CERITA CINTA ROSE WEASLEY

Thanks buat teman2 yang dah review sebelumnya. Ini fiction yang sama, cuma di-edit dikit. Sorry, karena ku baru gabung jadi da masalah ma accountku.

Disclaimer: JK Rowling

Cinta

Rose Weasley sedang mencatat dengan tekun di kelas Sejarah Sihir, ketika sesuatu yang keras dan menyakitkan menghantam belakang kepalanya.

"Aduh...!" Rose menjerit sambil menyentuh belakang kepalanya, air mata kesakitan memenuhi matanya.

Dia mendengar dengusan tawa dari belakang, menoleh dan lihat Scorpius Malfoy dan dua kroninya, Alex Zabine and Vincent Goyle sedang menutup mulut berusaha menahan tawa. Malfoy sedang memegang tongkat sihirnya, rupanya dia baru saja menyerang Rose.

"Ah, Miss Wetherbay, ingin mengatakan sesuatu pada kita." Kata Profesor Binns, guru hantu Hogwarts yang selalu mengajar Sejarah Sihir dari entah sudah berapa generasi, sekarang sedang memandang Rose dengan pandangan bertanya dan seperti biasa agak heran karena melihat banyaknya orang dalam kelas.

"Profesor, aku ... aku ... " gagap Rose

"Jadi Gadis Pengadu sekarang, Weasley, ... " terdengar bisikan dari belakangnya.

Rose berbalik dan Malfoy sedang menatapnya dengan tajam sambil menyeringai.

"Profesor, sepertinya Weasley sedang sakit," kata Malfoy

"Tidak, Profesor. Aku baik-baik saja dan ..."

"Rumah sakit, Miss Weatherbay," kata Profesor Binns

"Tapi,..."

Profesor Binns telah kembali ke bacaan super membosankan tentang Perang Raksasa dan Perburuan Raksasa tahun 1918 dan suaranya yang membosannya, mendengung kosong dalam kelas. Anak-anak yang tadi sempat tertarik memperhatikan Rose sudah kembali pada tidur nyaman mereka di meja. Hanya Malfoy, yang menatapnya dengan puas, Zabine dan Goyle tertawa perlahan.

Rose memasukkan catatannya dalam tas dan melangkah keluar dari kelas. Dia melangkah menyusuri koridor dengan air mata memenuhi matanya. Bagus sekali, pikirnya, sekarang dia telah kehilangan kesempatan untuk mencatat tentang perang raksasa dan harus ke perpustakaan mlam ini untuk menyelesaikan catatannya dan sekarang yang lebih penting dia harus ke rumah sakit karenanya kepalanya berdenyut kesakitan.

Scorpius Malfoy tidak akan membiarkan satu hari dalam enam tahun mereka di Hogwarts, tanpa menyakiti Rose. Ada-ada saja yang dilakukannya, menyihir rambutnya menjadi hijau; menyerangnya dengan mantra terserimpit, sehingga kakinya keseleo; menyerangnya dengan mantra aguamenti yang menyebabkan dia harus mengikuti kelas sambil basah kuyup, Malfoy sudah setingkat lebih maju darinya dalam mantra-mantra untuk menyakiti orang, karena tiap kali dia memakai mantra pengering pakaiannya akan kembali basah; memberikan obat sakit perut di makan siangnya, membuatnya tak berkonsentrasi; menaburkan bubuk Itchi-Dust di tempat duduknya di kelas Ramuan, menggaruk badannya sepanjang pelajaran ramuan sehingga mendapat detense selama seminggu karena mengganggu ketenangan kelas. Yang paling menyakitkan adalah dia akan menjadi orang pertama yang dijadikan sasaran kalau Malfoy ingin mencoba mantra baru. Rumah sakit telah menjadi tempat yang sangat tak asing lagi baginya karena entah sudah ratusan atau ribuan kali dia dibawa kesana, karena pingsan, berdarah atau hal yang menyakitkan lainnya. Tapi, untunglah Malfoy dan Rose tidak berada dalam Asrama yang sama, Malfoy di Slytherin dan Rose di Ravenclaw. Mungkin dia akan menjadi hanya berupa potongan kalau mereka juga di tempatkan di asrama yang sama.

Sebenarnya, dalam hati Rose berharap di tahun NEWT mereka ini, Malfoy berubah semakin dewasa, membiarkannya sendiri. Dia juga telah berusaha untuk menghindari Malfoy, tapi rupanya Malfoy mengambil kelas NEWT yang sama; Sejarah Sihir, Rune Kuno, Arithmancy, Transfigurasi, Mantra, Ramuan, Pertahanan terdahap Ilmu Hitam, Astronomy, dan Herbology. Jadi sangat susah untuk menghindarinya.

"Wah, Miss Weasley, apa lagi sekarang?" tanpa sadar Rose telah sampai di Rumah Sakit, dan sekarang Madam Pomfrey sedang menatapnya dengan pandangan kritis.

"Kepalaku ..."

Rose tidak menyelesaikan kata-katanya, karena Madam Pomfrey telah menyeretnya masuk, sambil mengomel tentang orang yang tidak bisa menjaga diri. Rose menunjukkan benjolan di belakang kepalanya dan meringis kesakitan ketika Madam Pomfrey menyentuhnya, dan mengosoknya dengan ramuan yang berbau kemenyan.

"Baiklah, aku harus memeriksa apakah kamu geger otak atau tidak. Jadi, tenang dulu sebentar..."

Rose tinggal di rumah sakit sampai makan malam. Saat dia diijinkan kembali, anak-anak lain sementara menghabiskan ayam goreng mereka. Rose berjalan melewati meja Slytherin menuju meja Ravenclaw. Rose memandang sepanjang meja Ravenclaw mencari teman karibnya, Francess Nott. Francess Nott atau yang sering dipanggil Francy oleh Rose adalah seorang gadis manis berambut pirang panjang dengan mata indah berwarna coklat muda dan Rose telah berteman dengannya sejak tahun bertemu pertama kali di Hogwarts Express. Sifat Francy yang mudah meledak, namun baik hati ini sangat kontras dengan sikap Rose yang tenang dan selalu menghindari konfrontasi. Namun, keduanya dapat berteman dengan baik dan menikmati pertemanan merekan selama enam tahun ini. Dan Rose diam-diam juga mengetahui bahwa Francy diam-diam menyukai Albus Potter, sepupunya.

Rose melangkah perlahan dan duduk di samping Francy yang setengah jalan sedang menikmati ayam gorengnya.

"Hai...!"

"Oh, Rose, hai,... Dari mana aja, aku mencarimu..." tanya Francy menatap Rose dengan pandangan bertanya. "Kamu baik-baik aja, kan?"

"Tentu saja, dia tidak baik-baik saja!" kata suara di belakang Rose, dan sepupunya Albus Potter muncul dan duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Apa?" Francy memelototkan matanya, "Apa yang terjadi denganmu, Rose?"

"Tenang, ku nggak apa-apa kok?"

"Bo'ong, Rose,..." Albus menatapnya, "Kita di kelas yang sama Rose dan aku melihat Malfoy menyerangmu."

Yah, yah, seharusnya dia ingatkan? Meskipun tempat duduknya berjauhan, tapi Albus pasti memperhatikannya. Albus adalah sepupu dan temannya. Banyak hal yang rahasia maupun yang bukan yang dibagi bersamanya. Dia sangat mirip ayahnya, Harry Potter dengan mata hijau cemerlang yang menarik hati, meskipun tanpa bekas luka.

"Malfoy?" Francy mendesis, "Si Brengsek itu... biarkan aku menyerangnya, Rose"

"Jangan!" Rose cepat-cepat memegang tangan Francy yang sudah setengah bangkit dari tempat duduknya.

"Yah, yah, "Albus melototinya, "Selalu seperti ini kan? Kamu nggak membiarkan kami menyerangnya. Aku sudah ingin sekali meyerang si Brengsek itu sejak lama."

Albus menatap ke meja Slytherin dengan pandangan berapi-api

"Rose, kali ini aja, biarkan aku menyerangnya. Gimana? Aku bisa mengutuknya dari sini lho!" kata Francy meraih tongkatnya.

"Hentikan!" Rose menatap kedua sahabatnya. "Aku sudah memperingatkan kalian semua untuk nggak menyakitinya kan?"

"Ha ha ha" Albus tertawa tanpa rasa humor. "Untuk alasan aneh yang dulu itu lagi?"

"Yah, masih alasan yang lama, Albus" Rose memberi tekanan pada namanya. "Dan bilang pada Lily dan Hugo juga"

"Dengar, Rose" Francy merendahkan kepalanya dan menatap Rose. "Banyak cowok yang bersedia jadi pacarmu, Rose. Kamu cantik, pintar, Papa dan Mamamu terkenal dan kamu bisa mendapatkan cowok baik yang akan bisa mencintaimu. Dari pada si Bangsat Malfoy."

"Benar, Rose," tambah Albus, "Richard berencana mengajakmu ke Hogsmead sabtu ini."

"Aku nggak mau pergi dengannya." kata Rose

"Rose, bangsat itu nggak suka padamu,... Lihat dia, Rose," kata Albus menunjuk Malfoy di meja Slytherin yang sedang mengedipkan matanya pada Eliza Parkinson. "Kamu tau, Rose, Bangsat itu punya lebih banyak cewek dari pada Hugo dan bintik-bintik di wajahnya."

"Dia juga sudah menyakitimu selama enam tahun ini, dan dia akan terus melakukannya sampai,... mungkin saat kita meninggalkan Hogwarts. Jadi, biarkan kami menanganinya." Kata Francy.

"Kalian nggak boleh melakukannya,..." kata Rose tajam, "Aku pernah bilang dan selalu bilang sepanjang enam tahun ini untuk tidak menyakiti Scorpius... Dan aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyakitinya."

"Yah, yah, Scorpius Malfoy tersayang." Kata Francy bertukar pandangan kesal dengan Albus.

"Rosie, diam-diam aku berfikir, kamu ini dah ilang ingatan ato jangan-jangan kamu ini ... Masochist... Tau kan? Orang yang menyukai kekerasan dilakukan pada dirinya." Kata Albus.

"Kalian berdua nggak akan pernah mengerti perasaanku." Kata Rose

"Emang,... dan kami nggak akan mau berusaha mengerti,... Aku benar-benar dah bosan berdebat tentang Bangsat itu dengan kamu, Rose," kata Francy, "Dan satu hal, Rose, kalau kamu berharap ... menunggu Bangsat itu satu saat nanti jatuh cinta pada, yang sampai kapanpun tak akan pernah terjadi... Yah, silakan menunggu dan menjadi Perawan Tua... Ayo, Al, kita ke Perpus!"

Rose memandang Francy dan Albus berjalan meninggalkankan Aula Besar. Dia memandang Scorpius,... Yah, Scorpius, bukan Malfoy, yang saat ini sedang mengelus-elus tangan Parkinson di atas meja. Sebutir air mata jatuh perlahan di pipinya. Kalau boleh jujur memang seperti itu, dia sudah menyukai,... mencintai Scorpius sejak lama, bahkan sejak pertama kali melihatnya di peron 9 ¾. Saat Ron Weasley, ayahnya,menunjukkan seorang cowok sebelas tahun dengan rambut pirang yang hampir putih dan wajah ningrat berhidung mancung; Rose langsung terpana dan tidak mendengarkan sebagian apa yang dikatakan ayahnya, hanya samar-samar tentang mengalahkan Scorpius dan tidak menikah dengan darah murni.

Rencana Rose untuk bersahabat dengan Scorpius langsung terhambat saat itu juga, karena Scorpius, entah bagaimana menganggap Rose sebagai orang yang tepat untuk dijadikan sasaran latihan beberapa mantra yang telah dipelajarinya di rumah. Scorpius mengutuknya menjadi berbulu dan menyebutnya 'Darah Pengkhianat'. Sejak saat itu, Scorpius selalu menyakiti Rose di setipa kesempatan.

Tetapi, entah bagaimana Rose tidak bisa membencinya. Menganggapnya orang yang menyebalkan juga, tidak. Bahkan diam-diam, Rose menjadi suka dan akhirnya mencintainya. Rose mengganggap bahwa Scorpius adalah orang yang baik. Sebenarnya bukan anggapan saja, karena Rose beberapa kali telah menyaksikan kebaikan Scorpius. Scorpius telah membantu anak-anak kelas Satu yang tidak tahu jalan ke arah Aula Besar di tahun ke tiganya. Dia juga melatih teman-temannya bermain Quidditch, membela beberapa anak yang Hufflepuff yang dipermainkan anak-anak slytherin lain. Yah, masih banyak lagi kebaikan lain yang dilakukan Scorpius. Scorpius tidak pernah menyakiti orang lain, kecuali Rose. Jadi, diam-diam Rose berharap bahwa kelakuan Scorpius ini menunjukkan bahwa sebenarnya dia juga menyukai Rose, cuma belum menyadarinya saja.

Perdebatan tentang perasaan Rose terhadap Scorpius ini memang selalu terjadi. Dengan Albus, Francy, Lily dan Hugo, adik Rose; juga dengan sepupu-sepupunya yang lain, James, Fred, Roxanne, Dominique, Lucy, Molly, dan Louise, saat mereka masih di Hogwarts tentunya; menolak perasaan Rose dan mencoba membuatnya untuk menyukai orang lain yang menurut mereka lebih cocok untuk Rose. Tetapi sampai saat ini belum berhasil, karena Rose menganggap dirinya tidak bisa menyukai orang lain. Mereka mencoba untuk membalas Scorpius, tapi Rose telah membuat mereka semua berjanji untuk tidak menyakiti Scorpius, karena Rose tidak akan memaafkan siapa pun yang menyakiti Scorpius.

Rose menghapus air matanya dan meneruskan makannya. Yah, begitulah dengan cinta, butuh perjuangan dan kesabaran. Rose tidak akan berubah, akan terus menunggu Scorpius sampai menyadari bahwa dia juga mencintai Rose.

Review,please!