WARNING: Fantasy, romance, adventure, politic, and many other :DD. Rating bisa BERUBAH sewaktu-waktu.

Terinspirasi dari DEVIL MAY CRY 4, Game XBOX tahun 2009 yang saya tamatkan DENGAN WAKTU 22 JAM (^-^), diramu dengan ide GILA saya diantara sibuknya mahasiswa yang panitia lomba, koordinator seminar, dan juga jualan pulsa :DD


SUMMARY:

Namikaze Naruto, pangeran yang terdampar karena insiden keji yang menghancurkan negaranya. Bersama dua jenderal dan adik perempuannya, Naruto harus bertempur guna merebut kembali kerajaannya,tahta mahkotanya, juga hati gadis impiannya.


DISCLAIMER:

Masashi Kishimoto-1999

AUTHOR:

Alp Arslan no Namikaze-2012

HAPPY READING!

V

V

V

.

.

.

9th Chapter:

"LIBERTY"

FLASHBACK ON

NORMAL POV

"Invasi?"

Naruto mengangguk, merendahkan sedikit posisi kepalanya agar dapat mengecup dahinya. Naruto menarik wajahnya, dan selanjutnya mendapatkan pose merah merona di kedua pipi kekasihnya adalah hal yang paling ingin dilihatnya setelah rapat negara barusan.

Dan sejurus kemudian, Naruto mendaratkan bibirnya di atas milik Sakura, sekedar melepas rindu. Sakura seiring dengan tangan Naruto yang sudah melingkar di belakang punggungnya turut mengikuti dengan bergantung di leher Sang Pangeran.

Beberapa detik lewat, dan mereka berdua saling menarik wajahnya.

"Ya, intinya aku akan pergi selama sekian hari." Naruto berbalik memunggungi Sakura, merentangkan kedua tangan guna membiarkannya melepas jubah kerajaan yang masih dikenakan.

" Aku sendiri tak paham benar apa yang tengah terjadi, namun jika kerajaan sebesar Salomo sampai meminta bantuan kepada NERV, intinya ini perkara serius.-ttebayo!"

Naruto menoleh sedetik pada Sakura, melihatnya mengangguk mengerti. Usai bebas dari kain mewah yang mengurung, Pangeran pirang beralih pada sekian atribut dan perhiasan yang melekat di hampir sekujur tubuhnya. Menaruhnya kembali di sebuah wadah di meja rias.

Ck! Kenapa rasanya aku baru sadar sekarang kalau jadi putra mahkota begitu menyusahkan? Batinnya.

Naruto mendudukkan diri ke atas ranjang, tengah bertelanjang dada sekarang. Sakura merapikan pakaian yang berserakan, menggantungnya satu-satu di dalam lemari.

Melihat gerak-geriknya dari belakang membuat Naruto tersenyum sendiri.

Suara pintu lemari tertutup diikuti langkah Sakura yang mendekati ranjang, lalu duduk di samping pemudanya.

"Sampai berapa lama Naruto-Sama akan pergi?"

Yang ditanya mengangkat bahu, "Entahlah. Aku harap tak akan membutuhkan waktu lama. Terakhir kali aku memberantas Demon di provinsi Mata membutuhkan waktu 5 hari, anggaplah satu minggu. Mungkin kalau untuk yang kali ini bisa satu atau bahkan dua kali lebih lama."

Sakura manggut-manggut, "Mau kubuatkan minum?"

"Tak perlu."

"Aku..."

"...Ya?"

Sakura terlihat ragu akan sekedar kalimat yang ingin dia keluarkan.

"Aku... ingin bercerita... tentang sesuatu. "

Naruto membulatkan mulutnya, lalu menekuk bibir hingga melengkung ke bawah. Merefleksikan senyum yang mendamaikan diri sang gadis merah jambu.

"Ceritakan saja, dattebayo!" Sambarnya dengan cengir.

"..."

"...Aku akan dengarkan."

Sakura menarik nafasnya sekali.

"A-Aku..."

"..." Naruto terdiam mendelikkan sebelah alis.

".. Apakah Naruto-Sama benar-benar mencintaiku?"

Heh? Pertanyaan macam apa itu?

Sakura dengan segera menangkap aura aneh dari wajah Naruto, "Ah-Maksudku, aku...aku..."

Dia menelan ludahnya sekali. Naruto dengan tampang sekian rupa tetap diam memperhatikan.

"...Orang tuaku... sudah meninggal semenjak aku masih kecil. Oleh Demon di perang wilayah dulu, di utara bagian Kan'an. Aku nyaris turut tewas, namun untung Paman Teuchi memungutku, di tempat pembuangan kardus bekas sayuran di kereta distribusi logistik kerajaan. Aku sudah tinggal sekian lama dengan Paman Teuchi, tanpa menceritakan sedikitpun tentang apa yang terjadi padaku. Aku benar-benar menganggapnya sebagai Ayahku sendiri, yang tak pernah kulihat.

Hingga aku berumur 18 tahun tepat dua tahun yang lalu, Beliau membeberkan semuanya. Termasuk masa laluku. Beliau minta maaf atas segalanya, termasuk kebohongan yang telah dia beberkan padaku. Aku memakluminya, dan tak pernah berpkiran sedikitpun untuk membangkang darinya. Aku sangat menyayanginya, namun sebelah hatiku berontak, sekitar setahun lalu aku nekad pergi ke Kan'an. Aku tahu Paman Teuchi tak bakal mengizinkanku, maka dari itu aku pergi sendirian. Hanya untuk satu tujuan..."

Sakura terdiam beberapa detik, matanya terlihat berkaca-kaca. Niscaya Naruto pediah melihat Bidadari manisnya ini terlihat menggigit bibir bawahnya, mencoba tegar dengan menarik nafasnya kuat-kuat.

Naruto dalam tegang merasakan hatinya mulai tersayat.

Ok, aku mulai merasa akan ada kabar buruk.

"...Aku ingin tahu, di mana aku dilahirkan.-Maksudku- paling tidak, aku ingin tahu bagaimana rupa rumahku terakhir, di mana pusara orang tuaku, tapi...

...T-tapi..."

Tetesan air mata pertama mengalir, perlahan, lantas langsung menghujam kalbu. Naruto terperangah.

"... Namun tak kutemukan sedikitpun dari sisa peradaban di sana. Hamparan tanahnya masih berdebu dengan abu. Ini mungkin sudah dua puluh tahun, namun jangankan pusara. Belum ada lagi bau kehidupan baru di sana, Hiks... Semuanya masih mati..."

Sakura terisak-isak, badannya luruh lemas. Naruto ternganga, spontan saja dirangkulnya kekasih sewarna cherrynya ke dekapan kulit gelapnya. Sakura sedetik terkejut, namun dia terlalu lemah untuk barang berontak. Meskipun menolak, dia tak bisa menjamin Naruto akan mengizinkannya menangis sendirian.

Naruto mendengus malas, demi Tuhan, mana pernah Seorang Pangeran melihat isak tangis rakyat jelata. Seumur hidup dia hanya mendengar tangisan dari adiknya yang centil, itu pun hanya sampai sekitar umur 14 tahun. Tahun-tahun terakhir ini tak pernah sekalipun Ino memperlihatkan air matanya, sama sekali.

Dan secara logika isak tangis seorang perempuan jelata sama sekali tidak akan menggetarkan hati Naruto. Logis, namun nyatanya tidak.

" jangan diteruskan lagi, sakura-Chan. Ima wa daijobu da, Ore ga koko ni iru."

Sakura berusaha menahan isak tangisnya, sekali lagi digigit bagian bawah bibirnya. Naruto menghela nafasnya hingga meniup ujung rambut sewarna gulali kapas di depannya ini tanpa sadar.

"Orang tuamu mungkin tak ada, namun aku akan bersamamu selama masih benyawa. Jika kau kesepian, aku akan ada di sampingmu. Jika kau ingin kehidupan, aku akan menjadi nafasmu. Jika kau merasa sendiri, aku tak akan pergi barang sedetik darimu. Apapun akan kulakukan untukmu bahagia, Sakura-Chan."

"M-Meskipun aku pelay-"

Sakura menengadah, dan Naruto dengan cepat menggelengkan kepala.

"Jangan katakan itu meskipun sekali. Dattebayo."

Ingin melontarkan protes sekali lagi, namun bibirnya terkunci.

Naruto menarik bibirnya dari Sakura, menatap emerald basah itu lantas menghapus jejak air mata yang mengular di kedua belah pipi Sakura. Naruto tersenyum manis,

"Aishiteru, Sakura-Chan..."

Sebuah kecupan lagi, membuat Sakura benar-benar bisu. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Naruto mendorong badan Sakura limbung ke dipan. Membawanya pada nikmat duniawi yang bak membawa mereka ke dasar kahyangan.

Sakura tak ingin melawan,dan tak mampu balas menerjang. Dalam diam gelisah dia hanya bisa berdehem, menggeliat, mendesah dengan alur permainan cinta sang Putra Namikaze. Sakura melenguh sekali tanpa sadar, dan tatkala itu pula Naruto menjauhkan bibirnya. Mendapati sosok gadis miliknya luar biasa dalam kesulitan suplai udara.

Naruto tersenyum dengan aura menggetarkan, Sakura balas tersenyum susah payah tatkala sebelah telapak lebar Naruto menyibakkan rambut merah muda yang sempatmenutupi dahi Sakura. Sakura kemudian baru menyadari kalau kedua tangannya sudah mengacak-mengacak belakang rambut Pangeran Terhormat kerajaan NERV. Dia berdehem sekali,

"A-Atashi mo... Aishiteru..."

Naruto tersenyum bahagia,

"Itu yang ingin kudengar, Cinta."

FLASHBACK OFF


Naruto menarik diri dari alam khayalnya. Membiarkan bias nyata kembali pada visualnya. Dalam diam Naruto tersenyum, mengamati rahasia lekuk bidadari impiannya. Syukur, lukanya sedemikian lama semakin pulih, dan paling tidak Naruto tahu dengan itu kalau dengan itu sebuah isyarat dia dapat. Dia masih diizinkan untuk hidup lebih lama.

Dan itu berarti, kehidupannya dengan Sakura akan berlanjut. Hingga nanti.

Sakura baru saja sibuk dengan kupasan apelnya, menatanya di piring tatkala Naruto baru usai asyik dengan khayalnya.

"Tehnya?"

Ups, Naruto nyaris saja turut melupakan Ino. Adiknya sedang mengaduk teh saat itu. Menaruhnya di meja.

"Ah, terima kas-."

BRAAKKK!"

Labrakan keras di pintu memaksa ketiga manusia yang sedang berada di dalam kamar menoleh serempak. Ino nyaris jantungan, tangannya lantas mendarat di depan dada karena dentuman jantung yang hampir meledak sedetik barusan. Untung saja Sakura tidak lebih parah karena tepat saat itu tangannya tengah memegang pisau, mengupas apel di pinggir ranjang.

Naruto mengambil sepotong apel dari piring yang disodorkan di meja, matanya tak acuh pada kejadian yang terkesan bodoh dari dua jendral dan dua pangeran Saito ini. Mulutnya mengunyah santai.

"Biasa saja kalau mendengar aku sudah sembuh. Histeris sekali." Naruto bergumam, tangannya beralih pada perban renggang di kepalanya. Mencopotnya dengan sekali tarik.

"Hikaze punya perngaruh juga pada kesembuhanku. Itu bukan berita besar, kan?"

Sasuke dan terengah-engah. Keduanya berangkulan bahu dengan raut babak belur, namun air muka mereka lebih mirip pelawak yang habis kontes karena garis senyum membekas jelas di wajah mereka. Naruto mengerutkan dahinya sempurna,

Sepertinya mereka habis terbentur, eh?

"...Yang Mulia tenang saja, kami tidak apa-apa. Latihannya baru saja selesai..."

"Hh, wakaruttebayo!" Naruto melahap lagi sepotong apel. "Sampai dimana sudah? Tahap reuni? Atau sudah mengembalikan? "

Gaara ingin menjawab, namun Kankuro menyadari kakak sulungnya sedang tak ada. Dia lantas merubah topik,

"Temari belum kembali?"

"Temari-san sudah kembali kurang lebih sejam yang lalu. Namun kini dia keluar, berniat belanja. Persediaan gula dan beras habis, katanya." Ino mengaduk teh seraya mengambil alih jawaban untuk Gaara. Pemuda bertato di wajah ini mengangkat alisnya, tanda mengerti.

"Oh, so ka."

Ino membalas dengan senyum manis, Gaara menatapnya. Merekam semua gerakan Ino dari usai mengaduk teh hingga memberikannya pada Naruto. Safir agung itu tiba di pupilnya yang sewarna jade, lantas berkata,

"Jadi, sampai di mana latihannya?"

Gaara menoleh ke arah Shikamaru dan Sasuke, wajah mereka masih berantakan. Shikamaru mehnjauhkan rangkulannya sesenti dari Sasuke. Naruto menghirup aroma lemon dari tehnya.

"Kami sudah menghabiskan hampir 18 jam..." Shikamaru menjawab. Naruto memulai meneguk tehnya.

"... Dan kami sudah mengembalikan ZENKAI."

OHOK!

Naruto tersedak. Cairan herbal itu termuntahkan keluar. Untung baru seteguk.

Naruto gagap, Ino dan Sakura sontak keheranan karena khawatir,

"K-Kakak?"

"Y-Yang Mulia Pangeran?"

Naruto mengangkat tangannya, "T-Tidak apa-apa." Naruto terbatuk sekali, dua kali.

"Naruto?"

"Naruto-sama?"

Bahkan tidak hanya kedua gadis manis yang berada di kanan kirinya. Kedua jendral dan putra mahkota Saito ini pun turut cemas.

Naruto merasa menyesal jadi pusat perhatian, sialan...

"Aku tidak apa-apa."

Sang Pangeran menahan serak di tenggorokannya. Sakura tanggap mengambilkan air hangat di belakang. Naruto meneguknya, perlahan, dan itu cukup manjur untuk mengobati infeksi ringan yang menyerang jalur pernafasannya. Naruto mengangkat kepalanya, pandangannya sempat buyar karena rambut pirang yang turun ke dahi, namun disibakkannya. Ditelurusinya langsung keempat pasang mata di depannya itu.

"Bisa kau katakan sekali lagi, Shikamaru?"

Shikamaru berpaling pada dulu pada Sasuke. Pemuda emo ini juga gagap, namun mengangguk menyanggupi.

Sasuke berdehem sekali,

"Kami sudah meraih kembali ZENKAI, Yang Mulia Pangeran."

Naruto beku, lalu tertawa ringkih. Tertahan. Nadanya yang tanggung membuat orang-orang di sekitarnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebelum ada yang bertanya lagi, Naruto sudah keburu menjawab.

"Bagus."

Kalimat singkat ini membuat semuanya terperangah.

"Kita mulai perang besok pagi."

(TBC)

Author NOTE:

Actually, meskipun dengan kesibukan yang memadat, ane kira nggak ada salahnya untuk sekedar update. Selain sibuk di Panitia Lomba Karya Tulis, saya juga sedang mempersiapkan Seminar Kampus hari Jum'at, juga kajian Filsafat Dosen hari Ahad nanti. Terima kasih banyak untuk yang telah menyempatkan waktunya untuk mampir ini. Hohoho... *EVIL LAUGH*

But Hell, toh kesibukan itu menimbulkan konsekuensi. Minggu ini ane tidak sempat untuk membalas review kalian satu-persatu. Ane sudah baca semuanya dan terima kasih berjuta untuk SEMUAnya, baik yang non log, silent reader, ataupun member yang lain. Untuk chap ini pun saya kira termasuk pendek. Insya Allah minggu depan yang masih menyangkut FLAHBACK akan agak panjang. Menceritakan tentang APA yang terjadi di NERV saat Naruto dkk. Masih berada di sana. Konflik apa yang terjadi, termasuk tragedi yang hancurnya NERV (Yang sekilas di PROLOG, ingat?), akan dibahas di minggu-minggu depan. Dengan balasan review,

pastinya.^^b

Okay, saya pamit dulu. Sampai jumpa lagi minggu depan. Jangan lupa tinggalkan komen sekedarnya untuk eksistensi menuls saya, Teman.

I always waiting,

regards,

Alp Arslan

(REVIEW)

V

V

V