Karena menikah, belum tentu dapat membuat hidup Ino bahagia sepenuhnya. Bahkan setelah ia mempunyai anak, Ino belum juga mendapatkan haknya sebagai istri, mendapatkan haknya untuk dicintai.

.

Summary dapat berubah sewaktu-waktu

.

ItaInoShika

.

Naruto is Masashi Kishimoto's

Marriage

by Emmie Fleuretta


"Hei, Pig!"

Ino mendelik tajam ke sahabat karibnya, Sakura—yang telah menjadi istri adik iparnya—setelah melontarkan senyum kepada adik iparnya, Uchiha Sasuke. Jemari lentik Ino masih nyaman berkutat pada gagang pintu yang tampaknya mengalami kerusakan. Ino mendecih. "Rusak."

Terdengar tawa Sakura. "Padahal baru satu tahun, tahu-tahu sudah rusak."

Memutar kedua bola mata shappire-nya, Ino mengangguk setuju. Tangannya terdiam sebentar, sebelum mendongak pada Sasuke. "Aku lupa memberi kalian masuk," katanya, lalu nyengir. "silahkan masuk Tuan dan Nyonya Uchiha…"

Sasuke yang sedari tadi diam saja, mengambil ponsel di dalam sakunya, tersenyum kepada Ino. "Terima kasih, aku mau menelepon Ayah dulu." Pandangan Sasuke teralih ke arah Sakura yang berdiri di sampingnya, menunjukkan isyarat untuk masuk segera ke dalam rumah mungil beraksen Eropa zaman dahulu milik Ino, dan suaminya, Uchiha Itachi.

Nyengir, Sakura mengangguk. Tangannya mengelus-ngelus perutnya yang membuncit, dikarenakan ada bayi di dalam perutnya. Sejak Sakura hamil anak pertama, Sasuke selalu saja memiliki takut yang berlebihan, padahal kan Sakura yakin ia akan baik-baik saja. Yah, walaupun begitu Sakura cukup senang dan maklum. Lalu ia berjalan ke dalam rumah Ino tanpa permisi.

Memandang perut buncit Sakura, mau tak mau Ino menyeringai jahil. Diikutinya Sakura yang berjalan ke dapur, melupakan gagang pintu rumahnya yang rusak. "Hei, jidat. Bukannya aku belum memberi izin masuk pada si bayi dalam perutmu itu?"

Sakura duduk di kursi meja makan. Kini ia yang berbalik mendelik tajam pada Ino. "Pig!" panggilnya penuh penekanan dengan death glare.

Ino hanya tertawa, kakinya melangkah pada counter. Mengambil cangkir. "Kau mau minum apa?"

"Teh saja."

"Oke." Ino mengambil teh celup di pojok counter. Dan meletakkan teh celup itu ke dalam cangkir, sebelum mengisinya dengan air panas. "Tumben datang ke sini, pagi-pagi pula," kata Ino di sela-sela kegiatannya mengaduk teh. Matanya sedikit melirik pada jam yang terletak di atas counter. Masih menunjukkan jam enam pagi.

"Iya nih… ini kan hari keduanya Kuu-chan sekolah di playgroup-nya." Sakura memasukkan anak laki-laki Ino dan Itachi yang baru menginjak umur tiga tahun itu ke dalam topik pembicaraan.

"Lalu?" tanya Ino, mengernyitkan dahinya sembari meletakkan secangkir teh di meja makan, tepat di depan Sakura. Kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Sakura. Tangannya ia lipat di meja.

Sebelum menjawab, Sakura menyesap tehnya terlebih dahulu. "Aku ingin mengantar Kuu-chan di hari keduanya masuk playgroup. Sasu-chan juga mau. Boleh?" pinta Sakura berharap Ino mengizinkannya untuk mengantar anak Ino dan Itachi ke playgroup, tak menyadari panggilan manjanya ke Sasuke terlontar begitu saja, membuat Ino terkikik dalam hati.

"Tentu boleh, kenapa tidak?" Ino tersenyum. "Semacam ngidam, eh?"

Sakura menunduk malu, rona menjalar di pipinya. "Iya…"

Ino menanggapi itu dengan tawanya yang meledak. Membuat Sakura terpaksa menendang kaki sahabat karib sekaligus kakak iparnya itu.

Tak lama kemudian, Sasuke datang. Memasang senyum tipis di wajahnya. Dan menepuk bahu Sakura lembut. "Ayo," katanya pelan. "Di mana si bocah tengik itu?"

Mendengar anaknya dipanggil 'bocah tengik', Ino berkacak pinggang kepada Sauke. "Hei! Masih sayang nyawa kan?"

Sakura tertawa geli melihat Ino yang berkacak pinggang, tangannya ia kibas-kibaskan. "Sudahlah, Sasuke akan sayang nyawa kalau yang berkata seperti itu adalah lelaki terhebat sejagad raya."

Lagi-lagi Ino mendelik tajam pada Sakura, namun pada akhirnya ia mendengus. Tidak ingin bertengkar karena hal sepele. "Kuujo-kun masih di atas, mungkin masih mandi."

"Dia sudah pandai mandi sendiri?" tanya Sakura dengan binar kagum di mata emerald-nya. Tanpa sengaja, Sakura meremas tangan Sasuke yang terletak di bahunya, karena kagum.

Ino mengangguk.

Sasuke mendecih. "Keh, kalau anakku, takkan kubiarkan mandi sendiri di usia kecil begitu." Kemudian seringainya muncul. "Karena aku akan mengajarkan hangatnya kasih sayang ketika mandi bersama kedua orang tuanya."

Melongo karena mencerna perkataan Sasuke, pipi Ino segera merona.

Sedangkan Sakura tak ingin tinggal diam, ia mengenyampingkan tubuhnya sedikit, dan menginjak kaki Sasuke yang beralaskan sepatu hitam dengan rona di pipinya. "Pervert!"

Menjaga image, Sasuke hanya meringis pelan. Padahal kakinya sungguh kesakitan diinjak oleh tenaga monster milik Sakura. Lagian aneh aja, masih hamil tapi tenaganya tetap kayak monster.

"Sudahlah, aku panggil Kuujo-kun dulu." Ino berdiri dari tempat duduknya, ia terkikik geli karena pertengkaran Sakura dan Sasuke, adik iparnya.

Langkah Ino yang akan menaiki tangga terhenti ketika Sasuke bertanya padanya dari kejauhan.

"Mana Itachi-nii, Ino-nee?"

Ino terdiam. Tak berbalik, tangannya meremas-remas kaos oblong berwarna orange-nya. Setahu Ino, Itachi masih tidur dan mengigaukan nama—

Ah! Sudahlah!

Menggeleng-geleng kepalanya, Ino memutar badannya gugup. "I-Itachi-kun masih… mandi?" sahutnya dengan nada bertanya, agak bingung juga mau menjawab apa.

"Oh."

Ino nyengir. "Kenapa? Kau mau ikut mandi bersama Itachi-kun?"

"…hah? Tentu saja tidak!" pekik Sasuke, melupakan image-nya yang selalu tenang.

Tertawa, Ino mengibas-ngibaskan tangannya, dan segera menaiki tangga menuju kamarnya—tempat ia, Itachi dan anaknya tidur. Suara langkah kakinya yang pelan mengiri dirinya untuk sampai ke kamar mereka.

Sesampainya, Ino menutup matanya barang sejenak ketika mendengar suara baritone sedang tertawa. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum membuka pintu merah maroon di depannya. Ia masih terlalu bingung… terlalu takut, untuk berbicara atau berhadapan dengan Itachi. Mengingat kejadian menyakitkan tadi malam, ketika suaminya itu tertidur dan… mengigaukan nama wanita lain. Itu, sakit. Mungkin, mungkin bukan malam itu saja. Bisa saja suaminya itu mengigaukan nama wanita lain malam-malam sebelumnya. Juga mengingat, permintaan Itachi beberapa minggu yang lalu…

"Aku ingin kau menandatangani surat cerai ini."

Menyesakkan.

Ino mengepal tangannya kuat, hingga buku-bukunya memutih. Bibirnya memerah, seiring gigitannya semakin kuat. Mencoba sabar, Ino merenggangkan tubuhnya dan menghela napas. Menyiapkan mental untuk berhadapan dengan suaminya—orang yang seharusnya menenanginya, bukan membuatnya takut.

"Ita—"

ceklek.

"Ino?" Mata obsidian milik Itachi menatap mata shappire milik Ino. Ia mengernyitkan alisnya. "Kenapa berdiri di—"

"Tidak. Tidak, aku ingin memanggil Kuujo-kun," sahut Ino cepat, menyela pertanyaan Itachi.

Itachi menatapnya dalam, wajahnya ia majukan beberapa senti, mendekat pada wajah Ino. Membuat Ino terpesona oleh ketampanan Itachi. Sungguh Ino tidak pernah mengerti mengapa Tuhan sebegitu detilnya memahat Itachi hingga sedemikian rupa. Obsidiannya yang kelam, seakan mengajaknya untuk memasuki dan menyelaminya. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis. Juga pahatan pada dagunya yang sempurna. Ia terjerat pada pesona suaminya…

Hingga tanpa sadar, ia ikut memajukan wajahnya. Mendekat pada wajah sang suami. Sampai tak ada lagi jarak di antara mereka. Entah setan apa yang mengedalikan Ino saat itu. Melupakan tujuan sebenarnya untuk memanggil anaknya.

Bibir mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Setelah itu terlepas. Sekedar menggantikan ucapan salam di pagi hari.

Ino menunduk, meremas-remas ujung baju berwarna orange-nya. Sedikit salah tingkah dengan apa yang ia lakukan tadi. Padahal hanya sebentar, padahal hanya menyentuh sedikit, padahal… kehangatan ketika bibir mereka bertemu tak terasa. Bibirnya terasa dingin. Tapi, mengapa ia merasa seperti ada kupu-kupu yang membuncah dari perutnya? Di saat bersamaan pula. Dadanya sesak.

Menghela napas, ia mendongakkan kepalanya lagi. Menatap Itachi yang lebih tinggi darinya, yang masih senantiasa berdiri di hadapannya.

"Ada Sasuke dan Sakura. Datang," ujar Ino, pelan dan kaku.

Itachi mengedikkan bahunya. Ketika kaki berbalut jeans Itachi hendak melangkah. Itachi terdiam sebentar sebelum akhirnya mengacak-acak rambut pirang Ino.

Seketika, Ino merasa agak santai.

"Aku sudah berbicara dengan Konan—" mendengar nama Konan, bahu Ino menegang. "—aku meminta cuti hari ini." Kemudian Itachi pergi, ke lantai bawah. Meninggalkan Ino yang menegang mendengar nama Konan. Pada akhirnya, apa yang dilakukan Itachi sebelumnya, tak dapat membuatnya lebih santai, ataupun tenang.

Mengelus dadanya barang sejenak, Ino menggendong Kuujo—anaknya—yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan bingung.

"Maafkan Kaasan ya, Sayang. Sudah buat kamu berdiri lama-lama," ujar Ino. Mengelus rambut hitam anak lelakinya itu.

"…maafkan Kaasan juga karena mungkin tak bisa selalu bersama Tousan-mu." Dan Ino hanya tersenyum lemah ketika Kuujo menepuk-nepuk pipinya yang baru saja menjadi tempat air mata mengalir.

.

Ketika kaki jenjang Ino menapak pada lantai satu rumahnya. Ino membungkuk, membiarkan Kuujo lepas dari pelukannya. Kuujo berteriak-teriak girang ketika mata beriris obsidiannya menangkap sosok bermahkota merah jambu yang sedang tersenyum padanya dan sosok berambut raven mencuat, juga sosok Ayahnya.

"Cakuuu!" teriak Kuujo, merasa sebaya dengan Sakura, berlari-lari kecil. Sakura yang mendengar itu hanya tertawa kecil. Kemudian memeluk Kuujo sebelum Sakura mecubit hidung Kuujo.

"Kamu ini! Panggilnya sebayaan amat!" sahut Sakura di tengah-tengah kesibukannya mencium-cium pipi gembil Kuujo.

Kuujo menggembungkan pipinya, lantaran sebenarnya ia tak mengerti apa yang dikatakan Sakura. Juga karena pipinya dicubit-cubit. Tapi, mimik wajahnya langsung berubah ketika mendapati ibunya membawakan tas ransel padanya.

Bola mata besar itu melirik pada Sakura yang masih asyik memandanginya. "Kuu-chan mau cekolah, lhoooo Cakuu…" katanya girang, sembari memeluk leher Sakura.

Sakura tertawa. "Kamu ini! Panggilnya Sakura-baasan!"

Melepaskan pelukannya, Kuujo menatap Sakura bingung.

"Sa-ku-ra-baa-san!"

"Ca-ku-la-ba-can…?" eja Kuujo, mata besarnya ia sipitkan, sedang tangannya membelai-belai pipi Sakura.

Sakura mengangguk. Senyum terpatri indah di wajahnya. Kemudian ia memberikan Kuujo pada Ino yang sedari tadi melihat kelakuan mereka.

Ino menerimanya.

Setelah itu, Sakura menepuk-nepuk perutnya yang agak membuncit. Wajahnya berlagak sombong di hadapan Kuujo. "Lihat Kuu-chan! Baasan ngasih adik ke kamu!"

Seketika mata besar Kuujo semakin membesar ketika mendengar itu. Kuujo tidak mengerti apa yang dikatakan Sakura, tapi kata 'adik' sepertinya menjadi penyebab mata Kuujo membesar.

Ino menghela napas, Itachi tersenyum geli, Sasuke menepuk dahinya. Dasar, ibu hamil.

"Adiiik?"

"Iyaaaa."

"Hwaaa." Tangan Kuujo berusaha menggapai-gapai perut Sakura yang membuncit. Tapi usahanya tak berhasil, karena ia berada digendongan Ino. Kuujo cemberut.

Mendengus, Ino menggeleng-geleng. "Nanti aja," Ino menghadapkan wajah Kuujo menjadi ke hadapannya. "sekarang Kuujo sekolah dulu ya?"

"Yang mengantar baasan dan ojiisan, lho!" celetuk Sakura bersemangat.

Kuujo mengangguk girang. Ia mengecup pipi Ino sekilas. Sebelum memaksa turun, dan memakai tas ransel yang tergeletak di samping Ino.

"Kuu-chan pelgi dulu yaaa!" pekiknya, dan menghambur dalam gendongan Sakura.

Itachi dan Sasuke yang sedari tadi agak jauh dari tempat interaksi Sakura-Kuujo-Ino itu, ikut mendekat. Itachi mengacak-acak rambut hitam Kuujo.

"Tousan gak dicium?" goda Itachi pada Kuujo.

"Hmph!" Kuujo pun segera mencium pipi Itachi.

Sakura tertawa melihat adegan di depannya itu. Entah apa yang lucu, tapi rasanya ia ingin tertawa walaupun adegan itu tak lucu. "Ya sudah, kami pergi dulu ya, Ino dan Itachi-nii?"

Itachi dan Ino mengangguk kompak.

Pandangan Itachi tertuju pada Sasuke. "Nanti kau harus bawa pulang anakku, Adik kecil."

Sasuke mendengus. "Hn. Aku bukan penculik, sepertimu."

Menautkan alisnya, Itachi tersenyum. "Aku? Penculik?"

"Bukannya kau telah menculik hati Ino-nee?" Seringai Sasuke terulas.

Kini balik Itachi yang mendengus. "Kalau begitu, kau juga," sahut Itachi sembari menoyor kepala Sasuke, dan membuat gerakan tangan mengusir.

Setelah itu, Sasuke dan Sakura—dengan membawa Kuujo—pergi dari rumah yang sempat ramai karena kedatangan mereka.

Ino menatap kepergian mereka dengan sayu di ambang pintu. Sekarang, yang memenuhi pikirannya itu, perkataan Sasuke tadi.

"Bukannya kau telah menculik hati Ino-nee?"

Mungkin, bagi Itachi itu hanya candaan menggoda biasa. Tapi baginya, itu seperti sindiran yang mencubit hatinya. Menghela napas, Ino mengangkat ponselnya yang bergetar di dalam saku celana selututnya. Ditatapnya layar ponsel flip-nya itu, sekedar untuk mengetahui siapa yang mengiriminya pesan singkat.

Sakura, Ino mengernyit. Bukannya Sakura baru pergi beberapa waktu yang lalu? Kenapa Sakura mengiriminya pesan? Tangan Ino pun, menekan-nekan tombol pada ponselnya untuk melihat pesan yang dikirim oleh Sakura.

From : Mrs. Uchiha

Heiii Ino! Gomenne, tadi aku lupa memberi tahumu, bahwa dua minggu lagi ada reunian SMA kita! Oke?

Reunian SMA? Batin Ino bertanya. Ponselnya ia masukkan kembali ke dalam saku celana pendeknya. Tak ada niatan untuk membalas pesan Sakura. Kakinya segera melangkah ke ruang keluarga. Di mana kalender berada. Samar-samar, Ino dapat mendengar suara penyampai berita dari arah ruang keluarga. Ino sudah dapat menebak, bahwa Itachi pasti sedang duduk bersila di atas tatami dan menonton berita.

Telah sampai di ruang keluarga, agak ragu Ino berjalan ke sudut kiri ruangan di sebelah pintu masuk ruang keluarga, di sana kalender tergantung manis. Tangannya meraba-raba angka-angka yang tertera pada kalender gratisan dari supermarket langganannya. Hening.

Sebenarnya Ino sama sekali tak mengerti untuk apa ia melakukan ini, berpura-pura melihat-lihat tanggal di kalender. Padahal, ia sudah mengetahui tanggal berapa sekarang, atau pun tanggal berapa reunian SMA-nya akan diadakan. Dia tak tahu, sungguh, rasanya ia hanya ingin… memulai sebuah percakapan dengan Itachi. Ah, aneh sekali, padahal akhir-akhir ini jika ia mengobrol dengan Itachi berduaan, ia selalu tak bisa mengobrol. Dia hanya bisa terdiam, mendengar, dan terkadang… merasakan sakit?

Menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit, mata shappire Ino melirik sedikit Itachi yang tengah mendengarkan berita. Dan terbelalak ketika Itachi memanggilnya. Jangan-jangan ia ketahuan melihati suaminya?

"Ah, yah, Itachi-kun?" Ino menghadapkan dirinya pada Itachi yang duduk bersila.

"Kenapa kau berdiri terus?" tanya Itachi sembari menepuk-nepuk tatami, mengisyarakatnnya untuk duduk.

Walaupun Itachi masih berwajah datar, Ino tak bisa untuk tak tersenyum sumringah. Ia mendekat pada Itachi, hendak duduk, namun tak kunjung duduk.

"Ada apa?"

Ino menggeleng. "Tidak, aku berpikir, sepertinya kau butuh ocha?"

"Hn. Mungkin."

Tersenyum, Ino meninggalkan Itachi sembari bersenandung pelan. Sedikit bersyukur, karena Itachi cuti hari ini—walaupun ia tak tahu mengapa ia mengambil cuti hari ini. Tapi mungkin, ini bisa dijadikan waktunya untuk mengobrol dengan Itachi. Yah, asal tak menjurus ke topik yang serius. Meskipun ia kurang tau caranya untuk mengajak Itachi mengobrol, meskipun rasa takut untuk berbicara masih ada, tapi dengan perlakuan Itachi tadi… mungkin, mungkin rasa takut itu hilang.

Tak butuh waktu lama untuk Ino membuatkan secangkir ocha panas. Ketika Ino meletakkan secangkir ocha yang masih mengepul uap-uap panas di samping Itachi. Senyum tipisnya terpatri. Ia buru-buru duduk di belakang Itachi, ikut bersila.

"Aku pijat, ya?" tanya Ino terdengar agak ragu. Dan segera disusul dengan anggukan Itachi.

Ino memijat bahu Itachi yang dilapisi kaos oblong. Terpantul siaran televisi di mata shappire Ino. Keheningan menyelimuti mereka setelahnya dengan diisi suara berat penyampai berita dan Itachi yang sesekali meminum ocha-nya.

Merasa canggung dengan keheningan. Ino yang masih memijat Itachi membuka sebuah topik pembicaraan. Reunian.

"Itachi… dua minggu lagi ada reunian SMA alumni kami," ujar Ino, memaksudkan kata kami sebagai teman-teman sebayanya, seperti Sakura atau pun Sasuke. "Kau bisa ikut menemaniku…?"

Tak ada jawaban. Itu membuat Ino semakin canggung. Buru-buru ia menyambung. "Aku tahu, kau bukan alumni kami. Tapi—"

"Dua minggu lagi aku ada acara," potong Itachi cepat.

Shappire Ino agak meredup, kecepatannya memijat bahu Itachi agak melambat. "Acara apa?" tanya Ino, mendesak.

"Aku…" Itachi menggantungkan kata-katanya, terlihat mempertimbangkan apa yang ingin ia katakan. "…ada acara dengan Konan."

Tangan Ino terdiam. "Konan?"

Itachi tak menjawab. Ino menautkan kedua alisnya kesal.

"Kenapa harus 'Konan'?" tanya Ino dengan penekanan pada nama 'Konan'. Suaranya mulai meninggi. Emosinya tak tertahankan lagi, ketika Itachi menyebut-nyebut nama wanita itu. Konan, Konan, bahkan tidak di alam mimpi Itachi saja ia menyebut 'Konan'. Ia menyebut 'Konan' pun ketika bersama wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Bisakah Itachi sedikit peka? Bisakah Itachi lebih sedikit mengerti dirinya? "Kenapa harus memasukkan Konan dalam topik ini? Karena Konan kekasih—"

"Diam, Ino."

"Tapi bisakah kau mengerti aku? Aku tidak ingin membahas Konan pagi ini!" bentak Ino tertahan, meremas bahu Itachi sebagai korban kekalapannya.

Itachi diam, tatapannya masih tertuju pada televisi. "Tapi kau juga seharusnya mengerti, Ino…"

Oh, cukup. Sejak kemarin Itachi hanya memintanya untuk mengerti, mengerti dan mengerti! Tanpa menanyakan bagaimana perasaannya. Bagaimana dirinya begitu tertohok… bagaimana dirinya termakan kobar api cemburu? Bagaimanapun ia masih berstatus sebagai Istri Itachi! Siapa yang tak sakit mendengar suaminya menyebut-nyebut nama wanita lain?

Ino menggigit bibir bawahnya. Selalu begini, selalu ia yang terdiam. Padahal Ino hanya ingin membahas hal yang ringan. Tidak seperti ini.

Merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi. Ino memeluk leher Itachi, menumpukan wajahnya pada bahu Itachi.

"Tidakkah kau memikirkan perasaanku, ne, Itachi…?" tanya Ino lirih, pelukannya terhadap leher Itachi semakin menguat. "Sedikit saja, mengingat mungkin sebentar lagi kita tak bersama—"

"—lagi."

Sementara Itachi menutup kelopak matanya, menahan napasnya ketika ia merasakan bahunya basah. Ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Rasanya seperti pecundang, telah membuat seorang wanita menangis. Terlebih lagi, ini istrinya…


OWARI ATAU TBC? Wkwkwkwk.

Iseng buat fic multichap ItaInoShika nih! *plak* padahal aku lagi terkena WB, sumpah, susah banget ngerangkai kata-katanya. HOWEEEEEE. Fictionnya pun terombang-ambing, kadang sedih sedihnya, kadang ceria, nanti sedih lagi. Baaaahhh.

Ga yakin kerasa feelnya ;w;;;; *nangis di pojokan* gaje bener dah pokoknya!

Jadi, karena cerita ini gaje, aku butuh review dan concrit kalian sekalian untuk memperbaiki fic ini :3 mind to review? :3