~SELAMAT MEMBACA~

.

.

Konoha Senior High School masih seperti biasa. Semua penghuninya menjalani aktivitas seperti biasa. Namun sebenarnya ada sesuatu yang kurang terasa bagi siswa kelas dua. Beberapa hari ini mereka tak melihat sang sensei berwajah manis itu. Tentu saja semua bertanya-tanya akan keberadaannya.

"Ini hari ketiga Namikaze-sensei tak masuk kelas. Aku dengar di kelas-kelas sebelas yang lain dia juga tidak masuk." Sebuah suara gundah terdengar dari seorang Yamanaka Ino. Saat ini adalah jam istirahat kedua. Sebagian besar penghuni kelas berhamburan entah kemana.

"Hu'um... Padahal di baru mengajar dua minggu sudah berani-beraninya . Apa sih yang ada di pikirannya?" sambung Sakura sinis.

"Katakan saja kau rindu padanya, jidat!" goda Ino sambil menahan dagunya dengan tangan kanan yang tertumpu di meja.

"Lah apa bedanya denganmu?" sembur Sakura tak terima dituduh.

"Oo~ kau mengakuinya!" Kali ini Ino tersenyum aneh.

Blush, wajah Sakura memerah.

"Ah, tenanglah kalian berdua... " rengut Tenten. "Aku sangat merindukan Namikaze sensei~~. Kemana dia? Kenapa tak masuk tanpa kabar?" keluh gadis bercepol ini gundah.

"Hinata, Sasuke bahkan Gaara di pendiam itu juga tak datang. Aku kangen Hinata~~," kali ini Ino merengek. "Berkali-kali aku meng-email dia, tapi dia tak membalas."

"Iya.. aneh! Mengapa bisa berbarengan begitu?" Kening Sakura berkerut tanda memikirkan sesuatu. "Kalau Sasuke jelas masih sakit. Bahkan kakaknya yang ganteng itu datang ke sekolah. Tapi kalau Hinata sepertinya dia baik-baik saja. Bahkan terakhir dua hari yang lalu masih ke perpustakaan."

"Hoi Neji, Hinata pergi kemana sih?" tanya Ino sambil memutar bangkunya kearah belakang. Neji yang duduk dua banjar di belakangnya mengangkat wajah.

"Hinata-sama sedang pergi mengurusi urusan klan keluar Konoha," jawab Neji singkat lalu menunduk lagi menatap buku bacaanya.

Ino mendengus. "Apa dia sebegitu sibuknya sampai-sampai tak bisa mengangkat membalas email?"

Neji hanya mengangkat bahu tanpa memperlihatkan wajahnya.

Ino langsung berwajah suram melihat jawaban Neji. Ia langsung memutar bangku dan menelungkupkan wajahnya di meja belajarnya.

"Mengapa semua orang jadi serba misterius sih," rengut Sakura. "Ada yang mau ke kantin?" Sakura berjalan ke arah pintu kelas.

"Yuk lah... Daripada galau terus di kelas." Tenten langsung berdiri dan ikut berjalan ke depan pintu.

"Ino bunta, kau tak ikut?" tanya Sakura pada gadis yang kini berkutat dengan smartphone-nya itu.

"Aku, tak ikut. Mau di kelas saja," jawab putri tunggal putri Yamanaka itu.

"Ya sudah. Kalau begitu kita pergi ya!"

"Umm."

.


.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story and Written by Chōte'isha Yori

[ | Genre : Romance, fantasy, adventure | Chapter 9 "Cinta itu" | ]

.


.

"Shikamaru, kau baik-baik saja?" Suara Ino memecah kesunyian. Setelah Sakura pergi hanya ia, Neji dan Shikamaru saja yang ada di kelas. Abaikan Neji. Dia terlalu sibuk dengan dunianya. Iris biru itu menatap pemuda yang telah berteman dengannya sejak sekolah dasar. Ada yang aneh. Memang biasanya pemuda Nara selalu tidur di kelas namun ia tak pernah sediam ini. Ino berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju bangku Shikamaru yang tepat disebelahnya.

"Emm," erang Shikamaru malas tak mengubah posisinya

"Kau kenapa?" Ino menggoyang badan Shikamaru yang tidur menghadap jendela dalam. Jemari Ino mendapati suhu tubuh yang tak normal di tubuh Shikamaru. Irisnya berpindah ke pakaian Shikamaru yang nyaris basah oleh keringat. "Kau sakit? Neji!" teriak Ino panik.

"Berisik sekali," gumam Shikamaru pelan.

Neji menaikkan kepalanya. "Ada apa, Yamanaka?"

"Bantu aku membawa Shikamaru ke ruang kesehatan!" Ino dengan sigap meraba dahi sang ketua kelas. Panas. Pantas saja Shikamaru sejak tadi tak bergerak sedikit pun sendari tadi. Ternyata dia sakit. "Dan kau Shikamaru, kalau sakit bilang. Jangan diam saja."

"Ya..," jawab Shikamaru lemah. Shikamaru sejak dua hari yang lalu, tak lama setelah ia berbicara dengan kedua orang tuanya, telah merasakan ada yang aneh pada tubuhnya dan entah mengapa tubuhnya semakin melemah. Di rumah, ia nyaris tak melakukan apa-apa selain berbaring di tempat tidur kesayangannya. Yoshino, ibunya, bahkan sudah melarangnya untuk berangkat ke sekolah. Namun tak mendengar kabar dari Sasuke ketika kembali ke rumah ditambah ternyata ia juga tak masuk ke sekolah di hari berikutnya tak dipungkiri ada sedikit rasa cemas menyusup di hatinya.

.'

.'

.'

Neji menghampiri Shikamaru dan langsung memapahnya di bantu Ino ke ruang kesehatan.

"Shizune-sensei! Sensei ada di dalam?" teriak Ino lagi begitu sampai di depan ruang kesehatan. Pintu terbuka.

"Yamanaka? Ada apa dengan ketua kelasmu ini?"

"Dia sakit. Badannya panas sekali, sensei." jelas Ino panik

"Cepat bawa ke dalam. Tidurkan dia disana, Hyuuga-san. Yamanaka, kau tolong ambil termometerku di lemari peralatan yang ada di belakang meja kerjaku."

Ino dan Neji menganguk serempak. Ino langsung mencari termometer dan Neji memapah Shikamaru ke tempat tidur. Sedang Shizune langsung mencari kompres demam dan obat.

"Sudah sejak kapan di seperti ini?" tanya Shizune ambigu, entah pada siapa. Begitu ia mendapatkan termometer, tabung kaca itu langsung diselipkan di ketiak Shikamaru. Beberapa saat kemudian ia mencabut termometer, mengangkatnya ke udara. Shizune menggeleng sambil menggerutu tak jelas. Setelah itu dengan cekatan ia menempel kompres demam di dahi Shikamaru. Shikamaru yang masih menutup matanya sesekali menggumam atau mengepal erat tangannya. Keringatnya bak hujan, mengucur deras. Kondisinya sangat memprihatinkan.

"Aku tidak tahu pastinya, tapi dari tadi pagi dia tak bergerak sedikit pun di mejanya. Aku..." ucapan Ino terpotong.

"Kemarin sensei. Sepertinya setelah Uchiha-san sakit, sehari setelahnya Nara-san juga terlihat tak enak badan," jelas Neji singkat. Ino langsung menatap Neji dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin pemuda yang sehari-hari terlihat autis dengan buku itu lebih menyadari keadaan Shikamaru dari pada dirinya sendiri, teman yang duduk disebelahnya.

Neji yang menyadari tatapan Ino padanya memilih tak membalas tatapan gadis itu dengan memfokuskan matanya pada Shikamaru yang menggeliat tak nyaman. Bagaimana pun ia tak terlalu suka terlalu mencampurkan diri dengan lingkungan sekolah.

"Yamanaka, tolong kau segera ke ruang guru untuk menelpon keluarga Nara. Shikamaru sangat tidak mungkin untuk melanjutkan pelajaran hari ini. Sekalian ke kantin untuk membeli bubur dan roti untuk pengganjal obat. Bilang pada penjaga kantin itu untukku," ucap Shizune pada Ino dengan menekankan kata 'untukku'. Tentu ia tak mau siswinya membayar makanan yang dipesan olehnya. Ino mengangguk dan segera keluar dari ruang kesehatan. "Dan kau Hyuuga..." lanjut Shizune berhenti sejenak.

Neji beralih menatap Shizune.

"...buka pakaian Shikamaru. Kita butuh memberinya pertolongan pertama." Pupil lavender Neji membulat mendengarkan permintaan sang sensei, namun tangannya bergerak cepat membuka perlahan baju kemeja Shikamaru. Agak sedikit sulit memang. Dengan posisi Shikamaru yang sama sekali tak mampu menopang tubuhnya, membuka baju sekaligus menopang tubuh pemuda yang berat tubuhnya lebih berat beberapa kilo darinya membuat pemuda Hyuuga ini agak kesulitan. Menguasai ilmu bela diri turub temurun klannya tak mesti membuatnya kekar dan berotot.

"Ketua, kau menyulitkan di saat sakit," keluh Neji setelah melepas atribut atasan Shikamaru. Meninggalkan tubuh toppless yang mampu membuat wanita kagum dengan keindahan tubuhnya. Neji bahkan heran bagaimana orang yang menjadi ketua kelasnya ini memiliki tubuh sebagus itu dengan hanya menyibukkan waktunya duduk mengikuti pertandingan menguras otak.

"Mendokusei Hyuuga," umpat Shikamaru diantara ketidaksadarannya.

"Ini air dingin dan handuk. Bantu aku mengelap tubuhnya." Shizune menyodorkan panci stainlesstil berdiameter dua puluh sentimeter berisi air dan handuk putih yang terlipat. Tanpa ragu Neji menerima keduanya dan langsung mencelupkan handuk, meremas dan mengelapkannya ke permukaan tubuh Shikamaru. Shizune pun melakukan hal yang sama. Kegiatan itu terhenti ketika mereka akan mengelap bagian punggung pemuda Nara itu. Hampir sebahagian besar punggungnya terdapat bercak-bercak biru keunguan. Sukses membuat Shizune dan Neji bertanya-tanya.

.


.

Sensei, onegai

.


.

Sasuke terbaring di tempat tidurnya. Setelah ia dibawa pulang ke rumah jejak itu demam tinggi berkali-kali datang. Hal itu membuat Itachi mau tak mau meninggalkan kuliahnya sementara waktu. Apa lagi hari ini suhu tubuh Sasuke tak henti-hentinya bertambah.

"Aniki, panas..." keluh Sasuke. Matanya terpejam bergerak-gerak gelisah. Tangannya mencengkram kuat selimut. Sakit membuat Sasuke kehilangan dirinya. Tak hanya kali ini ia memanggil Itachi. Ini terjadi sejak malam dua hari yang lalu.

Itachi menghela nafas berat. Bingung? Tentu saja. Setelah pertolongan mangkyou sharingan seharusnya semua akan kembali baik-baik saja. Namun setelah satu setengah jam ia meninggalkan kamar Sasuke malam dua hari yang lalu, pelayan rumah datang mengetuk panik pintu kamarnya. Itachi masih ingat bagaimana wajah cemas bercampur khawatir para pelayan, belum pupus dari ingatannya sang adik laki-laki yang biasanya diam, berteriak menderita sambil menekan kepalanya dan lebih mencabik jantungnya, Sasuke meracau sesuatu yang seharusnya tak ia ingat. Peristiwa tiga tahun yang lalu.

Tak seperti dua hari yang lalu, tubuh Sasuke sama sekali tak mengeluarkan hawa panas yang memelehkan. Hanya seperti demam namun sepertinya sangat menyiksa putra bunggu Uchiha.

"Yang mana, otouto?" tanya Itachi sabar.

"Semuanya." Satu kata yang membuat Itachi bertambah bingung. Segera ia memanggil pelayan dengan menggunakan telepon genggamnya.

"Bawakan aku air dingin dalan panci kecil. Jangan lupa handuk kecil," titah Itachi lalu menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari sang pelayan.

Tok..tok..tok..

Suara ketukan pintu menyadarkan Itachi dari pikirannya. "Masuk." Seorang pelayan wanita dengan troli berdesain sama dengan pintu masuk kamar Sasuke masuk. Diatasnya sepanci air dan beberapa lembar handuk cil tertata rapi.

"Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya maid rumah itu.

"Tidak."

Maid itu segera meninggalkan kamar Sasuke.

Segera setelah itu Itachi langsung mencelupkan dua handuk kecil ke panci. Setelah itu perlahan ia membuka pakaian adik semata wayangnya. Sudah bisa ditebak. Kejadian berikutnya adalah Itachi yang mengusap seluruh tubuh Sasuke memakai kedua handuk itu bergantian. Gerakan tangannya terhenti saat iris onyxnya menemukan bercak-bercak biru nyaris mengungu di punggung Sasuke. Setelah Sasuke kembali tenang Itachi langsung memakaikan pakaian Sasuke, lalu menutupi tubuh adik semata wayangnya dengan selimut.

Itachi berjalan tenang menuju meja belajar Sasuke. Setelah duduk dan menumpukan siku tangannya ke meja ia pun terdiam lama. Otaknya berfikir keras memikirkan apa penyebab sakitnya Sasuke. Namun dipikirkan seperti apapun ia tak menemukan jawabannya karena ialah yang menjauh dari dang adik sejak kejadian tiga tahun yang lalu. Namun satu hal yang pasti, di tubuh Sasuke tak pernah ada tanda lahir berwarna biru keunguan seperti itu. Mungkinkah ini pertanda sesuatu?

.


.

Sensei, onegai

.


.

Naruto bangkit dari tempat tidurnya. Sungguh ia tak menyangka ini malam adalah malam yang paling berat dalam hidupnya. Rasanya ia tak ingin menatap dunia. Pemuda bersurai kuning ini lalu berjalan menuju beranda. Tak akan banyak yang hadir dalam pertemuan itu memang, namun orang-orang yang hadir bukan orang sembarangan. Uchiha Fugaku dan Nara Shikaku, dua orang tua dari dua orang penting dalam hidupnya. Bagaimana respon mereka bila melihat dirinya?

.'

.'

.'

"Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa kalian dikumpulkan dalam ruangan ini. Sebahagian diantara kalian pasti sudah menebak apa yang dibicarakan dan aku yakin sebahagian yang lain ingin memastikan apa yang terjadi." Tsunade memulai pertemuan penting itu tanpa salam pembuka. Wajah-wajah serius yang hadir menambah buruk situasi. Tidak ada suara kecuali desir angin.

"Segel pertama telah terbuka." Sebuah pernyataan langsung yang sebenarnya tak terlalu mengejutkan namun cukup membuat para petinggi Dunia Atas memikir ulang apa yang harus mereka lakukan. Dengan pernyaataan Tsunade, berarti pasti sudah kabar desas-desus yang menyebar diantara klan-klan penghuni Dunia Atas sudah pasti benar adanya.

"Apa ini berhubungan dengan anakku, Hiruzen-sama." Fugaku angkat bicara. Semua mata tertuju padanya. "Kudengar anak tunggal keluarga Nara juga merasakannya." Frontal.

Shikaku yang duduk dihadapan Fugaku mengangkat kepalanya. Tidak marah dan tidak juga menggeram. Hanya menatap lurus ke depan menatap Fugaku, namun semua orang disana tahu otak kepala keluarga Nara sekaligus penasehat Dunia Atas itu berpikir keras.

"Aku memanggil kembali orang utama kita. Uzumaki naruto."

Tang...

Wanita berkimono pendek berambut hitam sepinggul menggeprak meja. "Elf itu?" suara penuh kemarahan menggema di seluruh ruangan.

Tang... Suara yang kalah kasar menggema di ruangan itu.

"Anda tak harus menghinanya seperti itu pada sepupuku, Terumi Mei-sama. Dia hanya melakukan sedikit kesalahan dan kau menimpakan semuanya padanya! " Suara Karin terdengar lebih keras. Ia juga ikut memukul meja keras, bahkan ia juga berdiri.

"Jiwa muda memang semangat tapi setidaknya bisakakah kalian meredam emosi? Ini tak hanya sekedar ajang saling menyalahkan tapi juga mencari solusi." Suara si tua Oonoki terdengar. Pria yang di seluruh kepala dipenuhi uban ini menatap Mei dan Karin bergantian. Karin dan Mei duduk kembali, namun Mei menunjukkan sifat frontal. Membuang muka.

"Jadi mana Uzumaki Naruto itu Hiruzen-sama?" Orang yang tak disangka-sangka angkat bicara. "Dia merotasikan chakra Hinata dan membuat fairy-nya bangkit, Bahkan ia juga membawa Hinata ke Dunia Atas tanpa sepengetahuan saya," sambunganya lagi.

Yang berbicara adalah Hyuuga Hiashi. Dengan kimono khas klan Hyuuga berwarna ungu seiras dengan warna mata anggota keluarga klan Hyuuga.

Semua orang tertegun. Apa benar begitu? Elf dapat melakukan itu semua? Biasanya yang mampu merotasikan chakra hanyalah ketua klan masing-masing dan semua pun tahu Hinata telah gagal dirotasikan oleh Hiashi. Dan kini mereka mendapat kabar putri sulung Hyuuga Hiashi berhasil dirotasikan oleh elf. Bukankah Naruto bukan keturunan murni klan Uzumaki? Bahkan Ayahnya hanyalah seorang manusia biasa.

"Ehm." Tsunade mengembalikan perhatian peserta pertemuan ini. "Seperti yang Hyuuga Hiashi katakan, Naruto memang telah berada di Dunia Atas. Tapi..."

Brakk!

Suara pintu terhempas ke dinding memutus ucapan Tsunade.

"Maaf aku terlambat." Itu Naruto. Nafasnya tersengal-sengal.

Semua mata tertuju pada anak tunggal pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina itu.

"Kemana saja kau, Naruto," ucap Tsunade kesal. Ia melempar pandangan menusuk pada Naruto.

Iris shappire itu mengerjap beberapa kali sebelum menelan ludah pahit. Matanya tanpa sengaja bertabrakan dengan pemilik iris onyx dan iris kuaci yang sama dengan kedua putra mereka. Mata yang menatap dengan penuh tanda tanya. Seolah menuntut pertanggungjawaban.

"Duduklah." Tsunade akhirnya hanya menjukkan jari telunjukknya pada kursi yang berada di hadapannya. Meja berbentuk oval itu secara tak langsung menjadikan tempat duduk itu fokus dalam pertemuan itu. Naruto melangkahkan kakinya perlahan, berharap ia tak pernah sampai ke kursi itu.

"Ada banyak pertanyaan untukmu, bocah," Tsunade membuka suara. Ruangan ini sudah terlampau kaku sebelum kedatangan Naruto dan semakin memburuk sejak kedatangan pemuda yang menyandang dua marga dalam waktu yang besamaan itu.

.


.

Sensei, onegai

.


.

Naruto menggeretakkan gigi untuk sekian kalinya.

"Saya memang merotasikan Hinata dan itu pilihan saya. Saya dibebaskan oleh Hiruzen-sama untuk memilih kesatria baru."

"Tanpa meminta izin padaku?" Ckk. Andai Hiashi bukan ketua klan Hyuuga, dari tadi ia telah berteriak pada pria yang berkepala empat itu.

"Menunggu anda bukan pilihan tepat bagiku, lagi pula anda anda tidak mampu bukan?" Nada suara Naruto jelas datar namun jelas sekali ucapannya itu merendahkan sang ketua klan Hyuuga.

Udara di ruangan itu sedetik saja terasa semakin padat.

"Gaara telah lama mengintai Hinata. Anak gadis anda memiliki potensial yang lebih besar dari sepupunya, Neji atau adiknya Hanabi." Naruto menjelaskan dengan tenang. Setidaknya terlihat tenang. Dia bukannya takut terhadap ketua klan Hyuuga tapi pandangan dua pasang mata yang menghujam ketat padanya membuat gerakannya seakan tertahan.

Hiashi memejamkan mata. "Dimana Hinata sekarang?"

"Ternyata anda masih mempedulikan Hinata? Saya kira anda bersyukur dia menghilang." Naruto menyerengai sinis. "She is only abadon girl. Bukankah klan Hyuuga membuangnya? Tentu tak secara terang-terangan semenjak dia Hairess merupakan orang yang dianggap penting dan anda pasti malu Dunia Atas mengetahui itu. Sepertinya kabar Neji akan menjadi pengganti Hinata akan menjadi berita yang paling menghebohkan Dunia Atas."

Hiashi membuka mata cepat dengan pembuluh-pembuluh yang mencuat di sekitar bola mata. Byakugan, teknik rahasia klan Hyuuga yang mampu mengambil alih pengendalian darah lawannya. Teknik yang mengerikan. Naruro merasakan lehernya kaku sejenak sebelum ia mampu mengambil alih kembali tubuhnya. Alis Hiashi terangkat, dalam beberapa detik Naruto mampu melepaskan dirinya. Tiga tahun menjalani hukuman di Bumi membuat ia semakin berkembang sepertinya

"Hentikan Hiashi, kau memperburuk keadaan. Gunakan kepala dinginmu sebelum bertindak." Shikaku angkat bicara. "Kita butuh dia disini untuk menjelaskan... -dan membicarakan solusi." Shikaku jelas tidak yakin dengan ucapannya yang terakhir. Namun dengan situasi yang seperti ini jika tidak mempu mengendalikan emosi, siapa pun akan mudah tersulut pertikaian. Tentu saja itu sama sekali tak menyelesaikan masalah.

Fugaku yang dari tadi memperhatikan pun menggerakkan tangannya untuk mengangkat gelas berisi teh yang disediakan sejak awal kedatangannya. "Kondisi putraku memburuk dua hari yang lalu. Klan kami bukan pengendali segel, tapi mankyou sharingan cukup efisien untuk memblok laju terbukanya segel."

Peserta pertemuan serentak berbisik-bisik.

"Di waktu yang sama dengan putramu, malam sebelum Shikamaru berangkat sekolah, Yoshino menemukan sisa-sisa koeda mengering di kamar anak itu. Sepulang sekolah Shikamaru menceritakan anakmu sakit di kelas. Jujur aku baru tahu dia berteman dengan putramu. Ini diluar pengawasanku." Kali ini Shikaku juga ikut angkat bicara.

Tidak ada yang bicara untuk selang waktu beberapa lama.

"Jadi anak muda, apa kau menuruni kemampuan Uzumaki Kushina?" Oonoki memecah keheningan.

"Elf ini? Aku tak yakin!" desis Mei mengibas kipasnya angkuh.

"Tolong anda jangan membawa alasan pribadi anda dalam forum ini, Mei-sama." Karin menekan kata 'sama'.

Naruto menggeleng. "Tidak, saya hanya elf biasa," jawab Naruto menunduk.

Semua orang menahan nafas. Tsunade bahkan menggeram pelan.

"Hiruzen-sama!" Pria berambut klimis seperti jamur muncul di balik pintu. "Penyerangan di area segel!"

"Apa? Siapa yang melakukannya!"

"Mereka..." ucapan pria pitu terhenti ketika melihat dua orang yang memiliki hubungan erat dengan kedua pelaku. "...Uchiha Sasuke dan Nara Shikamaru."

Tsunade membanting meja menahan amarah. "Maito Gai, happyō darurat."

"Baik," pria bernama Gai langsung menghilang menggunakan idᾱ. Ia tentu saja tak bakal mempedulikan peraturan dilarang menggunakan idᾱ dalam istana bila suasana genting seperti ini.

"Pertemuan ditunda, semua menuju tempat penyegelan." Peserta pertemuan segera melakukan idᾱ.

.

...kecuali beberapa orang.

.

"Lihat hasil perbuatanmu elf!" ucap Mei sinis. "Kalau saja kau tak memaksakan ego rencana bodohmu dan membiarkan kedua orang itu mati, semua orang tidak akan begini."

Naruto ingin melakukan idᾱ terhenti pergerakannya. Tiba-tiba lututnya lemah bahkan untuk sekedar berdiri. Ia terduduk di lantai dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"Mei-sama!" teriak Karin. Namun ia hanya mendapatkan angin kosong. Segera ke tempat Naruto menggamit tangan sepupunya.

"Kau tak akan menyerah hanya karena ini kan, Naruto? Setelah semua usaha yang telah kau perbuat. Setelah segala pengorbanan yang telah kau berikan." Karin memeluk satu-satunya yang bisa ia anggap keluarga.

"Karin," bisik Naruto pelan.

"Waktu tak menunggu kita Naruto. Ini saatnya pembuktian pada mereka! Buktikan pada mereka bahwa kau mampu dan buat mereka tak bersuara dengan kemampuanmu!"

Setetes air bening mengalir di sudut mata pemuda beriris shappire itu. Karin merasakan anggukan kepala. Dalam keadaan berpegangan tangan kedua Uzumaki melakukan idᾱ.

.


.

Sensei, onegai

.


.

Mata shappire itu membulat ketika menyaksikan pemandangan dihadapannya. Banyak pasukan Dunia atas yang bertarung dengan makhluk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Naruto memindahkan penglihatannya ke tempat lain. Matanya terpaku pada garis-garis segel terputus. Di atas segel kepala makhluk yang meyerupai ular memyembul. Binatang yang sama dengan yang muncul tiga tahun yang lalu, ular berkepala lima. Tak jauh dari sana ia melihat Yuuhi Kurenai sedang merapalkan mantra dan jutsu. Oonoki membantu dengan mengandalkan kekuatan tanahnya untuk menekan makhluk itu ke tanah, tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Tsunade. Tak jauh dari situ ia lagi-lagi ia harus terkejut ada Sasuke dan Shikamaru. Sasuke sedang bertarung dengan Fugaku dan Mei sedang Shikamaru bertarung dengan Shikaku dan Hiashi.

"Naruto," panggil Karin keras. Karin telah berlari menuju Sasuke. "Jangan hanya berdiri. Kau akan membatu mereka, bukan?"

Naruto tersadar. Ia pun berlari ke arah Shikamaru.

"Shikamaru!" teriak Naruto keras. Orang yang dipanggil menoleh. Baru pemuda Uzumaki itu sadar ada yang berbeda dari mata sahabatnya. Merah menyala dan sama sekali tak menunjukkan belas kasih. Tubuh pemuda Nara itu dipenuhi noda-noda ungu berbentuk ukiran, entah melambangkan apa.

"Apa yang kau lalukan disini, nak!" teriak Shikaku. "Menyingkir atau kau terluka." Tangan-tangan Shikaku mengendalikan koeda-koeda untuk menahan laju serangan Shikamaru. Dilihat sepintas saja, kekuatan Shikamaru sepertinya jauh diatas Shikaku. Entah itu benar-benar kekuatan Shikaku atau karena ia melawan anaknya. Sedang Hiashi melempar bola-bola air pada Shikamaru. Jelas sekali mereka berdua melakukan bertarung mode bertahan dan menghindar. Melihat siapa lawannya, apa yang mereka lalukan itu memang pantas. Orang yang mereka lawan adalah anak Shikaku.

Naruto menoleh. Nak? Apa dia tak salah dengar. Ia menggelengkan kepala. "Biarkan aku membalas semua kesalahanku, Shikaku-san. Aku mohon bantuannya." Kini Naruto bergabung diantara Shikaku dan Hiashi. Kedua petinggi Dunia Atas itu saling melempar pandangan.

"Aku akan membuka segel hitam Orochimaru. Mohon Shikaku-san dan Hiashi-san menahan pergerakan Shikamaru," ucap Naruto menjelaskan rencananya. Shikaku mengangguk mengerti sedang Hiashi bergerak kaku ke arah samping.

"Aku akan mulai sekarang!" teriak Naruto melesat menuju Shikamaru. Refleks Shikaku mengarahkan koeda-koedanya untuk menahan koeda Shikamaru yang berusaha menghalangi Naruto datang padanya. Tiba-tiba sebuah bola air besar dari arah kiri Naruto. Jurus yang dilancarkan Hiashi itu menabrak Shikamaru dan membuat pemuda itu terpental ke tanah. Tanpa membuang waktu Shikaku langsung mengulur koeda-koedanya untuk menahan anaknya itu.

"Gogyo Kaiin!" rapal Naruto keras ketika Shikaku mengikat sibuk menahan pergerakan Shikamaru yang tertelentang di tanah dengan koeda-nya. Hiashi dari arah yang berbeda membantu dengan mengikat bagian-bagian tubuh Shikamaru yang lain dengan menggunakan airnya. Sebuah lingkaran segel terbentuk di sekeliling tubuh Shikamaru.

"Aaggghhh!" Mame menyembul dari jantung Shikamaru diiringi raungan pilu dari sang pemuda Nara.

Naruto segera melompat ke depan dan menindih perut Shikamaru. Matanya sempat melirik pada Sasuke yang bergumul dengan Uchiha Fugaku dan Terumi Mei. 'Tunggu aku, Sasuke.'

"Hiku," raung Naruto ketika menarik mame dari jantung Shikamaru. Ia merasakan tangannya perih. Ia terlalu sibuk hingga lupa melindungi tangannya dengan pelindung chakra.

"Shikaku-san, lebih kuat lagi, tolong tahan Shikamaru agar dia tetap tenang. Hiashi-san tolong tahan jari-jarinya agar tak mengeluarkan sulur-sulur koeda," ucap Naruto tertatih. Kulitnya terasa perih. Ia merasa ada tidak benar dengan tubuhnya. Racun. Satu-satunya jawaban yang tepat.

Benar. Koeda milik Shikamaru berbeda dengan koeda peri-peri berkekuatan tanaman lainnya. Daunnya terbuat dari besi berkarat beracun. Sedang batangnya berduri seperti berlian; tajam, mengkilat dan sulit dihancurkan.

Hiashi mengikuti perkataan Naruto. Namun sepertinya koeda-koeda itu tak hanya muncul si jemari Shikamaru tapi juga muncul di bagian tubuh yang lain. Tanpa menunggu perintah Naruto, ia menggerakkan air untuk menyelubungi tubuh Shikamaru. Koeda-koeda itu tertahan.

"Byakugan!" desis Hiashi kesal ketika melihat koeda-koeda itu masih berusaha bergerak keluar, memaksa Naruto menjauh dari tubuh tuannya.

"Jangan," rintih Naruto. Terlalu beresiko menggunakan byakugan. Jurus itu terlalu mematikan.

"Koeda itu akan menghancurkanmu," bentak Hiashi kesal.

"Dia masih anakku, Hiashi," geram Shikaku. Tapi berbeda dengan Shikamaru, seluruh tubuh Shikaku juga mengalirkan koeda-koeda. Sebagian menahan anggota gerak anaknya itu sebagian lainnya menahan koeda-koeda yang lolos dari kekkai Hiashi, yang berusaha menyerang Naruto yang masih menarik mame yang baru seperdelapannya yang keluar

"Kaze no Hiku." Naruto merapalkan mantra lain. Ia kini juga mengalirkan chakra ke tangannya agar bisa menarik mame keluar maksimal sekaligus mengurangi rasa sakit di tangannya.

Duakk... Naruto terpental. Tanpa disadari oleh baik Naruto, Shikaku atau pun Hiashi, Shikamaru melepas semua penahan dari Shikaku dan Hiashi. Menyisakan mame telah tercabut hampir dua per tiga bagian. Tanpa menyia-nyiakan waktu Shikamaru rangsung mengembangkan sayapnya dan menghindar dari sana. Tangannya kanannya menahan mame yang menonjol di dadanya. Ia sama sekali tak punya kemampuan untuk menghilangkan rasa sakit namun ia berusaha menekan mame yang telah keluar agar masuk kembali ke dalam jantungnya walaupun usaha itu berakhir sia-sia.

"Shikaku-san," panggil Naruto panik. Hatinya jujur saja merasa senang ketika melihat sayap yang berwarna hijau Shikamaru yang mengepak kembali, namun disaat yang bersamaan panik. Bila Shikamaru pergi jauh maka semua yang ia lakukan akan menjadi sia-sia.

Shikaku mengangguk, ia juga mengembangkan sayap dan melesat menggapai Shikamaru dengan koedanya. Pertarungan di udara tak dapat dihindari lagi. Baik Shikaku atau Shikamaru saling menyerang. Berbeda dengan Shikamaru yang sepertinya menggunakan kekuatan penuh, Shikaku lebih banyak menggunakan mode bertahan dan menghindar.

Naruto yang melihat itu hanya diam. Lukanya membuat ia sulit berpikir jernih. Sebuah ide terlintas namun ia ragu apakah itu akan berakibat baik atau malah fatal. Setidaknya ia harus mencoba. Pertarungan udara bukan keahliannya. Tentu saja karena dia elf. Ia tak akan mampu menarik mame dari Shikamaru jika mereka masih melayang-layang di udara. Bila dibiarkan lama mame menyumbul lama, ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk. Bisa saja mame itu masuk kembali ke dalam jantung Shikamaru.

"Hiashi-san, tolong gunakan byakugan," ucap Naruto mantap.

Hiashi melirik Naruto sesaat. Ia mengerti situasi seperti ini membuat mereka harus melakukan berbagai cara walau kemungkinan berhasilnya kecil.

"Byakugan!" Bola mata lavender Hiashi kembali menampilkan pembuluh-pembuluh yang menonjol. Shikamaru tiba-tiba langsung menghentikan pergerakannya dan terhempas ke permukaan tanah.

"Kau..." desis Shikaku yang melirik tajam ke arah Hiashi. "Mendokusei." Akhirnya ia hanya mengumpat, tak melakukan protes terhadap apa yang dilakukan Hiashi.

Naruto tak menyia-nyiakan waktu segera ia melompat kembali ke atas tubuh Shikamaru dan menduduki perut sang pemuda Nara. Miris. Mata Shikamaru membelalak, tubuhnya gemetar dan koeda-koeda tergeletak lemas di atas tanah bergerak-gerak kaku.

"Kaze no Hiku," gumam Naruto lagi. Kali ini ia harus memastikan mame yang bersarang di jantung Shikamaru benar-benar keluar dari tubuhnya. Dalam waktu beberapa menit ia berhasil, namun cakranya telah habis cukup banyak. Belum lagi luka-luka yang diakibatkan oleh pertarungannya melawan Shikamaru.

Namun disaat-saat terakhir kesadarannya ia mengucapkan satu kata. "Sasuke."

.


.

Sensei, onegai

.


.

Kilasan-kilasan ingatan tentang pertemuan semalan masih segar dalam ingatan Naruto. Mungkin semua itu hanya mimpi buruk.

Suara-suara kini mendengung-dengung di kepalanya. Memanggil namanya. Tapi ia belum mau bangun. Terlalu takut untuk menghadapi semua kenyataan. Bagaimana dengan Shikamaru? Apakah keadaannya sudah membaik? Sasuke bagaimana? Apakah Karin berhasil melepas segel kutukan Orochimaru yang tertanam dalam diri Sasuke. Segel kutukan yang amat sulit dilumpuhkan .

Mau tak mau dia harus bangun. Sasuke tentu menjadi satu-satunya alasan Naruto untuk bangun sekarang. Bukan bermaksud menomor-duakan Shikamaru, tapi perasaannya yakin pemuda Nara itu kini dalam kondisi baik. Paling tidak aman.

Naruto mulai membuka kelopak matanya. Pelan. Sinar menyilaukan menghantam pupil matanyanya sehingga memaksa kelopak mata kembali menutup.

"Naruto? Dia sadar Hiashi-sama." Itu suara Karin.

"Syukurlah. Tou-sama, apa yang harus kulakukan?" Itu Hinata.

"Alirkan air bercakra lemah. Itu akan merangsang ion-ion tubuhnya untuk aktif bekerja. Selain itu juga memijat pelan otot-otot tubuhnya yang kaku." Itu suara Hiashi. Dari caranya berbicara pada Hinata, sepertinya telah terjadi sesuatu pada anak dan bapak itu.

"Mana Sasuke?" Suara pertama yang dikeluarkan Naruto merubah suasana ceria menjadi sendu.


To be continue


Dictionary ~~ daftar Istilah

Rotasi : membangkitkan kekuatan peri dengan paksa. Biasanya dilakukan oleh ketua klan.

idᾱ : perpindahan

ShisouFuuin : Kemampuan jurus ini adalah mengunci roh lawan kedalam tubuh seseorang, jurus ini pernah digunakan oleh Yandaime Hokage untuk mengunci kekuatan kyubi dan di letakkan ke dalam tubuh naruto

mangkyou sharingan :

Gogyo Kaiin : Kemampuan jurus ini adalah membuka segel pengunci cakra

Byakugan, teknik rahasia klan hyuuha yang mampu mengambil alih pengendalian darah lawannya

mame : benih

Koeda : ranting, kekuatan dasar peri tumbuhan

Happyō : pengumuman darurat. Seperti menggunakan telepati

Kaze No Hiku : tarikan Angin


A/n yang panjang

Ada yang sadar nggak ya ternyata aku di chapter sebelumnya salah nulis Yamanaka jadi Yamadaka. Astaga, bisa digorok Masashi Kishimoto nih T_T... Aaa~~ reviewnya dikit hiksss... Khawatir incest kah? Nggak kok, Yori bukan penyuka incest! Karin dan Naruto itu cuma satu klan tapi dari dari bapak dan ibu yang berbeda. Hohoho. Oh ya akhir-akhir ini Yori lagi seneng baca *cie yang udah ngaktifin paket internet* hehehe... PM dun kalo publish fic, ntar Yori nongkrong di sana. Berhubung henpon Yori terbitan lama jadi nggak bisa buka grup FFN yang di fb (padahal disana banyak promo fic keren).

Hontou Gomen untuk terlambat update.

Jumlah kata 4.260

Semangat Menulis! Semangat UPDATE!


~Last word~

~Silahkan Mengisi Lembar Apresiasi di kolom Review~

~Waiting~