Pairing : Kyumin

Genre : Fantasy, Romance

Rate : T/PG untuk chapter ini.

Warning : Mpreg, YAOI

Disclaimer : Kyumin milik KYUMIN SHIPPER!

Summary : Kyuhyun sang raja Werewolf, jatuh cinta pada Sungmin yang seorang pemuda straight dan keturunan manusia. Apa yang terjadi saat ia membawa Sungmin secara paksa ke negrinya, SEDLUPUS?


SEDLUPUS © Miinalee

*.-.-.-.-.-.-*


"Sungmin-ah… Bangun. Hey?"

"Ugh…" pemuda yang dipanggil Sungmin itu melenguh. Ia justru memejamkan matanya makin rapat saat tangan besar terus menepuk-nepuk pipinya.

Berat sekali… Ingin tidur lebih lama… Jangan bangunkan aku!

"Uuuh! Aku mau tiduuur! Jangan ganggu aku!" Sungmin mengubah posisinya menyamping, ia mengeram marah lalu menepis tangan yang baru saja mengusap kepalanya.

"Tapi kau belum makan sejak tiga hari yang lalu. Bangun sekarang, Sungmin-ah. Setelah makan kau boleh tidur lagi sepuasnya."

Meskipun suara baritone itu berucap lembut, tetap saja Sungmin merasa terganggu mendengarnya. Terlebih suara ini mengganggu tidurnya! Tapi satu hal membuat Sungmin benar-benar tidak bisa kembali terlelap.

Belum makan selama tiga hari? Eh? Maksudnya?

Sungmin membuka matanya spontan. Dadanya berdegup kencang. Apa yang barusan itu mimpi? Apa suara barusan itu efek setengah bermimpi? Sungmin mengucek matanya beberapa kali. Namun bukannya tersadar, Sungmin justru makin melongo saat ia bertemu dengan pemandangan tembok dan perabotan asing yang jelas-jelas bukan khas kamarnya.

Sungmin mengucek matanya lagi. Mungkin efek setengah bermimpi itu masih tersisa, ia benar-benar tidak berniat melanjutkan mimpi ini jadi tolong siapapun… Bangunkan Sungmin sekarang!

"Sungmin-ah? Cepat bangun, kita makan sekarang!" Suara baritone itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan lebih jelas.

Sungmin menelan ludah, tiba-tiba rasa takut hinggap di dadanya. Lama-kelamaan keadaan ini terasa semakin nyata, terlebih suara barusan yang terdengar tepat di sisi kirinya.

"Sungmin! Bangun sekarang!" suara tegas itu mengeram kesal. Sungmin benar-benar tidak punya alasan untuk mengelak lagi. Ini bukan mimpi, terlebih saat dua tangan kekar mengangkat tubuhnya bangun ke posisi duduk.

"Aku tidak mau kalau kau sampai sakit, Sungmin-ah…"

Sungmin tercekat sekarang. Wajah itu dekat sekali. Wajah tampan seorang lelaki bertubuh lumayan kekar yang sekarang tengah mencengkeram kedua lengan Sungmin, menahannya untuk tetap dalam posisi duduk. Entah apa yang membisikinya, Sungmin menunduk menelaah tiap jengkal tubuh lelaki yang ada di hadapannya. Matanya membulat kaget saat ia melihat kerumunan bulu yang tumbuh lebat di dada si pria yang kemejanya sedikit terbuka. SUNGGUH. Tolong katakan ini hanya mimpi!

Sungmin melotot, nafasnya tercekat. Rasanya begitu nyata, sosok yang ada di hadapannya ini… Sungmin bisa melihat bulu tumbuh lebat di sepanjang leher dan pergelangan tangan pria ini. Takut, Sungmin sungguh-sungguh takut namun seolah terhipnotis, ia terus-terusan menatap sosok manusia besar dan berbulu ini.

"Ah, maaf. Tengah malam nanti purnama, karena itu buluku bermunculan seperti ini," ujar sosok itu lembut. "Tenang saja, Sungmin-ah. Aku yang biasanya tidak tampak seperti sekarang…"

Sungmin semakin tercekat. Sosok besar itu berbicara di depan wajahnya.

"A-ah!" Akhirnya Sungmin tersadar untuk memberontak. Dengan susah payah ia membebaskan diri dari cengkraman pria berbulu ini. Sungmin beringsut mundur menjauhi sosok menakutkan itu, meskipun ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi saat punggungnya tertahan oleh dinding di ujung tempat tidur. Raut itu tampan, namun tatapan matanya, garis bibirnya, bulu-bulu yang nyaris menutupi seluruh leher, dada, dan tangan, juga ukuran tubuh yang… besar. Sungguh pemandangan yang benar-benar menekan batas titik ketakutan Sungmin saat ini.

"Siapa kau?" Sungmin bertanya ketakutan, suaranya berbisik pelan. Sesungguhnya mentalnya sudah jatuh menyerah, namun harga diri yang tetap membuat Sungmin betah membalas sorot menakutkan mata itu. "Jangan mendekat!" jerit Sungmin panik saat sosok itu memberi ancang-ancang akan mendekat.

Meskipun Sungmin yakin sosok itu dapat dengan mudah mendekat dan mencengkeramnya, tapi anehnya pria itu tetap berhenti saat Sungmin meneriakinya. Ekspresi sakit hati tampak jelas saat aura wajahnya mengeruh dan kedua keningnya bertaut. Sungmin benar-benar ketakutan sekarang. Kalau tidak salah ia mendengar kata 'makan' sebelum ia benar-benar bangun tadi. Sungmin melotot dengan kesimpulan pendek yang sampai di otaknya. Ia bisa melihat jelas deretan gigi pria itu yang meruncing seperti gigi serigala. Apa maksudnya monster berbulu ini ingin… Ingin…

"Sungmin-ah—"

"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!" Sungmin berteriak. Urat di lehernya muncul dan wajahnya memerah. "Dengar! Kalau kau bermaksud memakan dagingku, kuberi tahu saja. AKU TIDAK ENAK! Aku perokok, aku pemabuk, dan aku menggunakan ganja! Kau bisa keracunan kalau tetap memaksakan diri memakan aku!"

Sosok itu tersenyum mendengarnya. Awalnya hanya senyum tipis, tapi lama-kelamaan menjadi tawa karena ia benar-benar tidak bisa menahannya. Lucu. Polos sekali.

"Kau tidak merokok, kau bukan pemabuk, dan kau tidak menggunakan obat-obatan, Sungmin-ah. Kau sosok baik hati, pekerja keras, dan dicintai banyak orang. Leluconmu lucu sekali, sungguh," ujar sosok itu sembari tersenyum hangat. Namun senyum hangatnya tetap nampak seperti seringai mengerikan di mata Sungmin. "Dengar. Aku mengajakmu makan karena sudah tiga hari kau belum makan apapun, bukan aku yang mau memakanmu…"

"Tidak, kumohon jangan mendekat." Sungmin menggeleng gemetar. Ia mencengkeram bantal, siap melempar semua benda yang ada di sekitarnya kalau makhluk itu berniat mendekat. "Apa yang kau inginkan? Kenapa kau membawaku kemari?"

"My mate…" desah sosok itu sembari tersenyum. "Tentu saja aku membawamu kemari karena kau pasanganku, mate…"

"OMONG KOSONG!" Sungmin berteriak marah. Kalut bercampur takut. Tempat asing dan lelaki asing ini membawa nuansa asing yang seakan menerornya. "Tolong katakan ini acara konyol kalian. Sungjin? Appa? Umma? Aku sudah tahu kalian yang melakukan ini. Dimana kameranya?" Sungmin menyusuri tiap sudut ruangan yang memungkinkan untuk menyembunyikan kamera. Namun tampaknya nihil, kamar ini terkesan terlalu kolosal…

"Mereka bukan keluargamu lagi, Sungmin-ah. Sekarang kau adalah bagian dari kerajaan ini, sekarang kau milikku…"

"Hentikan. Jangan bicara konyol. Tolong katakan ini hanya mimpi…" Sungmin berucap lirih, gemetar. Ia memandang penuh terror saat tangan besar sosok itu berusaha meraih wajahnya, refleks Sungmin menampiknya kasar. "KUBILANG JANGAN MENDEKAT! JANGAN SENTUH AKU!" jerit Sungmin murka. Wajahnya memerah.

Sungmin menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Berusaha menenangkan diri dan duduk sejauh-jauhnya dari makhluk besar berbulu itu. Meski tanpa sadar sepasang mata yang menyalak merah tengah mengintainya marah.

Sosok itu mengeram tertahan. Nafasnya memburu saat kedua bahunya tumbuh membesar, bulu-bulu di tubuhnya melebat dan mulai menutupi sebagian wajahnya. Harusnya ia bertransformasi malam nanti, namun dalam keadaan marah, ia bisa berubah dengan cepat.

BRUGH!

Sungmin terbelalak kaget. Sesuatu seakan menabraknya kuat. Tubuhnya sempat membentur tembok, lalu satu tangan menarik kakinya dan membuatnya terbaring kusut di atas tempat tidur.

Sungmin mematung, shock. Di atasnya kini… adalah wajah berbulu dan sorot mata merah mengancam. Deret gigi runcing itu cukup membuat Sungmin bungkam dan gemetar.

Makhluk menyeramkan ini sekarang tepat berada di atasnya, menimpa tubuhnya sambil menyeringai lebar.

"Jangan pernah membentakku. Kau tidak boleh melakukan itu, Mate…"


TBC.

*.-.-.-.-.-.-*


RnR!