Kami berbeda.

Tentu saja, kami berdua sangat tahu akan hal itu. Orang luar tidak perlu memberi tahu kami.

Bagaikan langit dan bumi, perbedaan di antara kami terlampau bertolak belakang.

Biarkan kami yang mengatasinya. Ini hidup kami, tidak perlu campur tangan orang lain. Hanya aku dan dia yang memiliki perbedaan ini lah yang bisa.

Karena kami memiliki satu hal berharga yang akan menutup semua perbedaan itu.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Air Mata Bebek & Kira Desuke

.

Sasuke POV version

.

.

.

R O M A N C E

.

.

.

Risk

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dengan kata lain sudah memasuki pertengahan waktu untuk para murid seumuran denganku menuntut ilmu. Aku menghela napas untuk yang ke sekian kalinya. Kedua bola mata milikku yang berwarna onyx enggan berpaling dari jendela yang menunjukkan pemandangan tepat di samping tempat dudukku.

Bel tanda istirahat kedua sudah dibunyikan. Anak-anak langsung berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing, ada yang pergi ke kantin, namun ada juga yang tetap di dalam kelas—entah untuk makan bekal atau hanya sekedar ngobrol dengan teman mereka masing-masing. Aku tetap dalam posisiku sampai akhirnya—

"MINNA-SAN!"

—kedua mataku tertuju padanya.

Aku menoleh begitu mendengar suara yang sangat kukenal. Dalam keadaan yang sepenuhnya sadar, aku tahu bahwa kedua mataku ini tidak bisa berpaling darinya. Aku sendiri sampai sekarang tidak tahu alasannya. Alasan mengapa kedua mataku selalu menatapnya dan juga alasan mengapa...

...aku meminta dia menjadi kekasihku.

Kejadiannya tepat beberapa hari yang lalu. Saat dalam perjalanan pulang, dia yang biasanya bersama teman-temannya waktu itu terlihat berjalan sendiri. Walau heran, aku tidak menunjukkan ekspresiku itu dan tetap memasang ekspresi dinginku. Kami berpapasan. Dan saat kedua bola mata kami bertemu, langkah kami langsung terhenti.

Aku tidak pernah berbicara dengannya. Jangankan dia, aku hampir tidak pernah berbicara dengan siapapun di sekolah—hanya seperlunya saja. Mungkin karena itulah, aku tidak mempunyai teman yang bisa kupercaya.

Waktu senggang di sekolah kuhabiskan untuk membaca buku-buku penuntun untukku memegang perusahaan yang kelak akan ayah berikan padaku.

Gadis yang kukenal bernama Haruno Sakura itu tersenyum kaku dan menatapku takut-takut, "Err, Konnichiwa... Sasuke-kun?" tanyanya. Aku diam tidak menjawab, namun mataku masih tetap menatap kedua hijau emerald miliknya dalam-dalam. Sepertinya hal itu membuatnya semakin gugup, "A-Ah, gomen! Aku—"

"...Hei." Dia tercekat mendengar suara yang akhirnya kukeluarkan setelah lama terdiam. Sakura yang tadinya akan berbalik dan meninggalkanku menghentikan gerakannya dan kembali menungguku berbicara. Aku melirik ke ujung kiri mataku, seolah berpikir apa yang ingin kukatakan padanya. Dan semuanya berlalu begitu cepat, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.

"Kau mau menjadi kekasihku?"

Dia terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. Setelah beberapa detik, aku sendiri juga kaget begitu menyadari apa yang baru saja tadi kuucapkan. Tanganku bergerak menyentuh bibirku sendiri. Kedua alisku mengerut bingung. Kenapa aku bertanya seperti itu? Berpikir logis saja, aku dan dia hampir tidak pernah berbicara satu sama lain. Bisa dibilang saat ini adalah yang pertama kalinya. Dan aku mengatakan hal yang bisa dibilang sedikit tabu apalagi untuk seorang gadis.

Mendadak jantungku berdetak dua kali lebih cepat, tangan kiriku bergerak untuk menyentuh dadaku sementara tangan kananku masih menutup bibirku. Mataku tak berani menatapnya. Sesekali kulirik, dia juga sama gelisahnya denganku—bahkan lebih parah. Wajahnya sudah sepenuhnya memerah. Melihat itu, aku hanya bisa berharap semoga wajahku tidak seperti wajahnya. Karena menurutku itu akan sangat memalukan.

"Bo-Boleh." Heh? Apa tadi yang kudengar? Aku menoleh dan kembali menatapnya yang tengah memainkan ujung kemeja sekolahnya. Dia menyadari tatapanku, gadis berambut soft pink tersebut menengadahkan kepalanya dan kembali tersenyum kaku. Aku menatapnya bingung. Walau aku ingin bertanya mengapa, tetap saja suaraku enggan untuk keluar.

Wajah Sakura semakin memerah ketika aku tidak menanggapi jawabannya, "A-Anu... Sasuke-kun. Aku ada les, jadi... aku duluan ya?" tanyanya pelan. Aku mengangguk. Dia tertawa kecil, kemudian dia berlari menghilang dari pandanganku.

Kedua mataku masih tidak berpaling dari tempatnya menghilang. Saat itu, ada rasa aneh yang menyelinap di dadaku. Aku masih belum tahu apa itu sampai sekarang. Tapi, satu hal yang pasti. Rasa aneh itu mengukir senyum tipis di wajahku.

.

.

Sampai saat ini, masih belum ada yang tahu hubungan antara kami berdua. Aku dan dia memang tidak berniat untuk mengumbar-umbarnya di muka umum. Itu berlebihan dan jujur saja menurutku pribadi, itu menjijikkan. Tapi, sama seperti sebelumnya, sejak pernyataan itu kami belum berbicara lagi satu sama lain.

Sejak tadi aku menatapnya, akhirnya secara kebetulan kedua mata kami bertemu sekarang. Dalam jarak sejauh ini, rasanya mustahil untuk saling menyapa. Aku berada di tempat dudukku yang terletak di pojok, sementara dia berada di tengah dan lagi dia sedang dikelilingi teman-temannya.

Tapi tidak mungkin juga kami saling membuang muka. Sampai kemudian, Sakura tersenyum lebar padaku. Aku tertegun dan sedikit bingung dengan apa aku harus membalasnya, tapi akhirnya aku memilih membalasnya dengan senyum tipis dan anggukan.

Aku masih bertanya-tanya mengapa dia mau menerimaku waktu itu. Kakak pernah memberitahuku, biasanya seorang gadis jika tidak diperhatikan laki-laki maka dia akan bosan dan memutuskan hubungannya dengan lelaki tersebut. Karena itu, apa Sakura tidak bosan denganku walau aku tidak pernah menunjukkan perhatian sampai sekarang?

Selain itu...

Setiap aku melihatnya, dia selalu berada di tengah kelas. Sakura selalu terlihat ceria kapanpun dan dimanapun. Semua orang menyukainya dan ingin berteman dengannya. Menurut orang-orang, selain pintar, dia juga tidak sombong dan suka menolong orang lain. Auranya hangat seperti matahari.

Sedangkan aku?

Aku pendiam dan bisa dibilang sebagai anti-social. Aku selalu menunjukkan ekspresiku yang dingin dan datar. Kadang orang-orang takut mendekatiku karena auraku yang dingin seperti bulan. Aku sendiri selalu mengasingkan diri dengan duduk di pojokan atau tempat yang paling terpencil agar tidak ada yang menggangguku.

Kami seperti bulan dan matahari.

Karena itu, Sakura...

...kenapa kau mau menerimaku?

.

.

.

To Be Continued

.

.

.