Fanfic pertama yang awalnya ditulis di sebuah blog, kemudian pindah dan dilanjutkan di karena butuh review dan sebagainya.
Karena alasan yang sama juga, sekarang pas ada kategori ECO, dipindahin juga ke sini XD
Mohon kritik sarannya buat newbie ini m(_ _)m

Thx~

Disclaimer:
Emil Chronicle Online™ is copyrighted ©GungHo Online Entertainment, Inc. and ©Gravity Co, Ltd. Wavegame was granted the right to publish, distributed and transmit Emil Chronicle Online™ in Indonesia.

All characters beside NPCs belong to me and my friends.


Prologue: A Meeting with an Angel


"Tempat ini.."

Kata-kata itu keluar dari mulut seorang pemuda saat ia membuka matanya. Tempat yang sama sekali asing menghiasi pandangannya. Di atasnya terbentang lautan bintang yang menjadi atap padang tak dikenal itu.

Pemuda itu menggaruk kepalanya, membuat rambut pirang keemasannya acak-acakan. Sekeras apapun dia berusaha mengingat, ia sama sekali tidak ingat kapan dan bagaimana ia ada di tempat itu. Ingatannya sama sekali kabur.

"Sial.. Ini di mana sih?" keluh pria itu. Yah setidaknya ia masih mengingat namanya.

"Oh, Kamu sudah bangun ya? Bagus deh.."

Kaget oleh suara tersebut, pemuda itu menoleh ke arah suara itu berasal. 'Wow, suara yang merdu.. Pasti dia orang yang cantik seperti bidadari,' pikirnya. Ia pun menoleh, namun kemudian terperanjat diam menatap pemilik suara tersebut. Ia tidak pernah menyangka pikiran asal-asalannya itu menjadi kenyataan saat ia melihat sosok wanita dengan sepasang sayap malaikat berwarna putih di punggungnya berdiri di hadapannya.

Bidadari itu mengernyit memandang pemuda di hadapannya yang hanya terdiam memandanginya. "Kenapa? Apa ada yang aneh?"

'Yah, ini pasti mimpi. Kalau nggak, nggak mungkin aku ada di tempat gak dikenal ini ditemani bidadari cantik. Atau.. Aku sudah mati dan ini surga?' pikir pemuda itu sambil mencubit pipinya sendiri. Ternyata sakit! Apa itu berarti ini semua bukan mimpi?

"Umm, jadi Nona Bidadari, apa aku sudah mati? Yah, setidaknya aku masuk surga," seru si pemuda menghibur diri.

"Kamu ngomong apa sih? Kok aneh begini, seperti orang nggak tahu apa-apa.." kata wanita itu seraya duduk di samping pemuda itu.

"Sayangnya, ya memang begitu kenyataannya," jawab pemuda itu simpel. "Jadi, ini tempat apa? Kenapa aku di sini? Kamu ini siapa?"

"Jangan bercanda dong! Ini serius!" teriak si wanita bersayap. Gadis itu tampaknya mulai kehilangan kesabarannya pada pemuda itu. Namun si pemuda hanya memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Akhirnya gadis itu pun sadar kalau pemuda itu tidak main-main. "Kamu.. benar-benar nggak ingat?"

"Nggak."

"Oh, kenapa bisa begini sih?" tukas wanita itu lemas. Dia tidak pernah membayangkan akan jadi seperti itu. Setelah mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya, ia menatap pemuda itu dengan serius dan melanjutkan, "Baiklah, akan kujelaskan semuanya. Kamu ada di sini karena—"

Tiba-tiba seberkas cahaya lewat tepat diantara keduanya, menghantam batu besar yang ada disamping mereka dan menghancurkannya berkeping-keping.

Kaget akan apa yang terjadi, si pemuda menoleh ke arah serpihan batu tadi. Sinar itu hanya meleset beberapa sentimeter dari hidungnya. Dia tidak tahu darimana sinar itu berasal, tapi yang jelas kepalanya bakal bernasib sama dengan batu itu kalau saja si penembak sedikit lebih akurat. "Hoi! Jangan main-main! Siapa yang berani kurang ajar—"

Kalimatnya berhenti saat pemuda itu melihat barisan robot berjalan di kejauhan, semakin lama semakin dekat. Robot-robot itu berbentuk seperti manusia dan membawa senapan. Ia yakin dari sanalah sinar itu berasal. "Mereka itu..?" katanya pelan sambil melirik ke bidadari di sebelahnya yang kelihatan mulai panik juga.

"Oh tidak.. Aku nggak menyangka mereka bakal datang secepat ini.." seru gadis itu sambil menghela nafas. "DEM. Mereka itu.. musuh."

"Musuh?" si pemuda mengeryitkan dahinya, "Maksudmu?"

"Maaf, aku gak bisa menjelaskan dalam kondisi begini. Kita nggak punya waktu lagi, jadi bersiap-siaplah," jawab sang gadis bidadari sambil melangkah mundur. Mulutnya mengucapkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Tiba-tiba dinding perisai yang transparan mengelilingi keduanya, menangkis semua tembakan dari pasukan robot. "Dengar baik-baik. Tempat yang akan kamu tuju adalah benua Acronia. Kamu nggak akan bisa melakukannya sendirian, tapi aku yakin di sanalah kamu akan menemui orang-orang yang akan membantumu." Begitu ia selesai bicara, sinar yang terang menyelimuti tubuh sang pemuda.

"Eh? Membantuku apa? Maksudmu? Jangan bercanda, kalo kita nggak punya waktu, ya jelaskan saja di sana!" Tiba-tiba pemuda itu menyadari bahwa sinar yang menyelimuti dirinya tidak ikut menyelimuti tubuh sang bidadari. "Tunggu dulu.. kamu ikut ke sana kan? Jangan main-main!"

Sang gadis bidadari tersenyum lemah seraya menggeleng kepalanya. "Maaf. Dulu kami pernah mencoba melakukannya, tapi kami gagal. Kalau saja waktu itu kami berhasil sepenuhnya, pasti kamu nggak akan repot seperti sekarang," jelas gadis itu sambil menatap bintang-bintang di langit, seolah kejadian masa lalunya terpampang ulang di langit. "Kejadian itu mimpi buruk bagi kami. Bahkan temanku sampai terluka parah. Aku berhasil menolongnya, tapi sebagai gantinya aku dalam kondisi yang nggak memungkinkan untuk membantumu sekarang." Air mata keluar perlahan dari matanya, "Tapi kalau kamu bertemu dengannya, aku yakin dia akan membantumu. Dan kalau kamu bertemunya.. katakan juga aku merindukannya."

Pemuda rambut emas itu menatap mata yang berkaca-kaca milik gadis bidadari di hadapannya. Ia tahu tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menuruti si bidadari. Matanya yang berwarna emas beralih ke arah pasukan robot yang semakin tebal. Dinding yang diciptakan gadis itu memang kuat, tapi ia ragu kalau tembok itu akan bertahan sangat lama menahan tembakan-tembakan dari para robot.

"Aku mengerti. Setidaknya beri tahu aku namamu."

"Tita," jawab si gadis bersayap sambil mengusap air matanya, "dan kamu?"

"Alceus," jawab pemuda itu sambil menujuk dirinya dengan bangga, "jangan khawatir, pesanmu pasti akan kusampaikan." Dan begitu ia mengakhiri kalimatnya, iapun menghilang bersama cahaya yang menyelimutinya, meninggalkan sang gadis bidadari seorang diri bersama para DEM.