Hallo minna-san..

Ohayou.. konnichiwa.. konbanwa..

Maaf, yang dulu itu Hana salah mengupdate *pundung*. Hana langsung mengupdate tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Ini Hana sudah update yang benar kok. Jadi minna, gomenasai *nunduk*. Di fic ini akan banyak sekali lemon baik yang soft maupun hard lemon. Tanpa banyak bicara lagi. Kita mulai saja dah !

.

.

#_#

.

.

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Pairing NaruHina

Rated M lebih dominan Romance

Warning : OOC, GeJe, berantakan, jauh dari kata sempurna, lemonnya mulai keluar dari chapter ini. Jadi, bagi yang tidak terlalu suka dengan lemon, don't read. Oke minna-san.

HAPPY READING

Chapter 7

Mereka berempat telah memasuki pesawat dan mengambil tempat duduk. Naruto dan Sakura duduk bersama di ruangan pertama. Sasuke berada di ruang pertama bangku paling akhir. Sedangkan Hinata memilih duduk terpisah di ruangan ketiga. Ruang pesawat itu sangat luas. Terdiri dari empat ruangan. Ruangan pertama sampai ketiga merupakan ruangan untuk penumpang. Masing – masing ruangan terdapat kamar mandi, ruang makan, dan kamar tidur. Ruangan keempat adalah ruangan untuk rapat. Karena ruangan itu berisi beberapa berkas dan meja bundar dengan kursi disekelilingnya. Juga tak lupa beberapa buku tertata dengan baik dan rapi di rak buku yang berada di samping kanan dan kiri ruangan. Entah apa yang membuat Hinata melangkahkan kakinya menuju ke ruang rapat tersebut. Hinata tanpa permisi segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Kesan pertama yang Hinata berikan terhadap ruangan tersebut adalah rapi dan bersih. Hinata berjalan menuju ke rak buku. Mencoba mengambil beberapa buku yang menurutnya menarik. Tapi, tiba – tiba kegiatannya terhenti saat indra pendengarannya mendengar suara deheman seorang pemuda. Hinata menoleh ke arah asal suara. Hal yang pertama ditunjukkannya bukan merasa bersalah melainkan tatapan benci.

.

#_#

.

"Apa yang putri Hyuuga lakukan disini?" tanya pemuda itu sambil bersandar di pintu.

"Hanya ingin melihat koleksi buku Tuan Namikaze." Hinata menjawab dengan sinis.

"Hmm.. ternyata putri Hyuuga kita ini tidak mempunyai sopan santun sama sekali." Naruto berjalan mendekati Hinata yang masih tetap berdiri di samping rak buku. "Kau tau, ini adalah ruang pribadiku. Siapa pun yang memasukinya tanpa ijin dariku akan mendapatkan hukuman." Naruto menghentikan langkahnya setelah berada di dekat Hinata. Mereka berdua saling bertatapan. Naruto semakin membuat jarak diantara mereka menyempit dan Hinata pun melangkah mundur ke belakang. Tanpa ia sadari, Hinata menekan sebuah tombol tersembunyi dan membuat sebuah tembok terbuka.

"Kau benar – benar tak punya sopan santun. Tadi kau sudah masuk ke ruang pribadiku sekarang kau mengajakku untuk masuk ke kamar berdua. Apa kau ingin melakukan sesuatu hime?" tanya Naruto sambil merapatkan jarak diantara mereka. Naruto memojokkan Hinata.

"Ka..kamar.. kau bilang ini kamar?"

"Tentu. Ini adalah kamar pribadiku. Dan orang satu – satunya yang memasuki kamar ini hanya dirimu." Sekarang Hinata terhimpit diantara Naruto dan tembok di belakangnya.

"Ja..jangan..jangan mendekat. Kalau kau berani mendekat, aku akan berteriak." Ancam Hinata.

"Silakan saja. Apa kau tahu untuk apa dipasang karpet di dinding itu?" Hinata memandangi dinding kamar yang ditutupi karpet itu. Hinata membelalakan matanya.

"Ya. Ku rasa kau sudah mengetahuinya. Itu untuk meredam suaramu jika berteriak honey." Kata Naruto memberi penekanan pada kata honey sambil membelai wajah Hinata begitu lembut. Hinata berjalan mundur tanpa diketahuinya bahwa dibelakangnya terdapat ranjang.

"Hentikan! Aku gak sudi disen―KYAAA" Hinata jatuh terbaring di atas ranjang milik Naruto. Hinata kembali berdiri, tapi Naruto segera menindih Hinata sehingga membuat Hinata kemungkinan besar tidak dapat melarikan diri.

"Kau benar – benar kucing peliharaanku yang nakal." Naruto berbisik di telinga kanan Hinata yang membuat Hinata merinding. Awalnya Naruto hanya ingin menggoda Hinata, tapi dia mulai terangsang.

"Eemmhh~a..aku bukan kucing peliharaanmu baka. A..a..AAKKHH~ AAKH~ hentikanhh bakhhkaah~" Naruto mulai menjilat leher Hinata. Mulai dari menjilat, menghisap, menciuminya bahkan menggigitnya. Kissmark mulai bermunculan di leher Hinata.

"Kau benar – benar kucing peliharaanku yang paling liar. Kau tau, suaramu itu membuat seluruh syaraf di seluruh tubuhku bergetar. Keluarkan lebih keras lagi suara indahmu itu." Naruto melihat hasil kissmarknya kemudian kembali menambahkan lebih banyak lagi kissmark di leher jenjang Hinata. Hinata yang mendengar ucapan Naruto berusaha keras menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya sampai memerah. Naruto yang kesal karena Hinata tidak mengeluarkan desahannya mulai mengelus paha mulus Hinata. Hinata yang saat itu memakai rok mini sepanjang 17 cm dari pinggang membuat jalannya tangan Naruto lancar.

"Kau ternyata benar – benar nakal. Lihatlah Hime, bibirmu jadi merah begitu karena kau gigiti terus. Aku benar – benar ingin memakanmu kali ini." Naruto mengelus – ngelus paha Hinata membuat sang empu menahan setengah mati desahannya. Tangan Naruto hampir menyentuh bagian terintim milik Hinata, tiba – tiba…

Drrrtt..drttt…drrttt..

HP yang berada di saku celana Naruto bergetar. Naruto mendecih dan langsung mengangkat telponnya. Sedangkan Hinata mencoba merapikan kembali bajunya yang sempat berantakan tadi. Naruto berjalan keluar kamar dan itu memberi kesempatan bagi Hinata untuk keluar juga dari kamar laknat itu. Hinata kembali ke ruangannya tanpa mempedulikan Naruto.

.

#_#

.

"Ada apa Saku-hime?" tanya Naruto saat mengetahui sang penelpon adalah kekasihnya.

"Maaf ganggu Naruto. Aku hanya minta ijin untuk pindah tempat sama Sasuke-kun. Apa kamu—"

"Terserah sudah hime. Aku harus menyelesaikan beberapa laporanku dulu. Aku titip kamu ke teme yah. Nanti kalau dia macam – macam hime bilang aja ke aku. Sekarang aku harus menyelesaikan semuanya dulu. Bye Saku-hime. Sampaikan perkataan maafku pada teme dan Hinata yah." Potong Naruto.

"Baiklah Naruto. Ganbatte!"

pip~ bunyi berakhirnya panggilan Naruto dan Sakura. Segera setelah itu Naruto menuju ke ruang kerja pribadinya untuk menyelesaikan laporannya. Naruto baru teringat saat dia membaca e-mail yang masuk dari sekretarisnya sebelum kekasihnya menelpon dan mengganggu acaranya dengan Hinata. Ia hampir lupa bahwa tujuan utamanya ke ruangan ini adalah untuk menyelesaikan laporannya yang menggunung.

.

#_#

.

^_^ HinataP.O.V ^_^

Apa – apaan tuh anak. Tak kusangka seorang anak dari Namikaze Minato sekaligus pewaris tunggal Namikaze Corp memiliki otak mesum tingkat akut. Arrgghh benar – benar tuh anak bikin aku gila. Jangan – jangan dia menjadikan Sakura sebagai kekasihnya karena—. Tidak. Itu tidak mungkin. Tapi, kalau bicara kenyataan mungkin saja dia ingin mengambil keperawanan Sakura. Itu tidak boleh terjadi. Sebagai sahabat sejak kecilnya aku harus menyadarkan Sakura tentang otak mesum yang dimiliki si kepala jeruk itu. Aku harus pergi ke tempat Sakura sekarang juga dan membicarakan ini dari hati ke hati. *ciieelahh*

^_^ End HinataP.O.V ^_^

Hinata berjalan ke arah ruangan Sakura. Sedangkan di ruangan Sakura.

"Ngapain kamu kesini?" ujar Sasuke saat melihat Sakura menuju tempat duduknya.

"Ooh. Aku hanya rindu pada kekasihku. Apa tidak boleh?" tanya Sakura menggoda.

"Kekasihmu itu bukan aku melainkan dobe. Ada perlu apa?" Sasuke semakin penasaran dengan tingkah Sakura.

"Sasuke-kun. Kau jahat sekali sama aku. Bukannya tadi waktu di perpustakaan sudah menjadi sepasang kekasih?" tanya Sakura.

"Apa maksutmu? Jangan bilang kalau kau ingin menduakan dobe. Aku memamng mencintaimu Sakura, tapi tidak berarti aku menjadi orang ketiga dalam hubungan sahabatku dobe."

"Aku akan memutuskan Naruto tapi—" Sakura menggantung kalimatnya membuat Sasuke mengangkat alisnya.

"Tapi apa? Kau itu suka sekali sih buat aku penasaran." Ketus Sasuke.

"Sasuke-koi jangan marah. Aku janji akan menceritakan semuanya padamu. Tapi tidak sekarang. Aku ngantuk. Aku boleh kan duduk di sampingmu?" tanya Sakura dengan suaranya yang menggoda.

"Jangan menggodaku. Kalau kau mau tidur di sampingku silakan saja. Tapi, aku tidak jamin kau akan tidur nyenyak." Sakura mengangkat alisnya. Mengerti akan kebingungan jalan pikiran Sakura, Sasuke melanjutkan perkataannya. "Tentunya kau masih ingat kan dengan kejadian di perpustakaan tadi. Kalau kau meggodaku aku akan—" perkataan Sasuke terpotong saat bibirnya menyentuh bibir sang kekasih barunya.

"Apapun yang kau inginkan aku akan memberikannya padamu." Kata Sakura sambil melepaskan ciumannya.

"Walaupun aku meminta semua hal yang pertama bagimu juga melarangmu untuk tidak menyentuh laki – laki lain selain aku?" tanya Sasuke memastikan.

"Iya. Sebentar lagi aku akan mengakhiri hubungan dengan Naruto. Aku tidak mau dia salah paham. Aku menyayangi Naruto sebagai adikku sendiri, maka dari itu aku akan membuat Naruto bahagia dengan menemukan belahan jiwa lainnya. Aku ingin Naruto mengingat semuanya kembali dan—" Sasuke memotong perkataan Sasuke.

"Apa maksutmu membuat Naruto ingat kembali. Apa kamu kira dia Amnesia?"

"Iya. Sebagian dari dirinya telah hilang. Jadi Sasuke-koi, bantu aku membuat Naruto ingat kembali." Kata Sakura.

"Bagaimana caranya?"

"Aku janji akan menceritakan semuanya. Tapi, bagaimana—" perkataan Sakura terpotong oleh ciuman sekilas Sasuke.

"Kau janji akan menceritakan semuanya bukan? Kalau gitu mari kita lanjutkan hal yang tertunda tadi honey." Sasuke kebali mencium Sakura. Awalnya yang memang berasal dari nafsu, sekarang nafsu itu membakar tubuh keduanya. Sakura yang mulanya berdiri di samping Sasuke, sekarang berganti posisi menjadu duduk di pangkuan sang pacar. Ia mengalungkan kedua tangannya dileher Sasuke sehingga membuat jarak diantara mereka semakin tidak ada. Sasuke semakin dalam mencium Sakura dan mendapatkan respon dari sang pacar. Sasuke menjilat bibir bawah Sakura untuk dapat memasuki daerah mulut sang kekasih dan berada dengan organ tak bertulang milik sang kekasih. Mereka saling beradu kelincahan dalam permainan lidah. Tapi, bagaimana pun juga tenaga seorang cowok lebih besar daripada seorang cewek. Sakura meminta dihentikan ciuman itu dengan menggigit lidah Sasuke. Sasuke yang mengerti menghentikan ciuman itu dan Sakura menghirup udara sebanyak – banyaknya.

"Rasa cherry. Sama seperti namanya manis. Sakura jika memang kau mau membuktikan bahwa kau mencintaiku, lakukanlah dan jangan ditahan." Perintah Sasuke. Sakura yang masih mengambil udara hanya bisa menganggukkan kepala.

Sasuke kembali mencium Sakura membuat sang pemilik bibir membulatkan matanya tapi tak menolak. Sakura bahkan kembali membalas ciuman Sasuke. Tangan Sasuke yang mulanya diam sekarang mulai membelai setiap lekuk tubuh Sakura. Mulai dari perut ratanya sampai menuju ke kedua bukit kembar milik Sakura. Sasuke meremasnya dengan cukup keras membuat sang empu mengerang tertahan karena ciuman yang mereka lakukan.

"Lakukanlah Sakura!" perintah Sasuke. Sakura menempatkan diri agar dapat duduk dengan nyaman di pangkuan Sasuke. Dia juga memposisikan batang kemaluan Sasuke tepat berada di lorong miliknya. Setelah dirasanya cukup, Sakura mulai menggesek – gesekkan penis Sasuke dengan vaginanya. Sedangkan Sasuke masih meremas kedua payudara Sasuke. Tangannya mulai masuk ke dalam baju Sakura dan membuka kaitan branya lalu membuangnya ke lantai.

"aaahhh~hmm~sasshhh~sasshuukeehhh~" erangan Sakura tertahan oleh ciuman Sasuke.

"AAKHHH" pekikan terdengar, membuat kedua orang yang sedang dibakar nafsu itu menghentikan aktivitasnya dan melihat sang pelaku.

"Ka..ka..kamuu…" betapa terkejutnya Sakura melihat orang yang telah mengganggu aktivitasnya.

"Go..gomen..a..aku tidak sengaja Saku-chan." Ujar sang pelaku.

"Aku yang minta maaf Hinata karena telah membuat janji kita ternoda. Aku tidak bermaksud mempermainkannya Hinata, tapi—"

"heh! Maksutmu apa Saku-chan? Aku justru bersyukur ka—" perkataan sang pelaku yang ternyata sahabatnya sendiri terpotong oleh suatu tindakan dari sang bungsu Uchiha.

"Setidaknya pakai dulu bramu. Kau itu sekarang berbicara dengan seorang putri Hyuuga. Jadi, bersikap lebih sopan sedikit. Jangan membuat kecewa klan Uchiha." Ujar Sasuke sambil menyerahkan bra milik Sakura. Wajah kedua gadis di hadapannya yang memerah tak dihiraukannya.

"Kauu! Awas saja nanti!" ancam Sakura karena dipermalukan dihadapan sahabatnya sendiri.

"Aku tidak peduli. Aku mau tidur. Kalaupun nanti kamu mau membalas dendam, toh nanti kamu yang akan memohon untuk dipercepat temponya dan memasukimu lebih dalam." Ujar Sasuke acuh sambil berjalan ke arah kamar. Sakura yang mendengar jawaban sang kekasih seketika wajahnya semakin merah dan perempatan di dahinya muncul menandakan bahwa dia menahan amarah. Sedangkan sang putri kita sudah tahu kan yang terjadi, yup blushing.

"PAAAANNNTAT AYAAAAMM MEEESUUUUMMM" teriak Sakura. Sedangkan Sasuke yang berada di kamarnya hanya bisa tersenyum. Hinata yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa tersenyum. Sakura yang menyadari bahwa Hinata tersenyum juga ikut tersenyum.

"Hee! Kenapa kau tersenyum?" tanya Hinata.

"Karena putri Hyuuga yang seorang pendiam dan dingin sekarang bisa tersenyum. Siapakah orang yang membuat tuan putri ini berubah? Apakah si playboy itu?" ujar Sakura menggodanya.

"Jangan sok tahu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah tertarik padanya." Jawab Hinata ketus.

"Hohohoho jangan bilang gitu. Kata mulut dengan hati itu beda apalagi saat Kami-sama sudah menentukan takdirnya." Sakura masih saja menggoda Hinata. Hinata hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala.

"Hei! Kau mau kemana?" tanya Sakura saat melihat Hinata akan keluar dari ruangan tersebut.

"Mau tidur. Maaf sudah menggangu waktumu dengannya." Ucap Hinata memberi penekanan diakhir pembicaraannya.

"Hei! Jangan dingin seperti itu. Aku—"

"Setidaknya masalahmu dengan Naruto segera diselesaikan. Setelah itu baru aku merestui bersama Sasuke-kun."

"Bahkan kau menyebut Naruto dengan namanya. Tidak seperti biasanya." Sakura kembali menggoda Hinata.

"Terserah." Setelah itu Hinata segera keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan perkataan sahabatnya.

"Selalu saja seperti itu. Kau tidak pernah berubah Hina-chan." Senyum Sakura terkembang. Lalu ia pergi menuju ruangannya sendiri setelah menerima sms dari Naruto untuk kembali ke kamar mereka. Naruto dan Sakura satu kamar tapi beda ranjang. Naruto sangat menghargai perempuan. Bukan hanya karena hal itu, tapi kerana dia juga menyayangi ibunya.

.

#_#

.

Naruto meletakkan lembar kerjanya begitu saja. Dia sudah selesai menyelesaikan semua laporan, sekarang yang dia pikirkan hanya ingin bersama Sakura. Maka dari itu, beberapa menit yang lalu ia mengirimi Sakura pesan untuk kembali ke ruangan semula.

"Ada apa Naruto?" Sakura yang melihat Naruto memasuki ruangannya langsung bertanya.

"Tidak. Aku hanya rindu padamu."

"Kau ini. Aku sekarang harus ke kamar Sasuke untuk mengerjakan tugas sekolah." Ujar Sakura.

"Tugas? Setahuku tidak ada tugas."

"Eh..emm..i..itu.. tugas kelompok tambahanku sama Sasuke-kun." Dusta Sakura.

"Kalau ya sudah kamu sekarang kerjakan tugasnya sampai selesai. Sekitar sejam lagi kita nyampek. Sebelum tiba di villaku, kita akan menginap dulu di hotel. Tolong sampaikan hal ini pada Sasuke dan aku akan menyampaikannya pada Hinata."

"Wakatta. Kalau gitu aku permisi dulu. Oya Naruto, sebaiknya kamu temani Hinata saja. Bukannya kamu disuruh menjaganya?"

"Tapi—" ujar Naruto ragu.

"Gak papa kok. Aku sebagai sahabatnya juga menitipkan Hinata." Sakura menatap wajah Naruto dan melanjutkan. "Aku tidak akan cemburu. Aku percaya padamu."

"Kalau begitu, aku juga akan menitipkan Saku-chan pada teme, walaupun aku cemburu."

"Naruto, kamu percaya kan padaku?" Sakura mendekatkan ke arah Naruto dan membelai kedua pipinya untuk meyakinkannya.

"Baiklah. Nanti setelah kita sampai di hotel, aku akan mengantarkanmu ke teme."

"Arigatou Naruto. Arigatou sudah percaya padaku."

.

.

#_#

.

.

%TBC%

Maaf sudah membuat para readers lama menunggu. Ini lemonnya sudah keluar, tapi masih belum hard. Bagi yang review, terima kaih sudah memberikan kritik dan flamenya. Hana sayang kalian semua *peluk readers satu*

Buat readers yang bingung dengan sikap Naruto terhadap Hinata dan Sakura nanti hana akan jelaskan kok. Silakan ikuti chapter selanjutnya.

See you ^_^

R

E

V

I

E

W