Pairing : SasuHina slight other pairing

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Note : Canon, dattebayo! Plot pertarungan SasuNaru setelah Naru berhasil mengalahkan Madara, maaf kalo ga nyambung abis saya lagi galau tingkat tinggi -_-

Okay, enjoy readers!

Permohonan

Cerita © Fergie Shappirerald11

.

.

xXx

"Chidori!"

"Rasengan!"

Tubuh Naruto dan Sasuke terpental beberapa meter setelah jurus mereka saling beradu, menciptakan kepulan asap bercampur debu tanah menyelimuti panasnya arena pertempuran.

Sasuke mendecih lalu bangkit berdiri, "Hanya seperti ini kemampuanmu? Masih jauh di bawahku! Kau yang ingin menghalangiku untuk menghancurkan konoha, hanya penghalang kecil—"

"Sasuke!" potong Naruto dengan nada membentak.

Sasuke terdiam ketika pria dalam mode sennin itu bangkit berdiri—sebelah tangan bertumpu pada lutut, mencoba bangkit berdiri sebisa mungkin.

"Aku akan menghentikanmu menghancurkan desa dan membawamu kembali ke desa," Naruto mengucapkannya tanpa ada rasa keraguan sama sekali—iris mata kotak sennin begitu tajam menandakan ucapannya bukan omong kosong belaka.

Sasuke mendecih, "Kau tidak akan bisa menghentikanku! Setelah membunuhmu, aku akan menghancurkan desa memutuskan semua ikatan! Dan membangkitkan klan Uchiha!"

Naruto hanya menatap sahabatnya itu.

Sasuke kembali melapisi tangan kirinya dengan chidori, "Kalian tertawa dengan pengorbanan Itachi tanpa tahu apa-apa! Aku akan balas dendam, dan mengubah tawa kalian menjadi jeritan!"

Naruto teringat kata-kata Minato Namikaze dan Nagato.

'Selama ada sistem shinobi, monster bernama kebencian akan terus lahir.'

'Kebencian tetap ada selama ada manusia, tak ada kedamaian dalam dunia terkutuk ini.'

Pemuda itu tidak menginginkannya.

Tangan tan Naruto terulur dalam keadaan terkepal, "Sudah kukatakan kita tidak bisa pakai cara biasa untuk saling memahami kan? Kau sudah menahan kebencian sangat besar—" Ia membuat satu kloning.

Pemilik mata onyx kelam menatapnya begitu dingin.

"—hantamkan semua padaku Sasuke. Aku yang menanggung kebencianmu dan kita mati bersama—"

Sasuke menggertakan gigi, "Kau hanya penghalang kecil untukku Naruto. Kaulah yang akan mati!"

'Kalian berdua sudah dipilih takdir sebagai penerus pertempuran. Akan kubuat Sasuke membuktikan keberadaan Uchiha.'

Naruto menggeleng saat ucapan Madara terlintas di pikirannya, "Sasuke. Pertempuran kita adalah takdir. Kita akan terus bertarung sampai mati."

Sasuke terkekeh, "Aku tidak akan mati, kaulah yang akan mati!"

'Jadi ini anak dalam ramalan itu.'

Naruto menghela napas sembari mengadah menandang langit keabuan, "Jika aku mati sekarang. Izinkanlah aku memohon, semoga kau serta semua Negara damai dan bahagia."

'Anak dalam ramalan.'

Kala itu bibir Sasuke menyeringai, "Omong kosong."

Bunshin Naruto menghilang ketika rasengan sudah tercipta di tangannya, "Sasuke—kau tidak pernah mengakui kekuatanku—sampai sekarang."

"Kheh … karena kemampuanmu jauh di bawahku,"

Naruto menunduk—memandang kosong pijakan tanah sebentar lalu menutup mata. Ingatannya perlahan terperosok ke masa lalu.

'Aku percaya padamu Naruto, karena mempercayai anaknya, apapun yang terjadi itulah sifat dasar orang tua.'

'Aku ingin melakukan sesuatu terhadap kebencian itu. Aku percaya bahwa suatu saat manusia pasti bisa saling memahami. Kalau tetap tidak menemukan jawabannya aku mewariskannya padamu, Naruto.'

'Kau memang aneh, mengingatkanku pada diriku yang dulu, aku bisa melihat kalau kau akan melangkah di jalan yang berbeda denganku. Aku … akan mencoba percaya padamu. Naruto Uzumaki.'

'Impian Yahiko dan Nagato, kalau impian mereka diwariskan padamu berarti kau adalah impian mereka. Kalau Nagato mempercayaimu, aku juga akan mempercayaimu. Kali ini jadilah bunga harapan yang takkan pernah layu.'

'Semua orang percaya padaku, aku tidak akan mengecewakannya. Tidak ada waktu untuk mengeluh atau pun bimbang!' batin pemuda itu.

Naruto kembali mengadah, "Sasuke jika kau memakai kekuatan penuh maka aku pun juga!"

Sasuke melangkahkan kaki dengan wajah tertunduk—senyum meremehkan tercetak jelas di sudut bibirnya, "Kita selesaikan ini."

Pcak.

Bunyi air terdengar ketika langkah cepat kedua pemuda itu—sebelah tangan mereka terulur ke depan.

"Chidori!"

'Aku hanya ingin memastikan kembali Sasuke.'

"Rasengan!"

'Entah kenapa ini seperti memori usang yang kembali terulang, benarkan Sasuke?'

Blar!

'Aku—'

Flashback

Naruto's POV

.

Apa kau masih ingat ketika diriku terikat di batang pohon—di hukum oleh Kakashi-sensei. Kau dan Sakura-chan memakan bekal di bawahku dengan wajah tenang.

Kruyuk

Sakura-chan melirik ke arahku dengan mulut penuh nasi—mendengus menahan tawa.

Aku tertunduk dengan pipi merona merah, sial! kenapa perut ini tidak bisa berkompromi! Bikin malu saja!

Kruyuk

Bunyi perutku kembali terdengar, agh! Menyebalkan.

Sasuke menatap singkat ke arahku sebelum mengulurkan kotak bekalnya, "Ini, makanlah."

Aku mengadah—memandang iris onyx itu bingung.

Kulihat Sakura-chan tersentak, "Eh, Sasuke-kun bukankah dilarang memberi makan Naruto?"

Sasuke melirik sekilas ke kanan dan ke kiri, "Guru itu sedang tidak ada. Lagipula jika Naruto tidak makan itu bisa mempersulit kerja sama kita saat berburu lonceng,"

Aku tersadar, walaupun kau pria dingin dan sering sekali membuatku kesal tetapi ada sedikit rasa baik hati tersimpan di hatimu. Iya, kan Sasuke?

Aku menangis antara bahagia dan terharu, "Terima kasih teman-teman."

Atau saat kita bertarung melawan Haku. Kau melindungiku—memakai tubuhmu untuk tameng.

"Kau sudah bangun Naruto?" tanyamu datar seperti biasa.

Aku mengerjapkan iris safirku dan terbelalak melihat berbagai senjata milik entah pria atau wanita bertopeng itu menancap sekitar tubuhmu.

"Sasuke … kenapa kau melindungiku?"

Tubuhmu limbung, dengan segera aku mengangkap tubuhmu—membaringkan pelan.

"Mana aku tahu … tubuhku bergerak sendiri …"

"Kenapa?" tanyaku kembali masih dalam keadaan syok.

Tetapi sebelum kau sempat mejawab, kau sudah memejamkan iris kelam onyxmu, tangan putihmu yang terulur jatuh terkulai perlahan di samping tubuhmu.

Saat itu aku tersadar, walaupun kita terus bertengkar dan saling melempar pandangan benci. Kau tetap perduli—menolongku.

Karena kita saling membutuhkan.

Sasuke! Aku tahu jauh di dalam, dalam hatimu tersimpan Uchiha Sasuke yang dulu! Bukan hanya kegelapan!

Flashback Off

.

Naruto menggertakan gigi, "Sasuke!" Lalu mengarahkan rasengan pada perut pemuda berambut biru gelap itu.

"Uagh …" mulut Naruto mengeluarkan darah ketika chidori pemuda itu mengenai juga perutnya.

Biarlah kita mati—bersama.

"Uhuk …" Sasuke pun ikut mengeluarkan cairan berbau karat melalui bibirnya.

Tidak lagi ada dendam, keturunan Uchiha atau pun Uzumaki.

Blar!

Gumpalan asap melebur menutupi tubuh kedua pemuda yang terpental jauh beberapa meter.

Kita akan—mati.

Kedua pemuda itu terguling berkali-kali, tubuh meraka mendarat sangat kasar di tanah kecokelatan yang terbelah-belah.

Tangis pemuda berambut pirang itu pecah dalam diam. Susah payah Naruto membuka iris shappirenya, walaupun pandangan sedikit kabur tetapi ia dapat melihat tubuh Sasuke terbaring sama sepertinya—terbatuk-batuk mengeluarkan darah.

"Sasuke …"

"Uhuk …"

"Jika aku mati, izinkanlah aku memohon untuk terakhir kalinya …," Pemuda itu tersenyum meski sedih di bibirnya yang belepotan darah. "semoga semuanya bahagia …"

Perlahan atau akibat kelelahan pemuda itu menutup iris shappirenya—sedih.

"Maafkan aku ayah, sennin mesum, Nagato … serta yang lainnya …"

—Mati.

"Tidak bisa mewujudkan … impian …"

Sebelum kelopak mata sepenuhnya tertutup, iris mata pemuda itu tertangkap tubuh berlari ke arahnya.

'Kalau sudah menjalaninya sampai akhir dan sama-sama mati. Kita akan saling memahami dan pergi ke dunia sana tanpa menanggung apapun.'

Mati bersama—

Iya kan, Sasuke?

—bersama.

.

.

Hinata's POV

"Cepat ambil peralatan medis! Naruto sudah selesai bertarung melawan Sasuke!"

Aku yang berada di tenda medis terkejut mendengar teriakan pria berambut kuning.

"Siapa yang menang?" tuntut Shizune cepat mengambil beberapa obat-obatan.

Pria itu memasang wajah sulit diartikan, "Sebaiknya kalian lihat saja,"

"Naruto-kun …"

Aku bergegas melihatnya—membantu membawa peralatan medis.

"Terima kasih,"

Aku tersenyum.

.

.

Ketika kami sampai, sudah banyak sekali orang yang berkumpul—berkerumun membentuk lingkaran besar.

Aku mengernyitkan dahi, ketika semua shinobi—menangis? Tunggu dulu! Menangis? Ti-tidak mungkin!

Aku berjalan perlahan-lahan—pemikiranku serta pandanganku kosong. Ketika melewati beberapa orang. Iya, aku dapat melihatnya …

Seorang gadis berambut merah muda di kuncir tinggi sedang memeluk pemuda pirang dengan setengah terisak.

Aku terdiam, mencengkeram erat-erat kotak peralatan medis—menahan tangis.

"Bodoh …"

Entah kenapa—

"Kau membuat aku khawatir, bodoh," lanjut Sakura masih terisak.

"Maaf … Sakura-chan,"

Eh?

Naruto-kun tidak—apa-apa? Benarkah?

Air mataku perlahan meleleh membasahi pipi, "Syukurlah Naruto-kun …," Aku hendak melangkahkan kaki namun terhenti, melihat pemandangan itu.

Sakura memeluk Naruto kembali.

Aku—tidak sanggup melihatnya kendati pun dengan keadaan bibir menyunggingkan senyum, hatiku tidak bisa berbohong.

Naruto-kun tidak akan pernah melihatku, selalu Sakura-chan, Sakura-chan dan Sakura-chan. Lalu ketika bersama mereka—aku seakan merasa sangat asing—tersisihkan.

"Hey, Hinata! Bisakah kau ke sini?" seru seseorang di belakangku.

Aku menoleh, menatap sayu Shizune, "I-iya?"

"Cepat sini!"

Aku membersihkan jejak air mata—tersenyum singkat ke arah wanita berambut hitam itu, "Iya!"

Ketika aku menaruh kotak obat-obatan, terkejut melihat kondisi Sasuke tidak jauh beda dengan Naruto-kun. Darah berceceran di sekitar wajah putihnya, menimbulkan bau karat tertangkap di hidungku.

"Apa Sasuke-kun masih hidup?" tanyaku iba melihat tubuh tidak berdaya itu.

"Denyut nadinya masih ada, dia masih bisa tertolong, walau lukanya parah,"

"Syukurlah," Aku menghela napas lega.

Tidak ada lagi korban jiwa yang bertambah dari peperangan ini—syukurlah. Entah kenapa air mataku kembali meleleh, buru-buru aku menghapusnya.

"Jangan bersantai saja, aku butuh bantuanmu."

"I-iya,"

.

.

"Kau yakin ingin menjenguk Naruto?" entah sudah berapa kali Kiba-kun mengulang pertanyaan itu, ia begitu khawatir dengan keadaanku dan mungkin—hatiku.

"Iya," jawabku setengah berbisik.

"Apa kau kuat melihat mereka bermesraan?"

Aku berhenti.

Benar, hubungan Naruto-kun dan Sakura-chan membaik setelah peristiwa tersebut. Aku yang mengetahuinya, mengurung diri di rumah selama sebulan—takut, takut jika hatiku belum siap menerima kenyataan. Bahkan Kiba-kun sampai tidak mengucapkan nama mereka—khawatir sekali padaku.

Aku menggigit bibir bawah, "Ti-tidak apa-apa, a-aku akan mencoba kuat," setelah itu aku melompati rumah-rumah, tidak lagi berjalan.

Kiba-kun tidak mengejar—membuat aku turun lalu menyender pada dinding rumah.

"A-aku kuat,"

Bohong—

Kutenggelamkan wajahku di kedua lutut, "Aku mencoba kuat,"

—hatimu berkata lain.

.

.

Aku berjalan gontai menuju tenda di mana Naruto-kun di rawat. Langkah kakiku terhenti ketika sampai di sebuah pohon begitu mendengar suara seseorang.

"Ssst… mereka mesra sekali."

Aku menajamkan pendengaran—bersembunyi di antara rimbunan pohon sakura.

"Siapa?"

"Naruto dan Sakura—"

Lagi-lagi!

Aku menutup telinga rapat-rapat. Aku tidak ingin mendengarnya.

"—mereka berciuman."

"AAPA?"

"Ssst …"

Aku langsung berlari saat itu juga. Menerjang orang-orang yang berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Naruto-kun dan Sakura-chan—berciuman? Tidak!

Kakiku lelah berlari, aku bersandar pada sesuatu terbuat dari besi dingin, membenamkan kepala ke lutut dan memulai menangis, "Ke-kenapa, aku menangis? Pa-padahal aku sudah bilang sama Kiba-kun jika akan baik-baik saja …hiks …"

Meskipun mencoba tegar—

"Aku ya-yang tidak kuat atau pe-perkembangan cinta mereka yang sangat menusuk hatiku … hiks …"

—aku tidak bisa.

"Mungkin keduanya,"

Aku mengadah ketika mendengar suara berat dan dingin.

"…"

"…"

"…"

"Sasuke-kun!" pipiku memanas—pasti sekarang merona. Aku sangat tidak menyangka jika berlari dan memasukki tenda pemuda dingin itu.

Pemuda itu hanya menatapku biasa, "Hn?"

Aku membungkukkan tubuh, "Maaf, su-sudah mengganggu istirahatmu."

"Kau memang mengganggu," Aku semakin panik ketika nada itu terselip kekesalan.

"Maaf!"

"Kenapa menangis?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aku memainkan jari gelisah, "Ng … itu …"

Pemuda itu menyatukan alisnya, " Karena Naruto?"

"Iya," Aku kembali membenamkan kepala pada lutut.

"Hn."

"A-aku takut—"

"Takut kenapa?" potong Sasuke cepat.

"—aku ta-takut jika Sakura-chan su-suka Naruto-kun. Ba-bagiku Naruto-kun adalah penyelamatku dari sifat mudah menyerah dan cengeng—"

Aku terus mengucapkan kata-kata, mengeluarkan seluruh beban tidak kasat mata pada pemuda yang baru dekat denganku hari ini.

"—aku takut ji-jika mereka menjadi kekasih lalu menikah, aku selalu berusaha me-menjadi kuat agar … agar Naruto-kun mau mengakuiku—"

Tangisku pecah tanpa memperdulikan Sasuke-kun yang entah mendengarku atau tidak.

"—walaupun aku tahu kalau Naruto-kun selalu me-melihat Sakura-chan bukan aku. Setidaknya a-aku hanya ingin dia melihatku, sebentar saja."

Pemikiran pemuda itu seperti seakan-akan terperosok jauh ke dalam masa lalu. Mengingat memori kembali usang yang tersimpan rapat-rapat di kepalanya

Flashback

.

"Belajar jurus bola api?" tanya Fugaku kembali dengan nada datar.

"Iya, ayah!" seru Sasuke kecil berapi-api.

"Terlalu dini bagimu, ayah tidak mau mengajarkannya," tolak Fugaku melanjutkan langkah kakinya akan tetapi Sasuke kecil mencegahnya kembali.

"Aku mohon! Ajari aku ayah, kakak Itachi saja di usiaku sudah bisa memakai teknik itu," Sasuke kecil kembali merengek.

"Hn, baiklah. Ikut ayah."

Seulas senyum manis terpampang di wajah Sasuke, "Iya!"

Sesampainya di danau, Fugaku menepuk dadanya.

"Tahan napasmu, pusatkan napas dan cakra di dada lalu semburkan. Ini jurus dasar klan Uchiha, simbol kipas merah dan putih itu juga merupakan tanda jika klan kita bisa menguasai dan mengendalikan elemen api. " terang Fugaku datar.

"Baik." Sasuke mulai menahan napas.

'pusatkan cakra, pusatkan cakra.'

"Elemen api… gokakyu no jutsu!"

Groo.

Keluar api. Iya, api dari mulut kecil itu tetapi bukan api besar, melainkan kecil sangat kecil—itu pun tidak lama keluarnya.

"Ayah." panggil Sasuke pelan.

"Kau memang tidak seperti Itachi," Fugaku berbalik meninggalkan Sasuke yang tertunduk sedih.

Sasuke pun terduduk memandang replika dirinya di air. Ia sedih karena tidak bisa membahagiakan ayahnya. Sasuke tahu kakaknya sangat pintar, berbeda sekali dengannya.

"Aku—"

Sasuke kecil bangkit berdiri, tangan mungilnya ia kepalkan.

"Aku tidak boleh kalah dari kakak! Aku ingin ayah dan klan Uchiha mengakuiku!" Sasuke kembali menarik napas.

"Elemen api… gokakyu no jutsu!"

Groo.

'Masih kecil. Aku tidak akan menyerah!'

"Sekali lagi!" serunya lantang.

Groo.

"Sa … suke … kun …"

Flashback off

.

"Sasuke-kun?" Hinata melambaikan tangan tepat di wajahnya.

"Hn?" Ia bergumam.

"Kau melamun?" tanya gadis berambut indigo gelap—khawatir.

"Hn,"

Hinata mengangkat sebelah alis—bingung, "A-aku panggilkan Sakura-chan."

Tangan pemuda itu mencengkeram pergelangan tangan Hinata—mencegahnya, "Tidak usah."

Kala itu Hinata menoleh padanya, "Kenapa?"

Ketika mendengar pengakuan Hinata—membuatnya teringat masa kecilnya di mana Sasuke sangat ingin diakui ayahnya serta klannya. Entah takdir atau kebetulan tetapi sifatnya sangat mirip dengannya sewaktu kecil. Atau memang sekarang pun juga—entahlah.

"Hyuuga Hinata—"

Hinata masih memandangnya dengan tatapan sayu, "I-iya, apa Sasuke-kun?"

Sasuke memandangnya dengan tatapan onyx tajam—mengintimidasi iris lembut lavender gadis yang masih berlinang air mata tersebut.

Mungkin dengan adanya Hinata, Sasuke bisa membangun kembali klan Uchiha, itulah yang ada dipikiran sang pemuda berambut biru gelap tersebut.

"—menikahlah denganku."

"…"

"…"

"…"

Blush.

Duagh!

.

.

Catatan :

Saya pusing bikin fic ini, waktu pertengahan saya sempat buntu dan juga di flashback Sasuke harus ngubek-ngubek komik dan enggak ketemu jadi saya bikin keterangan sendiri cara bikin jurus bola api#ditendang Masashi-sensei

Jika emang Hina bakal jadian sama Sasu saya penginnya seperti ini, tapi dibuat sebaik-baiknya dari Masashi-sensei secara saya bodoh dan masih jauh dari kepintaran Masashi-sensei m(_._)m

Seharusnya fic ini Oneshoot, karena kepanjangan saya putuskan dipecah jadi 2/3 chap, padahal saya mau ramein fandom Bleach#pundung dipojokkan