Genre : Romance , Family

Rating : T or T+?

Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Kibum, Choi Siwon and others

Pairing: Yunjae, Sibum

Disclaimer : The cast arenot mine but this story is purely mine

Warning : Male x Male. Mpreg. Typos bertebaran. OOC (terutama Kibum). Kacau balau. Akan ada adegan yang tidak cocok untuk sone.

Don't Like Don't Read. Okay? ^^

My Ex My Husband

.

.

.

.


.

'Penumpang pesawat dengan tujuan Seoul-Berlin diharap segera memasuki ruang tunggu pesawat'

.

Akhirnya tiba juga hari yang sudah ditunggu oleh pasangan suami-istri Jung ini. Tentu kalian masih ingat atas rencana penuh pemaksaan yang dilakukan Jung Yunho terhadap istrinya hanya demi meminta sang istri ikut pergi ke Berlin dengannya. Kalau mau jujur, merekrut aktor baru itu hanya sekedar alibi belaka. Niat Yunho yang sebenarnya hanya untuk mengajak Jaejoong menikmati bulan madu mereka yang tak pernah mereka jalani. Jangan tanya mengapa Yunho tidak mau mengutarakan secara langsung rencananya tentang bulan madu. Ego dan harga dirinya terlalu tinggi.

Keduanya pasangan siap bulan madu ini segera mengangkut tas punggung mereka masing-masing, mendengar panggilan dari speaker bandara. Setelah memastikan passport dan barang lain yang mereka bawa tidak tertinggal, keduanya dengan cepat memasuki daerah ruang tunggu pesawat.

Jaejoong tampak duduk gelisah diatas kursi tunggu dengan Yunho disampingnya. Sebisa mungkin ia tidak mau bertatapan langsung dengan namja tampan berstatus suaminya itu. Mood paginya sudah terlanjur rusak oleh kelakuan mesum suaminya yang tiba-tiba sudah menindihnya ketika ia bangun tidur tadi. Ingin rasanya ia menendang wajah tampan Yunho tepat dibatang hidungnya.

"Untukmu…"

Merasa Yunho berbicara dengannya, Jaejoong menolehkan kepalanya ke samping. Tepat menghadap wajah Yunho yang terpaut hanya beberapa senti dari wajahnya sendiri. Namja cantik ini sedikit mengangkat alisnya bingung melihat jemari sang suami yang menyodorkannya sebuah permen karet.

Yunho langsung menarik tangan Jaejoong kemudian segera meletakkan permen karet tersebut diatas telapak tangan sang istri, "Supaya telingamu tidak berdengung di pesawat nanti."

Sepertinya memang ada yang aneh dengan Jaejoong. Dua hari belakangan ini, namja cantik yang sudah menikah ini kerap kali merasakan degup jantungnya yang berbunyi berkali-kali lipat setiap kali sang suami menggodanya. Tapi terkadang ia juga merasa seolah ingin membunuh sang suami yang baginya memiliki penyakit mesum tingkat akut itu. Belum lagi emosinya yang entah kenapa makin hari makin labil jika melihat Yunho berdekatan dengan yeoja manapun. Terutama Jessica Jung tentunya.

Bukan sampai disitu saja, Jaejoong juga merasakan perubahan yang cukup besar dengan tubuhnya. Ia tidak bisa menjelaskan secara spesifik mengenai perubahan itu. Hanya saja nafsu makannya semakin meningkat. Dan tubuhnya sungguh sulit diajak kompromi dalam hal lelah dan letih.

Sudahlah. Nanti saja memikirkan hal yang hanya membuat pusing seperti itu. Lebih baik sekarang Jaejoong segera mengunyah permen karet beraroma mint itu. Jarang-jarang ia bisa makan permen karet produk Kanada seperti yang diberikan oleh suaminya itu.

Sesekali Jaejoong melirik jam tangan yang melingkari tangan kanan Yunho secara diam-diam. Rasanya mereka sudah menunggu kedatangan pesawat cukup lama. Biasanya jika penumpang sudah menunggu di ruang tunggu pesawat, sebentar lagi pasti mereka diperbolehkan menaiki pesawat tersebut. Tapi kenapa kali ini lama sekali.

Berusaha mengusir rasa bosan, Jaejoong mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada apapun yang menarik untuk diamati. Hanya ada gerombolan orang-orang dan barang bawaan yang sama sekali tidak menarik untuk ditatap lama-lama. Benar-benar, Jung Jaejoong bosan sekali.

"Menyesal aku mengikuti ajakanmu." gerutu Jaejoong. Mata doe-nya menatap tajam pada Yunho yang hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Biarlah istrinya ini menenangkan diri dengan mengoceh sepuasnya. Setelahnya, namja cantik ini pasti sudah akan santai kembali. Atau setidaknya begitulah pemikiran Yunho.

.

'Pesawat dengan tujuan Seoul-Berlin akan ditunda penerbangannya sampai dua jam kedepan atas cuaca yang diperkirakan buruk. Harap pengertiannya bagi para penumpang sekalian.'

.

Dalam hati, Jaejoong merutuki staff pesawat ini. Mana ada pesawat yang menunda penerbangannya setelah menyuruh penumpangnya menunggu di ruang tunggu. Setahu Jaejoong, penumpang yang sudah menginjak ruang tunggu tidak boleh keluar lagi dari daerah itu. Tidak untuk berbelanja. Tidak untuk mengunjungi café. Hanya boleh menjejaki toilet yang memang disediakan di dalam daerah ruang tunggu tersebut. Ini akan sangat, sangat dan sangat membosankan.

Dengan kesal, namja cantik ini merogoh tas cokelatnya dan segera mengeluarkan boneka gajah kesayangannya. Bibirnya masih bergerak tak beraturan mengunyah permen karetnya. Dan dengan sekali gerak, boneka gajah itu sudah ia peluk gemas. Gajah kesayangannya ini saja yang bisa membangun kembali moodnya.

Yunho terkekeh pelan ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok istrinya. Kalau ini bukan tempat umum, namja tampan berjabatan presiden ini pasti sudah langsung melumat bibir merah Jaejoong yang sedari tadi bergerak-gerak. Entah kebaikan apa yang sudah ia perbuat di kehidupan lampau sampai membuatnya berhasil mendapatkan istri secantik dan semenggemaskan ini.

"Yak! Apa yang kau tertawakan?"

Sepertinya memang tidak mungkin bagi Jaejoong untuk bersikap manis dihadapan Yunho. Buktinya saja, namja cantik ini langsung menguarkan aura membunuhnya setelah mendengar kekehan Yunho yang menurutnya menyebalkan itu. Meskipun sebenarnya Jaejoong cukup menyukai suara suami tampannya. Hanya saja namja keras kepala ini sama sekali tidak mau mengakuinya.

Jung Yunho mengusap pucuk kepala Jaejoong sayang. Yang diusap hanya mengerucutkan bibirnya tanpa maksud sambil memeluk boneka gajahnya. Tampaknya pasangan suami-istri Jung ini sama sekali tidak menyadari kondisi mereka yang sudah dengan suksesnya menjadi perhatian para penumpang lainnya. Keduanya tampak begitu serasi disandingkan bersama. Yang satu tampan dan maskulin. Yang satu lagi imut dan cantik. Siapa saja yang melihat mereka pasti memberi jempol atas kecocokan pasangan ini.

Nyaman-nyamannya Yunho merasakan helaian rambut Jaejoong, namja tampan ini harus dikejutkan oleh kehadiran sosok seorang yeoja. Jaraknya kira-kira dua meter dari tempat Yunho dan Jaejoong duduk. Memang dari sini, Yunho tidak bisa melihat dengan jelas siapa yeoja tersebut. Apalagi mata yeoja tersebut ditutupi oleh sebuah kacamata hitam. Kepalanya juga dilingkupi oleh sebuah topi yang lumayan fashionable. Tapi bagaimanapun, postur tubuh yeoja tersebut cukup bagi Yunho untuk mengenali identitas asli yeoja itu. Bukan hanya itu saja, Yunho juga dapat melihat helaian rambut pirang yang dibiarkan tergerai. Membuatnya makin yakin akan analisanya.

Yeoja tersebut –Jessica melorotkan kacamata hitamnya. Wajahnya tampak berseri-seri melihat keberadaan Yunho yang hanya terpaut dua meter darinya. Coba saja kalau ia bukan aktris yang terkenal, ia pasti langsung berlari memeluk namja tampan itu. Sayangnya ia tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa keesokan harinya, para paparazzi menulis sesuatu yang tidak baik tentangnya.

Jaejoong mendongakkan kepalanya menghadap Yunho. Namja cantik ini agak bingung melihat raut wajah sang suami yang begitu sulit dijelaskan saat ini. Suaminya itu bahkan sampai mematung tak bergerak. Didasari rasa penasaran, Jaejoong mengikuti arah pandang Yunho.

Mencibir sebentar, Jaejoong kembali memeluk boneka gajahnya. Ternyata hanya sosok yeoja berambut pirang yang seksi. Pantas saja suami mesumnya itu menatapnya lekat-lekat seperti itu. Tapi kenapa rasanya Jaejoong mengenali postur wajah dan tubuh yeoja itu. Tubuhnya yang lumayan tinggi dan rambutnya yang pirang panjang. Mirip seperti Jessica Jung.

Tunggu dulu…

.

Loading…

.

"KAU!"

.

Jessica dan Jaejoong –kedua manusia dengan kecantikan melebihi rata-rata itu tampak saling menunjuk satu sama lain. Sepertinya daritadi pun Jessica sama sekali tidak menyadari kehadiran Jaejoong. Salahkan saja kacamata hitamnya yang agak menganggu pandangan. Lagipula ia pikir namja cantik pengganggu itu tidak akan mengikuti Yunho.

Perhatian para penumpang yang berada didalam ruang tunggu itu sontak teralih pada kedua namja dan yeoja cantik tersebut. Ada yang mengernyitkan dahinya heran melihat dua orang tersebut berdiri dan saling menunjuk. Ada juga yang kembali mengabaikan keduanya. Yang jelas Jessica dan Jaejoong sempat membuat heboh ruang tunggu itu.

Yunho menepuk dahinya frustasi. Padahal seingatnya, ia sengaja menyusun job Jessica agar tidak menginjakkan kaki ke Berlin untuk seminggu bulan madunya ini. Sial sekali sang yeoja malah mengikutinya sampai sejauh ini. Namja tampan bermarga Jung ini sangat yakin bulan madunya kali ini tidak akan berjalan mulus.

Cepat-cepat Yunho menarik tangan Jaejoong duduk. Hanya antisipasi jika tiba-tiba Jessica menyerang menduduki tempat itu. Jaejoong sendiri masih mendekap erat boneka gajahnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal atas kehadiran yeoja itu. Jessica itu seperti hama padi yang menghambat panen menurut Jaejoong. Ada-ada saja cara yeoja itu untuk mendekati suaminya. Sibuk mengunjungi Yunho saat ia depresi. Mengekor Yunho melakukan peninjauan langsung. Bahkan sampai ikut Yunho pergi ke Berlin. Itu sangat menyebalkan.

.

Eh?

Kenapa Jung Jaejoong merasa seperti istri hamil yang cemburu pada suaminya?

.

Yang benar saja. Memikirkannya saja sudah berhasil membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Ia pasti sudah gila berpikir sejauh itu.

Jessica mendengus sebal. Sudah senang ia mengira istri cantik Jung Yunho itu tidak diajak pergi oleh sang suami. Padahal otak Jessica sudah bekerja membayangkan apa saja yang akan ia dan Yunho lakukan berdua selama di Berlin. Jalan-jalan mengelilingi kota bersama. Makan malam romantis bersama. Nyatanya, istri sialannya itu malah ikut. Sungguh merusak kesenangan saja.

"Minggir…" Dengan kasar, yeoja pirang ini menarik tangan Jaejoong. Membuat namja cantik itu berdiri dari tempatnya duduk dan bergeser tempat ke sebelah. Segera saja Jessica menduduki tempat yang tadinya diduduki Jaejoong.

Gosh… Kalau Yunho bukan namja, rasanya ia sudah siap sedia melempar yeoja seenaknya itu dengan sapu. Sudah mengusir Jaejoong, Jessica malah dengan tampang tanpa dosanya bergelayut manja di lengan Yunho. Asal kalian tahu saja, Yunho merasa sangat tidak nyaman.

Dengan bibir bergerak-gerak sebal dan mata memicing tajam, Jaejoong menonton adegan Jessica dan suaminya. Namja cantik ini kemudian membenamkan wajahnya didalam boneka gajahnya. Entah kenapa emosinya tidak terkontrol melihat kedekatan yeoja centil itu dan suaminya. Padahal Jaejoong sudah menekankan dengan sangat bahwa ia tidak menyukai suaminya. Hanya berusaha mencintainya kembali.

"Lihatlah Boo! Appamu diculik nenek sihir." ucap Jaejoong pada boneka gajahnya –Boo.

Mungkin kalian heran akan Yunho yang dianggap ayah dari gajah tersebut. Tentu saja karena boneka gajah itu pemberian Yunho ketika mereka masih berpacaran dulu. Biasanya jika Jaejoong sudah berbicara dengan gajahnya, Yunho pasti berperan sebagai ayahnya. Jaejoong sebagai ibu. Boo –boneka gajah imutnya sebagai anak. Dan tambahan baru, Jessica sebagai nenek sihir. Begitulah.

Yunho berusaha menahan tawanya mendengar ucapan polos Jaejoong. Ia tahu namja cantik itu tidak punya maksud untuk menyindir Jessica. Istrinya itu hanya mengekspresikan perasaannya. Namja tampan ini kemudian melepas gelayutan Jessica pada lengannya dan cepat-cepat bangkit menghampiri istrinya, duduk di tempat kosong disebelah Jaejoong dan melingkarkan lengannya pada bahu Jaejoong.

"Yak!" Mau dibentak seperti apapun, Yunho tidak peduli. Jung muda ini malah seenak jidatnya mengeratkan rangkulannya pada bahu sang istri. Sekuat apapun Jaejoong memberontak, namja cantik itu tidak akan bisa lepas dari rangkulan mesra suaminya. Bukan hanya sampai disitu saja, namja tampan bermarga Jung ini dengan iseng mencium pipi Jaejoong. Kalau ini bukan bandara, Jaejoong sudah dijamin akan meledak-ledak.

Dengan tatapan membunuhnya, Jessica menatap tajam Jaejoong. Sungguh, namja dengan kadar kecantikan melebihi yeoja itu sangat merusak hari menyenangkannya. Kalau di dunia ini membunuh merupakan hal legal, Jaejoong sudah pasti tewas mengenaskan ditangan Jessica. Belum lagi bisik-bisik penumpang lain yang seolah memojokkannya sebagai orang ketiga atas hubungan pasangan Jung itu. Membuat Jessica semakin berhasrat menikam Jaejoong.

Bulan madu Jung Yunho dan Jung Jaejoong kali ini sepertinya harus disertai perisai baja jaman Romawi dulu dan mental yang kuat. Jessica Jung tidak mungkin akan membiarkan pasangan ini menikmati keromantisan bulan madu mereka.

.

.

.

.

Berlin's Seaside Hotel.

.

Berjam-jam menunggu dan menduduki pesawat terbang ternyata cukup mengikis stamina. Padahal waktu setempat Berlin masih menunjukkan pukul sekitar jam satu siang, tapi tubuh Jaejoong rasanya pegal sekali. Pinggangnya seperti ditimpa puluhan batu beton dan bokongnya terasa kaku akibat terlalu lama duduk diatas kursi pesawat terbang.

Jaejoong menghembuskan nafas lelahnya panjang-panjang seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kedua kelopak matanya terkatup pelan menikmati rasa nyaman yang menjalari punggungnya yang sedari tadi meronta minta diistirahatkan. Empuk juga kasur hotel ini. Karpetnya juga bersih dan tampak berkelas. Hotel ini pasti bukan sembarang penginapan.

"Tidak lapar?" tanya Yunho sembari menarik koper mereka dengan mudah. Namja tampan ini kemudian asal meletakkan koper tersebut didepan lemari, menghampiri sang istri dan ikut berbaring disampingnya, "Kalau kau lapar kita bisa makan di café tepi pantai."

Tidak menjawab, Jaejoong malah memilih bangkit dari baringannya dan berjalan semangat mendekati jendela kamar mereka. Dengan guratan wajah yang antusias, ia menyingkap tirai hijau lumut kamar ini. Benar saja apa yang Jaejoong prediksikan. Pemandangan pantai yang begitu ramai dikunjungi turis-turis membentang luas dibawahnya. Namja cantik ini bahkan bisa melihat sosok segerombolan anak kecil yang sibuk bekerja sama membangun istana pasir.

Ingin sekali Jaejoong pergi kesana. Tapi tidak mungkin ia pergi sendirian mengingat ia sama sekali tidak mengenal tempat ini. Bisa-bisa ia tersesat dan tidak bisa pulang. Memaksa Yunho menemaninya pergi juga terdengar egois. Jelas-jelas ia tahu suaminya itu datang kemari bukan untuk bersantai. Suami tampannya itu -Yunho harus merekrut aktor baru disini. Jangan lupa kalau Jung Jaejoong masih belum menyadari kebohongan suaminya itu.

Jaejoong sedikit tersentak merasakan pinggang rampingnya dililit kuat dari belakang. Satu-satunya tersangka yang melakukan hal seperti itu tentu saja Yunho. Aroma maskulin yang menguar jelas dari pemilik lengan yang melingkari tubuh Jaejoong sudah terlalu dihapal Jaejoong.

"Apa yang mau kau lakukan?" bentak Jaejoong.

Bukannya melepas lilitan kuatnya, Yunho kini makin menjadi-jadi. Bibir berbentuk hatinya ia tempelkan pada leher Jaejoong. Memenuhinya dengan kecupan ringan yang berhasil membuat sang istri merinding. Tidak sampai itu saja, namja bermarga Jung ini juga terus mengigit dan menjilati leher putih sang istri. Membuat bekas kemerahan yang baru lagi. Padahal bekas kissmark seminggu lalu saja belum hilang sepenuhnya.

Diperlakukan seintim ini, Jaejoong tentu tidak diam saja. Namja cantik ini terus meronta-ronta dari kukungan suaminya itu. Sayang, kekuatannya sebagai istri tidak cukup untuk melawan Yunho. Ia tahu ini terdengar sangat tidak seperti dirinya namun harus Jung Jaejoong akui, jauh didalam lubuk hatinya ia cukup menyukai apa yang Yunho lakukan sekarang. Tapi tetap saja, harga dirinya lebih penting dari apapun.

"L-lepas… Yunnie lepas…" Sontak Yunho menghentikan kecupannya. Bukan karena menuruti perintah istrinya itu. Hanya saja telinganya sedikit peka hari ini untuk menangkap suara merdu Jaejoong yang memanggil namanya dengan begitu manis. Yunho sangat menyukai itu.

Sambil tersenyum puas, Yunho kembali melanjutkan kecupannya pada leher Jaejoong. "Lagi…" Jaejoong hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan Yunho disela kecupannya, "Aku ingin mendengar panggilan manis itu lagi, Joongie."

Barulah Jaejoong menyadari maksud suaminya itu. Entah kenapa tiba-tiba saja wajahnya memanas dan tingkat kegugupannya bertambah terus. Asal kalian tahu, panggilan tadi keluar secara refleks dari bibir Jaejoong. Sama sekali tidak ada unsur kesengajaan didalamnya. Astaga! Jaejoong malu sekali.

"Le-lepas, Jung Yunho!" Lagi-lagi Jaejoong berusaha memberontak. Sayang, kali ini namja cantik ini tidak lagi menggunakan panggilan manisnya untuk sang suami. Dan itu cukup untuk membentuk raut kekecewaan yang kental diwajah Yunho.

Yunho melepas lingkaran tangannya. Sesekali mengalah sepertinya tidak buruk juga. "Kau tidak lapar, Joongie?" tanya Yunho beralih duduk diatas kasur. Jaejoong diam beberapa saat. Setelahnya barulah ia mengangguk pelan sebagai respon atas pertanyaan Yunho. Perutnya memang aneh belakangan ini. Dua tiga jam saja tidak diisi, lambungnya sudah meronta kelaparan. Padahal dirinya yang biasanya sanggup makan hanya sekali dalam sehari. Tak apalah. Lagipula ia tidak sedang berdiet.

"Apa yang ingin kau makan?"

Dengan mata yang bergerak-gerak imut, otak Jaejoong mulai memproses. "Em… kepiting, kepiting dan kepiting." Memikirkan makanan tersebut saja berhasil membuat Jaejoong harus menelan liurnya. Sudah cukup lama sejak rongga mulutnya terakhir kali dimasuki daging berjenis kepiting. Maklum saja, Kibum –adiknya alergi terhadap daging lembut hewan laut itu. Karena itulah ibunya jarang memasak makanan tersebut.

Masih menghayali makanannya, jari telunjuk Jaejoong mulai terarah pada bibirnya. Entah sadar atau tidak sadar, namja cantik itu mengigit jari telunjuknya sendiri. Seolah jemari indah itu merupakan jenis makanan yang sedang ia impikan saat ini. Ia bahkan tidak menyadari Yunho yang menertawai kelakuannya habis-habisan. Bukan karena apa yang dilakukan Jaejoong itu menjijikan. Hanya saja istrinya itu terlihat begitu polos dan manis disaat bersamaan. Sungguh bertolak belakang dengan sikap ketusnya terhadap Yunho selama ini.

Dengan berusaha menahan rasa ingin tertawanya, Yunho kembali berucap, "Arra… tapi restaurant seafood hanya dibuka waktu malam hari. Kita masih harus menunggu." Jaejoong langsung merengut mendengar penjelasan Yunho. "Malam nanti kau boleh makan seafood sepuasnya di restaurant terapung." tambah Yunho seakan mengerti arti raut wajah keruh Jaejoong.

"Tapi aku sudah lapar sekarang, Yunnie." Nah! Panggilan imut itu keluar lagi. Rasanya Yunho ingin melompat-lompat kegirangan mendengar namanya yang dilantunkan suara merdu sang istri. Berhenti sampai disitu Jung Yunho. Bukan saatnya kau melayang-layang seperti ini. Lebih baik kau cepat berikan asupan gizi pada perut Jaejoong yang makin lama semakin mirip dengan perut karet Shim Changmin – wakil presiden perusahaan hiburanmu.

Yunho tersenyum lembut, "Baiklah. Baiklah. Kita makan di café hotel saja siang ini."

.

Ting…tong…

.

Bel kamar pasangan suami-istri Jung ini berbunyi. Tidak ada yang tahu siapa gerangan yang membunyikannya. Yang jelas kini Jaejoong sudah buru-buru membukakan daun pintu agar sang tamu bisa segera melaksanakan kepentingannya.

"Yunho-oppa!"

Dahi Jaejoong langsung berkedut kesal melihat kedatangan yeoja pirang yang paling tidak diharapkannya itu. Jaejoong yang membukakan pintu, Jaejoong pula yang diacuhkan Jessica. Si pirang itu malah dengan tidak sopannya menerobos masuk ke dalam kamar dan segera menempeli Yunho. Sepertinya yeoja ini tidak pernah mendengar ceramah orangtuanya mengenai sopan santun.

Yunho memijit kepalanya pusing atas sikap Jessica. Keberanian yeoja ini sungguh kuat. Mana ada yeoja yang berani menempeli namja berstatus menikah didepan istrinya sendiri. Ditekankan sekali lagi, didepan istri namja itu sendiri. Ini sudah melebihi kata gila.

"Ayo kita makan bersama, oppa." ajak Jessica riang. Yeoja cantik berambut pirang ini kemudian menarik-narik manja lengan Yunho. Untunglah ia dilahirkan sebagai perempuan. Mau ditarik sekuat apapun, tubuh Yunho tidak akan semudah itu ikut bangkit sesuai keinginannya.

Sampai disini saja ulahmu Jessica Jung. Kini aura setan pembunuh yang kuat sudah menguar dari Jaejoong. Dengan bantingan yang cukup keras, namja cantik ini menutup pintu kamarnya. Wajahnya tertekuk kesal dengan bibir merahnya yang dimajukan beberapa mili.

Jaejoong menghampiri Yunho, "Yunnie~ Aku lapar, aegya juga sudah lapar." Bolamata Yunho nyaris saja keluar dari tempatnya mendengar rengekan Jaejoong. Sebagai catatan, kalau tadinya Jaejoong menekuk wajahnya kesal, kini ia malah mengeluarkan wajah memelasnya didepan Yunho dan Jessica. Belum lagi namja cantik ini menyinggung sesuatu tentang bayi. Semoga saja Jaejoong tidak bercanda tentang itu.

Sementara Jessica –yeoja ini langsung terdiam. Mungkin terlalu terkejut mendengar deretan kata yang keluar dari bibir Jaejoong. Sampai-sampai ia tidak menyadari sosok Yunho yang sudah sukses melepas jemari Jessica yang tadinya sibuk menarik lengan Yunho. "Kajja. Kita pergi." Namja tampan itu bahkan telah melangkah keluar dari kamarnya bersama sang istri.

Terlalu sering bersaing dengan Jaejoong sepertinya membuat kerja otak Jessica ikut melambat. Yeoja cantik ini masih terdiam walaupun dengan jelas ia melihat namja yang disukainya itu sudah pergi keluar dengan namja lain. Mungkin batinnya terlalu terguncang untuk cepat merespon rantai peristiwa yang sudah berlangsung.

"Jaejoong hamil?" guman Jessica setengah sadar. Beberapa detik kemudian barulah ia melototkan matanya selebar mungkin.

.

"TIDAK!"

.

.

.

.

Berlin's Seaside Hotel Café.

.

Jaejoong mengaduk-aduk supnya tidak berselera. Setelah makan sepiring steak dan sepiring spagetti, namja cantik ini tiba-tiba saja kehilangan nafsu makannya. Wajar saja mengingat banyaknya makanan berkalori tinggi yang sudah ia konsumsi. Sepiring steak dan spagetti itu cocok untuk menu dua orang. Siapapun pasti geleng kepala jika diminta memakan keduanya secara bersama.

Masih menikmati sup yang sama persis seperti milik Jaejoong, Yunho menatap bingung pada Jaejoong. "Kau tidak apa-apa, Joongie?" tanyanya penuh perhatian. Sebenarnya daritadi ia sudah ingin menanyakan perihal bayi yang sudah berhasil membuat pikirannya mendadak hang. Mungkin setelah mereka menyelesaikan makan siang ini, Yunho akan membahasnya kembali.

"Aku sudah kenyang, Yunnie."

Jung Yunho inilah saatnya untuk memulai topik pembicaraan itu. Kalau tidak hari ini diperjelas, bisa-bisa ia tidak akan tidur semalaman memikirkan masalah itu. "Soal yang tadi…"

"Soal aegya, eoh?" Yunho mengangguk. "Aku bohong. Mana mungkin aku hamil. Bagaimanapun aku ini namja tulen."

Harus Yunho akui, ia sedikit kecewa atas ungkapan Jaejoong. Padahal alangkah senangnya dirinya kalau bisa menggendong seorang bayi mungil yang mewarisi gennya. Bermain bersama. Melihatnya tumbuh besar. Menemaninya menghadiri acara sekolah dan banyak lagi. Pasti menyenangkan sekali.

"Aku hanya berusaha membantumu kabur dari nenek sihir itu." sambung Jaejoong. Yunho dapat melihat dengan jelas ekspresi kesal Jaejoong saat ini. Bukan hanya kesal biasa. Lebih menjurus kearah cemburu mungkin. Entah setan apa yang sudah merasuki pikiran Yunho hingga dirinya berani menarik kesimpulan se-ekstrim ini.

Sudahlah. Susah-susah membangun suasana tenang seperti ini, ada baiknya Yunho tidak mengungkit hal-hal yang bisa membangkitkan emosi Jaejoong. Tapi dibiarkan hening seperti ini pun rasanya tidak nyaman sekali. Tidak ada salahnya juga kalau sekarang Yunho mengeluarkan sisi jahilnya, "Bagaimana kalau kita buat aegya yang asli, Joongie?"

"Memangnya kau belum pernah mencoba membuatnya? Hasilnya juga tidak ada."

.

Oops… Jaejoong sontak menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Dari sekian banyaknya hal-hal memalukan yang pernah ia tunjukkan secara tidak sadar dihadapan Yunho, kali ini adalah yang terburuk. Tidak ada yang lebih memalukan lagi selain menyinggung tentang proses pembuatan bayi. - Kalian mengerti'kan maksud proses pembuatan bayi- dihadapan namja yang jelas-jelas merupakan sang pelaku proses tersebut.

Dengan tak berperikemanusiaan, Jaejoong menjatuhkan kepalanya diatas meja. Rasa sakit yang melanda kepalanya setelah itu tidak lagi ia pedulikan. Hancur sudah harga dirinya sebagai seorang uke dihadapan semenya sendiri. Parahnya, tadi ia bisa dengan santainya menjawab tawaran iseng Yunho.

Yunho tertawa tertahan mencermati gerak-gerik Jaejoong. Baru kali ini keisengannya bisa membuahkan sesuatu yang baginya begitu memuaskan. Terlebih lagi sosok Jaejoong yang salah tingkah itu lucu sekali. Sangat menggelitik kotak tertawa siapa saja.

"Kau tahu…" ucap Yunho disertai senyum penuh ambigunya. "Terkadang aku berpikir, betapa bahagianya keluarga ini kalau ada kehadiran aegya ditengahnya."

Jaejoong kembali menengadahkan kepalanya. Namja cantik ini sempat tertegun melihat lembutnya ekspresi wajah Yunho ketika menceritakan pemikirannya tadi. Bibir berbentuk hatinya melengkung membentuk sebuah senyuman menawan yang terlihat begitu tenang dan teduh.

"Aku bahkan belum memulai pendidikan ke Universitasku, kau sudah menghayal yang aneh-aneh." ketus Jaejoong. Padahal setelah dipikir-pikir, perkataan Yunho juga ada benarnya. Pasti rasanya lebih istimewa jika ia bisa menggendong seorang bayi lucu. Tapi bagaimanapun, ia ini namja. Sekuat apapun Yunho menerobos dirinya, aegya juga tidak mungkin keluar. Jarang-jarang ada namja yang bisa melahirkan.

Yunho menyesap jusnya sesaat, "Tidak perlu segalak itu, Joongie. Aku hanya berandai saja."

Samar-samar, Jaejoong bisa melihat sebersit kekecewaan dan kepasrahan di wajah Yunho. Ia jadi merasa seperti orang jahat disini. Sudah berkali-kali ia mengecewakan namja berstatus suaminya itu. Tapi Yunho selalu saja memakluminya dengan seribu cara.

"Kau sudah menentukan Universitas pilihanmu nanti?" Menyadari peralihan topik yang dilakukan, Jaejoong mengangkat bahunya, "Entahlah. Lulus atau tidak pun belum ada pengumumannya."

Dengan acuh tak acuh, Jaejoong kembali asal mengaduk supnya. Sementara Yunho sendiri juga tak kalah menganggurnya dengan Jaejoong. Yang ia lakukan malah hanya menatap Jaejoong intens tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kesunyian kali ini lumayan dinikmati pasangan suami-istri Jung ini. Keduanya sama-sama berkutat dengan pikirannya masing-masing.

"Sepertinya kau sangat antusias menjejaki pendidikan sampai begitu tinggi."

"Tentu saja." sahut Jaejoong, "Dulu eomma-ku hanya bisa bersekolah sampai tingkat Sekolah Menengah Atas karena buruknya ekonomi keluarga eomma. Sekarang ekonomi orangtuaku juga bagus, pastinya aku harus bisa bersyukur dengan belajar sungguh-sungguh."

"Ralat ucapanmu. Yang benar keadaan ekonomi'ku –Jung Yunho, bukan orangtuamu."

"Arra…arra…"

Semoga saja kalian masih ingat akan kewajiban Yunho sebagai suami dan kepala keluarga yang bertanggung jawab. Semua hal yang bersangkutan dengan Jaejoong baik itu sandang, pangan bahkan sampai pendidikan, ia-lah yang bertugas menanggungnya.

"Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mencarikanmu Universitas yang kualitasnya bagus." Bukannya menyetujui tawaran Yunho, Jaejoong malah langsung menggeleng cepat. Mata bulat jernihnya langsung menatap pada kristal setajam mata elang suaminya, "Tidak apa… Aku bisa mencarinya sendiri, aku tidak ingin menambah bebanmu. Kau cukup fokus saja pada pekerjaanmu."

Sepertinya istri Jung Yunho kali ini sudah mulai melunak dan Yunho tahu itu. Dengan penuh kasih sayang, Yunho mengacak rambut Jaejoong. "Gomawo..."

Jaejoong hanya bisa tersenyum menanggapi suaminya itu. Sebenarnya ia tidak mengerti mengapa suaminya itu berterima kasih padanya. Padahal seharusnnya ia-lah yang bersyukur sudah menikah dengan namja penuh tanggung jawab seperti Yunho. Yah… anggap saja ini merupakan kemajuan dari hubungan Jung Yunho dan Jung Jaejoong ini.


.

.

.

.


Neul Param High, Seoul.

.

Selepas mengantar Jaejoong dan Yunho ke bandara pagi-pagi tadi, Kibum kembali melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Mandi, sarapan dan menunggu Siwon menjemputnya kesekolah. Tidak ada yang istimewa hari ini. Bahkan sampai ketika bel istirahat sudah berbunyi, semuanya tampak biasa saja.

Well…Kalau mau dicermati kondisi sebenarnya, bukan tidak ada hal yang khusus hari ini. Kim Kibum saja yang terlalu innocent untuk menyadari tatapan menusuk dari para penggemar wanita Siwon. Sekolah ini tadinya sempat dihebohkan dengan berita baru mengenai dimulainya hubungan ketua osis es sekolah mereka dengan namja terpolos sekolah ini. Dan dengan demikian, terbentuklah dua kubu khusus yeoja baru di Neul Param. Yang satu kelompok para penggemar Siwon yang menentang hubungan pasangan ini. Yang lainnya para fujoshi yang mendukung seratus persen Kibum dan Siwon.

Istirahat kali ini dilalui Kibum sendirian. Sang kakak dan sahabatnya –Kim Junsu sudah selesai ujian akhir. Tersisalah Kibum seorang disekolah ini. Untungnya sejak tadi pagi, para fujoshi pendukungnya setia sekali menemaninya berbicara ini itu. Setidaknya ia tidak akan mati kebosanan. Tapi sayang para yeoja tersebut kini entah menghilang kemana.

Sambil menikmati roti selainya, Kibum membolak-balikkan buku pelajarannya. Jangan kira namja polos ini akan belajar disaat-saat istirahat begini. Ia hanya mengamati ilustrasi menarik yang tercetak diatas buku pelajarannya.

.

Brakk…

.

Asyik-asyiknya Kibum mengagumi ilustrasi bukunya, ia malah dikejutkan oleh mejanya yang digebrak kuat oleh seorang yeoja. Penggemar fanatik Siwon mungkin. Yang jelas Kibum dapat membaca dengan jelas nametag-nya yang bertuliskan Tiffany. Bukan hanya ada Tiffany seorang yang hadir ditempat. Tepat dibelakangnya, kita semua juga dapat melihat sekitar empat orang yeoja lagi. Kurasa tidak perlu repot menyebutkan nama mereka satu per satu.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Kibum memasang wajah tanpa dosanya dengan kelopak matanya yang mengerjap bingung. Namja manis ini sama sekali tidak menyadari hasrat haus darah yang menggebu-gebu dari lima orang yeoja cantik dihadapannya ini. Teman sekelasnya yang lain saja sudah bergidik ngeri menatap yeoja yang notabenya merupakan senior kelas dua mereka.

Raut wajah Kibum kali ini memang cukup meluluhkan hati, tapi tidak bagi lima orang yeoja ini. Bukan! Bukan lima. Hanya seorang saja yang masih memasang tampang setannya. Empat pengikutnya yang lain sudah melumer melihat kemanisan dan kepolosan Kibum.

"Kau! Kau tidak perlu sok manis dihadapan kami! Menjijikan!"

Oke… ini kasar sekali. Kibum saja sampai kaget mendengar bentakan Tiffany. Heran juga ia dengan sikap kakak kelas yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Setahunya ia tidak melakukan kesalahan apapun.

Kibum menunjuk dirinya sendiri, "Menjijikan? Benarkah Kibummie menjijikan?" Tiffany mengangguk mantap memberi kepastian kepada Kibum. Sepertinya sampai sekarang pun ia masih tidak menyadari otak Kibum yang sesungguhnya tidak menganggap perkataan Tiffany sebagai sesuatu yang bermaksud mencelanya. Ia terlalu polos untuk itu.

"Tapi tadi pagi Kibummie sudah cuci muka dan gosok gigi. Badan Kibummie juga sudah bersih, tidak mungkin menjijikan seperti yang sunbae katakan."

Menepuk kepalanya pelan, Tiffany baru mengingat predikat super innocent yang sudah Kim Kibum sandang sejak lama. Mau dimaki sampai mulut berbuih pun, namja manis itu tidak akan ambil hati.

"Kenapa kau merebut Siwon-ku?" jerit Tiffany langsung ke inti pembicaraan. Telunjuknya dengan kurang ajarnya menuding tepat di depan wajah manis Kim Kibum.

Berhenti memaki Kibum sesuka hatimu. Jangan terus menghujam dirinya dengan ribuan kata menusuk. Itu hanya membuang tenaga kalian saja, "Kibummie tidak merebut Siwonnie. Siwonnie saja tidak pernah bercerita kalau ia mengenal sunbae."

Skat mat! Mati kau Tiffany. Perkataan tanpa maksud menantang Kibum tadi memang fakta. Setahun ini ia hanya merupakan penggemar fanatik seorang Choi Siwon. Belum sekalipun ia berani berkenalan langsung dengan ketua osis Neul Param itu. Kim Kibum. Terkadang kepolosanmu berguna juga.

Seisi kelas sontak meledakkan tawa mereka. Ini seperti menonton adegan komedi gratis. Salah Tiffany sendiri menantang Kibum. Hasilnya malah ia yang membeku malu dihadapan puluhan adik kelasnya itu. Jelas-jelas ia tahu tidak akan ada yang sanggup menahan semua sikap tidak berdosa Kibum selain kesabaran Siwon.

Tiffany melirik tajam adik kelas yang sudah menertawainya itu. Sontak kelas berubah hening kembali. Meninggalkan Tiffany berserta empat yeoja pengikutnya yang sibuk berkacak pinggang dan Kibum yang hanya bisa melempar tatapan bingungnya.

"Kau, Kim Kibum! Permainan kita akan dimulai sekarang!"

.

.

.

.

Benar apa yang diucapkan Tiffany istirahat tadi. Yeoja berambut hitam itu tidak main-main akan rantaian kata menantang yang ia lontarkan untuk Kibum. Pasalnya, pulang sekolah ini saja Kibum sudah tertimpa sial yang lumayan. Misalnya seperti kakinya yang disandung secara sengaja sewaktu menuruni tangga. Syukur saat itu ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan tidak berakhir tergelincir dan jatuh menggelinding dari tangga. Membayangkannya saja sukses membuat Kibum merinding ketakutan.

"Kira-kira apa yang sedang dilakukan Jaejoong-hyung dan Yunho-hyung, ya?" guman Siwon memulai pembicaraan. Choi Siwon –namja tampan ini tampaknya tidak tahu-menahu tentang keusilan yang dilakukan penggemarnya terhadap sang kekasih. Terlihat jelas dari gaya santainya seolah semuanya normal-normal saja.

Kalau ditanya apa yang sedang dua remaja ini –Siwon dan Kibum lakukan, jawabannya hanya satu. Membersihkan kebun di kediaman Kim. Memang ini bukan waktu yang lazim untuk melakukan aktivitas seperti itu. Apalagi langit kini sudah mulai berganti warna menjadi jingga, khas sore hari. Dan seharusnya juga Siwon sudah pulang ke apartemennya mengingat ayah dan ibu Choi ini hendak mengunjunginya.

Tapi sebagai kekasih yang baik, Siwon tidak mungkin tega meninggalkan Kibum di rumah seorang diri. Menurut ucapan Kibum, orangtuanya akan pulang sekitar pukul sepuluh malam. Maklum, anak kerabat mereka akan mengadakan pesta pernikahan di tempat yang lumayan jauh dari Seoul. Jika tadinya Kibum tidak sekolah, pasti ia juga diajak pergi.

Kalian juga tidak perlu merisaukan tentang orangtua Siwon. Sebelum mendatangi kediaman Kibum sepulang sekolah tadi, ia sempat menelepon ayah dan ibunya. Memberitahu mereka untuk menunda niat berkunjung mereka berhubung ia akan pulang malam. Sebenarnya sejak kemarin, ibu Siwon sudah dengan tidak sabarnya memaksa Siwon untuk mempertemukannya dengan Kibum. Ia suka sekali dengan namja manis kekasih baru Siwon itu.

Heran mengapa ibu Siwon bisa tahu tentang Kibum? Kaku-kaku begini, semua masalah percintaan Siwon juga diceritakan kepada sosok ibu tercintanya.

Kibum masih sibuk menyirami tanamannya dengan air yang mengalir dari selang panjang, "Kata eomma, pulang nanti pasti Jae-hyung dan Yunho-hyung akan punya aegya." Siwon tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Kibum. Ralat. Lebih tepatnya, namja manis itu hanya memutar ulang apa yang ibunya katakan padanya kemarin.

.

"Mungkin saja…"

.

Sedikit mengangkat bahunya, Siwon kembali melanjutkan pekerjaannya memangkas pendek rumput-rumput liar yang tumbuh diatas tanahnya berpijak. Sesekali ia tersenyum sendiri memikirkan fakta kalau kini ia sudah berhasil mendapatkan hati Kibum. Perjuangan cintanya selama bertahun-tahun ternyata tidak buruk juga. Yah… meskipun terkadang ia angkat tangan juga dengan kepolosan Kibum yang bisa membuat orang menggila itu.

"Siwonnie." Kibum menghentikan pekerjaannya, " Bagaimana caranya bisa mendapat aegya?"

Bagus Kim Kibum. Pertanyaanmu sungguh hebat bisa membuat Siwon membeku total.

Merasa tidak mendapat respon yang setimpal, Kibum menjerit, "Siwonnie!"

Siwon tersentak kaget dan segera ikut menghentikan pekerjaannya. Namja tampan bermarga Choi ini kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menarik nafas panjang. Bagaimana cara menjelaskannya, ia juga tidak tahu lagi. Hal seperti ini terlalu vulgar untuk diterangkan sedikit demi sedikit. Selain itu, ini juga termasuk mengotori pikiran polos Kibum.

Tidak! Tidak! Choi Siwon, jangan sampai kau menjadi orang pertama yang meracuni pikiran polos Kibum dengan hal yang tidak-tidak. Enambelas tahun ibu Kibum susah-susah menjaga kemurnian bungsu Kim itu dengan menjauhkan berbagai hal tidak baik darinya, Siwon tidak boleh dengan lancang merusaknya.

"I-itu…" Kibum tampak antusias ketika Siwon hendak mulai menjelaskan. Setidaknya pertanyaan yang selama bertahun-tahun ini ditanyakan kepada sang ibu –dan tentu tidak dihiraukan- akhirnya bisa terjawab juga.

Sekarang yang menjadi perkara adalah Siwon. Otaknya sudah terlalu pusing untuk memikirkan alasan apa saja agar bisa terhindar dari situasi ini. Tapi kalau ia tidak memuaskan rasa penasaran Kibum, bisa-bisa kekasihnya itu ngambek ala balita.

.

"M-mereka bisa mendapat aegya… setelah menikah. Ne! Setelah menikah!"

.

"Benarkah?"

Siwon menganggukkan kepalanya. Berterima kasihlah pada otaknya yang mendadak plong dan bisa bekerja dengan cepat.

"Tapi Kibummie masih belum mengerti cara mereka membuat aegya." Kibum menggembungkan pipinya sebal.

"Setelah menikah nanti, Kibummie juga pasti tahu caranya. Aku juga tidak tahu karena aku belum menikah." Sesekali berbohong kedengarannya tidak masalah. Suatu hal yang tidak mungkin bagi Siwon untuk mengatakan setelah berhubungan seks dengan pasangan, kau bisa punya peluang untuk hamil, melahirkan dan memiliki aegya. Itu sama saja dengan menebar kemesuman ke dalam kepolosan Kibum.

Kibum menganggukkan kepalanya mengerti. Sepertinya besok ia akan bertanya sekali lagi pada ibunya. Bukankah Siwon bilang hanya orang yang sudah menikah yang tahu caranya? Ibunya sudah menikah dengan ayahnya. Seharusnya yeoja paruh baya itu tahu metodenya. Apalagi hasilnya saja sudah terlihat –Jaejoong dan Kibum. Kalau ibunya lagi-lagi tidak mau menjawab, mungkin ia bisa bertanya pada Jaejoong. Kakak sulungnya itu juga sudah menikah, bukan begitu?

.

Ctar…

.

Petir menyambar. Langit berubah mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Lebih baik mereka segera menghentikan pekerjaan berkebun sore ini. Jangan sampai keduanya kehujanan dan berakhir sakit flu, "Ayo Kibummie, cepat masuk ke rumah."

Belum sempat Kibum bergerak dari tempatnya, gerimis hujan sudah mulai turun. Siwon secepatnya menghampiri Kibum dan menarik lengannya masuk.

"Auw…" Namja manis bermarga Kim ini meringis sambil memegang bahunya yang sedikit berkontraksi seiring dengan lengannya yang ditarik. Hal tersebut sontak membuat Siwon melepas tarikannya dan beralih menatap Kibum penuh kekhawatiran.

"Gwaenchana, Kibummie?"

Kibum masih saja meringis. Melihatnya, Siwon merasa bersalah karena menarik lengan kekasihnya terlalu terburu-buru. Tapi gerimis tadi sudah mulai semakin kuat dan kuat. Kalau tidak masuk rumah sekarang, mungkin mereka bisa basah kuyup.

Dengan halus, Siwon merangkul bahu Kibum dan membimbingnya menempuh jalan ke dalam kediaman Kim. Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Siwon segera mendudukkan sang kekasih diatas sofa ruang TV. Ruang yang paling dekat dari pintu masuk.

"Biar kulihat bahumu." Pelan-pelan Siwon melepas cengkeraman jemari Kibum dari bahunya, melepas kaos Kibum sambil meneguk ludahnya susah dan langsung membulatkan matanya lebar melihat memar kebiruan yang menodai bahu namja manis itu.

Sewaktu disandung tadi tampaknya bahu Kibum tanpa sengaja terantuk keras pada pegangan tangga. Niat awalnya hanya berusaha menyeimbangkan diri. Kalau mau jujur, sebenarnya sedari tadi rasa sakitnya sudah agak terasa. Hanya saja Kibum mati-matian menahannya. Ia tidak ingin Siwon khawatir akan keadaannya.

.

"Kenapa kau bisa memar seperti ini, Kibummie?"

.

"…"

.

Pasti ulah penggemar fanatiknya pikir Siwon. Di sekolah tadi, namja tampan ini memang mendengar bisikan gosip bahwa Kibum dikerjai oleh yeoja senior mereka. Berhubung ia tidak memiliki kepastian atas benar atau tidaknya gosip itu, ia tidak begitu ambil pusing tadinya. Lagipula ia pikir penggemar gilanya itu tidak akan berani macam-macam pada kekasihnya.

.

"Dimana letak kotak obatnya?"

.

"Di laci kanan dekat dapur."

.

Siwon beranjak membongkar kotak obat, mengeluarkan sebuah salep dan segera mengoleskannya pada luka Kibum. Wajahnya tampak begitu keras dan mengandung kemarahan yang kental. Dalam hati ia bersumpah akan mencekik fans-nya jika Kibum terluka lagi.

"Siwonnie marah pada Kibummie?" tanya Kibum menundukkan kepalanya menyesal. Tahu begini tadi ia mengatakannya saja pada Siwon secara langsung. Ia tidak suka melihat kekasihnya itu marah seperti saat ini. Siwon yang sekarang tampak menyeramkan dimata Kibum

Siwon menghela nafas, sedikit melembutkan ekspresi wajahnya. "Aniya. Tapi lain kali Kibummie harus memberitahuku kalau ada yang menjahatimu, arra?"

Kibum menganggukkan kepalanya semangat. Dilipatnya masuk ibu jarinya, menyisakan keempat jemari kanannya yang lain. Namja cantik ini kemudian segera mendekatkannya pada bagian atas pelipis kanannya. Seolah memberi hormat layaknya tentara militer.

"Ne! Jenderal Choi Siwon!"


.

.

.

.


Next day, Berlin Tourist Centre.

.

Yang paling semangat mengelilingi pusat cinderamata Berlin kali ini tak bukan dan tak lain merupakan Jung Jaejoong. Beruntung sekali ia datang ke Berlin disaat-saat kota ini mengadakan festival pertengahan tahun dimana para penduduk membuka berbagai stand dan kios kecil. Ia juga tidak perlu takut tersesat karena Yunho dengan setianya mengekori kemanapun langkahnya pergi. Bukan hanya itu saja, Jessica –yeoja cantik yang biasanya selalu menempeli suaminya itu tidak terlihat batang hidungnya sejak pagi tadi. Entah kemana perginya yeoja centil itu, Jaejoong tidak peduli.

Sesekali Jaejoong menghampiri beberapa kios dan menoel-noel kerajinan tangan yang dijual. Tidak ada satupun pemilik stand tersebut yang marah akan sikap Jaejoong. Mereka –yang kebanyakan terdiri dari yeoja dan namja lanjut usia malah menyambut senyum penuh kebahagiaan Jaejoong dengan menawarkan lebih banyak lagi barang-barang yang lebih imut kepadanya. Meskipun pada akhirnya namja cantik itu tidak membeli satu pun dari sekian banyak barang tersebut.

Suasana tampak ramai siang ini. Jumlah orang lalu lalang yang terbilang sudah melebihi kata banyak, cukup untuk membuat udara terasa sedikit panas. Namun sepertinya hari ini Yunho justru harus berterima kasih akan kepadatan pengunjung pusat cinderamata. Karena itulah ia bisa bergandengan tangan begitu erat dengan Jaejoong tanpa menghadapi perlawanan sedikitpun dari Jaejoong. Namja cantik itu juga takut terpisah dari Yunho dan tenggelam dalam lautan manusia tersebut.

"Palli!" Jaejoong menarik jemari tangan Yunho yang sedari tadi bersilang erat dengan miliknya sendiri. Jengkel juga ia melihat jalan sang suami yang tidak ada cepat-cepatnya. Padahal ia masih ingin melihat banyak sekali produk-produk yang didagangkan komunitas penjual cinderamata ini. Mana tahu ia bisa menemukan sesuatu yang tepat untuk dijadikan buah tangan Kibum pulang nanti.

Mendengus kesal, Yunho mempercepat langkahnya, menyamakannya dengan jejakan kaki Jaejoong. Sesungguhnya, ia tidak suka suasana ramai seperti ini. Baginya, keramaian hanya akan menambah penat dalam pikirannya. Hanya bisa menurunkan mood seseorang. Kalau bukan demi Jaejoong, Jung Yunho tidak akan pernah sekalipun mau berjalan-jalan di tempat seperti ini.

Ayolah Yunho… Ikhlas-kan sajalah. Ini merupakan bulan madu kalian. Daripada mendengus dan mengerutkan wajah seperti ini, lebih baik kalian membuat banyak kenangan manis di kota ini. Jarang-jarang kau punya waktu untuk mengajak Jaejoong berpergian keluar negeri.

Yunho tampak menarik nafas panjang. Pelan-pelan, ia mulai menghapus wajah masamnya. Menggantinya dengan sesuatu yang lebih terlihat santai. Ada benarnya juga ia ikut menikmati perjalanan kali ini. Setidaknya ia bisa melihat wajah ceria Jaejoong yang sangat menyegarkan batin itu.

Enak-enaknya Yunho melamun, ternyata mereka sudah sampai di sebuah kios yang menjual puluhan macam boneka. Jaejoong tampak sibuk memilih-milih boneka yang diletakkan bergerombolan didalam sebuah keranjang besar. Sesekali, namja cantik itu mengusapkan boneka tersebut pada pipinya sekedar merasakan kadar kelembutannya.

"Yunnie, lihat ini." ucap Jaejoong seraya menunjukkan sebuah boneka berbentuk burung dengan warna merah yang mendominasi. Singkat katanya boneka angry birds. Dengan iseng, Jaejoong menautkan kedua alisnya sedekat mungkin dan mengerucutkan bibirnya. Sedetik setelahnya, namja cantik yang sudah menikah ini kemudian mendekatkan boneka tersebut disamping wajahnya. Maksudnya ingin membandingkan wajahnya dengan ekspresi galak boneka burung merah tersebut.

Sambil tertawa lucu, Yunho menyentil dahi Jaejoong, "Dasar nakal…"

Jaejoong meleletkan lidahnya mengejek Yunho. Setelahnya ia kembali memandang wajah boneka tersebut. "Apa kau tidak merasa alis burung ini mirip dengan punya Siwon, Yunnie?" tanya Jaejoong. Kompak, pasangan suami-istri ini menengadah. Keduanya sama-sama meletakkan jarinya diatas dagu sendiri membayangkan wajah Siwon jika namja bermarga Choi itu menautkan alisnya seperti Jaejoong tadi.

Sontak Jaejoong dan Yunho berpandangan lama. Dan kemudian mengeluarkan tawa tertahan mereka. Ternyata setelah dibayangkan, perkataan Jaejoong tepat sekali. Memang wajah Siwon dan burung merah itu hampir mirip. Tapi, tentu saja Siwon berkali-kali lipat jauh lebih tampan.

"Ah! Geurae! Boneka ini untuk Kibummie saja. Biar si innocent bodoh itu tidak merengek-rengek kalau tidak bertemu Siwon."

.

"Ide brilliant !"

.

.

.

.

Sekarang, giliran stand aneh berisi flashdisc dan kepingan disc yang dikunjungi pasangan ini. Yunho tampak sedang membolak-balik kepingan tanpa tulisan yang tertutup rapi dalam sebuah segel plastik keras itu. Jaejoong bingung sendiri melihat suaminya. Pasalnya, sama sekali tidak ada tulisan yang bisa dibaca dari kepingan disc tersebut. Tidak ada gunanya Yunho membolak-balik dan mengamatinya seserius apapun.

Tidak mau kebosanan, Jaejoong juga ikut meraih salah satu kepingan tersebut dan membuka tutup wadah plastik kerasnya didasari rasa penasaran. Setahunya, biasanya jika sebuah toko menjual kepingan disc seperti ini, wadahnya pasti selalu ditempeli kertas berisi gambar aktor dan aktris yang berperan dalam film tersebut ataupun hanya sekedar sinopsis ceritanya. Tapi khusus untuk yang satu ini, ia tidak bisa menemukan satupun disc yang memiliki syarat tersebut.

"Ini disc apa, Yunnie?" tanya Jaejoong sembari meletakkan kembali kepingan tersebut.

.

"Disc film yadong."

.

Detik pertama. Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

.

Detik kedua. Namja cantik itu beralih menatap Yunho.

.

Detik ketiga. Mata doenya membulat lebar.

.

"MWO!"

Dan pada detik keempat, ia langsung dengan beringasnya menarik suami mesumnya keluar dari toko yang menurutnya nista tersebut.

Yunho hanya bisa tertawa dalam hati melihat respon Jaejoong. Tentu saja ia hanya mengerjai istrinya. Tidak mungkin ada stand disc yadong yang asal dibiarkan beroperasi seperti tadi. Stand itu hanya menjual berbagai keperluan untuk perangkat komputer. Misalnya flashdisc dan CD-Room –keping yang Yunho pegang tadi. Bodohnya, Jung Jaejoong malah mempercayai ucapannya.

.

.

.

Berhubung teriknya matahari cukup menguras keringat, Yunho dan Jaejoong memilih berteduh pada sebuah stand penjual es-krim. Seorang diri, Jaejoong duduk diam sambil menikmati sensasi dingin yang dirasakannya ketika sang es-krim lembut melumer didalam rongga mulutnya. Sementara Yunho, namja tampan ini sedang mencari toilet umum yang disediakan disekitar pusat cinderamata. Panggilan alam membuatnya mau tak mau harus meninggalkan istrinya berteduh sendiri sementara.

Selesai menuntaskan panggilan alamnya, Yunho segera membersihkan tangannya. Buru-buru ia keluar dari toilet tersebut dan segera berjalan menjauh. Sudah terlalu lama ia meninggalkan Jaejoong sendirian. Maklum saja, lokasi toiletnya sedikit rumit untuk dicapai. Bahkan tadi Yunho harus bertanya pada beberapa pemilik kios seputar letak toiletnya.

Yunho tiba-tiba berhenti melangkah ketika mata elangnya menangkap bangunan dengan penjagaan ketat yang berdiri kokoh di sisi kirinya. Ia bisa membaca dengan jelas tulisan 'Jewellery Shop' dari stiker khusus kaca yang tertempel pada pintu kaca toko tersebut. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya. Melainkan sesuatu yang berkilau dari etalase toko tersebut. Sesuatu yang menurut Yunho sangat cantik.

Namja tampan ini beralih masuk ke dalam toko tersebut. Tidak mudah ia bisa masuk kedalam. Sebelumnya, ia masih harus menjalani pemeriksaan oleh dua orang penjaga berbadan kekar yang berdiri disamping kiri dan kanan pintu masuk toko. Jaga-jaga agar tidak ada yang melakukan perampokan terhadap toko perhiasan berkualitas tinggi itu.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapa seorang karyawan yeoja dengan aksen bahasa Inggrisnya yang kuat.

"Aku ingin memesan cincin di etalase depan." jawab Yunho dengan bahasa Inggrisnya yang tak kalah fasih. Bertahun-tahun bergelut dalam dunia bisnis hiburan, ia sudah terbiasa mendengar dan juga mengucapkan bahasa Internasional tersebut.

Karyawan tersebut tersenyum ramah dan kembali bertanya memastikan, "Cincin pernikahan pasangan pria dan pria?" Yunho menganggukkan kepalanya pelan. "Ukuran diameter satu koma lima centimeter untuk yang 'wanita' dan satu koma delapan centimeter untuk yang 'pria'." jelas Yunho lagi.

Masih dengan senyum ramah yang menempeli wajah khas orang Eropanya, karyawan tadi segera mencatat permintaan Yunho setiap detilnya.

"Dan pastikan kalian mengukir nama Jaejoong Kim dibalik cincin 'pria' dan Yunho Jung di cincin yang 'wanita'. Dua hari lagi aku akan kembali kesini dan mengambilnya."


.

.

.

.

.


Berlin's Seaside Hotel.

.

Setelah menikmati perjalanan panjang, Yunho dan Jaejoong akhirnya kembali ke kamar hotel nan nyaman mereka. Mungkin sehabis istirahat dan mandi, keduanya akan turun untuk makan malam. Sehubung kamar mandi yang tersedia hanya ada satu, jadilah pasangan suami-istri ini mandi secara bergantian. Didahului oleh Jaejoong dan dilanjutkan oleh Yunho.

Selagi giliran Yunho tiba, Jaejoong duduk diatas karpet didekat kopernya. Sibuk merapikan pakaiannya dan Yunho. Memilah antara yang bersih dan yang sudah kotor kemudian menyusun yang bersih ataupun yang masih layak pakai didalam lemari. Besok pagi Jaejoong baru akan mengantar pakaian kotornya dan sang suami untuk di laundry di tempat yang memang termasuk pelayanan hotel ini.

"Yak! Yunnie! Kenapa lama sekali kau mandi?" keluh Jaejoong dengan suara yang terbilang keras. Jenuh juga ia menanti keluarnya Yunho dari ruang membersihkan tubuh tersebut. Jangan kira ia mendesak Yunho karena ingin ditemani, ia hanya ingin cepat-cepat mengumpulkan pakaian kotor Yunho dan memasukkannya kedalam kantung plastik.

.

Kriett…

.

Entah ini merupakan kesialan atau keberuntungan, tidak ada yang berani menganalisisnya lebih lanjut. Yang jelas, dari pintu kamar mandi yang terbuka, Jaejoong bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kemunculan Yunho. Bukan sekedar Jung Yunho biasa. Melainkan Jung Yunho yang hanya dibalut selembar handuk yang dililitkan dibagian pinggangnya saja. Selain dari daerah pinggang sampai lutut, Jaejoong dapat dengan jelas melihat seluruh otot-otot perut Yunho yang terbentuk sempurna.

Buru-buru Jaejoong mengalihkan pandangannya. Dengan berat hati, Jaejoong harus mengakui keindahan tubuh suaminya itu. Tidak heran lagi mengingat Yunho yang sering pergi ke gym bersama Siwon untuk berolahraga. Jaejoong saja iri dengannya. Bukan berarti namja cantik ini sama sekali tidak punya abs yang terbentuk. Hanya saja, mau dilatih sekuat apapun, abs yang ia miliki hanya bisa mencapai kadar keindahan seorang uke. Tidak bisa tampak manly seperti milik Yunho.

Jaejoong mengulurkan tangannya naik keatas, tepat mengarah kepada Yunho masih dengan kepala yang tertunduk. Seakan mengerti isyarat Jaejoong, Yunho segera menyerahkan pakaian kotornya untuk ditangani sang istri. "Durasi waktu mandimu itu seperti putri raja saja." cibir Jaejoong. Jemari namja ini dengan ligatnya melipat pakaian yang tadinya diserahkan Yunho dan cepat-cepat memasukkannya kedalam kantung khusus pakaian kotor.

Yunho hanya diam acuh tak acuh dengan lengan yang aktif memakaikan kaos putih polos yang sudah disediakan Jaejoong diatas kasur. Nanti saja acara mengganggu istrinya ia laksanakan, pakaiannya lebih penting. Udara yang dihembuskan pendingin kamar bisa saja membuatnya sakit jika terlalu lama menerpa kulit. Lagipula kapan saja ia mau menggoda istrinya, ia bebas melakukannya.

Selesai berpakaian lengkap, namja tampan bermarga Jung ini segera mendudukkan dirinya diatas karpet. Tepat disamping Jaejoong yang tidak henti-hentinya mengubrak-abrik isi koper mereka berdua. Yunho mendekatkan wajahnya pada pipi merah merona Jaejoong, menatapnya gemas sebentar dan mengecupnya sayang.

"Kau!"

Awalnya Jaejoong ingin sekali menempeleng keras kepala Yunho. Tapi ia memilih mengurungkan niatnya setelah melihat senyum tulus yang dilengkungkan bibir Yunho. "Hari ini menyenangkan sekali. Aku jadi rindu berlibur bersama appa dan eomma." lirih Yunho. Jaejoong dapat menangkap seberkas perasaan sedih dari nada bicara Yunho. Ia yakin, namja tampan itu pasti sedang memikirkan ibunya.

"Kau merindukan eomma, Yunnie?" Yunho mengangguk lemah. Jaejoong diam memeluk lututnya sendiri, menumpukan dagunya pada sang lutut dan kembali bernafas sedikit tidak teratur. Berbicara seputar topik ini, ia jadi merasa tidak nyaman dan sedih, "Aku juga…"

Kalau saja waktu itu ayah dan ibu Yunho mendengar nasihat Yunho untuk tetap dirumah, mungkin keduanya masih bisa bercanda tawa bersamanya dan Yunho. Tapi kalau waktu itu kedua mertuanya tidak pergi, Yunholah yang bertugas pergi. Ia juga tidak mungkin sanggup bertahan kalau namja itu meninggalkannya selamanya. Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah berlalu.

"Kau tahu…" guman Yunho menghadap Jaejoong dan menggenggam kedua tangannya. "Sepeninggal eomma, aku benar-benar seperti orang gila. Hidup segan mati tak mau. Batinku kacau balau waktu itu."

"Tidak jarang juga aku berpikiran untuk ikut eomma pergi saja. Dengan begitu aku tidak akan pusing lagi akan hidupku." ungkap Yunho. Jari-jari tangan namja tampan ini lalu mengelus pipi Jaejoong penuh kasih. Kristal elangnya tak lepas dari pandangan teduh nan dalam menembus kristal jernih Jaejoong, "Tapi aku langsung mengurungkan niatku karena satu alasan –kau, Jung Jaejoong."

Mata doe milik Jaejoong membuka lebar mendengar ungkapan Yunho. "Aku?" tanyanya memastikan.

"Ne, Kau. Orang yang mendukungku bangkit. Orang yang merawatku. Orang yang selelah apapun bisa mengatasi ulah depresiku." ungkap Jung Yunho masih tak luput dari senyumnya itu. "Kaulah yang membuatku sadar kalau masih ada yang harus kulindungi."

"Jinjja?" Jaejoong mengerjap terharu. Butiran airmatanya sudah nyaris meleleh keluar membasahi pipinya. Belasan tahun ia hidup, ini pertama kalinya ia merasa berguna bagi seseorang. Rasanya melebihi kata menakjubkan sekalipun.

Yunho tidak sempat lagi membalas ucapan Jaejoong yang tiba-tiba saja menerjang memeluknya. Tubuh Jaejoong terasa hangat dan nyaman untuk dibalas pelukannya. Mirip seperti sosok ibunya yang paling ia cintai.

Jaejoong dan Yunho –keduanya sempat berpandangan cukup lama sehabis melepas pelukan mereka. Perlahan tapi pasti, kontak mata itu terputus. Terputus seiring dengan menempelnya kedua bibir pasangan suami-istri ini. Lebih baik kalian jangan melihat. Ini hanya akan membuat iri siapa saja mengingat lembutnya ciuman mereka kali ini.

Sekitar satudua menit kemudian, ciuman lembut mereka terhenti. Berganti menjadi sesuatu yang lebih ganas dan panas dari sebelumnya. Sesuatu yang berkaitan dengan hisapan dan lumatan penuh nafsu dan juga kasih sayang. Masa bodoh kalau mereka akan melewatkan makan malam kali ini. Lumatan panas kali ini sepertinya sudah cukup untuk menggantikan pasokan makanan untuk malam ini.

Tetap dalam kenikmatan melumat bibir, Yunho bergerak menggendong Jaejoong bridal. Mengangkat tubuh ringan tersebut keatas kasur dan menindihnya dengan lembut. Seiring dengan intensitas ciuman yang makin meningkat, telapak tangan Yunho mulai mengusap dahi Jaejoong. Menyingkirkan poni almond istrinya itu dengan lembut –sangat lembut. Mirip seperti sedang mengelus ubun-ubun rawan seorang bayi kecil.

Kelihatannya apa yang akan pasangan ini lakukan untuk selanjutnya sudah bisa dipastikan. Mohon jangan mengganggu keduanya.

.

.

.

.

"Oppa pasti akan suka ini."

Jessica berjalan riang menyusuri koridor hotel tempat namja pujaan hatinya menginap. Wajahnya terlihat berseri-seri dengan tangan yang memegang erat sebuah kotak bekal. Seharian ini ia menghilang dari Jaejoong dan Yunho demi membuatkan bekal ini.

Kebanyakan orang-orang pasti geleng kepala menyadari lamanya waktu yang diperlukan yeoja ini untuk menyiapkan bekal sesederhana itu. Tapi kalau dipikir-pikir akan pengalaman memasak Jessica yang berada pada batas angka nol, itu cukup wajar. Apalagi sayur dan daging yang ia siapkan itu sengaja diburunya di supermarket berkualitas tinggi. Ia juga sempat tersesat dalam perjalanan pulang ke hotelnya tadi.

Kamar enam kosong enam, enam kosong tujuh. Itu dia! Enam kosong delapan –kamar Yunho.

.

"Ah! Ah! Nghhh…. Yunnie-Ah! Hnggg…"

.

Jessica membatu ditempat. Itu suara desahan Jung Jaejoong. Telinganya tidak mungkin salah dengar, ia cukup mengenali suara lembut itu meskipun ia hanya sayup-sayup mendengar desahannya.

Sontak bekal yang dipegang Jessica terjatuh kelantai. Tutup kotaknya terbuka, mengeluarkan isi berupa makanan yang sudah susah payah dibuatnya. Jessica mengeraskan rahangnya. Mati-matian ia berusaha menahan isak tangisnya. Ia yakin- seyakin- yakinnya, Yunho dan Jaejoong pasti sedang bercinta. Benar. Bercinta. Memikirkannya saja sukses membuat dada Jessica berdenyut sakit.

Tubuh yeoja ini merosot jatuh. Airmata sudah menggenang dipelupuk matanya, siap mengalir kapan saja. Selalu seperti ini, ia selalu berakhir mengenaskan seperti ini. Berakhir dengan hati yang hancur berkeping-keping dan perjuangan yang sia-sia.

Haruskah ia melepas perasaan cintanya ini? Lelah sudah ia mengejar cintanya yang sama sekali tidak memiliki balasan. Jessica juga manusia seperti kita semua. Sejahat-jahatnya ia ingin memisahkan Yunho dan Jaejoong, ia juga bisa merasa tersakiti. Tapi sepertinya, usahanya selama ini memang sia-sia. Yunho tidak bisa membalas perasaannya. Sepertinya kali ini sudah sepatutnya ia merelakan kebahagiaan pasangan itu.

Isak tangis saling berlomba meluncur dari bibir Jessica. Tidak Jessica Jung! Ini semua belum berakhir. Asal mau lebih keras mencoba, Yunho pasti akan berpaling padamu suatu saat nanti. Benar! Ini semua masih berlanjut. Jung Yunho dan Jung Jaejoong, mereka tidak ditakdirkan bersama. Sekalipun mereka memang ditakdirkan bersama, Jessica Jung-lah yang akan membelokkan takdir tersebut. Menggantinya dengan sesuatu yang lain. Seperti perpisahan.

.

To be continued

.

Annyeong semuanya. Jangan hajar Yieun si pembuat fict alay lebay ini *Siapin perisai panci.

Kepanjangankah chapter ini? Ini sekedar penebusan dosa karena sudah telat –banget- update (_ _")

Sibum momentnya kurang? Mianhae readersdeul. Yieun lagi gila-gilanya mau menggambarkan bulan madunya Yunjae jadinya yah Sibumnya ngungsi dulu deh. XD #Sibumshipperlemparbatu. Mian juga kalau Yunjae momentnya alay lebay seperti ini. =_=" Yieun payah dalam hal romantis romantisan.

Kalau ada kekurangan lainnya, mohon dimaklumi ya *bow. Yieun harap masih ada yang menanti fict ini. (:

Specially Baked Thanks to :

Song Hyo Bin | Akane Park | liana | sicca nicky | Xiahtic4Cassie | 9095dandelion | Princess Yunjae | Park Seul Byul | Yool LeeMinmin | min190196 | KaZu fujoSHIper LoVe UzuChiha | Auliya | Choikyuhae | Cherry Bear86 Yunjae | youngsu0307 | putryboO | The | AIDASUNGJIN | shim riska | Seo Shin Young | Rosa Damascena | lipminnie | WookppaWife | Aoi Ko Mamoru | Tha626 | Shippo Baby Yunjae | Julie Yunjae | rara | yunjae always | lee minji elf | leenahanwoo | Lee HyoJoon | Kim Soo Hyun | Clouds54 | Ichigobumchan | VoldeMIN vs KYUtie | Chinatsu Ara | Mumut | Booboopipi | yoyojiji | fanafan | RistaMbum | cloud3024 | tifafawookie

Gomabsumnida yang udah review #lambai lambai gaje. Mianhae kalau ada penulisan username yang salah *bow

Dan bagi reader lain yang belum review, review dong di chapter ini.

Review anda semua sangat penting untuk kemajuan fict Yieun. ^^

Please, kindly leave your review at the review box.


Promosi lagi!

Enjoy my third fict

.

Earphone I Love You

.

Sibum pair

Genre romance and friendship

P.S.

Follow me on twitter : Yieunkang