Humm... ini hanya kumpulan drabble ByaHisa, kok. Cha lagi suka sama pairing ini. Dedicated to my beloved Naito Lullaby and those who love ByaHisa too. Well yeah, Cha nggak ngerti kenapa dia suka banget sama pair ini, katanya sweet, walau pairing canon ini porsinya sedikit. Tapi Cha suka juga sih. Hehehe...

Please enjoy this story, minna!


Seandainya dulu Hisana tidak pergi meninggalkan Byakuya untuk selamanya. Seandainya sekarang Hisana masih ada. Akankah sama halnya dengan keadaan sekarang? Jika saja ada kesempatan untuk Byakuya merubah masa lalu, mungkin ia akan lakukan apapun untuk menyelamatkan Hisana-nya.

Sebuah keinginan egois, yang mungkin saja terjadi jika saat itu Byakuya mengetahui tentang sakitnya Hisana jauh lebih awal.

Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana

-#-

-Anata no Egao-
[あなたの笑顔, Your Smile]

-#-

Satu: Selamat Pagi
Bleach © Tite Kubo

Byakuya Kuchiki membuka matanya pagi itu, di dalam pelukannya ada seorang wanita cantik berambut pendek yang tengah terlelap. Wanita itu, Hisana Kuchiki namanya, satu-satunya wanita yang menarik hatinya, membuat perangainya yang dingin berubah seratus delapan puluh derajat, dan wanita ini juga... dosa termanisnya.

"Selamat pagi, istriku," bisik Byakuya tepat di telinga Hisana.

"Uwm..." Hisana menggerakkan tubuh mungilnya, lalu membuka matanya. "...s-selamat pagi, Byakuya-sama, maaf hari ini saya terlambat bangun," ujarnya kemudian, sambil menundukkan wajahnya.

"Itu bukan masalah besar, Hisana," Byakuya membelai rambut segelap malam Hisana dengan lembut, kemudian mengecup dahinya.

"Tidakkah sebaiknya kita bangun sekarang, Byakuya-sama? Saya rasa, Anda akan dimarahi jika terlambat bangun."

"Tidak ada yang berani memarahiku," cetus Byakuya egois, "jadi, biarkan aku menikmati pagi ini denganmu."

"B-Byakuya-sama," Hisana tersipu.

Pagi itu matahari bersinar hangat melalui kisi-kisi jendela kamar sepasang suami istri itu. Sejak lima tahun lalu, Byakuya sudah membiasakan dirinya untuk tidur di atas futon, karena sang istri selalu menolak untuk tidur di atas sebuah tempat tidur empuk yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.

"Baiklah, lima menit, Byakuya-sama. Saya akan memeluk Anda lima menit, lalu Anda harus bangun."

"Hmm... bagaimana jika aku meminta lebih?"

"Maksud Byakuya-sama?"

"Lima menit pelukan dan satu kecupan selamat pagi."

Hisana tersipu lagi, kemudian mengangguk tidak jelas. Byakuya tidak melewatkan kesempatan ini, ia dekap erat-erat tubuh kurus itu, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hisana. Aroma sakura begitu kuat tercium dari wanita itu, aroma yang sangat disukainya sejak dulu.

Hisana dapat merasakan nafas suaminya yang berhembus di pipinya, semakin dekat dan hangat. Wanita itu dapat merasakan lembutnya pagutan di bibirnya, seolah Byakuya meluapkan seluruh perasaannya dalam kecupan itu.

Bagi Hisana, menikahi Byakuya adalah sebuah kenyataan termanis—seolah mimpi yang menjadi kenyataan. Ia seperti putri-putri dalam dongeng yang akhirnya bisa menikah dengan pangeran pujaan hatinya.

Satu menit. Kemudian Hisana melepaskan kecupan selamat pagi itu dan memandang lurus ke iris abu-abu suaminya.

"Satu lagi?" tanya Byakuya, terdengar memohon.

"Satu pelukan."

"Hisana..."

"Tidak, Byakuya-sama. Anda harus bangun."

"Kalau begitu aku tak akan bangun."

Hisana menghela nafas frustasi, sejak kapan suaminya jadi keras kepala seperti ini? Wanita beriris violet itu kemudian tertawa kecil.

"Ada yang lucu?"

"Tidak ada, Byakuya-sama, sikap Anda pagi ini mengingatkan saya pada pertemuan pertama saya dengan Anda."

"Pertemuan pertama?"

"Anda sangat keras kepala."

"Kau tidak suka?"

"Bu-bukan begitu maksud saya, saya menyukai setiap sifat Anda... hanya terkadang mengingat hal itu, membuat saya sangat bahagia."

"Kalau begitu, satu lagi."

"Lalu Anda berjanji akan bangun?"

"Ya."

"Kalau Anda bohong, besok saya tidak akan memberikannya lagi."

"Uwm..." Byakuya berpikir sejenak, "jangan seperti itu, bisa-bisa aku kepikiran seharian."

Hisana tertawa kecil lagi, kemudian mengalungkan lengannya di leher Byakuya dan memberikan light kiss. Wanita berambut hitam itu lantas melepaskan pelukannya dengan Byakuya dan duduk di atas futon.

"Itu berbeda dari yang pertama, tidak adil," ujar Byakuya, ikut duduk di samping Hisana.

"Anda harus bangun sekarang."

"Baiklah. Selamat pagi, Hisana."

"Selamat pagi, Byakuya-sama."

Byakuya bangun dari atas futonnya, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Hisana. Wanita bertubuh mungil itu tersenyum tipis dan meraih tangan Byakuya dengan halus, ikut bangkit dari atas futon.

Selamat pagi, dunia.


— Selamat Pagi: End —

— 555 words (story only) —


#curhat: Ini... fluff, ya nggak sih? Soal Byakuya OOC atau nggak... Cha bingung juga nih. Hehehe... ^^a Waktu nulis fanfic ini, Cha lagi suka-sukanya sama lagu yang judulnya Ana, penyanyinya Lia, salah satu Ost. CLANNAD. Hope you like this fic, minna! :)

Nee, mind to RnR, readers?