-_ Ui Present _-

000 Akairo Hoshi 000

Pairing : SasuFemNaru

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC maybe, FemNaru, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan

Rated : T aja

READ N RIVIEW PLEASE

DON'T LIKE READ

Sebuah truk dengan bak tertutup berjalan dengan kecepatan sedang membelah keheningan malam di antara lebatnya pepohonan hutan. Jalan nampak sepi karena memang tak ada satupun rumah penduduk disepanjang jalan di perbatasan kota Konoha dan Ame itu, di belakang truk nampak beberapa mobil mengikuti seolah menjaga benda yang sangat berharga didalamnya.

"Komandan sebentar lagi kita sampai." Sebuah suara memecah keheningan di mobil terakhir di belakang truk.

"Perintahkan semua untuk bersiap, jangan turunkan kewaspadaan." Perintah Itachi pada anak buah yang duduk di depannya.

Itachi menengok ke sebelahnya di mana Kyuubi berada, sejak awal perjalanan pemuda disampingnya itu tak mengeluarkan sepatah katapun membuat Itachi keheranan. Kyuubi lebih memilih memejamkan mata dengan earphone ditelinganya bahkan Itachi tak tahu sejak kapan Kyuubi memulai kebiasaan mendengarkan music karena seingatnya sejak kecil ia tak pernahmelihat Kyuubi bersentuhan dengan music bahkan selalu kabur ketika tes music dulu ketika mereka masih dibangku sekolah.

Itachi menggoyangkan bahu disampingnya perlahan hingga Kyuubi membuka matanya dan memberikan tatapan tajam seakan berbunyi 'Kau – Mau – Mati –Uchiha', Itachi mendengus pelan.

"Kita hampir sampai bersiaplah." Ucap Itachi sebelum menyibukan diri dengan handphonenya tentu untuk memberikan laporan kepada sang ayah.

Kyuubi melepas earphonenya dengan malas, ia merapikan dirinya sejenak tak lupa mengecek ulang semua peralatan yang ada di dalam tasnya. Ia mengingat sesuatu kemudian menatap intens Itachi yang baru saja menyelesaikan pembicaraannya dengan Fugaku, Itachi yang ditatap mengerutkan keningnya penasaran apa mungkin ada yang aneh diwajahnya.

"Ada apa ?" Tanya Itachi

"Serahkan."

"Apa ?" Tanya Itachi penasaran.

"Akemi no Runa, serahkan ia padaku. Aku yang akan mengurusnya." Ucap Kyuubi kemudian mengalihkan tatapannya kearah jendela mobil yang ada disampingnya. Dapat Kyuubi dengar helaan napas Itachi disampingnya entah apa yang ada dipikiran Itachi, ia tak tahu dan tak ingin tahu.

"Aku kira ada apa ? kau masih dendam padanya ya karena membuatmu babak belur." Ucap Itachi kemudian membuka pintu mobil yang ia tumpangi karena memang mereka telah sampai di tempat tujuan. Kyuubi menyusul Itachi keluar dan mengikuti langkahnya.

"Bukan urusanmu." Jawab Kyuubi kemudian mendahului Itachi untuk mempersiapkan semua proteksi perlindungan untuk barang yang mereka bawa, yaitu peledak terbesar didunia bahkan melebihi bom atom atau nuklir sekalipun.

/.

/.

/.

/.

/.

/.

"Kita harus bergegas, mereka merubah rencana. Ternyata mereka membawa benda itu sekarang." Perintah Ryu. Mereka segera menuju helicopter yang telah disiapkan di tengah hutan kematian.

"Baik." Runa segera memasang topengnya dan bergegas menyusul Ryu yang lebih dulu memasuki helicopter. Helicopter itu segera terbang menuju tempat para ANBU yang telah mereka ketahui dengan bantuan Karin dan anak buahnya meninggalkan hening dihutan kematian yang memang tak berpenghuni.

Didalam helicopter Ryu tampak sibuk membagi tugas dalam rencana yang telah disiapkan Rokkudo-sama, mereka tahu pertempuran malam ini akan lebih sulit dari pertempuran sebelumnya. Para ANBU khusus pasti telah bersedia disana tapi mereka tak akan menyerah untuk tujuan tuan yang mereka hormati.

/.

/.

/.

/.

/.

Kyuubi nampak berdiri di tengah sebuah ruangan seakan menunggu seseorang disana, ia tengah memasang banyak halangan disana karena memang ini adalah tempat dimana benda itu di simpan. Ia tahu seseorang yang tengah ia tunggu pasti datang terlalu lezat umpan kali ini, mereka tak akan melewatkannya.

Tak berapa lama Kyuubi bisa mendengar dengsingan bunyi peluru yang saling sahut – menyahut dilantai bawah, pertanda pertarungan sudah dimulai di bawah sana dan sesuai analisanya selama ini yang dibawah sana hanya lah pancingan bodoh yang akan menjadi pusat perhatian dan seseorang yang ia tunggu akan menyusup menuju tempat tujuan, tempat dimana ia berada.

'Prang'

Kaca jendela disalah satu sudut ruangan hancur menebarkan serpihan kaca ke lantai.

"Argghh." Sebuah erangan sakit terdengar, nampak Runa tengah sedikit memundurkan tubuhnya karena tak sengaja menyentuh laser merah yang memang terpasang disetiap sudut ruangan itu.

"Bodoh, kau harusnya lebih pintar dari ini." Hina Kyuubi, ia menatap lengan Runa yang mulai merembeskan noda darah yang tak terlihat karena pakaian hitam yang ia kenakan.

"Diam kau, kau sudah mengetahui lebih dahulu ternyata tapi mengapa tak memberitahu yang lain bukankah itu akan memberikan peluang lebih besar untuk menggagalkan rencana kami ?" Tanya Runa mulai menegakkan tubuhnya ia tak boleh terlihat lemah dihadapan musuhnya.

"Karena aku ingin menyelesaikan sesuatu." Jawab Kyuubi kemudian mengeluarkan tongkat yang sama saat mereka bertarung pertama kali dulu. Melihat Kyuubi yang telah mengeluarkan senjatanya Runa tersenyum perlahan ia mencabut pedangnya.

Kyuubi segera meloncat menuju ke tempat Runa tak lupa mwncoba menghindari laser merah yang bisa saja melukai kulitnya. Runa bersiap menghadapi serangan Kyuubi segera saja ia mengayunkan pedangnya melihat Kyuubi datang, Kyuubi memutar tubuhnya menghindari serangan Runa dan mengayunkan tongkatnya kearah samping tubuh namun Runa bisa menghindar dari serangan Kyuubi.

Mereka bertarung dengan sengit saling mengayunkan senjata menyerang atau menahan senjata lawan untuk menghindari luka baru tercipta, tubuh mereka mulai dihiasi luka dan darah dari senjata lawan atau dari goresan laser yang tak sempat mereka hindari.

Wajah Runa tampak memucat ia sudah cukup banyak kehilangan darah dari luka yang ia dapat diawal karena memang luka itu cukup dalam bahkan sampai sekarang darah masih keluar dari lengannya.

Kyuubi menatap Runa yang menopangkan tubuhnya pada pedang yang ditancapkan ke lantai, ada rasa sakit saat melihat gadis dihadapannya yang mulai nampak kepayahan. Sungguh jika ia bisa ia ingin menyangkal semua kenyataan jika gadis dihadapannya adalah orang yang ia cari selama ini namun semua berbeda dan terlalu sulit adiknya menjelma menjadi orang lain bahkan menjadi musuh besarnya. Ia tak tahu harus melakukan apa, menangkap orang dihadapannya atau malah membebaskannya.

"Naruto ." panggil Kyuubi pada sosok dihadapannya berharap sang adik akan menyahut dan berlari ke arahnya memeluknya gembira seperti yang selalu ia lakukan dulu.

"Diam." Bentak Runa Tubuhnya semakin merosot, ia menopang tubuhnya dengan lutut mencoba tetap sadar ia tak boleh berakhir seperti ini.

"Naruto." Panggil Kyuubi lagi perlahan ia mulai mendekati Runa yang bersimpuh.

"Diam." Perintah Runa lirih

"Naruto. Adikku ."

"Diamlah."

"Naruto ku."

"Aku bilang diam, jangan sebut nama itu lagi. Kau membuatku gila." Bentak Runa ia menatap nyalang Kyuubi yang hanya berjarak beberapa langkah dihadapannya.

"Kenapa ?" Balas Kyuubi, ia sungguh berharap Runa akan mengingat siapa dirinya sebenarnya.

"Aku tahu, kau adalah Naruto, adikku."

"Diam, aku bukan Naruto atau siapapun itu. Namaku Runa dari dulu hingga nanti dan selamanya, aku Runa." Teriak Runa, entah mengapa hatinya sakit saat mengatakan bahwa ia bukanlah Naruto ada rasa penolakan dalam dadanya saat ini. Sungguh ia tak mengerti bukankah mereka sangat berbeda bagaimana bisa ia adalah adik Kyuubi.

"Kau bohong, aku bukan Naruto. Ini hanya sandiwara. Kau ingin membuatku lemah kan ?" Tanya Runa lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri.

"Naruto, kau adalah Naruto. Kau adikku yang hilang, percayalah." Kyuubi berjongkok menyejajarkan dirinya dengan Runa yang nampak berantakan di hadapannya. Meski tak terlihat jelas Kyuubi bisa melihat aliran air mata yang mengalir di sela-sela topengnya.

"Kalau kau tak percaya kau bisa mengetesnya sendiri." Ucap Kyuubi, ia mengambil sapu tangan putih yang ada di sakunya. Ia gores sedikit ujung jarinya hingga mengeluarkan darah dan ia tempelkan pada sapu tangannya. Ia masukkan sapu tangannya itu kedalam saku baju yang Runa pakai, ia mulai mundur memberikan jarak di antara mereka. Kyuubi memencet tombol pada remote yang ada di saku bajunya untuk menghilangkan laser merah disekeliling mereka.

"Runa… Runa. Kau bisa mendengarku."

"Runa jawab aku." Sebuah suara cemas terdengar dari earphone yang terpasang ditelinga Runa.

"Nii-san." Jawab Runa, tak melihat tatapan Kyuubi yang meredup mendengar adik kandungnya memanggil orang lain dengan 'Nii-san' bukan dia.

"Runa cepat mundur, kami akan segera menjemputmu."

"Baik." Runa berusaha menegakkan tubuhnya, ia baru menyadari bahwa semua sinar laser telah dilenyapkan oleh Kyuubi. Ia memandang Kyuubi sejenak, dapat ia lihat kesedihan dimata Kyuubi entah karena apa ia tak tahu namun entah bagaimana ia merasakan sakit dihatinya melihat tatapan itu.

"Pergilah." Perintah Kyuubi tanpa melihat Runa. Bisa Kyuubi rasakan Runa mulai berjalan menjauh menuju jendela yang tadi ia pecah, ia tak ingin melihat kepergian Runa karena ia yakin ia tak akan bisa menahan diri lagi. Kali ini ia akan membiarkan Runa pergi namun nanti ia yak akan membiarkannya menghilang karena ia yakin Runa yang akan kembali kepadanya setelah ini, kembali dengan nama Naruto.

/.

/.

/.

/.

/.

Sasuke nampak gelisah sedari tadi ekor matanya terus saja menatap bangku dihadapannya tepat disamping Hinata. Sejak 2 hari yang lalu ia tak pernah melihat Runa, tak ada surat izin ataupun keterangan untuk ketidakhadirannya di kelas. Sasuke merasa sedikit sesal atas apa yang dilakukan 2 hari lalu saat mengantar Runa, ia takut itu membuat Runa marah dan alasan ia tak hadir di sekolah. Sasuke sungguh ingin minta maaf atas tindakannya yang menurutnya kurang ajar.

Sasuke menghela napas perlahan, mungkin salahnya tak bisa mengontrol emosinya namun sungguh ini adalah cinta yang pertama yang Sasuke rasakan karena selama ini ia tak pernah seperti ini. Mungkin ini adalah karma yang harus Sasuke rasakan karena sering mempermainkan wanita dulu, namun sekarang ia berjanji akan berubah tak akan ada lagi ice prince yang hobi mempermainkan ia harus menunjukkan kesungguhannya pada Runa, ia akan ke apartemen Runa setelah pulang sekolah.

Sebuah suntikan semangat mengalir di tubuh Sasuke, hingga membuat semangat untuk mengikuti pelajaran dsengan baik tiba-tiba membuncah membuat teman sebangku Sasuke hanya geleng-geleng kepala melihat mood Sasuke yang berubah-ubah tak jelas.

"Mendokusai."

/.

/.

/.

/.

/.

Runa menatap diam sapu tangan yang ada di tangannya diam, sebuah pergulatan sedang terjadi di hatinya tentang apa yang harus ia lakukan. Apa Ia harus melakukan apa yang dipinta Kyuubi atau tidak, Runa memejamkan matanya sejenak ia tutup matanya dengan lengan kanannya tanpa menghiraukan selang infus yang ada ditangannya.

Sejak pertemuan mereka 2 hari yang lalu Runa tak pernah sekalipun bisa mengenyahkan semua pemikiran yang mengganggu dalam otaknya ini. Semua mimpi aneh terus saja menghiasi tidrnya, tangisan seorang anak kecil, api yang membara, tangisan anak lain yang terus memanggil nana 'Naruto'. Runa tak yakin akan apa yang harus ia lakukan.

'Apa salahnya jika aku melakukan tes DNA, jika pada akhirnya hasilnya akan negative juga. Mungkin taka da salahnya aku mencoba.'

Runa mencoba menegakkan tubuhnya, disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menjejakkan diri di lantai kamarnya tak dihiraukan rasa dingin yang mulai merayap pada kaki telanjangnya. Ia cabut infus yang menempel dipergelangan tangannya, digosoknya perlahan mencoba menghilangkan sedikit rasa sakit disana.

Ia mulai melangkah keluar kamarnya, hening tak ada satu orang pun yang terlihat di sepanjang koridor lantai dua di markas Akairo Hoshi, bahkan tak ada para pengawal yang biasanya berkeliling untuk menjaga lantai dua. Runa melangkahkan kakinya menuju ke salah satu ruangan tak jauh dari kamarnya, ia membuka pintu dihadapannya perlahan segera saja bau obat tercium dari dalamnya. Runa memasuki ruangan lab lama yang sudah tidak lagi dipakai oleh Guren, ia meraba tembok disamping pintu mencari sakelar. Dapat terlihat jelas ruangan dihadapannya masih ada beberapa alat yang tidak digunakan Guren yang tersisa disana dan Runa berharap Guren meninggalkan alat DNA disana, Runa melangkah perlahan rasa nyeri mulai terasa dari luka yang memang belum tertutup sepenuhnya.

Runa mulai mencari alat itu, ia yakin alat DNA itu masih ada disana. Ia mulai mencari di rak-rak dan meja yang ada hingga akhirnya ia temukan disamping computer lama yang sudah tak terpakai. Runa mendudukkan dirinya, ia nyalakan computer itu dan menghubungkannya ke alat DNA yang sudah ia nyalakan terlebih dahulu.

Ia letakkan sapu tangan Kyuubi pada tes DNA itu menunggu untuk alat itu bekerja setelah dirasa cukup, ia menggigit ujung jarinya hingga mengeluarkan darah dan diteteskannya di atas alat tes. Runa menunggu alat itu bekerja beberapa saat.

Entah mengapa ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, ada rasa gugup yang aneh sejalan dengan penantiannya menunggu hasil yang tadi ia percaya akan berhasil negative.

'Ting'

Computer di hadapannya mulai menampilkan hasil dari tes DNA nya, Runa berdiri menjauh dari computer wajahnya menatap kosong tak percaya, ia terus mundur hingga membentur meja dari tembok dibelakangnya. Ia terduduk perlahan ia menggelengkan kepalanya kuat mencoba mengenyahkan segala bayangan kabur yang berputar cepat di kepalanya.

Runa terbaring penuh dilantai tak kuat lagi menahan berat badannya meski hanya untuk bertahan duduk. Lelehan air mata mulai keluar dari mata biru itu.

"Nii-chan ayo jongkok, Naru mau naik ke punggung Nii-chan."

"Oni-chan tunggu Naru."

"Oni-chan gandeng tangan Naru ya, jangan dilepas."

"Ikh Nii-chan jelek, Naru benci Nii-chan."

"Oni-chan, Naru sayang Kyuu-nichan. Oni-chan juga sayang Naru kan.?"

"Oni-chan tolong Naru. Kyuu-nichan tolong Naru."

Lelehan air mata itu semakin kentara dimata indah itu, ada rasa bahagia ketika ingatan itu sedikit demi sedikit mengisi otaknya. Namun ada juga rasa sakit, kesal, semua bercampur membuat seakan ingin memecah kepalanya hingga akhirnya mata itu terpejam dalam kegelapan yang meringankannya sejenak.

"Oni-chan." Sebuah kata indah yang terucap dari mulut Runa sebelum kegelapan menjemput kesadarannya dan membuainya dalam ketenangan.

TBC

Chapter 7 selesai, he..he.. saya sedang bersemangat di tengah banyaknya tugas yang gak saya hiraukan. Maaf ya kalau gaje nih chapter, soalnya ngetik sambil nonton pertandingan bulu tangkis sih.

Oke, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Terima kasih untuk yang udah riview, di tunggu riviewnya lagi ya. And buat silent reader juga terima kasih udah menyempatkan membaca. Bye..bye…

MIND TO RIVIEW

-_Uichan…..