Hallo Minna-san…

Ohayou, konnichiwa, konbanwa…

Seperti biasa fanfic ini akan berlanjut dan sekarang sudah sampai chapter 4,, tapi lemonnya belum muncul – muncul..

Readers gak perlu tanya kapan lemon akan keluar karena authors sendiri gak tahu kapan munculnya,, *pundung*

Maaf atas keterlambatannya..

Langsung saja,,

.

.

#_#

.

.

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Pairing NaruHina

Rated : M lebih dominan Romance

Warning : OOC, abal, GeJe, berantakan, jauh dari kata sempurna, lemonnya akan berjalan sesuai dengan keadaan dan jalan cerita.

HAPPY READING

Chapter 4

"Coba saja kau hubungi Sakura untuk memastikan kapan dia akan tiba," saran Neji.

"Baik" patuh Hinata.

Hinata mencari nama Sakura dikontaknya, lalu menekan tombol berwarna hijau bertanda dia menghubungi Sakura.

"Moshi moshi.." ujar suara diseberang sana.

"Hn.." jawab Hinata.

"Ada apa Hinata?" tanya suara itu.

"Kau ada dimana Saku-chan?" tanya Hinata.

"Oh‼ aku lagi ada di mobil Naruto. Memang ada apa?"

"Nanti kau tiba di apartemen pukul berapa?" tanya Hinata yang sudah tidak menggunakan nada dinginnya.

"Wah‼ pasti kamu lagi sama seseorang ya? Sampai – sampai kau jadi cerewet begini," ujar Sakura.

"Udah jawab saja."

"Pukul 7 pm. Ngomong – ngomong kapan Hanabi pulang? Aku ingin bicara sama dia Hinata."

"Hanabi sebentar lagi pulang, sekarang aku lagi sama Neji-nii buat jemput si bawel itu.."

"Hahaha,, kau membuatku tambah kangen sama Hanabi."

"Ya sudah, aku tunggu kamu di apartemen."

"Sampaikan salamku pada Neji-nii."

"Iya." Hinata mengakhiri sambungannya.

.

#_#

.

Mobil Ferrari yang di dalamnya ada Hinata dan Neji melaju ke arah bandara. 10 menit kemudian mereka tiba di bandara dan ternyata pesawat yang ditumpangi Hanabi belum tiba. 20 menit kemudian pesawat yang ditumpangi Hanabi mendarat. Segera saja Neji mencari sosok gadis kecil yang mempunyai mata Amethyst sama seperti dirinya dan Hinata. Kemudian terdengar suara memanggilnya.

"Nejii-niiii" seorang gadis manis menghampirinya dan bergelanyut manja di lengan Neji.

"Hey bawel kau ini selalu saja seperti ini.." kata Neji.

"Hehehe," cengiran khas dari adik keduanya yang bernama Hanabi.

"Ahhmmmbb" Neji menahan suaranya agar tidak berteriak.

"Hehe,, begitulah.. wekk," ujar Hanabi sambil berlari kearah Hinata.

"Kau kenapa Hanabi?" tanya Hinata pada adiknya yang berhambur pada pelukannya.

"H-A-N-A-B-I" Neji dari kejauhan memancarkan aura membunuhnya.

"Sejak kapan kau memasang benda sekecil ini Hanabi?" tanya Neji yang sudah ada didepan mereka.

"Pastinya sejak kakak sudah sampai di rumah, iya kan Hinata-nee?" jawab Hanabi enteng.

"Jadi kalian berdua.."

"Ya begitulah," tukas Hinata.

"Sejak kapan?" tanya Neji yang mulai geram.

"Apa Neji-nii lupa saat aku memeluk lengan kakak." Jawab Hinata.

"Jadi,,"

"Neji-nii gak boleh marah loh,, nanti aku bilangin Tenten-nee,," potong Hanabi.

"Hah,, baiklah." Jawab Neji pasrah akan kelakuan adik – adiknya dan dia berjanji akan lebih waspada.

.

#_#

.

Akhirnya mereka bertiga keluar dari bandara setelah berbelanja dan kuliner. Mereka bertiga menuju ke apartemen Hinata. Di dalam mobil mereka tidak diam membisu melainkan saling berbagi cerita dan pengalaman. Tak lama kemudian, mobil Ferrari yang ditumpangi kakak – beradik ini tiba di sebuah apartemen milik Hinata yang memang sedang dikelolanya. Hinata menyuruh mereka masuk dan menawarkan minuman terbaru yang baru diproduksinya. Hanabi dan Neji menyetujuinya. Hinata memanggil salah seorang office girls untuk mengantarkan minuman ke kamarnya melalui alat telepati. 5 menit kemudian seorang gadis berseragam office girls masuk dengan membawa 3 gelas minuman yang dipesan Hinata. Mereka saling bersenda gurau sampai – sampai Hanabi mengeluarkan air mata. Memang diantara mereka bertiga yang paling suka bercanda adalah Hanabi.

"Oya nee,, Sakura-nee kemana, katanya pukul 7 pm mau kesini. Ini sudah jam 8 pm..?" ujar Hanabi.

"Mungkin saja dia sedang ada urusan," hibur Neji.

Sousa kanashimi wo yasashi sa ni

Jibun rashi sa wo chikara ni

Mayoi nagarademo ii

Aruki dashite

HP Neji berdering bertanda ada panggilan masuk. Melihat siapa yang menelpon, Neji mengaktifkan loudspeaker.

"Moshi – moshi" sapa Neji.

"Neji kamu ada dimana sekarang?" tanya orang disebereng pesawat telepon.

"Aku ada di apartemen Hinata tou-san,"

"Bagaimana dengan Hanabi?" suara orang yang ternyata ayah mereka, Hiashi yang khawatir.

"Tou-san, aku disini juga." Jawab Hanabi.

"Syukurlah, kalau begitu kalian berdua detik ini juga pulang ke rumah. Oya, buat Hina-chan jaga dirimu di New York ya sayang,," perintah dan pesan ayah mereka.

"Iya ayah,, arigatou."

"Buat kalian berdua, 30 menit dari sekarang harus tiba di rumah." Dan sambungan berakhir.

"Jadi, nee Hinata mau pergi ke New York?" tanya Hanabi dengan wajah kecewa.

"Iya, bawel jangan sedih donk,," Hinata ikutan sedih.

"Apa nee yakin?" Hanabi memastikan.

"Begitulah, nee ada janji dengan teman – teman," jawab Hinata.

"Tapi, nee tetap hubungi aku ya,"

"Iya bawel, udah sana pulang nanti dimarahin ayah loh,," ujar Hinata mencubit pipi Hanabi.

"Kalau begitu, kami pulang dulu ya Hime,, jaga diri,, dan jangan nakal loh.." pesan Neji.

"Apa – apaan sih, aku bukan anak kecil lagi tau,,"

"Tau ah kakak ini,, udah jelas nee Hinata besar kayak gajah masak gak kelihatan,, mata Neji-nii paling yang bermasalah." Gurau Hanabi yang berhasil mendapatkan hadiah cubitan di kedua pipinya dari kedua kakaknya.

Mereka berdua akhirnya pulang ke rumah dengan hati gembira, tapi tidak bagi Hanabi yang masih kecewa dengan ketidakhadiran Sakura.

.

#_#

.

*pulang sekolah*

Setelah mengantar Hinata pulang ke rumah, Naruto mengantar Sakura ke apartemennya. Sesampainya di apartemen Sakura mempersilahkan Naruto masuk dan hal itu mendapat respon positif dari orang yang bersangkutan. Sakura meninggalkan Naruto di ruang tamu untuk membuat minuman. Tak lama kemudian, Sakura keluar dari dapur dengan membawa segelas jus alpukat dan beberapa kue yang dibuatnya tadi pagi serta meletakkannya di meja.

"Sakura, kau mau kemana?" tanya Naruto pada Sakura yang mulai meninggalkannya.

"Aku mau membersihkan dapur sebentar saja. Kau nikmati saja, maaf ya aku tidak bisa memberimu apa – apa," ujar Sakura.

"Tidak apa – apa, bagaimana kalau kau temani aku saja."

"Tapi.."

"Nanti ku kirim pelayanku untuk membersihkannya," tukas Naruto.

"Apa boleh buat." Akhirnya Sakura mengalah.

"Oya Sakura, sejak kapan kamu bersahabat dengan Hinata?" tanya Naruto sambil memasukkan kue ke dalam mulutnya.

"Kau itu lupa atau pikun sih, ya jelas saat kita bertemu," jawab Sakura.

"Oh,, memang kita itu siapa saja selain kau dan Hinata?" tanya Naruto lagi.

"Hah— kau ini benar – benar pikun. Sudahlah, nanti kau juga tau,," jawab Sakura.

"Oya Sakura, gimana kalau sebentar lagi kita ke taman kota?"

"Maaf Naru-kun, sepertinya aku tidak bisa. Bukannya sewaktu dimobil kau sudah mendengarnya?"

"Aku janji, aku akan mengantarkanmu pulang sebelum pukul 7 pm,, bukannya kau jarang keluar apartemen." Naruto membujuk Sakura.

"Hah—baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu."

"He'em, aku tunggu di mobil ya?"

"Iya,,"

"Jangan lama – lama‼"

"Dasar bawel,,"

.

#_#

.

Setelah itu Naruto keluar dari apartemen Sakura menuju mobilnya sedangkan Sakura sendiri menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket akan keringatnya. Selesai mandi, Sakura langsung ke kamarnya dan memakai baju berwarna pink dengan motif bunga sakura dan celana jeans ukuran ¾. Sakura keluar dari apartemennya sebelum itu dia berpamitan pada teman satu kamarnya Ino, Ino Yamanaka. Setelah itu menuju ke arah mobil Naruto dan memasukinya.

"Maaf lama menunggu," ujar Sakura setelah berada di samping Naruto.

"Tidak apa – apa, aku malah bersyukur karena mulai tadi mencari HP dan baru selesai ganti baju,, hehe" ujar Naruto.

"Udah ketemu?" tanya Sakura.

"Hehe,, aku juga baru ingat kalau HPku dibawa Hime. Untung saja aku bawa dua HP, tapi.." Naruto menghentikan perkataannya dan melajukan mobilnya.

"Kenapa?"

"Orang tuaku pasti telfon ke nomor HP yang dibawa Hinata."

"Kenapa bisa begitu,"

"Entah, mereka lebih suka nelfon aku ke nomor itu daripada nomor yang lainnya."

"Dasar‼"

"Hehe"

Dalam perjalanan mereka banyak bercerita terutama Naruto yang dituntut Sakura untuk menceritakan tentang New York. Setengah jam berada diperjalanan akhirnya mereka tiba di taman kota. Naruto menyuruh Sakura duduk diantara salah satu bangku yang ada di taman kota sedangkan dia memarkir mobilnya. Tak lama kemudian sepasang telapak tangan menutupi mata Sakura dari belakang.

"Ayo tebak,," kata orang itu.

"Dasar kayak anak kecil,, udah lepasin,," jawab Sakura.

"Tebak dulu‼"

"Hah—Naruto, lepasin‼"

"Hehe.. kok Saku-chan bisa tau sih.."

"Tau ah‼"

"Jangan ngambek donk,, nih aku bawain es krim rasa bunga sakura,," Naruto menyerahkan es krim yang dibawanya.

"Hah―mana ada es krim rasa bunga sakura yang ada es krim rasa strawberry baka,," kata Sakura menerima es krim yang diberikan Naruto.

Mereka duduk berdua seperti layaknya seorang kekasih. Mereka berdua ngobrol tentang apa saja baik itu hal sekolah maupun pribadi. Sampai pada saatnya Naruto membawa Sakura ke pembicaraan yang cukup serius.

"Sakura, maukah kau jadi kekasihku..?" tanya Naruto yang to the point.

"Hah!" Sakura kaget.

"Bagaimana..?"

"Apa yang melatarbelakangi kamu bicara seperti itu?" tanya balik Sakura.

"Karena aku telah menemukan putri kecilku yang selama 10 tahun aku tinggalkan dan lupakan." Ujar Naruto.

"Kau mengingatnya?" tanya Sakura tak percaya.

"Tentu, aku sudah mengingat semuanya. Aku tidak mungkin melupakan persahabatan diantara kita serta kenangan yang berharga." Naruto memancarkan keseriusan.

"…." Sakura hanya bisa menangis.

"Bagaimana?" tanya Naruto lagi.

"…." Sakura hanya menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu kau jangan menangis dan tetaplah tersenyum karena hidupku adalah senyuman manis darimu sayang,," ujar Naruto menghapus air mata yang turun di kedua pipi kekasihnya.

"Dasar gombal." Kata Sakura mencubit pinggang Naruto.

"Bagaimana kalau kita pergi ke pusat taman kota..?" ajak dan tawar Naruto yang mendapat respon angukan kepala dari Sakura.

Dalam menuju tempat parkir, Naruto merangkul Sakura yang mengundang banyak mata melihatnya. Hal itu sukses membuat wajah Sakura menjadi merah sedangkan Naruto enjoy – enjoy aja. Akhirnya mereka pergi ke pusat taman kota. Dalam perjalanan Naruto diliputi dengan perasaan yang dia sendiri pun tidak tahu. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah dengan Sakura yang telah menjadi kekasihnya. Tapi, Naruto menepis semua itu toh dia sudah menemukan putri kecilnya.

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

Sebuah taman kota yang terletak tak jauh dari apartemenku. Aku menuju kesana bersama Naruto, kekasihku. Taman kota yang terletak di sebelah utara rumahku menjadi salah satu tempat favorit orang – orang di kawasan tersebut, bayangkan saja hampir setiap hari taman tersebut dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan pengunjung. Tempatnya sangat luas, hijau, dan banyak wahana permainan yang sangat menyenangkan. Di sepanjang jalan menuju tanah lapang tengah taman itu, banyak sekali orang berjualan. Baik itu makanan, minuman sampai aksesoris lainnya. Tapi ada satu tempat yang telah menjadi tempat favorit orang – orang apalagi bagi mereka yang membawa pasangan atau bisa di bilang pacar seperti aku saat ini. Tujuan kami pun tak luput dari tempat itu. Tempatnya berada di barat tanah lapang tengah taman, di sana ada dua bukit buatan yang saling berdekatan. Bukitnya sangat indah dengan beberapa bangku kayu dan beberapa pohon oak yang lumayan besar. Di atas bikit buatan itu kita bisa melihat seluruh isi taman kota tersbut, mulai dari toko kecil, arena hiburan, bahkan sungai kota pun bisa terlihat jelas. Saat malam tiba banyak pasangan – pasangan yang menghabiskan waktu di tempat ini.

.

#_#

.

^_^ End Sakura P.O.V ^_^

Sakura mengajak Naruto bermain berbagai macam wahana. Sampai akhirnya dia tertarik akan permainan lempar bola yang akan mendapatkan beragam jenis boneka kura – kura yang super lucu. Sakura merangkul Naruto dan mengajaknya ke wahana permainan tersebut. Naruto menunggu Sakura yang sedang menukarkan uang 10 yen dengan 10 bola. Setelah itu Sakura melempar bola – bola itu ke tempat tujuan agar bisa mendapatkan sang boneka yang sangat ia senangi sejak kecil. Empat bola telah dilemparnya tapi tak satu pun yang tepat sasaran. Naruto yang sejak tadi mengawasi Sakura dengan jarak 1 meter melagkah mendekatinya.

"Sini aku bantu.." ujarnya yang membuat Sakura terkejut. Bola kelima yang dilempar Sakura meleset.

"Yah, gagal lagi nih.." ujar Sakura.

"Sini aku bantu.."ujar Naruto lagi.

"Tidak usah,,"

"Kau marah..?"

"Tidak,,"

"Lalu kenapa..?" tanya Naruto.

"Aku ingin mendapatkan boneka kura – kura itu, tapi selalu gagal." ucap Sakura sedih.

"Kalau begitu biar aku bantu." tawar Naruto.

"Tidak usah, soalnya kalau mendapatkan dengan jerih payah sendiri pasti menyenangkan."

"Terserah." Naruto pun pasrah.

"Ternyata putri kecilku ini sama sekali tidak berubah." pikir Naruto dalam hati dan meninggalkan Sakura kembali ke tempat semula, di sebuah pohon besar.

.

#_#

.

Tak lama kemudian Sakura kembali dengan wajah ceria. Naruto mengangkat salah satu alisnya. Sakura yang menyadari itu mengeluarkan sesuatu yang ada disembunyikannya di belakang tubuhnya sambil berkata, "Tada.."

"Kau berhasil mendapatkannya..?"

"Tentu.. Sakura gitu!" jawab Sakura menyombongkan diri.

.

#_#

.

"Hai kau mau kemana..?" tanya seorang anak laki – laki yang sedang mengejar seorang gadis kecil yang berada di depannya. Gadis itu hanya menoleh sebentar ke arah belakang tempat anak laki – laki itu mengejarnya setelah itu kembali berlari. Anak laki – laki itu seumuran dengan gadis kecil itu. Mereka terus berlari di tengah kerumunan orang. Sampai akhirnya sang gadis berhenti.

"Akhirnya kau tertangkap juga." ujar anak laki – laki itu.

"Pangeran, aku mau maen itu.. Aku ingin dapat baby.. Pangeran mau kan..?" ujar gadis kecil sambil menunjuk ke wahana permainan.

.

#_#

.

"Naruto.." tutur Sakura membuyarkan lamunan sang kekasih.

"Kau baik – baik saja..?" tanyanya lagi.

"Iya, aku hanya ingat waktu kita kecil dulu. Waktu itu kau sangat menyukai baby. Tapi sekarang kau bukan gadis kecil lagi. Kau adalah Sakura, putri kecilku yang sudah besar. Aku bahkan mempunyai rencana setelah menemukan putri kecilku, aku akan membawamu untuk membeli baby lagi. Tapi, ternyata sekarang kau sudah tidak menyukainya lagi. Aku tidak kecewa karena sekarang aku tau kalau kamu menyukai boneka kura – kura bukan baby. Aku sungguh senang Sakura." tutur Naruto.

"Naruto.." kata Sakura tak bisa mengucapkan kata – kata lagi.

"Ayo!" ajak Naruto.

"Kemana..?"

"Ikut saja."

.

#_#

.

Setelah itu mereka keluar dari pusat taman kota. Sakura mengikuti Naruto dari belakang menuju tempat di mana mobil Naruto diparkir. Mereka berhenti di depan sebuah mobil ferrari berwarna hitam metalik. Naruto mengeluarkan remot kontol, kemudian membuka kunci pintu mobil dengan remot kontrol. Naruto membukakan pintu depan sebelah kiri mobilnya dan Sakura pun masuk dengan canggung. Lalu setelah itu Sakura melihat kekasihnya dari dalam mobil, dia berjalan memutari depan mobil menuju pintu sebelah kanan dan duduk di belakang kemudi. Setelah itu mobil ferrari itu melaju ke arah selatan dan berbelok di pertigaan jalan.

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

"Iya, aku hanya ingat waktu kita kecil dulu. Waktu itu kau sangat menyukai baby. Tapi sekarang kau bukan gadis kecil lagi. Kau adalah Sakura, putri kecilku yang sudah besar. Aku bahkan mempunyai rencana setelah menemukan putri kecilku, aku akan membawamu untuk membeli baby lagi. Tapi, ternyata sekarang kau sudah tidak menyukainya lagi. Aku tidak kecewa karena sekarang aku tau kalau kamu menyukai boneka kura – kura bukan baby. Aku sungguh senang Sakura."

Apa yang kau maksud adalah DIA..? Lalu kenapa kau menganggapku adalah DIA..? Aku kira kau menjadikanku sebagai kekasih karena waktu itu…"

.

#_#

.

^_^ End Sakura P.O.V ^_^

"Sakura.."

"Ah, ada apa..?" tanya Sakura terperanjat.

"Kau lagi melamun apaan sih.." tanya Naruto balik.

"Tidak,, sudah nyetir yang benar. Aku tidak mau mati muda." kata Sakura sok cuek.

"Walau pun aku harus mati muda asalkan mati bersamamu aku mau. Samudera pun akan aku arungi demi mendapatkan kekasih hati." kata Naruto gombal.

"Dasar gombal."

^Flash Back mode on^

Matahari mulai kembali ke singgasananya. Lapangan itu masih ramai dengan suara riuh dari anak – anak yang tertawa senang. Ada dua anak yang tak ikut bergabung dalam kumpulan itu. Mereka sedang berduaan memandangi sunset. Sekali – kali mereka melihat ke arah kawannya yang berada di tanah lapang.

"Kau tau keindahan apa yang di tawalkan sunset..?" kata gadis kecil yang tak sempurna mengecapkan huruf "R".

"Tentu. Kata kaa-san sunset menawarkan berbagai keindahan yang membuat semua masalah yang ada pada diri kita hilang. Apalagi kaa-san bilang kalau melihat sunset lebih indah dan istimewa apabila bersama orang yang kita cintai. Kaa-san bilang kalau bersama orang yang kita semua perasaan kasih sayang dan cintai tersampaikan melalui sinar sunset." jawab anak laki – laki yang berada di sebelah kanan gadis itu.

"Wah! okaa-san Nalu-kun hebat. Aku ingin sepelti apa yang diucapkan kaa-san Nalu-kun." kata gadis itu takjub.

"Kau tau, kita sekarang ini seperti orang pacaran. Aku juga berharap suatu saat nanti kau dan aku menjadi sepasang kekasih dan menikah, setelah itu kita punya anak yang lucu," ujar anak laki – laki itu yang ternyata Naruto.

"Iya. Aku mau. Aku mau pelutku nanti besal. Sudah itu punya anak kembal yang banyak sekali.." ujar gadis itu polos sambil mengelus – ngelus perutnya layaknya seorang ibu hamil.

"Kalau begitu aku harus punya uang banyak buat anak – anak kita nanti."

Mereka menghabiskan waktu sunset hanya berdua. Berdua penuh dengan kepolosan. Mereka tak tahu kalau suatu saat hal tersebut bisa berubah seiring waktu berjalan. Mungkin waktu yang salah atau mungkin diri kita sendiri.

Tak lama kemudian dua anak kecil menghampiri mereka. Satu seorang anak laki dan satunya lagi seorang gadis kecil cantik. Mereka berempat seumuran. Setelah itu gadis kecil cantik itu mengajak ketiga temannya untuk pulang. Selama dalam perjalanan mereka bersenda gurau.

^Flash Back mode off^

Mobil yang ditumpangi NaruSaku berhenti di sebuah toko pakaian.

"Uchiha Fashion Shop." Sakura membaca tulisan yang tercetak tebal dan besar di atas pintu masuk.

"Iya. Ini toko Sasuke yang mengelola." jawab Naruto.

"Oh.." Sakura hanya ber'oh' ria.

"Kau masuklah dulu, aku mau menemui Sasuke untuk urusan perusahaan.!" perintah Naruto.

"Kalau boleh tau, urusan seperti apa itu..?" tanya Sakura.

"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang aku harus bertemu Sasuke dulu."

"Naruto.." Sakura merengek dan hal itu membuat Naruto luluh. Kemudian Naruto mengajak Sakura untuk duduk di salah satu kursi kayu yang berada di halaman depan toko itu.

"Perusahaan turun – temurun itu sama halnya dengan perusahaan yang diwariskan ke keturunnya secara turun – temurun." ujar Naruto setelah mereka duduk di kursi kayu itu.

"Lalu..?"

"Setiap anggota keluarga memiliki perusahaan untuk dikelola. Di keluarga Sasuke terdiri dari 4 orang, yaitu Fugaku-ojisan, Mikoto-obasan, Itachi-nii, dan Sasuke sendiri. Mereka mempunyai satu perusahaan sekaligus mengembangkan perusahaan itu. Perkembangan perusahaan itu akan diserahkan pada anaknya. Sedangkan di keluarga Namikaze hanya aku anak tunggal. Jadi aku pewaris tunggal keluarga Namikaze. Misalnya kalau kita menikah, maka kau akan menyandang nama Namikaze dan kau berhak mendapatkan perusahaanku untuk dikembangkan. Setelah itu jika kau hamil dan melahirkan anak maka anak kita bisa mendapatkan perusahaan dariku. Begitu seterusnya." jalas Naruto panjang lebar.

"Oh.."

"Aku pergi ke Sasuke dulu ya, kau masuklah terlebih dahulu.. Nanti aku nyusul.." perinntah Naruto.

"Tapi,," Sakura hendak mengungkapkan penolakan, tetapi keburu ditinggal Naruto menemui Sasuke.

.

#_#

.

^_^ Sakura P.O.V ^_^

Aku pun masuk dengan perasaan tak menentu. Senang karena dapat shopping di tempat yang semegah ini. Takut, takut mengecewakan Naruto. Kecewa karena tak ditemani Naruto. Semua itu bercampur aduk dihatiku. Saat memasuki ruangan megah ini yang dipenuhi dengan pernak pernik perhiasaan. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Setelah itu aku kembali mengarahkan pandanganku ke lantai atas. Karena tidak puas hanya dengan memandang, aku mulai menaiki eskalator agar cepat tiba menuju lantai dua. Sesampai disana aku hanya menelan ludah. Ruangan ini dipenuhi dengan berbagai macam jenis gaun. Mulai dari kelas anak – anak sampai dewasa. Mulai dari buatan sendiri maupun ekspor. Aku memilih salah satu gaun dan kembali naik ke eskalator untuk menuju lantai tiga. Di lanatai ini dipenuhi dengan berbagai baju santai dari kelas anak – anak sampai dewasa. Aku memilih beberapa baju yang cocok. Setelah itu aku menuju ke lantai dasar untuk mencoba baju yang telah aku pilih. Saat itulah semua mata memandangku dengan meremehkan. Bahkan para pelayan pun juga memandangku dengan tatapan tajam. Aku menundukkan kepala sambil melahkan menuju ruang ganti. Tiba – tiba saja salah seorang pelayang bertanya padaku.

"Apa anda ingin membeli semua baju ini nona..?" tanyanya.

"Tentu." jawabku patuh.

"Saya tidak yakin dengan itu. Apa anda mempunyai uang..?" tanya pelayan satunya lagi dengan nada meremehkan.

"Maaf.." itulah yang keluar dari bibirku setelah beberapa saat diam. Aku mencoba manahan air mata ini. Tapi, rasanya terlalu banyak yang harus di tahan dan akhirnya tertumpa juga.

"Jika anda hanya melihat dan mencobanya, kami sarankan jangan pegang gaun itu." perkataan pelayan itu membuatku benar – benar menusukku. Tanpa di duga Naruto datang menemuiku dengan pandangan heran. Aku menundukkan kepala untuk menghindari tatapannya yang mungkin akan mengintrogasi sekaligus untuk menyembunyikan air mata ini.

"Ada apa..?" tanyanya. Aku melihat sedikit para pelayan tadi terkejut saat Naruto merangkulku.

"Ti..tidak.." jawabku terbata dan sedikit terisak.

"Kau menangis..?"

"Tidak.."

"Apa yang kalian lakukan pada kekasihku..?" tanya Naruto pada semua pelayan yang ada disana. Para pelayan yang telah menghinaku terkejut.

"Maafkan kami Naruto-sama." kata pelayan itu.

"Akan aku laporkan kalian pada Sasuke.." ancam Naruto.

"Ada apa ini ribut – ribut..?" tanya Sasuke yang datang tiba – tiba.

"Para pelayanmu bertingkah tidak sopan terhadap kekasihku. Mereka menghinanya. Jika kau tidak bertindak akan hal ini, aku akan membatalkan kerja sama antara kita dan melaporkan mereka ke kantor polisi karena pencemaran nama baik kekasih seorang Naruto Namikaze." kata Naruto memperpanjang masalah

"Sudahlah Naruto, aku tidak apa – apa. Jangan diperpanjang lagi ya.." kata Sakura.

"Baik. Jika bukan Sakura yang meminta aku tidak akan memaafkannya. Kalau begitu, kalian layanilah kekasihku dengan baik." perintah Naruto.

Setelah selesai dengan gaun dan bajuku, aku keluar dari Uchiha shop. Naruto kemudian mengajakku ke sebuah restoran. Aku hanya menurut saja. Entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal dan sepertinya aku mempunyai janji, tapi aku lupa punya janji dengan siapa. Mobil Naruto kembali melaju di jalan raya. Selama beberapa menit kami terdiam.

"Kita makan dulu ya..?" tanya Naruto.

"Terserah." jawabku singkat.

Tak lama kemudian mobil Naruto memasuki sebuah perkarangan restoran ternama. Aku sudah tahu pemilik restoran ini, karena dari namanya saja sudah RESTORAN PUTRI NAMIKAZE. Aku hanya mengikuti Naruto dari belakang. Saat melihat Naruto memasuki restoran tersebut semua pelayan berkumpul dan memberi hormat dengan menundukkan kepala. Lalu seorang wanita cantik dan seksi menghampiri kami.

"Apa ada yang tuan inginkan..?" tanyanya.

"Sediakan kami ruangan yang romantis dan makanan yang enak." jawab Naruto. Semua memandangku dan aku hanya bisa tersenyum dan meminta maaf atas ketidaksopanan sahabat sekaligus kekasihku ini. Mereka membalas senyumanku.

"Ayo Sakura..!" ajaknya.

"I..iya,," jawanku terbata – bata. Ternyata Naruto membawaku ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian, wanita seksi tadi masuk dan mengatakan bahwa tempat yang dipesan Naruto telah tersedia. Kami berjalan mengikuti wanita seksi itu. Langkah kami terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu yang terbuat dari kayu jati. Ternyata di tempat itu telah tersedia berbaga macam makanan dan minuman yang semua sangat lezat untuk disantap.

"Silahkan dinikmati,," ujarnya kepada kami.

.

#_#

.

Sepeninggal wanita seksi tadi, kami memilih makanan yang menggiurkan bagi perut kami. Aku memilih salad burger dan jus avocado. Sedangkan kekasihku seperti biasa dia memilih makan ramen dan susu kental manis. Setelah makanan telah kami pilih, aku dan Naruto duduk di satu – satunya kursi yang ada disana. Kami menyantap makanan kami. Tak lama kemudian, HP Naruto berdering menandakan ada panggilan masuk. Naruto melihat siapa orang yang menelpon di waktu yang tidak tepat setelah itu mengangkatnya.

"Moshi-moshi….APA?...Kenapa sekarang…Tapi…Oke, aku akan kesana.." itulah percakapan yang keluar dari mulut Naruto.

"Sakura,, maaf! aku harus ke bandara sekarang juga. Barusan tou-san menelpon dan meminta aku menjemputnya."

"Tidak apa – apa kok.. apakah hanya paman Minato yang pulang..?" tanyaku.

"Iya.. katanya ada sesuatu yang harus dia ambil dan urus. Kalau gak salah ingat.. kamu kan ada janji sama Hinata, bagaimana kalau aku yang antar kamu pulang.. kebetulan arah bandara dengan apartemen kamu searah.." ujarnya.

DEG..

Astaga! aku lupa kalau ada janji dengan Hinata. Jam berapa sekarang..? APA? sudah jam 8 pm. Lebih baik aku segera pulang.

"Naruto,, aku pulang dulu ya.. Salam buat paman Minato." seketika itu aku langsung keluar dari ruangan itu. Aku langsung menuju pintu keluar restoran. Aku menuju ke apartemen Hinata dengan berlari.

^_^ End Sakura P.O.V ^_^

.

.

#_#

.

.

%TBC%

Ciak sudah hiatus.. jadinya saya sendirian membuat nih cerita.. Jadinya tolong review jika ada yang salah..

R

E

V

I

E

W

23