Disclaimer: Para cast bukan milik saya. Mereka milik orang tua mereka masing-masing. Kecuali Jaejoong, dia milik Yunho! #plak

Warning: Yaoi love (BoyxBoy), genderswitch (not for Jae, of course), gaje, aneh, typos maybe

Pairings: Yunjae, Sijae, Sichul

Rated: T maybe T+

Genre: Romance, Drama a bit, humor (I hope)

INI BOYS LOVE~ DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

"PROTECT THE SAJANGNIM"

"Yah! Jaejoong, cepat antarkan pesanan ini ke meja nomer delapan!" seru seorang ahjussi gemuk sambil mengangkat sebuah nampan yang berisi burger dan minuman bersoda.

"Oki-doki, Ahjussi" jawab Jaejoong sambil tersenyum manis dan mengambil nampan tadi.

Di siang yang mendung itu, terlihat orang-orang keluar masuk sebuah kafe yang tidak bisa dibilang besar maupun kecil dan jika ditengok kedalam, akan terlihat beberapa pelayan yang berjalan kesana-kemari mengantarkan pesanan dan juga beberapa pembeli yang berbicara dengan yang lain.

Kim Jaejoong, yang disuruh seorang ahjussi tadi, adalah salah seorang pelayan disana. Tapi ia hanya bekerja untuk sementara karena gaji yang diterimanya disana hanya sedikit dan ia tidak terlalu kerasan dengan lingkungannya bekerja sekarang. Selain itu, pekerjaannya saat ini, yang menjadi seorang pelayan kafe bukanlah cita-citanya. Ia bercita-cita menjadi pekerja kantoran yang keluar masuk perusahaan dan memakai jas yang rapi. Pasti terlihat sangat keren, itu jawabannya ketika dulu ditanya teman-temannya tentang cita-citanya.

"Silahkan dinikmati" ucap Jaejoong sambil meletakkan pesanan yang dibawanya tadi diatas sebuah meja.

Ketika dia hendak kembali ke belakang untuk beristirahat karena jam bekerjanya sudah habis, HP-nya yang ada di saku bergetar. Segera diambilnya HP-nya itu. Keningnya terlihat berkerut saat melihat layar handphonenya.

JAEJOONG'S POV

"Siapa sih, kok aku nggak tau nomernya" bisikku pada diriku sendiri sambil menekan tombol hijau dan menempelkan HP-ku ke telingaku.

"Yeoboseyo…" ucapku agak pelan.

"…..OMO! Jinjjayo?" teriakku sambil melotot. Kemudian terbentuk cengiran di mulutku yang seksi itu (author ngebayanginnya sambil ngiler…..-_-) dan aku segera membungkukkan badan sambil meminta maaf kepada pelanggan yang memberiku 'WTF-look' karena aku tadi berteriak di handphoneku sambil melotot, hehe.

"Ye, kamsahamnida!" jawabku riang pada seseorang pada HP.

"Hihihi, aku tidak percaya aku diterima kerja!" bisikku sambil memeluk handphoneku dan nyegir-nyegir geje. Kemudian aku beranjak ke ruangan bossku untuk mengundurkan diri dari tempat kerjaku ini.

JAEJOONG'S POV ENDS.

Siang yang mendung itu bertolak belakang dengan Jaejoong karena hatinya sedang sangat terang(?). Oya, jadi ceritanya begini nih, dua minggu yang lalu Jaejoong mencari berbagai pekerjaan di surat kabar dan akhirnya hanya satu ini yang menerimanya.

Begitu Jaejoong mengundurkan diri, ia langsung menuju alamat yang diberikan tempat kerja yang baru saja memberi tahunya bahwa ia diterima untuk bekerja disana. Ketika Jaejoong melihat bagunan bertingkat yang catnya agak hilang dan tidak terlihat seperti bayangannya saat ia mendaftar dulu, ia agak ragu. Tapi apa boleh buat, ia sudah membulatkan tekadnya untuk bekerja di kantoran.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

JAEJOONG'S POV

"Aku memang mencari pekerja baru, kalian berdua bisa menjadi model di perusahaan kami." Ucap seorang ahjussi berumuran 40an. Ahjussi itu terdiam sesaat lalu tertawa sangat keras sambil bertepuk tangan.

Aku dan seorang yeoja yang diterima di perusahaan ini hanya bisa ikut tertawa gaje.

"Hmm, walaupun kau namja, tapi wajahmu sangat cantik. Aku rasa itu cukup untuk memikat banyak pelanggan baru, hahaha" Ahjussi itu memandangku dari kepala sampai kaki sambil mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum mesum.

'Pervert!' batinku. Aku sangat risih dengan pandangannya yang seperti dapat menembus pakaianku.

Oya, kata teman-teman kuliahku, aku memang seorang namja yang berwajah sangat cantik. Aku bingung aku harus marah atau senang dengan itu. Bagaimanapun juga aku ini seorang namja, damn it. Aku mempunyai mata besar yang indah, itu juga kata-kata teman kuliahku dulu. Aku juga mempunyai pouty lips, dan kulitku putih mulus atau bahasa kerennya flawless. Semua itu aku dapat dari mendiang eommaku.

"Mari kita bekerja dengan keras!" ahjussi tadi menaruh kedua tangannya dibahuku sambil tersenyum mesum lagi dan itu membuyarkan lamunanku tentang eommaku.

"N-Ne, saya akan bekerja keras." Jawabku agak canggung.

"Bagus! Sangat bagus! Sempurna!" ucap ahjussi tadi sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Aku mulai mundur, berusaha melepaskan tangannya yang sedari tadi ada di bahuku.

JAEJOONG'S POV ENDS

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

Di sebuah klub malam…

Seorang namja tampan duduk diantara dua yeoja cantik. Dua yeoja itu bergelayut manja dikedua lengannya yang kekar. Tapi namja itu tidak terlihat senang, malahan wajahnya terlihat sangat bosan.

Namja tampan tadi adalah Jung Yunho. Dia adalah anak dari Jung Kangin, direktur utama Jung Corporation, perusahaan nomer satu di Seoul. Tapi sifat Jung Yunho sangat tidak mencerminkan seorang calon direktur. Setiap hari ia hanya duduk bersantai di ruang kerjanya. Ia tidak pernah serius dengan perkerjaannya sebagai calon pewaris sebuah perusahaan besar.

Perawakannya yang tinggi, berbahu bidang, kulit agak coklat, bibir berbentuk love dan memiliki six pack (uwaw~ so sexy~) membuat semua yeoja bertekuk lutut ketika berhadapan dengannya. Jadi tak heran jika dia sangat terkenal di kalangan yeoja di Seoul. Dulu ia sering pergi ke klub malam sebelum menemukan tambatan hatinya #halah# yang ternyata bukan tambatan hatinya. (readers: gimana sih thor, plin-plan-_-) Eits tapi cerita selengkapnya tentang penambat hati Yunho masih ntar yaa :p

"Apakah kalian kedinginan? Haruskah pendingin ruangannya dimatikan saja?" Tanya Yunho kepada kedua yeoja disampingnya.

"Ah, aku tidak kedinginan kok, Oppa, hihihi" jawab yeoja centil yang ada disebelah kanan Yunho sambil mengeratkan pelukannya pada lengan Yunho.

"Kalau begitu, mengapa kau duduk sangat dekat denganku?" tanyanya sambil menahan emosinya yang hampir meledak. Andai para yeoja di Seoul tau kalau Jung Yunho tidak doyan taco, tapi doyannya sosis(?) #rated M nih huahaha#

Bisa dipastikan semua yeoja di Seoul akan menangis sehari semalam karena cowok paling edible di Seoul nggak doyan cewek. Dunia memang kejam, haha *evillaugh*

Back to the story!

Kedua yeoja tadi langsung melepaskan tangan mereka dari lengan Yunho. Mereka langsung duduk menjauh dari Yunho sambil mengumpat-ngumpat didalam hati.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"Untuk kebebasan! Cheers!"

"Cheers!"

"Cheers!"

Di salah satu ruang di klub malam yang sama dengan milik Yunho, Jaejoong hanya duduk sambil melihat orang-orang berdansa dengan partner mereka masing-masing. Ia ada di klub itu karena begitu diterima kerja, bossnya tadi menyuruhnya ikut merayakan penerimaan model barunya dengan minum-minum di klub.

JAEJOONG'S POV

"Jaejoong-ssi…" desah ahjussi, err, bossku lebih tepatnya, sambil duduk mendekatiku. Tercium bau alkohol dari mulutnya, uggh!

"Ayo, minumlah sedikit." Ajaknya padaku sambil tersenyum aneh, mungkin dia sudah mabuk, pikirku.

"N-ne" aku langsung meminum gelas yang ada di meja yang sedari tadi ada di depanku.

"Kau sangat cantik" kata bossku sambil mengelus-ngelus pahaku.

Aku merinding dan mulai merasa tidak enak. Sialan, om-om pervert ini, grrr.

"Bagaimana kau bisa hidup dengan pekerjaan yang begini saja, huh? Sungguh, sangat sia-sia dengan wajahmu yang cantik" ahjussi itu sudah mulai meraba wajahku dan tanganku. Ugh, sialan nih. Aku mulai jaga-jaga untuk kabur nih.

"A-aku tidak merasa sia-sia, ahjussi" jawabku tidak enak sambil menyingkirkan tangannya yang ada di lenganku.

"Hahaha, aku bisa membuatmu menjadi model. Tidurlah semalam saja denganku" bisiknya di telingaku. Lalu dia menjilat telingaku pelan.

.

Buaggh!

.

Aku menojok keras pipinya. Aku sudah tidak tahan dengan ahjussi gila ini yang sedari tadi menempel-nempel padaku. Yah, walaupun aku menyukai laki-laki tapi tidak untuk seorang ahjussi gila seperti dia itu…

.

.

Yah! Jangan kaget seperti itu, aku sudah mengetahui ini sejak lama, mungkin waktu aku SMA dulu. Gara-gara temanku yang memperlihatkan gay porn kepadaku, huh.

Begitu aku menonjoknya, aku langsung dilanda kebingungan.

'Aduh, bagaimana ini. Teman-teman ahjussi ini kan ada di ruangan ini, bagaimana kalau aku dihajar habis-habisan sama mereka kalau ketahuan menonjok pemimpin mereka' pikirku kalut sambil menggigit bibirku.

'Aish lebih baik lari saja sebelum ketahuan!' aku langsung membawa tasku dan keluar dari ruangan terkutuk itu secara diam-diam tapi dengan langkah cepat-cepat dan menundukkan kepala.

JAEJOONG'S POV ENDS

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

Kembali ke ruangan dimana Yunho berada….

"Jadi, kita akan bertemu besok di kantor." Yunho berdiri sambil merapikan bagian bawah jasnya yang agak berkerut.

"Terima kasih atas kehadiran Anda di pertemuan ini." Ucap seorang namja sambil memajukan(?) tangannya, mencoba mengajak Yunho untuk bersalaman.

Yunho agak ragu. Ia melihat tangan yang diajukan kepadanya sejenak sambil menimbang-nimbang apakah dia harus menjabat tangan itu atau tidak. Dia sangat sangat sangat sang..hmmpph #disumpelin sandal-_-# memperhatikan kebersihan. Akhirnya ia memutuskan untuk menjabat tangan itu, tapi ia berjanji akan langsung menggunakan hand sanitizer banyak-banyak begitu keluar dari ruangan yang ditempatinya itu.

Yunho langsung lari keluar begitu selesai menjabat tangan seseorang tadi. Ia langsung mengambil handphone yang ada di sakunya dan men-dial asistennya agar segera menjemputnya ke klub malam sialan itu.

"Yah, cepat kau jemput aku. Kau harus sudah ada di depan satu menit lagi. Awas jika kau terlambat! Kau akan kupecat dan seluruh keluargamu tak akan melihatmu lagi serta kau tak akan bi…" cerocosnya panjang lebar tanpa memperhatikan sekelilingnya.

.

Duagh! Pruaang!

.

Handphone Yunho terlempar begitu saja. Untung saja tidak pecah.

"Maaf!" seorang namja yang menabrak Yunho mengucapkan kata itu pada Yunho lalu melanjutkan jalannya begitu saja.

"Hey! Kau! Kau namja gila!" jerit Yunho sangat tak manly. Bagaimana juga, handphonenya yang mahal terbanting gara-gara tadi saat ia menelpon asistennya ada namja gila yang menabraknya.

Namja gila yang dimaksud Yunho tadi langsung berhenti dan memutarkan badannya perlahan untuk menghadap Yunho.

"Aku?" Tanya namja yang dimaksud Yunho tadi tidak yakin sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. Ternyata oh ternyata, namja gila yang dimaksud Yunho tadi adalah our cutie Jaejoong :333

Yunho sempat tersentak saat melihat kecantikan Jaejoong. Ia kehilangan kata-kata untuk disampaikan kepada Jaejoong. Jadi Yunho hanya menendang handphonenya kikuk ke arah Jaejoong. Jaejoong menaikkan alisnya lalu menunduk dan mengambil handphone Yunho. Jaejoong menyerahkan handphone itu kepada namja di depannya, tapi tidak jadi(?).

"Minta maaf padaku dulu. Kita bertabrakan, jadi ini salah kita berdua. Kau harus bertanggung jawab." Tantang Jaejoong sambil melempar-lempar handphone namja di depannya tadi ke udara.

"Itu salahmu sendiri. Cepat kembalikan handphoneku." Jawab Yunho setelah sadar dari lamunannya tentang namja cantik di depannya itu.

Jaejoong segera mengembalikan handphone namja yang tidak dikenalnya itu dengan melemparnya ke arah kepala peminta handphone tersebut. Ia sedang malas berurusan dengan orang-orang tidak tau diri. Ia bergegas keluar dari klub malam itu untuk pulang ke kontrakannya.

"Aduh! Sialan kau!" Yunho berteriak agak kencang saat handphonenya mengenai kepalanya. Ia mengambil handphonenya yang terjatuh (lagi). Ia menyumpah-nyumpahi namja sialan yang cantik tadi sambil bergegas keluar dari klub malam yang disinggahinya itu.

Begitu sampai diluar, Yunho langsung membuka tangannya dan mengacungkan(?) tangannya ke namja berkacamata, yang ternyata asistennya, seakan meminta sesuatu kepada asistennya yang menunggu di luar klub malam tadi. Asistennya yang berkacamata bulat itu langsung paham dan menekan sebuah botol yang mengeluarkan cairan kental bening ke tangan boss-nya.

.

Hand sanitizer ternyata.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

Di atap sebuah kontrakan tingkat tiga terlihat dua sosok namja yang duduk bersebelahan. Keduanya membawa sebotol soju.

"Haaah…" namja yang lebih cantik dari satunya terdengar menghembuskan napasnya dengan berat.

"Aku iri, Changmin-ah. Pada mereka yang bekerja di kantor" desah namja cantik tadi sambil memanyunkan bibirnya. Ia lalu memutar-mutar botol soju yang ada ditangannya.

"Jae-hyung, kau pernah mendengar cerita kalau para pekerja kantor itu stress? Mereka stress begitu melihat pintu kantor mereka. Dan katanya kematian adalah pilihan yang lebih baik. Mereka pulang larut setiap hari dan mere…." Ucapan Changmin belum selesai tapi sudah dipotong oleh Jaejoong.

"Aish, kau ini. Jika aku bekerja di kantor aku tak akan mengalami stress seperti yang kau katakan. Kau kan tau, bekerja di kantor adalah cita-citaku dari dulu. Aku akan menganggap semua tugasku adalah konsekuensi dari cita-citaku…." Jelas Jaejoong panjang lebar pada Changmin.

Shim Changmin adalah sahabat Jaejoong. Mereka bersahabat sejak mereka bersekolah di sekolah dasar. Dan kenapa Changmin memanggil Jaejoong hyung? Karena Changmin memang lebih muda dari Jaejoong. Ia bisa duduk di kelas yang sama dengan Jaejoong karena kegeniusannya.

Changmin mempunyai tinggi yang lebih dari rata-rata laki-laki di Seoul. Tingginya mencapai 186cm. Jaejoong kalah telak dengannya. Jaejoong saja tingginya tak lebih dari 180cm. Changmin memiliki wajah yang terbilang polos untuk seseorang yang sangat evil. Banyak sekali keisengan-keisengan yang dilakukannya sewaktu SMA dulu, tapi ia sekarang sudah insyaf, itu kata Changmin, tapi siapa tau deh. Dalamnya lautan dapat diukur, tapi dalamnya hati manusia tidak dapat diukur. Sadaaap~

"Kalau begitu bersabarlah, hyung. Kau pasti akan diterima oleh perusahaan baik sebentar lagi." Ujar Changmin menyemangati hyung-nya sambil merangkul bahu Jaejoong.

Jaejoong masih saja cemberut dan menunudukkan kepalanya.

"Hei, hyung. Kau harus kuat menghadapi musuhmu. Semua akan terasa enteng jika kau selalu bahagia. OK?" Changmin masih berusaha membuat Jaejoong ceria.

"Ne, terima kasih, Minnie. Aku akan berusaha bahagia." Jaejoong tersenyum sangat manis lalu meneguk soju yang ada di tangannya sejak tadi. Ia lalu memandang langit Seoul yang saat itu sedang bertaburan bintang. Indah sekali, pikirnya. Jaejoong tak sadar tersenyum lagi, dan senyuman itu cukup melegakan Changmin.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"Kau tau, hah? Kau adalah bocah manja yang tak tau diri! Aku betaruh semua petani yang menanam padi akan menyesal begitu mereka tau padi mereka dimakan oleh bocah sepertimu! Hah, aku capek melayani semua perintah-perintah gilamu itu! Bahkan kita seumuran tapi kau bertindak selayaknya lebih tua dariku. Mulai sekarang aku tak akan lagi bekerja denganmu, aku keluar!" sembur(?) seorang namja berkacamata bulat pada seorang namja tampan di depannya.

Namja tampan yang dimarahi tadi tak menunjukkan ekspresi apapun, ia hanya memandangi namja yang berkacamata itu sambil mengerutkan keningnya.

"…oh begitu. Ya sudah, keluar sana~" ucapnya santai sambil meminum secangkir kopi yang ada di tangannya.

"Awas kau!" teriak namja yang berkacamata tadi sambil berlari tergesa-gesa keluar dari rumah mewah milik namja yang tak berekspresi tadi.

"Haaah. Buat apa aku mempunyai sekretaris bodoh seperti dia. Lebih baik aku tidur saja" ucap namja tampan tadi sambil menggelengkan kepalanya dan beranjak ke kamar tidurnya.

Jadi kronologi kejadiannya tadi begini, asisten Yunho sudah capek dengan semua sikap Yunho selama ini yang selalu memerintahnya seenak udel. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Jung. Ya, selain menjadi asisten pribadi Yunho, asistennya adalah sekretaris Yunho. Yunho sih sudah biasa dengan pengunduran asisten-asistennya. Sampai sekarang mungkin sudah ada sekitar lima belas asistennya yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikapnya.

.

.

O_O_O_O_O_O_O

.

.

"Siwon-ah, tolong kau carikan sekretaris baru untuk Yunho. Pastikan dia benar-benar sanggup untuk menangani sikap Yunho yang tak pernah berubah itu."

"Ne, kamsahae. Jaljayo."

Begitulah suara Jung Kangin yang bisa didengar. Orang yang diajak Kangin berbicara tentunya tidak bisa kita dengerin omongannya karena Kangin tadi pakai telpon-.-

Kangin sudah tau perihal pengunduran diri asisten Yunho. Direktur utama Jung Corporaton gitu loh~

"Tunggu saja, Yunho. Kau pasti tak akan terus begini. Akan ada orang yang bisa menaklukkanmu, tunggu saja usaha-usaha appamu ini, HAHAHAHA" tawa Kangin sambil menyamankan badannya ke dalam selimut.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"7th Exemplary Economic Figure Award Ceremony"

Terdengar suara tepuk tangan sangat banyak dari sebuah ruangan. Ruangan itu ternyata sedang digunakan untuk merayakan sebuah award.

Terlihat Jung Kangin sedang menerima piala dan beberapa karangan bunga. Sesaat kemudian ia terlihat sedang menyampaikan pidatonya tentang rasa kebanggaanya karena dianugrahi penghargaan sebagai tokoh ekonomi yang pantas diteladani. Ia terlihat tersenyum bahagia.

Namun lain dengan dua orang yang duduk di barisan terdepan dari panggung yang sedang dinaiki Kangin. Seorang yeoja paruh baya, bernama Jung Jungsoo, dan anak laki-laki satu-satunya, Jung Siwon, terlihat getir melihat kebahagiaan Kangin. Yeoja tadi hanya tersenyum sedikit dan Siwon tak tersenyum sama sekali tapi ikut menepukkan tangannya seperti tamu undangan yang lain.

Yunho, yang ikut serta dalam acara itu, hanya melengos. Ia malas mendengarkan pidato ayahnya yang pasti hanya omong kosong. Ia lebih memilih untuk bermain game di handphonenya.

"Kenapa wanita itu harus datang?" bisik Kangin kepada asistennya, Youngmin.

Terlihat Jung Jungsoo, atau yang lebih sering disapa Leeteuk, berjalan ke arah Kangin sambil menggengam segelas minuman. Leeteuk terlihat tersenyum kepada beberapa orang yang menyapanya.

"Aigoo, Leeteuk-ah, terima kasih sudah datang ke acara ini" sapa Kangin sambil tersenyum begitu Leeteuk sudah dekat dengannya. Sebenarnya Kangin tidak suka dengan Leeteuk, entah kenapa dulu Leeteuk yang membencinya dirinya terlebih dahulu.

"Ah, tidak mungkin aku melewatkan acara yang sangat menggembirakan seperti ini" jawabnya sambil tersenyum palsu.

"Selamat atas keberhasilanmu, Kangin-ah." Leeteuk menyampaikan kalimat itu agak terpaksa.

"Aku yang seharusnya menyelamatimu, Leeteuk-ah. Aku dengar kau sudah terpilih oleh Golden Brand? Kau berhasil menjadi wakil CEO perempuan di Seoul." Kangin masih tersenyum.

"Hahaha, bisnisku jika dibandingkan denganmu hanya seperti upil(?), Kangin-ah" jawab Leeteuk sambil tersenyum.

"Jika orang lain mendengar, mereka akan berpikir bahwa kau berasal dari perusahaan yang berbeda dari kami. Kita kan dari perusahaan yang sama, keluarga yang sama." Balas Kangin masih sabar.

"Yeah, mungkin kau berkata seperti itu saat ayah Siwon masih ada maka aka-"

"Leeteuk-ah!" senyum di wajah Kangin hilang seketika.

"Yes, Kangin-ah?" jawab Leeteuk sambil tersenyum manis kepada Kangin. Ah~ seandainya di cerita ini ada KangTeuk…. Sayangnya nggak ada._."

"Kalian berdua terlihat serasi" ucap seorang fotografer yang tiba-tiba menyadarkan Kangin dan Leeteuk dari 'staring-contest' mereka berdua.

Kangin dan Leeteuk langsung berdiri mendekat dan berpose seakan tidak ada masalah mereka. Mereka terlihat tersenyum. Ah~ Kangteuk! Kangteuk! Kangteuuuuuk~ (readers: berisik!)

Begitu fotografer itu pergi, Leeteuk langsung pamit kepada Kangin dan membalikkan badan. Senyum yang dari tadi ada di wajahnya langsung hilang.

"Dasar serigala tua yang licik!" bisiknya sambil berjalan menjauhi Kangin.

"Dasar nenek sihir!" bisik Kangin setelah Leeteuk pergi.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"Sangat susah untuk bertemu denganmu akhir-akhir ini, Yunho-ah" sapa Siwon sambil menyerahkan segelas bir kepada Yunho yang sedang berjalan sambil menempelkan handphone ditelinganya. Mau tak mau Yunho berhenti berjalan karena jalannya dihadang oleh Siwon, sepupunya.

"Sekretarismu keluar lagi? Haha" tawa Siwon pelan.

"Kau seharusnya tak selalu menggunakan paksaan untuk memerintah yang lainnya. Kau harusnya menggunakan otak dan kebijakanmu pada bawahanmu." Nasihat Siwon pada Yunho yang mengabaikan tawaran minuman yang dibawakannya.

"…..apa yang ada di mukamu? Make-up?" jawab Yunho tidak nyambung.

"Fashion adalah bagian dari image. Kau harus menjaga imagemu sebagai seorang businessman." Elak Siwon.

"Untuk seorang laki-laki mengapa kau berdandan? Haha" tawa Yunho sambil menggelengkan kepalanya.

"Bukan seperti itu, Yunho-ah…."

Yunho terlihat meraba wajah Siwon dan mengambil sisa cream yang ada di wajah Siwon. Ia langsung meninggalkan Siwon yang hanya berekspresi 'WTH-look'.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"OMO, uangku di bank tinggal sedikit sekali, huftttt" Jaejoong mengeluh sambil meniup-niup poninya hitamnya.

"Hmmm, lebih baik aku mencari pekerjaan lagi sajalah." Katanya pada diri sendiri. Changmin yang melihatnya hanya menaikkan sebelah alisnya lalu melanjutkan membaca bukunya.

Jaejoong terlihat mengutak-atik laptopnya. Ia sudah menemukan pekerjaan yang cocok, ia tinggal mendeskripsikan hidupnya selama ini seperti yang diminta perusahaan yang diinginkannya.

Jaejoong menceritakan semua cerita hidupnya dari SMA dulu. Mulai dari saat dia disebut Bosamdongryu's Legend karena ia sangat pintar berkelahi. Tapi Jaejoong sudah jarang menggunakannya sekarang, yah untuk apa berkelahi jika sudah dewasa, pikirnya. Ia juga menceritakan betapa keras dia bekerja untuk hidupnya yang sekarang ini.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

"Jung Corporation's Interview"

"Miss Jihye, menurutmu apakah yang dimaksud dengan kepimpinan yang baik?

"Mr. Han, apakah yang akan kau lakukan jika kau diberikan kesempatan menjadi seorang pemimpin?

Pertanyaan demi pertanyaan bergulir kepada pendaftar yang ada di ruang interview itu. Jaejoong kagum dengan mereka yang bisa berbahasa lebih dari satu macam, ia hanya menunggu waktu ia akan ditanyai oleh panitia. Tapi waktu itu tak datang-datang juga.

"Maaf, tidak ada satupun pertanyaan yang ditujukan kepada saya?" Tanya Jaejoong sambil tersenyum palsu.

"Maafkan kami, walaupun begitu kami percaya kau akan lebih baik bekerja di perusahaan yang lain daripada perusahaan kami. Kami mencari orang-orang yang professional." Jawab salah satu panitia. Siwon, yang menjadi salah satu panitia, mengangkat kepalanya yang sedari tadi ditundukkannya. Ia memandang Jaejoong.

"Ne, bukankah di persyaratan tidak ada pernyataan seperti itu? Orang-orang disampingku ini juga tidak professional. Apakah karena pendidikanku yang hanya lulus dari universitas nomor tiga di Seoul?" ucap Jaejoong panjang lebar. Matanya sudah mulai merah menahan tangis. Ia sudah capek mencari pekerjaan kesana-kemari tapi tidak ada yang mau menerimanya. Too emotional~

"Mianhae. Kalau begitu mari kita mulai interview-nya dari awal." Seorang panitia menengahi.

"Anio. Kalian juga tak akan memilihku. Aku sudah menghabiskan waktuku sia-sia dengan menghadiri interview ini. Padahal aku bisa saja menggunakan waktuku untuk mencari pekerjaan di tempat lain." Jaejoong terus menuangkan unek-uneknya kepada orang-orang diruangan itu.

'Menarik.' Ucap Siwon dalam hati saat sesudah Jaejoong keluar dari ruangan interview secara terburu-buru. Siwon membuka lembaran perkenalan dari Jaejoong. Ia berpikir bahwa Jaejoong adalah sekretaris yang cocok untuk menghadapi Yunho. Tak ada yang salah untuk memilihnya, pikirnya sambil tersenyum memperlihatkan 'dimple' yang ada di pipinya. Aww~

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

Di kontarakan Jaejoong dan Changmin terdengar deringan handphone yang cukup keras. Jaejoong, yang tidur sangat nyenyak gara-gara badmoodnya saat interview kemarin, jatuh dari tempat tidurnya.

"Arrgh! Chang….min…" jaejoong berkata tidak jelas.

"Yah, hyung! Angkat tuh, handphonemu bordering, berisik tau!" Changmin berteriak pada Jaejoong yang malah melanjutkan tidurnya di lantai. Padahal sudah kutendang, tapi kenapa tetap saja tidak bangun, heran Changmin.

Jaejoong dan Changmin memang tidur berdua di satu kasur. Tapi mereka tidak melakukan 'this and that' yaw~ mereka kan hyung dan dongsaeng^-^

"Aissh… yeoboseyo?" Jaejoong meletakkan handphonenya di telinganya masih sambil menutup matanya.

"MWOOOO~~~?" jerit Jaejoong.

"Yah hyung! Jangan berteriak keras seperti itu." Changmin yang tadinya sudah tidur lagi jadi bangun gara-gara teriakan Jaejoong.

"Minnie! Aku diterima di Jung Corporation! Hahaha~" seru Jaejoong sambil memeluk Changmin yang masih setengah sadar dari alam tidurnya.

"Bagaimana hyung lolos dalam tes itu?" ucap Changmin penasaran begitu Jaejoong duduk di sampingnya.

"Yah! Jangan merendahkanku seperti itu Minnie. Begini-begini aku punya salah satu aset untuk menjadi sekretaris yang baik" jawab Jaejoong sambil cemberut, memajukan bibirnya sedikit. Hal itu tak membuatnya jelek tapi malah membuatnya semakin cute aww :3

"Memangnya apa, huh?" goda Changmin sambil tertawa kecil.

"Aku kan bisa mengetik dengan cepat, hehe" ucap Jaejoong cepat sambil tersenyum innocent dan memandang Sungmin dengan mata doe-nya yang besar dan polos. Changmin sweatdrop -_-

"Aish, kau itu hyung! Itu saja tidak cukup untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan. Apalagi perusahaan seperti Jung Corporation." Changmin jadi ilfil sama Jaejoong.

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

Paginya Jaejoong langsung berangkat ke Jung Corp. Ia menuju sebuah ruangan, yang katanya adalah orang yang menerimanya menjadi sekretaris di perusahaan itu.

"Ne, Siwon-ssi. Kenapa kau memilihku untuk menjadi sekretarismu? Apakah karena kecantikanku? Hehehe" Tanya Jaejoong penasaran.

"Hahaha, tentu saja bukan. Walaupun kau memang cantik Jaejoong-ssi. Lagipula kau tidak akan menjadi sekretarisku. Kau akan menjadi sekretaris Jung Yunho. Mari aku tunjukkan tempatmu bekerja." Ajak Siwon sambil menunjukkan jalan.

Jaejoong hanya blushing. Ia sudah terlalu percaya diri menganggap ia diterima gara-gara kecantikannya. Ia langsung ditinggal oleh Siwon begitu Siwon menunjukkan tempat duduknya. Jaejoong meraba satu-persatu barang yang ada di mejanya. Ia sangat senang melihat telepon dan buku-buku yang ada di mejanya.

Ia tidak sadar bahwa atasannya sudah datang. Padahal pekerja yang seruangannya sudah menundukkan badan mereka saat atasan mereka lewat. Namja atasan Jaejoong tadi hendak masuk keruangannya, tapi ia berhenti karena melihat seseorang menempati tempat duduk yang diperuntukkan bagi asistennya.

"Annyeonghaseyo, sajangnim. Aku adalah sekretaris barumu." Jaejoong yang sadar langsung menundukkan badan dan memperkenalkan diri.

Namja atasan Jaejoong tadi melihat Jaejoong dari atas sampai bawah, bawah ke atas, dan begitu seterusnya.

"Hmm, siapa namamu?" tanyanya.

"Ah, Kim Jaejoong imnida." Jaejoong menjawab atasannya sambil mengangkat wajahnya untuk memandang atasannya.

"KAU?"

"KAU!"

.

.

O_O_O_O_O_O_O_O_O_O_O

.

.

AN : Yak, that was the first chapter of my debut fanfic! How was it? Tolong maklumi ya kalo masih aneh atau gimana gitu._. Btw ada yang merasa familiar dengan ceritanya?._. tadinya author mau bikin Protect The Boss Yunjae Version, tapi susah juga buatnya-_- jadi ada yang mirip banget sama dialog difilmnya terus sepertinya udah ada yang bikin ff pakai judul itu dif fn, yah jadinya gini deh, ada juga yang dihilang-hilangin hehehe. Oya, tolong review ya ff aku gimana, terlalu jelek kah? Terlalu pendek? Terlalu panjang? Garing bangetkah? Atau apa kek gitu, review deh biar bisa jadi masukan buat chapter depan-depannya gimana.

And finally, makasih banyak yang udah mau nyempatin buat baca fanfic abalku ini^^ author belum lama ini liat video Jaejoong oppa jilat bibirnya pelan banget. Arrrrg! Gela, sexy banget*.* terus author juga liat gif Jae oppa lagi jilat bibirnya dan Yunho oppa liatin sambil gigit bibir. Pasti pengen tuh Yunho oppanya~ Btw, AN-nya kepanjangan ya?._. hehe, yaudah, pokoknya jangan lupa kasih review buat ff-ku ini^^

Sajangnim : boss

Mwo : apa

Jinjjayo : yang benar / really?

Ahjussi : paman/om

Yeoboseyo : halo (mengangkat telpon)

Kamsahamnida : terima kasih

Namja : laki-laki

Yeoja : perempuan

Aigoo : ekspresi kaget, sejensi "OMG"