disregard

"Di-dingin…!" desah Madotsuki sambil menggigil. Ia memasuki pintu ke-8, dimana salju turun dengan kencang sambil memakai topi dan syal, tapi Madotsuki masih merasa kedinginan. Diseberang jalan, Madotsuki melihat sesosok perempuan cantik dengan kimono yang berjalan menyusuri badai.

Itu Yuki-Onna! Madotsuki dering mendengar cerita Yuki-Onna sejak kecil, tapi tak pernah melihatnya langsung, tapi sekarang youkai itu berdiri tepat didepannya! Madotsuki mencoba untuk mendekatinya, tetapi Yuki-Onna itu malah menjauh. Didekatinya lagi, ia menjauh lagi. Terus begitu sampai di depan sebuah igloo. Karena penasaran, Madotsuki masuk kedalam igloo itu dan melihat seorang gadis berambut coklat pendek yang sedang tidur. Ia terlihat kedinginan dengan baju tipis yg dipakainya

"Hei, bangun!" Madotsuki membangunkannya sambil mengguncang-guncang badan gadis itu, tapi nihil, gadis itu tak juga terbangun. Karena tak mau mengganggu, Madotsuki memberikan topi dan syal yang dipakainya pada gadis itu. Kemudian, Madotsuki bergegas pergi.

"Hei," gadis itu menyahut dengan mata yang masih tertutup, "darimana kau mendapat topi dan syal ini? Mereka milikku yang selama ini kucari…"

"—Dari kau. Kau sendiri yang memberikannya padaku…" Madotsuki tertegun. Gadis itu adalah salah satu teman sekolahnya dulu, Kamakurako. Seingat Madotsuki, ia selalu tertidur ditengah-tengah pelajaran olahraga atau ketika cuacanya dingin.

Tidak. Aku tak mau mengingatnya lagi.

Madotsuki berlari dari igloo itu dan meninggalkan Kamakurako. Dan sampailah ia didepan sebuah igloo misterius. Tak ada igloo lain disekelilingnya. Ia masuk dan melihat sebuah kolam air hangat kecil.

"Onsen? Ditempat seperti ini?" katanya dengan heran seraya mencelupkan jarinya kedalam kolam air hangat itu. Bau airnya manis. Lama-kelamaan Madotsuki menjadi pusing dan kehilangan kesadaran ketika mencium bau manis itu. Dan ia terjatuh kedalam kolam itu.

"Uh? Tempat ini…" Madotsuki terbangun disuatu tempat yang pernah dilihatnya dalam buku. Mungkin semacam sumber mata air hangat. Madotsuki berjalan melintasi mata air itu, tapi aneh, ia sama sekali tak merasa basah, ia malah merasa lega karena bisa hangat kembali setelah dihujani badai salju.

"Ah, ada balon!" Madotsuki melihat sebuah balon berwarna merah muda tepat didepannya, ketika ia mengambilnya, balon itu berubah menjadi hijau. Kemudian ia melihat balon lain berwarna biru dan memegangnya, warnanya berubah menjadi kuning. Ketika ia berbalik, Madotsuki terkejut. Jalan yang tadi dilewatinya sudah lenyap, yang ada hanyalah sebuah kerucut dengan pintu. Apakah itu rumah?

"Siapa namamu? Kenapa kau selalu terlihat sendiri?" sapa Madotsuki.

"…Namaku Poniko dan aku tak sendiri. Karena kau ada disini aku tidaklah sendiri." sahut gadis berambut pirang itu dengan dingin.

"Nah, Poniko, kalau begitu… Um.. Maukah kau menjadi temanku?"

"…Asalkan kau tak akan meninggalkanku sendiri."

"Baik!"

Tapi…

Apa yang dilihat Madotsuki ketika ia membuka pintu itu adalah… Poniko, teman sekelasnya ketika SMP. Ia adalah murid pindahan dari sekolah lain, parasnya cantik, rambutnya berwarna pirang dan dikuncir. Awalnya banyak yang ingin menjadi temannya, salah satunya Madotsuki sendiri. Tapi Poniko sangat susah untuk didekati, ia selalu menjauh bila seseorang mencoba mendekati dan mangajaknya bicara, terkadang menunduk dan menutup telinganya, tak mau mendengar apa-apa. Madotsuki yang khawatir soal Poniko kemudian mencoba untuk mengajaknya bicara. Pada akhirnya mereka menjadi teman akrab, tapi ia tak mau mengakrabkan diri pada murid lain.

Seminggu kemudian, Poniko tak datang kesekolah. Ada info bahwa Poniko melarikan diri. Tentu saja Madotsuki khawatir. Dan ia berpikir kalau ia harus mencarinya.

Kenapa kau melarikan diri, Poniko?

Saat Madotsuki sedang dalam perjalanan pulang sekolah, ia melihat sebuah benda hitam yang tergeletak ditengah-tengah jalan. Ia mendekatinya dan melihat sebuah topeng putih diatas jubah hitam besar dengan bercak darah. Dibalik jubah itu Madotsuki melihat sebuah tangan—dengan lengan baju hijau panjang, disisi lain Madotsuki melihat beberapa helai rambut pirang menyembul dari balik jubah hitam tersebut. Perasaan Madotsuki menjadi semakin tak enak, sepertinya ia bisa menebak 'apa' isi jubah itu itu.

Tak mungkin…

Sret—

"PONIKO-CHAN?" Madotsuki syok ketika melihat badan Poniko yang bersimbah darah sambil memegang topeng tadi.

Sepertinya Madotsuki tak bisa menepati janjinya terhadap Poniko. Semuanya… Telah berakhir…

"Po-Poniko? Apakah itu benar kau?" Madotsuki mencoba berbicara dengan Poniko dalam mimpinya itu. Ia ragu apakah ia Poniko yang asli atau bukan. Karena sejak ia masuk, gadis itu tak berbalik, bahkan tak ada ekspresi.

Tak ada jawaban. Gadis pirang itu malah berjalan menjauh dari Madotsuki. Karena terus berulang, Madotsuki menjadi kesal dan ingin mengejutkannya dengan mematikan lampu kamarnya.

Plik!

Tak ada reaksi, sekali lagi Madotsuki menyalakannya dan mematikannya kembali.

Plik!

Reaksi gadis yang mirip Poniko itu mulai muncul, ia mendesah.

Plik!

Kali ini ia gelisah, bergerak dengan aneh. Madotsuki semakin ingin menjahilinya lagi.

Plik!

Ekspresi wajahnya mulai berubah, mungkin ia muak melihat Madotsuki mematikan lampunya.

Plik!

"A—Apa?"

Kali ini bukan lagi main-main. Lampu itu tak mau menyala, dan Madotsuki dikejutkan oleh Poniko yang berubah menjadi sesosok makhluk aneh dengan topeng jelek dan jubah hitam. Madotsuki mengenal topeng dan jubah itu.

"—Kau membuat Poniko-ku marah, dasar bodoh!" kata makhluk itu dengan kasar.

"Siapa kau?" sergap Madotsuki sambil menyiapkan pisau dapur dibalik badannya.

"Aih, aih. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dibelakangmu... Kalau kau membunuhku kau tak bisa melihat Poniko dalam mimpimu lagi! Ah, kita belum berkenalan—kenalkan, namaku Uboa, sisi lain dari Poniko. Hehehe~" katanya sambil tertawa, gaya tertawanya membuat Madotsuki muak, tapi ia tak berani menusuk makhluk bernama Uboa itu, karena jika benar apa yang dikatakannya, Poniko akan mati jika menusuk Uboa.

"Sisi lain… Apa maksudmu?"

"Sisi kesepian Poniko. Itulah diriku." seraya membuka topengnya. Madotsuki mengira bahwa wajah dibalik topeng itu adalah wajah buruk rupa. Ternyata sebaliknya, ia adalah seorang lelaki tampan. "Sayang sekali, karena kau meninggalkan Poniko sendirian, ia menjadi seperti ini, tak peduli lagi padamu…" Madotsuki tertegun, ia kesal dikatai seperti itu. Sudah pasti Uboa menyinggung tentang janjinya dengan Poniko.

"Kau… Kau akan menyesal karena sudah berkata seperti itu!" Madotsuki menggenggam pisau dengan erat, ia siap menusuknya.

"Hentikan! Madotsuki!" tiba-tiba terdengar suara Poniko, Madotsuki terkejut, begitu juga dengan Uboa.

"Jangan bercanda, Poniko! Bukankah kau sendiri bilang akan membalaskan dendammu pada anak ini?" sangkal Uboa dengan marah. Madotsuki tak menyangka bahwa Poniko ternyata ingin membalas dendam padanya, padahal selama ini ia sangat setia pada Poniko, tak meninggalkannya sendirian.

"A-Aku tak bermaksud berkata seperti itu... Ini semua karena kau yang memaksaku, Uboa…!" suara Poniko terdengar lagi.

"Diam, Poniko—!" sekali lagi Uboa ingin menyangkal, tapi terlambat, Madotsuki telanjur menusuknya.

"Madotsuki!" suara Poniko terdengar lagi. Mata Uboa berubah menjadi merah,motif topeng diatas kepalanya memudar. Membentuk wajah merajuk.

"Ufufu—Dasar bodoh… Sampai ketemu lagi, Madotsuki…!"