Desclaimer : Tite Kubo. GrimmIchi milik para pecintanya *gaplocked* m(-.-)m

Q Lulus nih...gimana dg readers semuanya yg baru saja ujian? Tapi gw malah galau soal PTN. Ya sudahlah, yg penting ini update (apa hubungannya coba?) enjoy...

Reply Review :

Makasih banyak bwt Dongdonghae, Zanpaku Nightfall Akenomyosei, Farenheit July, and Diarza. Makasih banyak read reviewnya ... :D

#Bwt kamura : saia gak kemana-mana kok, cm rada sibuk mau kelulusan kemaren hehehe maap lama, ini update. Grimmy emang tampang iblis kan? XD makasih read reviewnya :D

#Nyasararu : hehehehe syukur deh bs buat km ketawa #plaaaak XD untung aja km gak dtimpukin tmen2 km *bwt apa coba?* ya iya gak dicium, lha wong Grimmy masih normal saat itu hehehe tp skrg gak normal lg *digiles Grimm* makasih read reviewnya... :D

Chapter 4 : I Say I Love You

.

.

.

Drap…drap…drap…BLAM!

Terdengar suara langkah yang dihentak-hentakan lalu suara pintu terbanting dengan keras.

"Ichigo, dengarkan aku dulu!" ucap seorang cowok berambut biru terang. Ia berdiri berkacak pinggang sambil menatap cowok berambut orange yang tengah melepas sepatu di hadapannya.

"Berisik! Cepat pulang sana! Kau sudah tidak boleh tinggal di apartementku lagi, Grimmjow!" ucap Ichigo yang agak kesulitan melepas sepatunya hanya dengan satu tangan, karena tangan satunya ia gunakan untuk menutup bibir.

"Apa? Tap-tapi…"

"Pergi kaaaauuu! Dasar gay mesum!" maki Ichigo dan melangkah masuk.

"Enak saja gay!" Grimmjow mengejar. "Aku bukan gay, Ichigo"

"Apa? Lalu ciuman tadi itu apa huh!" dengus Ichigo. "Dan kau bahkan bilang kalau kau menyukaiku!"

"Karena kau special." Jawab Grimmjow singkat. Tapi cukup untuk membuat langkah Ichigo terhenti.

"S-Spesial?" lirih Ichigo tanpa menatap Grimm. Andai saja Grimmjow tahu kalau wajah Ichigo saat ini sangat merah.

"Ya…kau special." Ulang Grimmjow, ia melangkah mendekati Ichigo. "Kutegaskan sekali lagi, aku bukan gay. Tapi entah bagaimana aku begitu tertarik padamu." Grimmjow memegang kedua lengan Ichigo dan menyandarkan kepalanya di pundak Ichigo.

"I-itu…itu hanya perasaan tertarik saja kan? Pasti hanya sebagai teman." Elak Ichigo.

"Tidak Ichigo, aku bukan anak kecil yang belum bisa membedakan mana rasa suka dan mana rasa kagum. Dan aku tahu…aku menyukaimu."

"Menyukai bukan berarti me-…"

"Aku mencintaimu Ichigo!" potong Grimmjow. "Ini bukan rasa suka terhadap teman, ini rasa suka dan ingin menjalin hubungan lebih. Aku…"

"Diamlah Grimmjow. Kau sudah gila!" Ichigo berontak, tapi malah membuat Grimmjow mendekapnya erat supaya tidak kabur.

"Ya, aku gila karenamu."

"Grimm, lepas! Dan cepat pergi dari apartement ku!"

"Aku mencintaimu."

"Berisik! Jangan ucapkan kata itu lagi!" Ichigo menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.

"Love you…"

"Diaaamm…!"

"Aku mencintaimu, Ichigo." Grimmjow melepas dekapannya pada Ichigo lalu berjalan menjauh, namun Ichigo tetap tak menoleh. Grimmjow berhenti lalu menatap Ichigo sesaat sebelum membuka pintu keluar. "Oyasumi…" ucap Grimmjow lalu keluar dari apartement Ichigo.

Sepeninggal Grimmjow, Ichigo masih terdiam.

"A-apa-apaan dia…" ucap Ichigo. "Aaaarggh! Baka!" Ichigo mengacak-acak rambutnya sendiri lalu berjalan menuju kamarnya. Begitu menutup pintu kamar, ia mendengar suara gemerisik dari luar, Ichigo pun melangkah menuju jendela lalu membukanya untuk melihat ada apa.

"Gyaaaaa…!" jerit Ichigo saat sebuah wajah muncul tiba-tiba di jendela. "G-G-Grimmjoww! Ngapain kau disitu." Tunjuk Ichigo masih dengan kekagetannya.

"Karena kau bodoh. Seharusnya kau mengejarku tadi." Oceh Grimmjow dan melompat masuk lewat jendela.

"Enak saja! Memangnya siapa yang mau mengejar orang bodoh sepertimu. Cepat keluar dari kamarku!"

"Chee, tidak mau. Aku ngantuk." Grimmjow membanting tubuhnya di ranjang milik Ichigo.

"Apaaaa! Cepat pergi dari sana Blueberry! Aku juga ngantuk!" kesal Ichigo sambil menarik-narik lengan Grimmjow.

"Kalau begitu tidur saja disini." Grimmjow menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Sontak wajah Ichigo memerah.

"E-enak saja. Aku tidak mau tidur seranjang denganmu! Lagipula ranjang ini terlalu sempit untuk dua orang!"

"Heh." Grimmjow menyeringai lalu menarik Ichigo hingga terbaring di atas tubuhnya. "Tidak akan sempit kalau posisinya seperti ini." Tambah Grimmjow masih dengan seringaiannya. Wajah Ichigo kian memerah.

"Le-le-lepaaaaass! Aku tidak mau begini! Lebih baik aku tidur di futon saja!" raung Ichigo sambil terus berontak, tapi Grimmjow masih saja menahan tubuh Ichigo.

"Diamlah Berry, kalau begini kapan kau mau tidur." Omel Grimmjow dengan mata terpejam.

"Aku tidak akan bisa tidur dengan posisi begini, bodoh!"

"Tch! Kau mau dibawah ya?" seringai Grimmjow lalu membalik posisi sehingga Ichigo yang dibawah.

"Kalau begini aku lebih tidak mauuuuu!" raung Ichigo.

"Diamlah Berry, aku ngantuk! Atau perlu kucium supaya kau diam huh?"

Gulp!

Ichigo langsung mingkem begitu mendengar kata itu, ia pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Nah, itu baru bagus." Ucap Grimmjow lalu merebahkan diri di samping Ichigo dengan posisi miring supaya tidak sempit.

Ichigo agak kaget juga kenapa Grimmjow malah turun dari tubuhnya. Lho, kok dia kecewa? Nggak! Aku nggak kecewaaaa! Raung Ichigo dalam hati. Toh rupanya tangan kekar Grimm masih melingkar di perut Ichigo. Suasana berubah senyap, Ichigo melirik Grimmjow yang tampaknya telah tertidur. Dengan hati-hati, Ichigo menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.

"O-oyasuminasai~…" lirih Ichigo lalu mencoba memejamkan mata dengan wajah memerah.

~ OoooOoooO ~

"A~ahh…G-Grimm, le-lebih cepat…" erang Ichigo dengan nafas tersengal. Ichigo tak mendengar jawaban akan permintaannya, tapi yang jelas ada sesuatu yang menggesek semakin cepat di selangkangannya. Ichigo terus mendesah heboh, hingga beberapa waktu kemudian Ichigo tak mampu lagi menahan puncak kenikmatan yang menghampirinya. Tubuh Ichigo mengejang, hingga kembali rilex dengan nafas tersengal setelah merasakan seluruh hasratnya tertumpahkan.

"Hhh…hhh…" Ichigo masih tersengal, perlahan ia membuka matanya dengan kesadaran yang baru setengah. Ia mengerjap bingung, tapi…kesadarannya langsung penuh total saat hal pertama yang ia lihat adalah seringaian Grimmjow. Ya! Tepat di hadapannya.

"Gyaaaa!" jerit Ichigo dan segera duduk, membuat Grimmjow yang merangkak di atas tubuhnya juga ikutan duduk. "A-apa yang kau lakukan hah!" maki Ichigo.

"Tidak melakukan apapun." Jawab Grimmjow santai.

Ichigo memandangi tubuhnya juga tubuh Grimmjow, pakaiannya masih lengkap, begitu juga pakaian Grimmjow. Ia menghela nafas lega, lalu bergerak untuk segera turun dari ranjang.

"Eh?" gerakan Ichigo terhenti begitu merasakan ada yang aneh dengan selangkangannya. Ichigo menunduk, menatap junior-nya yang masih tertutup celana itu dalam keadaan tegak.

"Ehhhhh?" ichigo semakin shock apalagi setelah menyadari kalau celananya di bagian 'itu' basah oleh 'sesuatu'. "A-apa yang kau lakukan padaku HAH!" Ichigo nunjuk-nunjuk Grimmjow dengan laknatnya. "K-k-kau pasti melakukan hal yang aneh-aneh ya!"

"Ha? Tidak. Aku hanya menuruti keinginanmu." Jawab Grimmjow santai.

"Ke-keinginanku! Jangan bercanda ya! Aku tidak mungkin me-…" tapi Ichigo terdiam saat ingatan samar akan dirinya yang tadi mengatakan 'lebih cepat' menghampiri otaknya. Wajah Ichigo langsung berubah merah. "Tidak mungkiiiiiiin!" raung Ichigo sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

Melihat itu, Grimmjow malah menyeringai dan mencondongkan tubuhnya ke Ichigo. "Apa mau lanjut huh? Tadi baru pemanasan lho…" goda Grimmjow.

Ichigo melirik ke selangkangan Grimmjow yang keadaannya ternyata tak jauh beda dengan milik Ichigo. Lagi-lagi Grimmjow menyadari apa yang Ichigo pikirkan.

"Kau lihat sendiri kan? Aku sudah tegang dan juga basah." Desah Grimm mesra sambil membelai lembut selangkangannya sendiri. "Bagaimana kalau kita lanjutkan? Masih ada 3 jam sebelum kau harus berangkat sekolah." Grimmjow menjilat cuping telinga Ichigo.

Gluk!

Ichigo mematung. Ada perasaan ingin menuruti ucapan Grimmjow, apalagi kegiatan tadi baginya sama sekali belum memuaskan hasratnya. Tapi logika Ichigo masih jalan, logika yang menolak mentah-mentah akan perlakuan Grimmjow yang bahkan kini mulai membelai paha bagian dalamnya.

"Ti-tidak mau!" tolak Ichigo dengan tegas dan mendorong tubuh Grimmjow menjauh. "Kau benar-benar sudah gila Grimm!" dan dengan itu, Ichigo kabur ke kamar mandi sambil membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.

"Hei Ichi! Izinkan aku masuk juga! Aku sudah tidak tahan dan harus mengeluarkannya sekarang!" omel Grimmjow sambil menggedor pintu kamar mandi.

"Ti-tidak mau! Kau pasti akan macam-macam!" tolak Ichigo.

"Kalau begitu biar aku duluan, cepat keluar sini!"

"Itu juga tidak mau! A-aku juga harus segera mengeluarkannya."

"Tch! Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku membanjiri kamarmu dengan cairanku." Seringai Grimmjow.

"Apaaaaaa! Enak saja!" Ichigo sontak membuka pintu kamar mandi, dan Grimmjow pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam.

"Nah, Berry. Ayo keluarkan bersama-sama." Seringai Grimmjow. Ichigo hanya bisa menatap horror karena Grimmjow lah yang kini menguasai pintu keluar.

"Gyaaaaaa tidak mauuuu!" raung Ichigo frustasi.

~ OoooOoooO~

Ichigo berjalan gontai menuju sekolahnya.

"Ini mimpi buruk…" gumam Ichigo sepanjang jalan.

"Ohaiyo gozaimas, Kurosaki-kun…" sapa Inoue saat Ichigo tiba di gerbang sekolahnya.

"Ohaiyo…" sahut Ichigo lirih.

"Kau kenapa Kurosaki-kun? Apa kau sakit?"

"Tidak kok…"

Tiba-tiba terdengar jeritan ala fansgirl dari arah gerbang yang baru saja ditinggalkan Ichigo. Ichigo menoleh, dan seketika tatapannya berubah sangar begitu melihat Grimmjow-lah yang baru saja datang dan langsung dikerubuti oleh gadis-gadis.

"Aku ingin membunuhnya, sangat ingin membunuhnya." Geram Ichigo dengan suara yang benar-benar seram, ngebuat Inoue merinding.

"Me-memangnya Grimmjow-kun berbuat apa padamu?" Inoue mencoba bertanya.

Ingatan Ichigo kembali pada kejadian tadi pagi di kamar mandi. Grimmjow memang tidak memperkosanya, tapi ia 'membantu' Ichigo mengeluarkannya. Bisa dikatakan foreplay lah…Meski Grimmjow nyaris memperkosa Ichigo karena ia sempat memasukkan jarinya untuk mempersiapkan lubang Ichigo, tapi Ichigo menolaknya habis-habisan sehingga Grimmjow mundur juga.

Mengingat kejadian itu, wajah Ichigo jadi semakin sangar saja. Apalagi saat mendengar suara Grimmjow di dekatnya.

"Hei Berry, sedang apa kau disini? Tidak masuk kelas? Bukannya kau biasanya mencontek PR huh?" ucap Grimmjow.

"Diam kau, atau kubunuh sekarang juga." Ucap Ichigo dengan nada datar namun mengandung hawa membunuh. Bukannya takut, Grimmjow malah menyeringai, ia menepuk pundak Ichigo dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ichigo.

"Tapi tadi pagi kulihat kau sangat menikmatinya." Bisik Grimmjow yang sukses membuat Ichigo mencak-mencak namun tak ia pedulikan karena ia langsung melenggang pergi meninggalkan Ichigo.

"Grr…kenapa dia masih saja datang ke sekolah sih!" rutuk Ichigo sambil berjalan menuju kelas.

"Lho, dia kan kerja jadi tukang kebun disini?" sahut Inoue.

"Iya aku tahu, maksudku kenapa dia tidak keluar saja! Apa kau tahu Inoue, dia itu kaya sekali. Rumahnya saja seperti istana. Untuk apa dia kerja jadi tukang kebun?"

"Eh? Masa sih? Kurosaki-kun sudah pernah ke rumahnya?" kejut Inoue yang sontak membuat Ichigo gelagapan.

"E-etto…be-belum kok. Hanya saja dia pernah bilang begitu hahaha…"

"Ha? Berarti Kurosaki-kun sudah ngobrol banyak dengannya? Hebat dong…padahal para fansgirl nya saja belum ada yang dapat kesempatan mengobrol."

Dan pernyataan Inoue itu ngebuat Ichigo makin cengok dan hanya bisa ber 'e…' ria hingga akhirnya mengalihkan pembicaraan soal mencontek PR.

~ OoooOoooO ~

Jam istirahat makan siang, Ichigo menyendiri di atap sambil memakan bekalnya. Alasannya? Dia tidak ingin teman-temannya mengusili bekal buatannya itu yang terkenal enak. Kalau bersama teman-temannya, biasanya Ichigo belum sempat makan tapi bekalnya sudah dihabiskan oleh teman-teman tak beradab itu.

Makan dalam diam, pembicaraan dengan Inoue kembali teringat di memory-nya.

"Grimmjow kan orang kaya, lalu untuk apa dia kerja jadi tukan kebun?" ujar Ichigo lirih sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Lalu untuk apa dia kabur dari rumah sampai-sampai dikejar FBI? Padahal kehidupannya enak sekali."

Tuk…tuk…

Terdengar suara langkah seseorang mendekat. Ichigo menoleh ke arah pintu dan bersiap menyembunyikan bekalnya. Siapa tahu itu salah satu teman usilnya. Tak berapa lama pintu atap terbuka dan seseorang muncul disana.

"G-Grimmjow? Mau apa kau?" omel Ichigo langsung.

"Mencarimu." Jawab Grimmjow santai dan segera menutup pintu atap lalu duduk di hadapan Ichigo. "Aku lapar, aku minta bekalmu."

"Enak saja! Pergi saja ke kantin sana."

"Aku ingin makan masakanmu."

"Tidak boleh. Aku masih lapar."

"Kalau begitu makan saja, aku sisanya."

"Kalau tidak kusisakan?"

"Kau harus menyisakannya!"

"Kau ini selalu seenaknya." Kesal Ichigo lalu menyodorkan kotak bekalnya. "Kau boleh makan, tapi jangan banyak-banyak."

"Suapi aku."

"Apaaaa! Sudah untung mau kubagi! Jangan minta yang macam-macam deh!"

"Kalau tidak disuapi aku tidak mau makan."

"Memangnya aku peduli. Bagus malah!"

Grimmjow tak menjawab lagi, hanya menatap lurus Ichigo. Hingga lagi-lagi hati Ichigo yang terlalu baik pun luluh.

"Heeeh, baiklah. Dasar Blueberry!" Ichigo akhirnya menyuapi Grimmjow. Suasana hening untuk beberapa saat, hingga Ichigo teringat akan pertanyaannya tadi.

"Oia Grimm, kenapa waktu itu kau kabur dari rumah?" tanya Ichigo.

"Dan kenapa kau mau tahu?"

"Karena kau numpang di rumahku!" maki Ichigo.

"Tch! Karena malas." Jawab Grimmjow sekenanya.

"Malas bagaimana?" Ichigo kembali menyuapi Grimmjow.

"Aku malas mengurus perusahaan yang Aizen berikan untukku."

"Dasar bodoh, harusnya kau senang. Dia mengangkatmu jadi anak, bahkan memberikan perusahaan padamu."

"Jadi menurutmu begitu?"

"Tentu saja. Kau tidak perlu bersusah-susah lagi sepertiku yang harus kerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidup."

"Kalau bagiku itu justru menyenangkan."

"Apanya yang menyenangkan. Aku harus capek setiap hari karena sepulang sekolah langsung pergi, lalu pulang malam. Tapi gaji yang kudapat tidak seberapa." Ichigo malah curhat. "Waktuku jadi tersita banyak. Padahal aku kan juga ingin seperti teman-temanku yang lainnya. Pergi main sepulang sekolah, bersenang-senang bersama semuanya, juga…punya pacar." Ichigo menunduk dengan wajah memerah saat mengucapkan kalimat terakhir tadi. Sementara Grimmjow hanya menatapnya sambil bertopang dagu.

"Jadi itu sebabnya kau belum juga punya pacar meski punya wajah yang manis?" ucap Grimmjow yang sontak membuat Ichigo merengut.

"Manis katamu?" kesal Ichigo yang merasa diperlakukan seperti seorang cewek.

Deg!

Tapi lalu ia membelalakkan mata saat Grimmjow mengangkat dagunya dan mendekatkan wajah.

"Permintaan terakhirmu…bisa kukabulkan." Ujar Grimmjow dan langsung menawan bibir Ichigo dengan bibirnya. Sebuah ciuman lembut…

Ichigo yang awalnya menolak akhirnya ikut memejamkan mata untuk menikmati ciuman itu. Hingga Grimmjow menjilat bibir Ichigo sebagai izin masuk yang membuat Ichigo memaksa lepas ciuman itu. Sepertinya dia belum mau terlalu jauh. Ia menatap Grimmjow dengan wajah memerah, sedikit ketakutan terpancar di wajahnya.

"Kau jangan memasang wajah ketakutan begitu, Berry." Ucap Grimmjow.

"A-aku tidak ketakutan kok. Aku hanya…"

"Takut aku akan memperkosamu? Lupakan saja." Grimmjow beranjak berdiri dan bersiap pergi. Ichigo terbelalak. Apa Grimmjow tersinggung? Padahal Ichigo bukan takut seperti apa yang dikatakan Grimmjow barusan. Tanpa sadar, tangan Ichigo sudah bergerak meraih lengan Grimmjow dan menahannya supaya tidak pergi.

"Bu-bukan hal itu yang kutakutkan…" lirih Ichigo dengan wajah tertunduk, blushing.

"…" Grimmjow terdiam menunggu Ichigo melanjutkan kalimatnya.

"A-aku takut kau marah…karena aku menolak ciuman barusan."

Mata Grimmjow terbelalak. Jadi Ichigo…

"Lalu kenapa kau menolak?" ucap Grimmjow, ia ingin memastikan sesuatu.

"Ha-habisnya…aku masih merasa aneh. Kenapa aku bisa menikmati ciuman dengan seorang laki-laki!" Ichigo memejamkan matanya erat. Pernyataan itu sukses membuat Grimmjow terbelalak untuk kedua kalinya.

Tanpa kata lagi, Grimmjow mendorong Ichigo hingga terbaring ke lantai dan mencium bibirnya dengan sedikit ganas.

"Apanya yang aneh dengan ini?" ucap Grimmjow, melepas ciumannya sesaat lalu mencium Ichigo kembali. "Memangnya salah kalau kau menikmatinya?" Grimmjow melepasnya sesaat tapi kembali menciumnya lagi, dan kali ini cukup lama. Hingga setelah beberapa waktu, Grimmjow melepas ciuman itu dan sedikit menaikkan tubuhnya supaya bisa menatap wajah Ichigo.

"Memangnya…apanya yang salah…dengan perasaanku padamu…" ucap Grimmjow, dia meraih tangan Ichigo dan meletakkan di dadanya. "Apa kau bisa merasakannya, Ichigo?"

Ichigo terdiam, tubuhnya seakan tak bisa bergerak dan hanya menuruti sentuhan Grimmjow. Apalagi saat tangannya merasakan detak jantung Grimmjow.

'Ke-kenapa…' batin Ichigo. 'Kenapa jantungnya berdegup sekencang ini? Padahal kukira…hanya jantungku yang nyaris meledak karena berdegup dengan sangat kencang…'

"Ichigo…" panggil Grimmjow lembut, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ichigo. "Apa kau percaya…kalau seumur hidup…baru kali ini aku merasakan hal seperti ini…" dan Grimmjow mengakhiri ucapannya dengan kembali mengunci bibir Ichigo dengan bibirnya.

"Ba-bagaimana bisa aku percaya…" ucap Ichigo di sela ciumannya. "K-kau playboy murahan…mmmnhh…"

"Setidaknya aku belum kehilangan keperjakannku." Seringai Grimmjow setelah melepas ciumannya, dipandanginya wajah Ichigo yang memerah dengan nafas tersengal.

"Y-yang seperti itu…mana bisa dipercaya!"

"Lalu dengan apa aku membuktikannya?"

"…" Ichigo terdiam. Apa ada cara untuk membuktikan keperjakaan laki-laki? Ichigo rasa tidak.

"Aku memang sudah banyak mengencani gadis." Jelas Grimmjow dan beranjak duduk diikuti Ichigo. "Tapi bukan berarti aku meniduri mereka kan?"

Ichigo merengut. "Tapi tampangmu itu tampang mesum." Tuduh Ichigo.

"Dasar kau!" Grimmjow menjitak kepala Ichigo.

"Ittai…" Ichigo mengusap bekas jitakan Grimm.

"Nah, Ichigo." Grimmjow menatap Ichigo dengan intens. "Apa aku boleh mengartikan ciuman tadi sebagai tanda kau menerimaku jadi kekasihmu?"

"Haaaa?" Great! Mulut Ichigo terbuka, dan Grimmjow tak menyia-nyiakan itu untuk mencium Ichigo dan memasukkan lidahnya ke mulut Ichigo.

.

.

.

.

Tahu nggak? Saia menderita banget lho ngetik chapter ini…Kenapa? Karena gue jadi pengen banget naikin ratednya jadi M! XD *nyengir mesum*

Yosh…akhir kata…

Review please…