarai tampak murka. "Dan aku perlu membunuh seseorang."

Ia dan Abarai kini tengah melihat sekumpulan foto-foto yang jelas diambil diam-diam. Foto-foto Shiba Kaien dan high school sweetheart-nya, Miyako.

Salah satunya adalah mereka di atas ranjang dalam keadaan tak sopan.


Ichigo mengetuk-ngetukkan St. Dupontnya di atas meja, sementara satu tangannya yang lain menempelkan telepon genggamnya ke telinga.

Setelah percobaan kelima, panggilannya terjawab.

"Halo."

"Oyaji! Bisakah lain kali mengangkat teleponku lebih cepat?" suara ayahnya yang terdengar malas hanya memperburuk mood Ichigo.

"Aku sedang tidur," ayahnya merengek. Ichigo tak tampak terkesan.

"Cih. Memangnya kenapa kalau kau sedang tidur? Hey, Oyaji, apakah Rukia ada di apartemenku?"

Terdengar keheningan di ujung sambungan telepon sebelum kemudian ayahnya menjawab ragu. "Maksudmu dia sedang tidak bersamamu?"

"Untuk apa aku membawa Rukia ke rumah sakit malam-malam begini?"

"Oh?" Jeda lima detik. "Ichigo, aku belum melihat Rukia-chan sejak aku kembali."

Tanpa sadar, Ichigo menggenggam penanya dengan kekuatan ekstra. "Begitukah?" Ia bertanya pelan.

"Ya, begitu. Kau tahu ke mana Rukia-chan pergi?"

Tenggorokan Ichigo tercekat saat mengingat pria terakhir yang dilihat Rukia. "Tidak."

Ayahnya tak langsung menjawab, tapi mungkin dia merasakan ada yang aneh pada putranya. "Ichigo?"

"Aku… meninggalkannya dengan seorang temannya."

"Siapa temannya?" Isshin bertanya sabar, seolah ia sedang berbicara pada Kurosaki Ichigo yang masih berusia lima tahun.

"Kaien. Shiba Kaien."

Mungkin Ichigo salah dengar, tapi mungkin juga ayahnya memang baru saja menarik nafas tajam.

"Oyaji?"

"Kembalilah bekerja, Ichigo. Kalau itu memang temannya, aku yakin Rukia-chan baik-baik saja."

"Kau tahu ini sudah tengah malam, kan? Bagaimana kau tahu dia baik-baik saja?"

Isshin menghela napas panjang. "Ya, aku tahu ini tengah malam dan aku tahu Rukia-chan baik-baik saja—aku hanya tahu, entahlah."

"Oya—"

"Kalau dia sudah kembali, aku akan memberi tahumu." Isshin memotong dan berharap Ichigo berhenti bersikap keras kepala.

Ichigo praktis mengunyah bibir bawahnya, berusaha untuk mengatakan sesuatu pada Oyaji. Apa saja. Tapi saat ini memang tak ada yang bisa ia lakukan. Pada siapa lagi ia bisa bertanya? Ia tak tahu nomor yang bisa membantunya menjangkau, misalnya, Grimmjow.

"Baiklah," putus Ichigo akhirnya. "Kabari aku."


Rukia menimang-nimang kotak beludru kecil di tangannya. Ia belum membukanya sama sekali sejak Shiba Kaien mohon diri untuk kembali ke hotelnya tiga jam yang lalu. Ia sempat memaksa untuk mengantar Rukia pulang, namun Rukia tahu Isshin oji-sama pasti sudah pulang dan untuk alasan yang tak ia ketahui, ia tak ingin kedua pria itu bertemu.

Rukia juga tak ingin menerima hadiah ulang tahun ini; tidak jika kotak yang tengah digenggamnya menyimpan sesuatu yang ia curigai adalah sebuah cincin.

Cincin pertunangannya.

Ia tak tahu sudah berapa lama cincin Harry Winston ini ada pada kepemilikan Shiba. Apakah setelah kedua keluarga menetapkan pertunangan mereka? Atau setelah semua masalah ini—yang juga merupakan tanda permohonan maaf dari klan Shiba (atau Kaien pribadi) pada dirinya?

"Entah kau pemberani atau hanya mencari masalah."

Rukia refleks meremas kotak cincin dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Ia lalu mendongak.

Lawan berbicaranya tersenyum ramah.

"Ini sudah tengah malam, nona. Aku tahu Karakura bukan kota dengan tingkat kejahatan yang tinggi tapi kau tidak pernah tahu."

Rukia menggeleng. "Aku juga ingin pulang. Tapi kurasa aku tersasar."

"Mau kuantar?"

Rukia nyaris tertawa. Apa iya ia terlihat senaif itu? "Tidak, terima kasih. Tapi kalau anda tidak keberatan, bolehkah aku tahu arah ke rumah sakit? Aku akan ke sana saja dan bertemu dengan temanku."

Pria itu mengangkat kedua bahunya santai. "Tentu saja. Tunggu sebentar, biar kugambarkan denahnya untukmu."

Rukia merasa bersyukur sekali pria ini mau repot-repot. Setelah menunggu selama semenit, pria itu memberikan kertasnya pada Rukia. Tulisannya indah dan rapi sekali. Baru kali itu Rukia melihat tulisan tangan pria yang sama (jika tidak lebih) rapi dari tulisan tangan Nii-sama.

Rukia membungkuk. "Terima kasih banyak, tuan."

"Oh, sudahlah." Pria itu melambaikan tangannya acuh. "Jangan dipikirkan."

Rukia mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu," ia berpamitan.

"Ya. Oh, dan nona?"

Rukia berhenti untuk berbalik sejenak.

"Ingat. Berhati-hatilah. Kau tidak tahu siapa yang ingin berbuat tak baik padamu," pria itu tersenyum. Rambut ikal coklatnya bergerak-gerak kecil; mata menyorot ramah di balik kacamata perseginya.

Rukia berdiri mematung sebelum akhirnya mengangguk kaku.


A/N Maaf ya, chapter ini pendek dan nyaris ga ada IchiRukinya. Saya yakin yang baca pasti bete, hehehe. Maaf. Tapi it's picking up dan saya sudah mulai lagi, pelan-pelan :) Thank you for staying dan haluuuuu pembaca baruuuuu! Senang bertemu dengan kelien~